Episode 63 - Sinus Home, Trien Port


Di rumah Sinus, yang adalah rumah paling besar dan termewah di desa kecil dekat Vheins ini. 

Rumahnya terletak di selatan desa dan sangat dekat dengan dermaga. Disana terdapat banyak kapal-kapal nelayan. Yang armada kapalnya, separuhnya adalah milik Ayah Sinus seorang, hingga membuatnya terkenal sebagai orang paling kaya di kampungnya. 

Meskipun begitu, kekayaan keluarga Sinus tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga Obsidus maupun Esterio di Greenhill.

Sesudah pulang. Sinus dimarahi habis-habisan oleh ibunya yang sangat terpukul mendengar dirinya telah dikeluarkan dari sekolah karena kasus bullying. Ocehan ibunya banyak dan penuh dengan nada khawatir.

Ibu Sinus yang memiliki paras gemuk dan berambut kriting itu seketika pucat dengan disambung oleh amarah yang meledak-ledak sesaat setelah mendengar kabar itu. Sinus sudah dimarahi 8 jam lamanya, dari siang hari saat ia kembali hingga saat ini. Saat sampai waktunya tidur.

"Kan kamu sendiri yang minta sekolah sihir disana!" bentak ibunya yang betul-betul marah namun terus menahan diri untuk tidak memukulnya. "Sudah biayanya sangat-sangat mahal pula! Disana kamu malah cari masalah... saja!" katanya dengan geleng-geleng. "Pikiranmu ditaruh dimana?!"

Sinus hanya tertunduk takut, ia duduk berlutut sambil memegangi dengkulnya dengan tangan gemetar. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan di 8 jam terakhir. "Ma...Maaf Ma."

"Maaf! Maaf!" bentak ibunya lebih keras sambil menunjuknya dengan tangan teracung. "Kalau tahu kau malas-malasan disana, lebih baik kau lanjutkan apa yang sudah dibuat ayah untukmu!"

"Tapi... a-aku..." jawab Sinus ragu-ragu.

"Apa?! Kau masih tidak mau kan! Kau lebih memilih sihir konyolmu itu ketimbang melanjutkan pekerjaan ayahmu!" bentak ibunya yang tak sedikitpun surut emosinya. "Kau bilang sihirmu itu bakat! Tapi kau disana malah... arrrggghhh! Sinus... Sinus... kita sudah keluarkan seratus juta Rez untukmu bisa sekolah disana! Kau tidak tahu itu uang yang sangat-sangat besar. Tapi apa sekarang! Kau di keluarkan dan kau tak tahu... berapa besar yang kami korbankan untuk kamu... anak kami satu-satunya."

"Ma... maafkan aku ma..."

"MAAF!! MAAF!!" bentaknya lebih keras. "Daritadi yang kau katakan hanya maaf... saja! Sudah sana, sana! Cepat pergi tidur. Aku kesal lihat kamu seperti ini... besok ibu akan berupaya bilang pada pak gubernur Vlau supaya kamu bisa kembali! Apapun yang terjadi kamu harus kembali. Titik!"

Sinus berlari tergesa-gesa ke kamarnya di lantai 2 dan segera berbaring di ranjang, menutupi kedua matanya yang memerah dengan bantal. 

Setelah Sinus pergi, "Haduh... Sinus... Sinus..." Ibu Sinus geleng-geleng kepala sambil menghela nafas. "Kami ingin kamu berhasil dan dapatkan yang terbaik. Kami rela berkorban segalanya buatmu. Tapi ini balasan kamu..."

Di kamar Sinus terus menutupi dirinya dengan bantal dan menangis dengan suara seminimal mungkin.

"Aku benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana... dan sejak kapan aku jadi tukang bully? Aku yang dulu sering ditindas, mama dan papa tak pernah membelaku. Orang-orang seperti Hael yang membuatku merasa superior. Dia tak pernah membalas, malah cenderung ketakutan begitu melihatku. Tapi sekarang, ia membalasku, ia menghancurkanku tanpa perlu melakukannya sendiri. Aku benar-benar jatuh ke titik terendah. Hael, kalau aku bertemu denganmu lagi, lihat saja kau! RAAAA !!" teriaknya kesal.

