Episode 37 - Perpisahan di Persimpangan



Puluhan prajurit itu segera memenuhi pasar di alun-alun Kutaraja Rajamandala yang keadaannya langsung berubah menjadi kacau, beberapa orang prajurit segera mengurus pasukan keamanan yang tewas oleh pisau-pisau beracun maut itu, sisanya menatap liar mengawasi semua orang yang lalu lalang di pasar tersebut, mereka memerintahkan agar semua orang tetap berada di tempatnya, tidak ada yang diperbolehkan untuk meninggalkan pasar tersebut, termasuk Jaya dan Galuh yang terjebak dalam siatuasi tersebut.

Para prajurit Mega Mendung pun kemudian menggeledah semua orang yang ada di pasar satu-persatu, pada saat itu Jaya memperhatikan perubahan pada raut wajah Galuh, nafas gadis itu memburu, matanya melotot menatap seluruh prajurit Mega Mendung, ya Jaya dapat mengatahui bahwa itu adalah raut wajah yang dipenuhi oleh bara api dendam yang sangat membara! 

Semakin melihat para prajurit penggeledah itu mendekati dirinya, nafas Galuh semakin memburu, tangannya mengepal keras-keras, diam-diam ia telah menyalurkan tenaga dalamnya ke kedua tangan dan kakinya, tapi Jaya buru-buru memegang tangan Galuh. “Galuh tenanglah, jangan biarkan bara api dendammu membuat kita dikira sebagai pembunuh para pasukan keamanan itu!” bisik Jaya.

Galuh menoleh dan menatap wajah Jaya, Jaya pun mengangguk sambil tersenyum lembut, akhirnya Galuh pun dapat luluh juga, perlahan bara didadanya padam, ia menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Jaya adalah benar, akan sangat rugi bagi dirinya kalau sampai dikira sebagai pembunuh pasukan keamanan itu.

Saat langkah prajurit penggeledah itu semakin dekat pada Galuh dan Jaya, sekonyong-konyong, delapan orang pedagang kain yang tadi berdagang didekat toko pakaian yang dibeli oleh Galuh, melemparkan pisau-pisau beracunnya! Delapan sosok tubuh prajurit Mega Mendung pun langsung roboh diterjang pisau-pisau maut itu, bertapa terkejutnya para prajurit Mega Mendung tersebut, mereka langsung menyerbu kedelapan orang pedagang itu, tapi kedelapan pedagang yang menyamar itu langsung menghamburkan pisau-pisau mereka dan kabur dari pasar itu, para prajurit Mega Mendung itu pun langsung mengejar mereka.

Jaya berpikir sambil menatap kejadian itu “Tunggu... Kalau aku berhasil meringkus mereka semua, aku akan dapat kesempatan untuk masuk ke lingkungan keraton, aku bisa mengabdikan diriku sebagai prajurit untuk penyamaranku selama di keraton!”

Jaya pun memutuskan untuk membantu para prajurit itu untuk meringkus para pembunuh gelap itu, tapi Galuh segera menahannya, “Jaya kau hendak membantu para prajurit Mega Mendung?”


“Iya, ini kesempatan bagiku untuk dapat masuk ke dalam Keraton Mega Mendung!” jawab Jaya, “Kau mau ikut?” tawar Jaya.

Galuh menggelengkan kepalanya dengan wajah yang menunjukan ketidak sukaaa, “Tidak! Maaf, aku tidak sudi membantu prajurit Mega Mendung dengan alasan apapun! Kau saja yang pergi!”

Jaya terdiam sejenak mendengar ucapan Galuh yang terdengar penuh kebencian pada Mega Mendung tersebut, “Ya sudah, kamu tunggu disini, aku akan segera kembali!” Jaya pun langsung melesat menyusul para penyerang gelap tersebut.

Menjelang perbatasan gapura Kutaraja, puluhan prajurit Mega Mendung berhasil mengurung rapat kedelapan penyerang gelap itu, kedelapan penyerang gelap itu berdiri melingkar satu sama lain dikurung oleh puluhan prajurit Mega Mendung, “Para penyerang gelap, kalian pasti prajurit pembunuh dari Banten! Menyerahlah! Maka niscaya Gusti Prabu akan mengampuni nyawa kalian!” ancam lurah tantama.

