Episode 11 - Satu Pukulan


“Menjodohkan?” Sidya dan Hikram bertanya bersamaan, membuat si nenek nampak tak senang, kedua tinjunya mulai mengepal.

“Tentu saja, Dewa Arak Kolong Langit yang sebodoh pelindungnya! Apit sebentar lagi jadi remaja yang tampan, sudah jadi tugasku untuk mencarikan pasangan, dan anak ini benar-benar cocok untuknya. Masih ada bagian yang belum dipahami?!”

Hikram mengurut kedua pelipisnya dengan ibu jari, seperti benar-benar pusing, sementara Pandir Barat lagi-lagi ketawa keras. Si Nenek pemegang Gelar Waskita Renta memang memiliki banyak kekurangan, tapi kurang keberanian bukan salah satu diantaranya, sehingga dia berani menghina pelindung Hikram seenteng itu.

“Apit itu sudah besar rupanya? Dimana dia sekarang?”

“Kabur,” ujar si nenek masam. “Kelakuannya sama persis seperti ibunya. Menikahkannya akan membuat dia diam di rumah.”

“S-saya belum ingin menikah,” Sidya menyela dengan suara kecil, tampak benar-benar bingung atas keantikan nenek satu ini. “lagipula ayah tak akan memperbolehkan saya dijodohkan sembarangan. Kecuali … kecuali kalau pernikahan itu perjodohan yang sudah diatur dengan bangsawan lain demi alasan politik, ayah pernah bilang begitu. Saya belum sepenuhnya paham maksudnya bagaimana.”

“Kau mau menjodohkannya dengan seorang bangsawan? Sudah seberapa dalam kau terpuruk, he, Dewa Arak bodoh? Itukah alasan kenapa kau memberi nama Sidya pada anakmu? Untuk mendapat perhatian para darah biru terlaknat?”

“Dia bukan anakku, Nenek Renta!” Hikram bicara keras-keras, sepertinya benar-benar sewot kali ini, “Syaimdra yang memberikan nama itu padanya! Bocah ini anak sang kaisar sendiri!”

Si nenek terperanjat. Bahkan tawa Pandir Barat yang konstan pun terhenti oleh ungkapan Hikram.

“M-masa? Aku tidak salah dengar ini?”

“Kau terlalu sakti untuk menjadi budek walau berumur seratus lebih, jadi kau tidak salah dengar. Tak percayakah engkau padaku?”

“Untuk apa seorang putri dari lingkar dalam istana keluyuran dengan seorang pemabuk kumal? Jarang mandi? Pengangguran pula?” Waskita Renta bertanya menuntut.

“Mana aku tahu apa yang ada di pikiran bocah bangsawan jaman sekarang?” Hikram menanyainya lagi. “masih mau dia jadi istri dari cucumu atau tidak? Kupasang mas kawin dua puluh keping uang perak dan segalon minuman Setrasutra yang tak enak itu.”

Si Waskita Renta menggeleng, wajah buruk rupanya makin tak sedap dipandang. Sebenarnya Hikram sudah tahu si nenek akan menolak, oleh karena itu ia memasang tawaran seenak mulutnya bicara.

“Setelah kejadian dengan Janda Merah, aku tak akan menerima bangsawan manapun sebagai bagian dari keluargaku.”

Hikram mengernyit, kedua alisnya bertaut. Matanya kini menyorotkan sesuatu yang lain, sesuatu yang sama sekali berbeda dengan tatapannya yang biasa, begitu sadar bahwa si nenek benar-benar menyangka bahwa Sidya adalah putrinya. ”Bangsat. Jadi kau benar-benar lupa bahwa anakku sudah pergi lama, lama sekali? Kau lupa bahwa pada saat Manggali dan Ara meninggal aku mengirim pesan penuh keluhan dan kesedihan padamu?”

Si nenek yang gemar mengoceh kini terdiam, seolah mengkonfirmasi pertanyaannya, membuat Hikram makin berang dibuatnya.

“Kau sudah lupa pada kesedihan yang menghancurkan hati cucu muridmu sendiri? Pantas kalian tidak datang pada saat-saat itu. Tidak. Bahkan membalas suratku pun tak sudi. Apa aku sehina itu, wahai Penguasa Setrasutra? Tak pantaskah aku mendapat sekejap perhatianmu?”

Si nenek menundukkan kepala. Tak mampu bahkan menatap Hikram yang seperti mau membakar melalui tatapannya yang berapi-api.

