Episode 244 - Paus dan Komodo


Balaputera Ugraha mengundurkan diri dengan tak bertanggung jawab dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Balaputera Kataha dan Balaputera Kundaha tak sadarkan diri akibat pantulan bilah angin yang tak diketahui dari mana asalnya. Dengan kata lain, dari Kadatuan Kedua yang paling mengincar tampuk kekuasaan di Kemarajaan Cahaya Gemilang, hanya tersisa Balaputera Dirgaha seorang. Oleh karena itu, sangat terpaksa bagi remaja lelaki tersebut mengeluarkan senjata pusaka. 

Demi meloloskan diri ke babak berikutnya, upaya apa pun akan ditempuh!

Sebagaimana yang berlangsung sesaat sebelumnya, tanpa disadari oleh remaja-remaja lain, Balaputera Dirgaha merapal jalinan formasi segel dengan sangat cepat. Sebuah lorong dimensi… bukan… melainkan sebuah dimensi ruang penyimpanan, membuka. Mirip dengan dimensi ruang penyimpanan milik Komodo Nagararadja, namun lebih kecil karena hanya seukuran sebuah kotak persegi. Dari dalam dimensi ruang penyimpanan tersebutlah remaja perwakilan Kadatuan Kedua itu mengambil keluar satu paket Senjata Pusaka Angkara Murka!  

Sembilan remaja terdiam di tempat. Tetiba mereka merasakan hawa membunuh yang sangat kental menekan sekujur tubuh. Jangankan meneruskan langkah menuju lima kantong pundi-pundi emas di hadapan, bergerak saja terasa sulit dibuatnya. 

Dari permukaan tanah, lalu mencuat semacam gumpalan yang membesar. Dengan sangat cepat gumpalan tanah tersebut mengambil wujud. Seorang lelaki tua berambut putih penuh uban, bermata sayu, berkaki pendek, berpantat besar. Jari telunjuknya menuding. Ukuran tubuhnya besar sekalim dan bentukannya mirip seperti kura-kura.

“Aku Semar…,” ia berujar. “Datang memenuhi undangan.” Terdengar suara menggema penuh wibawa. 

Api tetiba berkobar, juga mengambil wujud. Kali ini seorang lelaki dewasa. Matanya juling, tangannya bengkok, dan kakinya terlihat pincang. Hidungnya bulat seperti buah terong. 

“Gareng, namaku!” ujarnya tenang. 

Angin bertiup kencang lalu berpintal deras. Pintalan angin serta-merta mewujudkan tubuh kurus yang sangat tinggi. Hidungnya mancung sekali, dan mulutnya tertawa lebar. 

“Petruk telah tiba!” ujarnya penuh sukacita. “Barang siapa yang dapat menjawab pertanyaanku, maka akan terlepas dari mara bahaya....” 

Terakhir, gumpalan-gumpalan air mengudara dan menggelembung. Wujud yang tercipta adalah seorang lelaki gempal pendek dengan mulur lebar dan mata besar. 

“Hm… dimanakah ini!” Ia memantau situasi. “Sungguh Bagong penasaran…” 

Dari tekanan yang dirasa mendera sekujur tubuh, Bintang Tenggara segera menyadari bahwa setidaknya keempat tokoh tersebut merupakan ahli-ahli yang berada pada Kasta Emas! Ia pun menebar mata hati…

“Super Guru, siapakah mereka…?”

“Tiada hidup, dan tiada pula mati… Siluman Sempurna!” 

“Hidup dan mati…? Siluman Sempurna…?”

“Aneh, mereka berempat hanya berada pada Kasta Emas…,” sela Ginseng Perkasa. 

“Kemungkinan besar karena diundang hanya oleh ahli Kasta Perunggu.” 

Mata melotot merah, serta sekujur tubuh Balaputera Dirgaha dipenuhi keringat. Tenaga dalamnya pun terus diserap oleh empat lembar wayang kulit yang berada di dalam genggaman tangan. Sepantasnya, mengeluarkan senjata pusaka ini sangat menyita kemampuan mata hati dan menguras mustika tenaga dalam. Senjata pusaka nan digdaya, pastilah memerlukan tumbal yang luar biasa besarnya!

“Yang Terhormat Tetua Punakawan, kumohon tahan langkah mereka,” ujar Balaputera Dirgaha menggunakan jalinan mata hati. 

