Episode 242 - Awas!


Hari beranjak petang, dua wakil dari dari Kadatuan Kedelapan, Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga, telah berkumpul di wilayah antara dua puncak Gunung Pagar Alam. Dalam perjalanan, mereka dengan mudahnya membungkam binatang siluman yang menghadang serta berkelit dari ranjau-ranjau yang berserakan. Akan tetapi, kini langkah mereka terhenti. Sebuah formasi segel berwujud kubah raksasa membentengi wilayah Pelataran. Tiada dapat mereka melangkah lebih jauh. 

Ketiga wakil dari Kadatuan Kesatu, Balaputera Vikrama, Balaputera Indravarma dan Balaputera Vikatama terlihat sedang mempelajari formasi segel yang sama. Mereka berupaya mengutak-atik, namun belum juga dapat membuka formasi segel tersebut. 

Tak berselang lama, Balaputera Citaseraya dari Kadatuan Keempat dan Balaputera Sevita dari Kadatuan Keenam tiba hampir secara bersamaan. Kehadiran mereka lalu disusul pula oleh Balaputera Dirgaha dari Kadatuan Kedua dan Balaputera Shinta dari Kadatuan Keenam. 

Setiap satu dari muda-mudi bangsawan Wangsa Syailendra ini mencoba mempelajari formasi segel yang membentengi wilayah Pelataran. Namun, tiada satu dari mereka yang mencapai hasil memuaskan. 

“Terdapat prasyarat khusus atas formasi segel ini…,” gumam Balaputera Saratungga. 

“Hal tersebut telah diriku ketahui…,” tanggap Balaputera Naga. “Akan tetapi, apakah prasyarat yang dibutuhkan? Kata sandi? Formasi segel? Darah? Apa!?”

Kesimpulan yang sama pun telah dicapai oleh remaja-remaja lain. Pada akhirnya, 18 remaja yang telah berkumpul di luar wilayah Pelataran saling pandang. 

“Formasi segel ini kemungkinan besar hanya bisa dibuka oleh sepuluh ahli secara bersamaan…,” tetiba Balaputera Vikrama berujar santai. “Sepuluh ahli, tak lebih dan tak kurang.” 

Para remaja saling pandang. Apakah kata-kata Balaputera Vikrama benar adanya? Mungkinkah merupakan sebuah upaya demi memecah belah dan mengurangi jumlah pesaing. Tiada dapat sepenuhnya dipastikan. 

“Aku tak yakin bahwa engkau bertutur jujur,” tanggap Balaputera Naga santai. “Akan tetapi, diriku tiada berkeberatan memangkas jumlah ahli yang berada di sekitar sini.” 

Kata-kata Balaputera Naga ibarat menyulut api pada tumpukan jerami kering. Suasana pun berubah tegang. Sebagian besar para remaja bergerak dan berkumpul ke dalam kelompok. Dua kubu yang di awal Tantangan Kedua sempat goyah, kini kembali bersatu padu. 

Kubu pertama (Kadatuan Ketiga, Kadatuan Kelima, Kadatuan Keenam) dengan jumlah enam ahli berkumpul dan berdiri hadap-hadapan dengan kubu kedua (Kadatuan Kedua, Kadatuan Keempat, Kadatuan Ketujuh) yang berjumlah tujuh ahli. Ketiga remaja Kadatuan Kesatu yang tiada terikat kubu, dan dua remaja Kadatuan Kedelapan yang tiada gentar, menanti dengan sabar. 

“Wahai saudara-saudara dari Kadatuan Kesatu, bergabunglah bersama kami… maka anggota kita akan genap berjumlah sepuluh,” undang Balaputera Dirgaha mewakili kubu kedua. 

Wajah para anggota kubu pertama, yang diketahui memusuhi Kadatuan Kedelapan, berubah kusut. Mereka berada pada posisi nan lemah dan terjepit. Jikalau Kadatuan Kesatu bergabung ke dalam kubu kedua dan Kadatuan Kedelapan ikut menyerang, maka selesai sudah keikutsertaan mereka di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta ini.

Kendatipun demikian, Ketiga remaja Kadatuan Kesatu tiada bergeming. Sebagai calon-calon penyangga Perguruan Svarnadwipa, mereka berpegang teguh pada prinsip ketakberpihakan. Sebaliknya, dua remaja dari Kadatuan Kedelapan tiada peduli. Siapa saja akan mereka hadapi tanpa pandang bulu. 

Suasana pun semakin tegang, namun tiada satu pun yang ahli yang hendak membuka serangan terlebih dahulu. 

