Episode 33 - Pendekar dari Lembah Akhirat (3)



Jaya yang lengah karena perhatiannya tertuju pada serangan tsunami itu sehingga lengah pada pukulan jarak jauh Juana Suta jatuh terduduk! Galuh menjerit melihat Jaya yang rubuh, “Jayaaa!!!” jeritnya sambil hendak melompat menghampiri Jaya, tapi satu gulung tsunami setinggi enam meter menerjang gadis itu, terpaksa Galuh menghindar menjauh dari Jaya. 

Jaya yang jatuh terduduk akibat terkena pukulan tenaga dalam yang dahsyat dari Juana Suta, segera mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian dadanya yang nyeri dan tampak membiru, tapi satu gulung tsunami setinggi enam meter menerjang pemuda tersebut, Jaya yang kesulitan menggerakan tubuhnya itu tertelan oleh tsunami tersebut lalu tertarik kedalam sungai Citarum! Juana Suta tertawa terbahak-bahak melihat Jaya yang terseret masuk kedalam sungai Citarum, lalu ia menggenjotkan kakinya melompat menyusul Jaya kedalam sungai Citarum!

Bukan main terkejutnya Galuh melihat Jaya yang terseret tsunami lalu tenggelam ke dalam sungai Citarum, gadis ini langsung merasa terpukul sekali! “Jayaaaa!!!’ teriaknya memanggil Jaya sambil melangkah ke pinggir sungai, “Jayaaa!!!” teriaknya lagi, tapi boro-boro ada jawaban, riak-riak air saja tidak ada dari sungai Citarum yang kembali tenang itu. “Jaya...” ratapnya sambil jatuh berlutut, air mata segera menetes keluar dari matanya yang bulat tajam indah itu, dadanya terasa sangat sesak sekali, menangislah ia sejadi-jadinya karena merasa kehilangan pemuda yang ia cintai.

Saat itu tiba-tiba sungai kembali berjolak dahsyat, suatu pusaran air terlihat berputar-putar di bagian tengah sungai itu, Galuh segera berdiri, matanya lekat-lekat melihat ke sumber pusaran air itu “Jayaaa!!!” teriaknya lagi. 

Tiba-tiba... DUAAAARRRR!!! Satu ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh tempat itu terjadi di tengah-tengah pusaran air itu, air sungai pun muncrat hingga beberapa belas tombak! Air sungai menjadi pasang dan sangat deras, tapi sesaat kemudian kembali tenang. “Jaya?” ucap Galuh yang tubuhnya basah kuyub terkena cipratan dari ledakan di tengah sungai tadi, air kembali beriak menggelembung di bagian pinggir sungai dekat kaki Galuh.

“Jaya!” teriak Galuh memanggil yang berharap Jaya bisa segera keluar dari dalam sungai yang dalam tersebut, namun yang timbul adalah satu tangan berisisk berwarna biru keluar dari dalam sungai, menyusul kepala berambut gondrong acak-acakan dengan wajah menyeramkan berwarna biru serta mata berwarna merah bagaikan ikan mati yang sudah busuk! 

Terkejutlah Galuh melihat siapa yang keluar dari dalam sungai itu, tubuhnya terasa sangat lemas bagaikan tak bertulang, seluruh tenaganya seolah lenyap ntah kemana. Dengan mata melotot yang masih sembab serta nafas memburu sesak ia langsung melangkah mundur. Manusia Siluman itu yang tak lain adalah Juana Suta menyeringai menyeramkan, ia lalu berdiri dan dengan langkah sempoyongan serta terbatuk-batuk mengeluarkan darah berwarna biru dari dalam mulutnya, ia menghampiri Galuh sambil tertawa-tawa diselingi terbatuk-batuk.

