Episode 40 - Menyusun Rencana



Aku dan Reza berjalan berdampingan menyusuri lorong dengan waspada. Mengingat tubuh kami dalam kondisi yang kurang fit, maka prioritas utama kami saat ini adalah mencari tempat persembunyian yang aman untuk memulihkan diri. Sambil menyusuri lorong, aku perhatikan markas rahasia Sekte Pulau Arwah ini ternyata lebih besar dari labirin bawah tanah tempat Sadewo menculikku tempo hari. Selain itu, markas rahasia ini memiliki lebih banyak ruangan di sisi kiri dan kanan lorong.

Jalanan lorong lebih lebar dan udara yang mengalir didalam sini jauh lebih segar, bahkan jika dibandingkan dengan kondisi udara di luar. Selain itu, ruangan disini juga dipenuhi oleh berbagai perabot dan tidak terlalu terbengkalai. Sepertinya markas rahasia ini belum terlalu lama ditinggalkan.  

Aku juga memperhatikan Reza menuntun jalanku menyusuri lorong ini dengan cukup cepat meskipun luka dalamnya belum pulih sama sekali. Sepertinya dia sudah familiar dan mengetahui cukup banyak seluk beluk markas rahasia ini. Meskipun hal itu menyebabkan aku merasa sedikit was-was, tapi karena kulihat perhatian Reza padaku sangat minim, sepertinya dia tidak sedang merencanakan sesuatu yang jahat padaku. Jadi kuputuskan untuk mengikuti kemana dia pergi sambil terus meningkatkan kewaspadaanku. 

Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah ruangan agak besar yang hanya berisi beberapa meja, kursi, dan lemari seperti dalam ruangan kantor, meskipun tetap mempertahankan suasana ruangan muram bawah tanah karena penerangannya hanya berupa obor dan meja kursinya terbuat dari kayu dan batu. Kulihat beberapa berkas berantakan diatas meja. Dengan mengendap-ngendap, kami berdua masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah memastikan tidak ada seorangpun disana, barulah kami duduk bersandar di salah satu sudut yang agak tertutup oleh lemari. 

“Semoga saja tidak ada yang datang kemari saat kita memulihkan diri,” gumam Reza begitu kami duduk. ?”Kau pernah ke ruangan ini sebelumnya Za?” 

“Iya, tapi tidak ada barang berharga di ruangan ini.”

“Bagaimana dengan berkas-berkas itu?”

“Tidak ada yang penting.”

Aku mengangguk pelan mendengar penjelasan Reza. 

Barulah setelah memastikan kondisi disana benar-benar aman, barulah aku mengalihkan pandanganku pada Reza dan kulihat Reza sudah duduk bersila sambil mengeluarkan sebutir pil berwarna seputih salju. 

“Pil apa itu?” tanyaku singkat. 

Pil Obat Tingkat Dua,” jawabnya segera, lalu dia memandangku sejenak dengan pandangan sedikit ragu-ragu, “Kau... Tidak bawa pil pengobatan?

Aku menggelengkan kepala perlahan. 

Setelah melihatku menggelengkan kepala, kulihat Reza gagal menyembunyikan ekspresi terkejut pada wajahnya. Lalu dengan perlahan dan ragu-ragu, dia menyodorkan pil tersebut padaku. 

“Kau mau pil ini?”

“Boleh,” jawabku sambil mengulurkan tangan menerima pil tersebut. Meskipun aku tidak langsung memakannya karena masih belum tahu apakah pil yang kuterima ini benar-benar pil obat atau justru berisi racun. 

Setelah memberikan pil padaku, Reza segera mengambil pil yang persis serupa dengan yang baru saja dia berikan padaku dan langsung menelannya tanpa ragu-ragu. 

“Aku akan memulihkan diri sekarang,” ucap Reza sebelum memejamkan matanya. 

Kemudian dia menarik nafas panjang secara perlahan kemudian menghembuskannya lagi sama perlahannya. Sedangkan aku sendiri kembali memperhatikan pil yang diberikan Reza padaku, kurasakan pil ini mengalirkan hawa sejuk ke tanganku yang seketika membuat tanganku terasa lebih rileks. Setelah beberapa saat, kuputuskan juga menelan pil tersebut.

Hawa sejuk langsung menyebar ke seluruh tubuhku secara perlahan setelah pil itu masuk ke dalam perutku. Tampaknya pil ini mengandung energi murni yang cukup tinggi sehingga dapat membantu mempercepat proses pemulihan luka dalam tubuh. Aku segera mensirkulasikan energi murni dalam tubuhku untuk mempercepat penyerapan pil itu dalam tubuhku. 