Sampai detik ini, belum ada perwakilan dari Kadatuan Kesembilan yang tiba di wilayah Pelataran. Yang satu diketahui cedera, sedangkan yang satunya lagi bertamasya seorang diri. Sungguh Kadatuan Kesembilan yang sempat dianggap sebagai ancaman, hanyalah berisikan dua remaja yang tiada jelas ujung pangkalnya. 

“Hrarghhh!” 

Balaputera Naga meraung, dan di saat sebuah ledakan meletus di tempat ia berdiri, remaja lelaki tersebut telah melompat menyerang ke arah… Kadatuan Kesatu! 

Setiap remaja di kubu pertama dan kubu kedua, bahkan segenap ahli di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, mengetahui betul bahwa anggota-anggota keluarga Kadatuan Kedelapan tiada dapat ditebak tindak-tanduk mereka. Berbuat sesuka hati, mengabaikan aturan, berpenampilan tak layak, adalah kebiasaan dari anggota keluarga Kadatuan Kedelapan. Tiada dapat dibayangkan bilamana pewaris takhta nantinya datang dari kadatuan tersebut!

Balaputera Naga menyerang deras ke arah Balaputera Vikrama. Di saat yang sama, formasi segel berwujud ular besar yang senantiasa melayang mengelilingi tubuhnya, memisahkan diri dan menyergap Balaputera Vikatama. Balaputera Saratungga pun telah berhadapan satu lawan satu dengan Balaputera Indravarma. 

Pertempuran sengit segera pecah. Kubu pertama dan kubu kedua hanya menyaksikan. Dalam pandangan mereka, Kadatuan Kesatu dan Kadatuan Kedelapan merupakan lawan paling berat. Oleh karena itu, biarkan saja mereka bertarung dan saling melemahkan. Siapa pun pemenangnya nanti, telah berjasa dalam menyingkirkan satu pesaing berat.


Suara napas menderu bercampur dengan pengencangan otot-otot nan keras. Deretan taring-taring tajam dibasahi dengan air liur, yang dibawa mengalir ke sela-sela bulu-bulu kecoklatan karena diterpa angin nan kencang. Demikian adalah penampakan sekawanan binatang siluman Serigala Bertanduk yang sedang mengejar beringas. Ratusan jumlah serigala di dalam kawanan tersebut, memburu dan haus darah. Berbeda dengan kala berada di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, jumlah dan kekuatan serigala-serigala ini berkali lipat banyak dan tingkatannya. 

Bintang Tenggara berlari cepat, secepat kilat. Setelah sampai di atas tebing tinggi, tanpa sengaja ia memasuki wilayah kawanan serigala. Setelah itu, si anak remaja hanya memiliki satu pilihan, dan pilihan tersebut adalah melarikan diri!

Kawanan Serigala Bertanduk menyebar. Dari sisi atas, terlihat formasi mereka mirip layaknya bulan sabit. Dari kedua sisi, nantinya binatang siluman yang diketahui terbiasa berburu dalam kelompok ini, akan menjepit lawan. Siapa cepat dia yang dapat. Buruan mereka dipastikan tercabik-cabik tanpa sempat merasakan rasa sakit berlama-lama. 

“Nak Bintang… panggillah Dewi Anjani… keselamatan dikau berada di ujung tanduk.” Ginseng Perkasa terdengar cemas. Sangat cemas. 

Ginseng Perkasa benar adanya. Bilamana kawanan serigala di kedua sisi berhasil mengurung, maka anak remaja tersebut berada dalam mara bahaya. Meskipun demikian, Bintang Tenggara mengabaikan Ginseng Perkasa dan terus memacu langkah. Selagi masih kuat kedua kaki yang dibungkus unsur kesaktian petir melesat, maka anak remaja tersebut akan terus memacu langkah.

Di saat menyelesaikan Tantangan Pertama dan kembali di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Bintang Tenggara sempat menyaksikan layar-layar lebar nan mengangkasa. Ia pun mengetahui bahwasanya sepak terjang para peserta selama menjalani tantangan ditampilkan di layar-layar tersebut. Melepaskan Tinju Super Sakti saja, sudah merupakan sebuah keterpaksaan, meski berhasil disiasati dengan menghantam tebing demi menyembunyikan jati diri jurus. Karena tak hendak sembarang menggunakan Golok Mustika Pencuri Gesit, maka terpaksa ia menahan diri dari memanggil Dewi Anjani.

