Episode 35 - Guna-Guna Siluman Ular (2)



“Hei tunggu!” Galuh pun langsung mengikuti Jaya sambil mengelap wajahnya yang kotor oleh darah ular-ular siluman itu dengan lengan bajunya, gadis ini tak henti-hentinya merutuk dan memaki Jaya yang membuatnya “Mandi Darah Ular Siluman” beberapa menit yang lalu.

“Sssttt! Diam jangan berisik terus!” tegur Jaya. “Hmm... Aneh, keributan tadi tidak membuat Ki Demang dan istrinya keluar dari kamarnya” pikir Jaya, dia lalu terus melangkah menuju ke halaman belakang kademangan sesuai petunjuk yang ia dapatkan dari mimpi anehnya barusan. Ia menghentikan kakinya di pintu sebuah gudang di halaman belakang Kademangan yang gelap gulita itu, dengan sekali tendang saja, kayu jati kokoh pintu itu langsung jebol!

Jaya langsung masuk kedalam gudang itu diikuti oleh Galuh, Jaya mengambil sebatang kayu lalu memasang gulungan kain di ujungnya, dengan tenaga dalam hawa panasnya ia membakar gulungan kain itu untuk dibuat menjadi obor sebagai penerangan mereka. “Kamu pegang ini!” Jaya menyodorkan obor itu pada Galuh, Galuh menerimanya. 

Mereka berdua kemudian memeriksa seluruh tempat itu sampai Jaya menemukan sebuah pintu rahasia di lantai gudang itu yang ditutupi oleh barang-barang bekas tak terpakai, Jaya berpikir sejenak sambil menatap pintu rahasia itu, “Bismillah…” ucapnya, dengan jantung berdebar ia membuka pintu itu.

“Jaya kenapa kau bisa tahu disini ada pintu rahasia? Pintu menuju kemana itu?” Tanya Galuh penasaran.

“Aku juga tidak tahu, mungkin menuju ke tempat harta karun!” seloroh Jaya untuk mengurangi ketegangannya.

Ia langsung turun memasuki pintu rahasia itu, Galuh pun ikut turun, tapi begitu matanya dapat melihat apa yang ada didalam ruangan bawah tanah itu menjeritlah ia dengan ketakutan. “Kyaaaaa!!!!” jeritnya.

“Ssttt!!! Jangan berisik! Kalau berisik mereka akan menyerang kita!” ucap Jaya yang juga kelaurkan keringat dingin mendapati apa yang ada didalam sana, ternyata ruangan bawah itu dipenuhi oleh berbagai macam ular berbisa.

“Jaya kenapa kau membawaku ke tempat menyeramkan begini?!” Tanya Galuh panik.

“Aku juga tidak tahu!” tukas Jaya.

“Aneh, apakah wanita didalam mimpiku itu adalah sebangsa mahluk halus jahat yang hendak mencelakai aku?!” pikirnya, tapi tiba-tiba seolah ada suara seorang perempuan terngiang di telinganya, “Halau semua ular itu! Teruslah berjalan ke muka!” Jaya kaget mendengar suara didalam telinganya itu, “Galuh apakah kau mendengar suara seorang wanita?” Tanya Jaya.

“Suara apa?! Satu-satunya suara wanita disini adalah aku yang sedang merinding ketakutan!” semprot Galuh.

“Aneh, suara apa itu?!” pikir Jaya, tapi ia menjadi penasaran juga, ia lalu mengeluarkan pukulan “Sirna Raga”, lidah api besar disertai gelombang pusaran angin panas menderu, ular-ular di tempat itu banyak yang mati terbakar, Galuh pun mau tidak mau ikut mengeluarkan pukulan “Telapak Kawah Tunggul”, sinar putih disertai angin puting beliung panas disertai bau belerang yang menusuk menderu, hawa panas menghampar di lorong sempit bawah tanah itu, seluruh sisa ular-ular yang masih hidup langsung terbakar hingga mati oleh pukulan Galuh yang dahsyat itu! Bau hangit pun memenuhi lorong bawah tanah itu. 

