Episode 13 - Siulan Taifun


“Kaisar Pertama dikenal sebagai seseorang yang gampang murka pada masa mudanya, walau di kemudian hari beliau mampu mengendalikan emosinya dengan lebih baik. Berlainan dengan praktik Ilmu Titah jaman sekarang yang dapat dipatahkan dengan kekuatan mental, kata-kata beliau tak terbantah, tak terelakkan. Sekali mendengar suaranya, orang akan langsung mengira suara tersebut bukan dari manusia, melainkan dari dewa. Ucapannya tak pernah lalai dilaksanakan selama pendengarnya mampu melakukan.”

“Lalu apa hal terburuk yang pernah diperintahkan olehnya?”

“Seribu kepala desa yang terbukti korup beliau kumpulkan. Mereka semua mati dengan leher tercekik, dan tangan mereka sendiri yang melakukan hal itu.”

—Perbincangan yang terdengar dari salah satu ruangan lingkar tengah Istana Giok


Mudah untuk mengetahui dari arah mana sumber hembusan angin, karena Sidya menggunakan sebuah trik, yaitu memasukkan jarinya ke mulut, mengeluarkan jari yang sudah berlumur ludah dan mengacungkannya ke udara. Cukup efektif, terutama saat amuk angin mulai berkurang. Ditambah, daun yang berubah menjadi kian hijau di kanan-kirinya dapat ia tengarai dengan cukup mudah. Sungguh di luar nalar dan mulai mencemaskan, karena ia melihat rumput-rumput mulai menelusup masuk ke dalam tanah, pepohonan makin memendek dan tak diragukan lagi akan kembali jadi tunas, kemudian biji, kemudian sirna jika dibiarkan begitu saja.

Lama-lama tempat ini akan menjadi segersang gurun Godi jika hembusan ini terus terjadi.

Sidya mulai meragu. Ini bukan lagi pertanda, ilusi, atau khayalannya semata karena ini memang nyata adanya. Apapun yang menunggunya di sana, ini bukan hal yang bisa dianggap remeh. Tetapi, engah dan umpat pemburunya yang kian dekat membuat ia tetap berlari. Terus, terus ke arah yang makin lama makin mudah diprediksi.

Sidya mengerem langkah saat rapatnya pepohonan berakhir dengan mendadak, mempertemukannya dengan sebuah tanah lapang yang mungkin empat-lima kali luasnya tanah perkemahan yang digunakannya bersama Daeng dan Seto. Hampir kosong dan tiada variasi selain rerumputan terkecuali batu tunggal yang cukup besar, berwarna hitam legam, berada tepat di tengah-tengah.

Ada seseorang sedang duduk ongkang-ongkang kaki di atas batu itu. Laki-laki, dan masih muda pula, kelihatan sekali bahwa umurnya hanya berjarak beberapa tahun dari Sidya. Namun, sudah terlihat bentuk badannya yang walaupun sekilas nampak kurus, otot-ototnya sudah mulai terbentuk. Kulitnya kuning langsat, dan dia bertelanjang dada, hanya mengenakan sebuah benda semacam sarung yang digunakannya untuk menutupi pinggang sampai mata kakinya. Kain sarung tersebut seperti langsung dirobek sembarangan dari sebuah taplak kain rumah makan menilik noda-noda yang sepertinya tak pernah dibersihkan. Dan ia bersiul-siul seperti sedang iseng menggoda seorang gadis yang lewat. Nadanya tinggi, kemudian rendah, dan intensitas hembus angin sepertinya sangat menurut pada suara yang muncul dari mulutnya.

Sadar apa yang sedang dilakukan oleh pemuda berumur belasan itu, Sidya terkesima. “Demi leluhur dari ayahku dan ayahnya, siulannya mampu mengendalikan angin?”

Sidya mundur selangkah, tak sengaja mematahkan sebuah ranting, dan remaja itu baru menyadari keberadaannya. Wajahnya menyala gembira, dan ia menggunakan telapak tangannya untuk membuat kode mengajak, menyuruh Sidya mendekat sementara mulut masih sibuk bersiul-siul.

Sidya mengerjap. Tak lama dia mengangguk dan berjalan, kemudian setengah berlari menuju ke arah remaja asing itu, sementara para penyamun baru datang dari aksi mengejar mereka. Salah satu memegangi pinggang dan terengah, sementara satunya limbung karena terpeleset rerumputan.

Ia dapat meluruskan diri, dan membelalak ketika melihat remaja yang duduk di atas batu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat atau mungkin karena sesuatu yang lain. Bisa juga karena angin yang menghembus ganas ikut berhenti tepat saat si pemuda menutup mulut.

--

Karena si bangsawan cilik sedang mengalami Letup Hawa Murni, besar kemungkinan ia akan mampu mengatasi para penyamun. Hikram ingat saat-saat dia sendiri mengalami hal itu pertama kali, dan hal gila apa yang dilakukannya pada barang-barang disekitarnya.

Oleh karena itulah, Hikram malah bersantai-santai, jalan pelan-pelan sambil sesekali menenggak minuman keras. Hikram lagi-lagi meneguk minuman di tangannya, kemudian mengernyit karena rasanya masih saja seperti air bekas rendaman tikus mati. Aneh, biasanya miras akan berubah rasa karena endapan yang berada di bagian bawah wadah ikut terminum, tapi ternyata yang satu ini cukup berbeda. Ia mengeluh, kemudian meneguk sampai wadah minumnya yang masih baru benar-benar kosong.

“Eh, eh, eh,” ia sempoyongan karena terantuk sesuatu, kemudian tak sengaja menabrakkan si penyamun yang masih pingsan ke sebuah batang pohon. “Aduduh, maafkan.” Ia mau meluruskan diri, tapi malah kurang hati-hati hingga terantuk sesuatu hingga menabrakkan lagi si penyamun ke batang yang lain. Kepala Hikram benar-benar terasa ringan, juga beban tubuh si penyamun tak begitu terasa lagi. Hikram memicingkan mata, mengawasi sekitar kalau-kalau ada jejak-jejak Sidya, tapi ia tak menemukan apapun. Lagian, rasanya juga susah sekali buat berkonsentrasi mencari-cari.

Wah, ini sebenarnya cukup gawat. Muridnya hilang. Kepanikan melandanya, lebih kuat dari biasanya. Entah karena kepalanya terlalu pusing, entah karena entahlah. Ia celingukan, kemudian jongkok saat terpikirkan sebuah ide gila, yang inspirasinya tak tahulah datang dari mana. Ia merebahkan wadah minum yang terbuat dari kulit kambing ke lantai hutan, kemudian memutarnya sembari melakukan semacam sorak penyemangat. “Wahai tempat minumku, tunjukilah tempat di mana si bangsawan cilik berada!”

Putarannya melambat, kemudian kepala wadah minum yang bersumbat itu berhenti ke arah pepohonan yang rapat kanopinya.

“Ke utara, kalau begitu! Eh, atau selatan, ya? Barat? Pokoknya jalan saja!”

Dan dia bangkit, menyeimbangkan diri dengan cara menggapai entah-apa yang paling dekat dengannya, kemudian melangkah sempoyongan, sementara kepala si penyamun menabrak sebuah batang pohon lagi untuk yang kesekian kalinya.

--

“Bagus kalau kamu mau melindungiku. Hadiah besar menantimu,” kata Sidya sembari mengangkat hidung, menantang para penyamun yang masih membeku dalam posisi mereka untuk maju. Mau bagaimana lagi, dia sekarang sudah dapat kawan yang tak diragukan lagi cukup sakti karena bersiul saja sudah bisa mendatangkan angin berefek dahsyat. Sifat aslinya yang sudah takluk karena disederhanakan oleh penderitaan bersama Hikram kini segera kembali. Ia bicara pongah, seolah saat ini ia sedang bercakap dengan salah satu prajurit kelas rendah di istana dan bukan dengan seorang pemuda asing di tengah padang rumput antah-berantah.

Si remaja asing tertawa renyah. Bahkan tawanya pun terdengar seperti bagian dari sebuah lagu. “Aku hanya sedang lewat saat kebetulan mendengar sebuah teriakan minta tolong.”

“Kalau begitu memang takdir yang mempertemukan kita. Aku kebetulan merasakan anginmu, yang kuanggap sebagai ajakan untuk mendekat. Pendekar Kelana, patut kau ketahui bahwa akulah—”

“Pewaris tahta satu-satunya, ” si tukang siul mengeluarkan tawanya yang musikal sekali lagi, sembari mengangguk-angguk paham. “Ya, aku mengerti sekarang mengapa tarikanmu begitu kuat. Ilmu Titah tingkat tinggi pastinya, sebuah bakat alami dari lingkar dalam Istana Giok. Siapa lagi kalau bukan Putri Sidya Hanseira? Begitu beruntungnya aku, sedang bermain-main seorang diri dan ternyata sekarang aku menemukan Sang Putri Kaisar!”

Ia tersenyum seperti baru saja mendapat durian runtuh, kemudian bertanya lagi, “Anda sedang dalam masalah? Apa hamba perlu membereskan mereka? Mau membuat perjanjian dengan hambakah sang putri ini?” si remaja yang ternyata begitu ceria memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan, yang menurut si putri kaisar sangat lancang pada seseorang setingkat dirinya. Tak patut kalangan bawah seperti si pemuda bertelanjang dada ini bicara buru-buru, ditambah tanpa kelembutan sama sekali padanya.

Meski begitu, wibawanya tak akan kelihatan kalau tak menjawab. Maka ….

“Baiklah, kita buat sebuah perjanjian! Akan kuberikan apa saja dibawah kuasaku, dengan syarat selama aku mampu. Utara, barat, selatan, timur, protektorat, semua menghamba pada kakiku. Begitu juga dirimu. Sekarang, sekarang, Pendekar Kelana, laksanakan perintahku dan mungkin akan kuijinkan dirimu mengutarakan keluh-kesah pada ujung pakaianku.” Saat Sidya menjawab congkak, si remaja sekejap sempat melihat semacam bayangan, berbentuk barisan lelaki perempuan. Semuanya berwajah rupawan dan nampak agung, berada di belakang si putri yang memang badannya kecil, mereka ikut mengawasinya seolah ia hanya satu dari sekian banyak buih di lautan yang tanpa guna. Suara Sidya pun berubah, seolah memiliki bobot lebih. Lebih mirip suara seorang yang sudah makan asam garam kehidupan alih-alih seorang anak-anak berumur sepuluh tahun.

Si pemuda bertepuk kesenangan melihat itu semua, dan Sidya merasa bahwa itu merupakan tingkah yang kekanakan walau tak menyuarakan pendapatnya.

“Hei, Putri, anda berjanji atas nama Nagart yang anda sandang?”

“Berjanji atas nama Nagart yang kusandang. Aku bukan sosok yang penyabar. Aku ingin mereka babak-belur sampai tinggal sejengkal dari kematian. Sekarang.”

Sepertinya jawaban Sidya cukup memuaskannya, karena Ia melompat turun dari tempat duduknya di atas batu, kemudian menatap garang pada para penyamun seperti seekor macan sedang mengawasi kelinci buruan. Ia mengangkat kedua tinjunya, urat-urat yang menghiasi lengannya mulai bertonjolan, deru angin lama-kelamaan meliputi kedua tangannya sampai sebatas siku. Lamat-lamat sobekan rumput yang gugur berkumpul di antara ujung jari sampai lengan atasnya. Memusar, terus memusar cepat.

“Saya yang memegang Gelar Siulan Taifun dan Penyembuh Hijau mematuhi perintah Yang Mulia. Lagipula, saya mengenali siapa mereka, yaitu anak buah Bandit Emas! Sebuah kesalahan menunjukkan wajah pada orang yang telah kalian salahi! Yang Mulia, beri hamba waktu enam puluh detak jantung!”

Ia melangkah ringan menuju para penyamun, kedua tinjunya siaga. Deru makin kencang, membuat butiran tanah memasuki mata Sidya tanpa permisi.

Tepat saat itu Sidya berkedip, sembari tangannya melindungi wajah dari gangguan butir tanah. Ketika ia membuka mata lagi tak sampai sedetak jantung kemudian, para penyamun sudah berada di tengah pertarungan, melawan dua tinju milik si pemuda. Kedua penyamun menyabetkan golok dengan keganasan yang sepadan, namun pada detik terakhir serangan mereka selalu menemui angin, tak pernah menemukan sasaran yang sebenarnya. 

“Empat!” si Siulan Taifun berteriak, dan Sidya langsung paham bahwa si remaja sedang menghitung detak jantungnya. Tinjunya melesak ke ulu hati salah satu penyamun yang telat menahan serangan, membuat si penyamun mengeluarkan suara tertohok yang mengerikan. Tanpa ampun pemuda yang memegang dua Gelar itu menghantamkan tinjunya ke wajah si penyamun. Pipi yang kena hantam itu mengeluarkan suara keras, tanpa ampun dibuat hampir remuk, darah membuncah kemana-mana. Si penyamun reflek meludahkan gumpalan darah serta beberapa giginya yang patah.

Sidya terhenyak, kedua tungkainya mendadak goyah melihat … kekejaman tanpa tedeng aling-aling itu. Beruntung, langkah-langkah mundurnya akibat tumpuan yang tak lagi pasti mengantar punggungnya pada batu yang mendadak dijadikannya tempat bersandar. Sidya membekap mulutnya sendiri, menggeleng-geleng, air mata mulai membayang saat menanyakan pada diri sendiri mengapa ia bicara tanpa kendali seperti tadi. Mulutnya ceplas-ceplos bicara, dan ia sebenarnya tidak benar-benar ingin si pemuda menghajar mereka sampai tinggal sejengkal dari kematian … tidak, tidak, tidak, seseorang harus menghentikan ini semua! Tapi, siapa? Lidahnya mendadak kelu!

Sementara itu, Siulan Taifun tetap melanjutkan aksinya selagi si penyamun yang kepayahan roboh, seolah derita yang dihantarkannya pada musuh bukan merupakan sebuah masalah besar. Ia memukul dan terus memukul, golok lawannya hanya dianggap sebagai sapu lidi, dianggap sebagai pengalih perhatian yang tak penting. Tendangannya mengincar pinggang, yang dihindari dengan jarak hanya sejari. Si penyamun melempar goloknya ke tanah, berlutut, mengiba-iba memohon ampun. Sidya sudah bisa melihat air kencing si penyamun membasahi celananya, sementara jerit minta belas kasihan terkalahkan oleh deru angin sehingga tak sampai ke telinga Sidya.

Si Siulan Taifun tersenyum, sudut kedua bibirnya tertarik terlalu lebar hingga sekejap, dia nampak bengis. Rasa senangnya karena sudah menang tak dapat ditutupi lagi begitu melihat si penyamun menggigil dalam posisi sembah. Dia mengerling Sidya, memberikan senyum yang seolah-olah menenangkan, sembari mulutnya mengatakan sesuatu yang tak terdengar.

Dia menarik kerah pakaian si penyamun, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi hingga dia sejajar dengannya. Yang dipegangi merasa ngeri, hanya diam dengan mata melebar penuh teror.

Sidya tak berdaya, ia tak bisa berbuat banyak saat si pemuda menarik salah satu tinjunya, untuk kemudian dihantamkan tepat pada perut. Si penyamun tersedak, air liurnya menetes, kemudian, cairan hijau keluar dari mulutnya, sementara mata si penyamun terbalik merana. Seiring dengan suara hantaman yang bertalu, tinju Siulan Taifun melesak dalam, makin dalam. Dia menarik tangannya, lalu menyarangkan pukulan lagi. Darah, darah serta entah apalagi terus merembes mengalir dari mulut si penyamun untuk mericuhi rerumputan. Tanpa ampun, Siulan Taifun terus-terusan memukulkan kepalannya pada perut si penyamun yang telah tak sadarkan diri.

Hari ini, Sidya telah menyaksikan dua penyiksaan sekaligus, dan dia tak bisa mencegah semua itu terjadi.

--