Episode 10 - Sepasang



“Anak yang manis….”

“Dimana orang tua anak ini? Benar-benar tak bertanggung jawab.”

Sidya membuka matanya. Hari sudah gelap sekali lagi. Ia pasti sudah lelap lama. Terlalu lama.

Setelah melampiaskan seluruh emosinya akibat ditinggalkan begitu saja oleh Hikram, ditambah upaya membebaskan diri yang berakhir sia-sia, Sidya jatuh tertidur walau dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Terbukti, begitu bangun lehernya sakit sekali, walaupun tanah yang menghimpitnya terasa hangat. Aneh, Sidya merasa seperti sedang dipeluk. ia pernah merasakan dekapan seperti ini.

Yang ia rasakan sama persis dengan apa yang ia rasa kala ibu suri mendekapnya. Hal itu tak mungkin lagi terjadi, karena beliau sudah pergi untuk selamanya. Kenapa bisa …?

“Lihat, ia terbangun, uehehehe,” sosok pemilik suara yang tadi mengganggu tidurnya kini mendekatkan diri, berjongkok untuk menatap wajah Sidya sembari tertawa ala ringkik kuda.

Si putri cilik harus menahan diri untuk tidak menjerit. Ia melihat wajah seorang wanita tua, yang jika dikatakan bahwa si nenek wajahnya sungguh keriput tentu ia akan mabuk pujian. Tak lain karena rupa wajahnya buruk, sangat buruk sehingga tak jelas mana mata, mana pipi, mana bibir kecuali dilihat dengan seksama. Sekilas mirip lelehan lilin campur aduk yang tak karuan bentuknya.

“Anak manis… anak manis yang pintar….” Sosok satunya ikut berjongkok, wajahnya tak jauh beda dengan si nenek. Bedanya ia mungkin seorang kakek, karena suaranya lebih besar. Dan rambutnya dipotong pendek, walaupun sama buruk rupanya.

Sidya lebih dari sekedar takut sekarang. Ia teringat kisah yang sering diceritakan oleh pendongeng istana tentang penyihir berwujud orang tua yang suka makan daging anak-anak yang masih polos agar jadi muda kembali. Mungkinkah mereka salah satunya?

“Apa mau kalian, Bangkotan?” Sidya diluar kendali melontarkan salah satu dari kamus kata-katanya yang paling kasar. Seharusnya ia tak kebanyakan menguping omongan Daeng, Seto, dan rekan-rekan mereka dari korps garda istana. Mereka pengaruh buruk dalam soal tata bicara.

“Sayang sekali mulutnya seperti comberan,” ujar si nenek kecewa. Rambutnya yang putih dan bergumpal-gumpal seperti kapas menjuntai ke wajah Sidya, dan sekilas si putri kecil mampu melihat dua buah pedang yang disarungkan di sekitar pinggang si nenek tua. “Padahal kukira ia calon yang cocok. Siapa namamu, Nak?”

“Dia begitu manis….”

“Bicara begitu terus sajalah Kek, paling dia hanya akan mengira kalau Kakek cuma bisa ngomong dua-tiga patah kata.”

“Nenek terlalu memuji….”

Si nenek mendengus sampai upilnya terbang, membersit hidung, kemudian berpaling pada Sidya sekali lagi, masih menunggu jawabannya.

“Namaku Sidya.”

“Huh, diambil dari nama anak kaisar. Orangtuamu di mana? Aku ingin bertanya kenapa mereka mengambil nama dari keturunan orang tak adil itu.”

Bapakku baru saja kau sebut, wahai nenek buruk rupa. Kebetulan dia mungkin saja sedang duduk di Singgasana Giok, asyik memangku wanita muda dan minum anggur jadi omonganmu ada benarnya, spontan Sidya membatin dalam hati. Meski begitu ia memaksakan diri menjawab dengan kebohongan, sebab bahaya sekali jika si nenek tahu ia keturunan langsung dari “orang tak adil” yang dimaksud. “bapakku sedang pergi berburu. Beliau sebentar lagi akan tiba di sini.”

“Bohong besar,” si Nenek berkata halus sekali dengan suaranya yang bergetar. “Aku tidak merasakan hawa murni dalam jarak satu-dua tombak. Kenapa harus bohong, Nak? Apa yang kamu sembunyikan?”

