Episode 12 - Berbincang


“Ada tiga jenis hawa di dunia ini. Para pelajar wajib menghafalnya agar tak salah arah dalam mengkategorikan dari mana seseorang memperoleh kemampuan. Hawa murni, yang setiap manusia memilikinya dan bisa memanfaatkan asalkan mau melatih. Kemudian Hawa Gelar, yang bersumber pada Lautan Energi milik Kaisar Pertama. Ketiga dan terakhir adalah Hawa Suci, yang berasal langsung dari Kahyangan.”

–Dikutip dari kitab Pengetahuan Dasar Tiga Hawa karya Kaisar Ling Chi



Sidya langsung menegakkan diri kemudian menjauh, meski bagian tengkuknya yang bergaris merah bekas kuku si penyamun terasa sangat sakit. Menguasai diri dengan cara gigit bibir, Sidya mengepalkan kedua tinju kecilnya, dan ia pasang kuda-kuda ngawur dengan kaki yang terpentang terlalu lebar.

Penyamun yang lengannya sudah dianiaya secara tak sengaja oleh Sidya sampai-sampai mengalirkan air mata di kedua belah pipinya. Dia mulai meraung-raung mengeluhkan rasa sakit yang menghujam lengannya, membuat telinga si putri kecil sampai berdenging dibuatnya. Dia bergerak menjauh seolah Sidya adalah makhluk mengerikan yang sering muncul dalam mimpi buruknya.

“Kekuatan macam apa—”

“—bocah setan—”

“—awas!”

Kedua penyamun yang masih sehat sudah menyaksikan sendiri bagaimana Sidya beraksi. Mereka langsung ambil jarak untuk mengepungnya dari dua sisi, sembari menyiapkan golok masing-masing. Sidya akui, walau dia merasa agak berani tak lain karena derum gemuruh berhawa asing yang melaju di sekujur tubuh membuatnya merasa kuat hingga ‘kalau ia mau, ia bisa robohkan gunung’ seperti sabda Kaisar Pertama, pemandangan dua orang dewasa marah dengan senjata tajam teracung membuat pikirannya yang melayang ke Kahyangan akibat kagum pada diri sendiri kembali ke muka bumi.

Sekuat apapun, bocah sepuluh tahun tak akan bisa menghadapi mereka yang beratnya dua atau tiga kali dirinya, ditambah masing-masing membawa senjata. Lagian, dia sama sekali tak menguasai ilmu bela diri!

“Bocah Setan, kau telah melukai kawan kami!” salah satu penyamun berkata lantang sambil mengacung-acungkan golok, seolah kenyataan bahwa lengan kawannya sedang dalam kondisi cedera gawat baru saja disadarinya. Terbersit pemikiran di kepala Sidya bahwa omongan itu sebenarnya hanya olok-olok untuk mengulur waktu karena mereka juga takut, terbukti karena sejenak kemudian si penyamun berucap dengan suara bergetar, “M-maka kami tak bisa berbuat lain kecuali—”

Sidya sudah balik badan untuk lari sebelum ia bisa mendengar ancaman yang pastinya akan dikarang panjang serta dibuat-buat sampai terdengar menakutkan. Sejenak kemudian, benar saja, dia bisa mendengar langkah-langkah berat mengikutinya. Mungkin mereka menemukan keberanian karena suatu hal yang sering mereka lihat kembali mereka alami. Tahu bahwa calon korban ini lari, mereka menguatkan hati dan kembali menganggap bahwa dibawah kepungan, Sidya tentu tak akan bisa melakukan apa-apa. Keduanya mengumpat berang tepat tatkala Sidya sudah melangkah cukup jauh untuk menyeruak semak tebal yang menghalangi jalan.

--

Hikram mengawasi sosok Sidya yang hilang ditelan rerimbunan dengan alis terangkat sebelah.