Tetapi kedelapan orang tersebut malah mencabut kerisnya masing-masing, si pemimpinnya berteriak, “Demi Sultan Banten! Ayo habisi mereka saudara-saudaraku!”

Dengan nekad mereka pun menerjang puluhan prajurit Mega Mendung tersebut, maka tak ayal lagi puluhan prajurit itu segera menyambutnya dengan tombak-tombak mereka, tapi alangkah terkejutnya lurah tantama dan seluruh prajurit Mega Mendung, selain kedelapan orang itu memiliki kesaktian yang tinggi, tubuh mereka pun tak mempan ditusuk oleh tombak-tombak prajurit Mega Mendung, tubuh mereka atos-atos, tombak para prajurit itu bagaikan menusuk lempengam baja yang amat tebal! Sedangkan keris-keris di tangan pasukan Banten itu sangat berbahaya, dalam waktu singkat belasan nyawa melayang sebagai korban dari pihak Mega Mendung!

Jaya yang menyaksikan hal tersebut takjub juga pada kesaktian para prajurit Banten itu, “Hmm... Mereka ternyata memiliki ilmu kebal, tak percuma Sultan Banten mengirim para pasukan pembunuh khusus berani mati untuk membuat kekacauan di Mega Mendung ini” 

Jaya langsung menggenjotkan kakinya, terbang melesat ke tengah-tengah arena pertempuran, Jaya segera membantu para prajurit Mega Mendung yang dalam posisi tidak menguntungkan itu. Buak! Buk! Buk! Buk! Empat tubuh pasukan Banten berilmu kebal itu terjungkal terkena hantaman tangan kosong Jaya, “Ki Lurah, tarik mundur pasukanmu, biar aku yang menghadapi orang-orang Banten ini!” seru Jaya.

“Siapakah anda Ki Dulur?” Tanya Lurah Tantama.

“Saya hanya seorang pengembara yang hendak mengabdi di Mega Mendung ini! Sekarang tarik mundur pasukanmu!” tukas Jaya.

Lurah Tantama pun menarik mundur pasukannya dan menyaksikan pertarungan Jaya dari Jauh, di lain pihak pemimpin prajurit Pembunuh Banten itu terkejut melihat Jaya, “Kau?!” desisinya. Jaya agak heran mendapati sikap pemimpin pasukan Banten tersebut, seolah mereka telah mengenalnya, “Anak muda, jadi kau hendak membela Mega Mendung?” hardiknya.

Jaya mendelik “Memangnya kenapa? Mega Mendung adalah tanah airku!” 

Pemimpin pasukan Banten menyunggingkan senyum sinis, “Sayang sekali, tadinya aku kira kau pemburu juga, tapi biarlah, sekarang karena kau sudah berani mengganggu kami, terpaksa kami akan membunuhmu! Aku Gagak Kumara dan tujuh saudaraku akan membuatmu lenyap dari jagat ini!”

Jaya terdiam sejenak, ia teringat pada surat misterius yang ia dapatkan di Kademangan Saguling. “Pemburu? Jadi mereka yang mengirimiku surat misterius itu?” pikirnya, tapi ia tak bisa berlama-lama berpikir, karena delapan bilah keris beracun menyergapnya dari segala arah!

Jaya bersuit nyaring! Tubuhnya melesat keatas menghindari serangan delapan keris itu. Serangan delapan lawan datang bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk membalas menyerang pada salah satu dari mereka, maka ketujuh keris lainnya akan datang pula mengancam jiwanya! Jaya mengeluh dalam hati, ternyata mereka tidak hanya mengandalkan ilmu kebal yang mereka miliki, tapi juga kesaktian ilmu kanuragan mereka sungguh hebat! 

Meskipun di antara mereka semua Jaya dapat menaksir bahwa Gagak Kumara pemimpin mereka yang paling tinggi ilmu silatnya, tapi mereka berdelapan sangatlah kompak, mereka bagaikan satu jiwa, gerakan keris mereka semua seirama, datang dari segala penjuru secara berbarengan mengancam ke arah semua bagaian vital tubuh Jaya!

