Episode 38 - Siasat Sang Pendekar (1)



Setelah dua hari Jaya menjadi tamu di keprajuirtan Mega Mendung, akhirnya Pangeran Dharmadipa pulang juga ke keraton, seorang lurah tantama pun memberi kabar kehadiran Jaya dan jasanya menumpas pasukan Banten pada Pangeran Dharmadipa. “Jaya Laksana? Bukankah ia seorang pendekar yang bergelar Pendekar Dari Lembah Akhirat yang sedang menggegerkan dunia persilatan di tanah Pasundan baru-baru ini? Hmm... Seingatku aku tidak mempunyai saudara seperguruan bernama demikian.” ucap Pangeran Dharmadipa.

“Ampun Gusti Pangeran, tapi kalau hamba tidak salah, hamba menyaksikan sendiri bahwa pendekar tersebut menggunakan jurus-jurus dari Padepokan Sirna Raga saat menumpas para pendekar dari Banten tersebut, apalagi ia juga menggunakan pukulan Sirna Raga untuk mengalahkan pemimpin pendekar dari Banten itu.” jelas Lurah Tantama.

“Pukulan Sirna Raga? Setahuku guru tidak menurunkan pukulan pamungkas itu pada seluruh muridnya, hanya murid-murid terpilih sajalah yang memilikinya!” pikir Pangeran Dharmadipa, “Baiklah antarkan pendekar itu untuk menghadapku kemari!” perintah Pangeran Dharmadipa.

“Baik Gusti!” jawab si Lurah Tantama.

Tak lama kemudian si Lurah Tantama datang kembali dengan membawa Jaya Laksana, terkejutlah hati Pangeran Dharmadipa, bagaikan melihat hantu di siang bolong, matanya melotot menatap tak berkesip pada sosok pria yang dibawa oleh Lurah Tantamanya, matanya menyipit memperhatikan pria yang menjura hormat lalu tersenyum padanya “Jaka Lelana?” tanyanya dengan nada tak percaya.

Jaya Laksana yang dahulu bernama Jaka Lelana itu mengangguk sambil tersenyum, “Betul Kakang, saya Jaka Lelana”

Merekahlah senyum di wajah Pangeran Mega Mendung tersebut, ia segera memeluk Jaya dengan penuh rasa haru, Jaya pun balas memeluknya, meskipun sempat terjadi beberapa kali perselisihan di antara mereka tapi rasa kangen dua kakak-adik seperguruan itu mengalahkan segala rasa tidak enak di antara mereka, lama mereka saling berpelukan hingga tak terasa air mata menetes dari mata kedua sahabat lama itu.

“Jaka, aku pikir Jaya Laksana si Pendekar Dari Lembah Akhirat itu siapa, nyatanya kamu adikku sekaligus sahabat lamaku!” ucap Pangeran Dharmadipa.

“Ah itu hanya julukan yang tidak berguna Kakang, orang-orang terlalu melebih-lebihkan, tapi aku juga sungguh tidak mengira kalau Kakang telah menjadi Pangeran di Negeri Negeri Mega Mendung ini, berarti Kakang telah berhasil menikahi Mega Sari... Eh maaf seharusnya aku memanggilmu Gusti Pangeran dan Gusti Putri pada istrimu.” jawab Jaya sambil menjura hormat tapi segera ditahan oleh Pangeran Dharmadipa.

“Sudahlah! Jangan sungkan padaku Jaka, panggil saja aku seperti biasa, seperti di Padepokan dulu apabila kita tidak sedang dalam acara kenegaraan!”

Jaya mengangguk, “Baik Kakang, kalau itu yang Kakang kehendaki.”

Pangeran Dharmadipa tersenyum sambil menatap bangga pada Jaya “Sudahlah... Tapi aku bangga sekali mendengar sepak terjangmu di dunia persilatan, kau berhasil menumpas para penjahat di Bumi Mega Mendung ini! Aku bangga padamu, rupanya sungai nasib telah menyeret kita ke muara yang baik Jaka!”

Pangeran Dharmadipa lalu mempersilahkan Jaya alias Jaka masuk kedalam kesatriaan lalu menjamunya, “Bagaimana nasib perguruan kita Jaka? Bagaimana nasib Ayah Pamenang? Aku kangen sekali pada Padepokan Sirna Raga, pada bukit Tagok Apu, aku kangen pada semuanya!” tanyanya.