Saat ini ia sedang nangkring santai di atas pohon beringin besar, terlindung oleh rimbunnya daun dan akar gantung. Semut dan binatang kecil yang masuk ke sela pakaiannya tak ia hiraukan. Setelah kemarin malam ribut sedikit dengan kakek-nenek edan dari Setrasutra, ia pura-pura pergi dari hadapan Sidya. Padahal kenyataannya ia kembali, memilih pohon ini sebagai tempat tidur semata agar tak ada yang merisak Sidya di tengah-tengah pembangkitan hawa murninya lagi.

Hikram tadi baru saja selesai minum-minum, sembari mengawasi Sidya yang melepaskan diri dan merangkak untuk meneguk air sungai sebelum akhirnya bersembunyi. Sebenarnya Hikram juga tahu akan keberadaan para begundal karena tempatnya yang cukup tinggi hingga leluasa mengawasi, tapi Hikram tertarik untuk melihat bagaimana cara bocah yang sedang mengalami Letup Hawa Murni itu menangani mereka. Hikram bahkan tak bersusah-payah untuk menyembunyikan diri, memilih bergantung terbalik untuk mengawasi lebih jelas sebelum akhirnya duduk lurus lagi.

Letup Hawa Murni ialah keadaan ketika sumbat yang menghalangi jalan hawa murni untuk bergerak leluasa di sekujur badan telah terlepas bebas. Secara berangsur-angsur, kekuatan tubuh akan naik berkali-kali lipat. Badan pun akan menjadi ringan, karena beban normal yang ditopang serasa berkurang sebagai akibat dari naiknya kekuatan.

Namun, tentu saja keadaan tak akan terus begitu selamanya. Kalau diibaratkan, sebuah bendungan yang jebol tentu akan menghasilkan banjir awal yang sangat dahsyat. Tapi, lama-kelamaan aliran akan berlangsung normal. Begitu pulalah dengan manusia yang baru bisa mengalirkan hawa murninya, Letup Hawa Murni hanya berjalan sementara saja. Lagipula, masih banyak simpul-simpul yang masih perlu dibuka, dan prosesnya tidak sesederhana memendam diri sendiri lalu berharap bahwa kesaktian akan datang dengan sendirinya. Diperlukan latihan keras, yang kesulitannya akan naik terus-menerus begitu makin banyak simpul yang terbuka. Menilik kemampuan Sidya hingga mampu mematahkan lengan seseorang, barang tentu ada enam atau bahkan tujuh simpul yang terurai dari total sembilan puluh sembilan ikatan yang melingkupi badannya.

Menarik sekali, karena mendiang guru Hikram berkata bahwa Ikat Tapa Pendam hanya bisa membuka tidak sampai lebih dari lima ikatan.

Hikram memprediksi bahwa Sidya baru bisa melepaskan diri dua atau mungkin empat hari lagi, tapi ternyata bangsawan cilik itu membuktikan bagaimana kemampuan keturunan langsung dari garis kaisar. Walau bocah berbakat bagus pun, mustahil rasanya bisa lepas dari Ikat Tapa Pendam macam itu dalam waktu sehari saja.

Atau, bisa jadi malah arwah penemu metode Ikat Tapa, Kaisar Ling Chi sendiri memang memberikan restu untuk keturunannya itu? Ah, saatnya tak tepat untuk memikirkan teori ini, walau Hikram jadi makin tertarik untuk mempelajari apa yang terjadi pada Sidya. Dia harus ingat untuk melatih bangsawan cilik itu lebih keras lagi nanti.

Hikram meloncat turun sembari atur napas, meringankan diri sehingga momentum jatuhnya berkurang. Ia tetap harus melakukan salto putar agar jatuhnya tak begitu menyakitkan.

Penyamun yang lengannya kena pukul oleh Sidya tinggal di tempat, tidak ikut mengejar. Ia menoleh mendengar ada suara ribut, langsung merengek sekali lagi begitu melihat seorang berpenampilan kumal jatuh begitu saja seperti buah yang terlalu matang dari atas pohon. Mustahil kalau dia cuma orang gila yang numpang lewat. Orang gila biasa tak akan mampu melakukan ilmu peringan tubuh.