“Yang pergi tak akan bisa kembali,” Pandir Barat menggumam dengan suara gemetar, sepertinya ingin menengahi obrolan.“meski dia dirindukan begitu rupa, meski dia sesakti apa, kalau maut sudah memisahkan—”

“Ya, aku tahu. Terima kasih banyak sudah mengingatkanku,” Hikram membentaknya. “Dan omonganmu makin lama makin tidak ada hubungannya dengan obrolan, Pandir.”

“Sepertinya sudah saatnya kami minta diri, Hikram.” Si kakek berkata lagi, kali ini lebih tegas. Dia nampak tak terpengaruh oleh sikap Hikram yang mendadak jadi kelewat agresif. Pembawaan Pandir Barat yang jenaka seketika sirna tak berbekas. Beban umur untuk sekali ini benar-benar terpatri di wajahnya, dan Hikram mengalihkan perhatian pada si Pandir Barat. Keduanya bertatapan lama, hitam bertemu kelabu berbayang putih, sampai kemudian Hikram menghela napas.

“Kalian tak perlu meminta ijin padaku kalau mau undur diri. Tak sepatutnya orang-orang rimba persilatan berpamitan. Burung layang-layang tak pernah pamit pada siapapun, Karena sejatinya sang burung terbang bebas.”

Si kakek mengangguk menyetujui, kemudian mulai menggandeng si Waskita Renta yang masih menundukkan kepala.

Tepat ketika keduanya mau hilang diantara gelapnya pepohonan, si nenek berpaling pada Hikram yang masih mengawasi. “Aku mungkin memang melupakan saat-saatmu terpuruk, tapi aku juga bisa menebus dosa terutama jika umurku masih cukup. Sempat mampirlah kalian berdua ke Setrasutra. Aku akan mewariskan satu-dua jurus pada murid bangsawanmu itu. Beban yang kaupilih ini pasti … lebih berat dari dugaan kami berdua.” Waskita Renta mengerling suaminya, seperti meminta dukungan, dan Pandir Barat langsung mengangguk.

“Kalian baik sekali. Aku titip salam pada Apit.” Hikram menjawab sebisanya, air mukanya masih saja keruh, dan tangannya gugup diantara gerak menggenggam atau tidak. Si nenek mengangguk singkat, tertawa pada udara dan sekejap nampak lebih muda, “kalau dia bisa kami temukan, Hikram.” dan begitu saja, keduanya hilang seolah ditelan bumi, meninggalkan pasangan guru-murid itu berdua saja.

“Nah, teruskan latihanmu,” ujar Hikram kaku, setelah diam dalam kecanggungan yang agak lama. Matanya memandang ke arah mana saja kecuali Sidya. Hikram baru mau beranjak lagi untuk menyeberangi sungai, tapi Sidya menghentikannya.

“Guru mau membiarkanku terus di sini?! Yang benar saja?! Bagaimana kalau ada orang aneh lain—”

Hikram mendekat dengan kecepatan yang sangat gila. Wajah yang biasanya dihiasi cengiran kini begitu datar. Sangat datar hingga dia tidak terlihat seperti seorang manusia lagi, melainkan sebuah patung tanpa ekspresi. Matanya yang gelap nampak berkilau seperti manik-manik batu onik dalam salah satu busana yang pernah Sidya pakai. Bagus, namun kelihatan mati.

“Teruskan latihanmu,” Hikram mengucap, dan walau ia tak menggunakan Ilmu Titah, punggung Sidya serasa dihinggapi oleh rasa dingin yang luar biasa, mematikan hangat yang sejak tadi dirasakannya. Suaranya begitu mengerikan seperti suara sang kaisar waktu sedang murka. “Paham?” Hikram bertanya, dan napas Sidya terasa sesak. Ia harus berjuang mati-matian untuk memunculkan suaranya, yang kemudian terdengar parau dan tanpa daya.

“Paham, Guru.”

Tidak lagi Hikram membuang waktu. Satu kelebatan dan ia hilang ditelan malam.

Sidya mengatur aliran napas yang terasa dicekat tangan tak nampak. Matanya yang semula tersedot oleh fokusnya pada Hikram kini menangkap hal lain. Ketika Hikram pergi, rupanya ia meninggalkan sebuah pakaian berwarna biru serta celana panjang kecil yang kusam. Tapi, Hikram sepertinya salah beli karena pakaian tersebut mestinya diperuntukkan bagi anak laki-laki, bukan perempuan. Pakaian itu teramat jelek, dan akan nampak seperti karung goni jika disandingkan dengan apa yang dipakai Sidya sehari-hari. Gambar lambang serupa burung layang-layang yang masih baru tampak disulamkan secara buru-buru di berbagai tempat.

Sidya mengeluh, kemudian mengedar pandang lagi. Ia terlalu larut untuk mengobati rasa was-wasnya akan kemarahan Hikram, sehingga tak sadar bahwa ia tak takut sama sekali saat berhadapan dengan kegelapan yang tanpa ujung.