“Kita sama Kakang, sejak perselisihan kita di tebing lembah akhirat, aku belum pernah lagi pulang ke Padepokan, karena guru menyuruhku untuk terus menimba ilmu di dunia ini sebelum berhasil menjemputmu pulang ke Padepokan.” jawab Jaya.

Pangeran Dharmadipa menarik nafas berat, ia merasa tidak enak mengingat peristiwa tiga tahun silam, teringat ia bagaimana ia meninggalkan ayah ibu angkatnya dari padepokan secara diam-diam, bagaimana bengal dan nekatnya ia meninggalkan padepokan demi mengejar cinta Mega Sari, dan tentu saja yang paling membuatnya menyesal adalah ketika mengingat duel maut antara dirinya dengan Jaka Lelana yang berujung jatuhnya Jaka Lelana ke jurang Lembah Akhirat akibat bentrokan pukulan Sirna Raga.

Pangeran Dharmadipa menatap tidak enak pada Jaya, “Aku pikir, Adi tewas didasar jurang lembah akhirat waktu itu, 3 tahun ini sampai beberapa saat yang lalu aku masih menyesali perbuatanku, aku merasa berdosa kepadamu! Juga kepada padepokan!” ucapnya dengan suara berat.

Jaya pun menghela nafas mengingat peristiwa tiga tahun silam tersebut, jujur saja ia juga sangat tidak enak mengingat peristiwa tersebut, namun bagaimanapun ia harus bersyukur karena berkat peristiwa tersebut ia bisa bertemu dan berjodoh menjadi murid Kyai Supit Pramana. “Aku beruntung ditolong oleh seorang pertapa dari Gunung Tangkuban Perahu yang kebetulan lewat ke dasar jurang Lembah Akhirat, kemudian aku diobati sampai pulih oleh beliau.” jelas Jaya tanpa menyebutkan bahwa pertapa itu adalah Kyai Supit Pramana salah satu tokoh persilatan tanah Pasundan yang paling disegani dan diangkat murid olehnya.

Pangeran Dharmadipa mengangguk-ngangguk, “Ya ya syukurlah ada yang menolongmu Adi, lalu bagaimanakah ceritanya sampai kau mengganti namamu menjadi Jaya Laksana dan mendapatkan julukan yang begitu menggegerkan dunia persilatan sebagai Pendekar Dari Lembah Akhirat?”


Jaya menatap ke atas langit-langit sejenak, “Guru yang menyuruhku untuk mengganti namaku sesuai dengan nama yang tertulis di Ikat kepalaku yang menutupi luka di keningku ini, entah darimana asalnya nama dan kain ikat kepala ini, tapi ikat ini sudah ada sejak aku bayi saat pertama kali dititipkan pada Guru, sementara soal julukan itu, aku sendiri pun tidak tahu bagaimana asal-muasalnya, tiba-tiba orang menyebutku dengan julukan tersebut dengan alasan aku pertama kali muncul di desa Cibodas dari hutan lembah akhirat.” terang Jaya.

“Begitu... Lalu apakah tujuanmu kemari Adi Jaka? Aku dengar menurut laporan Lurah Tantama kau hendak mengabdi disini menjadi seorang prajurit?” tanya Pangeran Dharmadipa. 

“Benar Kakang, saya hendak mengabdikan diri di negeri tumpah darahku ini.” jawab Jaya.

Pangeran Dharmadipa tersenyum lebar mendengarnya, “Hahaha... Syukurlah kau memutuskan untuk mengabdi disini sehingga kita tidak menjadi pihak yang bersebrangan! Nah Jaka sebenarnya dulu sebelum aku menikah dengan Mega Sari aku pun hendak mengabdi sebagai seorang prajurit pada Gusti Prabu, namun karena Gusti Prabu mengetahui asal-usulku sebagai putra Prabu Wangsadipa dari Parakan Muncang, maka beliau langsung mengangkatku sebagai Tumenggung Kestariaan, selang beberapa waktu aku pun berhasil menikah dengan Mega Sari sehingga langsung menjadi Pangeran di Mega Mendung ini.”

Jaya mengangguk sambil tersenyum, “Alhamdulillah, nasibmu baik sekali Kakang.”

