Episode 253 - Tiada Gentar


Tetiba berkas cahaya dari sembilan sudut yang membangun formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang, menyorot ke tubuh is iblis. Mendapat aba-aba dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, kesembilan Datu Besar bergerak serempak. Dari dalam pilar cahaya, setiap satu dari mereka terlihat membuka dan mengarahkan kedua telapak tangan, yang mana seolah membelokkan cahaya yang bersinar cemerlang.  

Berkas cahaya bergelimang menyinari tubuh Botis. Di saat yang sama, bulir-bulir cahaya terbentuk dan mengambang pelan, seolah puluhan kunang-kunang terbang mengelilingi dan menari riang. Kendati raut wajahnya menampilkan kesan sangat tak senang, sepertinya apa yang sedang berlangsung saat ini tiadalah mengancam iblis itu. 

[Balaputera Dewa…] Botis menyibak senyum, menampilkan gigi-gigi yang tiada beraturan susunannya. [Isi ramalan semakin mendekat. Kuharap kalian dapat memberi perlawanan yang berarti… di kala hari itu tiba.]

“Botis…” Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa bergumam. Ia menangkap makna di balik senyuman dan kata-kata lawan bicaranya. “Apa yang engkau sembunyikan…?”

Akibat berkas cahaya yang menyinari dari sembilan penjuru dan terpusat pada dirinya, mencuat satu lagi pilar cahaya yang membumbung tinggi yang mana datang dari tubuh si iblis. Menarik garis lurus, pilar cahaya ini melesat ke langit tinggi nan kelam, di mana masih terlihat ledakan demi ledakan ibarat halilintar nan menyambar. Kemudian, tubuh si iblis terlihat terangkat dan mengambang perlahan. Sungguh pemandangan yang memukau, layaknya si iblis sedang menjalani proses penyucian dosa, serta layak untuk kembali dan diterima menempati nirwana. 

Menanggapi kata-kata Balaputera Dewa, secara reflek bola mata nan gelap milik si iblis itu melirik ke arah Bintang Tenggara. Raut wajahnya pun menunjukkan keresahan, sekaligus kegembiraan. Pelik. 

Sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang, sejauh ini sudah sangat dibuat penasaran oleh kemampuan dan jurus-jurus anak remaja tersebut. Namun, apakah yang membuat Botis tertarik lebih jauh? Apakah gerangan yang sampai membuat iblis tersebut mengungkit ramalan kuno…? 

Dari sudut pandang Botis, khususnya bangsa iblis, anak remaja tersebut merupakan sebuah ancaman besar. Koreksi, adalah jurus yang dikira telah lama punah seungguhnya ancaman besar tersebut berasal. Masih segar di dalam ingatan Botis tentang suatu ketika di masa lampau, di kala pernah hadir penguasa nan maha digdaya. Ia menguasai jurus yang sama, dan dengan kemampuan lain yang ia miliki, pada rentang waktu tertentu… menyegel bangsa iblis!

Sadar akan keberadaan jurus tersebut, membuat Botis ini segera melenyapkan anak remaja tersebut. Akan tetapi, ia sepenuhnya sadar bahwasanya bukan semata jurus tersebut yang membuat penguasa di masa lampau hadir demikian digdaya. Selagi mengincar si anak remaja, Botis pun menyadari satu hal lain. Bukan bangsa iblis namanya, bilamana tak bisa memanfaatkan ancaman sebagai kesempatan. Bilamana ia dapat menarik hati anak manusia yang masih belia itu, mengendalikannya, maka bukan tak mungkin ia dapat berdiri di atas bangsa iblis lainnya! Penguasa di atas penguasa!

Botis mengabaikan pertanyaan Balaputera Dewa. Sepertinya tokoh tersebut juga tiada mengetahui akan keberadaan jurus itu. Dengan pemikiran sebagaimana diurai di atas, maka bukan tak mungkin Balaputera Dewa memanfaatkan si anak remaja. Tidak tertutup pula kemungkinan di mana Balaputera Dewa mengambil langkah aman, yaitu melenyapkan si anak remaja demi mencegah malapetaka di masa depan. 

[Anak manusia… tumbuhlah, dan kita akan bersua lagi….]

Bintang Tenggara masih terpukau. Bagaimana tidak? Pertama, tadi ia sempat menyaksikan iblis yang siap bertarung mengerahkan unsur kesaktian. Sekujur tubuh sempat terbungkus jalinan petir. Bila hanya petir yang berderak, maka bukanlah sesuatu yang tak biasa. Akan tetapi, jalinan petir tersebut terlihat jelas… berwarna semerah darah! Apakah gerangan!? 

Kedua, si iblis kini bergelimang terang. Ia mengudara, dilengkapi dengan bulir-bulir cahaya yang melayang ringan di sekeliling tubuh. Ibarat malaikat saja! Sungguh pemandangan yang bertolak belakang dengan pemahaman umum tentang konsep iblis dan nirwana.

Ketiga, sungguh senyuman nan menyeramkan. Lebih mengerikan daripada tipu daya dunia keahlian. Sampai merinding dibuatnya. Berhentilah tersenyum ke arahku! demikian hati anak remaja tersebut menolak. 