“Hhhh... Sepertinya sudah mati semua,” tebak Jaya yang langsung meneruskan langkahnya.

“Jaya tunggu! Kenapa kau ini?! Memangnya kau mau kemana?!” cecar Galuh.

Jaya mengangkat bahunya, “Entahlah, aku juga tidak tahu, hanya saja menurut firasatku kita akan menemukan satu rahasia besar yang mengerikan yang ada di ujung lorong ini!”.

Galuh melotot mendengarnya “Rahasia besar yang mengerikan?!” Jaya diam tidak menyahut, kakinya terus melangkah melwati lorong bawah tanah itu, “Hei Jaya tunggu aku!” Galuh langsung lari ketakutan menyusul Jaya.

Setelah berjalan beberapa tumbak, sampailah mereka didalam satu ruangan yang cukup besar, keadaan disana sungguh mengerikan, tulang-belulang tengkorak bayi dan balita berserakan disana, di tengah ruangan itu ada satu tempat tidur besar berkelambu putih, “Ini... Ini tulang anak-anak manusia!” desis Galuh setelah mengamati tulang-belulang yang ada disana.

“Hei di sini juga ada benda aneh!” ucap Jaya, Galuh pun mengikuti Jaya lebih masuk kedalam ruangan itu, ternyata disana ada beberapa belas butir telur yang besar “Telur apa ini?!” Tanya Galuh dengan menatap ketakutan pada telur-telur raksasa itu.

“Telur siluman ular tentunya!” jawab Jaya.

“Telur Siluman Ular?! HIIIIIIIIII!!!!” jerit Galuh ketakutan.

“Stttt! Jangan berisik terus, coba rasakan!” perintah Jaya. 

Galuh pun melihat api di obor yang ia pegang bergoyang-goyang, “Oh angin berhembus cukup kencang disini!” ucapnya.

Jaya pun mengambil obor dari tangan Galuh, dia lalu menatap berkeliling, “Kesini!” dia pun melangkah ke arah angin yang dirasakannya bertiup kencang. Beberapa tombak kemudian mereka melihat ada satu tangga, Jaya dan Galuh pun menaiki tangga tersebut dan membuka pintu diatasnya, ternyata mereka keluar di halaman belakang pesanggrahan tidak berpenghuni tempat mereka menginap beberapa malam kemarin, mereka keluar di dekat bagian belakang pesanggrahan dimana batu-batu nisan tanpa nama berjejer.

“Apa arti semua ini?” Tanya Galuh.

“Begitu... Hmm... Pesanggrahan ini adalah tempat para siluman ular itu mencari makan, dengan melalui lorong rahasia bawah tanah ini, mereka mengambil bayi atau anak kecil yang diberikan oleh para warga desa di pesanggrahan ini, mereka lalu membawanya ke ruangan rahasianya tadi dan menyantapnya!” jelas Jaya.

“Apa?! Jadi Ki Demang Wiraguna adalah Siluman Ular?” Tanya Galuh.

“Bukan, Ki Demang hanya manusia biasa, tapi kemungkinan ia Ngipri, ia menyembah ular untuk mendapatkan kekayaan serta jabatan, ia pun menikahi siluman ular untuk mendapatkan semua yang ia inginkan itu, tapi siluman ular itu tentu meminta imbalan untuk memenuhi keinginan Ki Demang, Siluman ular itu minta tumbal manusia, jadilah Ki Demang berisiasat menarik pajak yang sangat tinggi yang dapat ditukar dengan bayi atau anak kecil para penduduk desa untuk dijadikan korban si siluman ular, bahkan istri tuanya sendiri menjadi korbannya!” jelas Jaya.

“Jadi apa hubungannya dengan kita? Mengapa mereka mengincar kita?” cecar Galuh dengan dipenuhi rasa heran.

“Mungkin karena jumlah bayi dan anak-anak di Kademangan ini yang sudah semakin sedikit serta ada kecurigaan dari pihak kerajaan, mereka mencoba mengganti mangsanya dengan memangsa kita!” Jawab Jaya. 

“Jadi istrinya Ki Demang itu adalah siluman ular?” tebak Galuh.