“Iblis! Dimana Jaya?! Dimana!” jerit Galuh sambil melangkah mundur, seluruh tubuhnya menggigil didera perasaan duka yang teramat sangat bercampur rasa takut. Juana Suta tak menjawab, ia terus melangkah mendekati Galuh sambil tertawa terbahak, “Iblis jahanam! Katakan dimana Jaya!” teriaknya setinggi langit, saat itu mungkin karena tekanan bathinnya, seluruh tubuhnya seolah kehilangan tenaga, kakinya menjadi sangat lemas hingga ia terjatuh. 

Juana Suta memelototi Galuh dengan tatapan penuh nafsu untuk membunuh, nafasnya memburu hebat! Kedua tangannya terangkat keatas hendak menyerang Galuh! Saat itulah tiba-tiba selarik sinar besar berarna emas kemerahan memancarkan cahaya redup yang teramat panas menderu! Juana Suta dengan cepat berbalik, ia sangat kaget hingga terkesima tak sempat berbuat apa-apa ketika sinar emas kemerahan yang memancarkan cahaya redup itu melabrak dadanya hingga jebol! 

Blaarrr!!! Tubuh Juana Suta terlempar beberapa tombak kedepan akibat sinar pukulan itu, si manusia ikan itu langsung tewas dengan tubuh terbakar! Tubuhnya yang semula berisisik dan berwarna biru kembali berubah menjadi tubuh manusia biasa yang hangus terbakar mengeluarkan bau sangit yang menusuk hidung memenuhi di sekitar tempat tersebut!

“Pukulan Gerhana Matahari?!” desis Galuh, ia langsung menoleh ke arah tepi sungai, di sana ia melihat Jaya berdiri sempoyongan, lalu jatuh ambruk bagaikan karung kosong! Galuh yang tiba-tiba seluruh kekuatannya kembali langsung berlari menghampiri Jaya. “Jaya!!!” jeritnya, “Jaya kau tak apa-apa?!” 

Gadis ini kemudian menekan-nekan perut Jaya dengan seluruh tenaganya dan memukul dada Jaya. “Hoeekkkhhh!” byurrr!!! Air pun keluar banyak sekali dari mulut, hidung dan telinga Jaya, Galuh terus meneruskan usahanya sampai gadis itu benar-benar yakin semua air telah keluar dari tubuh Jaya.

Galuh lalu menatap dada Jaya yang membiru akibat terkena pukulan Juana Suta yang dahsyat tadi, “Celaka! Luka dalamnya sepertinya parah sekali!” keluh Galuh, ia lalu mengalirkan tenaga dalam serta hawa murninya ke dada Jaya yang membiru, setelah beberapa saat Jaya pun terbatuk-batuk sambil memuntahkan darah kental berwarna hitam! 

“Ah syukurlah darahmu yang membeku akibat pukulan manusia siluman itu sudah keluar Jaya!” ucap Galuh sambil tersenyum yang sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat karena telah mengalirkan tenaga dalam dan hawa murninya ke dada pemuda itu. Jaya tidak berkata apa-apa, ia hanya bisa membuka matanya dan menatap Galuh dengan sayu, pemuda ini telah kehilangan seluruh tenaga dalamnya, belum lagi rasa nyeri yang menderanya dari luka dalamnya, nafasnya terasa sangat sesak sekali.

“Kali ini luka dalammu sungguh parah Jaya!” ucap Galuh dengan lemas, kemudian dengan seluruh tenaga luar dalamnya ia membopong Jaya, “Sebaiknya kita cari tempat yang baik untuk beristirahat Jaya” lanjut Galuh, ia lalu celingukan melihat kesana-kemari mencari arah yang akan ia tuju. “Kalau kembali ke Desa Citatah rasanya terlalu jauh, kita harus menempuh satu hari perjalanan.” pikirnya, kemudian gadis itu memutuskan untuk membopong Jaya ke arah hulu, mencari tempat yang baik untuk istirahat.

