Episode 251 - Tembus (0,5)


Sesungguhnya bukanlah pertarungan yang saat ini berlangsung di dalam cakupan formasi segel dengan sembilan sudut dan bercahaya gemilang itu. Bukan pula tukar-menukar serangan sebagaimana yang diharapkan oleh si iblis Botis. Tak terbilang sudah berapa banyak teleportasi jarak menengah yang telah dikerahkan. Sedangkan yang saat ini sedang berlangsung, adalah lebih mirip dengan permainan kucing-kucingan. 

“Srash!” 

Cakar-cakar besar dan tajam si iblis melibas tubuh si anak remaja. Akan tetapi, hanya menerpa bayangan sahaja. Tubuh Bintang Tenggara telah terlebih dahulu bergeser posisinya. Kemampuan mengelak menggunakan jurus Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Terlebih, jurus tersebut jauh lebih menghemat tenaga dalam dibandingkan dengan teleportasi jarak dekat sebagaimana yang diperlukan dalam menggunakan Bentuk Ketiga. 

Segera setelah itu, Bintang Tenggara melompat mundur demi menjaga jarak aman. Jikalau Botis melakukan teleportasi jarak menengah lagi, maka kesadaran Komodo Nagaradja telah siap sedia membaca kehadirannya, serta memberikan peringatan yang tepat waktu serta akurat. 

Akan tetapi, Botis tiada menghilang dari posisinya berdiri. Ia hanya menatap tajam ke arah sasaran yang belum juga dapat dicapai. Dada naik-turun dan keringat bercucuran. Iblis sekalipun, bilamana terlalu banyak menggunakan jurus yang demikian perkasa, maka akan merasakan tenaga dalam terus berkurang. 

Sebuah senyuman menghias sudut bibir Bintang Tenggara. Menjalani dunia keahlian, sesungguhnya melibatkan ilmu pasti. Hitung-hitungannya jelas. Semakin canggih suatu jurus yang dikerahkan, maka semakin besar pula jurus tersebut membutuhkan jumlah tenaga dalam. Semakin sering sebuah jurus dilepaskan, maka semakin banyak pula tenaga dalam yang dibutuhkan. 

“Bila taksiranku tiada salah, maka tenaga dalam iblis itu sudah sangat banyak terbuang,” Ginseng Perkasa berujar tenang. “Sejak tiba, sudah 32 kali iblis itu melakukan teleportasi jarak menengah. Bilamana setiap teleportasi tersebut secara rata-rata memakan 2,5 persen tenaga dalam…”

“Maka sisa tenaga dalam yang ia miliki saat ini hanyalah tersisa 20 persen,” sela Bintang Tenggara. 

“Kalian benar-benar menghitung…!?” Bahkan Komodo Nagaradja sulit percaya akan kenyataan ini. 

“Bagi peramu sebagaimana diriku, melakukan perhitungan secara akurat merupakan keniscayaan,” jawab Ginseng Perkasa ringan. “Akan tetapi, 20 persen tenaga dalam ahli Kasta Emas Tingkat 2, lebih dari cukup untuk membungkam ahli Kasta Perak sekalipun. Oleh karena itu, Nak Bintang harus terus mengulur waktu dan memancing agar iblis itu terus menghamburkan tenaga dalam.” 

“Cih! Cara bertarung pengecut!” hardik Komodo Nagaradja.

“Daripada mati konyol!” 

“Lebih baik mati, daripada dinilai pengecut!”

Di kala pertarungan terjadi antara dua kesadaran di dalam benak Bintang Tenggara, si iblis mengamati situasi dengan tenang. Ia mencoba menerka-nerka akan apa yang membuat anak remaja yang satu ini dapat terus-menerus berkelit dari serangan-serangan yang datang mendadak melalui teleportasi jarak menengah…?

Sejak ketibaan di tempat ini, Botis sepenuhnya menyadari bahwa kekuatan sejatinya tersegel. Artinya, bukan hanya kasta dan peringkat keahlian, tetapi juga kekuatan serta kecepatan tubuh. Pada awalnya, ia kesampingkan kenyataan tersebut karena hanya berhadapan dengan lima ahli Kasta Perak dan satu ahli Kasta Perunggu. Harga diri membuat sang iblis bersikap congkak. Kini, ia kehilangan kesempatan melahap lima remaja yang sudah tak bisa bertarung, sementara anak remaja yang satu ini cukup piawai dalam menghindar. 

Ditilik dari segi usia, kemudian pengalaman bertempur, tiada mungkin anak remaja tersebut memiliki kepiawaian sebagaimana yang ia tampilkan. Manusia, bukanlah binatang siluman yang memiliki naluri tajam. Manusia memiliki kelebihan akal, namun keterbatasan raga. Oleh karena itu, manusia menekankan pada jurus persilatan dan unsur kesaktian. Apa yang tersembunyi di balik sosok anak remaja itu…?

Pertanyaan demi pertanyaan belum juga memiliki jawaban. Ribuan tahun pengalaman melanglang buana menaklukkan satu dunia ke dunia yang lain, seolah tiada berguna di hadapan anak remaja itu. 

“Super Guru… Kakek Gin… Apakah bangsa iblis dapat menguasai jurus persilatan dan kesaktian..?”

“Pertanyaan bagus…” Ginseng Perkasa menanggapi. 

“Tentu saja!” Komodo Nagaradja menjawab langsung. “Bukankah teleportasi jarak menengah merupakan jurus persilatan…?”