Si Nenek bisa mendeteksi hawa murni, tebakan Sidya tentang jati diri si Nenek mulai menunjukkan bukti. Sidya menelan ludah dengan susah-payah, kengeriannya makin bertambah.

“Tak masalah dia bohong, yang penting dia anak yang manis—”

“Kakek tidak membantu!” Si nenek mencubit lengan si kakek yang segera mengaduh. “Kakek pulang saja sana!”

“Bapak bukan pendekar,” Sidya berucap setelah cepat memutar otak, membuat perhatian si Nenek kembali padanya. “Nenek tak akan bisa merasakan hawa murni karena memang tak ada.”

“Bohong lagi,” si nenek berucap seketika, tak terpengaruh seolah bisa langsung tahu kalau Sidya membual. Padahal, Sidya sendiri merasa tipuannya cukup meyakinkan. Ditambah, nada si nenek berubah menjadi sangat berbahaya, entah mengapa. Fakta bahwa Sidya baru sadar si nenek sama sekali tak berkedip sedari tadi membuatnya tambah ngeri, dan mata abu-abu itu menjadi dua kali lipat lebih menakutkan. “Anak manis tapi pandai berbohong, ya!”

“Itu benar!” ucap Sidya panik, “Bapak tidak menguasai ilmu-ilmu hawa murni! Kami hanya pemburu biasa!”

“Pemburu jaman sekarang sudah bisa tapa pendam. Benar-benar jaman edan.”

Si nenek yang terlihat jengkel bangkit dengan cepat, padahal menilik usianya ia harusnya mengalami kram karena jongkok terlalu lama. Si nenek berkacak pinggang sembari menggeleng-geleng. “Bocah ini pembohong, Kek. Sungguh tidak pantas bersanding dengan Apit. Ayo kita pergi.”

Si kakek ragu-ragu, masih memandangi Sidya, kemudian ia ikut-ikutan berdiri untuk menyusul si nenek yang sudah berlalu, suara langkah kaki mereka yang tak beralas hanya sesekali terdengar saat bergesek dengan rerumputan yang tumbuh mencuat di antara pasir.

“Tunggu!” Sidya memanggil, membuat gerakan keduanya terhenti. Setelah dipikir-pikir, mereka bisa jadi jalan keluarnya dari masalah yang ia undang sendiri. Tentu saja kalau pemilihan kata yang ia lontarkan tepat. Andaikata dia bermain kata dengan cerdas, mungkin dia bisa meloloskan diri nanti. Lagipula dia tak mau ditinggal sendirian di tempat yang lama-lama bikin bulu kuduknya meremang ini.

“Baik, aku mengaku. Aku … maksudnya cucu tadi berbohong. Maafkan, wahai kakek dan nenek yang baik. Cucu sebenarnya sedang dijahili oleh seseorang yang benar-benar jahat. Dia mengurung saya di sini, siapa lagi selain kakek dan nenek yang bisa membebaskan cucu?”

Pasangan tua itu bergerak begitu cepat. Belum sekedipan mata mereka sudah berjongkok di dekat Sidya sekali lagi. Senyum lebar yang identik tersungging di bibir keduanya.

“Sopan, manis pula!”

“Nenek akan bebaskan kamu dari orang jahat ini, Cu!” si nenek berkata senang sembari menepukkan tangan. “tapi janji, kamu harus ikut ke rumah kakek dan nenek nanti, ya? Ya?!”

“Cucu berjanji,” ujar Sidya cepat-cepat. Begitu ia bisa keluar dari jebakan yang dengan bodohnya ia siapkan sendiri ini, dia akan cari cara untuk kabur dari sepasang penyihir buruk rupa yang mau melahapnya ini. Semoga mereka nanti berpapasan dengan prajurit Nagart atau pemegang kewenangan lain yang patuh pada kaisar, semoga.

Si Nenek memasukkan tangan ke tanah, dan si bocah menarik napas dalam, matanya melebar. Si nenek memasukkan tangannya ke dalam tanah seperti memasukkan tangan ke dalam air saja. Tidak kelihatan si nenek kesulitan atau semacamnya. Sidya merasakan kedua tangan nenek yang kuat memegang bahu. Dengan kekeh samar, si nenek mulai menarik badan Sidya ke atas pelan-pelan, menyundul-nyundul tanah yang mengurungnya.

