Episode 29 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)


Para pengawal di Kademangan kaget bukan main ketika tiba-tiba belasan mayat-mayat hidup itu mendobrak pintu gerbang kademangan, dengan sigap mereka hendak meringkus para zobie itu, tapi dengan mudahnya para zombie itu mencekik mereka semua sehingga semuanya mati, mereka semua mati tanpa sempat memukul titiran tanda bahaya, dan memang pergerakan para zombie itu tak bersuara sehingga orang-orang didalam rumah Kademangan tidak ada yang tahu kedatangan mereka.

Zombie-zombie itu merengsek masuk kedalam rumah, salah satu zombie itu masuk kedalam kamar Sri, ketika gadis itu sedang tertidur pulas, zombie itu hendak mencekiknya! Untunglah karena gerakan si Zombie itu yang relative lambat, Sri keburu membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat sesosok mayat hidup hendak mencekiknya! Maka menjeritlah gadis ini sekencang-kencangnya! 

Galuh terbangun mendengar jeritan Sri, ketika dibukanya matanya ia sudah dikepung oleh beberapa zombie, ia pun segera bangun dan bersiap-siap memasang kuda-kudanya. Ia langsung menyerang para mayat hidup itu, tapi percuma, ia hanya bisa membuat para zombie itu jatuh tersungkur, mereka langsung bangkit lagi tanpa terluka apa-apa! 

Sementara itu satu zombie masuk kedalam kamar Ki Demang, ketika Zombie itu hendak mencekik Ki Demang, Ki Demang dan istrinya pun terbangun, mereka kaget setengah mati melihat zombie tersebut. “Astagfirullah Aladzim! Sungguh keji Ki Wikuyana memanfaatkan jasad orang-orang yang sudah mati untuk membunuhku!” keluhnya.

“Istriku tutup hidungmu dan tahan nafas!” Ki Demang dan istrinya pun menutup hidungnya dan menahan nafas mereka, sekonyong-konyong si zombie yang berada dihadapannya seolah menjadi buta tidak mengetahui keberadaan Ki Demang dan istrinya.

Sambil menutup hidung dan menahan nafasnya, mereka berdua lalu keluar dari kamarnya, di ruang tengah, Ki Demang berteriak menggunakan tenaga dalamnya, “Semuanya, tutuplah hidung kalian dan tahan nafas! Ayo kita keluar dari rumah ini!” setelah itu ia kembali menutup hidung dan menahan nafasnya.

Keluarlah Sri dan Lesmana dari kamarnya masing-masing sambil menutup hidung dan menahan nafasnya. Galuh yang masih bertarung didalam kamarnya, merasa percuma melawan para zombie-zombie itu, maka ia pun melompat keatas, menerobos atap rumah untuk keluar dari dalam rumah, betapa kagetnya ia ketika melihat seluruh Kademangan ini sudah dikepung oleh belasan zombie dari berbagai penjuru!

Galuh melihat Ki Demang beserta keluarganya terjebak di tengah-tengah kerumunan para zombie tersebut, mereka berempat sudah kepayahan menahan nafas mereka, maka Galuh pun melompat turun menerjang kawanan zombie itu, kawanan zombie itu berpelantingan terkena pukulan dan tendangan Galuh.

Gadis ini kemudian mengeluarkan pukulan “Telapak Kawah Tunggul”, sinar putih disertai pusaran angin puting beliung yang berbau belerang teramat menusuk menderu menghantam tubuh-tubuh tak bernyawa itu, Blaarrr! Suatu ledakan dahsyat terjadi, tapi tidak seperti tadi siang, api-api yang membakar tubuh-tubuh zombie itu langsung padam, dan para zombie itu masih terus bergerak menyerang Galuh dan keluarga Ki Demang.

“Sial! Sepertinya mereka jadi lebih kuat saat malam hari!” keluh Galuh.

“Apa yang harus kita lakukan Neng Galuh?” tanya Ki Demang.

“Saya akan coba hantam mereka dengan pukulan tenaga dalam yang kuat!” jawab Galuh. 

“Hati-hati Galuh!” pinta Lesmana yang sangat khawatir pada Galuh.