--

Sidya disengat matahari pagi. Ia mengerjapkan mata, mengingat-ingat kejadian malam tadi yang masih serasa mimpi. Pasangan tua yang aneh, Hikram, pertarungan main-main di sungai … Sidya sempat mengira bahwa itu hanya mimpi saja, tapi tumpukan pakaian yang ada dihadapannya sudah cukup sebagai bukti yang tak dapat ditolak.

Ia baru saja bertemu dengan orang-orang aneh rimba persilatan. Kini Sidya sepenuhnya percaya pada para pendongeng istana yang berujar bahwa manusia rimba persilatan memang begitu. Seenaknya sendiri, tak punya sopan santun, dan aneh serta urakan, namun di sisi lain begitu bebas seperti burung-burung yang terbang di udara tanpa mengenal kepatuhan pada siapapun.

Lamunannya buyar saat Sidya baru sadar bahwa perutnya berkeruyuk, dan bibirnya terasa kering, sangat kering. Lambungnya perih seperti ditusuk jarum-jarum kecil.

Ia memang sangat jarang merasakan lapar, karena makanan paling enak seantero Nagart dapat tersaji dihadapannya tanpa dipinta. Seharusnya jika ia tidak makan selama ini, ia akan merasa lemas. Tetapi tidak, sama sekali tidak. Malahan, badannya terasa luar biasa segar. Ia seperti baru saja mendapat tenaga, seperti dahulu waktu mendapat istirahat nyenyak tanpa mimpi lalu langsung melahap sarapan besar yang sangat enak. Ia menghirup udara pagi, napasnya tajam tanpa usikan sesak dan serasa ada sengat-sengat kecil yang masuk ke seluruh rongga badannya, lambungnya seolah diisi oleh sesuatu walau dalam saat bersamaan juga kosong melompong.

Sidya merasa luar biasa kuat.

Sidya mengertakkan gigi dan menyeringai. Salah satu sabda Kaisar Pertama—sang pendiri Nagart serta leluhur yang paling dipujanya— di salah satu dari sekian banyak paragraf Kitab Hukum terngiang-ngiang di kepalanya.

Kalau aku mau, aku bisa robohkan gunung.

Sidya merasa bisa melakukan lebih dari itu sekarang. Bukit, gunung, gundukan tanah. Apa bedanya? Ia menggerakkan badan, dan tanah yang menahannya bergerak. Ia menggerakkan kedua lengannya yang kini entah bagaimana tak ada lagi ikatannya. Tanah gembur itu bergerak sekali lagi, dan dengan satu sentakan, Sidya berhasil memunculkan bahu kirinya ke permukaan. Bersemangat karena ada kemajuan, ia menggerakkan bahu satunya yang juga mulai muncul. Dengan satu teriakan, ia mengangkat kedua tangannya ke atas, dan kepungan tanah yang menahannya terlepas.

Ia mendaki sisa gumpal tanah yang menahannya, sembari sesekali menyingkirkan sisa tanah yang menempel, dan akhirnya tahu kenapa guru menyiapkan baju serta celana burik itu.

Sidya hampir telanjang bulat. Sisa dari pakaian sutra yang masih menempel di badannya gosong-gosong seperti baru saja dimakan api, padahal Sidya tak merasakan panas hebat sama sekali. Tanpa pikir panjang Ia segera mengambil pakaian itu dan memakainya walau tak ada seorang pun yang bisa melihatnya. Setelah itu ia menuju aliran sungai dan minum untuk membasahi mulut, dan terutama kerongkongan. Ia langsung meneguk dan tersedak, namun ia tak ambil peduli dan meneguk lagi, napasnya masih memburu sementara tenaga perlahan-lahan mulai hilang seiring minuman masuk ke lambungnya.

“Puasa,” Sidya menggumam sembari merebahkan diri dengan penuh syukur. Ia baru paham kenapa guru mengurungnya. Guru pasti berusaha membangkitkan kekuatan entah-apa-itu-namanya milik Sidya. Meski begitu, Sidya masih sebal. Kenapa dia tidak memberitahunya saja? Padahal memberitahu dengan sopan bahwa ia sedang membangkitkan hawa-apalah-itu sudah cukup sebagai peringatan. Sidya akan langsung menanyainya begitu Guru menampakkan batang hidung lagi. Mungkin juga setelah mematahkan batang hidung itu karena dia sedang berada di puncak rasa kesal.

Sidya serasa mau pingsan, tapi suara langkah-langkah kaki yang masuk ke pendengarannya membuat tenaga mengaliri dirinya sekali lagi. Ia bangkit, masih setengah merangkak dan menajamkan telinga.

