Episode 14 - Mustika


“Awas, awas,menepi, baik prajurit maupun priyayi maupun jelata. Kala Pemegang Gelar Tempur berperang, menara giok sekalipun akan rubuh ketika keduanya bertumbukan.”

—Hung, kasim pendongeng Istana Giok


Siulan Taifun melempar si penyamun begitu saja, mirip seseorang yang sedang melempar kantung sampah, tak lebih. Suara dari ambruknya begitu keras, bisa dikatakan membelah udara dan angin ribut pun ikut menyibak rerumputan, menghantam semua termasuk Sidya yang berdiri mematung, membuatnya terdorong pada batu tunggal yang kini menjadi sandaran satu-satunya.

Si Siulan Taifun berbalik, menjura kepada Sidya yang masih tak mampu memunahkan tangisnya yang dimulai entah sejak kapan. Dahi Siulan Taifun berkerut, tak bisa memahami apa yang membuat sang putri bersedih. Padahal, ia telah menjalankan perintahnya dengan baik. Ia mendekat dengan kalut, berniat untuk memegang pipi Sidya, mungkin berencana untuk mengusap air matanya tepat ketika Hikram hadir dari lingkup pepohonan terdekat, jalannya sempoyongan. Dia masih memanggul si penyamun yang pingsan.

Hikram meletakkan penyamun yang masih tak sadarkan diri itu ke tanah dengan kelembutan yang tak terduga, mirip seperti menaruh bayi pada keranjangnya. Dia kemudian bangkit dengan langkah yang ditegap-tegapkan, berusaha untuk terlihat seperti sedang kehilangan seluruh pengaruh yang dihasilkan oleh alkohol yang ditenggaknya sepanjang jalan.

Sudut mata Hikram menyorot dua penyamun tak sadarkan yang sudah tak karuan lagi wajahnya, karena telah dipenuhi luka bonyok.

Si Siulan Taifun mendesis layaknya ular, figurnya mengerut. Ia masih mengulurkan tangan, dan Sidya tak bisa menggerakkan badannya yang mendadak berubah kaku layaknya papan kayu. Apalagi, tangan itu masih berlumuran darah yang bukan miliknya, menetes-netes membasahi tanah.

“Sebelum kau pegang muridku, ada baiknya cuci dulu tanganmu itu.”

Siulan Taifun mengerling badan kurus Hikram dan rambutnya yang tak teratur, kemudian pakaiannya yang lusuh, hingga berakhir pada kakinya yang tak beralas. Dia tertawa hambar.

“Pulanglah. Anda sedang mabuk, jangan ganggu kami. Murid? Maafkan kelancangan saya, tetapi putri tak akan memilih orang urakan sebagai guru. Sang putri sudah lihat sendiri bagaimana kesigapan Siulan Taifun dalam melaksanakan perintahnya, maka pantaslah jika Siulan Taifun yang menjadi pengajar! Bayangkan, Siulan Taifun menjadi guru bagi pewaris tahta Nagart!”

Hikram mendengus mendengar omongannya, untuk saat ini mengabaikan hinaan yang menyebutnya sebagai orang urakan, walaupun dia sudah gatal ingin membalas omongan sok hebat dari remaja bertelanjang dada yang selera berpenampilannya lebih buruk daripadanya ini. Pemahaman perlahan datang pada Hikram. Ia berpaling pada murid barunya dengan mendadak, ekspresinya memendam murka, “Sidya, mari kita pergi dari sini. Ancaman sudah tak ada, pastinya berkat bocah brutal ini. Aku perlu bicara empat mata denganmu mengenai peraturan penggunaan Ilmu Titah. Tanpa menyuruhnya, hanya dengan Letup Hawa Murni sebenarnya kau bisa—”

Hikram menggelengkan kepala, seperti sedang mengusir lalat yang mengganggu, salah satu tangannya mendadak menggenggam rambut-rambutnya yang berantakan, seakan ingin mencerabut semua akar-akarnya dari kepala. Wajahnya berkerut seperti sedang menanggung rasa sakit yang mendadak datang.

Tiba-tiba Hikram menyambung seolah tak ada apa-apa yang terjadi, cengiran lebar kali ini terpampang di bibirnya, sementara tangannya kembali ke sisi badan. “Aha, salah satu anak buah Beliau baru saja berbisik kepadaku, katanya dia ingin melihatku melawan seorang pesakitan yang berbahaya. Itu dirimu, wahai pemuda bertelanjang dada. Entah dosa apa yang telah kau lakukan sampai-sampai Dewa Arak Atas Langit sendiri begitu membencimu. Tapi, aku masih berbelas kasih, jadi kau hanya perlu pergi dan kuanggap semuanya selesai cukup sampai di sini. Aku akan menanggung amarah-Nya untukmu. Bagaimana?”

Jari-jemari Siulan Taifun yang terjulur bergerak-gerak, tapi tangannya diam di tempat, tidak lagi mendekat ke arah Sidya. Ia meludah ke samping dengan geram, “Aku paham sekarang, bahwa kau bukanlah orang biasa, kau seorang Awatara! Cecunguk-cecunguk Kahyangan selalu menjemukan, semuanya selalu suka ikut campur. Kau mau nekat melawanku yang memiliki dua Gelar, Awatara?”