Setelah berjalan cukup jauh, Galuh pun menemukan sebuah pesanggrahan yang kosong tak terurus. Galuh memperhatikan pesanggrahan tersebut, ada suatu keanehan di sana, di bagian belakang pesanggrahan itu nampak ada banyak batu nisan tak bernama tapi juga tidak berdiri diatas sebuah makam, nisan-nisan itu hanya tampak berjejer diatas tanah rata dengan jarak masing-masing satu jengkal, tapi karena hari sudah hampir senja dan Jaya dalam keadaan kritis, Galuh pun memutuskan untuk merawat luka dalam Jaya di sana.

Galuh dengan telaten ia merawat Jaya, ia pun beberapa kali mengalirkan tenaga dalam dan hawa saktinya ke dada Jaya yang membiru akibat pukulan Juana Suta. “Hfffhhhh... Sayang sekali yang dapat memakai kesaktian cincin itu hanya kamu, sehingga kamu tidak bisa menggunakannya untuk mengobati dirimu sendiri saat ini!” ucap Galuh, Jaya pun hanya bisa mengangguk lemas, sayang juga, kitab 1001 pengobatan dari Holiang belum bisa ia pelajarai karena kitab itu ditulis dengan huruf China dalam bahasa Mandarin, sehingga ia tidak bisa mengobati dirinya sendiri.

Hari demi pun berganti, keadaan Jaya sudah mulai membaik, menjelang malam beberapa hari kemudian, tanda biru didada Jaya sudah hampir hilang, Jaya pun sudah tidak merasakan nyeri dan sesak nafas lagi, tapi tubuhnya masih sangat lemas, ia juga masih harus menghimpun kembali seluruh tenaga dalamnya yang hilang. Galuh pun bersyukur karena Jaya bisa pulih dengan cepat. 

“Jaya kamu beristirahatlah dulu disini, aku akan ke desa terdekat untuk membeli makanan karena perbekalan kita sudah habis, aku akan membeli makanan untuk makan malam kita dan perbekalan kita besok.” ucap Galuh.

Jaya mengangguk, memang dari kemarin mereka hanya makan ikan dari sungai yang mengalir di pinggir pesanggrahan ini, Galuh pun tidak tega meninggalkan Jaya sebelumnya karena kondisi Jaya yang masih sangat lemah, baru kali ini ia berani meninggalkan Jaya.

“Baiklah, hati-hati Galuh! Oh iya, ini pakai juga uangku, khawatir uangmu kurang” sahut Jaya sambil memberikan kantong uangnya.

“Baiklah, aku pergi dulu, kamu beristirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak dulu!” pesan Galuh, Jaya mengangguk, Galuh pun langsung berkelebat pergi menggunakan ilmu lari cepatnya meninggalkan Jaya.


     ***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Galuh berhasil sampai di Kademangan Saguling dalam waktu lumayan singkat berkat ilmu lari cepatnya, gadis berlesung pipit dengan tahi lalat di bawah mata kanannya ini pun langsung mencari kedai untuk membeli makanan. Setelah menemukan kedai, ia pun memesan beberapa bungkus nasi timbel beserta lauk pauknya untuk dibungkus. “Ah sudah beberapa hari aku tidak makan nasi, rasanya rindu benar aku pada nasi hehehe…” ucapnya sambil tertawa kecil melihat si Ibu Kedai membungkuskan nasi yang masih hangat dari dalam dulang kedalam daun pisang untuk dibungkus, beberapa potong ikan asin serta tempe dan sambal terasi ikut dibungkus sebagai teman dari nasi timbel pesanan Galuh.

Saat itu tiba-tiba masuklah beberapa orang pria berpakaian pasukan kerajaan Mega Mendung kedalam kedai, mereka langsung berdiri di tengah-tengah kedai dan mengamati semua pengunjung yang ada di sana. “Para Mata-mata Banten! Menyerahlah dan niscaya kalian akan diampuni oleh Gusti Prabu Kertapati yang agung!” perintah si komandan prajurit dengan pandangan menyapu seluruh kedai. “Tidak ada yang mengaku?!” tanyanya lagi dengan suara keras. 