“Tahan langkah…?” Bagong penasaran. 

“Apakah maksudmu membantai mereka..?” sela Petruk berkelakar. 

Meskipun demikian, segera setelah memperoleh perintah, keempat Siluman Sempurna melesat cepat. Melalui cara kedatangan mereka yang unik, dapat disimpulkan bahwa masing-masing memiliki kesaktian unsur tanah, api, angin dan air…. 

Petruk melesat ke hadapan Balaputera Vikrama dan Balaputera Vikatama ibarat angin puting beliung yang menghantam di kala badai besar datang berkecamuk. Kedua remaja tiada kuasa ketika tubuh mereka dihembus deras jauh ke belakang! 

Di saat yang bersamaan, Gareng tetiba saja muncul di antara Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga. Sontak kedua remaja tersebut melindungi tubuh dengan merapal formasi segel dan menyilangkan lengan ke depan wajah. Siluman Sempurna tersebut terlihat girang. Ia tersenyum, kemudian meledakkan diri! 

Balaputera Sevita dan Balaputera Citaseraya masing-masing terbelenggu gumpalan air nan melayang di atas tanah. Hanya kepala mereka yang terlihat mencuat. Apa pun yang kedua gadis belia upayakan, gumpalan air terus-menerus membelenggu tubuh. Malahan, kini kedua gumpalan air bergabung menjadi satu. Pada akhirnya, kedua gadis yang tiada berdaya hanya saling pandang, dengan tatapan penuh benci. 

Kehadiran empat Siluman Sempurna secara bersamaan, membuat binatang siluman Babun Taring Hutan membungkuk sujud. Tak kuasa mereka bergerak, apalagi bertindak. Meskipun demikian, Balaputera Prameswara masih aman karena berada di bawah perlindungan kedua binatang siluman tersebut. Di sembunyikan di antara rambut-rambut nan gelap dan lebat. 

Semar dengan tubuh besarnya sudah sedari tadi berdiri diam di hadapan Bintang Tenggara. Siluman Sempurna nan berwujud lelaki tua gempal dan bungkuk itu hanya mengamati. Ia terlihat seolah sedang mencari-cari jawaban akan sebuah pertanyaan… 

“Ada yang berbeda dari aura yang engkau pancarkan…” tetiba Siluman Sempurna itu berujar kepada anak remaja yang berdiri kaku. Sorot matanya mencermati sepasang pelindung bersisik kemerahan, yang membungkus di pergelangan tangan. 

Di hadapan sosok yang demikian besar mendominasi, Bintang Tenggara merasa seolah kerdil adanya. Ibarat seekor anak keledai yang berada di bawah bayang-bayang gajah, tak tahu ia harus berbuat apa. Kedua alisnya mengkerut, dan dirinya menahan diri agar sekujur tubuh tidak gementar… 

“Jangan gentar!” sergah Komodo Nagaradja kepada anak didiknya menggunakan jalinan mata hati. “Keluarkan senjata pusaka kita!” 

Bintang Tenggara menaati tanpa banyak tanya. Dari dalam dimensi ruang penyimpanan milik Komodo Nagaradja, ia mengeluarkan sebilah panjang tulang berwarna putih bersih dengan guratan ukiran halus bermotif tulang belakang. Tempuling Raja Naga!

Semar tiada menunjukkan reaksi sama sekali, seperti sebongkah patung saja. Tiada ia terkejut, tiada pula ia merasa terancam. “Komodo Nagaradja…,” gumamnya pelan. “Sebagai sesama Siluman Sempurna dengan unsur kesaktian tanah, pertarungan di antara kita tiada pernah mencapai puncak. Entah siapa yang lebih perkasa…”

Bintang Tenggara menancapkan Tempuling Raja Naga ke tanah! 

“Sisik dan tulang ekornya… serta otot-otot yang telah diperkuat oleh ototnya pula…” Semar menatap Bintang Tenggara, namun berbicara kepada diri sendiri. 

Bintang Tenggara tiada menanggapi dengan kata-kata. Sebaliknya, raut wajah anak remaja itu memampangkan kesan geram lagi arogan. Ia mendongak, dimana sorot matanya tiada berkedip, tajam membalas tatapan lawan!

“Tak akan pernah akan kulupa raut wajah nan demikian congkak…” Masih ia bergumam, “Tiada diragukan, engkau pastilah pewaris dari Komodo Nagaradja…” 

“Benar!” jawab Bintang Tenggara cepat, tanpa sedikit pun keraguan. 