Semua seharusnya berjalan lancar, tentu saja kalau kedatangan satu sosok yang tiba-tiba berdiri di belakang kakek dan nenek tak terjadi.

 “Sekali lagi kau bergerak melepaskan muridku dari latihannya, Waskita Renta, aku akan memulangkan tubuhmu dan suamimu ke Setrasutra dalam kotak kayu.”

Si Nenek berhenti di tengah-tengah gerakannya. Matanya yang tak pernah berkedip itu kini terpejam sejenak, untuk kemudian terbuka lagi. Sembari menarik tangannya dari bahu Sidya sampai menapak lagi di permukaan tanah, dengan senyum ompong ia berpaling pada seseorang yang bicara padanya. “Siapa lagi yang bisa melewati pengindraan hawa murniku kecuali cucu muridku sendiri, si Dewa Arak Kolong Langit yang badung! Sungguh kejam, kau mau mencabut nyawa kakek-nenek yang tak berdaya ini dan memisahkan kami berdua?!”

“Tidak,” Hikram menjawab dengan suara datar yang menyiratkan kebosanan, sementara tangannya berkacak pinggang. “Aku pasti akan carikan kotak yang cukup besar hingga muat buat kalian berdua pasangan tua.”

Si Kakek tiba-tiba cekikikan sendiri, membuat Hikram benar-benar heran.

“Apanya yang lucu, Pandir Barat?”

“Tidak ada,” jawab si kakek yang masih ketawa. “Haruskah ada alasan untuk berbahagia?”

Hikram menggeleng putus asa seolah tahu ke arah mana obrolan ini akan diteruskan. “Sebenarnya banyak perbedaan antara tawa dan bahagia, tapi aku tidak berada disini untuk berdebat tentang arti kebahagiaan. Menyingkirlah kalian.” Hikram mendesak kedua orang tua itu untuk menuju Sidya, kemudian memegang pelipisnya, mata Hikram mencermati keadaannya. Sementara itu, si putri kecil malah menolak memandang bahkan mengakui keberadaan Hikram. Ia memilih untuk menatap ke arah lain.

Si nenek bergantian memandang keduanya, kemudian ketawa nyaring.

“Kau orang tua tak sepatutnya mempermainkan anak-anak. Kenapa kau tak memberitahukan apa yang sebenarnya kau lakukan padanya? Lihat betapa lucunya saat dia cemberut,” ujar si nenek yang berdiri dari jongkoknya untuk bisa menghadap Hikram. Gerakannya diikuti oleh si kakek tua, dan sekali lagi Sidya heran bagaimana mereka tidak menderita sakit atau apa setelah jongkok lama dengan tubuh yang kelihatannya ringkih dan sudah terbang begitu kena angin kencang itu.

“Itu urusanku, dan dengar siapa yang mengejek soal umur. Kau sendiri sudah tua, Bangkotan. Gelarmu mengandung kata “Renta” bukan tanpa alasan.”

“Jangan memanggilku bangkotan!”

“Kau tidak semarah itu saat Sidya memanggilmu bangkotan, Bangkotan.”

Tanpa peringatan, tanpa diduga tanpa dinyana, Si Nenek melayangkan pukulan yang begitu cepat sampai Sidya melihatnya hanya sebagai kelebatan, tepat menuju wajah Hikram. Yang dipukul menepis dengan sama gesitnya seolah sudah bisa menduga bahwa si nenek telah mengincarnya, lalu menjauh menuju sungai. Si kakek tak tinggal diam, ia mulai membantu. Orang tua yang dipanggil Pandir Barat itu mendorongkan tangan, yang walau tak menyentuh tubuh Hikram sama sekali membuatnya mundur sekian langkah sampai ia hampir terjengkang ke arah sungai. Sidya merasa ia diterpa oleh angin malam yang segar, sepertinya bersumber dari kedua belah tangan si kakek walau ia tak melihat apapun keluar dari telapaknya.

“Wah, wah, dorongan bertenaga penuh. Kalian berniat membunuhku, ya?” tanya Hikram setelah keseimbangannya kembali. Badannya siap dalam kuda-kuda bungkuk depan, lengannya telah siaga entah sejak kapan.