Pangeran Dharmadipa pun menepuk-nepuk pundak Jaya sambil tersenyum jumawa, “Nah adikku, akupun ingin membagi kebahagiaanku, aku ingin mengangkatmu sebagai seorang Tumenggung Kestariaan sama seperti jabatanku dulu, atau setidaknya menjadi seorang Rakrean Rangga, tapi sayangnya untuk pengangangkatan seorang calon pejabat harus melalui keputusan Gusti Prabu langsung, tapi aku tetap mempunyai kewenangan untuk mengangkat seorang prajurit sampai ke tingkatan Lurah Tantama, jadi untuk sementara aku mengangkatmu menjadi lurah tantama penjaga Kesatriaan Pangeran ini sampai Gusti Prabu dan Gusti Dewi pulang dari pertapaan mereka, nanti biar aku yang mengusulkan pengangkatanmu menjadi tumenggung atau Rangga.”

Jaya menjura hormat pada Pangeran Dharmadipa, “Terimakasih atas anugerahmu Kakang, apa yang Kakang berikan padaku sungguh tak ternilai harganya.”

“Nah Kakang, mungkin menurut adat anggah-ungguh Keraton tidak baik untukku berlama-lama disini, aku akan hendak pamit Kakang.” pamit Jaya.

“Tunggu dulu, Jaka kau harus menginap disini, aku masih kangen padamu, ada banyak yang ingin kuceritakan padamu soal suka dukaku selama ini, dan pengangkatanmu sebagai Lurah Tantama penjaga pura Kesatriaan Pangeran berlaku mulai detik ini, jadi kau berhak untuk berada di pura Kesatriaan ini, lagipula kau belum bertemu dengan istriku yang adik seperguruanmu juga, Mega Sari!”

Jaya tertegun mendengar nama Mega Sari disebut sebagai istri oleh Pangeran Dharmadipa, tiba-tiba hatinya terasa perih dan amat panas, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaan tersebut. “Oya dimana istrimu, Gusti Putri Mega Sari?” Tanya Jaya.

“Ia sedang pergi ke pertapaan gurunya di Gunung Patuha, mungkin besok ia akan kembali kesini dan akan bergabung ditengah-tengah kita... seperti dulu saat kita masih menimba ilmu di Padepokan Ayah Pamenang.” jawab Pangeran Dharmadipa.

Hari itu juga Jaya diangkat menjadi seorang Lurah Tantama Mega Mendung yang bertugas menjaga keamanan Pura Kesatriaan Pangeran Mega Mendung, selain itu secara khusus Pangeran Dharmadipa juga mengangkat dirinya menjadi pengawal khusus pribadi dirinya dan putri Mega Sari, Sang Pangeran pun langsung memberikan berbagai peralatan keprajuritan termasuk senjata Keris lambang Lurah Tantama Mega Mendung.

Jaya juga diberikan pakaian-pakaian mewah yang membuatnya nampak menjadi seorang bangsawan terhormat Mega Mendung serta banyak sekali uang juga perhiasan emas permata. Meskipun ia hanya seorang lurah Tantama namun segala pemberian Pangeran Dharmadipa membuatnya bak menjadi seorang senopati pejabat kelas atas Mega Mendung! Hari itu pun nasib Jaya langsung berubah menanjak dari seorang pengembara menjadi seorang bangsawan Mega Mendung yang hidup lebih dari berkecukupan. Suara-suara sumbang pun langsung bermunculan hari itu juga, ya Jaya alias Jaka menjadi buah bibir di seantero Keraton Mega Mendung akibat segala pemberian dari Pangeran Dharmadipa yang serba berlebih tersebut.

Jaya tercengang mendapati kamar tempatnya di Keraton ini, kamarnya sangat mewah, belum lagi dengan semua pemberian Pangeran Dharmadipa yang sangat berlebih pada dirinya tersebut, ia pun jadi teringat pada Galuh, “Galuh... Seandainya ia bisa bersabar dan ikut denganku, mungkin aku bisa berbagi semua ini dengan dirinya... Kasihan gadis itu, seumur hidupnya hanya dirundung penderitaan…” desah Jaya mengingat paras gadis berkulit hitam manis yang ayu tersebut.