Tiba-tiba si komandan melemparkan tiga bilah pisau ke sudut kedai, tiga orang berpakaian rakyat biasa langsung melompat menghindari pisau-pisau maut itu! Dengan gerakan yang amat cepat dan lincah bagaikan tiga ekor tupai, mereka langsung melompat ke jendela untuk melairkan diri! “Itu mereka! tangkap!” perintah si komandan prajurit, di luar kedai puluhan prajurit Mega Mendung pun langsung mengepung tiga mata-mata dari Banten tersebut, merasa tidak ada peluang untuk melarikan diri, ketiga mata-mata itu pun menerjang para prajurit Mega Mendung dengan Kerisnya.

Keribuatan pun terjadi di kedai itu, para tamu langsung berlarian keluar dengan panik, Galuh yang telah mengantongi pesanannya diam tidak beranjak dari tempatnya menonton pertarungan tak seimbang itu, setelah beberapa saat, para prajurit Mega Mendung berhasil mendesak ketiga mata-mata tersebut, tapi sebelum para prajurit Mega Mendung meringkus mereka, ketiga mata-mata itu langsung mengeluarkan sebutir pil hitam dari balik bajunya dan menelannya, mereka langsung tewas dengan mulut berbusa tanpa bisa dicegh oleh para prajurit Mega Mendung! Para prajurit tersebut pun hanya bisa membawa mayat para mata-mata Kesultanan Banten itu ke Kotaraja dengan penyesalan karena tidak dapat menangkap mereka hidup-hidup.

Setelah keributan tersebut berakhir, si Gadis berkulit hitam manis itu pun melenggang pergi dengan tenang, padahal keadaan di kedai itu malam itu sangat kacau balau, di seluruh pelosok desa Saguling para prajurit Mega Mendung berkeliaran berpatroli berjaga-jaga kalau masih ada mata-mata dari Banten.

Sesampainya di pesanggrahan, Galuh melihat ada beberapa orang yang mengendap-endap mengintai pesanggrahan tempat Jaya beristirahat, karena merasa curiga terhadap mereka juga khawatir akan keselamatan Jaya, ia pun langsung melompat ke arah mereka sambil berteriak, “siapa kalian?!” Orang-orang bercadar hitam dan berpakaian serba hitam itu pun kaget, dengan gerakan yang amat gesit mereka langsung melarikan diri ke kegelapan malam.

“Siapa lagi mereka? Kenapa akhir-akhir ini banyak yang mengincar Jaya?” pikir Galuh.

Saat itu Jaya pun keluar. “Galuh ada apa? Siapa mereka?”

“Aku juga tak tahu, mereka hanya mengendap-endap mengintai pesanggrahan ini.” 

“Ya aku pun mendengar kehadiran mereka, sayang aku belum mempunyai cukup tenaga untuk menyambut mereka, tapi... Sedari tadi mereka hanya mengintai tempat ini tanpa berbuat apa-apa…” jelas Jaya.

“Ya sudah, kita masuk saja dan menyantap nasi timbel ini, perutku sudah keroncongan!” pungkas Galuh, mereka pun masuk dan menyantap nasi timbelnya.

“Maaf ya Jaya, uang kita hanya bisa membeli beberapa bungkus nasi timbel untuk bekal kita besok dengan ikan asin dan tempe sebagai lauknya.” ucap Galuh.

“Tidak apa-apa Galuh, malah makan dengan ikan asin, tempe dan sambal terasi ini rasanya nikmat sekali! Aku jadi teringat sewaktu dulu di Padepokan Sirna Raga.” 

“Oya tentang orang-orang mencurigakan yang mengintai tempat ini, aku jadi teringat kalau tadi di kedai Desa Saguling ada tiga orang mata-mata Banten yang tertangkap oleh prajurit Mega Mendung, tapi kemudian mereka memilih untuk bunuh diri dengan meminum racun daripada tertangkap.”