“Sebaliknya, kau mau melawan seorang Dewa Arak Kolong Langit yang baru saja mabuk-mabukan?”

Tangan si pemuda asing yang terjulur sejenak mengepal, jaraknya cukup dekat bagi Sidya untuk melihat urat-urat dilengannya, yang baru ia sadari kini berwarna merah menyala, bukan hijau seperti manusia.

“Bawa ancaman beralkoholmu ke tempat lain, Awatara. Urusanku hanya dengan Putri Kaisar. Ia sudah membuat perjanjian denganku.”

“Apa itu benar, Sidya?” Hikram bertanya tanpa mengalihkan pandang, api menari-nari di balik matanya kini, seolah dia sudah yakin bahwa kemenangan sudah berpihak padanya.

Sidya menelan ludah, bahkan tak menyadari bahwa baru kali ini gurunya memanggilnya dengan nama depan dan bukan dengan nama bangsawan cilik. Suaranya kecil, terasa jauh saat menjawab, “b-benar, guru.”

Hikram menggeleng, sementara si remaja menegakkan diri. “Seperti yang sudah kau dengar sendiri. Sekarang persaksikanlah. Aku akan menjadikanmu murid pertamaku, putri dari Kaisar Syaimdra. Kita ikat sumpah ini atas namamu.”

Lidah Sidya kelu, tapi sebuah jawaban tak terkendali muncul semulus angin yang berhembus.

“Aku yang bernama Ayusidya Hanseira—”

“Tunggu sebentar!” Hikram membentak, dan mendadak hidung Sidya serasa dihajar oleh bau minuman yang sangat kuat, datangnya dari setiap penjuru sementara Siulan Taifun menjengit tanpa alasan. Perut Sidya jadi mual seperti habis ditonjok. Ia mau muntah, tapi menahan diri.

“Tak boleh seorang murid menuntut ilmu tambahan sementara guru pertamanya tidak mengijinkan, dan aku tidak mengijinkanmu mengajarnya!”

 Siulan Taifun diam sebentar untuk menguatkan diri, memejamkan mata, lalu menghadap Hikram sebelum melanjutkan, kedua tangannya mengepal sekali lagi. ”Tak ada yang bisa menghentikanku mengambilnya sebagai murid meski salah satu tikus Kahyangan sekalipun mengamuk!”

Setelah selesai berkata-kata, ia bertatapan dengan Hikram, dan Sidya sadar bahwa tak ada yang bisa disebut manusiawi dari dua orang yang umurnya sangat berjauhan ini. Serasa ada bobot lebih pada keduanya. Perasaan sungkan setengah takut ini susah dijelaskan, tapi jika diumpamakan sebagai dongeng, mereka berdua adalah tokoh utamanya untuk saat ini.

Seolah … seolah seluruh pusaran dunia terpusat pada aksi tatap keduanya.

Pada Siulan Taifun, nampak pusaran hijau yang berpendar timbul-tenggelam saat Sidya melihat dari sudut matanya, dan gemerisik rerumputan berhembus seirama dengan tarikan napasnya. Sementara Hikram, ia nampak seperti seseorang yang baru pulang dari pesta besar di kedai paling bagus. Tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan, mata setengah terkatup, bau badannya menjijikkan mirip bau muntahan seorang peminum yang tak kuat lagi merayakan diri.

Lalu Sidya sepenuhnya sadar bahwa kedua orang ini merupakan pemegang Gelar, dan kali ini sepenuhnya menghadirkan kemampuan mereka yang sehari-harinya diselubungi tirai tak kasat ke dunia. Banyak yang menguasai pikirannya sekarang, tapi mau tak mau Sidya teringat akan salah satu ucapan pendongeng istana yang telah sukses menanamkan ketakutan Sidya pada setiap Pemegang Gelar Tempur.

“Kau mau mencegahku, Awatara? Dengan cara apa?”

“Adu jurus.”

Begitu saja Hikram berucap, seolah itu adalah perintah mutlak melebihi Ilmu Titah. Ia bergerak maju dengan satu tangan dalam kepalan, kakinya seperti terantuk sesuatu. Ia lebih mirip orang yang sedang terpeleset ketimbang melangkah, tapi tetap, gerakannya sungguh cepat seakan tak ada yang lebih diinginkannya selain memotong jarak dengan bocah lancang yang mau seenaknya mengambil Sidya sebagai murid tanpa minta ijin padanya.

Siulan Taifun siap menyambut dengan kedua lengannya. Ia menarik satu kaki ke belakang, salah satu bahunya agak ke depan. “Lawan yang tepat untuk mengukur ilmuku. Tunjukkan padaku cara berpesta, Awatara Dewa Arak!”