Jaya mengangguk “Benar, wanita itu adalah siluman ular!”

Galuh jatuh berlutut, air matanya mengalir, tenggorokan tercekat serasa dicekik “Jadi anak-anak yang dibuang itu dibawa kedalam lubang ini lalu...” Galuh tak dapat meneruskan ucapannya, perasaan gadis ini sangat sakit bagaikan diiris-iris mengingat nasib semua bayi dan anak kecl yang menjadi korban siluman ular istri Ki Demang Wiraguna itu.

“Kurang ajar! Kurang Ajar! Jahanam! Akan kubunuh Siluman Ular itu serta Ki Demang yang keji itu!” jeritnya sambil menangis.

Jaya pun segera menenangkan Galuh “Galuh, tenanglah... Kita harus tetap tenang dalam bertindak menghadapi mereka!”

Galuh mengangkat kepalanya, “Bagaimana aku bisa tenang mendapati kekejian pasangan suami-istri laknat itu?! Memangnya kau punya rencana?!” tanyanya.

“Galuh, aku akan kembali ke Kademangan untuk menghadapi Siluman Ular dan Ki Demang, kau beri tahu seluruh warga Saguling untuk membakar rumah Ki demang!” jelas Jaya, Galuh pun mengangguk setuju.


      ***


Sementara itu di kamar Ki Demang Wiraguna, Ki Demang nampak sedang duduk termenung, kemasygulan hatinya jelas tergambar di wajahnya, sedangkan istrinya Nyai Kantili nampak menatap suaminya dengan mata melotot dan nafas memburu tanda perempuan itu sedang diliputi kemarahan yang teramat sangat.

“Kakang Demang! Kau tunggu apa lagi?! Apakah kau akan membiarkan mereka berdua hidup setelah membunuh ketujuh putri kita?! Bunuh mereka secepatnya!” bentak Nyai Kantili.

Ki Demang tak langsung menjawab, desahan nafasnya yang berat terdengar jelas dibarengi dengan ekspresi wajahnya yang teramat muram, “Aku hanya ingin memberi makan putri-putriku sesuai dengan perjanjian kita... Kalau saja jumlah bayi dan anak-anak di desa ini masih banyak... Kalau saja mata-mata Banten tidak masuk ke desa ini yang jadi mengundang pasukan kerajaan untuk menarik para pemuda...”

“Kenapa kau jadi bimbang?! Ambil Keris pusakamu ini! Bunuh kedua pengembara itu!” potong Nyi Demang sambil menyodorkan Keris Pusaka Ki Demang, kesal betul ia dengan sikap ragu-ragu Ki Demang.

“Nyai istriku, kau dengar nama dan asal kedua pengembara itu? Menurut kabar pemuda yang bernama Jaya Laksana itu mempunyai julukan yang mulai menggetarkan dunia persilatan Pasundan ini yaitu Pendekar Dari Lembah Akhirat, yang gadis bernama Galuh Parwati adalah murid si Dewa Pengemis yang tersohor akan kesaktiannya dengan julukan Si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul, menurut kabar yang berhembus di seantero Mega Mendung ini, mereka adalah sepasang pendekar yang sakti mandraguna! Kita harus hati-hati Nyai, apalagi mereka mampu membunuh ketujuh putri kita!” sela Ki demang.

“Apa?! Jadi Kakang takut?! Kakang lebih mengedepankan rasa takut Kakang dibanding dendam tujuh putri kita?!” bentak Nyai Kantili.

Brakkk!!! Tiba-tiba pintu kamar mereka hancur didobrak oleh Jaya, Ki Demang dan Nyai Kantili pun langsung bersiap-siap. Jaya dengan tenangnya melangkah masuk kedalam kamar dengan tatapan setajam pedang pada pasangan suami istri itu. “Kau mengundang kami untuk mendengar cerita perjalanan kami, tapi ternyata sebenarnya untuk menjadi santapan anak-anak siluman ularmu itu!”