Galuh mengangguk, ia pun mengeluarkan pukulan “Badai Laut Kidul”, angin topan prahara yang bergulung-gulung menderu melabrak kawanan zombie itu, Duaarrr!!! Dentuman dahsyat terjadi, kawanan zombie itu berpelantingan kian kemari, tubuh mereka hancur berantakan, tetapi tubuh mereka bersatu kembali lalu mereka bangkit lagi dan kembali menyerang Galuh! 

Ki Demang dan yang lainnya terkejut melihat para zombie yang rubuh terkena pukulan Galuh itu hidup kembali. “Astagfirullah, kenapa mayat-mayat itu tidak dapat dirubuhkan?” keluh Lesmana, hatinya semakin khawatir pada Galuh, tapi sayangnya ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong Galuh.


     ***


Di lain tempat, Jaya sedang terlelap di sawung yang berada di pesawahan Desa Cisoka, tiba-tiba ada empat orang yang terbirit-birit masuk kedalam sawung itu sambil ketakutan. “Mayat! Mayat! Jurig! Mayat Hidup!” jerit mereka ketakutan.

Jaya pun membuka matanya mendengar keributan itu, keempat orang yang baru masuk sawung itu menjerit ketakutan ketika melihat Jaya didalam sawung itu “SETANNNN!!!!!” jerit mereka berbarengan.

Jaya yang masih setengah sadar itu pun terkejut dengan jeritan mereka, ia lalu berusaha menenangnkan mereka, “Ki Dulur semua, tenanglah, saya bukan setan, saya ini manusia biasa yang numpang tidur di swaung ini karena kemalaman di perjalanan!”

Keempat pemuda itu menatap Jaya sambil tetap menggigil ketakutan “Be... Benarkah Ki Dulur ini manusia?” Tanya salah satu mereka dengan gugup karena ketakutan.

Jaya menyodorkan tangannya “Kalau tidak percaya, cubit saja tanganku ini!”,mereka pun memegang dan mencubit tangan Jaya

“Iya lho tangannya hangat dan bisa dicubit, kalau zombie pasti dingin dan kulitnya langsung lepas!” ucap salah satu mereka.

“Sekarang tolong katakan apa yang sedang terjadi sebenarnya Ki Dulur!” pinta Jaya.

“Ann... Anu Ki Dulur, ada kawanan mayat hidup yang menyerang rumah Ki Demang” jawab salah satu dari mereka.

“Mayat hidup? Hmm... mayat-mayat hidup itu pasti dikendalikan oleh seseorang yang memiliki ilmu hitam yang sangat luar biasa!” pikir Jaya.

Ia lalu menatap langit malam yang mendung gulita tiada berbintang dan bulan, suara hewan-hewan malam bersuara keras saling bersahut-sahutan tiada habisnya, hawa malam itu juga terasa sangat panas dan tidak nyaman, menurut cerita Kyai Pamenang gurunya, itu adalah tanda-tanda seseorang sedang mengeluarkan ilmu teluhnya di sekitar sana. “Dimana rumah Ki Demang?”

“Di alun-alun desa ini, dari sini terus saja ke arah barat!” jawab salah satu dari mereka.

“Ki Dulur mau kesana? Jangan! Ki Dulur hanya cari mati kalau kesana! Tidak akan ada yang sanggup untuk menghancurkan pasukan mayat hidup itu!” sambung kawannya.

 “Iya saya mau kesana, tenanglah, selama kita yakin kepada Gusti allah, segala ilmu hitam pasti bisa kita kalahkan!” tegas Jaya, maka tanpa berlama-lama lagi ia segera berlari menuju ke Kademangan Cisoka.

Di Kademangan Cisoka, Galuh terus bertarung dengan putus asa, ia hanya melakukan perlawanan yang sia-sia sebab mayat-mayat hidup itu tidak bisa dirubuhkan ataupun dihancurkan olehnya, dalam putus asanya ia mengeluarkan ajian andalannya yakni “Ajian Hitut Semar”! Pssstttt!!! Gas dan asap belerang yang beracun yang keluar dari pantat gadis itu menggubu menutupi seluruh mayat-mayat hidup itu, tapi percuma saja, sebab zombie-zombie itu adalah mayat hidup maka mereka tidak akan terpengaruh oleh racun belerang yang ditembakan Galuh dari pantatnya!

