Episode 250 - Pertarungan nan Dinanti



Suasana malam demikian cemerlang. Bintang-bintang bertaburan di langit tinggi. Sebagian bintang berkelompok, membangun susunan yang unik. 

Rasi bintang, atau konstelasi, adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus. Walau kebanyakan bintang di luar angkasa sana tak memiliki hubungan satu dengan lainnya, namun dari muka bumi terlihat seolah berkelompok di langit malam. Manusia memiliki pemahaman yang sangat baik dalam mengenali pola bintang-bintang, dan sepanjang sejarah mengelompokkan bintang-bintang yang tampak berdekatan menjadi rasi-rasi bintang. 

Pengelompokan bintang-bintang menjadi rasi bintang sesungguhnya cukup acak. Wilayah dan kebudayaan yang berbeda, akan melihat rasi bintang dari sudut pandang yang berbeda-beda pula. 

Malam ini, dari wilayah selatan Pulau Logam Utara, rasi bintang Gubug Penceng terlihat bersinar terang. Rasi bintang ini memiliki wilayah langit paling sempit di antara 88 rasi bintang yang ada. Formasi dari bintang-bintang di rasi bintang Gubug Penceng mirip seperti belah ketupat atau layang-layang dengan empat bintang terang yang terdapat di kanan, kiri, atas dan bawah. 

Alkisah, nama Gubug Penceng dikatakan berasal dari suatu waktu tatkala sejumlah pemuda di Pulau Jumawa Selatan sedang membangun rumah atau ‘gubug’. 

Saban hari, di depan rumah yang sedang dibangun, melintas seorang perempuan muda nan cantik lagi jelita. Ia bertugas mengantarkan sangu ke sawah. Rambutnya hitam tergelar lurus dan panjang, memakhkotai paras nan ayu. Sepasang payudara dibalut kemben ketat, namun sekuat-kuatnya kemben, tentu tiada dapat menahan getaran sisi atas payudara yang kencang di kala bergetar mengikuti irama langkah. Pinggulnya melenggok gemulai, yang bilamana dipandangi dengan seksama, niscaya akan mengemuka di dalam mimpi indah para pemuda. Dampak dari mimpi dimaksud, adalah pada pagi hari para pemuda merasakan sensasi basah yang menyenangkan. Wajar-wajar saja, apalagi bilamana para pemuda belum menemukan pasangan berbagi ranjang. 

Singkat kata singkat ceritera, kemolekan perempuan muda nan mempesona, mengganggu konsentrasi para pemuda dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Alhasil, gubug yang dibangun bentuknya pun menjadi miring, alias ‘penceng’. Entah bagaimana, gambaran gubug nan penceng kemudian diabadikan menjadi nama rasi bintang Gubug Penceng. Mungkin, hal tersebut dikarenakan kemiripan strukturnya. 

Terlepas dari namanya, rasi bintang Gubug Penceng, atau di tempat lain dikenal sebagai rasi bintang layang-layang atau rasi bintang pari, merupakan pedoman dalam menentukan arah selatan. 

Seorang remaja lelaki menatap rasi bintang Gubug Penceng, lalu melontar pandangan jauh ke arah selatan. Kemungkinan ia sedang dirundung rindu. Sudah beberapa purnama lamanya berkelana... mencari dan menapaki jejak yang tiada nyata. 

Tak jauh dari tempat di mana remaja lelaki tersebut berdiri termenung, sebuah tungku pembakaran menyala terang. Gerahnya bara api merangsek dan memenangkan pertarungan melawan dinginnya malam. Seorang lelaki tua bertubuh bongkok dan terlihat renta sekali, terlihat tekun bekerja menempa logam. Suara berdenting di kala logam bertemu logam, berbaur dengan suara binatang-binatang malam. 

Lelaki tua beristirahat sejenak. Perlahan, ia menoleh ke arah remaja lelaki, kemudian melangkah menghampiri. Usai menyeka keringat dan menghela napas panjang ia berujar, “Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk, apakah dikau telah memikirkan matang-matang keputusan di hati…?”