Si nenek tak menjawab. Ia menarik kedua buah pedang miliknya dari sarung yang berada di pinggang dengan satu gerak luwes. Ia melakukan serangkaian gerak serupa tari dengan senjata tersebut, yang mengeluarkan denging menakutkan setiap kali digerakkan. Percik-percik mirip kembang api pun pasti selalu menarik perhatian siapapun yang memandangnya sekarang.

 Si nenek mengangkat kaki kanannya, kemudian baru akan melanjutkan unjuk jurus sekali lagi tepat ketika ia merintih kesakitan, membuat pamernya gagal total. Ia mendadak terbungkuk, kedua pedangnya tergantung lemas sementara mulutnya mengeluhkan rasa sakit yang menyergap punggung.

Si kakek yang kelihatan cemas mulai mendekat dan mengelus punggungnya, sementara Hikram ketawa mengejek, “makanya jangan kebanyakan gerak, Renta! Punggungmu nanti lepas baru tahu rasa!”

Nenek Waskita Renta, begitu sang kakek mengurut punggungnya, langsung dapat bergerak dan tidak berlama-lama berkelebat ke arah Hikram, merubah tawa Hikram menjadi jerit kecil. Hikram melarikan diri ke arah sungai, melompat dari satu batu ke batu yang lain. Si nenek tanpa ragu mengejar dengan lincah seolah keluhannya tentang sakit punggung tadi hanya isapan jempol belaka demi membuat Hikram tak waspada. Si kakek tua hanya tersenyum tolol melihat dua orang itu melakukan semacam aksi kejar-kejaran, yang makin lama makin cepat, makin lama makin membuat Hikram kewalahan menghadapi kilatan-kilatan kedua senjata si nenek yang menusuk menyabet secepat petir.

Hikram menjadi heran, setelah menghadapi serang belasan jurus. Si Nenek selalu melakukan gerak yang begitu berbeda satu sama lain, tak pernah sekalipun sama. Seolah dia ingin menunjukkan keahliannya dalam seni pedang ganda, sekaligus unjuk jurus beladiri yang sangat Hikram kenali sebagai Selaksa Kilat Setrasutra yang melegenda. Si nenek telah menggunakan ini berkali-kali untuk menghadapi banyak pendekar dari berbagai perguruan, semua takluk dan akhirnya bertekuk lutut, mengakui keunggulan wanita tua dengan Gelar Waskita Renta.

Hikram sudah tahu kemampuannya, bahkan bisa dibilang paham sampai akar setengah dari keseluruhan pokok Selaksa Kilat Setrasutra karena telah diajarkan oleh mendiang gurunya yang tak lain dan tak bukan adalah anak kandung dari si nenek sendiri. Jadi buat apa?

“Hei Renta!” Hikram berteriak kalut ketika sebuah sabetan yang mengancam mukanya berhasil ia hindari, terlambat sedikit dan pipinya akan berhias codet nantinya,“jangan terlalu serius! Kita kan cuma uji diri? Kau mau membinasakan cucu muridmu sendiri?”

“Aku harus menunjukkan semuanya sampai rangkai jurus yang terakhir, Hikram!”

“Pada siapa, Renta? Aku sudah bosan nonton yang beginian saat berlatih dengan anakmu! Mau pamer pada Sidya? Dia tidak akan bisa melihatmu!” Hikram berhenti menghindar dari si nenek, menempatkan diri tepat di tengah-tengah sungai sementara kedua tangannya menunjukkan tanda menyerah, “kau terlalu cepat bergeraknya! Lagipula terlalu gelap untuk dia menonton, ‘kan?”

Si nenek berhenti. Dia menggelengkan kepala dan menggumam-gumam sendiri. Kemudian, dia kembali ke hadapan Sidya dengan dua-tiga lompatan yang Sidya yakin tak akan bisa dilakukan oleh orang tua biasa. Hikram mengikutinya setelah memastikan si nenek sudah menyarungkan kedua senjatanya yang berbahaya.

“Ap-apa maksud Nenek tentang menunjukkan jurus? Buat apa?” Sidya bertanya pada si orang tua yang kali ini menatapnya.

“Aku ingin tahu apakah anak yang manis tertarik dengan jurus-jurusku. Aku ingin menjodohkanmu dengan cucuku! ” Si nenek berkata lantang, membuat Sidya sekaligus Hikram teramat kaget dibuatnya.

---