Episode 239 - Gendongan


Balaputera Gara memacu langkah. Jauh di hadapan, Balaputera Vikrama, Balaputera Indravarma dan Balaputera Vikatama mendaki cepat. Siapa menyangka bahwa ketiganya memiliki kesaktian unsur angin dalam menopang kecepatan gerak langkah. Mereka terlihat melompat-lompat ringan dari satu bongkah batu besar, ke bongkahan batu besar berikutnya. 

Kendatipun demikian, pengalaman tak bisa dibohongi. Betapa pun cepat mereka melesat, Bintang Tenggara bergerak jauh lebih gesit lagi. Setiap langkah yang ia ambil adalah lugas dan lincah. Tidak ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia. Sedikit demi sedikit, ia terlihat memperpendek jarak. 

Di samping itu, berbekal mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 11, Bintang Tenggara memiliki cadangan tenaga dalam yang cukup banyak. Dengan kata lain, anak remaja tersebut mampu menggunakan langkah petir jauh lebih lama dari yang dapat ia kerahkah selama ini. Meski menghasilkan lintasan yang tiada beraturan, namun kecepatannya tiada mencerminkan seorang ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu. 

Hari jelang siang. Matahari sebentar lagi akan mengangkasa di atas kepala, mengubah cuaca di lereng gunung. Yang tadinya adem, matahari sudah mulai menyalurkan panas nan terik ke seantero wilayah. Akan tepai, medan berat di wilayah lereng gunung bukan menjadi hambatan yang bermakna bagi ahli-ahli muda para bangsawan Wangsa Syailendra. 

“Duar!” 

Tetiba sebongkah batu meledak, lalu disusul oleh ledakan-ledakan susulan secara berutun! Bongkahan-bongkahan batu kerikil kecil melesat ke semerata arah dan kepulan debu membumbung tinggi. Ketiga remaja lelaki dari Kadatuan Kesatu cukup sigap dalam menghindar. Mereka lalu bergerak menyebar, menghindari perangkap-perangkap yang telah terpasang, kemudian kembali melesat cepat. 

Masih terpaut jarak sekira lima ratus meter, Bintang Tenggara sudah tak lagi mengerahkan Bentuk Pertama: Utkatasana dari jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra. Ia hanya menjaga jarak, dan mengambil jalur yang persis sama dengan ketiga remaja di hadapan. Hal ini dilakukan agar dapat mengekor dalam jarak aman. Sesuai perkiraan, di lereng gunung ini banyak tersembunyi perangkap yang telah disiapkan oleh pihak panitia Hajatan Akbar Pewaris Takhta.

“Duar!” 

Di luar perkiraan Bintang Tenggara, tempat berpijak yang ia yakini aman tetiba meledak. Anak remaja tersebut terpaksa kembali mengerahkan jurus unsur kesaktian petir demi menghindari ledakan-ledakan susulan. Segera dapat ditarik kesimpulan bahwasanya ranjau-ranjau yang dipersiapkan dapat berpindah-pindah tempat. Selintas, Bintang Tenggara dapat merasakan keberadaan formasi segel. 

Sungguh unik…, batin Bintang Tenggara. Ledakan disebabkan oleh formasi segel yang dipasang pada permukaan tanah dan posisinya pun dapat berpindah-pindah. Baru ia sadari bahwa penerapan formasi segel sangatlah luas dan hampir tiada terbatas. Sangat disayangkan bilamana ia tak dapat melanjutkan pendidikan di Perguruan Svarnadwipa, karena mendapat ancaman jiwa dari Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma. 

Bagaimanakah gerangan keadaan Nenek Sukma dan Lintang Tenggara saat ini?

Bintang Tenggara melanjutkan langkah. Kini disadari bahwa menjaga jarak aman dengan ketiga ahli di depan tiada terlalu bermanfaat. Dengan demikian, adalah lebih baik membalap mereka. Anak remaja itu pun melesat cepat. 

“Vikatama… Balaputera Gara sedari tadi hanya menjaga jarak aman.” 

“Benar.” 

“Kini ia sudah mulai mempercepat langkah,” sela remaja ketiga. 