“Panggil aku Kum Kecho…” 

“Rencana menuntaskan pandangan dan tindakan Kaisar Iblis Darah bukanlah pilihan yang tepat…” Rahampu’u masih berupaya mengubah keputusan remaja lelaki di hadapannya. “Bukankah pandangan dan tindakan tersebut yang ditentang habis-habisan oleh Sang Maha Patih, ayahanda Yang Mulia Putra Mahkota?” 

Kum Kecho membalas tatapan lelaki tua itu. Akan tetapi, tiada ia menanggapi dengan kata-kata. Raut wajahnya datar, menunjukkan bahwa keputusan telah diambil dan tiada akan dapat tergoyahkan. Tatapan ini jauh lebih bermakna daripada sekedar kata-kata sanggahan. 

“Ada yang perlu dikau ketahui tentang alasan diriku sebagai siluman sempurna menolak seruan Kaisar Iblis Darah di kala Perang Jagat… Tentang jati diri sesungguhnya Kaisar Iblis Darah….” 

“Bahwasanya Kaisar Iblis Darah berasal dari bangsa iblis…?” sela Kum Kecho, dengan nada datar. 

Bagi Kum Kecho, mudah sekali menarik kesimpulan ini. Pertama, dari namanya saja sudah sangat jelas: Kaisar Iblis Darah. Kedua, makhluk hidup mana yang dapat berdiri di atas ribuan kaum siluman, bahkan memimpin dengan begitu perkasanya.

Rahampu’u sontak mundur selangkah. Mata melotot, rahang menganga. Tak dapat ia menyembunyikan keterkejutan di hati. Hanya ada beberapa ahli digdaya di Negeri Dua Samudera yang mengetahui akan keberadaan bangsa iblis, serta kenyataan bahwa Kaisar Iblis Darah merupakan salah satu dari mereka. Dari manakah Elang Wuruk mengetahui informasi ini...? Sejak kapan...?

“Bangsa iblis terdiri dari 72 ahli, tak lebih dan tak kurang...” ujar Rahampu’u. “Ketika manusia dan siluman mengejar keabadian melalui jalan keahlian, bangsa iblis adalah makhluk yang sedianya abadi.”

“Dikau hanya mengulang sesuatu yang sudah diriku ketahui sejak lama...” dengus Kum Kecho.

“Walau hanya berjumlah terbatas, bangsa iblis hendak menguasai sebanyak mungkin dunia. Di kala mereka tiba, maka sebuah dunia akan luluh lantak, bahkan hancur berderai. Bangsa iblis melahap makhluk hidup tanpa menyisakan apa pun jua!” 

Kum Kecho mengabaikan. Ia kembali melontar pandang ke rasi bintang Gubug Penceng di langit tinggi. Lebih menarik memandangi bebintang di angkasa, daripada mendengar kata-kata tak berarti lelaki tua renta. 

“Hanya ada beberapa dari ke-72 bangsa iblis yang menjatuhkan pilihan kepada Negeri Dua Samudera sebagai sasaran,” pungkas Rahampu’u.  

Kum Kecho bergumam pelan, “Hubungan di antara ke-72 iblis tidak pernah baik. Mereka bergerak sendiri-sendiri. Tak akan pernah saling mengalah antara satu dengan yang lainnya.”

“Bukan berarti mereka tak pernah membangun kesepakatan, kemudian bahu-membahu!” 

“Jikalau bangsa iblis dapat bersatu padu, maka Negeri Dua Samudera pastilah telah lama runtuh!”

Rahampu’u menyadari kebenaran dari kata-kata Kum Kecho. Oleh karena itu, ia memilih diam, menantikan lanjutan dari apa yang hendak lawan bicaranya sampaikan. 

Remaja lelaki itu menundukkan kepala, memantapkan niat di hati. Kemudian, kembali ia menatap lelaki tua dan renta. Sorot matanya jauh lebih kelam dari langit malam. “Selesaikan saja tugasmu menempa senjata.” 


===


Wajah beringas, otot kekar mengencang. Cakar-cakar besar dan tajam mencabik-cabik. Namun demikian, tiada juga membuahkan hasil. 

