Episode 35 - Alsiel (3)



Setelah selesai mengosongkan beberapa botol, akhirnya anak buah dari geng Houndom datang dengan membawakan tas yang berisikan tumpukan uang.

Alsiel membuka tas dan melihat sekilas tumpukan kertas di dalamnya. Jika orang biasa, mereka pasti akan langsung meneteskan liur ketika melihat isi di dalamnya, tapi sayangnya Alsiel tidak tahu nilai uang di dunia ini, dan dia juga tidak terlalu peduli.

Jadi, dia tetap bergeming dan langsung menutup kembali tas tersebut.

Meskipun Alsiel tidak tahu berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membayar biaya pengobatan ayah dari pacar pemilik tubuh sebelumnya, tapi dia merasa bahwa uang di dalam tas itu sudah cukup.

Alsiel menatap orang di depannya. Pria yang memakai jas tersebut memeras sanyum dengan keras sambil mengepalkan kedua tangannya. Dan jelas, Alsiel bisa merasakan kemarahan dari pihak lain.

Namun, Alsiel merasa senang dengan reaksi dari pria berjas tersebut. Karena ternyata emosi negatif orang tersebut mengalir dan mengisi energinya kembali. Sebelumnya dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya, karena tidak memiliki energi tersisa setelah menggunakannya untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Jadi dipertarungan sebelumnya, Alsiel menggunakan sisa energinya untuk memperkuat tubuh dan menghajar orang-orang tersebut hingga energinya habis. Karena itu dia agak cemas mereka akan kembali menyerangnya. Dan jelas, Alsiel akan kalah jika hanya mengandalkan tubuh yang dia pakai tanpa energi miliknya.

Meskipun tidak banyak, tapi energi itu terus mengalir ke dalam tubuhnya, jadi dia agak enggan untuk pergi terburu-buru dari tempat ini, karena itu dia tidak langsung pergi meskipun sudah mendapatkan uang yang dia minta.

“Apakah ada yang bisa saya lakukan lagi?” tanya pria berjas dengan sopan. Meskipun begitu, di dalam hatinya dia terus menggerutu karena Alsiel yang tidak kunjung pergi.

‘Sial! Cepat pergi! Apa lagi yang kau mau? Aku sudah bangkrut sialan!’

Alsiel mengerutkan kening pada pria di depannya, dia diam sejenak lalu menutup matanya dan berkata, “Beri aku minuman lagi.”

‘Argggghhhh.... sialan! sialan! sialan! Dia sudah mengosongkan seluruh pendapatan bar-ku dan sekarang dia ingin mengosongkan seluruh minuman juga.’

Bos geng houmdon memaki Alsiel dengan keras, tentu saja hanya di dalam hatinya.

Pada awalnya Alsiel ingin meminta minuman itu lagi untuk menghabiskan waktu sambil memikirkan sesuatu yang bisa membuat pria di depannya lebih marah untuk mengisi kembali energinya. Namun, tanpa dia sangka, ternyata dia sudah membuat orang tersebut marah hanya dengan meminta minuman lagi.

“Ma-maaf, tapi minuman itu sudah habis.” Bos geng Houndom berkata dengan cemas. Sejujurnya dia masih memiliki minuman tersebut di dalam gudang penyimpanan, akan tetapi dia tidak mau memberikannya pada Alsiel. Karena jika dia memberikannya, bisnisnya akan benar-benar bangkrut.

Dia tidak mau memadamkan api kecil harapannya.

Alsiel mengerutkan kening dan menatap pria di depannya dengan jijik. 

“Baiklah kalau begitu.” Alsiel berkata dengan suara berat lalu memejamkan matanya.

Bos geng Houndom sangat senang setelah Alsiel mengatakan itu, karena akhirnya dia akan segera pergi. Namun, setelah beberapa saat Alsiel tetap duduk di kursi dengan tenang sambil memejamkan matanya.

‘Sialan! apa lagi yang kau tunggu? Cepat pergi dari bar-ku!’ 

Bos geng Houndom menggerutu dengan cemas di hatinya.

Selagi Alsiel masih berpikir bagaimana cara membuat bos geng Houndom marah. Di sisi lain, ternyata amarah dari bos melambung tinggi karena Alsiel yangmasih kukuh berada di dalam bar miliknya tanpa tanda akan pergi.

Alsiel tidak menyadari tambahan energi negatif dari bos geng Houndom tersebut, karena dari awal memang energi yang didapat dari amarah tersebut sangat sedikit, jadi dengan tambahan sedikit lagi tidak akan baanyak berpengaruh.