Ketiga remaja perwakilan dari Kadatuan Kesatu cukup mawas diri. Mereka sudah mengetahui bahwa Bintang Tenggara sengaja tiada menyusul. Di samping itu, meski memiliki bakat dan kemampuan jauh di atas rata-rata, mereka bukanlah remaja yang mudah meremehkan lawan. Sebagai anggota keluarga besar Kadatuan Kesatu, adalah nilai kearifan yang ditanamkan sedari belia. 

“Kecepatannya sungguh tiada mencerminkan ahli Kasta Perunggu,” Balaputera Vikrama melanjutkan. 

“Apakah kita akan menjegal, atau membiarkan saja…?” sela Balaputera Indravarma. 

“Kita serahkan pada keadaan… Bilamana ia menyerang, maka kita tumpas. Bilamana tidak, maka kita dapat melangkah berdampingan.”

“Hrargh!” 

Tetiba, berdiri tegak dan garang, adalah seekor binatang siluman bertubuh besar! Seketika itu juga, ia mengibaskan lengan dan menyapu ke arah ketiga remaja. Sontak mereka melompat mundur. Di saat yang sama, lima ekor bintang siluman lain, yang memiliki kekuatan ahli setara Kasta Perak mengemuka! 

Pertarungan segera berkecamuk. Balaputera Vikrama, Balaputera Vikatama dan Balaputera Indravarma yang tadinya melesat hampir tanpa hambatan, kini dicegat. Segera mereka merapal formasi segel yang berwujud sebagai senjata nan perkasa. 

“Sekawanan Babun Rambut Hutan…,” gumam Bintang Tenggara sambil menghentikan langkah. Ia masih terpaut jarak sekira seratus langkah dari ketiga remaja di hadapan. Kini, ia sedang mempertimbangkan apakah membantu perlawanan ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu. Lima ekor binatang siluman Babun Rambut Hutan berhadapan dengan tiga remaja membuat mereka sedikit kewalahan. 

“Dum! Dum! Dum!” 

Bintang Tenggara sontak menoleh ke arah belakang. Ia menyaksikan ledakan-ledakan kecil yang beruntun. Bongkahan kerikil berhamburan dan debu membumbung. Apakah para remaja di belakang telah menyelesaikan urusan mereka dan menyusul? Kemudian menginjak ranjau-ranjau yang berpindah-pindah posisi? 

Akan tetapi, walau terdengar lebih pelan adanya, masih saja ledakan-ledakan tersebut terus berlanjut. Aneh, padahal ranjau yang tadi dilewati paling banyak hanya menciptakan lima ledakan beruntun. Apakah ranjau selain dapat berpindah, juga mampu bertambah jumlah?

“Swush!” 

Dari gumpalan debu, tetiba menyeruak keluar seorang remaja lelaki yang hanya mengenakan cawat berukuran mini. Seekor ular besar yang merupakan wujud formasi segel melingkari tubuhnya. Setiap ia menjejakkan kaki ke tanah, maka tercipta ledakan yang melontarkan tubuhnya cepat ke hadapan. Bilamana diperhatikan dengan seksama, maka langkah kaki ini sangat mirip dengan langkah kaki binatang siluman Harimau Bara bilamana dalam sikap berburu. 

“Balaputera GARAAAAAAA!” teriak Balaputera Naga mamasang tampang teramat kesal, bahkan seperti hendak bertarung.

Di belakang Balaputera Naga, juga menyeruak dari gumpalan debu, adalah gadis bertubuh bongsor Balaputera Saratungga. Sama seperti rekan dari Kadatuan Kedelapan di depannya, setiap kali menjejakkan kaki maka tercipta ledakan yang melontarkan tubuh ke depan. Kini dapat dipastikan, bahwa sepasang muda-mudi dari Kadatuan Kedelapan tersebut memiliki kesaktian unsur api! 

Akan tetapi, bukanlah teriakan kesal Balaputera Naga dan lompatan mirip Harimau Bara yang membuat Bintang Tenggara terpana. Bukan. Yang membuat Bintang Tenggara sampai menganga… adalah seorang remaja lelaki yang menempel di balik punggung Balaputera Saratungga. Ia tersenyum bangga di kala mendapati keberadaan Bintang Tenggara. 

“Wara…?” Sulit bagi Bintang Tenggara mempercayai pandangan kedua bola matanya sendiri. Balaputera Prameswara terlihat sungguh gembira karena digendong di belakang. 