Tangan Hikram yang semula mengepal mendadak berubah jadi menusuk layaknya pagutan ular kobra, jari-jarinya mengincar mata. Namun, serangan secepat lontaran panah itu berhasil dihindari dengan tangkisan lengan yang tangkas oleh Siulan Taifun. Sejenak keduanya diam di tempat untuk beradu merasai kukuhnya lengan masing-masing lawan. Siulan Taifun langsung tahu, bahwa walaupun ia jauh lebih muda, tenaga orang gaek yang menjadi lawannya kini tak bisa dianggap enteng.

Dalam jeda Hikram menarik lengannya yang terjulur, Siulan Taifun sudah mampu menarik napas, lalu bersiul.

Dunia goncang oleh suaranya, tak lain karena amuk badai yang asal muasalnya dari delapan penjuru dan berderu-deru menghantam telak Hikram, menghimpitnya. Atas, kiri, kanan, dan terutama, dari depan. Menekan dan mendesaknya terus-menerus sehingga ia terombang-ambing ke belakang. Sejenak dia kelihatan akan ambruk, tapi entah bagaimana ia berhasil memaksakan diri untuk melawan amuk badai sementara Siulan Taifun menanti dalam sikap siap bertahan. Sekali lagi tangan Hikram mengincar, kali ini membentuk cakar untuk mencekik leher.

Yang ternyata adalah tipuan. Dengan satu sentakan, tangan kirinya yang tak diawasi oleh Siulan Taifun langsung menghantam rahang. Suara keras terdengar saat tulang bertemu tulang, dan tak ayal lagi Siulan Taifun mental setengah memutar dengan jarak sepuluh langkah. Siulan Taifun mau jatuh, tapi di saat-saat terakhir dia mampu menyeimbangkan badan dengan ilmu peringan tubuh, serta dibantu dorongan angin dari berbagai sisi yang dikendalikannya.

 Dia mengusap rahangnya yang nampak agak blangsak. Pastinya susah untuk bicara menilik keadaan rahangnya yang terluka, tapi dia memaksakan diri, “Keras juga tinjumu! Tapi Gelarku sebagai Penyembuh Hijau bukan tanpa sebab!”

Ia menekankan tangan ke rahangnya, yang sejurus kemudian mengeluarkan pendar hijau berkilauan sebelum kembali ke bentuk semula. Lebam yang mulai timbul pun hilang seolah tak pernah ada. Ia menarik napas lagi, bersiap untuk bersenandung memainkan sang bayu.

Hikram yang sudah belajar dari pengalaman tahu bahwa efek dari siulan itu akan buruk untuknya. Dia segera maju lagi.

Tubuh Hikram dilabrak oleh angin yang mengincarnya, tapi ia berkelit, terus berkelit seperti orang yang sedang sempoyongan tapi gerak menghindarnya entah mengapa selalu tepat. Cepat dan pasti, dia melaju tak terbendung menuju lawannya.

Siulan Taifun tercengang melihat itu, tak menduga bahwa akan secepat ini Hikram mencapainya. Siulannya melambat, lalu ia segera menyelamatkan diri ke samping untuk menghindari tamparan ke telinganya. Berhasil, walaupun konstan bergerak membuatnya terengah-engah. Dia memaksakan diri untuk tertawa lagi, walau tak diragukan lagi rasa was-was mulai terlihat di matanya. “Ini adalah kejadian paling baik sepanjang hidupku, beradu ilmu dengan seorang petarung handal! Sudah saatnya untuk berhenti main-main!”

Tanpa angin, tanpa kilatan, tanpa efek apapun, pemuda itu menarik sesuatu dari bagian belakang sarungnya, padahal Sidya tak melihatnya menyimpan barang apapun di sana. Dua buah kipas berbahan logam yang sedang dalam posisi menutup kini tergenggam di masing-masing tangan. Dia membuka keduanya dengan luwes, dan lamat-lamat bisa terlihat lukisan burung merak yang identik terpampang di kedua benda itu. Sepertinya dia sudah biasa menggunakan kipas sebagai senjata, menilik betapa yakin tangannya menggenggam. Sisi terluar kipas terutama menunjukkan ketajaman mirip pisau yang tidak bisa dianggap enteng, belum lagi kepala masing-masing jari kipas menunjukkan keruncingan yang setara dengan pisau yang terasah.

“Kipas Merak!” umumnya lantang!

“Sebenarnya banyak pertanyaan yang menghantui kepalaku sekarang,” kata Hikram yang sama sekali tidak terkesan.

“Apa?”

“Sarung gombalmu itu menyimpan berapa barang? Aku curiga … jangan-jangan kau tidak pakai celana dalam hingga bergegas mengeluarkan mustikamu seperti itu? Kau pasti cuma tidak ingin besi dingin itu mengenai bokongmu lagi kan?”

Wajah Siulan Taifun agak memerah. Ia menggeram, nampak sangat gemas.

“Ahh! Awatara Dewa Arak, padahal kau jelas-jelas sudah tahu bahwa mustika bisa didatangkan dari udara kosong! Berhenti menghinaku atau kubabat kau sampai lunas!” ia maju lagi, ingin menggoreskan sisi tajam kedua kipasnya pada pipi Hikram yang kali ini sedang terbahak-bahak menertawakan leluconnya sendiri.

--