“Hmm... Rupanya Banten juga mengirimkan mata-matanya ke Mega Mendung selain ke Padjajaran, kemungkinan peperangan akan segera meletus,... Aku harus segera sampai ke Mega Mendung untuk melakukan titah guruku!” 

“Titah Gurumu... Menghentikan Prabu Kertapati dan menghindarkan peperangan dengan segala cara?” 

“Betul, aku harus dapat menghindarkan pertumpahan darah di Mega Mendung, jangan sampai terjadi pertumpahan darah di Mega Mendung!” tegas Jaya.

Saat itu tiba-tiba melesatlah satu anak panah yang menancap tepat di bawah kaki Jaya. Jaya dan Galuh saling pandang sejenak mendapati ada yang mengirimkan anak panah tersebut, penuh penasaran Jaya pun mencabut anak panah dari lantai dan membaca surat yang terselip di ujungnya, berikut isinya: “Jika Ki Dulur hendak berburu, maka kami para pemburu pun akan menyertai Ki Dulur untuk berburu.” dahi Jaya berkerut membacanya, dia lalu menyerahkan surat itu pada Galuh “Berburu? Hmm... Apa artinya?” pikir Jaya.


***


Keesokan harinya saat hari masih pagi buta, Jaya terbangun ketika telinganya mendengar derap langkah kaki dari banyak orang, Galuh pun sama-sama terbangun karena mendengar derap langkah kaki itu, mereka langsung bangun dan bersiap-siap. Jaya serta Galuh memasang kupingnya baik-baik, menurut pendengarannya yang tajam, orang-orang itu menuju ke bagian belakang pesanggrahan yang terdapat banyak batu nisan, dengan penuh penasaran tapi dibarengi kesiagaan mereka berdua pun melangkah ke bagian belakang pesanggrahan.

Saat itu bau kemenyan bercampur dengan kembang 7 rupa santar tercium disekitar pesanggrahan kosong tersebut. Dengan langkah kaki yang tak terdengar, Jaya dan Galuh mengintip, ternyata banyak orang yang seperti sedang sembahyang di tempat puluhanan batu-batu nisan yang berjejer itu, Jaya tampak berpikir sejenak “Galuh apa hari ini adalah hari jumat?”

Galuh mengangguk, “Betul hari ini adalah hari jumat, kita pertama kali tiba disini pada hari senen.” 

Jaya mengangguk, “Ya hari yang baik untuk menyekar dan mendoakan orang yang sudah meninggal.” ucapnya, lalu ia melangkah menghampiri para penyekar itu yang membuat mereka semua terkejut. 

“Begitu... Sekarang aku tahu kalau tempat ini adalah tempat kalian membuang bayi kalian!” ucap Jaya. 

“Bayi? Kenapa kau tahu kalau ini adalah tempat pembuangan bayi?” Tanya Galuh.

“Sebab selama kita menginap disini aku seperti mendengar tangisan bayi terutama pada malam hari, dan setelah kulihat dengan ilmu Membuka Mata Sukma, memang banyak arwah para bayi yang berkeliaran disini yang tak dapat kembali ke alam baqa!” jelas Jaya. 

Galuh pun langsung memelototi semua orang yang nyekar di sana, “Bajingan! Orang seperti kalian pantas disebut sampah kehidupan!” ketus Galuh, gadis ini marah sekali sebab ia langsung teringat pada nasib dirinya dan saudara-saudaranya sesama Pengemis dari Bukit Tunggul.

Orang-orang itu saling berpandangan, lalu salah seorang dari mereka balas menyemprot Galuh dengan marah. “Kalian siapa?! Kalian pasti orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang desa ini!” salah seorang yang lainnya segera menyambungi “Ya kalian pasti orang asing! Kalian tidak tahu apa-apa tentang Ki Demang Wiraguna!”