Dengan bergerak gesit, dengan hanya bertangan kosong, dengan lancarkan serangan-serangan balasan, pendekar dari lembah akhirat cuma sanggup bertahan sampai dua belas jurus saja. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat, ia yang tadinya mengicar Gagak Kumara karena dianggap yang paling berbahaya tak dapat melaksanakan niatnya tersebut, ketujuh keris lainnya laksana curah hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan, dan yang paling berbahaya, keris di tangan Gagak Kumara yang berkali-kali menyambar ke wajah dan jantungnya, masih untung sanggup dialakkannya!

Jurus kelima belas murid Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana itu terdesak hebat! Di saat itu pula satu tendangan menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu sebilah keris, keris lainnya menikam ke dada dan keris Gagak Kumara menggebubu ke perut! “Bret”! Ujung keris Gagak Kumara menyambar lewat dada, merobek pakaian pendekar dari lembah akhirat! “Sialan!” Maki Jaya.

“Memakilah sekenyangmu setan alas! Tidak ada yang akan selamat bagi siapapun yang menganggu tugas dari Sultan Banten!” teriak Gagak Kumara kertakkan geraham.

Saat itu memancarlah cahaya biru tua terang benderang dari cincin yang melingkar di jari manis Jaya, tubuh Jaya Laksana lenyap hanya menyisakan bayang-bayang saja! “Cincin Kalimasada! Awas dia mulai mengeluarkan Ajian Tujuh Langkah Malaikat!” seru Gagak Kumara pada ketujuh kawannya memberi peringatan.

Tubuh Jaya berkelebat kian kemari dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh mata maupun telinga bagaikan sebuah meteor, selain menggunakan Ajian Tujuh Langkah Malaikat yang membuatnya dapat bergerak laksana diterbangkan angin, Jaya pun mengeluarkan jurus “Menggoncang Langit Menjungkir Awan” yang merupakan jurus pamungkas Kyai Pamenang dengan kecepatan yang fantastis! Maka buka seolah-olah dahsyatnya serangan-serangan Jaya tersebut!

Deshhh! Aaaaaa! Jerit salah satu prajurit pembunuh Banten yang roboh dengan dada melesak ambrol terkena tendangan Jaya, dia berkelojotan sesaat dan tak lama kemudian nyawanya lepas! Ternyata ilmu kebal yang mereka miliki tidak mempan berkat kesaktian cincin Kalimasada yang dapat mengusir ilmu kebal dari tubuh mereka! Terkejutlah Gagak Kumara dan keenam kawannya, ia langsung memberi komando “Kurung biar rapat!” teriak Gagak Kumara. Dia melompat tinggi. Keris di tangannya dan kedua kakinya menyerang susul menyusul. Enam senjata lainnya menderu pula ke arah Jaya!

Tubuh Jaya berkelebat laksana angin topan, sangat cepat tapi sangat bertenaga! Angin yang keluar dari setiap gerakan tubuhnya seolah membuat benteng tak kasat mata yang menghalangi setiap serangan yang mengarah pada dirinya! Saat itu terdengar lagi dua jeritan setinggi langit, dua prajurit Banten roboh dengan kepala pecah kena pukul Jaya! Jaya segera melompat lagi keatas, ganti keluarkan jurus “Tendangan Kuda Sembrani”,  Kedua kakinya menendang susul menyusul. Desh! Desh! Dua orang lagi roboh sambil muntah darah dengan dada remuk oleh tendangan Jaya!

Gagak Kumara dan kedua sisa kawannya terkejut karena kini mereka tinggal bertiga, kelima kawannya dapat dirobohkan dengan mudah oleh Jaya, belum habis keterkejutan mereka, tiga larik angin topan menderu menerjang mereka dalam Pukulan “Badai Mendorong Bukit” yang dilepaskan oleh Jaya, Gagak Kumara buru-buru melompat keatas menghindari pukulan maut itu, tapi kedua kawannya tidak sempat menghindar dan... Bummmm!!! Suara dentuman dahsyat menggelegar ketika kedua tubuh prajurit Banten itu kena hantam gelombang pusaran angin topan sedahsyat topan prahara yang merupakan angin Pukulan “Badai Mendorong Bukit” yang dilepaskan oleh Jaya.