Tak berselang lama, menyeruak lagi dari kepulan debu, adalah dua gadis belia. Bintang Tenggara segera mengenali mereka yang berasal dari Kadatuan Keempat dan Kadatuan Keenam. Kedua gadis belia tersebut tentunya adalah Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita. Sorot mata mereka tajam mengincar Balaputera Saratungga yang menggendong Balaputera Prameswara! 

Perlombaan seperti apakah ini!? batin Bintang Tenggara setengah tak percaya. Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga masih menepati kesepakatan kerja sama dengan menjaga si saudara sepupu yang cedera, meski telah ditinggal pergi. Di lain sisi, Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita dibalut amarah cemburu buta! Balaputera Prameswara terombang-ambing digendong, kepalanya bergerak ke depan dan ke belakang. 

Bintang Tenggara kembali melontar pandang ke hadapan, ketiga perwakilan dari Kadatuan Kesatu masih belum dapat melepaskan diri dari sergapan kawanan binatang siluman Babun Rambut Hutan. Ketika kembali menoleh ke belakang, jarak yang memisahkan dirinya dari Balaputera Naga nan terlihat demikian kesal hanya tinggal sekira dua ratus langkah. 

Bintang Tenggara melompat ke sisi lereng! Ia telah memutuskan untuk tak membantu peserta dari Kadatuan Kesatu di hadapan, di saat yang sama harus berkelit dari Kadatuan Kedelapan di belakang. Keputusan jatuh pada rute memutar. Meski akan menempuh jarak yang lebih jauh dan kemungkinan waktu yang lebih panjang, adalah lebih bijak untuk menghindar dari mereka! 

Membuka jalur sendiri, Bintang Tenggara melesat cepat. Ia menuruni tebing terjal. Segel Penempatan telah terpasang di tempat-tempat strategis dan ia pun tiba di bawah tebing. Semak belukar tumbuh sesak, akan tetapi tiada dapat menahan langkah petir. Ia pun menghilang dari pandangan mata. 

Balaputera Naga menghentikan langkah ketika tiba di tempat dimana Bintang Tenggara tadinya termenung. 

“Apa yang saudara sepupumu perbuat!? Bukankah lebih baik bilamana kita berkumpul bersama!?” hardik Balaputera Naga. 

Balaputera Prameswara di atas gendongan menelan ludah. Bagaimana mungkin seseorang tak melarikan diri bilamana dipanggil dengan teriakan yang demikian menyeramkan? “Balaputera Gara akan mengambil peran sebagai pencari jejak. Kita teruskan langkah. Nanti pastinya akan bertemu lagi di hadapan.” 

“Benarkah…? Diriku lebih cocok mengemban peran itu!” sahut Balaputera Naga. 

“Tiada waktu mempermasalahkan hal sepele!” sela Balaputera Saratungga. “Kedua gadis di belakang sebentar lagi menyusul. Diriku berfirasat buruk…”

“Betul! Firasat buruk!” Sebulir keringat mengalir di pelipis Balaputera Prameswara. Padahal, sejak titik permulaan Tantangan Kedua ini, remaja tersebut sama sekali tiada mengerahkan tenaga. Digendong di belakang adalah kegemaran terbarunya. 

“Kita akan menembus kawanan binatang siluman di hadapan!” Demikian, Balaputera Naga melompat cepat. 

Ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu sedari tadi sudah berada di atas angin. Bagaimanapun juga, sekawanan binatang siluman tersebut bukanlah lawan yang sulit dihadapi bilamana mereka bertarung dengan sepenuh hati. Mereka adalah murid-murid tauladan dari Perguruan Svarnadwipa yang sangat terlatih. Menunggu kesempatan, maka ketiga remaja sebentar lagi akan melepaskan diri.

Tetiba Balaputera Naga melompat membelah kawanan binatang siluman yang mulai terdorong mundur. Kehadirannya yang membahana karena menciptakan ledakan-ledakan dalam melompat, membuat kawanan binatang siluman panik. Kepanikan binatang siluman bukanlah petanda baik, karena mereka akan mengamuk membabun buta, melibaskan lengan-lengan besar nan panjang khas kera. 

Menyadari akan kepanikan kawanan binatang siluman dan kehadiran Balaputera Naga yang membalap, ketiga peserta dari Kadatuan Kesatu sontak berkelit. Mereka lalu secepatnya meninggalkan kawanan binatang siluman dan melesat cepat. 