Kurang lebih satu setengah jam kemudian, aku selesai menyerap pil tersebut dan langsung dapat merasakan efek penyembuhannya yang luar biasa pada tubuhku. Aku sudah tak merasakan lagi efek samping dari Jurus Iblis Darah dan sisa luka dari pertarungan melawan Lodan. 

Namun Reza masih terus duduk bersila dan memejamkan matanya, sepertinya dia masih belum selesai memulihkan dirinya. Akupun hanya bisa berdiam diri saja menunggu dia selesai memulihkan diri sambil terus mengawasi situasi sekitar. Kurang lebih setengah jam kemudian, Reza membuka matanya. 

“Sudah baikan?” tanyaku begitu melihat Reza membuka mata.

“Sudah.” jawab Reza sambil bangkit dari sila-nya. “Untung tidak ada yang datang ke tempat ini saat kita memulihkan diri tadi.”

“Ya, untung.”

“Sekali lagi terima kasih karena sudah menolongku.”

Aku mengangguk, “Apa yang hendak kau lakukan setelah ini?”

“Meneruskan pencarian benda-benda pusaka di markas ini. Sesuai dengan tujuanku dikirim kemari. Kalau kau?”

“Sama,” jawabku segera. Meskipun tujuan anggota Kelompok Daun Biru masuk ke dalam markas rahasia ini demi menyelamatkan diri, tapi aku sendiri memang punya tujuan sendiri masuk ke markas rahasia Sekte Pulau Arwah ini. Sekte asal Sadewo, lelaki yang membunuhku dan memasukkan tenaga dalam ke aliran darahku. Lelaki yang telah menyeretku masuk ke dalam dunia persilatan...

“Kalau begitu, kau mau bekerja sama denganku? Akan lebih mudah mencari barang pusaka jika dilakukan bersama, kemungkinan bertahan hidup juga akan lebih besar jika bersama-sama.” 

Reza mengajukan usul tersebut dengan mata berbinar-binar. 

“Kau percaya padaku?”

Mendengar pertanyaanku itu, Reza langsung cengengesan sambil menggaruk kepalanya. 

“Kau sudah menyelamatkan hidupku. Selain itu, saat aku memulihkan diri tadi, sebenarnya itu adalah kesempatan yang sangat bagus jika kau ingin mencelakakanku. Tapi kau tidak melakukannya.”

Aku pun ikut tertawa kecil mendengar kata-kata Reza barusan. 

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi bersama. Tapi pertama-tama kita harus menyusun rencana terlebih dahulu, kemana arah yang akan kita tuju, lalu kita juga harus memikirkan caranya kita mendapatkan makanan dan minuman di tempat ini.”

“Memikirkan caranya mendapat makanan dan minuman?”

“Tentu saja, bagaimana kita bisa bertahan hidup jika tidak makan dan minum.”

Reza kemudian mengeluarkan sebuah pil berbentuk pipih berwarna semerah darah dan menunjukkannya di depanku. 

“Kita bisa makan Pil Lima Energi ini sebagai pengganti makan dan minum. Memangnya... Kelompok kalian tidak mempersiapkan bekal sebelum masuk ke tempat ini?”

“Kami agak terburu-buru saat masuk ke dalam tempat ini, jadi tidak sempat melakukan banyak persiapan.” 

“Oh...” Reza menganggukkan kepalanya, kemudian menyerahkan beberapa butir Pil Lima Energi padaku dan tak mengatakan apa-apa lagi. Lalu dia mengeluarkan selembar kertas putih yang terlihat agak lusuh dan menggelarnya di lantai. Setelah kuperhatikan, ternyata kertas itu adalah sebuah peta! 

“Apakah itu peta tempat ini?” tanyaku sambil mengerenyitkan kening. 

“Iya,” jawab Reza singkat. 

“Darimana kau mendapatkanya? Jangan bilang kalian juga dibekali peta oleh kelompok kalian sebelum masuk ke dalam tempat ini?” Jika benar mereka dibekali peta sebelum masuk ke dalam markas rahasia ini, aku benar-benar akan menggugat Kelompok Daun Biru setelah keluar dari sini karena telah membiarkan anggotanya masuk ke dalam markas rahasia ini tanpa persiapan apapun. 