Satu jam kemudian,

DRAKKK !!

Seseorang mendobrak pintu masuk dengan terburu-buru. Lalu langkah kaki terdengar menuju lantai 2 dan segera pintu kamar Sinus terbuka.

"Sinus! Aku dengar kau di... dikeluarkan!"

Sinus terbangun dan menfokuskan pandangannya yang kabur. "Ayah!?" Sinus terkejut. Tapi setelah itu ia kembali cemberut. "Selalu seperti ini, kalau aku sudah bikin masalah dia baru mau kesini. Aku sudah dimarahi ibu dan sekarang... Ayah juga."

Kemudian Ayahnya perlahan mendekat. Lalu...

"...!?" Sinus tidak menyangka, Ayahnya memeluknya dengan erat. 

"Ma-maafkan ayah ya... Sinus..." katanya sambil ikut menangis sambil memeluk anaknya.

***

Malam hari di Vheins, Nicholas baru saja tiba dengan kereta kuda pribadinya, ia di antar dengan cara yang sama seperti saat ia kembali ke rumah. Disana ia melihat Velizar seorang diri, duduk menatap bintang di langit sambil bersandar di tembok dengan memeluk pedangnya. Di kolong jembatan, tempat pertama kali ia betemu Alzen.

"Velizar?" kata Nicholas yang melihatnya dari balik kegelapan. 

"Huh?" Velizar menoleh. "Ohh Nicholas, kau sudah kembali?" katanya dengan lemas.

"Ya... aku bolos sehari." Menanggapi itu, Nicholas menaruh tasnya di lantai jalan kemudian membetulkan kacamatanya. "Tapi ini aneh... aku jarang sekali melihatmu seorang diri? Dimana Sinus? Kalian musuhan? Apa yang terjadi?"

"Dia dikeluarkan." jawabnya datar selagi tatapannya terus terpaku pada cahaya bintang.

"Di, dikeluarkan? Kau tidak sedang bercanda kan? Memang kenapa Sinus dikeluarkan."

"Aku tidak pernah bercanda." jawab Velizar datar. "Bahkan tertawa itu juga membosankan."

"Lalu..." Nicholas menarik kerah baju Velizar. "Jelaskan padaku? Dimana dia sekarang?"

"Hah..." Velizar mengeluarkan nafasnya pelan-pelan. "Sudah kubilangkan, Dia dikeluarkan, dan dia juga kesal karena aku tak membelanya. Kalau ditanya dia dimana? Mau kemana lagi? Dia jelas akan kembali ke rumahnya."

"Di Trien ya, Sial! Selama aku tidak disini malah sesuatu terjadi, tapi kenapa? Kenapa dia bisa dikeluarkan?" tanya Nicholas dengan geram dan kesal.

"Hael... dia ketahuan membully Hael lewat diarynya... Hael balas dendam tanpa harus melakukannya sendiri. Benar-benar hebat." katanya dengan ekspresi tak bersemangat.

"Si pecundang itu! Dimana Hael sekarang? Dia belum tahu arti rasa sakit yang sebenarnya."

"Percuma, dia menghilang tiba-tiba. Tak seorangpun tahu ia pergi kemana. Tapi tak ada yang peduli juga." kata Velizar datar. Ia berhenti bersandar dan berkata, "Lebih baik upaya kita di gunakan untuk membawa Sinus kembali. Kita kenal betul keluarganya Sinus seperti apa. Ayahnya tak pernah di rumah dan ibunya gemuk, jelek dan cerewet. Dia tidak akan senang di rumah. Dan aku yakin dia mengira kita tidak ada untuknya, jika dibiarkan..."

"Sudah... sudah... besok, kita akan lakukan sesuatu." kata Nicholas. "Pak tua itu pasti punya andil disini."

