Episode 9 - Intermeso - Ancaman


Sidra merasa bertahta menguasa atas dunia, meskipun baru secuil tanah dikuasai. Kalau kekuasaan memang sebegini memabukkan, Sidra rela menanggung berat siksa Hakim Barzah selaksa musim lamanya asalkan menjadi sang penguasa dunia setelahnya.

Memang perasaan ini memabukkan, terancam mampu menenggelamkan lurusnya jalan pikiran, mengacaukan rapi susunan rencana-rencananya. Tapi tetap, Sidra menikmati perasaan ini barang sementara. Lagipula, setelah bertahun-tahun mengasah keahlian serta menyusun semua, menikmati perasaan bahwa langkah awalnya meraih keberhasilan merupakan sebuah hal yang jutaan kali lebih baik daripada minuman keras dari Kahyangan sekalipun.

Salah satu anak buahnya yang bergelar si Bandit Emas telah dikirim jauh-jauh hari untuk merusuh sisi terluar Nagart, bersama dengan para kroco-kroconya yang banyak, semua teruji beringas. Dulu mereka hanyalah rampok sederhana di gurun Godi wilayah Protektorat, belum ada gunanya bagi Sidra yang berambisi meluaskan kekuasaan. Kini, mereka menjadi pasukan depan yang cukup berguna. Surat-surat yang dikirim bandit rendah itu selalu mengabarkan hal positif, mulai dari pengrusakan tembok panjang Nagart ataupun perampokan desa-desa terluar, membuat Sidra makin senang dibuatnya. Dia tahu bahwa pertahanan Nagart sedang lemah-lemahnya akibat invasi terus-menerus selama beberapa generasi ke negeri luar. Butuh waktu berpuluh tahun lamanya untuk mengembalikan kekuatan Nagart kembali seperti sediakala. Koloni-koloninya di tanah jajahan, dari mulai sebagian kecil daerah yang dulu milik Jaffar serta bagian besar stepa pun menahan potensi pemberontakan semata karena kombinasi antara taktik politik serta keberuntungan. Pembentukan Legiun Asing adalah salah satu contoh mutlak manuver cerdas. Mereka yang memiliki kemungkinan untuk berontak atau memiliki sejarah dengan orang-orang yang melawan Nagart dahulu ditarik dari asal, diangkat derajatnya di kota-kota terdalam Nagart sehingga enggan untuk melepaskan semua kehormatan yang pasti dari pandangan mereka dianggap sebagai kehormatan teramat besar.

Sidra tahu rahasia ini, dan sedang memanfaatkannya baik-baik demi ambisi.

 Tapi, tak ia sangka akan semudah ini. Pedangnya yang berwujud Si Bandit Emas telah efektif melesak ke wilayah penting Nagart, membakar dan menghancurkan apapun yang menghalangi, memudahkan jalan Sidra kelak. Terakhir, ia dengar mereka sedang merusuh di daerah yang berjarak ratusan li dari Sanfeilong, makin dekat menuju jantung Nagart sendiri.

Kalaupun akhirnya mereka disapu habis oleh orang-orang kampung halamannya, mereka hanya akan mengira bahwa si Bandit melakukan semua itu karena inisiatifnya sendiri, bukan suruhan Sidra. Tak lain karena nama Bandit Emas sudah jelek akibat kebrutalannya dalam membantai para pedagang yang berpapasan dengannya di jalan berpasir Protektorat. Lagipula, salah satu Gelar Sidra sudah dipastikan bisa meminimalisir kebocoran informasi, beruntunglah ia.

Semua sudah sesuai rencana.

Sidra mengusap kursi tahta yang dihadiahkan oleh kepala kota sebelah. Si kepala kota sendiri kini tengah membungkuk-bungkuk penuh kepasrahan untuk menarik perhatian Sidra, mulutnya komat-kamit mempromosikan keapikan upeti tersebut meski Sidra terkesan tidak mengindahkannya. Bahkan, si kepala kota berkenan untuk menggunakan bahasa Nagart alih-alih bahasanya sendiri, semata untuk menyatakan bahwa ia tidak main-main.