Malam harinya, Jaya diundang untuk makan malam bersama Pangeran Dharmadipa, saat itu Pangeran Dharmadipa sengaja menyuruh Emak Inah untuk menyajikan makanan yang sederhana untuk mengenang masa-masa mereka berdua di padepokan dulu, sambil bersantap malam mereka pun mengobrol, “Secara jujur aku sudah kurang setuju dengan pendapat guru sejak ia menyarankan kita untuk memihak kerajaan-kerajaan Islam, sejak dulu aku lebih memilih untuk memihak Gusti Prabu Mega Mendung tanah air kita ini!”

Jaya hanya mengangguk sambil tersenyum, tentu saja ia sudah maklum dengan pendapat Kakangnya itu sebab semenjak dulu Pangeran Dharmadipa terus memendam Dendam kesumat pada kerajaan-kerajaan Islam, Jaya lebih memilih untuk menikmati hidangan yang tersaji dihadapannya terutama karedok yang menggugah seleranya itu, Pangeran Dharmadipa tersenyum melihat Jaya yang begitu menikmati makan malamnya “Mau tambah lagi Jaka? Karedoknya Emak Inah tidak ada yang menandingi!”

Jaya menggelengkan kepalanya perlahan, “Cukup Kakang, hidangan ini terutama karedoknya memang sangat menggugah selera, terimakasih.”


Pangeran Dharmadipa menangguk sambil tertawa, “Hahaha benar kan? Aku jadi teringat saat-saat kita masih di padepokan, saat itu Ibu Mantili sangat sering menyajikan karedok untuk kita para muridnya.”

Jaya mengangguk “Betul Kakang, aku sendiripun sudah sangat lama tidak menikmati karedok selezat ini.”

“Keadaan antara Mega Mendung dengan Banten yang semakin meruncing selama dua puluh tahun belakangan ini bagaikan bara dalam sekam, tidak mungkin dapat dibendung dengan cara apapun! Juga dengan cara yang para ulama dan santri lakukan sekarang! Karena siapapun tidak akan percaya kalau Banten hanya berniat untuk menyebarkan agama Islam, siapapun tidak akan percaya dengan apa yang mereka lakukan seperti yang mereka lakukan pada Mega Mendung kemarin yang berhasil kamu tumpas! Banten pasti punya kepentingan politik atas ini semua!” ucap Pangeran Dharmadipa yang kembali pada perbincangan soal politiknya.

“Soal penyebaran agama Islam... Itu terserah yang menilainya, akan tetapi yang jelas itu sudah menjadi kewajibanku untuk mempertahankan tanah airku sampai darah penghabisan!” jawab Jaya.

“Hahaha aku sangat setuju denganmu Adi Jaka... Oya aku belum menanyakan satu soal penting padamu.” sahut Pangeran Dharmadipa.

“Apa itu Kakang?” 

“Di antara kedua namamu, mana yang ingin kamu pakai di pemerintahan Mega Mendung ini? Aku pikir kau lebih baik menggunakan nama Jaya Laksana, sebab namamu yang itu sudah tersohor ke seantero Mega Mendung, dan orang-orang akan mengenal Pendekar Dari Lembah Akhirat sebagai ponggawa utama Mega Mendung ini! Itu akan membuat pihak manapun gentar!” Tanya balik Pangeran Dharmadipa.

Jaya mengangguk sambil tersenyum, “Ah itu terserah Kakang saja, kalau Kakang berkehendak memanggilku demikian, aku ikut saja.”

Saat itu Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala mengetuk pintu pura Pangeran Dharmadipa, “Sebentar Jaya!” ucap Pangeran Dharmadipa yang langsung pergi meninggalkan Jaya.

“Ada apa?” Tanya Pangeran Dharmadipa pada kedua Senopati kepercayaannya itu.

“Ampun Gusti Pangeran, kita telah mendapatkan bukti yang cukup tentang pembangkangan Tumenggung Wiralaya!” jawab Senopati Lokajaya.

“Mata-mata kita telah melihat beberapa orang santri dari Cirebon masuk kedalam rumahnya lewat pintu belakang!” sambung Senopati Kuntala.

Saat itu Jaya berjalan menghampiri mereka, ia telah mendengar percakapan mereka, “Kumpulkan prajurit secukupnya, kepung rumah Tumenggung tua Bangka itu! Tunggu aku di sana! Biar aku jadikan tua Bangka sebagai contoh bagi seluruh penduduk Mega Mendung! Aku tidak mau kejadian macam ini terulang lagi!” perintah Pangeran Dharmadipa.