***

Pagi berikutnya di kelas Fragor,

"Hari ini kita akan belajar sesuatu yang menarik," kata Kazzel membuka kegiatan mengajarnya. "Jika kemarin kita belajar hal yang dasar-dasar. Kita akan belajar tentang Aura."

"Haa...? Itu kan pelajaran dasar juga." keluh salah seorang anak Fragor.

"Memang, tapi dengan mengetahui hal-hal dasar ini secara telitilah yang membuat kalian bisa sukses sebagai penyihir di luar sana nanti." balas Kazzel.

Lalu separuh kelas terlihat tak bersemangat dan menyandarkan dagunya di telapak tangan mereka, menatap Kazzel dengan wajah muram.

"Hee... jangan terlihat bosan begitu." kata Kazzel yang berusaha sebisa mungkin membuat pelajaran jadi menarik. "Kalau kalian benar-benar merasa sudah tahu. Aku tanya pertanyaan dasar dulu. Berapa banyak tipe Aura yang ada?"

"Lima!" sahut salah seorang anak Fragor dengan percaya dirinya. "Semuanya-kan juga tahu itu."

"Enam!" sahut Alzen yang beda sendiri.

"Good! Alzen, kau benar?"

"HEEE!!? Kok enam?" Seisi kelas menanyakan pertanyaan yang sama.

"Hehe... lima Itu benar, tapi tak sepenuhnya benar." jawab Kazzel. "jawabannya enam. Tepat seperti yang Alzen katakan."

"Mereka sok pintar padahal bodoh," kesal Luiz yang duduk di belakang kanan kelas. "Kan memang enam. Kalau kalian belajar betulan. Mana mungkin tidak tahu."

"Kok enam guru?!" sahut Zio. "Di sekolah aku diajarin hanya lima. Yaitu Magic, Weapon, Enhance, Summon dan Eater. Yang ke-enam apa pak?"

"Unique... kategori Aura di luar kelima tipe tersebut, sistemnya mirip seperti elemen Non-Mainstream."

"Hee? Unique? Aura seperti apa itu?" tanya separuh kelas dengan penasaran.

"Hehe... betul-kan, banyak dari kalian yang belum tahu." kata Kazzel dengan tersenyum. "Unique Aura adalah aura langka, cara kerjanya tidak tentu dan bermacam-macam. Karena variasi yang banyak dan orang yang punya kemampuan ini juga sangat jarang. Secara teori, aura ini disebut Unique Aura."

"Contohnya seperti apa guru?" sahut Zio.

"Banyak, meski tak bisa aku contohkan langsung, karena aku bukanlah pengguna aura tipe ini." kata Kazzel. "Meski bermacam-macam, tapi yang paling sering kulihat adalah kemampuan seperti misalnya... Detector. Kemampuan Aura untuk melihat Aura orang lain, dan efeknya bisa untuk melihat tembus pandang, mengetahui posisi lawan hingga jumlahnya, sampai bisa mendeteksi kemampuan lawan lewat warna."

"Loh? Bukannya kita sebagai penyihir juga bisa?"

"Benar, tapi sebetulnya penyihir hanya mencoba menirukan dengan manipulasi elemen. Pemiliki Aura Detector yang asli, punya kemampuan yang jauh lebih hebat dari sekedar manipulasi elemen."

"Kak, kak." Zio menyenggol Fhonia di sampingnya. 

"Huh? Kenapa Zio?" Fhonia membalasnya dengan tersenyum.

"Kak, manipulasi elemen itu apa sih kak?" tanya Zio.

"Hehe... aku juga tidak tahu." jawab Fhonia dengan gampangnya.

Dan seketika, rasa hormat Zio padanya seketika menurun jauh.

"Selain Detector, ada juga Silencer. Kemampuan Aura untuk membungkam kemampuan Aura orang lain. Kita yang terlalu bergantung pada sihir, bisa tidak berdaya melawan orang dengan kemampuan ini. Karena sihir kita, atau Aura kita sama sekali tidak bisa digunakan jika terkena efek Silence ini."

Lalu seisi kelas melihat Kazzel dengan berpikir keras.