Nyai Kantili menyunggingkan senyum yang penuh kebengisan, ia lalu mendekap Ki demang wiraguna sambil berbisik. “Kakang Demang, kau dan aku telah bertukar janji keabadian, kau akan hidup abadi dengan kekayaan duniawi yang tak akan pernah habis! Sekarang bunuh pemuda itu yang telah membunuh putri-putri kita!”

KI Demang pun menghunus Keris Pusakanya, ia langsung menerjang Jaya dengan Kerisnya, Jaya menghindarinya, dengan kalap Ki Demang terus mencecar Jaya dengan Keris Pusakanya, “Ki Demang sadarlah! Kau sudah banyak menghilangkan banyak nyawa termasuk nyawa istri tuamu Nyai Lasmini!” tegas Jaya.

Ki Demang langsung menghentikan serangannya begitu mendengar Jaya menyebut nama Nyai Lasmini, “Apa?! Darimana kau tahu tentang istriku?!” Tanya Ki Demang.

“Itu tidak penting! Yang penting ia memintaku untuk menghentikan semua perbuatan kejimu! Kalau kau tak berhenti, siluman ular betina itu akan mengambil semuanya darimu, termasuk jiwamu! Rohmu tidak akan bisa pulang ke alam baqa!” tandas Jaya. 

Sementara itu di alun-alun desa, Galuh memukul kentongan tanda bahaya agar semua penduduk desa Saguling berkumpul disana, “Semua warga desa Saguling! Ayo berkumpul di alun-alun!” teriak Galuh dengan menggunakan tenaga dalamnya sehingga suaranya bergema di seluruh desa, para warga pun terbangun dari tidurnya, dengan tergopoh-gopoh mereka berkkumpul di alun-alun desa dengan obor di masing-masing tangannya.

“Hei bukankah kau gadis asing yang menginap di pesanggrahan tepi sungai?! Ada apa kau menyuruh kami berkumpul disini?!” Tanya salah seorang warga desa yang mengenali Galuh saat tadi pagi ia “nyekar” ke tempat ia meninggalkan anak balitanya.

Galuh tidak menjawab, dia mengambil satu telur raksasa dan membantingkannya ke bawah, Praakkkk! Telur itu pun pecah, semua yang ada disana terkejut melihat isi telur tersebut, telur tersebut berisi ular kobra raksasa yang siap menetas! “Warga desa Saguling! Itu adalah telur siluman ular yang memangsa semua bayi dan anak-anak kecil di desa ini yang kalian tinggalkan di pesanggrahan sebagai kompensasi pajak dari Ki Demang Wiraguna! Demang kalian telah Ngipri menyembah siluman ular Kobra betina untuk memperoleh kekayaan! Dia menikahi wanita siluman ular untuk memperoleh tujuannya tersebut dengan perjanjian dia harus memberi korban manusia setiap satu purnama sekali, untuk memberi makan anak-anak siluman ular betina itu!” jelas Galuh dengan suara lantang yang disertai tenaga dalamnya.

“Lalu kenapa tubuh dan pakaianmu sendiri belepotan oleh darah seperti itu?! Jangan-jangan kau juga sama-sama siluman penghisap darah!” Tanya salah satu warga desa,

“Bodoh! Aku dan kawanku habis bertarung dengan ketujuh putri Ki Demang Wiraguna yang ternyata mereka semua adalah siluman ular! Tapi sekarang yang terpenting, apakah kalian semua sudah sadar telah ditipu oleh Demang tua serakah itu?! Kalian menyerahkan anak-anak kalian sebagai kompensasi dari pajak kalian, padahal kalian telah mengorbankan anak-anak kalian untuk memberi makan para siluman ular itu! Jika kalian membiarkan ini, mereka akan memakan kalian semua dan menguasai desa ini!” tegas Galuh.

Semua warga desa pun mulai terpengaruh oleh ucapan gadis hitam manis tersebut, “Kalau kalian tidak mau menjadi korban kebiadaban Ki Demang dan siluman ular istrinya itu, ambilah senjata kalian! Kita bakar dan ratakan Rumah Kademangan dengan tanah! Bakar telur-telur siluman ular itu!” tandas Galuh.