“Ampun Gusti Pangeran, kehilafan macam ini tidak akan terjadi lagi, kami pamit Gusti.” ucap Senopati Lokajaya yang langsung pamit pergi melaksanakan perintah Pangerannya.

Setelah kedua Senopati muda itu pergi, Jaya menghampiri Pangeran Dharmadipa, “Kelihatannya kedua Senopati itu takut sekali padamu Kakang”

Pangeran Dharmadipa menjawab, “Seorang pemimpin harus ditakuti, sehingga semua rencana dan perintah akan berjalan lebih terarah sesuai yang kita kehendaki! Bagaimana bisa membangun kalau bawahan menentang pemimpinnya?!”

Jaya mengangguk-ngangguk, “Mungkin ada betulnya, tapi bolehkah saya berpendapat dan bertanya Kakang?”

“Silahkan! Saya justru sangat ingin mendengar pendapatmu Jaya!” Pangeran Dharmadipa mempersilahkan.

“Kalau menurut pendapat saya, jika bawahan atau rakyat begitu takut pada pemimpinnya hingga mereka tidak dapat berpendapat, maka masyarakat tidak akan bisa berkembang, rasa takut akan membuat mereka menjadi kerdil, mandeg, malas berpikir karena takut berbuat salah, menurut pendapat saya ini sangat berbahaya, karena rasa takut yang begitu menumpuk akan menjadi ledakan amuk dengan pikiran nekat!”

Pangeran Dharmadipa mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ,“Tidak Adi! Rakyat yang diberi kebebasan berpendapat, jauh lebih berbahaya daripada musuh Negara lain manapun! Adi Jaya, kebebasan akan selalu menimbulkan keberanian yang berlebihan untuk membangkang pada atasannya! Bahkan bisa-bisa memberontak!”

“Tentu bukan kebebasan yang seenaknya tanpa aturan yang kumaksudkan Kakang, seperti almarhum Eyang Prabu Sri Baduga Maharaja misalnya, eyang Prabu tidak ditakuti oleh rakyatnya, tapi disegani karena kebijakannya, rakyat Padjadjaran tidak takut pada pemimpinnya, tapi semua penduduk tunduk pada perintah Eyang Prabu, dan Eyang Prabu tidak membeda-bedakan penduduknya antara yang satu kepercayaan dengannya maupun tidak, sehingga beliau sangat dicintai oleh rakyatnya, baik penduduk asli Padjadjaran maupun para penduduk pendatang.” jawab Jaya dengan tenang.

“Adi Jaya, setiap pemimpin punya cara masing-masing untuk menangani daerahnya, dan caraku ini adalah cara yang paling cocok untuk menghadapi para penduduk Mega Mendung yang malas dan dungu! Kalau perlu mereka harus dicambuk untuk dapat menjalankan roda pemerintahan! Ingat Jaya, seluruh rakyat harus berkorban demi pemimpinnya! Seorang raja adalah penguasa mutlak yang berhak meminta apa saja dari rakyatnya termasuk hidup seluruh rakyat negerinya kalau memang ia menghendaki!” tanggap Pangeran Dharmadipa dengan bersungut-sungut.

Jaya merasa tidak ada gunanya lagi untuk berdiskusi dengan sahabatnya ini, apalagi ia adalah seorang Pangeran, atasannya saat ini, maka ia pun mengalah, “Maaf, Kakang benar, maafkan saya yang lancang ini Kakang, maklum saya yang bodoh ini terbiasa hidup di jalanan.” ucapnya dengan lembut dan penuh hormat namun menyungkun.

Pangeran Dharmadipa mengangguk jumawa, “Betul Jaya, kau masih belum paham soal politik pemerintahan, kau masih harus banyak belajar! Dalam politik tidak ada hitam atau putih, semua abu-abu! Ketika kau mendengar seribu pujian, maka itu sama dengan sejuta hujatan dibelakangmu, ketika kau mendapatkan seratus sembah bakti, itu sama dengan seribu Keris yang terhunus mengarah padamu!”

“Kakang benar, saya masih harus banyak belajar.” angguk Jaya.

“Nah Jaya, sekarang kau harus mulai bertugas, tugasmu adalah menjaga keamanan Pura Kesatriaan Pangeran ini! Aku harus pergi dulu untuk menertibkan pembangkangan yang telah jelas terjadi di Kutaraja Rajamandala ini!” perintah Pangeran Dharmadipa.