"Ahh... dari wajah kalian, sepertinya belum ada yang pernah melihat langsung pemilik kemampuan ini ya?"

Seisi kelas terdiam.

"Padahal sudah banyak sekali buku yang menuliskan tentang itu," pikir Alzen dengan perasaan berdebar-debar. "Tapi hingga sekarang, belum satupun aku melihat kemampuan itu secara langsung. Aku benar-benar minim pengalaman."

"Alzen!" Sahut Kazzel sambil menunjuknya.

"I-Iya!?"

"Apa kamu pernah menjumpai langsung pengguna aura tipe ini?" tanya Kazzel.

Alzen geleng-geleng kepala. "Kemampuan yang mirip seperti itu, baru pertama kali kulihat saat hari pertama dulu, dimana Pak Vlau menghilangkan sihir bola apiku, secara tiba-tiba."

"A, a. Tidak, bukan itu." balas Kazzel sambil menggoyangkan jarinya. "Itu sihir Dispel, hanya sihirnya saja yang hilang. Tapi kemampuan Aura tetap bisa digunakan."

"Aa, jadi bukan ya."

"Aku pernah guru!" sahut Zio sambil mengangkat tangan tinggi.

"Hoo menarik? Dimana kamu pernah melihatnya?"

"Di Levia Port, Bar milik ayahku." Zio bercerita. "Disanakan sering dihampiri bajak laut secara bergerombol. Tapi kebanyakan dari mereka itu lemah-lemah kalau kata kakak dan ayah."

"Huuhhh... sombongnya." anak-anak Fragor dibuat panas telinganya.

"Namun pernah suatu hari ada seorang kapten bajak laut besar, berpakaian serba hitam dengan dua pedang di pinggangnya dan wajahnya ditutupi hoodie. Ia duduk di tengah-tengah bar dan tak seorangpun berani dekat-dekat dengannya." kata Zio. "Menurut rumor para bajak laut disana, siapapun yang dekat-dekat dirinya. Tak akan bisa menggunakan sihir atau Aura selama 24 jam penuh. Begitu kata orang-orang."

Sambung Zio. "Aku penasaran dan sempat mencobanya sendiri. Aku melihatnya secara langsung, meski tidak terlalu dekat. Dan benar! Hari itu, hingga 24 jam berikutnya. Aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir. Aku menangis hari itu, karena kupikir selamanya aku tidak bisa sihir lagi. Tapi kakak-ku bilang bahwa hal itu hanya berlangsung sementara. Yang mau aku tanyakan, apa benar itu adalah kemampuan Aura Silencer yang pak guru maksud?"

"Benar! Benar sekali," kata Kazzel dengan bersemangat ditambah ciri khasnya yang selalu mengacungkan jari telunjuk ke atas ketika mengajar. "Jika perlu aku tambahkan, meski sama-sama tipe Detector, maupun Silencer, atau kemampuan Unique yang lainnya. Setiap orang memiliki cara penggunaannya masing-masing. Ada yang mensilence setelah menyentuh, ada yang jika di dekatnya sudah terkena efeknya, ada yang bisa mensilence hingga durasi selama itu. Masing-masing orang berbeda lagi. Tapi jujur saja, karena kemampuan ini langka. Aku juga belum pernah mengalaminya secara langsung."

Seisi kelas terdiam dan berusaha mengerti.

"Ahh... mungkin ini terlalu rumit ya?" Kazzel garuk-garuk kepala. "Mengingat kalian tak pernah melihatnya langsung."

Separuh kelas menganguk. Sementar Fhonia sedari tadi hanya tertidur diatas meja. Kazzel yang sudah memahami Fhonia, memaklumkannya. Mengingat nilai dan kemampuannya tidak pernah buruk.

***

Jam belajar usai di sore hari, Alzen, Fhonia dan Zio memiliki janji untuk berkumpul kembali di restoran yang sama seperti kemarin. Mereka bertiga keluar berbarengan dari kelas dan sambil berjalan ke Twillight District. Mereka menghabiskan waktu dengan saling membahas pelajaran hari ini di jalan.

