Episode 36 - Alsiel (4)



Alsiel tanpa ragu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Di sana dia melihat seorang gadis cantik, yang adalah pacar dari pemilik tubuh sebelumnya. Ada juga seorang pria tua yang sedang terbaring lemah di ranjang. Juga, ada seorang pria dengan baju rapi dan terlihat elegan sedang duduk di samping gadis tersebut sembari memegang tangannya.

‘Siapa dia?’ pikir Alsiel dengan heran.

Setelah melihat ke dalam ingatan pemilik tubuh sebelumnya, Alsiel bisa mengetahui bahwa ternyata pria itu adalah Albert, mantan bos dari pemilik tubuh sebelumnya di perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya.

Albert sejak lama memang memiliki perasaan terhadap pacar dari pemilik tubuh sebelumnya, dan dia sudah melakukan banyak usaha untuk bisa mendapatkannya, akan tetapi selalu gagal. Akhirnya dia memecat pemilik tubuh sebelumnya tanpa alasan yang jelas, agar dia bisa lebih leluasa untuk mendekati gadis tersebut.

Hingga akhirnya Albert mendapatkan kabar bahwa ayah dari gadis itu menderita sakit dan harus segera dioperasi. Jika hanya dengan kemampuan gadis itu sendiri, dia tidak akan mampu untuk membiayainya. Dan pacarnya juga baru saja dipecat dari perusahaan dan kini hanya bekerja sebagai tukang ojek.

Di tengah keputusasaan datang sebuah cahaya, yaitu Albert. Dia berkata akan membiayai semua biaya operasi tersebut, tapi dengan satu syarat, yaitu harus menikah dengan Albert.

Pada awalnya gadis itu ingin langsung menolak, tapi ketika dia mengingat kondisi ayahnya, dia meminta waktu pada Albert untuk memutuskan semua ini. Gadis itu ingin menjelaskan semuanya pada pacarnya terlebih dahulu.

Ketika gadis itu selesai menjelaskan semuanta, pacarnya, yaitu pemilik tubuh yang kini digunakan oleh jiwa Alsiel, berjanji akan mendapatkan uang dan membayar semua tagihan dari operasi tersebut, bagaimana pun caranya.

Dan kemudian dia mencoba banyak cara untuk mendapatkan uang. Seperti mengikuti lomba bakat di televisi, akan tetapi dia tidak pernah bisa menang. 

Ya, karena dia adalah pria biasa. Bahkan aura biasa miliknya adalah elit di antara elit. Dengan kata lain, dia adalah pria super biasa.

Dari penampilan, dia jauh lebih buruk dari Albert yang memiliki wajah tampan.

Dari sisi ekonomi, sudah jelas dia hanya sebuah kerikil, dan Albert adalah mutiara.

Dari sisi keluarga, dia hanya hidup sebatang kara, sedangkan Albert berasal dari sebuah keluarga besar yang terhormat.

Namun, itulah anehnya, gadis tersebut lebih mencintai pria super biasa tersebut ketimbang Albert.

Entah gadis itu yang aneh, atau dunia sudah mulai gila.

Setelah berjuang dengan keras, pria itu akhirnya sampai pada batasnya, dan memutuskan untuk meminjam uang dari temannya. Dan kemudian datanglah insiden penuh kebetulan tersebut.

Kebetulan ada kucing yang lewat di tengah jalan pada saat dia mengendarai sepeda motor.

Kebetulan jalan menjadi licin karena hujan yang baru saja turun.

Kebetulan ban sepeda motornya sudah tidak lagi kasar dan membuat dia tidak bisa mengendalikan motornya.

Kebetulan dia menabrak sebuah pohon kelapa.

Kebetulan banyak buah kelapa tua yang terjatuh akibat benturan dari sepeda motornya.

Kebetulan ada ular kobra yang menggigitnya dan membuat dia meninggal.

Dan kebetulan ada jiwa dari Alsiel yang akhirnya mengambil alih tubuhnya.

Dari semua kebetulan itu, terciptalah sebuah klise yang sangat biasa. 