“Tawon…,” gerutu Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara kembali memperoleh petunjuk. Komodo Nagaradja memanglah guru yang terbilang pelit. Akan tetapi, bilamana ia memberi petunjuk, maka petunjuk tersebut seringkali menyelamatkan jiwa. Segera anak remaja tersebut menebar mata hati sejauh mungkin. Ia mencari-cari sarang tawon di sela-sela pepohonan, yang kemungkinan besar dapat dimanfaatkan untuk melepaskan diri dari kejaran kawanan serigala. 

“Swush!” 

Bintang Tenggara melenting tinggi, lalu memanfaatkan beberapa Segel Penempatan untuk melenting-lenting lebih tinggi lagi di udara. Anak remaja tersebut baru saja menyelamatkan diri dari sergapan beberapa ekor binatang siluman Serigala Bertanduk!

Hampir setengah jam berlalu. Bintang Tenggara mengandalkan pengalaman dan kepiawaian dalam melarikan diri. Akan tetapi, tiada barang satu pun sarang tawon yang ia temukan, sementara kawanan serigala semakin beringas mengejar. 

“Oooh… Tawon Cincin…” Ginseng Perkasa menyadari. 

Sesungguhnya tawon berbeda dengan lebah. Pada umumnya, lebah adalah serangga penyengat yang bisa diternakkan atau dipelihara, sedangkan tawon adalah pemangsa alami yang lebih agresif. Selain itu, lebah hanya bisa menyengat sekali, setelah menyerang ia akan mati. Sedangkan tawon dapat menyengat berkali-kali.

Akan tetapi, Tawon Cincin adalah binatang siluman. Ukurannya setengah kepalan tangan orang dewasa, dan memiliki sepasang mata besar. Pada perut bagian belakang, terdapat lingkaran kekuningan sehingga terlihat seperti cincin. Demikian adalah nama dari Tawon Cincin berasal. 

“Dimanakah sarang Tawon Cincin?” aju Bintang Tenggara. 

“Tawon Cincin bukanlah binatang siluman penyengat sebagaimana layaknya tawon biasa. Ia secara khusus dimanfaatkan untuk melakukan pengintaian…” 

“Pengintaian…?” Bintang Tenggara segera mengingat akan layar lebar yang mengangkasa di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Betul!” 

Sambil memacu langkah, Bintang Tenggara segera menebar mata hati ke sekeliling. Tak lama, ia mendapati seekor Tawon Cincin yang terbang mengikuti dalam diam. Dari tubuh binatang siluman tersebut, dapat pula dirasakan keberadaan formasi segel yang samar namun unik. Sepertinya, formasi segel tersebutlah yang menghubungkan apa pun yang dipandang oleh sang tawon ke layar besar di Gelanggang Utama. 

Di tangan Aji Pamungkas, tawon ini akan sangat bermakna! 

Segel Petir! 

Tetiba beberapa ekor binatang siluman Serigala Bertanduk yang menerkam beringas kaku di tempat! 

Guntur Menggelegar! 

Bintang Tenggara berkomat-kamit sambil meluruskan lengan, lalu membuka telapak tangan. Jurus yang dirapal ini merupakan jurus yang ia pelajari (baca: curi) dari gulungan naskah milik Perguruan Duta Guntur saat mengacau perlombaan murid-murid perguruan rendahan di dekat Kota Ahli. Dibandingkan dengan jurus Asana Vajra dari perguruan besar yang memiliki beberapa bentuk, jurus Guntur Menggelegar hanya memiliki satu bentuk sahaja. 

Bagi sebagian besar ahli, jurus dari perguruan kecil seperti ini hanya dipandang sebelah mata. Pada kenyataannya, jurus tidaklah beda dengan senjata. Di tangan seorang ahli rendahan, sebatang ranting pohon adalah senjata yang tak bermanfaat banyak. Akan tetapi, bagi ahli tingkat tinggi, sebatang ranting pohon dapat menjadi senjata digdaya nan mematikan. Dengan kata lain, bukanlah senjata atau jurus yang utama, melainkan si penggunanya yang menentukan keampuhan senjata atau jurus tersebut! 

Kilatan petir menyambar keluar dari telapak tangan Bintang Tenggara. Sasaran yang dituju adalah… Tawon Cincin… yang tiada berdosa! 

Segera setelah si Tawon Cincin meregang nyawa, ibarat seorang malaikat kematian nan mengerikan, Dewi Anjani merangkak keluar dari sebuah lorong dimensi! 

“Mustika Pencuri Gesit!” seru Bintang Tenggara sambil memutar tubuh guna menebaskan bilah angin secara mendatar dari arah kiri ke kanan. Tebasan angin melibas deras. Serigala-serigala pada deretan terdepan yang sedikit lagi mengepung, habis ditebas. Aroma darah nan pekat menyibak ke segala arah. Bintang Tenggara menebaskan golok Mustika Pencuri Gesit sekali lagi, dan semakin banyak serigala yang meregang nyawa!