Bukan main geramnya Gagak Kumara mendapati ia tinggal seorang diri, maka dengan dibakar api dendam ia pun bertindak nekad untuk mengadu jiwa dengan Jaya! “Setan Alas! Siapa Kau berani merusak rencana kami menjalankan perintah Sultan Banten?! Sekarang Aku hendak mengadu nyawa denganmu setan!” tantangnya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, udara disekitarnya bergetar menghamparkan hawa panas! Ia bersiap mengeluarkan ajian pukulan “Perut Gunung”nya yang terkenal dahsyat itu.

Jaya pun tak tinggal diam, ia merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu menngangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tangannya memancarkan cahaya merah membara, hawa disekitarnya menjadi sangat panas, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang juga merupakan pukulan pamungkas padepokan Sirna Raga, yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Gagak Kumara berteriak menggeledek, tangan kanannya dipukulkan ke depan, satu sinar merah yang amat panas laksana kawah dari perut gunung berapi menerjang ke arah Jaya! Jaya pun mendorongkan tangan kanannya kedepan, satu lidah api disertai gelombang pusaran angin panas menerjang memapasi sinar merah pukulan Gagak Kumara! 

BLARRRRRR!!!!! Suara ledakan menggetarkan bumi di tempat itu, langit bagaikan robek oleh suara ledakan beradunya kedua pukulan sakti inti api tersebut! Jaya terpapah lima langkah kebelakang, dadanya terasa sakit, jantungnya berdegup amat kencang, dan nafasnya sesak, sementara Gagak Kumara jatuh berguling-guling dengan seluruh tubuh menghitam oleh jelaga, kedua lengan bajunya dilalap api! Dia lalu bangkit sebentar sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, seluruh tubuhnya mengepulkan asap hitam, beberapa detik kemudian ambruklah ia dengan tubuh yang tak berkutik lagi!

Jaya segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dadanya yang terasa sakit serta mengatur nafasnya, ia menarik nafas lega karena beruntung tenaga dalamnya unggul satu tingkat dari Gagak Kumara, kalau tidak hasil akhirnya akan sangat ditentukan oleh kesaktian pukulan sakti mereka masing-masing. Saat itu si lurah tantama berlari mengahmpiri Jaya untuk mengucapkan terimakasih, “Terimakasih Tuan Pendekar sudah menolong kami untuk meringkus orang-orang Banten itu.”

Jaya menggeleng sambil tersenyum “Ah bukan apa-apa Ki Lurah, itu sudah kewajiban saya selaku warga dari negeri Mega Mendung ini.”

Si Lurah Tantama tersenyum sambil menatap Jaya penuh selidik, “Oh iya, siapakah nama Tuan Pendekar? Kalau tidak salah saya tadi melihat Tuan menggunakan beberapa jurus dari Padepokan Sirna Raga termasuk pukulan sakti Sirna Raga yang sama dengan yang dimiliki oleh Gusti Pangeran Dharmadipa.”

Jaya mengangguk “Benar, saya adalah murid Kyai Pamenang dari Padepokan Sirna Raga, dan kebetulan juga saya adalah adik seperguruan Gusti Pangeran Dharmadipa, nama saya Jaya Laksana”

Si Lurah Tantama tersenyum lebar mendengarnya “Ah tepat dugaanku kalau Tuan Pendekar adalah Saudara Seperguruan Gusti Pangeran... Kalau begitu apakah yang dapat kami lakukan untuk membalas budi kepada Tuan Pendekar?”