Setelah beberapa saat, Alsiel kembali membuka matanya dan melirik bos geng houndom di depannya. Kemudian pandangan Alsiel mengembara ke sekeliling dan beberapa detik kemudian jatuh kembali ke bos geng Houndom.

“Berikan aku sesuatu yang menyenangkan.” Alsiel berkata dengan tenang. Dia memutuskan untuk tetap berada di sini hingga mendapat cukup banyak energi.

“Sesuatu yang menyenangkan?” bos geng Houndom bertanya untuk memastikannya.

“Ya.” Jawab Alsiel dengan ringan. 

‘Sesuatu yang menyenangkan? Apa-apaan itu? bisakah kau mengatakannya dengan jujur dan lebih spesifik? Kau pikir aku ini dukun?’ bos geng Houndom menggerutu di dalam hatinya.

Alsiel mengerutkan keningnya karena sikap dari serangga bau di depannya sangat lamban. Dia sudah menunggu beberapa saat, akan tetapi Bos geng Houndom masih berdiri di depannya sambil mengerutkan kening. Tampak sedang bermasalah.

“Apa yang kau tunggu? Cepatlah!” Alsiel berkata dengan keras.

‘Sialan! dasar kau sialan! bisakah kau membaca situasinya? Kau menyuruh orang dengan perintah yang sangat abstrak. ‘sesuatu yang menyenangkan?’, kau pikir aku tahu apa yang kau suka? Tidak, dan aku juga tidak peduli dengaan itu.’ Bos geng Houndom kembali menggerutu di dalam hatinya.

Bos geng Houndom mengerutkan kening sambil berpikir. 

‘Ah, itu dia, sebelumnya si sialan itu melirik ke suatu arah.’ 

Bos geng Houndom memutar bola matanya dan melihat dari ujung matanya ke arah di mana Alsiel melirik sebelumnya dan melihat sesosok gadis seksi yaang sebelumnya telah di pukul oleh Alsiel juga, akan tetapi dia memiliki memar lebih sedikit dari orang lainnya.

‘Ah, jadi ‘itu’ yang kau maksud sesuatu yang menyenangkan. Ternyata kau bukan hanya sialan, tapi juga bajingan. Setelah kau mengambil semua uangku, kini kau ingin mengambil salah seorang pegawaiku juga.’

Bos geng Houndom menggertakan giginya dan menunjuk gadis seksi tersebut.

“Kau, kemari.” Ucap Bos geng Houndom dengan berat.

“Ah? Aku?” gadis seksi itu tidak menyangka dia akan ditunjuk oleh bosnya.

“Iya, cepat kemari.” Bos geng Houndom kembali berkata dengan suara yang berat.

“Ba-baiklah.” Gadis seksi itu gemetaran dengan suasana berat di dalam bar saaat ini, dia juga masih merasa sakit dari pukulan dari Alsiel sebelumnya. Namun, dia tetap berdiri dan berjalan ke arah bosnya.

Tubuhnya sangat seksi. Dengan dada dan pantat yang penuh, dia berjalan pelan tapi pasti mendekati bosnya. Baju yang dia kenakan memaparkan banyak bagian tubuhnya, seperti paha dan belahan dadanya. Dan siapapun pria yang menatapnya tidak akan bisa menyembunyikan pikiran kotor terhadap gadis tersebut.

Namun, karena dia adalah pegawai dari bar yang dikelola oleh geng Houndom. Tidak ada yang berani untuk melakukan hal buruk terhadapnya.

Pernah suatu hari ada seorang pria muda yang mencoba untuk mendekati dan melakukan hal buruk padanya saat berada di sebuah jalan sepi, akan tetapi tiba-tiba ada anggota geng Houndom yang keluar dari semak-semak dan langsung menghajar pria tersebut.

Dan setelah hari itu, tidak ada lagi kabar dari pria tersebut.

Gadis tersebut cukup penting bagi geng Houndom, karena semenjak gadis tersebut datang untuk bekerja di sana, bar tersebut mengalami lonjakan pengunjung setiap harinya.

Namun, hari ini, Bos geng Houndom tidak punya pilihan lain, karena pria di depannya sangat mengerikan, dan dia tidak berani untuk tidak mematuhi perintahnya. 

Gadis seksi itu masih berjalan dan akhirnya sampai di depan Alsiel. Dia sudah mengerti apa yang harus dia lakukan setelah dia dipanggil oleh bosnya. Dia bukanlah gadis yang suci, dan dia tahu hari seperti ini akan datang cepat atau lambat, jadi dia sudah sejak lama menyiapkan mentalnya.