Para penduduk desa pun langsung setuju, setelah sekian lama mereka dicekap dan ditekan oleh rasa takut, kini mereka menjadi nekat, api dendam berkobar dalam diri mereka untuk menumpas kedzaliman Demang mereka, “Gadis itu benar! Ayo kita bakar rumah Ki Demang!” teriak salah dari mereka.

“Allahuakbar! Mari kita tumpas siluman ular laknat itu!” sahut yang lainnya.

“Allahuakbar!” teriak para warga desa, dan bukan hanya kaum pria saja, kaum wanita pun ikut bergerak menyerbu ke rumah Ki Demang Wiraguna.

Kembali kedalam kamar Ki Demang Wiraguna yang sedang bertarung dengan Jaya, Ki Demang kini nampak ragu-ragu setelah mendengar perkataan Jaya tadi. “Ki Demang, sewaktu kau kesulitan menemukan bayi atau anak kecil didesamu ini kau sebenarnya merasa lega bukan? Sewaktu pihak pemerintah Mega Mendung menagih para pemuda desa yang sangat sedikit dari desa ini kau merasa lega bukan? Pihak pemerintah menyadari bahwa jumlah anak-anak di desa ini sangat sedikit sehingga nanti setelah remaja tidak bisa ditarik menjadi prajurit! Kau merasa tak perlu membunuh anak-anak lagi! Hati kecilmu menangis karena kau merasa lega bukan?!” tekan Jaya.

 Nyai Kantili sepertinya sudah kehabisan kesabaran dengan keragu-raguan Ki Demang, “Kakang Demang kau bersikap bimbang pada pembunuh putri-putri kita? Baiklah! Perjanjian kita sampai disini. kau sudah tak bisa lagi memenuhi perjanjianmu!” tandasnya,

“Nyai tunggu!” sergah Ki Demang, tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, perutnya mual, dia pun jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk, kemudian “Ohheeeekkkk!!!” Ki Demang muntah darah disertai keluarnya belasan ekor ular kobra kecil dari mulutnya! 

“Sejak awal aku tahu kau tak mencintaiku!” ucap Ki Demang sambil terbatuk-batuk darah dan nafas satu-satu.

Nyai Kantili tertawa terbahak-bahak mendengarnya, “Tentu saja aku tidak mencintaimu! Mana mungkin kami bangsa siluman ular dapat mencintai seorang manusia?! Kalian manusia tak lebih dari hamba sahaya kami bangsa Jin dan Siluman!”

Saat itulah jantung Ki demang Wiraguna meledak, satu ekor ular kobra hitam besar merobek dadanya dari dalam dan meloncat keluar, tewaslah Ki Demang Wiraguna yang tersesat hidupnya akibat jalan “Ngipri” untuk mendapatkan kekayaan duniawi itu dengan sekujur tubuh menghijau oleh bisa racun ular yang menjalari seluruh tubuhnya!

Bukan main marahnya Jaya menyaksikan kekejaman siluman ular betina ini, dia menatap dengan sangat tajam seolah setajam pedang dan sedingin es pada Nyai Kantili, Nyai Kantili pun balas menatap Jaya dengan tatapan nafsu membunuh, kedua matanya berubah menjadi mata seekor ular, perlahan taring ular mencuat dari dalam mulutnya seiring kulit tubuhnya berubah menjadi sisik ular. “Kalau saja kau tidak datang...” desisnya, serbuk-serbuk bisa berwarna hijau keluar dari sekujur tubuhnya “Kini kau harus mati ditanganku manusia jahanam!” jeritnya.

Saat itulah Galuh berlari masuk kedalam Kademangan “Jaya dimana kamu?! Aku dan para warga desa datang untuk membantumu!” teriaknya memanggil-manggil Jaya.

