Episode 252 - Tembus (1)


Bintang Tenggara terus bergerak mundur. Telapak tangan menutup luka tusukan yang menembus dari pundak ke sisi atas dada kiri. Rasa perihnya bukan kepalang dan darah masih terus mengucur keluar. 

Botis si iblis tiada mengendorkan serangan. Ia mengejar. Meski tanpa melakukan teleportasi jarak menengah, gerak tubuhnya tetap jauh lebih cepat dari sasaran. Bintang Tenggara menebar sejumlah Segel Penempatan guna menghindar. Satu segel dipasang pada luka tusuk di pundak. Setidaknya, upaya ini menjadi pertolongan pertama dalam menutup luka tusuk, menghambat kehilangan darah. 

Cadangan tenaga dalam masih banyak adanya. Akan tetapi, cedera di tubuh tentu menghambat pergerakan yang biasanya tangkas. Rasa sakit semakin membuat gerakan menjadi tiada leluasa. Akibat kehilangan darah, otot-otot tiada dapat berfungsi seperti sedia kala. Dalam keadaan seperti ini, sungguh tenaga dalam tiada banyak membantu. Terlebih lagi, sebagaimana diketahui, tenaga dalam dari mustika di ulu hati mengalir mengikuti aliran darah. 

Bintang Tenggara terjatuh berjumpalitan ketika menghindar dari cakar-cakar yang menebas deras. Kendatipun demikian, anak remaja itu tetap berupaya bangkit dan secepatnya bergerak menghindar. Dalam keadaan seperti ini, dirinya yang menderita luka yang tak ringan, harus memaksakan diri untuk bergerak. Berdiam diri berarti menjadi sasaran nan empuk bagi sang lawan.

Di saat melompat mundur, cakar kiri lawan yang mengincar beringas berhasil menggores paha kanan. Pertarungan yang awalnya seolah permainan kucing-kucingan belaka, kini berubah menjadi perburuan. Luka gores di bagian paha, untungnya tak dalam. Akan tetapi, rasa nyeri semain membuat gerakan anak remaja itu terlihat demikian payah. 

Bintang Tenggara, yang selama ini selalu mengandalkan kecepatan gerak, dibuat tak berdaya. Sejak memulai jalan keahlian, pertama berangkat meninggalkan Pulau Paus, tiba di Pulau Dewa, di Perguruan Gunung Agung, bahkan saat berada di wilayah Partai Iblis sekalipun, ia selalu bisa berkelit dan menemukan jalan keluar. Akan tetapi, kini, dirinya menghadapi ancaman yang demikian nyata. Ancaman nan mengerikan, karena unsur kecepatan yang selama ini diandalkan, ibarat dirampok habis oleh si iblis!

Botis, di lain pihak, mulai dapat mencicipi kenikmatan yang senantiasa dinanti. Sebagaimana diketahui, si iblis senang menciptakan kengerian dan ketakberdayaan di dalam benak, dan termasuk di antaranya melalui rasa sakit di tubuh. Ketika keputusasaan mulai terpupuk dan merasuk ke relung hati, maka manusia semakin terpuruk. Setelah itu, barulah melahap daging, meminum darah dan menyerap mustika tenaga dalam manusia menjadi semakin-makin nikmatnya. Sungguh bangsa iblis makhluk nan teramat keji. 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Keputusasaan belum sepenhnya menghinggapi, terlihat dari sorot kedua bola matanya yang masih memberi kesan menantang. Akan tetapi, rasa sakit yang mendera baru meningkatkan perasaan tiada berdaya. Apalagi anak remaja itu dihadapkan pada pengalaman yang benar-benar baru. Ibarat berada di dalam sangkar ular, ia adalah seekor tikus kecil yang dilepas hanya untuk menjadi kudapan. 

“Jangan menyerah!” dengus Komodo Nagararadja. 

Segel Syailendra: Komodo!