Saat itulah Jaya sampai di Kademangan Cisoka, ia kaget melihat Galuh sedang bertarung belasan mayat-mayat hidup itu! “Galuh?! Celaka! Tampaknya ia kewalahan menghadapi mayat-mayat hidup itu!”

Jaya langsung melompat menerjang mayat-mayat hidup yang sedang mengepung Galuh dan keluarga Ki Demang Sukma, anehnya mayat-mayat hidup yang terkena tendangan dan pukulan Jaya langsung rubuh tak berkutik lagi, kepala-kepala mereka hancur berantakan! Batu permata mustika biru di cincin Kalimasada yang berada di jari manis kiri Jaya memancarkan cahaya biru tua yang sangat terang! 

Di Rumahnya, Ki Wikuyana terkejut melihat kedatangan seorang pemuda yang langsung dapat menghancurkan beberapa mayat hidupnya. “Setan alas! Siapa dia?!” makinya, dia lalu memperhatikan cincin di tangan Jaya yang memancarkan cahaya biru tua yang sangat terang. “Itu... Itu Cincin mustika Kalimasada?! Kenapa cincin mustika itu bisa ada di tangan pemuda itu?!” tanyanya pada diri sendiri dengan geram.

“Jaya!” panggil Galuh yang langsung mengenali tuan penolongnya.

“Galuh benamkan dulu tangan dan kakimu kedalam tanah, setelah itu hancurkan kepala mayat-mayat hidup itu!” seru Jaya yang memberi tahu.

Galuh pun menuruti apa kata Jaya, dan benar saja, Galuh dapat merubuhkan zombie-zombie itu dengan mudah setelah melakukan apa yang Jaya katakan, dalam tempo singkat, kawanan mayat-mayat hidup itu pun tidak ada yang berkutik lagi dengan kepala yang hancur!

Betapa marahnya Ki Wikuyana ketika melihat pasukan zombienya telah hancur oleh Galuh dan Jaya, “Kurang ajar! Rusak! Rusak semua rencanaku! Aku harus turun tangan sendiri! Ternyata pemuda dan gadis itu bukan orang sembarangan!” gerutunya. Ia lalu bangun dari duduknya dan mengambil tongkatnya yang berhulu tengkorak, ia lalu memejamkan matanya komat-kamit membaca mantera, tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi bola api dan melesat keluar meninggalkan rumahnya!

Di halaman Kademangan, Galuh menghampiri Jaya sambil tersenyum “Jaya syukurlah kau datang dan menolongku, terima kasih Jaya!”.

Jaya tersenyum pada Galuh. “Ya ya untunglah aku masih tepat waktu datang kemari”.

Galuh lalu tersenyum kecut “Setelah kau meninggalkan aku tadi subuh, kita bertemu lagi dalam situasi ini!”

Jaya jadi merasa tidak enak pada Galuh “Maafkan aku Galuh, aku tidak bermaksud jelek meninggalkanmu... Tapi sepertinya saat ini kita ditakdirkan untuk bertemu lagi.” Lesmana yang menyaksikan percakapan Galuh dan Jaya merasa tidak enak, hatinya merasa panas oleh api cemburu.

Ki Demang dan keluarganya pun menghampiri Jaya dan Galuh, “Ki Demang, perkenalkan ini Jaya, sahabat saya, Jaya ini Ki Sukma Demang dari desa Cisoka ini”.

Jaya pun mengangguk sambil tersenyum pada Ki Demang sekeluarga, “Terima kasih atas pertolonganmu Ki Dulur!”

Jaya pun mengangguk lagi sambil tersenyum “Sama-sama Ki Demang, tapi sepertinya masalah ini belum selesai.”

“Apa maksud, Ki Dulur?” tanya Ki Demang.

Baru saja ki Demang menutup mulutnya, tiba-tiba angin ribut bertiup di tempat itu, udara terasa panas, dan bumi yang mereka pijak bergoncang hebat! “Apa ini?!” jerit Sri ketakutan.