Jaya menatap mereka berdua “Apa yang terjadi dengan desa ini?”

Terlihat semua perempuan yang di sana menangis sesegukan, salah satu suami mereka pun menjawab Jaya, “Semenjak Ki Demang Wiraguna menikah dengan perempuan laknat yang bernama Nyai Kantili, hidup kami jadi menderita!” lalu yang lainnya menyambung “Selain pajak yang sangat tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat Mega Mendung, kami juga dibebani pajak tambahan yang sangat mencekik kami, tetapi kami akan dibebaskan dari segala macam pajak kalau kami mau menyerahkan bayi kami dan membuangnya di pesanggrahan ini!”

“Mengganti pajak dengan menyerahkan bayi mereka? Hmm... sepertinya yang mereka incar memang bayi-bayi para penduduk, bukan pajaknya…” pikir Jaya. 

“Jadi kalian mau saja menyerahkan bayi-bayi kalian?!” tanya Galuh dengan pedas.

“Kami tak punya pilihan! Kami tak punya pilihan lain!” jerit salah satu perempuan di sana, “Kami akan dihukum mati lalu mayat kami akan digantung di alun-alun desa kalau tidak menurut!” lanjut yang lainnya. “Siapa?! Siapa yang mau dan tega membuang darah dagingnya sendiri?!” jerit perempuan lainnya. 

Galuh menundukan kepalanya sambil menggeram, sekujur tubuhnya bergetar, tangannya mengepal dengan keras menahan amarah didadanya. “Jadi begitu kejadiannya, tapi jangan berdalih seperti itu! Aku lahir di tengah-tengah perang dan kedua orang tuaku tewas didalam peperangan! Hidupku jadi menderita karena sejak kecil sudah kehilangan mereka! Tapi sekarang kalau dipikir lagi, aku bangga pada mereka, ayah dan ibuku berjuang mempertahankan keyakinannya! Sampai mereka tak dapat bergerak dan kehabisan nafas...” ujar Galuh dengan penuh emosi.

“Tetapi seperih-perihnya rasa kehilanganku, rasa kepedihan bayi kalian lebih hebat daripadaku! Betapa tersiksanya dibuang orang tua sendiri dan mati! Apa kalian tahu rasanya?! Apakah kalian bisa merasakannya?!” lanjut Galuh dengan berapi-api.

“Aku ingat pada salah seorang saudaraku pengemis di Bukit Tunggul sana, pertama kali aku melihatnya, dia adalah seorang anak kecil yang sedang kelaparan, dia membawa sebungkus nasi timbel pemberian ibunya yang tewas terbunuh tapi tak sanggup memakannya, aku tanya kenapa dia tidak mau memakannya, ia menjawab jika ia memakannya ia tak akan bisa mengingat wajah orang tuanya, tapi kalau ia tidak memakannya ia akan mati kelaparan! Bodoh! Sungguh bodoh bukan?! Tapi ia terus bertahan dari rasa laparnya sambil mengepal nasi timbel itu!” Jaya terdiam mendengar ucapan Galuh tersebut kali ini dapat melihat sisi lain dari gadis yang biasanya bersikap konyol, periang, dan aneh itu. 

Galuh lalu menyapu mereka semua dengan tatapan tajam penuh kemarahan, “Orang-orang seperti kalian... Orang-orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri! Jahanam kalian!!!” jeritnya dengan penuh emosi.

Jaya segera menahan Galuh, “Hentikan! Cukup Galuh!”

Galuh berbalik pada Jaya “Diam! Kau juga dibuang oleh orang tuamu bukan?! Apakah kau tidak marah pada orang tuamu yang membuangmu begitu saja?!” 

Jaya agak tersulut emosinya mendengar ucapan pedas Galuh tersebut, ia pun menjawab dengan nada tinggi, “Tapi ayahku pasti punya alasan yang tidak aku tahu ketika ia menitipkanku ke Padepokan Sirna Raga! Aku juga mempunyai dua orang guru yang membesarkanku dan merawatku seperti anaknya sendiri! Itu sudah cukup! Aku tak minta lebih!”