Beberapa saat sebelumnya, sebuah formasi segel berbentuk limas dengan dasar persegi membangun wujud. Merangkai cukup cepat. Dimulai dari bagian paling dasar, yang mana terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, lalu membangun naik ke tiga pelataran melingkar. Terakhir, adalah sebuah stupa utama sebagai yang terbesar dan terletak tepat di tengah, sekaligus memahkotai struktur bangunan tersebut. 

Sungguh mencerminkan sebuah monumen nan agung. Kendatipun demikian, formasi segel yang saat ini sedang mengemuka terbilang kecil, bahkan mini. Kamulan Bhumisambhara yang dirapal oleh Balaputera Ragrawira, adalah bangunan yang berwujud sesuai dengan ukuran sejatinya. Balaputera Lintara, di lain sisi, mewujudkan seperempat kali lebih kecil dibandingkan sang ayahanda. Balaputera Gara, yang baru sekali ini mencapai pencerahan akan formasi segel nan digdaya, hanya mampu membangun wujud seperdelapannya saja. 

Dengan kata lain, Kamulan Bhumisambhara yang saat ini mengemuka hanyalah dengan luas dasar sekira lima belas meter persegi, serta tinggi sekira lima meter saja. 

Di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang, para hadirin masih menanti khabar berita akan apa yang sedang berlangsung pada lapisan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa sudah tak lagi terlihat di atas singasana nan megah. Begitu Balaputera Gara menyelesaikan formasi segel pertahanan nan digdaya, ia pun melesat cepat. 

Kini, sang penguasa mengamati dari salah satu sisi luar dinding nan bersinar gemilang.

Pemusatan pikiran dan mata hati tingkat tinggi dibutuhkan agar setiap unsur, mulai dari struktur, ukiran, sampai dengan arca, dapat terjalin secara rinci. Tenaga dalam pun hampir habis terkuras. Untungnya, merapal jurus ini ibarat melakukan pembayaran dalam bentuk tenaga dalam, dimuka. Setelah terangkai, ia akan terus hadir selama jangka waktu sesuai jumlah tenaga dalam yang telah disetor. 

Andai saja Bintang Tenggara dapat mengisi tenaga dalam menggunakan jurus Delapan Penjuru Mata Angin secara bersamaan, maka dirinya dapat merapal jurus secara berulang-ulang. Malangnya, sulit bagi anak remaja itu membangun suasana hati di kala harus memusatkan pikiran demi menjaga struktur yang kini mengelilingi dan melindungi dirinya. 

Di sisi luar formasi segel tersebut, terlihat Balaputera Vikrama memberikan pertolongan pertama kepada Balaputera Sevita, dan Balaputera Ugraha merawat Balaputera Citaseraya. Balaputera Naga, dengan hanya bermodal semangat pantang mundur, berdiri tegar. Ia akan melontarkan tubuh bilamana lawan bertindak terhadap mereka. 

Botis, si iblis, tiada mengindahkan kelima remaja lain. Mereka tiada lagi dapat berbuat sesuatu apa. Sasaran utama sudah terpaku pada anak remaja yang diketahui sempat mengerahkan jurus yang sepantasnya telah lama punah. Sebuah jurus yang membuat bulu kuduk bangsa iblis merinding! Sebuah jurus yang tak boleh hadir kembali di dunia mana pun! 

Akan tetapi, formasi segel apakah ini!? Mengapakah keras sekali padahal hanya dikerahkan oleh manusia yang baru berada pada Kasta Perunggu!? Wujud formasi segel ini mengingatkan pada pertempuran ribuan tahun silam, batin si iblis sambil terus-menerus melibaskan cakar-cakar besar dan tajam demi menyayat celah. 

Bintang Tenggara mulai terlihat gelisah. Sungguh formasi segel yang terlampau mahal. Mahal karena jumlah tenaga dalam yang dihamburkan, serta mahal karena waktu kehadirannya hanya berlangsung singkat. Taksiran Super Murid Komodo Nagaradja itu, formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara yang saat ini ia rapal, hanya akan bertahan selama lebih kurang lima menit. Enam menit paling lama, jikalau memang sedang beruntung. 