“Maka demi kenangan di masa lalu, kali ini aku tiada akan menghambat arah langkahmu…,” Semar bergeser, membuka jalan. “Tumbuhlah. Suatu hari di masa depan, kita akan berhadapan lagi.”


Balaputera Dirgaha sedang secepat mungkin, menempuh jarak lima puluh langkah yang terasa paling berat sepanjang hidupnya. Ia menyadari betul akan keterbatasan diri. Tak akan sanggup lagi remaja tersebut berlama-lama merapal senjata pusaka nan membebani mata hati sekaligus menguras mustika tenaga dalam. Kesempatan yang telah diciptakan dengan susah-payah, harus dimanfaatkan sebaik mungkin!

Di lain sisi, memanfaatkan daya ledak yang dipicu oleh Gareng, Balaputera Naga rupanya melontarkan diri cukup jauh ke arah depan. Posisinya kini hanya tertinggal beberapa langkah dari Balaputera Dirgaha di hadapan. 

Tetiba, sebuah lorong dimensi ruang membuka di antara kedua remaja yang berlari. Dari sisi dalamnya, melompat keluar adalah Balaputera Vikrama. Di kala tubuhnya terdorong hembusan angin, ia sempat mengeluarkan sebentuk prasasti batu, kemudian dengan tangkas merapal formasi segel demi membuka sebuah lorong dimensi darurat. 

Di saat yang bersamaan pula, Balaputera Gara melesat menyusul. Berkat raut wajah menggeram yang dibuat-buat semirip mungkin dengan air muka Komodo Nagaradja, anak remaja tersebut dilepaskan begitu saja. Entah hubungan seperti apa yang pernah terjalin di antara kedua Siluman Sempurna tersebut, akan tetapi kata-kata ‘perpisahan’ Semar cukup mengusik perasaan di hati. 

Unsur Kesaktian petir berderak, dan Bintang Tenggara memacu semakin laju!

Tanpa menoleh, Balaputera Dirgaha menyadari kedatangan ketiga remaja yang telah melepaskan diri dari sergapan para Siluman Sempurna, yang mana pemanggilan mereka disadari sangatlah dipaksakan. Andai saja adalah ahli setingkat Kasta Emas yang memanfaatkan senjata pusaka Wayang Kulit Siluman Punakawan, maka pastilah lebih lama lagi kemampuan digdaya dari keempat Siluman Sempurna tersebut dapat dikerahkan. 

Oleh karena itu, untuk menambah kecepatan gerak tubuh, segera Balaputera Dirgaha membatalkan pemanggilan terhadap keempat Siluman Sempurna, dan menyimpan Senjata Pusaka Angkara Murka yang diketahui sebagai hak milik salah satu Raja Angkara tersebut. Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong pun menghilang. Di saat yang sama pula, segera Balaputera Dirgaha menelan sebutir ramuan penambah tenaga dalam.

Perlombaan mendaki lereng Gunung Pagar Alam, kini berubah menjadi perlombaan lari cepat. Balaputera Dirgaha memimpin, ditempel ketat oleh Balaputera Naga dan Balaputera Vikrama. Balaputera Gara berada pada urutan keempat. Sedangkan di belakang lagi, Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita yang telah terlepas dari gumpalan air, melesat beriringan. Keduanya mempertaruhkan satu kesempatan meraih urutan kelima! 

Jarak menuju buntelan-buntelan kain berisi keping-keping emas hanya tersisa sekira sepuluh langkah! 


Sorak-sorai terdengar membahana di Gelanggang Utama Kemahajaraan Cahaya Gemilang. Segenap penonton di tribun luar, sontak berdiri menyuarakan nama-nama calon pewaris unggulan mereka. Tidak hanya mereka, para anggota keluarga bangsawan Wangsa Syailendra di tribun kehormatan pun tak lagi dapat menahan diri. Di antara mereka bahkan ada yang melayang tinggi menatap layar-layar lebar nan mengangkasa.

Sebuah lencana yang tak beraturan bentuknya, mirip sebuah lempengan logam biasa, bergetar pelan. Meskipun demikian, Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar Kadatuan Kedua, tak mengindahkan pesan yang baru saja masuk ke Lencana Kekuatan Ketiga miliknya. Entah siapa yang mengirimkan pesan di saat seru seperti ini… Kekhawatiran terhadap Balaputera Sukma dan Balaputera Lintara, seolah menguap untuk sementara waktu.