“Tentu saja tidak, aku mendapatkannya dari dalam sini. Di tempat semacam ini, hal pertama yang perlu dicari bukanlah benda pusaka, tapi peta. Dengan peta, kita lebih mudah mengetahui arah mana yang harus di tuju. Dimana tempat benda-benda pusaka tersimpan dan dimana tempat berbahaya yang harus kita hindari,” papar Reza dengan cepat. 

Aku mengangguk setuju dengan perkataan Reza dan segera menyimpan baik-baik perkataan itu dalam hatiku. Tapi tak kukira ternyata Reza memiliki pemikiran selihai itu, namun setelah mengingat bagaimana kerasnya dia berusaha untuk tetap bertahan hidup sewaktu dikeroyok anggota Perserikatan Tiga Racun dan Perguruan Selaksa Kembang beberapa waktu lalu, sepertinya yang ada dipikiran Reza memang tidak sesederhana kelihatannya. 

“Kita sekarang sedang berada disini, lalu tempat dimana kita bertemu ada di sebelah sini,” ujar Reza sambil menunjuk beberapa titik di peta. Kulihat pada peta tersebut, markas rahasia ini berbentuk lingkaran berlapis-lapis dengan banyak ruangan yang membentuk di antara lapisan tersebut. Sedangkan dibagian tengah lingkaran tersebut terdapat sebuah ruangan besar, aku juga melihat beberapa coretan dalam peta tersebut

“Ini tulisan tanganmu Za?” 

“Iya. Ini menunjukkan ruangan mana saja yang sudah kumasuki.”

Kuperhatikan titik-titik yang terdapat coretan tangan itu cukup banyak, berarti Reza sudah bertualang cukup banyak selama tiga hari di tempat ini. Selain itu, terdapat juga beberapa tulisan kecil yang tercetak dalam peta tersebut seperti ‘ruang pemeriksaan’, ‘laboraturium 1’, ‘laboratorium 2’, ‘ruang obat’, ‘ruang steril’, ‘kantor’, dan ‘gudang’. 

“Apa saja barang-barang berharga yang kau dapatkan sejauh ini?” tanyaku perlahan setelah memperhatikan peta itu dengan seksama.

“Eh?” Reza tampak ragu-ragu menjawab pertanyaanku. 

“Aku tidak akan merebutnya darimu, tak perlu khawatir.” 

“Kebanyakan berupa pil dan obat-obatan termasuk tanaman herbal.” Akhirnya Reza menjawab pertanyaanku. 

Ternyata benar dugaanku setelah melihat peta yang digelar di lantai, tempat ini bukan markas biasa. Kemungkinan besar tempat ini adalah salah satu fasilitas penelitian milik Sekte Pulau Arwah. 

“Kenapa jalan ini kepotong?” tanyaku lagi sambil menunjuk pada sebuah jalur yang terpotong pada sisi atas peta. 

“Kemungkinan besar peta ini hanya menggambarkan satu bagian markas ini saja, dan jalur yang terpotong itu merupakan jalan menuju area lain. Ukuran sebenarnya dari markas ini mungkin jauh lebih besar dari yang kita kira, karena selama tiga hari ini aku hanya bertemu dengan beberapa orang saja dari kelompok lain. Padahal yang masuk dalam markas ini kemungkinan mencapai ratusan orang.”

“Kau benar...” gumamku perlahan. Tapi, apa jenis penelitian yang dilakukan oleh Sekte Pulau Arwah hingga membutuhkan tempat sebesar ini?

“Kalau begitu, sebaiknya kita...”

BOOM!

Tiba-tiba saja terdengar gelegar dahsyat hingga menyebabkan ruangan tempat kami bersembunyi bergetar. 

“Apa itu?” seru Reza dengan tegang. 

“Aku juga tak tahu...” Aku hanya menggelengkan kepala sambil menggerakkan kepalaku ke arah ledakan tadi. Pertarungan antar pendekar tahap penyerapan energi tidak mungkin sampai sedahsyat itu. 

“Arahnya dari sini,” ujar Reza sambil menunjuk pada ruangan besar yang terletak di tengah-tengah lingkaran pada peta. 

Lalu, saat kami masih belum menentukan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba kembali terdengar ledakan besar dan sebuah jeritan keras yang jelas bukan berasal dari suara manusia!

BOOM!

“NGIIIIIIIIK!”

Bersamaan dengan itu, tembok di ruangan seberang kami hancur membentuk lubang besar disusul melesatnya sesosok bayangan yang membentur keras tembok lorong!