“Tenanglah, dalang dari semua ini sudah datang! Lihat!” tunjuk Jaya ke atas langit. Bola api besar berputar-putar diatas Kademangan Cisoka, bola api itu lalu menluncur turun! Duaarrr! Bola Api meledak dan berubah menjadi sosok seorang pria tua bertubuh jangkung, Ki Demang segera mengenali orang itu, “Ki Wikuyana!” desisnya.

Ki Wikuyana tertawa menatap keterkejutan musuh lamanya Ki Sukma Sang Demang Desa Cisoka, “Kau masih ingat padaku Sukma?”.

Ki Sukma menyeringai “Heuh! Sudah kuduga, Wikuyana, kau masih penasaran dan menaruh dendam padaku setelah kekalahanmu dalam pemilihan Demang 10 tahun yang lalu!”

Ki Wikuyana kembali mengumbar tawanya, “Itu karena kau curang, maka dari itu kau harus menerima akibatnya!” 

Ki Wikuyana menutup ucapannya dengan mendorongkan tongkat berhulu tengkoraknya, satu sinar merah melesat dan telak mengenai dada Ki Sukma, Ki Sukma pun jatuh terjungkal-jungkal dan muntah darah! Seluruh anggota keluarga Ki Sukma beserta Jaya dan Galuh segera mengelilingi Ki Sukma, Nyi Demang dan Sri menjerit histeris melihat ayahnya muntah darah! Jaya segera memberikan pertolongan pertama, ia menotok beberapa bagian tubuh Ki Sukma dan mengalirkan tenaga dalamnya.

Galuh lalu bangun dan menatap tajam Ki Wikuyana “Cukup sudah kau berbuat kejahatan di muka bumi ini Ki Wikuyana! Meskipun aku bukan penduduk desa ini, tapi aku tahu pasti bahwa telah banyak korban yang jatuh oleh ilmu hitammu itu!”

Ki Wikuyana melotot menatap Galuh. “Orang asing sepertimu sebaiknya tidak perlu ikut campur urusan desa ini!”

Galuh mencibir Ki Wikuyana. “Aku wajib ikut campur disemua urusan yang menyangkut kezaliman!”

Tanpa berbicara lagi Ki Wikuyana mengibaskan tongat tengkoraknya, angin dahsyat bertiup kencang, dari tengkorak yang berada di hulu tongkatnya menderulah lidah api yang dahsyat! Melihat itu Jaya segera mengeluarkan Aji Pukulan “Sirna Raga”, lidah api disertai gelombang pusaran angin panas menderu memapasi pukulan Ki Wikuyana! Blaarrr!!! Kedua lidah api beradu di udara saling menjilat satu sama lain, terjadilah perang tenaga dalam yang dahsyat antara Jaya dengan Ki Wikuyana! pohon-pohon yang berada di sekitar tempat adu lidah api itu menjadi kering, ranting-ranting serta daun-daun yang berada disekitar adu tenaga dalam itu hangus terbakar, angin panas berhembus deras, udara disekitar rumah Kademangan Cisoka menjadi sangat panas! 

Dorong mendorong tenaga dalam tersebut terjadi beberapa saat lamanya, Jaya dan Wikuyana sama-sama bermandikan keringat dalam adu tenaga dalam itu, kaki mereka masing-masing amblas sebatas mata kaki dan masih terus melesak masuk kedalam tanah saking dahsyatnya tenaga dalam yang mereka berdua salurkan pada pukulannya masing-masing! Cairan kental berwarna merah yang asin pun mulai mengucur dari mulut mereka, rupanya mereka berdua mulai mengalami luka dalam akibat bentrokan tenaga dalam tersebut.

“Celaka, tenaga dalam dukun teluh ini ternyata sangat dahsyat, kalau ini terus terjadi tenaga dalamku bisa terkuras! Baiklah sebaiknya aku mengambil resiko dengan melipat gandakan tenaga dalamku untuk memutus adu pukulan ini!” pikir Jaya, ia pun segera melipat gandakan tenaga dalamnya, di lian pihak Ki Wikuyana pun melakukan hal yang sama, mereka sama-sama melipat gandakan tenaga dalamnya, maka... DUUAAARRRR!!! 