“… dari bahan terbaik, Yang Mulia. Saya mengawasi sendiri bagaimana lentik jari gadis-gadis penenun sangat berhati-hati dalam memintal alasnya, yang didapat tak kurang dari hasil perburuan serigala raksasa berbulu merah yang memakan waktu seratus hari …”

Sembari setengah mendengarkan, Sidra mengetes kekuatan kaki-kaki kursi dengan ketukan jari. Masih berdiri dan tidak melapuk di dalam, padahal ia mengerahkan sedikit hawa murni. Menilik dari warna dan tekstur kayunya, tentu bahan utama benda itu bukan berasal dari stepa yang isinya hanya rerumputan dan bukit sejauh mata memandang. Kursi itu lumayan, walau tentu saja tidak seindah apalagi sekuat singgasana yang diduduki kakaknya di Istana Giok. Cukuplah untuk saat ini.

Saat ini mereka berada di kemah Sidra, yang didirikan tepat di tengah-tengah kota dagang Tiansheng yang berhasil Sidra taklukkan setelah menghabisi perempuan kusut bergelar Dewa Gembala Kolong Langit. Memang orang-orang stepa jarang sekali mendirikan hunian tetap, memilih hidup berpindah-pindah sesuai dengan alur musim. Kota dagang macam Tiansheng ini didirikan oleh orang-orang luar stepa, yang memilih tinggal sebagai pedagang yang membeli kerajinan tangan serta kuda-kuda bagus dari para nomad lalu menjualnya di tempat lain.

Sidra paham bahwa orang stepa tak senang jika dipimpin oleh orang luar sepertinya, maka dari itulah Sidra mengikuti kebiasaan mereka sedikit demi sedikit untuk menarik hati mereka. Ya, meskipun kemah yang dimilikinya tentu jauh lebih mewah daripada orang stepa biasa. Alih-alih hasil pintalan bulu domba yang berwarna polos, sutra halus berwarna-warni menempati setiap sudut. Tombak-tombak dari baja terbaik didirikan di rak senjata sebagai pajangan, dan satu zirah besi berpelat yang langsung didatangkan dari Brytisia berpendar di pojokan, tepat di samping jalan masuk tenda, tempat dua orang pengawal pribadi yang baru saja dipromosikan oleh Sidra berdiri berjaga dengan tampang masam.

“… ukirannya dibentuk dengan alat ukir besi impor yang terkenal akan ….”

“Bagus,” Sidra memotong cerocosan si kepala kota yang dengan segera patuh mengunci mulut. Sidra berpaling pada dua anak buahnya yang sedari tadi membisu. “Tempatkan kursi tahtaku ini di tempat yang semestinya. Kursi lama itu buanglah saja.”

“Saya senang sedikit ungkapan rasa persahabatan kami diterima dengan baik,” si kepala kota bicara lagi selagi kursi Sidra diatur tempatnya, membuat telinga Sidra jadi gatal bukan main akibat suaranya yang menjemukan. Sesuai perintah, kursi lamanya diangkut keluar tenda. Dijual atau dibakar, Sidra tak mau ambil peduli.

Sidra terkekeh pelan menanggapi ucapan yang menurutnya konyol itu, wajahnya berpaling pada si kepala kota. “Apakah dua ribu prajurit bersenjata lengkap yang dikirim untuk menghabisiku serta seorang pemegang Gelar yang mendatangiku di kelam malam untuk menggorok leher juga merupakan ungkap rasa persahabatan kalian, Kepala Kota?”

Mulut si kepala kota terkunci lagi. Sidra bisa lihat wajahnya yang berubah pucat pasi. Sidra tahu benar apa penyebab air mukanya jadi mirip susu basi begitu. Pasti karena ia tahu bahwa abu yang ditebar di batas kota merupakan abu para prajuritnya, serta kepala yang menancap di tombak, di tengah-tengah kota dekat kandang kuda merupakan kepala si almarhum Jago Pisau Tersembunyi yang telah dikalahkan.