“Srak!” 

Formasi segel berwujud bagunan dengan struktur limas bergetar pelan! Keadaan ini dikarenakan lapisannya sudah sedikit menipis. Menyadari hal ini, Botis semakin menjadi-jadi dalam mencabik. Anak remaja di hadapannya hanya terpaut jarak sekira beberapa langkah. Jarak yang mudah ditempuh dengan teleportasi jarak menengah. Namun, dinding yang memisahkan mereka seolah tiada dapat didobrak!

“Komodo Nagaradja… bagaimana sebaiknya…?” keluh Ginseng Perkasa. 

“Apanya yang bagaimana!?”

“Mana Taktik Tempur kebanggaanmu itu…?”

“Mengapa kini kau hendak mengandalkan Taktik Tempurku…?” cibir Komodo Nagaradja. Meskipun demikian, sang Super Guru sudah sedari tadi bersiap sedia bilamana harus mengemuka.

Bagaimana mungkin seorang anak remaja, manusia, dapat memenangkan pertarungan melawan bangsa iblis yang demikian digdaya. Walaupun kekuatan sejati Botis tersegel, jurang pemisah kekuatan di antara mereka terpaut satu kasta penuh. Perunggu melawan Emas. Perjuangan sampai ke titik ini saja, sudah merupakan sebuah keajaiban tersendiri. 

“Wahai Iblis Nan Terhormat…” Tetiba Bintang Tenggara berseru. “Aku hendak menjalin kesepakatan…”

“Jangaaaaaannn…” Ginseng Perkasa meringis. “Jangan menjalin kesepakatan dengan ibliiiiiis…” 

Botis berhenti seketika. Meski kata-kata yang keluar dari mulutnya tiada dimengerti oleh manusia, sepertinya ia sangat memahami bahasa manusia. 

“Diriku tiada mengetahui pasti, akan alasan apa yang membuat dikau mengincar diri ini.” Bintang Tenggara berupaya tampil tenang. “Akan tetapi, mungkinkah sesuatu itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dikau di lain waktu…?”  

Simbol-simbol yang menjalin formasi segel perlahan memudar. Jurus Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara telah mencapai batas waktunya. Struktur bangunan monumental itu kemudian sirna, seolah menguap dibawa angin. 

Iblis dan manusia kini berdiri berhadapan, hanya terpisah ruang yang pendek.

[Serahkan padaku jiwamu...] 

Botis masih berujar menggunakan bahasa iblis. Di saat yang sama, ia mengubah wujud layaknya manusia. Seorang lelaki dewasa, yang tak mengenakan atasan, terlihat jelas. Ekor ular mengecil dan melilit di pinggang. Rambutnya berwarna cokelat keriting, serta berjanggut tebal. Giginya tajam-tajam tersusun tiada beraturan. Yang paling mencolok, adalah sepasang tanduk besar di kepala, mirip tanduk kambing gunung, yang tiada mungkin dapat disamarkan.

Bintang Tenggara kembali membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Di saat yang sama, ia mencermati raut kegelisahan yang mencuat di wajah lawan bicaranya. Perlahan, anak remaja itu mulai dapat menyimpulkan... bahwasanya adalah jurus tersebut yang membuat sang iblis berubah resah, lalu beringas. 

Tetiba Botis menampilkan deretan gigi yang demikian mengerikan, dan ia terlihat sangat senang. Angin dingin berhembus berbarengan dengan senyuman itu, semakin membuat si iblis terlihat demikian menyeramkan. 

[Serahkan padaku jiwamu... dan aku hanya akan menyantap yang lain...] Botis menyapu pandang ke arah lima remaja. 

“Tidak!” seru Bintang Tenggara sambil melambaikan tangan seolah hendak berpisah arah. “Lepaskan mereka!” Kini ia terlihat merentangkan lengan, seperti menutup dan membuka pelukan. Berkali-kali. 

Pertukaran kata-kata berlangsung menggunakan bahasa tubuh dan terlihat pelik. Padahal, tanpa Bintang Tenggara melakukan gerakan-gerakan yang kurang pas, Botis tentunya dapat memahami bahasa manusia. 