“Lalu, mengapa ia tiada mengerahkan jurus persilatan khusus menyerang? Mengapa pula tiada merapal unsur kesaktian…?”

“Bangsa iblis memiliki harga diri tinggi. Bagi mereka yang mampu meluluhlantakkan dunia, mengandalkan jurus-jurus nan digdaya di kala berhadapan dengan manusia yang hanya berada pada Kasta Perunggu, akan mencederai harga diri,” urai Ginseng Perkasa. 

“Maka itu adalah kelemahannya…,” simpul Bintang Tenggara. 

Meskipun demikian, Bintang Tenggara menyadari betul bahwa kelemahan yang dimaksud bukanlah sesuatu yang dapat menjatuhkan si iblis di hadapan. ‘Kelemahan’ tersebut adalah alasan mengapa dirinya kini masih dapat bernapas. 

“Lompat ke kiri!” 

Bintang Tenggara sontak mengikuti panduan Komodo Nagaradja. 

“Persiapkan Harimau! Lompat ke belakang! Ke kanan! Sekarang!” 

Perintah demi perintah datang beruntun. Bintang Tenggara tiada mengandalkan pemikiran maupun naluri, ia hanya mematuhi. Sepenuhnya berserah diri kepada pengalaman dan naluri Komodo Nagaradja. Tubuhnya hanya mengandalkan reflek dalam menyikapi setiap arahan.

“Harimau!” 

Terhadap ruang kosong di hadapan, Bintang Tenggara tetiba melepas lima tinju kanan secara beruntun sebanyak dua kali. Runtutan pertama menciptakan gelombang kejut, akan tetapi sebelum gelombang kejut tersebut meledak, ia segera membuat gelombang kejut kedua dengan gerakan tinju kait yang menyapu dari sisi kanan ke kiri. 

Di saat yang sama, Botis masih mengandalkan teleportasi jarak dekat dan mengemuka. Di saat itu pula…

“Beledar!” 

Suara menggelegar dan membahana tak dapat dihilangkan, karena merupakan dampak samping dari jurus nan maha digdaya. Hanya dalam satu kelebat mata, tercipta ledakan gelombang kejut yang menyapu. Luas cakupan kekuatan jurus sekira selebar sepuluh kali sepuluh langkah. Dampak yang dihasilkan ibarat seekor harimau raksasa yang baru usai mencabikkan cakar-cakar nan tajam perkasa.

Ketibaan Botis menggunakan teleportasi jarak dekat justru menjadi sasaran empuk dari jurus yang baru saja dilepaskan! Ia tiada dapat menghindar. Gerakan yang iblis itu ambil dalam keadaan terpojok adalah menyilangkan lengan di depan dada. 

Tubuh Botis terpental keras. Ia mencoba tetap menapak, namun tenaga dorongan yang demikian besar menciptakan guratan panjang pada permukaan tanah. Pada akhirnya, tubuh iblis itu menghantam dinding formasi segel nan bercahaya gemilang. 

Tanah menyeruak deras dan debu membumbung tinggi. Dari sela-sela kepulan debu yang mulai menyibak, terlihat tubuh si iblis tersandar pada dinding. Sorot mata yang dipenuhi amarah, tajam menatap lawan. Meski tubuhnya tiada menderita luka-luka nan berarti, betapa harga diri sebagai makhluk yang sepantasnya berada di atas, menerima pukulan nan telak. 

Bintang Tenggara melompat mundur. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Hentakan balik jurus yang dikerahkan terhadap lawan yang jauh lebih perkasa, terpaut satu kasta penuh, cukup membebani tubuh. Tatapan mata si anak remaja tak lepas menatap lawan di kejauhan. Sedikit saja si iblis bergerak, maka Komodo Nagaradja pastilah memberikan peringatan. 

Sepersekian detik kemudian, tubuh si iblis kembali menghilang dari pandangan mata. 

“Di belakang!”

Bintang Tenggara sontak melompat berguling ke depan. Namun demikian Botis segera mengejar. Ia merentangkan kedua lengan lebar-lebar, lalu menebas garang. Bintang Tenggara terlihat berjumpalitan, meski masih dapat menghindar dari cakar-cakar nan mengincar. 

Botis terus menerus melancarkan serangan demi serangan, seolah tanpa akan berhenti. Akan tetapi, kali ini ia menyerang secara langsung dari muka. Sebagaimana ia sadari juga, tenaga dalam sudah terlalu banyak terbuang untuk teleportasi jarak menengah yang tiada membuahkan hasil.

“Brak!”

Bintang Tenggara menangkis cakar-cakar menggunakan Tempuling Raja Naga. Meski sejumlah getaran pukuran lawan dapat diredam oleh Sisik Raja Naga, anak remaja tersebut tetap mendapati rasa tak nyaman di sekujur lengan. 

“Crash!” 

Komodo Nagaradja sedang berkonsentrasi penuh. Hal ini sangat diperlukan guna menebak secara akurat posisi lawan mengemuka saat menggunakan teleportasi jarak menegah. Di sisi lain, Bintang Tenggara sibuk menangkis cakar-cakar besar dan tajam. Dengan demikian, tiada yang menyadari bilamana ekor yang sebelumnya melilit di pinggang, telah melesat cepat. 

Darah mengalir merah ketika ekor si iblis Botis menembus pundak Bintang Tenggara.  


Catatan:

Nantikan Episode Bayang, pada hari dan waktu sebagaimana biasa