Sebuah formasi segel bependar dan mengambil wujud. Serta-merta ia membuka rahang nan lebar dan menggigit kaki si iblis. Botis merasa sangat terganggu ketika langkahnya tertahan. Segera ia kibaskan cakar-cakar terhadap formasi segel nan berwujud komodo mini tersebut. Akan tetapi, anehnya, tiada berguna. Formasi segel tersebut mengacuhkan serangan dan terus menggigit tanpa peduli apa pun jua.

Walhasil, Botis, dengan wajah demikian sebal, menyeret kaki yang terbebani. Sungguh pemandangan yang merendahkan harga diri. Bila saja ada saudara-saudaranya, iblis-iblis lain, maka pastinya ia menjadi bahan tertawaan. Andai saja Bintang Tenggara menjatuhkan formasi segel nan berwujud paus, maka rasa sebal malu si iblis itu kemungkinan akan bertahan sampai ribuan tahun lamanya. 

Keringat bercucuran dan jantung berdetak keras. Rasa sakit juga menimbulkan kelelahan yang membuat tubuh terasa demikian berat. Meskipun demikian, Bintang Tenggara terus berupaya menjaga jarak, sesuatu yang saat ini sangat semakin berat untuk dilakukan. Anak remaja itu sudah tiba di salah satu pojok dinding nan bercahaya gemilang. Ruang gerak sudah terbatas. 

Botis, meski bergerak lambat, semakin mendekat. 

Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!

Bintang Tenggara kembali merapal formasi segel pertahanan. Di saat yang sama, formasi segel berwujud komodo mini terurai dengan sendirinya. 

Menyaksikan formasi segel tersebut, Botis, berbeda dengan sebelumnya, tiada lagi mencabikkan cakar-cakar panjang dan tajam. Ia menikmati waktu yang tersedia, dengan berdiri menyilangkan lengan di depan dada. Menunggu sampai batas waktu formasi segel memudar dengan sendirinya. Menikmati saat-saat di mana anak remaja di hadapannya itu menyerah dan jatuh ke jurang nestapa. 

“Bagaimana ini…?” Ginseng Perkasa kembali cemas. 

“Bagaimana lagi, tak ada pilihan lain…” Komod Nagaradja akan mengemuka. 

Bintang Tenggara duduk bersila. Menyadari bahwa waktu yang tersedia tidaklah lama. Salah satu harapan yang tersedia adalah menggantungkan harapan kepada kesembilan Datu Besar yang saat ini bersama-sama merapal formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang.

Yang tiada anak remaja tersebut ketahui, bahwanya para Datu Besar tak bisa melonggarkan formasi segel gabungan tersebut sesuka hati. Segel Syailendra: Cahaya Gemilang adalah satu-satunya cara untuk membatasi ruang gerak dan kekuatan sejati sang iblis. Bilamamana dilonggarkan, maka pastilah iblis tersebut akan bergembira akan kesempatan tang terbuka, kemudian mengamuk membabi-buta. Para Datu Besar, walaupun kesemuanya berada pada Kasta Emas, tentulah akan kewalahan menghadapi lawan nan demikian perkasa. 

Apakah Tantangan Ketiga dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta, sesungguhnya merupakan upacara penyerahan tumbal…? Mungkinkah peserta terakhir adalah ahli yang akan menjadi korban kepada sang iblis…? Dalam kecemasan, benak Bintang Tenggara melayang jauh. Dirinya tiada terlalu mengenal para ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia baru datang sekira tiga purnama lalu. Oleh sebab itu, bukan tak mungkin bahwa dirinya dijadikan terperosok ke dalam upacara pengorbanan kepada sang iblis. 

[Wahai anak manusia… Kau hanya memperlambat takdirmu…,] gumam Botis yang masih menunggu sabar di luar formasi segel.

Atas tujuan apa…? Benak Bintang Tenggara masih mencari-cari jawaban. Ayahanda dan ibunda tiada pernah sekali pun mengungkap jati diri sebagai anggota keluarga bangsawan Wangsa Syailendra. Mungkinkah mereka memiliki alasan tertentu, di mana Hajatan Akbar Pewaris Takhta merupakan puncanya…? 

Di saat benaknya melayang jauh, formasi segel yang berwujud struktur bangunan megah Kamulan Bhumisambhara, terlihat goyah dan mengabur. 