Jaya pun menjura hormat “Baik Gusti Pangeran” setelah itu Pangeran Dharmadipa pun langsung menaiki kudanya dan berlalu.

Jaya menatap kepergian Pangeran Dharmadipa dengan perasaan masygul, hatinya sangat kecewa mendapati pemikiran Kakangnya yang picik itu. “Oh Gusti Allah...” desahnya sambil mengurut dadanya sendiri.

“Itukah calon pemimpin Mega Mendung? Begitukah cara berpikir seorang calon raja yang akan menjadi pemimpin sekian banyak rakyatnya yang sangat menggantungkan harapannya pada dirinya? Kakang Dharmadipa, seorang pemimpin memang berhak melakukan apa saja selama itu demi kemakmuran rakyatnya, itu pun harus sesuai dengan jalan dan batas-batas yang telah diatur oleh undang-undang serta hukum negeri ini!” desahnya dalam hati.

Kini kembali ia teringat pada tugasnya untuk menghentikan kelaliman Prabu Kertapati, kini ia merasa tugasnya juga bertambah dengan harus menghentikan Pangeran Dharmadipa, kakak seperguruannya sendiri, “Oh Guru, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara menyingkirkan kelaliman dari negeri ini sehingga pertumpahan darah di Bumi Pasundan ini dapat dihentikan? Oh Gusti, berilah hambamu ini petunjuk serta kekuatan.”

Jaya lalu melangkah kembali ke bilik tempatnya, ia lalu duduk bertafakur memusatkan pikirannya sambil membaca dzikir, ia memanggil ajian “Jiwa Sukma”, saat itu pula, ruhnya keluar dari dalam tubuhnya, kemudian Ruh Jaya berkelebat melesat keluar menembus tembok untuk menyusul Pangeran Dharmadipa, sementara tubuh kasarnya masih ada didalam biliknya yang nampak sedang duduk bersemedi.

***

Di rumah Tumenggung Wiralaya, di tengah rumahnya seorang tabib dari negeri Tiongkok nampak sedang mengobati seorang ulama yang terluka parah. “Bagaimana ini bisa terjadi Kyai Sokananta?” Tanya Tumenggung Wiralaya yang telah sepuh itu pada seorang ulama yang juga telah sepuh usianya sambil melihat tabib asal Tiongkok itu mengobati seorang ulama muda.

“Kami kurang berhati-hati Ki Tumenggung, saat kami sedang berdakwah di desa Ciranjang, seorang mata-mata Mega Mendung melihatnya dan melaporkannya pada para prajurit yang sedang berjaga akibat banyaknya mata-mata Banten yang memasuki wilayah Mega Mendung, kami pun dikejar-kejar para prajurit hingga terdesak, dan mereka berhasil menangkap murid saya, tapi akhirnya kami berhasil melarikan diri, namun karena kami tidak tahu harus ke mana menghindari kejaran Prajurit-prajuirt Mega Mendung sedangkan murid saya terluka parah, terpaksalah kami mengunjungi rumah Ki Tumenggung, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada Ki Tumenggung.” jelas Kyai Sokananta dengan lohat Cirebonnya yang khas.

“Ah tidak apa-apa Kyai, ini sudah tugas saya sebagai sesama muslim dan manusia yang beradab untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan, untung juga Tabib Hwang sedang berada disini setelah mengobati penyakit asam uratku, jadi bisa sekalian mengobati murid anda.” jawab Tumenggung.

Ia kemudian menoleh pada enam orang santri murid Kyai Sokananta yang lainnya, “Kalian juga kalau ada yang kalian butuhkan, katakan saja padaku!” 

Kyai Sokananta menjura pada Ki Tumenggung Wiralaya, “Terimakasih Ki Tumenggung, kami sangat berhutang budi, mohon maaf karena kami sudah merepotkan Ki Tumenggung.”

Baru saja Kyai Sokananta menutup mulutnya, sebuah teriakan lantang dari luar menggelegar, “Tumenggung Wiralaya dan para santri dari Cirebon, segera keluar dan menyerahlah! Niscaya Gusti Prabu Mega Mendung akan memperingan hukuman kalian!” bukan main terkejutnya Ki Tumenggung beserta semua yang ada didalam rumah yang tertutup rapat itu.