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa duduk bersandar pada singasana formasi segel nan megah. Dua kepalan tangannya menyatu, sebagai tindakan menyangga dagu. Alis berkedut, petanda beliau sedang berpikir keras. Tentunya sang penguasa telah mengetahui keberadaan salah satu Senjata Pusaka Angkara Murka yang berada di tangan keluarga bangsawan Kadatuan Kedua. Akan tetapi, yang menggelitik di hati, adalah atas alasan apakah Siluman Sempurna sekelas Semar melepas Balaputera Gara…? Pertukaran kata-kata seperti apakah gerangan yang sempat berlangsung di antara mereka…?

Lagi-lagi, rasa penasaran seputar Balaputera Gara mencuat di dalam benak sang penguasa.

Di Kadatuan Kesembilan, sang Datu Besar dan Datu Tengah berdiri menatap layar. Meski sejak awal keduanya tiada berharap banyak bahwa anggota keluarga mereka akan melewati Tantangan Kedua di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta, jauh di lubuk hati terdalam, sepasang kakak-adik itu mengantungkan sebuah harapan. Sebuah harapan dimana Kadatuan Kesembilan dapat kembali berdiri tegak sebagai Kadatuan paling dihormati sebagaimana ratusan tahun silam. 

Berdasarkan urutan saat ini, Balaputera Gara akan berada pada urutan keempat, sehingga berhak melanjutkan ke tantangan terakhir. Pencapaian ini sudah cukup adanya. Selanjutnya, semoga peruntungan terus menyertai anak remaja itu. 


Balaputera Naga menghentakkan kaki, dimana ledakan besar melontarkan tubuhnya ke depan. Balaputera Vikrama melompat ringan ibarat seekor burung layang-layang yang melesat membelah angin. Keduanya serta merta membalap Balaputera Dirgaha! 

“Zzzzzttt…” 

Satu lagi ahli melecut melewati Balaputera Dirgaha. Langkah petir yang tiada beraturan lintasannya berkelebat, menyisakan percikan-percikan listrik yang kemudian lenyap membaur dibawa angin. 

Balaputera Dirgaha menggeretakkan gigi. Ia memang sudah menyadari bahwa dalam hal kecepatan, bukanlah tandingan ketiga ahli yang baru saja membalap. Meski, perlu diakui bahwa upaya mengeluarkan Senjata Pusaka Angkara Murka, pun tidaklah sia-sia. Kini dirinya berada pada posisi keempat, jauh di depan kedua gadis yang berseteru. 

Bintang Tenggara kemudian melontar Segel Petir ke arah depan. Akan tetapi, dengan mudahnya Balaputera Vikrama dan Balaputera Naga menepis formasi segel nan sederhana itu. Bagaimana mungkin dua remaja sekelas mereka, dua peserta unggulan di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta, dapat dengan mudah dihentikan gerak langkahnya. 

Balaputera Naga dan Balaputera Vikrama terpaut kurang lima langkah dari buntelan-buntelan yang menjadi penentu peringkat. Bintang Tenggara masih berada sekira lima langkah di belakang mereka berdua…

“Segel Syailendra: Paus!” 

“Segel Syailendra: Komodo!” 

Seekor paus mini seukuran anak sapi, yang merupakan perwujudan dari formasi segel, muncul tepat di depan Balaputera Vikrama. Serta merta, paus itu menghalangi remaja lelaki tersebut. Balaputera Vikrama yang sedang melesat tanpa hambatan, tetiba… jatuh tertimpa! 

Di saat yang sama, seekor komodo mini, yang juga merupakan perwujudan dari formasi segel, mencuat di bawah kaki Balaputera Naga. Komodo tersebut membuka mulut lebar sekali, dan segera menggigit kaki kiri sasarannya. Tindakan ini menyebabkan remaja lelaki tersebut hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur. Sontak Balaputera Naga menendang-nendang, membakar dengan unsur kesaktian api, serta melesatkan ular besar yang melilit tubuh si komodo. Kendatipun demikian, si komodo tiada bergeming. Bebal sekali ia. Tak ada satu pun tindakan Balaputera Naga yang akan melepaskan dirinya dari kekuatan gigitan, serta keteguhan hati sang komodo! 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!