Balaputera Saratungga pun berniat menerobos kawanan binatang siluman. Di dalam kemelut kepanikan, sebelah lengan besar menyapu ke arahnya. Sontak ia merunduk dalam upaya menghindar. Akan tetapi, ia terlupan akan satu hal, bahwasanya ia sedang menggendong seseorang yang sedang menderita cedera di pergelangan kaki…

“Brak!” 

Lengan besar menyapu tubuh Balaputera Prameswara yang sedang digendong belakang. Di saat-saat genting, remaja lelaki itu sempat memasang formasi segel pertahanan. Akan tetapi, kekuatan hantaman membuat pegangan Balaputera Saratungga terlepas, dan Balaputera Prameswara terpental jauh… jauh sekali ke belakang, sampai sekira seratus langkah!

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita serempak memacu langkah! 

Balaputera Prameswara terpental pasrah. Akan tetapi, di kala ia berpikir akan jatuh tergolek menghantam tanah, tetiba tubuhnya merasakan kelembutan dan kehangatan secara bersamaan. Harum semerbakpun menggelitik indera penciuman, ibarat dibuai ayunan taman nirwana. 

Balaputera Prameswara sukses disambut oleh kedua gadis belia di belakang. Dari gendongan, tubuh Balaputera Prameswara kini berpindah kepada dekapan! 


“Apa yang ia perbuat!?” sergah Datu Besar Kadatuan Keempat berang. Tatapan matanya tak lepas dari layar yang mengangkasa, yang kini menampilkan kejadian tak lazim. Kata-katanya mengacu kepada Balaputera Citaseraya, anggota keluarga Kadatuan Keempat yang terlihat jelas membantu lawan dari Kadatuan Kesembilan. 

“Cih!” dengus sang Datu Besar Kadatuan Keempat sambil bagkit berdiri, kemudian melangkah cepat menuju tribun kehormatan Kadatuan Kedua. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua, Kakak Balaputera Wrendaha…”

Datu Besar Kadatuan Kedua masih melipat tangan di depan dada. Ia hanya melirik sepintas, tiada hendak menggubris. 

“Pembunuh bayangan yang kita upah tampaknya gagal menghabisi putra dari Ragrawira…,” bisik Datu Besar Kadatuan Keempat. 

Dalam hati Balaputera Wrendaha mencibir. Tentu saja pembunuh bayangan itu tak akan menghabisi Balaputera Gara. Pembunuh bayangan yang ia sarankan kepada Datu Besar Kadatuan Keempat, pada kenyataannya ibarat anak angkat bagi Balaputera Ragrawira. 

Selama ratusan tahun berupaya menelusuri jejak Balaputera Ragrawira, Balaputera Wrendaha menemukan sebuah pola, bahwasanya si hantu jenius itu kerap berkunjung ke Gunung Kahyangan Narada. Sejak belasan tahun belakangan, diketahui bahwa Balaputera Ragrawira meluangkan waktu setidaknya tiga sampai empat kali dalam setahun demi mendatangi Padepokan Kabut. Penelusuran lebih lanjut, menguak kenyataan bahwa terdapat seorang gadis belia bernama Embun Kahyangan yang rutin disambangi. 

Siapakah Embun Kahyangan? Seorang gadis yatim piatu tanpa latar belakang yang jelas. Dari mana ia memperoleh Selendang Kabut Kahyangan yang diketahui sebagai salah satu Senjata Pusaka Baginda? Semakin dalam penyelidikan terhadap Balaputera Ragrawira, maka semakin banyak misteri-misteri lain yang tak terpecahkan! 

“Peristiwa Balaputera Gara terjatuh ke dalam sumur adalah di luar perkiraan kita…” Akhirnya sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua menanggapi. Setidaknya kali ini ia tiada berbohong, karena siapa yang dapat menyangka hal tersebut akan terjadi. 

Datu Besar Kadatuan Kedua mengangguk gugup. “Balaputera Gara itu… saat ini berada di posisi terdepan…” 

“Hmph… Apakah buta matamu!? Posisi terdepan saat ini adalah Balaputera Naga. Balaputera Gara menempuh jalur memutar yang lebih jauh dan lebih sulit!” 

Balaputera Wrendaha kembali menatap layar tinggi di udara, terlihat bahwa Bintang Tenggara cukup kewalahan menembus semak belukar yang tumbuh lebat.