Sidra menghabisi mereka semua dengan mudah. Ia hanya perlu memanggil Neraka lagi untuk membakar semua prajurit, yang langsung hancur menjadi abu tak bersisa, senjata mereka tiada guna.

Dan walaupun si Jago Pisau Sembunyi memberikan perlawanan yang cukup menarik, terutama dengan permainan pisau serta mantra-mantra kuno stepanya, pada akhirnya Sidra mampu memisahkan kepalanya dari badan. Pengetahuannya yang tinggi tentang cara Gelar bekerja sangat membantu Sidra memahami bagaimana mematahkan perlawanan lelaki kecil yang memiliki Gelar sebagai Jago Pisau Sembunyi itu. Ia hanya perlu bertahan hidup pada serangan awal saat si Jago Pisau keluar dari Sembunyi-nya, kemudian setelah itu baru menghancurkannya secara frontal. Ketika sudah kehilangan tempat Sembunyi, Si Jago Pisau tak lebih dari seorang pemotong lemak kuda yang dipersenjatai pisau daging; kemampuan beladirinya bukan apa-apa dibanding Sidra. Si Jago Pisau pun hanya menguasai mantra kuno secara amatir, ia mempelajari semua itu dengan setengah-hati sehingga tidak mendapat Gelar apapun atas usahanya menguasai mantra. Walhasil, perisai yang dirapalkannya runtuh dengan mudah. Belakangan Sidra jadi yakin hanya dengan bersin sekalipun ia sudah mampu merontokkan pertahanan tingkat rendah seperti itu, tak perlu dengan sapuan tinju.

Sementara Sidra masih tersenyum menghina, si kepala kota yang pastinya telah mendapat pelatihan diplomasi segera menekuk lutut dalam posisi sembah, bibirnya tak diragukan lagi hampir menempel dengan karpet seiring dengan sujud yang tiba-tiba, “Beribu maaf atas kelancangan kami. Mana kami tahu bahwa pemilik pangkalan dagang Tiansheng yang sekarang merupakan seorang yang begitu perkasa? Ketidaktahuan melahirkan pertanyaan, maka mereka dikirim sebagai pencari jawaban. Diharap Yang Mulia tidak tersinggung.”

Mata merah Sidya menatap kakek membosankan yang mengiba-iba itu.“Terus terang saja, aku memang tersinggung.” Pelan-pelan Sidra mengangkat lalu mengawasi tangannya, membolak-balik untuk memeriksa kuku jari. Kukunya yang panjang ada satu yang patah, dikarenakan beradu kuat dengan besi dingin mustika si Jago Pisau Tersembunyi yang teramat tajam, sebelum akhirnya kuku Sidra merobek perisai lalu tenggorokannya. “Tapi, kalian boleh membayar ketersinggunganku dengan kepatuhan penuh padaku.”

“Sebelum anda memerintahkan pun kami telah mempersiapkan—”

“Dan nyawamu.”

Kali ini tangan si kepala kota menegang sesaat, walau ia masih dalam posisi menyembahnya.

“Maaf?”

“Nyawamu, Orang Tua. Dan bukan itu saja. Aku ingin nyawa lima kepala kota lainnya yang merencanakan semua. Aku tak bisa rela jika suatu saat terbersit pemikiran untuk melakukan hal yang bukan-bukan lagi di tempurung kepala kalian yang sangat kecil. Mulai hari ini, aku yang akan memilih siapa yang menjadi kepala kota bagi Tiansheng, Hainun, dan kota-kota stepa lainnya.”

“Mohon Yang Mulia pertimbangkan—”

“Tidak.”

Begitu saja, sangat biasa dan pendek. Namun, semua yang berada di dalam sana langsung tahu bahwa ada nilai lebih dalam ucapannya. Ciri khas sesuatu yang sering disebut orang Nagart sebagai Ilmu Titah, dan celakanya ini bukan milik bangsawan biasa, melainkan dari tingkat yang teramat tinggi.