Tatkala dirinya terus terangkat tinggi, dan tinggi ke angkasa, tiada Botis memberontak sama sekali. Ia mendongak pelan. Sungguh tiada dapat diduga bahwa ia telah berhadapan dengan sebuah kebetulan yang membuka kesempatan emas. Mungkin adalah demikian benaknya berkutat.

Telah menanti di atas langit tinggi, sebuah celah yang membuka. Tak perlu waktu lama, Botis telah diantarkan kembali ke sisi dunia yang lain. 

Bintang Tenggara, masih duduk bersila, tertegun. Apakah sesungguhnya yang sempat terjadi…?

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, mengibaskan lengan. Seketika itu juga, sejumlah formasi segel berpendar pada luka tusuk di pundak dan luka gores di paha, serta di ulu hati. Tetiba rasa perih dan nyeri menghilang, dan luka-luka yang diderita seolah sudah sembuh dan kembali seperti sedia kala. Mustika tenaga dalam pun terisi penuh!

Tak lama, sembilan Datu Besar mendarat. Mereka menekuk satu lutut, mengelilingi Balaputera Dewa dan Balaputera Gara. Walau kepala mereka menunduk, dapat dirasakan berbagai emosi yang mencuat. Ada yang gembira, ada pula yang resah. Semua bercampur-baur menjadi satu. 

“Kembalilah terlebih dahulu,” titah Balaputera Dewa kepada kesembilan Datu Besar.

Kesembilan Datu Besar tiada bersuara. Formasi segel berpendar, dan mereka pun menghilang dari pandangan mata. Dengan diurainya formasi segel nan bercahaya gemilang, suasana di lapisan langit di atas ibukota Minangga Tamwan berubah gelap. Tabir malam telah lama tiba dan angin berhembus dingin. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera menjentikkan jemari, di mana sebuah formasi segel mengemuka tinggi, dan bersinar temaram. Bebatuan dan puing-puing yang melayang di sekitar tempat mereka berada turut mendapat sedikit pencahayaan. 

Bintang Tenggara bangkit berdiri, akan tetapi terlihat sangat canggung. Bagaimana tidak, di hadapannya menanti Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, sang penguasa tunggal Kemaharajaan Cahaya Gemilang!

“Katakan rahasiamu…” Balaputera Dewa bukanlah tokoh yang senang berbasa-basi. Adab yang tepat bilamana berhadapan dengan tokoh ini adalah: jawab pertanyaannya, laksanakan titahnya. Sederhana.

Bintang Tenggara terdiam. Rahasia manakah yang dimaksud sang penguasa? Karena banyak hal yang tak ingin ia beberkan kepada sembarang ahli. Mungkin jika pertanyaan diajukan secara lebih spesifik, lebih mudah bagi anak remaja itu menjawabnya. 

Di saat Bintang Tenggara sedang menduga-duga rahasia yang mana satu, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa melangkah mendekat. Ia menjulurkan tangan ke arah ulu hati anak remaja itu! 

“Cih!” 

“Awas!” 

“Duak!” 

Belum sempat jemari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menyentuh ulu hati anak remaja tersebut, sebuah ledakan terjadi. Ledakan tersebut berasal dari mustika retak serta mustika tenaga dalam binatang siluman kasta emas sebagai tempat menumpang. 

Akan tetapi, yang menerima dampak terbesar dari ledakan tersebut, justru adalah Bintang Tenggara. Anak remaja tersebut terpental dan jatuh tak sadarkan diri. 

Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa, serentak menghentakkan tenaga dalam!

Balaputera Dewa menarik lengan dengan cepat. Meski tiada terpengaruh hentakan tenaga dalam, ia cukup waspada. Raut wajahnya tetiba menunjukkan keheranan, karena sosok bulat gempal berjubah dengan rambut dan janggut serba putih serta sosok merah kekar tanpa atasan, telah mengemuka!

“Oh…? Kalian…?”

“Kakek tua bangsat! Jangan lancang kau sentuh muridku!” hardik Komodo Nagaradja berang. Seperti biasa, ia mengacungkan kepalan tinju nan mengancam. 

“Dapunta Hyang Balaputera Dewa, sungguh terlampau lama waktu berlalu. Senantiasa menjadi kehormatan bilamana dapat bersua sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” sapa Ginseng Perkasa. 

“Komodo Nagaradja… Ginseng Perkasa… Dua dari Sembilan Jenderal Bhayangkara…,” gumam Balaputera Dewa. Sikap tenang dapat menyembunyikan keterkejutan di hati. 

“Aaarrgghhh…” Komodo Nagaradja menggeram. “Pengecut!”

“Kukira kalian telah lama mati…,” ujar Balaputera Dewa. Di dalam benak ia sudah dapat menyusun teka-teki yang selama ini tersaji. Saat berada di lereng Gunung Pagar Alam dan di dalam formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang, sesuai perkiraan Balaputera Gara adalah benar mengerahkan Tinju Super Sakti, sebuah jurus persilatan yang berlebihan karena ledakan suara membahana yang mengikuti. Selain itu, dengan keberadaan Ginseng Perkasa, maka khabar angin tentang Balaputera Gara yang mampu meramu sampai dengan tingkat kemanjuran yang demikian tinggi, pun dapat dimaklumi. 