"Meski masih belajar pelajaran dasar. Paling tidak, Vheins selalu memberikan paling tidak satu hal yang aku tidak ketahui." kata Alzen. "Aku selalu dibuat merasa tidak tahu apa-apa disini. Dan aku menikmatinya."

"Wah... kak Alzen hebat ya." jawab Zio. "Sudah pintar, ditalentai tiga elemen tapi masih rajin belajar. Hebat!"

"Ti-tidak juga kok..." Alzen canggung menanggapi pujian Zio. "Aku juga sama, masih belajar."

"Ohh... kalian dengerin banget tadi ya?" tanya Fhonia.

"Kak Fhonia daritadi kulihat, kepalanya naik turun, naik turun. Seperti menahan ngantuk haha!" kata Zio dengan polos.

"Biarin, yang penting kamu tetep imut!" Fhonia mencubit dua sisi pipinya.

"Aduduh, sakit, sakit. Sakit kak!"

"Tapi sebenarnya aku ngerti kok. Pak Kazzel tadi ngajarin tentang Unique Aura, Silence, Detector kan?"

"Haa?" Alzen dan Zio ternganga.

"Hee? Kalian kenapa? Kok heran." kata Fhonia dengan memiringkan kepala.

"Sewaktu di kelas, aku juga lihat kamu kayak nahan ngantuk loh!" sahut Alzen setengah tidak percaya. "Tapi kamu paham yang di jelaskan..."

"Kok bisa!?" sambung Zio yang tak kalah herannya.

"Kenapa memangnya?" Fhonia tersenyum. "Biasa saja kan? Aumm..." katanya sembari mengunyah daging.

"Ohh iya!" Zio teringat sesuatu. "Kak Alzen."

"Ya?"

"Manipulasi sihir itu apa sih?"

"Uhmm... bagaimana menjelaskannya ya. Kira-kira seperti ini contohnya." Alzen berusaha menjelaskan. "Misal Aura Tipe Weapon. Kemampuannya kamu tahu kan?"

Zio geleng-geleng kepala dengan polosnya.

"Aa, itu adalah kemampuan Aura untuk membentuk senjata. Tapi dengan manipulasi sihir, kita penyihir bisa menirukan kemampuan membentuk senjata itu tanpa! Harus menguasai Aura Tipe Weapon. Uhmm, sampai sini bisa kamu pahami?"

Zio mengangguk-angguk. "Iya kak."

"Contohnya begini, Pengguna Aura Tipe Weapon bisa melakukan Weapon Call sebuah Pedang api, Aaa... kita berandai-andai saja namanya Flame Saber. Tapi, kita penyihir bisa menirukannya dengan membentuk elemen api menyerupai sebuah pedang. Meski tidak bisa sebagus dan sekuat aslinya. Tapi manipulasi sihir singkatnya digunakan untuk hal seperti itu. Kamu mengerti?"

"Uhm... jadi begitu."

"Dan berlaku untuk Tipe yang lain juga, Misalnya Aura tipe Enhancer. Pengguna Aura Tipe Enhancer yang asli mampu membuat pedang biasa berubah wujud menjadi pedang yang jauh lebih kuat. Dengan manipulasi sihir, kita mampu menirukannya juga, misalnya dengan membakar pedang besi hingga pedang itu memiliki kobaran api pada setiap ayuannya. Kira-kira seperti itu."

"Aku mengerti, aku mengerti!" Zio terlihat senang kegirangan.

Kemudian Alzen tersenyum sambil mengusap-usap rambutnya. "Hehe... bagus-bagus." 

***

Selagi berjalan menuju Twillight District, Alzen bertemu Leena di jalan.

"Ahh disini kamu rupanya." kata Leena yang langsung menarik tangan Alzen.

"Ehh? Ehh? Ehh? Ke-kenapa?" Alzen yang tangannya di seret Leena, terpaksa ikut dengan bertanya-tanya.

"Maaf ya teman-teman, aku pinjam Alzen sebentar." kata Leena dengan senyum tergesa-gesa menarik tangan Alzen.

***