Namun, pada malam ketika pria biasa itu ingin meminjam uang, Albert datang menemui gadis tersebut dan meminta jawabannya. Gadis itu sempat mengharapkan janji dari pacarnya, akan tetapi kemudian dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban pada Albert.

Bukannya dia tidak percaya, tapi gadis itu tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Ayahnya harus segera dioperasi atau nyawanya akan terancam.

Meskipun Albert menggunakan cara kotor untuk mendapatkan gadis tersebut, akan tetapi dia berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan membahagiakannya dan tidak akan pernah membuat dia bersedih.

Albert tidak akan pernah memaksakan kehendaknya pada gadis tersebut lagi.

Hanya kali ini.

Hanya kali ini saja, Albert rela dipandang sebagai orang jahat oleh gadis yang dia cintai.

Tapi dia berjanji, tidak akan ada lagi kali lainnya.

Tapi tiba-tiba ketika Albert dan gadis itu sedang berada di kamar ayah gadis tersebut, pacar dari gadis tersebut, yaitu pria super biasa itu datang. Dia datang dengan pakaian yang kotor sembari menggendong sebuah tas.

Gadis itu tidak bisa berkata apapun setelah meliat pacarnya datang dan memergokinya sedang berpegangan tangan dengan Albert. Matanya mulai basah dengan air mata dan tangannya gemetar hebat.

Gadis tersebut tidak tahan untuk melihat pacarnya itu, dan hanya bisa menundukan pandangannya.

Albert merasakan gadis itu gemetar ketika tiba-tiba pria biasa itu, saingannya, tiba-tiba datang ke dalam kamar rumah sakit. Dia mengencangkan pegangannya pada tangan gadis itu untuk memberikan rasa aman dan seolah mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dalam imajinasinya, Albert berpikir setelah ini mungkin akan terjadi sebuah perkelahian yang memilukan dan pria biasa itu akan meminta sang gadis untuk memilih antara dia atau Albert, dan akhirnya gadis tersebut akan memiilih Albert sambil menangis karena memikirkan ayahnya yang harus segera di operasi.

Lalu pria biasa itu akan menceritakan semua kisah masa lalunya bersama gadis tersebut dan pergi dengan kecewa, sedangkan gadis itu akan menangis tersedu-sedu sambil memikirkan semua yang telah mereka berdua lewati selama ini.

Tapi, sayang sekali, itu semua tidak akan terjadi, karena jiwa yang berada dalam tubuh itu adalah Alsiel.

Alsiel dengan santai berjalan menuju gadis itu dan berdiri di depannya tanpa ekpresi apapun. Lalu dia melepas tas yang dia pakai dan memberikannya ke gadis tersebut.

“Ambilah.” Ucap Alsiel dengan datar.

Gadis itu bergetar setelah mendengar suara akrab pria yang selalu ada untuknya selama ini. Dia dengan perlahan melihat ke arah Alsiel dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu melihat ekpresi Alsiel yang tampak datar dan tidak bisa tidak menangis.

Dalam benaknya, gadis itu berpikir bahwa Alsiel merasa sangat kecewa dan sedih, akan tetapi tidak dia tunjukan karena harga dirinya sebagai seorang pria.

“Cepat ambil!” ucap Alsiel sedikit lebih keras.

“I-ini..?” Gadis itu bertanya sambil terus menyeka air matanya.

“Uang, cepatlah ambil!” Alsiel kini benar-benar kesal pada gadis tersebut. Baginya gadis tersebut hanyalah serangga bau yang jelek, sekarang setelah dia menangis malah membuatnya tambah tidak sedap dipandang.

Tiba-tiba Albert mendorong tas itu kembali pada Alsiel dan berkata, “Tidak perlu, aku yang akan membayar semua biaya operasinya.”

Gadis itu menoleh dan melihat Albert dengan mata yang berkaca-kaca, dia tidak bisa mengatakan apapun, lebih tepatnya dia tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk di katakan.

Alsiel melirik ke arah Albert lalu berkata, “Baiklah kalau begitu.” 

Alsiel keluar dari ruangan sambil membawa tas yang penuh dengan uang tanpa mengatakan apapun lagi.

Albert terperangah karena ternyata semua berjalan sangat lancar. 

Tidak ada perkelahian.

Tidak ada perdabatan.