Jaya mengalihkan pandangannya menoleh ke arah keraton Mega Mendung “Kalau diizinkan saya hendak mengabdi di Keraton Mega Mendung”

Si Lurah Tantama menngangguk-ngangguk sambil tersenyum, “Tentu saja Tuan Pendekar boleh mengabdi di Keraton, Gusti Prabu pasti berkenan mengingat jasa tuan yang membasmi para mata-mata Banten yang sakti itu, terlebih Gusti Pangeran pasti akan sangat senang mendapati kehadiran adik seperguruannya di Keraton... Tapi sayangnya Gusti Prabu sedang keluar, begitu juga Gusti Pangeran yang sedang meninjau daerah perbatasan dengan Banten, namun begitu jika Tuan Pendekar berkenan, ikutlah bersama kami ke keraton, Tuan Pendekar bisa menunggu kedatangan Gusti Prabu dan Gusti Pangeran di sana" tawar Ki Lurah Tantama.

“Saya bersedia Ki Lurah, tapi izinkan saya untuk menjemput kawan saya di pasar, ia pun hendak mengabdikan diri di Mega Mendung ini.” jawab Jaya.

Mereka pun kembali ke keraton melewati pasar didekat alun-alun Kutaraja, di sana Jaya yang hendak menjemput Galuh dibuat kebingungan karena ternyata Galuh sudah tidak ada di sana, ia pun berkeliling pasar mencari-cari Galuh tapi tidak ketemu, saat itulah tiba-tiba Jaya mendengar suara bisikan Galuh yang terngiang di telinganya.

“Jaya, maafkan aku, aku tidak bisa ikut denganmu kalau kau hendak masuk ke keraton Mega Mendung dengan cara seperti ini, dengan cara mengabdikan dirimu pada keluarga Prabu Kertapati, maafkan aku, aku... Aku hanya tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dirimu! Hati nuraniku tidak bisa meredakan bara api dendamku ketika aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat Prabu Kertapati menghabisi orang-orang yang kusayangi! Namun begitu, aku telah menepati janjiku padamu Jaya, bahwa aku tidak akan menjadikanmu sebagai alat untuk membalaskan dendamku pada Prabu Kertapati! Selamat tinggal, semoga engkau bisa berbahagia selalu Jaya!”

Mendengar bisikan Galuh pada dirinya yang menggunakan ilmu “Menyisipkan Suara” Jaya tertunduk lemas, kembali ia teringat sosok Gadis Hitam manis yang mempunyai tahi lalat di bawah matanya yang periang dan selalu bertingkah konyol itu, hatinya terasa sepi mendapati gadis yang selama beberapa minggu ini menemani perjalanannya meskipun mereka pernah bentrok di desa Cibodas di kediaman Juragan Karta dan di Bukit Tunggul, tak dapat dipungkiri bahwa lambat laun hatinya jadi sering merasakan perasaan aneh namun hangat saat sedang bersama Galuh. 

Pemuda ini sangat menyesali sikapnya yang kurang ramah kepada Galuh, menyesal sekali ia ketika beberapa kali mencoba untuk mengusir Galuh untuk pergi serta beberapa kali ia mencoba kabur untuk meninggalkan gadis tersebut, maka dengan dirundung perasaan kehilangan ia pun meneruskan langkahnya ke keraton mengikuti Ki Lurah Tantama, hampa sekali rasanya.

Di atas sebuah pohon diluar pasar, seorang gadis berkulit hitam manis dengan tahi lalat di bawah mata kanannya, nampak menangis, air matanya terus bercucuran ketika melihat Jaya melangkah bersama Lurah Tantama dan beberapa prajurit Mega Mendung masuk kedalam Keraton Mega Mendung, “Maafkan aku Jaya... Aku tidak bisa... Aku tidak bisa berkompromi dengan hatiku! Aku tidak bisa mengizinkan diriku bersekutu dengan para pembunuh keluargaku!” ratap Galuh sambil menggigit bibirnya.

“Oh Guru, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi perintahmu? Kini orang yang aku cintai, orang yang guru perintahkan untuk aku nikahi telah bersekutu dengan musuhku! Dengan orang-orang yang membantai keluargaku!” lirihnya dengan amat perih.

***

Di luar desa desa Bojong Hawu yang merupakan perbatasan antara Megemendung dengan Banten, nampak tiga orang berpakaian kebesaran Mega Mendung berkuda meninjau daerah itu, mereka berkeliling melihat-lihat daerah yang subur namun nampak tak terurus itu, “Daerah ini sungguh subur, sayang sekali tak terurus hingga menjadi belantara seperti ini!” ucap Pangeran Dharmadipa yang merupakan pemimpin mereka.