“Iblis adalah makhluk yang rakus…,” gerutu Komodo Nagaradja. “Hanya malapetaka yang akan kau tuai dari kesepakatan dengan mereka…” 

[Selalu ada timbal-balik di dalam menjalin sebuah kesepakatan. Aku akan membiarkan engkau hidup dengan leluasa, sampai waktunya kemampuan itu dapat berguna bagi diriku. Jiwamu, dan tubuh mereka, adalah tumbal yang pantas.]

Tiada pernah ada yang berhasil melakukan tawar-menawar dengan bangsa iblis. Para iblis senantiasa mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Tentu kebanyakan umat manusia menyadari akan kenyataan pahit ini. Menjalin ‘kesepakatan’ adalah satu hal yang paling disenangi oleh bangsa iblis, di mana pada akhir segenap kisah, si iblis akan meraup semua. Sampai tiada bersisa! 

“Tidak!” Lagi-lagi Bintang Tenggara menolak dengan melambai-lambaikan tangan. 

[Lalu, wahai anak manusia, kesepakatan seperti apa yang ada di dalam benakmu…?]

Bintang Tenggara menerka-nerka. Raut wajah si iblis yang kini berparas manusia memberi kesan sedang bertanya. Sesuai alur percakapan, kemungkinan besar lawan itu mempertanyakan apa yang dirinya hendak tawarkan. 

“Swush!” 

Tenaga dalam Bintang Tenggara sudah terisi penuh! Di saat yang sama, tetiba tubuh kelima remaja sirna! Tak pelak lagi, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, menarik mereka yang sudah tiada lagi dapat bertarung. Dengan kata lain, hanya tersisa dua makhluk hidup di dalam formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang. 

Panggung pertarungan telah dipersiapkan!

[Bangsat!] Botis terlihat menggeram saat mendapati kelima remaja menghilang. [Kau mengelabui aku!] 

Seketika itu juga, Botis menghilang memanfaatkan teleportasi jarak menengah. Cakar-cakar nan besar lagi tajam mengiris angin! Bintang Tenggara, sasarannya, menghindar dengan melakukan teleportasi jarak dekat! 

Sungguh sebuah kebetulan, batin anak remaja itu. Begitu rampung mengisi penuh mustika tenaga dalam, satu-satunya kekhawatiran yang mendera, telah dibawa pergi. Tunggu, bukankah ini berarti dirinya akan bertarung seorang diri? Satu lawan satu berhadapan dengan iblis? Siapa kiranya yang demikian keji sampai sengaja menyiapkan panggung pertempuran ini!? 

Belum sempat memperkirakan jawaban, lawan telah kembali melakukan teleportasi jarak menengah, sembari menyabetkan cakar-cakarnya. Bagi Bintang Tenggara, ia telah terbiasa berhadapan dengan teleportasi. Di Kerajaan Gunung Perahu, dengan Raja Bangkong IV sebagai pelatih, anak remaja itu sempat gigih berlatih tarung menghadapi Asep. Lawannya itu senantiasa mengerahkan jurus Kinja Sirna, yang menghasilkan tiga teleportasi jarak dekat secara beruntun.

Bintang Tenggara terus berkelit. Walaupun Botis tetiba muncul di sudut mati, maka… 

“Belakang!”

Lompat ke samping kiri!” 

“Merunduk!” 

Betul. Sesungguhnya yang sedang berlangsung bukanlah pertarungan satu lawan satu, melainkan perseteruan dua lawan satu. Bintang Tenggara bertarung berdampingan dengan Komodo Nagaradja, Siluman Sempurna yang sudah puas memakan asam dan garam pertempuran. Berbekal mata hati yang sangat sensitif terhadap hawa membunuh iblis, maka sang Super Guru turun tangan. 

Serangan-serangan Botis terus-menerus  dihindari. Oleh karena itu, adalah terlampau sulit dalam menebak akhir dari pertarungan ini. Padahal, hasilnya sangatlah dinanti oleh berbagai pihak.