Tidak ada drama lebay penuh air mata.

Alsiel hanya menyodorkan tas dan berkata pada gadis tersebut untuk mengambilnya, tapi karena tidak diterima, dia tidak membuang waktunya dan langsung pergi.

Namun, gadis itu menganggap apa yang dilakukan oleh Alsiel adalah wujud dari kekecewaan dan kesedihan yang dia derita. Sehingga membuat air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.

Albert mendekap erat gadis tersebut. Dia tidak mengatakan apapun, karena dia tahu, hanya waktu yang bisa meredakan semua kesedihan. Jadi, untuk saat ini, dia hanya bisa tetap di dekat gadis yang dia sukai dan mencoba untuk mengisi lubang yang hilang dengan memori manis di masa yang akan datang.

Sedangkan itu, di area parkir rumah sakit, Alsiel sedang duduk di motornya sembari memegang perutnya. 

Dia merasa kelaparan.

‘Sial! Menjijikan, tubuh manusia benar-benar lemah.’

Sebelumnya, Alsiel tidak membutuhkan makan atau tidur sedikitpun. 

Akhirnya Alsiel menghidupkan motornya dan bergegas pergi untuk mencari tempat makan. Dia melihat ke dalam ingatan pemilik tubuh sebelumnya dan datang ke sebuah warung makan yang sering dia datangi.

Alsiel memesan makanan yang biasa dipesan oleh pemilik tubuh sebelumnya, yaitu sate ayam dan es teh. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanannya datang.

Dengan perlahan, Alsiel mengambil satu tusuk sate dan menggigitnya. Lalu, daging ayam yang renyah masuk ke dalam mulutnya. Rasa daging itu terasa lebih lezat karena dibaluri oleh saus kacang yang meresap jauh ke dalamnya.

Kemudian Alsiel mengambil sepotong kecil lontong dan memasukannya ke dalam mulutnya, sensasi lembut dari lontong tersebut sangat cocok dengan renyahnya daging ayam yang telah dibakar.

Akhirnya, semua hidangan di depan Alsiel telah lenyap tanpa tersisa sedikit pun.

Namun, Alsiel masih belum puas. Dia kembali memesan beberapa porsi tambahan dan menghabiskannya lagi dalam waktu singkat.

Dia benar-benar rakus.

Wajar saja, lagipula dia adalah iblis.

Setelah tidak mampu menampung makanan lagi, akhirnya Alsiel memutuskan untuk berhenti sambil menunggu saat lapar lagi.

Dia menarik kembali kata-katanya sebelumnya, dia sangat menyukai tubuh manusia, lebih tepatnya, dia menyukai sensasi lapar dan kemudian memakan makanan yang lezat. Di tubuh sebelumnya, dia tidak pernah merasakannya.

Untuk menghabiskan waktu sembari menunggu rasa lapar datang, Alsiel berjalan-jalan denngan motornya sambil mencari tempat makan lainnya.

Untuk menemukan rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Hingga dia hampir lupa tujuan utamanya untuk mencari tuannya.

Sering kali dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk fokus mencari tuannya. Namun, saat waktu makan datang, dia pasti akan melupakan segalanya.

Dan tanpa Alsiel sadari, dia sudah menjelajahi hampir semua tempat makan di kota ini.

Alsiel sudah merasakan banyak rasa yang belum pernah dia jumpa, ada yang sangat lezat, ada yang biasa saja, dan ada juga yang sangat buruk. 

Untuk tempat makan yang buruk, dia akan selalu marah dan menghajar orang yang memasaknya.

Dia tidak bisa memaafkan orang yang telah membuat dia merasakan makanan yang buruk.

Waktu terus mengalir dan enam tahun akhirnya berlalu.

Dan hari ini, akhirnya dia bisa merasakan aura dari tuannya dengan lebih jelas.

Kini, Alsiel berada di sebuah tempat makan dengan beberapa hidangan di depan mejanya.

‘Tunggu Tuan, aku pasti akan datang untuk menemuimu, tapi setelah aku menghabiskkan semua ini.’

Dan begitulah, Alsiel melanjutkan untuk menyantap makanan di hadapannya dengan senyum yang mengembang.