Ledakan dahsyat terjadi menggetarkan Kademangan Cisoka, bunga-bunga percikan api menerangi langit malam diatas Kademangan, berpijar menyebar kemana-mana membakar beberapa bagian Kademangan yang terbuat dari kayu dan pohon-pohon disekitarnya, Jaya dan Ki Wikuyana sama-sama jatuh terduduk dan batuk darah! Mereka berdua langsung duduk memusatkan pikiran dan mengatur nafas, mengalirkan tenaga dalam dan hawa sakti mereka pada seluruh bagian tubuh yang terasa sakit terutama jantung mereka yang berdegup kencang agar jantungnya tidak meledak! Hal tersebut pertanda bahwa tenaga dalam mereka berdua berada pada tingkatan yang sama!

“Jaya kau terluka?!” tanya Galuh agak panik melihat Jaya batuk darah.

“Tidak apa-apa Galuh! Uhuk Uhuk!” jawab Jaya sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah, cepat-cepat ia alirkan tenaga dalam cadangannya ke jantungnya, Galuh berpaling pada Ki Wikuyana, kini kemarahan gadis ini pada Ki Wikuyana sudah tak terbendung lagi! “Jaya biar aku yang melayani bangsat tua itu!” tandas Galuh.

Galuh segera melompat mengirimkan sebuah tendangan pada Ki Wikuyana, Ki Wikuyana yang sedang terluka dalam cukup parah pun terpaksa meladeni amukan gadis hitam manis ini, pertarungan pun terjadi di antara Jaya dan Ki Wikuyana. Ternyata meskipun Ki Wikuyana adalah seorang dukun teluh yang mengandalkan ilmu hitam dan sedang terluka dalam cukup parah masih sangat tangguh, tenaga dalam miliknya sangat tinggi dan kemampuan silatnya pun tak bisa dianggap remeh, hingga ia menjadi lawan yang seimbang bagi Galuh.

Setelah lewat beberapa jurus untuk mengukur tenaga dalam dan kemampuan masing-masing, mereka pun sama-sama melompat mundur “Hahaha... Katakan siapa namamu dan gelarmu gadis muda! Supaya kau tidak mati penasaran tanpa meninggalkan nama di desa Cisoka ini!”

Galuh menyeringai “Namaku Galuh Parwati, dan orang-orang memanggilku Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul!” jawabnya santai. 

“Hahaha bagus! Sekarang terimalah kematianmu!”

Ki Wikuyana pun berkelebat menyerang Galuh dengan ilmu tongkatnya yang dahsyat, setiap gerakan tongkat itu menimbulkan angin yang memerihkan kulit dan membuat tulang ngilu, apalagi kalau kena babuk tongkat itu, bisa remuk atau patah tulang Galuh! 

Galuh pun segera mengeluarkan jurus andalannya yaitu “Garuda Emas Terbang Menukik Bumi”, dengan jurus itu Galuh mengamuk, angin deras berseorang dari setiap gerakannya, tangannya bagaikan ada seribu menyerang Ki Wikuyana dari segala arah hingga pada suatu kesempatan, Galuh berhasil mengirimkan empat pukulan dan tendangan beruntun pada Ki Wikuyana, pria tua bertubuh jangkung itu pun jatuh tersungkur sambil batuk darah!

Setangguh apapun Ki Wikuyana akhirnya ia terdesak juga akibat luka dalam yang ia dapat dari bentrokan tenaga dalam dengan Jaya, ia pun segera mengeluarkan ajian andalannya! “Kurang Ajar! Rasakanlah ini, Pukulan Bola Api Kematian!”.

Ki Wikuyana menyabet-nyabetkan tongkatnya kian kemari, beberapa bola api segera muncul dan menyerang Galuh dari berbagai arah, Galuh pun mengeluarkan Jurus “Garuda Emas Terbang Diatas Angin” yang membuatnya mempunyai tenaga bagaikan seekor burung Garuda raksasa, bagaikan bermain-main dengan buah mahoni, bola-bola api itu ditangkis dengan pukulan angin dahsyat jarak oleh Galuh, Blar! Blar! Blar! Bola-bola api itu meledak mengenai tempat kosong karena ditangkis oleh Galuh hingga nyasar kemana-mana.