Benar, memang suara langkah kaki yang konstan. Mungkin dua orang atau lebih, getaran tanah yang mereka hasilkan terasa. Sidya heran mengapa pendengarannya menjadi setajam itu, bisa memilah-milah ke arah manakah ia mau mendengarkan, juga bertanya-tanya sejak kapan dia bisa merasakan getar halus di atas bumi. Tapi, dia bisa memikirkan hal itu nanti. Sidya bergegas mencari tempat untuk sembunyi, dan ia memilih rerimbunan yang berlawanan arah dengan suara langkah yang kian lama kian dekat.

Baru saja Sidya menempatkan diri, dua sosok berpakaian gelap terlihat menuju ke arah sungai, satu lelaki dan satu perempuan. Baju mereka sangat kotor, penuh dengan noda dan mereka berdua berbincang dengan suara rendah sembari menapaki turunan berpasir.

“Prajurit-prajurit itu benar-benar masalah. Untung, perampokan yang terakhir cukup sukses tanpa gangguan mereka.”

“Siapa yang memberitahu para prajurit itu bahwa kita sedang berada di dekat-dekat sini? Itu yang seharusnya ditanyakan, bukan malah mengeluh soal kehadiran para pengganggu. Kaupikir bocah goblok yang kita ikat itu ada hubungannya?”

“Itu belum jadi barang penting. Yang jelas kita musti waspada, pastinya ada patroli di sekitar sin—”

Keduanya berhenti melangkah ketika melihat gundukan bekas Sidya setengah-terkubur, kemudian bekas api unggun milik Hikram. Sidya mau saja bersyukur pada Kahyangan karena telah menganugerahkan keselamatan, tapi ia harus tetap diam untuk saat ini.

“Loh, ada—”

Telapak tangan mengemplang kepala si perempuan yang bicara. Si perempuan menggerakkan mulutnya untuk berucap “maaf” dalam diam, sementara kawannya melotot gemas. Kali ini mereka berdua ganti melangkah waspada, mata penuh selidik, dan masing-masing mencabut golok dari sarungnya yang berada di sabuk.

 Jantung Sidya berdetak keras. Ia sangat ketakutan sampai-sampai ingin kencing di tempat. Kalau mereka berhasil melihatnya, bisa gawat menilik kelakuan mereka yang sepertinya ingin menyapa siapa saja bukan dengan obrolan sopan, melainkan dengan sabetan golok. Ia merunduk lebih rendah lagi, mengeluarkan bunyi gemerisik yang terlalu keras.

Si bocah terlalu berkonsentrasi pada dua orang yang mencari-cari hingga tak tahu bahwa ada satu sosok yang mengendap di belakangnya, yang secepat kilat memegang tengkuk serta leher pakaiannya, dan serta-merta mengangkat badannya dengan kekasaran yang menurut Sidya tak perlu.

“Hei, lihat bocah ini!”

Pasangan yang tentu saja merupakan penyamun tak taat-hukum itu mendekati rekan mereka yang datang dari arah berlawanan. Mereka tertawa-tawa melihat Sidya berusaha melepaskan diri dari cengkraman yang menyakiti lehernya, sementara rambutnya yang amat panjang melambai seiring dengan tingkahnya yang liar.

“Bocah perempuan dengan baju laki-laki. Aneh!”

“Hati-hati, barangkali keluarganya ada di sekitaran sini. Tak mungkin anak-anak bisa nyasar sebegini dalam ke tengah hutan sendirian.”

“Hei, Bocah!” orang yang memeganginya mulai menghardik sambil mengguncang Sidya yang masih berusaha berontak. “Di mana orang tuamu?!”

Sidya tak menghiraukannya. Ia mencakar-cakar, menggeram, dan memukul sekenanya semata untuk membebaskan diri. Salah satu pukulannya yang beruntung tak sengaja mengenai lengan orang yang memegangi tengkuknya.

 Tak terduga, siku yang terkena pukulan itu patah dengan bunyi ‘krak’ yang sangat keras.

Si pemilik lengan menjerit, langsung memegangi sikunya yang kini mencuat dalam posisi tak wajar yang mengerikan, sementara Sidya dijatuhkan begitu saja ke atas tanah.

“Tunggu dulu,” Sidya membatin sembari mendongak pada dua wajah terperangah dan satu wajah kesakitan itu. Kelihatannya, kekagetan Sidya bukan apa-apa dibanding apa yang terlihat di wajah mereka semua. “Aku … aku mematahkan lengan seseorang dengan satu pukulan?! Bagaimana mungkin?!”

--