Belakangan si penyamun merasa, hari Ini benar-benar hari tersial dalam hidupnya. Dihajar bocah yang tentu tak berumur lebih dari sepuluh tahun, kemudian bertemu seorang pendekar kelana. Dia hanya bisa berdoa pada Langit dan seluruh isinya, semoga pengembara ini tidak mengetahui insiden yang ia alami dengan si bocah setan.

“Menangis?” Hikram menyeringai melihat air matanya masih bercucuran. “Tidak segarang penampilanmu, kalau begitu. Kita ngobrol-ngobrol sebentar enak nih rasanya, sembari menunggu teman-temanmu kembali dari perburuan.”

Hikram langsung duduk jongkok di sebelahnya, membuat si penyamun beringsut menjauh.

“Tetap di sini,” Hikram menyambar pahanya, membuat gerakan si penyamun berhenti. Pasalnya, Hikram mencengkeram kuat-kuat sampai membuatnya nyeri. “Aku kan sudah bilang mau ngobrol denganmu? Tidak dengar ya?”

“T-tangan … tangan saya. Sakit. Tolong ….”

Hikram mengawasi lengannya dengan mata memicing. “Aku tidak melihat ada yang salah. Eh, iya, bentuknya agak beda dengan lenganmu yang satunya. Mau kusamakan bentuknya?” Hikram menunjuk ke lengannya yang sehat. Penyamun itu langsung mengangguk-angguk.

Hikram menyeringai lagi, memamerkan giginya yang kuning-kuning. “Yakin bentuknya mau kusamakan?” Hikram menggoyang jarinya pada lengan yang sehat itu untuk memperjelas maksudnya, dan si penyamun segera sadar. Hikram tidak berencana untuk menyembuhkannya, malahan ia ingin mematahkan siku yang satunya lagi.

“Tidak, tidak. maaf, tak perlu.”

“Nah, kan? Kau baik-baik saja. Kembali ke topik awal, mari kita berbincang. Kumulai dengan satu pertanyaan sederhana, kawanku. Apa kegilaan yang merasuki kepalamu hingga berani untuk menunjukkan wajah gantengmu sebegini dekat dengan kotaraja Sanfeilong, bahkan berani-beraninya mengacau seolah sudah tak sayang nyawa? Siapa sih pemimpinmu yang bego?”

Dia ragu-ragu sedikit sebelum menjawab, “Kami tidak dipimpin oleh siapa-siapa—”

Hikram memejamkan mata sebentar, tersenyum, kemudian membuka matanya lagi. Ia bisa merasakan pendar Hawa Gelar yang lemah dari pria ini, yang terhubung pada Pemegang Gelar yang berada setingkat di atasnya. Hawa murni memang cukup susah diperiksa dan hanya bisa dideteksi dengan tepat oleh mereka yang memiliki kesaktian tinggi seperti Waskita Renta, namun hawa gelar berbeda dan dalam bidang ini Hikram lebih paham daripada si nenek buruk rupa.

Mustahil jika si penyamun bertindak tanpa disuruh siapapun, menilik dari hawa gelarnya yang terhubung dengan tingkat-tingkat diatasnya. Aturan tentang Gelar memang cukup rumit, namun Hikram sekarang cukup yakin bahwa lelaki dihadapannya ini sedang berbohong tentang kelompoknya yang tak dipimpin oleh siapapun. Hikram mendekatkan jari telunjuknya ke mulut si penyamun yang masih meracau tak jelas. Dia langsung diam, matanya sampai juling ke tengah untuk mengawasi jari Hikram yang perlahan mulai menempel ke bibirnya.