“Bagaimanakah khabarnya Dewi Anjani…?” Balaputera Dewa memicingkan mata. 

“Apa urusanmu dengan perempuan gila itu!? Hah!? Jangan kau mengalihkan pembicaraan! Apa yang hendak engkau lakukan tadi pada muridku!?”

“Oh… Komodo Nagaradja, bagaimana mungkin diriku mencelakai keturunanku sendiri…?”

“Omong kosong!”

“Tenanglah sedikit…,” bisik Ginseng Perkasa.

“Bagaimana aku bisa tenang! Hei Balaputera Dewa! Cih! Menyebut namamu saja membuatku muak!” 

“Kalian hanya jiwa tanpa raga…” 

“Dapunta Hyang Balaputera Dewa,” Ginseng Perkasa mendahului Komodo Nagaradja, “apakah sesungguhnya yang hendak dikau lakukan kepada anak remaja itu tadi?” 

“Diriku hendak memeriksa…”

“Kau punya kepala yang sepantasnya diperiksa!” Komodo Nagaradja menyela. 

Balaputera Dewa mengabaikan Komodo Nagaradja. “Diriku sempat memastikan aura bernuansa hijau yang sempat menyibak…” 

“Itu adalah aura dari ramuan yang pernah diriku berikan dalam upaya menunjang keahliannya.” Ginseng Perkasa berupaya berkelit. Tiada bisa ditebak apa yang akan dilakukan tokoh tersebut kepada Bintang Tenggara bilamana keberadaan Akar Bahar Laksamana terbongkar. 

Balaputera Dewa menatap seksama. Tak mungkin penghilatannya mengelabui. Aura bernuansa kehijauan itu sangat mirip dengan milik Laksamana Hang Tuah. Walau, belum terasa tekanan yang datang dari aura tersebut. 

“Apakah kalian berdusta…?” 

“Cih!” Komodo Nagaradja kembali meradang. “Aku tiada berdusta! Makhluk hidup berdusta karena rasa takut. Tiada ahli yang dapat membuatku gentar!” 

Ginseng Perkasa mundur selangkah. Betapa ia takjub akan kata-kata Komodo Nagaradja tadi. Jarang-jarang tokoh tersebut melontar kata-kata nan penuh makna. 

Balaputera Dewa, sebaliknya, mengernyitkan dahi. Ia telah menjadi penguasa selama ribuan tahun. Tiada satu ahli yang berani berkata-kata lancang di hadapannya. Bahkan di kala Perang Jagat, Laksamana Hang Tuah dan Sang Maha Patih sekalipun menaruh hormat kepada dirinya. 

“Apa yang dapat dilakukan oleh jiwa tanpa raga seperti engkau?” cibir Balaputera Dewa. 

“Cih! Kakek tua bangka!” Komodo Nagaradja menjulurkan lidah sambil membuka rahang perlahan. Sebuah gumpalan seukuran kelereng, berwarna hitam pekat, terlihat melayang keluar dari dalam mulut. 

“Segel Hitam!” Ginseng Perkasa takjub. 

“Hahaha…” Balaputera Dewa yang biasanya tenang dan penuh wibawa, tergelak lepas. 

Segel hitam melayang pelan di atas permukaan tangan Komodo Nagaradja. “Kau meremehkan aku, wahai tua Bangka…?”

“Ginseng Perkasa, sampaikan bahwa setelah memampatkan unsur kesaktian miliknya, siapa yang mengajari Sang Maha Patih menempatkan unsur kesaktian tersebut ke dalam formasi segel…” 

“Komodo Nagaradja, jangan berbuat gegabah. Benda itu terlalu berbahaya…,” Ginseng Perkasa terdengar resah. “Lagipula, adalah benar bahwa Dapunta Hyang Balaputera Dewa yang mengajarkan Sang Maha Patih teknik merapal formasi segel dalam merapal Segel Hitam.” 

“Aku tiada peduli! Jikalau ia hendak mencelakai muridku, maka sebuah ganjaran yang layak akan menanti!” 

“Apakah yang terjadi…?” Tetiba terdengar seorang anak remaja berujar. Bintang Tenggara telah siuman.

“Kuperingatkan sekali lagi, jangan kau berbuat sembarang terhadap muridku!” Demikian, jiwa dan Komodo Nagaradja kembali ke dalam mustika retak. 

Ginseng Perkasa, menyadari bahwa mereka dapat mengelabui Balaputera Dewa tentang Akar Bahar Laksamana, membungkukkan tubuh sekali, sebelum akhirnya kembali ke dalam mustika binatang siluman dimana ia bernaung. 

Balaputera Dewa masih menaruh kecurigaan. Akan tetapi, untuk sementara waktu, masih dapat ia tekan perasaan tersebut.