“Hei! Pusatkan perhatianmu!” sergah Komodo Nagaradja mengingatkan. 

Bintang Tenggara tersadar dari lamunan, dan kembali memusatkan perhatian. Akan tetapi, sulit sekali mengusir kecurigaan yang merangsek ke dalam benak. 

“Super Guru, apakah ada alasan lain dikau membenci para ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang ini…?’

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Pusatkan pikiran!” 

“Nak Bintang… Mustika tenaga dalam…” Ginseng Perkasa tetiba menyela.

Bintang Tenggara segera menebar mata hati ke ulu hatinya. Tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang melilit di mustika terlihat berdenyut-denyut, pun menyibak aura nan bernuansa kehijauan. Tumbuhan siluman tersebut selalu menyadari bilamana induk semangnya berada dalam ancaman bahaya. Di saat yang sama, tanpa disadari, sekujur tubuhnya menyibak aura bernuansa hijau.

“Swush!”

Tanpa perlu ditembus paksa, lima menit waktu berlalu dan formasi segel pertahanan mulai memudar. Lima menit waktu yang teramat berharga seharusnya dimanfaatkan untuk mencari jalan sebagai upaya melepaskan diri dari ancaman Botis si iblis. Akan tetapi, Bintang Tenggara justru terjebak dalam lamunan. Sebuah petanda bahwa petualangan selama ini masih jauh dari cukup dalam menapak jalan keahlian. Usia dan pengalaman tak bisa dibohongi!

Si iblis melangkah ringan. Santapan sudah tersaji di depan mata. Sekali dua tebasan, maka anak manusia tersebut pastilah akan menderita, untuk kemudian terjatuh ke dalam jurang keputusasaan. Kenikmatan nan tiada tara!

“Hmph!” dengus Komodo Nagaradja. 

Botis mengangkat sebelah lengan. Bintang Tenggara, yang hanya duduk bersila, menanti bak telur berada di ujung tanduk. Si iblis telihat mencabik deras…

“Tap!” 

Tetiba sesosok tubuh nan besar melakukan teleportasi jarak menengah dan menangkap lengan si iblis. Bukan, tentu saja bukan Komodo Nagaradja, karena siluman sempurna tersebut tak memiliki raga untuk bertindak sebagaimana demikian. Akan tetapi, ukuran tubuh yang tiba ini tiada kalah besar. Aura yang ia pancarkan demikian agung. Berada di dekatnya, seolah berada di bawah pohon beringin besar yang melindungi dari teriknya sinar mentari. 

Bintang Tenggara terpana. Baru kali ini ia menyaksikan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa dari dekat. Kakek buyutnya ini, sang penguasa tunggal Kemaharajaan Cahaya Gemilang, merupakan tokoh paling misterius di dalam kemaharajaan. 

Botis menyentak lengan yang tertangkap, namun tiada melompat mundur. Ia berdiri hadap-hadapan dengan lawan yang baru saja tiba. [Cih! Balaputera Dewa! Sudah kuduga kejadian ini adalah ulahmu!] 

Di saat itu pula, jalinan petir bergemeretak di sekujur tubuh si iblis. Petanda, bahwasanya ia akan mengerahkan unsur kesaktian untuk menghadapi lawan yang satu ini. Waktu untuk menjalani pertarungan dengan sepenuh hati telah tiba!

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, tiada menanggapi. Ia menatap anak remaja di samping. Yang membuat demikian penasaran bukanlah kenyataan si iblis bersiap untuk bertarung serius. Yang sangat menarik hati, adalah aura bernuansa hijau yang kini membungkus sekujur tubuh anak remaja yang terluka.

“Dikau…” Ia berujar kepada Balaputera Gara, namun menahan kata-katanya sendiri. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa lalu melontar pandang ke arah pilar dan dinding nan bercahaya gemilang. “Cukup!” 



Cuap-cuap:

Bagaimana? Apakah lebih baik memenggal satu episode menjadi dua bagian? Sesungguhnya tindakan ini merupakan uji coba dalam penjadwalan. 

Tabik.