“Sstt, untuk sekali ini, dalam rentang hidupmu yang pendek, coba pikirkan baik-baik jawabanmu. Kelihatan sekali lho kalau kau itu sedang bohong. Aku sudah mendengar obrolanmu dengan bocah cilik itu jadi jelaskan sekarang, siapa pemimpinmu, he, penyamun bergelar Bandit Perunggu?” Hikram mengulangi pertanyaannya, dan si penyamun yakin ia mendengar adanya nada ancaman dalam suara itu. Dia jadi makin takut, karena bagaimana pula Hikram tahu Gelarnya sebagai Bandit Perunggu padahal dia tidak sedang menyingkap Gelar? Keyakinannya tentang Hikram yang bukan orang kumal biasa makin pasti, dan dia tak mau membahayakan nyawanya dengan memberikan lebih banyak kebohongan!

“Bandit Emaslah yang kami panggil sebagai pemimpin, Kisanak. Ampuni saya, tolong!”

“Nah, begitu! Mudah sekali, bukan? Menarik, sangat menarik! Buat apa Si Bandit Emas sendiri pergi jauh dari Gurun Godi di Protektorat? Bukankah jaraknya sangat jauh? Aku meragukan kebenaran omonganmu,” kemudian Hikram menambahkan dengan wajah yang makin mengancam saja, “Aha, aku mengerti sekarang. Mau mengancamku secara halus dengan menyebut nama bosmu ya?”

“Tidak, tolong! Saya sumpah. Ada perintah dari utara, dari tanah stepa. Entahlah, saya tak begitu paham siapa yang memerintahkan. Informasi ditutup rapat oleh kalangan atas. Tolong, lengan saya. Tak mampu lagi—”

Hikram menggeleng sembari berdecak, “bisa tunjukkan mana arah yang harus kutuju hingga bisa menemui bandit kampungan itu?”

Dengan jari lemas pria penyamun itu menunjuk arah timur laut. “Sang Bandit Emas sedang menghabisi garnisun Legiun Asing di sana. Saya hanya … saya hanya mata-mata untuk memantau k-keadaan.”

“Sok jago rupanya, hingga mengirim seorang Pemegang Gelar sepertimu hanya untuk mengawasi keadaan. Baiklah, aku sekarang sangat ingin menemuinya. Kita hanya perlu menunggu kawan-kawanmu—”

Si penyamun menarik napas pendek-pendek, kemudian roboh. Pingsan, karena sepertinya ia memang tak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit. Hikram mengeluh, menyodok-nyodokkan jari ke pinggang penyamun itu, tapi dia tidak bangun-bangun juga. Sepertinya dia memang benar-benar tak sadarkan diri.

“Sial. Lembek benar, padahal kau seorang Pemegang Gelar! Aku jadi merindukan para penjahat-penjahat yang tangguh-tangguh seperti dulu.” Hikram bangkit, kemudian menggotong si penyamun di bahunya, seperti membawa rumput untuk makanan kambing yang sudah diikat dengan baik. Lengan anak buah Bandit Emas itu bergoyang ke kanan dan ke kiri tak berdaya, sementara Hikram melangkah santai untuk mengikuti jejak Sidya, menuju rerimbunan.

“Kita lihat apakah teman-temanmu sanggup menangkapnya. Bangsawan Cilik itu cukup keras kepala, jadi tak mustahil kalau buku-buku jari kawan-kawanmu patah jika pukulan mereka mengincar batok kepalanya.”

--

Sidya memilih lari zigzag, terutama mencari tempat yang sekiranya akan menyulitkan para pengejarnya. Ia cukup berhasil, karena sekali lagi terdengar umpat dari belakangnya, pasti salah satu penyamun tersangkut diantara dua pohon muda tempat Sidya berada beberapa saat lalu. Ia sudah berlari cukup lama, mengincar jalan-jalan sempit, belukar yang membelit, dan tentu saja di bawah ranting-ranting rendah. Kalau ditanya apa keunggulan Sidya dibanding para pengejarnya, jawabannya hanyalah badannya yang lebih kecil dari mereka, hingga mampu lewat sementara para pengejarnya harus terhambat rintangan. Kecepatan larinya yang meningkat untuk saat ini tak disadarinya.