Pria tua yang sedari tadi memperjuangkan ampunan mengejang, seolah sedang ada pertarungan di batinnya atau mungkin memang begitu. Rasa lemas menjalari sekujur badannya yang memang telah renta, seolah tenaga tubuh sedang disedot oleh kekuatan tak nampak. Ia bangkit susah-payah dari posisinya, kali ini dalam gerak menggelikan seperti bayi kecil yang baru mau belajar merangkak.

“Ada lagi yang ingin kau katakan?”

“Masih ada. Beberapa … beberapa baris kata. Kalau memang aku harus mati,” jawab Kepala Kota dengan suara bergetar, menanggalkan semua kesopanan palsunya.

 Tangannya yang gemetar hebat melempar sesuatu yang dirogohnya dari sela pakaian. Sebuah surat tergulung, yang tepat mendarat di depan kaki Sidra. Putus-putus, suara mirip orang tercekik muncul dari mulut kepala kota, lidahnya yang biasa bermanis kata kini terbata-bata, “Kami akui memang kami telah ditaklukkan, Nagart pun belum berkenan untuk turun gelanggang menumpasmu … tapi Khan(1) … Khan … tak a-akan terima. Putra-putri Tanah Stepa yang dipimpin Khan sendiri akan meremukkanmu habis-habisan dengan tapal tunggangan sebelum mengirimmu ke dunia bawah; mereka akan datang begitu cepat laksana bintang jatuh dari Langit!”

Sidra meluruskan rambut putihnya yang panjang sebelum meraih surat yang masih tergulung rapi. Dia membaca cepat, lalu tertawa lantang. Sejenak tenda berderak seperti ada yang mengganggu pasak-pasak pondasinya. Para pengawal pribadi Sidra bergerak tak nyaman setelah menyaksikan sendiri demonstrasi kekuatan di luar nalar itu.

“Lucu sekali surat ancaman ini. Untuk informasi saja, Orang Tua, aku memang sedang menunggu pengadilan Khan itu seperti apa, aku telah menantikan kedatangannya! Kalian sudah digilas Nagart sampai remuk menjadi pengais remah-remah kejayaan kami. Masak dia mau mengulangi lagi sejarah pahit yang dialami oleh ayahnya? Oh, ya, surat ini hanyalah dagelan tanpa arti apa-apa bagiku, jadi aku tidak takut.” Pelan-pelan Sidra mengalihkan pandang pada para pengawal. “Seret lelaki bau tanah ini pergi, aku sudah bosan mendengar ocehannya.”

Sidra bahkan tak menyisakan sedikit perhatian pun pada si kakek yang segera digotong pergi, tak diragukan lagi dibawa ke tempat pemancungan yang berada di dekat pusat kota agar bisa dilihat orang banyak sebelum dipenggal kepalanya. Ia mengelus-elus dagunya yang mulus tanpa rambut, masih menatap perkamen yang digenggamnya. Perlahan, sangat perlahan, mulai muncul api dari ujung jari telunjuk Sidra, yang kemudian ditusukkannya ke perkamen itu dengan penuh dendam, seakan dia memiliki kebencian pribadi terhadap surat tersebut. Api menyebar dengan cepat, memusnahkan surat itu menjadi gundukan abu yang jatuh begitu saja tanpa arti.

Setelah itu, Sidra akhirnya duduk bertakhta di singgasana baru yang telah diatur tempatnya, dan kembali menikmati perasaan berkuasa atas segalanya. Setengah stepa telah jatuh. Kini, saatnya meluaskan pandangan ke Protektorat, sembari menunggu Sang Khan turun tangan.


--


 (1). Khan merupakan Gelar bagi pemimpin orang-orang yang tinggal di tanah stepa. Di dunia kita sendiri, keberadaan mereka bisa kita lacak di buku-buku sejarah, seperti Kubilai Khan yang ingin meluaskan kekuasaan sampai ke pulau Jawa(dan gagal), atau Jenghis Khan yang berekspedisi sampai ke Timur Tengah.