Galuh menatap Jaya dengan tajam, dari sela-sela matanya mengalir dua butiran bening, Jaya tercekat melihatnya, ia benar-benar tak menyangka bahwa kali ini Galuh benar-benar sedang terlarut dalam emosi. Sekonyong-konyong Gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan mereka semua! Jaya terdiam sesaat, moment saat Galuh sangat emosional sampai ia menangis terus tergambar di matanya, lalu tanpa sapatah katapun pada para penyekar itu, ia melesat ke arah Galuh pergi.

Galuh terus melangkah dengan penuh emosi, beberapa langkah dibelakangnya Jaya mengikuti setiap langkahnya. “Jangan ikuti aku! Bukankah kau malah senang kalau aku pergi dari hadapanmu?!” bentak Galuh.

“Aku tak mengikutimu, jalan menuju ke Desa Saguling, desa terakhir sebelum Kutaraja Rajamandala memang lewat sini.” jawab Jaya dengan santai

Dengan kesal Galuh pun menoleh. “Kalau begitu kau yang jalan didepan seperti biasanya! Lalu sana cepat pergi tinggalkan aku!” Jaya tidak menjawab, dengan santainya ia melangkah melewati Galuh, Galuh hanya bisa mendengus kesal ketika Jaya terus berjalan meninggalkannya, ia jadi salah tingkah, tapi pada akhirnya ia melangkah juga mengikuti Jaya.

Pada saat itu tiba-tiba seorang pria paruh baya berkuda yang mengenakan pakaian seorang Demang, menghadang di hadapan mereka, Jaya tidak menatap orang itu, dia hanya menatap kosong lurus kedepan, sedangkan Galuh berani menatapnya dengan tatapan penuh selidik, lalu ia menghampiri Jaya. “Apakah dia seorang siluman seperti yang kemarin-kemarin” bisinya pada Jaya, Jaya diam tak menjawab. Ia hanya dapat mencium bau bisa ular yang menyengat dari pria ini.

“Apakah kalian pengembara?” Tanya pria paruh baya itu, “Aku Demang Wiraguna, saya ucapkan selamat datang di Desa Saguling, tolong izinkan saya untuk beramah-tamah mengundang Ki Dulur dan Nyai Dulur untuk istirahat serta bersantap di rumah saya.” 

“Maafkanlah kami kalau kami kurang Sopan Ki Demang, tapi kami bukan orang Banten yang hendak melihat situasi di desa ini, kami hanya orang biasa yang masih warga Mega Mendung, saya sendiri dari Gunung Tangkuban Perahu” jelas Jaya yang khawatir mereka dikira mata-mata dari Banten.

Mendapati jawaban dari Jaya, Ki Demang Wiraguna tertawa kecil “Hahaha... Rupanya anda sudah mahfum dengan maksud saya, maafkanlah saya Ki Dulur, tapi saya tetap bersikeras mengundang Ki Dulur dan Nyai Dulur untuk beristirahat dan bersantap di rumah saya yang sederhana sebagai ucapan permohonan maaf saya.”

Ucapan Ki Demang tersebut mengundang kecurigaan dari Jaya, “Mengapa ia langsung percaya pada ucapanku padahal suasana di desa ini sedang genting, Hmm... Mencurigakan, tapi ini juga kesempatan baik untuk mencari tahu soal bayi-bayi yang hilang itu!” pikirnya.

“Bagaimana Ki Dulur? Kalian bisa berbagi kisah dengan saya, sudah lama saya tidak keluar dari wilayah desa ini, jadi tidak banyak tahu perkembangan di dunia luar sana hahaha…” lanjut Ki Demang.

Akhirnya Jaya pun mengangguk “Baiklah Ki Demang, kami sangat berterima kasih atas undangan Ki Demang.”