Gadis seksi itu menatap Alsiel dengan genit. Meskipun terdapat luka lebam pada wajahnya, akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya. Jika pria biasa, mereka pasti akan langsung melompat untuk segera menerkamnya.

Namun, Alsiel tidak seperti itu, bahkan meskipun dia berada di dalam tubuh manusia, yang ada di dalamnya adalah jiwa dari seorang iblis.

Alsiel sama sekali tidak tertarik dengan gadis tersebut. Bahkan dia kembali mengerutkan keningnya lebih dalam sejak gadis itu berjalan mendekatinya. 

Kemudian gadis itu dengan genit duduk di pangkuan Alsiel yang masih duduk di kursi, lalu dia dengan perlahan mengaitkan kedua tangannya di leher Alsiel dan mendekatkan wajahnya pada wajah Alsiel.

Pipi gadis seksi tersebu merah merona. Meskipun ini bukan pertama kali baginya, tapi untuk ditonton oleh banyak orang masih saja membuat dia merasa sedikit malu.

Wajah gadis seksi tersebut semakin mendekat dan tiba-tiba datang sebuah telapak tangan keras menghantam pipi gadis seksi tersebut. Dia terlempar jauh ke samping sambil menyemburkan darah dan juga terdapat beberapa buah gigi.

Wajah cantik gadis tersebut sudah tidak bisa terlihat lagi. Saat ini, dia bahkan lebih jelek daripada seorang pengemis jalanan.

“Apa-apaan ini?” Alsiel yang sedang murka berteriak dengan keras. Yang dia inginkan adalah hiburan yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu di sini sambil mengisi kembali energinya. Namun, tiba-tiba saja datang serangga bau yang mendekatinya dan menyentuhnya. Bahkan dia mencoba untuk menciumnya.

‘Sialan! seharusnya aku yang mengatakan itu. Tadi kau bilang ingin sesuatu yang menyenangkan, tapi setelah aku memberikannya kau malah menamparnya hingga wajahnya jadi tak sedap dipandang lagi. Hei kawan, ayo jujur padaku, kau kesini bukan hanya untuk merampok uangku, kan? Tapi kau kemari untuk menghancurkan bisnisku.’

Bos geng Houndom tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.

Alsiel tidak dalam suasana hati yang baik setelah kejadian barusan. Dia berdiri dari kursinya dan langsung pergi sambil membawa tas yang berisi uang milik geng Houndom. Alsiel berjalan melewati pemuda dengan tindik dan kawan-kawannya yang berdiri di samping untuk membuka jalan bagi Alsiel.

Tidak ada lagi ekspresi arogan di wajah para pemuda tersebut, yang terlihat hanya tampilan ketakutan dan hormat.

Alsiel keluar dan meliihat langit yang mulai sedikit terang. Embun pagi terasa dingin menyentuh kulit, dan suara kokok ayam mulai terdengar.

Alsiel berdiri dengan tampang muram di depan bar, di belakangnya terdapat pemuda dengan tindik dan kawan-kawannya berdiri dengan patuh.

Tidak lama kemudian datang pemuda dengan rambut pelangi bersama sepeda motor Alsiel yang telah di perbaiki. Di kedua tangan pemuda tersebut terdapat bekas oli, dan di sekujur tubuhnya terdapat keringat membasahi bajunya, meskipun suasana saat ini sangat dingin.

Dia pasti sangat menderita karena harus memperbaiki sepeda motor malam-malam begini.

Setelah itu, Alsiel segera pergi dengan sepeda motor tersebut menuju ke rumah sakit tempat ayah dari pacar pemilik tubuh sebelumnya. 

Tempatnya cukup jauh, sekitar jam tujuh akhirnya Alsiel sampai di sana.

Setelah masuk dan menelusuri lorong, akhirnya Alsiel sampai di depan ruangan tersebut.

Dia berhasil sampai setelah melihat ingatan dari pemilik tubuh sebelumnya.

Alsiel tanpa ragu-ragu membuka pintu dan masuk ke dalam. Di sana dia melihat seorang gadis cantik, dia adalah pacar dari pemilik tubuh sebelumnya. Ada juga seorang pria tua yang sedang terbaring lemah di kasur. Juga, ada seorang pria dengan baju rapi dan elegan sedang duduk di samping gadis tersebut sembari memegang tangannya.

‘Siapa dia?’ pikir Alsiel dengan heran.