“Cukup sekarang giliranku!” bentak Galuh, ia pun mengeluarkan ajian “Pukulan Badai Laut Kidul”. Angin Topan Prahara bergulung-gulung yang teramat dahsyat menderu menghantam tubuh Ki Wikuyana, tubuh pria tua itu mencelat terbang 3 tombak dihantam pukulan Galuh lalu jatuh tersungkur dan muntah darah!

Galuh segera berlari menghampiri Ki Wikuyana “Akan aku habisi nyawa keparat ini sekarang juga!” bentaknya.

Tetapi Jaya segera menahan Galuh “Tahan! Jangan kototri tanganmu dengan darahnya! Kita serahkan saja ia pada pihak yang berwajib!” cegah Jaya.

“Serahkan dia? Apa kau percaya pada pihak pemerintahan Megamedung yang zalim itu? Tidak! Nyawanya ada ditangan kita!” protes Galuh.

“Galuh, setiap nyawa mahluk hidup itu ada di tangan Gusti Allah, ia juga Maha Pengampun! Jadi kita sebagai umatnya jangan mendahului kehendaknya! Biarlah hukum Mega Mendung yang bicara!” jawab Jaya. 

Galuh menatap penuh kemarahan pada Ki Wikuyana, Jaya segera merangkul bahu gadis ini “Galuh sudahlah!” akhirnya Galuh pun mau mendengarkan Jaya, ia lalu berpaling dan mninggalkan Ki Wikuyana. 

Tapi rupanya Wikuyana masih memiliki sisa tenaga dalam, ia langsung bangkit dan memukulkan tangan kanannya ke arah Galuh, satu sinar merah mencuat menerjang Galuh dengan sangat cepat, Lesmana segera melompat melindungi Galuh! Blaarrr! Tubuh Lesmana terlempar jauh oleh pukulan Ki Wikuyana tersebut, dadanya jebol! 

Bukan main marahnya Galuh melihat Lesmana yang terluka sangat parah akibat bokongan dari Ki Wikuyana tersebut. Dia langsung berbalik dan melepaskan pukulan “Telapak Kawah Tunggul”, sinar putih disertai pusaran angin puting beliung yang teramat panas menebarkan bau kawah yang menusuk menyambar Ki Wikuyana! Blarrr! “AAAAAaaaa!!!” Jerit Ki Wikuyana ketika terkena pukulan dahsyat itu, ia tewas dengan tubuh terpanggang!

Galuh dan semua yang ada di sana segera menghampiri Lesmana yang telah sekarat, ia menempatkan kepala Lesmana di pangkuannya. “Kang Lesmana! Maafkan aku, gara-gara aku kau celaka!!” rintih Galuh.

Lesmana menggelengkan kepalanya “Tidak apa-apa Galuh, aku senang dapat melindungi gadis yang aku cintai... Ayah, Ibu, Sri.... Aku duluan... Pulang!”

Nyi Demang dan Sri menangis sejadi-jadinya. “Tidak! Jangan pergi anakku”, Lesmana lalu menatap wajah Galuh yang sedang menangisinya, ia memaksakan untuk tersenyum, ia merasakan nyawanya sudah diujung leher, ia pun mengucap nama Allah dan Rasulnya, maka meninggalah pemuda ini dengan seulas senyum di pangkuan gadis yang ia cintai.

Pagi harinya seusai sholat subuh, jenasah Lesmana pun disholatkan di masjid Desa Cisoka, Jaya dan Galuh pun ikut menyolatkannya, lalu jenasah dimakamkan secara layak di pemakaman desa Cisoka. Setelah semuanya selesai, Jaya dan Galuh pun pamit untuk melanjutkan perjalanan mereka, kali ini pula Galuh bertekad untuk tidak kehilangan Jaya lagi seperti kemarin seperti ia ditinggalkan oleh Jaya.