“Apakah gerangan yang terjadi!?” pembawa acara merangkap ketua panitia Hajatan Akbar Pewaris Takhta hampir melompat kaget. Layar yang tadinya menampilkan salah seorang perserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta, berubah gelap! 

“Apakah sesuatu terjadi pada Tawon Cincin yang mengekor Balaputera Gara…?”

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mencondongkan tubuh ke depan. Secepat percikan yang timbul di kala batu api bergesekan dengan logam, sang penguasa sempat menyaksikan kelebat petir menyala persis sebelum layar berubah hitam. Balaputera Gara dengan sengaja membunuh Tawon Cincin yang mengekori, bahkan di saat terjepit diburu Serigala Bertanduk! 

“Segera kirimkan Tawon Cincin pengganti!” perintah sang ketua panitia.

Atas alasan apa sampai harus menyingkirkan Tawon Cincin terlebih dahulu? pikir sang penguasa. Bahkan dirinya, yang terkenal paling digdaya di seantero Kemaharajaan Cahaya Gemilang, dibuat penasaran. Ia pun segera mengingat teknik yang anak remaja itu gunakan di kala menghantam tebing. Selain menggunakan bahan peledak atau unsur kesaktian, hanya ada beberapa maha jurus persilatan yang dapat menghasilkan dampak yang sedemikian membahana. 

Ada sesuatu di balik kemampuan anak remaja tersebut… Ada yang sengaja hendak disembunyikan, demikian adalah kesimpulan yang dapat ditarik. 

Lepas dari pengawasan Tawon Cincin untuk sementara waktu, Bintang Tenggara melesat dengan Golok Pencuri Gesit dalam genggaman. Beberapa kali ia menghentikan langkah untuk membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Sebagaimana diketahui, paling banyak Bintang Tenggara hanya dapat menebaskan tiga atau empat kali senjata pusaka tersebut, sebelum tenaga dalamnya terkuras habis. 

“Hoaaahhmmm….” Dewi Anjani menguap lebar. 

“Perempuan! Tak bisakah dikau berperangai lebih santun!?” hardik Ginseng Perkasa. 

“Hei! Ginseng Perketiak! Tak bisakah dikau pergi dan menghilang dari hadapanku!?” Dewi Anjani terlihat sebal. 

“Tak bisakah kalian lenyap dari dunia ini!?” Komodo Nagaradja merasa terganggu. 

Pertarungan kata-kata tiga arah segera berkecamuk. Usai mengisi tenaga dalam, Bintang Tenggara kembali memacu langkah. Bila hanya diam mendengarkan, kemungkinan besar anak remaja tersebut dapat dibuat gila!

Bintang Tenggara tetiba menghentikan langkah. Di hadapan, ia menyaksikan sebuah kemelut pertarungan tak tentu arah. Enam remaja bekerjasama, tujuh remaja bahu-membahu, tiga remaja menahan gempuran, dan dua remaja lagi menyerang membabi buta siapa saja yang berada di dekat mereka. 

Mengapakah mereka bertarung? Bukankah mereka telah tiba di tempat tujuan? Sejenak, Bintang Tenggara mengamati sambil berupaya mencerna. Ia menatap formasi segel berwujud kubah yang besar dan megah. Tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk menyimpulkan bahwa terdapat prasyarat yang perlu dipenuhi demi membuka formasi segel tersebut. Bilamana jumlah yang akan lolos ke tantangan berikutnya adalah sepuluh ahli, maka kemungkinan besar formasi segel tersebut hanya akan membuka bilamana hanya tersisa sepuluh remaja pula. 

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia menebar mata hati, namun belum menemukan Tawon Cincin pengganti yang bertugas mengamati dirinya. Golok Mustika Pencuri Gesit, salah satu dari delapan senjata pusaka yang dahulu kala pernah digunakan oleh Sang Maha Patih, masih berada di dalam genggaman tangan kanan. Bagian depan gagang golok yang memuat mustika tenaga dalam binatang siluman, tetiba berpendar. Di kala itu terjadi, anak remaja tersebut merentangkan sebelah tangan ke samping… lalu ke arah mereka yang terjebak dalam kemelut pertarungan… ia menebas!

Di kala bilah angin melibas deras, Bintang Tenggara serta-merta melompat cepat. Sambil memacu langkah, segenap tenaga ia kerahkan untuk berteriak ke arah kerumunan… “Awas!”