Ia lalu berlari masuk ke arah kamar Ki Demang, ketika itu tiba-tiba... Bruaakkkkk!!! Tembok Jati kamar Ki Demang jebol ditembus sosok ular raksasa! “Yasalam! Apa itu?!” jerit Galuh ngeri ketika melihat sesosok wanita yang dari pinggang kebawahnya berwujud ular raksasa, sementara pinggang keatas bertubuh manusia tapi seluruh kulitnya berisisik ular, berwarna hitam belang emas, rambutnya berupa kumpulan ular-ular kecil, wajahnya berwarna hitam dipenuhi belatung dan cacing, kedua gigi taring ularnya mencuat panjang keluar, lidahnya bercabang seperti lidah ular menjulai sampai ke dada!

Dari kedua mata ular wanita siluman itu memancar sinar hijau menerjang Galuh! Galuh segera melompat ke samping menghidarinya, bergidiklah ia ketika melihat lantai batu yang mencair terkena sinar hijau itu, Galuh langsung berlari keluar, ular raksasa itu merayap dengan cepat mengejarnya! Brak! Brak! Brak! Semua yang tertabrak oleh tubuhnya hancur berantakan!

“Itu dia siluman ularnya! Ayo bunuh dia!” tunjuk para penduduk desa, mereka pun langsung menyerbu Nyai Kantili, Wuukkk!!! Ekor siluman ular menyapu para penyerbunya, beberapa dari mereka langsung terlempar terjungkal lalu muntah darah dengan tulang dada mereka remuk, beberapa lagi mati keracunan dengan tubuh berubah menghijau oleh serbuk-serbuk hijau yang terbang mengelilingi sekujur tubuh Nyai Kantili!

Saat siluman ular itu mengamuk hendak menerjang Galuh dan seluruh penduduk desa, sebuah topan prahara dahsyat menderu menghantam tubuh ular raksasa Nyai Kantili hingga tubuhnya terlempar beberapa tumbak, ternyata Jaya yang menghantamnya dengan pukulan “Badai Mendorong Bukit”, ia lalu berteriak “Galuh dan para warga desa semua, jangan mendekati tubuh siluman itu, siluman itu mengelilingi tubuhnya dengan serbuk bisa ular yang sangat ganas!” peringat Jaya.

Galuh dan seluruh warga desa pun melangkah mundur menjauh, “Serbuk Bisa ular disekitar tubuhnya sangat berbahaya sekali, aku hanya bisa menghadapinya dengan pukulan jarak jauh!” pikir Jaya.

Siluman ular itu berbalik dan menoleh Jaya yang tadi menyerangnya, dari mulutnya menyembur cairan berwarna hijau yang merupakan racun yang sangat berbisa! Jaya melompat ke samping menghindari semburan bisa tersebut, kini giliran ekor ularnya yang menyapu kian kemari menyerang Jaya, Jaya berjumpalitan menghindarinya dengan menggunakan ajian “Tujuh Langkah Malaikat”, tubuhnya melesat kian kemari bagaikan diterbangkan angin sehingga yang terkena sapuan ekor ular raksasa tersebut hanyalah bayangan-bayangan tubuhnya saja.

Mendapati mangsanya sangat sulit diserang, kini giliran dari mata ularnya memacar sinar hijau pekat menderu dengan kecepatan fantastis! Duarrr!!! Pohon yang yang terkena sinar itu terbakar hebat! Jaya segera membalas dengan pukulan “Wesi Waja”, segulung angin yang sangat berat dan padat bagaikan besi baja menghantam ular siluman itu! Duakkk! tapi ular siluman itu nampak tak terluka apa-apa, salah pukulan andalan dari Padepokan Sirna Raga itu hanya sanggup mendorong tubuhnya beberapa langkah kebelakang saja! “Celaka! Pukulanku seolah tak berdampak apa-apa pada siluman itu!”

Jaya kemudian menggosok-gosokan tangannya pada cincin yang melingkar di jari manisnya, “Cincin mustika Kalimasada, engkau hanyalah alat bantu, diriku hanyalah lantaran, semua yang terjadi adalah kehendak Gusti Allah! Bismillah!” ucapnya dalam hati, cincin di tangan Jaya pun memacarkan cahaya biru tua yang sangat terang dan menyilaukan bagi siluman ular itu, tenaga dalam Jaya pun terasa meningkat berkali-kali lipat, Jaya langsung melemparkan Keris pusaka Ki Demang Wiraguna yang tadi ia pungut, dengan tenaga dalam penuh! 