“Dulu tapal batas negeri ini masih ada, dekat sungai Ciliwung.” jawab Senopati Kuntala.

“Dulu daerah itulah yang disengketakan antara Prabu Wangsareja dengan Sultan Hasanudin dari Banten, pada saat Gusti Prabu Kertapati naik tahta beliau terlalu sibuk untuk memperluas wilayah kekuasaan keluar hingga daerah-daerah pedalaman serta perbatasan seperti Desa Bojong Hawu ini kurang terperhatikan, akibatnya tanahnya terlantar, tidak ada Petani yang mau menggarap!” jelas Senopati Lokajaya.

Pangeran Dharmadipa mengangguk, kemudian ia menyapukan pandangannya pada daerah belukar itu. “Apakah ada prajurit kita yang berjaga disini? Daerah belantara seperti ini sangat riskan untuk disusupi pihak musuh!”

Senopati Kuntala menunjuk ke satu titik, “Ada di sana, namun jumlahnya tidak terlalu besar sebab Gusti Prabu amat yakin dengan tabir yang dipasang oleh eyang Topeng Setan, bahwa tabir itu akan membuat para prajurit Banten tidak akan mampu memasuki wilayah ini!”

Pangeran Dharmadipa menatap ke titik yang ditunjuk bawahannya itu, “Secepatnya kita harus perbaiki tapal batas itu! Aku tidak mau tanah Mega Mendung Dikangkangi oleh Banten! Kita buka lahan pertanian dan perkebunan disini, buat bendungan sungai Ciliwung untuk dialirkan kesini, dan kita harus membangun barak untuk para prajurit kita, kita harus memperkuat penjagaan di perbatasan ini!” gagas Pangeran Dharmadipa.

Senopati Lokajaya mengangguk “Saya amat setuju dengan pendapat Gusti Pangeran, kita harus memperkuat pejagaan di perbatasan dan memanfaatkan tanah subur di perbatsan ini!”

Senopati Kuntala menyambung “Saya pun setuju, saya akan membantu Gusti Pangeran menyampaikan gagasan ini pada Gusti Prabu!”

Pangeran Dharmadipa sekali lagi menyapukan pandangannya pada belantara luas itu, setelah puas ia membalikan kudanya, “Ayo kita periksa aliran sungai Ciliwung untuk menentukan bagian yang akan kita buat bedungan!” mereka pun memacu kudanya ke arah sungai Ciliwung.

***

Diluar Kutaraja Rajamandala, Galuh berjalan seorang diri dengan langkah yang gontai, ia terus berjalan tanpa arah hingga tak terasa mentari telah pulang ke peraduannya untuk kemudian digantikan sang rembulan dan kawanan bintang-gemintangnya. Waktu itu Galuh telah sampai di tepi sungai, tiba-tiba telinga gadis bermata kucing itu mendengar suara petikan kecapi yang sangat merdu membawakan lagu sendu yang sangat syahdu hingga menambah dan membangkitkan kepedihan hati gadis yang sedang dilanda kebingungan itu.

Setelah beberapa lama ia berdiri termenung menatap kosong ke arah aliran sungai yang tenang yan ada didepannya barulah ia tersadar bahwa itu bukan petikan kecapi biasa, petikan kecapi itu terdengar jelas dan menggema keseluruh penjuru di tepi sungai Ciatrum yang mengalir di hutan itu namun anehnya petikan kecapi itu tetap terdengar sangat merdu mendayu-dayu, pastlah petikan kecapi itu disertai tenaga dalam yang amat tinggi tingkatannya dan dimainkan oleh seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi! “Guru kaukah itu?!” teriak Galuh.

Kemudian ia melihat kesekeliling dan melangkah ke arah hulu, di sana ia melihat seorang pria tua yang seluruh rambutnya telah memutih, bermata buta, serta berpakaian gombrong ala pengemis sedang duduk diatas sebuah batu kali besar yang licin sambil memainkan kecapinya, “Guru!” seru Galuh sambil berlari menghampiri orang tua tersebut yang tak lain adalah si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul.