Episode 42 - Mayat Hidup (1)



Baik diriku, Reza, maupun Unggul sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuh karena rasa takut yang sama sekali tidak bisa kami kendalikan. Aku baru ingat, perasaan ini adalah perasaan yang sama saat aku bersama dengan Sadewo di lorong bawah tanah tempo hari. Perasaan mangsa yang hanya bisa menyerah takluk di hadapan pemangsanya...

Saat kukira hidupku benar-benar akan berakhir, makhluk itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik semua aura yang menyebabkan kami tak bisa bergerak. Meskipun pada akhirnya kami bisa kembali berdiri tegak, namun bukan berarti bahaya yang mengancam kami benar-benar hilang. Dan sepertinya hal itu juga dipahami oleh Reza dan Unggul, kulirik mereka berdua masih gemetaran meskipun sudah kembali berdiri. Kami hanya bisa menatap cemas pada makhluk tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. 

Makhluk itu kembali menatap kami satu persatu, kemudian dia kembali menggerakkan tangannya dan menunjuk pada satu arah tertentu. 

“Tiga hari lagi... Aku akan menunggu kalian disana.”

Hanya itu saja yang diucapkan oleh makhluk tersebut, setelah itu dia diam tak bergerak seperti patung. 

Perubahan situasi yang mendadak ini telah membuat kami kebingungan. Aku, Reza, dan Unggul hanya bisa saling pandang dengan ekspresi bingung campur takut campur cemas. 

“Apa... Apa yang sebenarnya terjadi?”

Reza yang pertama kali memecah kesunyian dengan sebuah pertanyaan yang diarahkan entah pada siapa. 

“Se..Sep...Sepertinya dia sudah pergi...” balas Unggul dengan kata yang terputus-putus, mungkin karena dia masih terlalu gugup. 

Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua tanpa mengatakan apa-apa. Apakah itu berarti kami tidak jadi tewas ditangan pendekar tahap penyatuan jiwa tersebut? Seketika seluruh tubuhku yang tadinya terasa begitu kaku menjadi lemas, nafasku yang tadi terasa sesak tiba-tiba saja menjadi lega. Meskipun diam-diam aku merasa bersyukur karena telah lepas dari cengkraman maut, namun pandanganku kembali beralih pada makhluk kurus yang kini berdiri tegak dan menunjuk ke satu arah, seperti patung Julius Caesar di dalam buku pelajaran sejarahku. 

“Arah yang dia tunjuk... Bukankah, bukankah itu arah lorong yang terpotong di dalam peta?” 

Setelah memperhatikannya beberapa saat, aku baru menyadari arah yang dia tunjuk adalah bagian yang hilang dari peta milik Reza. Dimana terdapat sebuah lorong yang mengarah pada bagian atas peta.

Mendengar perkataanku, Reza segera mengeluarkan peta dan menggelarnya dibawah. Kemudian dia membuat beberapa penyesuaian dengan lokasi kami saat ini berada. 

“Benar, itu arah dimana lorong di dalam peta ini terpotong,” ujar Reza setelah memeriksa peta tersebut.

Unggul segera berjalan dengan sedikit tertatih mendekati Reza, sepertinya dia belum benar-benar pulih dari rasa takut tak terkendali saat ditekan aura mengerikan pendekar tahap penyatuan jiwa tadi. Well, sebenarnya aku juga belum benar-benar pulih dari rasa takut tak terkendali itu. 

Begitu berada di dekat Reza, Unggul segera merunduk dan ikut memperhatikan peta yang di gelar di lantai. 

“Kau dapat peta ini darimana, Za?”

“Dari satu ruangan di sebelah sana.” jawab Reza sambil menunjuk tepat ke arahku, meskipun arah yang dimaksud oleh Reza adalah ruangan yang mungkin lokasinya berada jauh dibelakangku. 

Unggul segera mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Reza, namun tatapannya membentur diriku. 

“Siapa dia?” tanya Unggul lagi. 

Pada saat itulah, seakan tersadar kalau kami belum saling kenal, Reza segera berdiri dan memperkenalkan diriku pada Unggul. 

“Oh... Kenalkan, ini Riki. Dia dari Kelompok Daun Biru. Dan ini Unggul, dari Perkumpulan Angin Utara.”

“Salam kenal,” ujarku begitu Reza selesai memperkenalkan diriku. 

“Salam kenal,” balas Unggul sambil sedikit menganggukkan kepalanya. “Bagaimana kalian bisa kenal?” 

“Riki menyelamatkanku saat aku dikeroyok anggota Perserikatan Tiga Racun dan Perguruan Selaksa Kembang. Setelah itu kami memutuskan bertualang bersama,” jawab Reza lagi. 

“Hmmm.…” Unggul kembali mengalihkan perhatiannya pada diriku. “Terima kasih sudah menyelamatkan Reza.”

“Bukan masalah besar,” jawabku singkat. 

Dari percakapan singkat barusan, aku menangkap kalau Reza yang usianya berada pada kisaran dua puluhan tahun tampak tunduk dan patuh pada Unggul yang kutaksir usianya antara tujuh belas sampai delapan belas tahun. Tapi jika dilihat dari tingkat kesaktian, memang wajar juga sih jika kedudukan Reza berada dibawah Unggul. 

“Sebenarnya, apa yang terjadi disini? Dan siapa orang yang mental hingga menabrak tembok lorong tadi?” Selesai berkenalan, aku langsung menanyakan perihal kejadian sebelum aku dan Reza tiba ditempat ini. 

“Orang itu, namanya Andi, dari Pasukan Nagapasa. Dia menjadi korban serangan mendadak makhluk itu saat kami sedang memeriksa ruangan ini,” jawab Unggul sambil menggeleng prihatin. 

“Oh...” Aku hanya mengangguk kecil mendengar penjelasan Unggul. Aku tidak tahu berapa persen kebenaran ucapan Unggul barusan, apakah dia berkata sejujur-jujurnya, ataukah dia berbohong sebagian, atau semua ucapannya itu tak ada yang benar sama sekali. Yang pasti aku tidak boleh mengendurkan kewaspadaanku terhadap dirinya, apalagi tingkat kesaktiannya lebih tinggi dariku. 

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, tenang saja. Yang kukatakan barusan adalah yang sebenarnya,” lanjut Unggul sambil tersenyum tipis padaku. “Awalnya makhluk itu ada di meja bedah disebelah situ, tapi saat aku dan Andi mendekat untuk memeriksanya, tiba-tiba saja makhluk itu melancarkan pukulan dahsyat tepat ke dada Andi. Sayangnya, dia tak sempat menghindar dan.…” Unggul tidak melanjutkan lagi kata-katanya. Hanya saja pandangannya menerawang ke lubang demi lubang yang terbentuk dari benturan tubuh Andi saat terpental tadi. 

“Aku percaya padamu,” Aku ikut tersenyum tipis mendengar penjelasan lanjutan dari Unggul, ternyata dia orang yang berpikiran tajam hingga dapat memperkirakan keraguanku terhadap ceritanya. 

“Baiklah kalau begitu, selanjutnya, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Unggul setelah pernyataanku mempercayai dirinya. 

“Makhluk itu mengatakan akan menunggu kita... Apa kita akan datang menemuinya?” Kali ini Reza yang bertanya pada aku dan Unggul. 

“Siapapun orang yang merasuki makhluk itu telah memberi kita waktu tiga hari. Kurasa kita tak perlu buru-buru menuju ke tempat yang dia tunjuk,” jawabku segera. 

“Benar apa yang dikatakan Riki... Aku juga tak ingin meninggalkan Andi begitu saja,” lanjut Unggul menimpali perkataanku. Kemudian dia melangkah ke lokasi dimana mayat Andi yang sudah tak berbentuk lagi itu berada, disusul Reza tepat dibelakangnya. 

Rik, nggak ikut?" tanya Reza ketika melihatku hanya berdiri saja di tempatku semula 

“Aku akan menunggu disini saja,” jawabku santai. 

Unggul yang tadinya sudah berjalan agak jauh segera memalingkan mukanya ke arahku. Aku sempat melihat matanya melirik ke arah makhluk kurus yang masih berdiri mematung sebentar lalu beralih lagi ke arahku. 

“Ayo Za.” 


Begitu selesai melirikku, Unggul kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Reza tak mengatakan apa-apa dan hanya kembali berjalan mengikuti Unggul melewati lubang-lubang di tembok. 

Setelah keduanya berjalan agak jauh dari ruangan besar, aku segera berjalan mendekati makhluk kurus yang sama sekali belum bergerak dari posisinya. Begitu sudah berada didekatnya, aku mencoba menyentuh tubuh makhluk itu dengan sangat hati-hati. Meskipun aku sudah mengantisipasi seandainya makhluk itu bergerak dan melakukan serangan mendadak begitu aku menyentuhnya, namun pada kenyataannya makhluk itu masih tetap tak bergerak sema sekali.

Meski demikian, aku tetap bersikap hati-hati dan mulai berjalan mengelilingi makhluk tersebut sambil mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Saat kutatap matanya, pandangan makhluk itu kosong dan dingin, persis seperti tatapan kosong nenekku ketika meninggal dunia. Selain itu, kulitnya begitu keriput dan berwarna gelap, sedangkan tubuhnya begitu kurus seakan tak ada daging yang melapisi tulangnya. 

Dengan penuh rasa penasaran, aku mencoba meraba kulit tangan makhluk tersebut, rasanya kaku seperti menyentuh kulit pohon berusia ratusan tahun. Namun diluar dugaanku, tubuhnya terasa hangat seperti manusia yang masih hidup. Aneh sekali...

Namun hal itu justru menyebabkan rasa penasaranku pada makhluk ini semakin meningkat. Kemudian aku menggoreskan ujung mata pisau pasak yang masih tergenggam di tanganku pada nadi makhluk ini, ternyata pisauku berhasil menorehkan luka yang cukup dalam pada nadi makhluk tersebut. Disusul dengan keluarnya sedikit cairan kental berwarna merah kehitaman. 

Aku segera menyentuh cairan merah kehitaman tersebut dengan jari tengahku lalu mengusap-ngusapkan jari tengahku itu dengan ibu jariku. Cairan tersebut terasa sangat kental dan agak lengket serta berbau aneh saat kudekatkan ke hidungku. Selain itu, aku dapat merasakan fluktuasi energi dari cairan tersebut.

“Apa ini darah?” gumamku dalam hati. Meskipun masih belum yakin benar dengan jenis cairan yang ada di jariku ini, tapi aku mulai mensirkulasikan darahku sendiri guna menstimulasi jurus iblis darah. Dan ternyata cairan tersebut dengan cepat terserap masuk ke dalam pori-poriku!

Mataku langsung terbelalak begitu cairan merah kehitaman itu masuk kedalam pori-poriku. Karena aku merasa tubuhku tiba-tiba saja diselimuti hawa sejuk dan seakan ada gelombang besar yang menderu deras dalam aliran darahku. 

“Ini?!”

“Sedang apa Rik?” Tiba-tiba terdengar suara Reza bertanya penuh rasa penasaran dari belakangku. 

Aku langsung membalikkan badanku dan menemukan Reza bersama dengan Unggul sudah berdiri dibelakangku. 


“Kalian sudah selesai?” Aku balik bertanya pada keduanya. 

“Tidak banyak yang bisa kami lakukan, kami hanya meletakkan tubuhnya ditempat yang lebih layak dan menutupinya dengan selembar kain. Apa kau menemukan sesuatu dari tubuh makhluk itu?” tanya Unggul. 

“Makhluk ini, tidak bernafas dan tatapan matanya kosong... Seperti mayat,” ujarku singkat.

Kening Unggul langsung mengerenyit mendengar jawabanku, “Mayat hidup?”

“Kurang lebih begitu.” jawabku lagi.

“Tapi bagaimana caranya? Aku belum pernah mendengar ada ilmu khusus yang dapat membuat mayat kembali hidup dan bergerak dalam dunia persilatan. Kecuali menggunakan guna-guna,” Unggul menundukkan kepalanya sambil tetap mengerenyitkan alisnya. 

“Mungkin itu ada hubungannya dengan tempat ini. Kalau diperhatikan, tempat ini tampak seperti sebuah fasilitas penelitian. Mungkin makhluk ini adalah bagian dari penelitian yang mereka lakukan,” ujarku lagi. 

“Kurasa kau benar,” ucap Unggul setelah memperhatikan ruangan tempat kami berada sekali lagi. 

Kemudian dia tiba-tiba melangkah mendekatiku, bukan... Bukan mendekatiku, tapi mendekati makhluk kurus yang ada di belakangku. Dia melihat ke arah nadi yang kukoyak tadi, dan memperhatikan cairan merah kehitaman yang keluar sedikit demi sedikit dari nadi tersebut. 

“Ini... Kau yang melakukannya?” tanya Unggul sambil mendekatkan tangannya untuk menyentuh cairan tersebut. 

“Iya,” jawabku singkat.

“Ada fluktuasi energi aneh dari cairan ini, mungkin cairan ini yang menyebabkan mayat ini bisa bergerak.” Unggul kemudian melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan pada cairan itu sebelumnya, mengusap-usapnya dengan jari dan mendekatkannya ke hidung. “Cairan ini beracun bagi tubuh kita, energi murni yang terkandung di dalamnya terlalu liar, jika masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan benturan dengan energi murni di dalam tubuh.”

“Kurasa kau benar,” jawabku sekenanya. 

“Sebaiknya kita segera mencari barang-barang berharga yang bisa kita ambil dan segera pergi dari sini.” Reza yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan kami memberi usul.

“En. Aku akan memeriksa bagian sini. Kau coba periksa disebelah sana Za, hati-hatilah...” lanjut Unggul sambil menunjuk ke arah-arah tertentu. “Dan kau Rik...?”

“Aku akan memeriksa ke sebelah sana,” ujarku sambil menunjuk salah satu sudut ruangan. 

“Baiklah.”

Unggul kemudian berjalan menuju salah satu sudut ruangan yang banyak terdapat lemari. Lalu tanpa buang waktu mulai memeriksa satu persatu isi lemari tersebut. Begitu pula dengan aku dan Reza, kami mulai menggeledah sudut ruangan yang menjadi tanggung jawab kami masing-masing. 

Kira-kira empat puluh lima menit kemudian, kami sudah berkumpul kembali dan meletakkan semua temuan kami di tengah-tengah. Sebagian besar tentu saja berupa rempah, pil, dan berbagai macam obat. 

“Tampaknya hasil yang kita dapat cukup banyak... Berhubung kita ada tiga orang, bagaimana jika kita membagi hasil temuan kita menjadi tiga. Aku dan Reza mendapat dua pertiga bagian, kau dapat sepertiga bagian,” usul Unggul mengenai bagi hasil.

“Cukup adil,” jawabku segera. Penilaianku terhadap Unggul menjadi jauh lebih baik setelah mendengar usulnya itu. Karena meskipun posisinya jauh lebih kuat dibanding diriku, mengingat tingkat kesaktiannya yang jauh diatasku dan status Reza yang juga merupakan anggota Perkumpulan Angin Utara, namun dia masih bersedia membagi hasil temuan kami secara adil. 

“Baiklah, karena pada akhirnya kita harus menyerahkan temuan kita ini pada kelompok kita masing-masing. Kurasa tidak ada salahnya jika kita mengambil sedikit keuntungan terlebih dahulu. Bagaimana jika kita masing-masing mengambil satu barang yang paling kita inginkan untuk diri kita sendiri?” lanjut Unggul sambil tersenyum licik. 

Oh! Aku baru ingat, berbeda dengan diriku yang datang ke tempat ini karena alasan keselamatan, Reza dan Unggul masuk ke dalam tempat ini karena ditugaskan oleh Perkumpulan Angin Utara, tentu saja mereka harus menyerahkan hasil temuan mereka pada Perkumpulan. Jadi wajar saja jika mereka berniat mengambil satu atau dua barang pusaka untuk diri mereka sendiri. 

“Aku setuju!” seru Reza disamping kami dengan sangat bersemangat. 

“Aku juga.” Aku ikut berseru. 

“Oke, aku menginginkan dahan Kayu Jalak Tunggal ini.” Tanpa basa-basi, Unggul langsung menunjuk salah satu dahan berwarna keunguan. 

“Kalau begitu aku ingin Rumput Bintang Ranum ini.” Reza langsung ikut memilih. Kalau kuperhatikan, memang sejak tadi dia sudah memandangi rumput yang bentuknya seperti bintang bersudut delapan dan berbau harum itu dengan mata berbinar-binar. 

Sayang sekali, meskipun aku melihat banyak rempah dan obat yang begitu menarik dipandang mata, namun hanya sedikit sekali yang kuketahui manfaatnya. Jadi barang yang mana yang harus kupilih?

“Aku tidak memiliki barang incaran saat ini, tapi kelompok kami sangat membutuhkan jenis obat dan rempah yang dapat membantu menaikkan tingkat tenaga dalam lebih cepat.”

Akhirnya aku memutuskan tidak mengambil barang apapun, toh semua barang yang kuterima ini kemungkinan besar akan kunikmati sendiri juga pada akhirnya. Jadi aku memutuskan hanya memberikan kriteria barang yang kuinginkan saja. Kurasa setelah memperhatikan tindak tanduk Unggul dan Reza, aku bisa sedikit percaya mereka tidak akan mengelabuiku dengan memberikan barang yang tidak sesuai dengan harapanku. 

“Tidak masalah, kalau begitu pil-pil ini untukmu, lalu Yonda dan Saliwangi ini... Kemudian.…” Unggul segera membagi obat dan rempah yang menurutnya berguna untuk meningkatkan kemampuan tenaga dalam padaku. Dari situ aku jadi mengetahui betapa pengetahuan Unggul mengenai rempah-rempah aneh di dunia persilatan cukup dalam. Dia juga berbaik hati menjelaskan berbagai jenis pil yang diberikannya padaku, termasuk manfaat dan cara penggunaannya.

Tak lama kemudian pembagian barang-barang hasil temuan kami sudah selesai. Kemudian Unggul dan Reza segera bangkit dan bersiap pergi meninggalkan tempat tersebut. 

“Kau tidak ikut Rik?” tanya Unggul saat melihatku tak beranjak dari tempatku berdiri. 

“Kalian jalan duluan saja, aku masih harus melakukan hal lain jadi tidak bisa ikut kalian lagi,” ujarku sambil tersenyum tipis. 

Unggul dan Reza hanya saling pandang, “Baiklah kalau begitu, kami pergi duluan.”

Kedua orang anggota Perkumpulan Angin Utara itu kembali membalikkan badannya dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu. 

“Tunggu.” Baru dua langkah mereka berjalan, aku segera berseru memanggil mereka kembali. 

“Ada apa?” sahut Unggul kembali membalikkan badannya padaku sambil mengerutkan keningnya. 

“Mmmm... Apa kalian kenal dengan Kinasih?”