Badannya mulai lelah, kakinya banyak tergores, dan celakanya, getar hawa di sekujur tubuhnya terasa mulai menipis. Pertama-tama pelan, kemudian kian lama kian menguap dengan kecepatan yang makin mengkhawatirkan. Sidya pernah dengar para pendekar yang terlalu memaksakan diri hingga Hawa Murni terkuras habis dari badan mereka, dan tak ada satupun yang hidup sampai sekarang untuk menceritakan bagaimana rasanya benar-benar kehabisan hawa murni.

Tapi, Sidya harus terus lari, karena orang jahat seperti mereka tak akan memberi ampun padanya, apalagi karena ia sudah menyengsarakan salah satu teman mereka. 

Tapi ada satu ide yang melintas di kepalanya!

“Tolong, ada yang mau menculikku, tolong! Siapapun yang masih setia pada kaisar, jawab panggilanku!”

Sidya terus berteriak-teriak, terutama berkonsentrasi untuk menggunakan Ilmu Titah agar perintahnya tak terbantah dan terpaksa didengar. Nalurinya mengarahkannya untuk memusatkan hawa murni ke lehernya juga, dan Sidya menuruti dorongan itu, hingga suaranya yang diperkeras menggaung dalam gelapnya kanopi yang makin lama makin rapat, menghalangi cahaya matahari.

Namun, ia memang sudah benar-benar kelelahan, hingga suaranya yang sebenarnya kali ini hanya terbawa sekian tombak. Sidya berpegangan pada sebuah pohon jati tua yang layu daunnya, mencuri-curi waktu untuk istirahat sebentar segera setelah melempar pandang ke belakang dan tidak terlihat tanda-tanda dari para pengejar.

Gemerisik angin menyapu daun jati. Sidya mendongak, untuk sekali ini berpikir bahwa Kahyangan memang memberinya takdir untuk tidak lolos dari para penjahat, tatkala melihat sesuatu yang janggal.

Mata gelap laksana malamnya menangkap daun-daun jati yang semula kering berubah menjadi agak sehat, kehijauannya kembali seiring dengan angin yang makin kencang menghantam. Sidya mengedar pandang, dan melihat bahwa disekitarnya rumput yang meranggas atau tunas yang tak sengaja diinjaknya saat melintas menjadi agak bangkit, menjadi lebih tegak. Seolah … seolah kehidupan sendiri berkunjung untuk menghibur semua tetumbuhan yang mengalami penderitaan.

Apakah ini sebuah pertanda? Sidya tak perlu berpikir dua kali. Toh, sedari tadi ia berlari tak tentu arah. Jika ada satu harapan kecil untuk selamat, ia akan menyambar kesempatan itu. entah karena dia yang sudah kelelahan hingga matanya tertipu atau tidak, ia tetap menguatkan tekad dan bergerak menuju ke arah angin yang masih berhembus kencang. Kakinya yang lelah mulai mengayun, kekeraskepalaannya membantu.

Sidya sendiri tak sadar bahwa seiring dengan alir sang bayu yang menghantam pepohonan, terdapat arus campuran hawa murni serta hawa gelar yang kuat, sangat kuat. Suara siulan pun, luput dari pendengaran telinganya.

--



Pesan dari penulis: 

Tak terasa bahwa serial Pendekar Sial telah berlangsung selama dua bulan lebih! Penulis sangat berterima kasih akan antusiasme para pembaca. Penulis mencoba hal yang baru, yaitu menambahkan kutipan-kutipan dari dunia tempat Hikram dan Sidya bertualang di setiap awal episode. Tujuannya tentu agar cerita lebih dapat dinikmati! Bukan hanya dari Kaisar Ling Chi, melainkan bisa juga keluhan pemimpin Legiun Asing yang pusing dengan tingkah laku anak buahnya, sabda Kaisar Pertama, bahkan omong kosong seorang pemabuk dari kedai "Warung Pisau". Pertanyaannya, bagaimana tanggapan kalian tentang hal tersebut? Apakah penulis harus meneruskan itu untuk setiap episode, atau lebih baik dihilangkan saja?