Leris Pusaka Ki Demang Wiraguna tersebut menancap tepat di jantung Nyai Kantili! Siluman ular raksasa itu merintih kesakitan, rupanya Keris tersebut cukup bertuah hingga membuat si Siluman itu terluka parah, tapi belum cukup mampu untuk membunuhnya!

Jaya lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, kepalan tangannya memacarkan cahaya redup berwarna emas kemerahan tanda Jaya akan mengeluarkan pukulan “Gerhana Matahari”, kemudian dengan teriakan menggeledek, ia mendorongkan tangan kanannya, satu sinar besar berrna emas kemerahan yang memancarkan cahaya redup disertai angin putting beliung yang teramat panas, menderu ke arah tubuh si siluman ular, hawa panas mengerhampar di tempat itu!

Blarrr!!! Tubuh si siluman ular itu meledak! Tapi lagi-lagi sial bagi Galuh, gadis itu berdiri tepat di belakang tubuh si silmuan ular, hingga pada saat tubuh siluman tersebut meledak, untuk kedua kalinya sekujur tubuh Galuh harus “mandi” darah siluman ular! “Lagi? Kenapa aku kena lagi?” gerutunya pelan karena kehabisan kata-kata setelah untuk kedua kalinya di malam yang sama ia harus “diguyur” oleh darah siluman ular itu, sementara sisa-sisa potongan tubuh siluman ular itu terbakar api mengeluarkan bau sangit oleh pukulan Gerhana Matahari Jaya. 

Melihat riwayat siluman ular itu sudah tamat, amarah semua warga desa pun mulai bangkit lagi. “Ayo bakar tempat ini!”

“Bakar!” teriak mereka.

Tetapi Jaya langsung menahan mereka, “Saudara-saudara! Tolong dengarkan saya sebentar!” ucap Jaya.

“Sudara-saudara, sarang siluman ular ini ada di lorong bawah tanah yang bisa kita masuki dari gudang di halaman belakang Kademangan ini, jadi sebelum kita membakar seluruh tempat ini, kita bakar dulu sarang siluman yang terdapat telur-telur siluman ini! Dan jangan lupa, kita sebutkan nama Gusti Allah terlebih dahulu sebelum membakarnya!” jelas Jaya. 

Mereka semua pun beramai-ramai masuk kedalam lorong bawah tanah tersebut dan membakar seluruh telur-telur siluman ular itu, setelah itu mereka membakar seluruh Kademangan ini yang menjadi lambang kemusyrikan serta kekejian Ki Demang Wiraguna bersama istri mudanya Nyai Kantili si Siluman Ular. 

Pagi harinya Jaya, Galuh bersama seluruh warga desa kembali ke pesanggrahan di tepi sungai dan mendoakan semua arwah bayi dan anak kecil yang menjadi korban Siluman Ular, setelah itu Jaya dan Galuh pun pamit untuk melajutkan perjalanan ke Rajamandala, saat itu samar-samar Jaya dapat melihat bayangan Nyai Lasmini tersenyum padanya, “Terima kasih saudara, ucapnya.” 

Jaya pun mengangguk “Tapi maaf Nyai, saya gagal menyelamatkan KI Demang.” ucap Jaya dalam hatinya.

Nyai Lasmini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Tidak apa-apa Saudara, saya sudah sangat bersyukur bahwa suami saya tidak dapat melakukan pembunuhan lagi, dan di akhir hayatnya ia masih sempat bertobat setelah menyadari semua perbuatannya yang sesat, terimakasih Saudara... Dan selamat tinggal, sudah saatnya saya pulang.” perlahan bayangan arwah Nyai Lasmini pun menghilang bagai kabut pagi tersibak sinar mentari. 

Jaya pun melanjutkan perjalanannya bersama Galuh dengan hati lega, warga desa Saguling pun mulai kembali membangun desanya setelah beberapa tahun ini diterpa malapateka dahsyat akibat Demangnya yang ingin kaya dengan cara “Ngipri”.