Episode 62 - Karma


Di waktu dan hari yang sama, tepat jam 12 siang, pada sebuah desa nelayan bernama Trien Port, yang berada di ujung benua Azuria. Dan lokasinya berada tak jauh dari timur kota Vheins.

"Hgghhrhhh..." Sinus berjalan menyusuri hutan sambil merinding ngeri, "Setibanya di rumah aku harus ngomong apa nih?" katanya lemas, dengan air mata yang sudah di kering di pipinya dan mata yang memerah, ia melangkah pelan menenteng tas besar berisi barang-barang pribadinya yang di bawa sendiri dari asramanya. 

"Tak ada lagi orang yang akan menolongku, aku dikeluarkan dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hancur sudah hidupku!" kata Sinus sambil menatap langit yang tertutupi daun-daun pohon besar di sekitarnya. "Aku harus bilang apa ke ayah dan ibu?"

"GRAAAAH! Kupikir Velizar itu teman. Tapi saat dalam masalah penting, dia bisa dengan mudah meninggalkanku begitu saja. Nicholas? Dia juga ada dimana lagi?" 

BRAGH !!

Sinus meninju pohon di dekatnya.

"Adududuh sakit-sakit!" katanya dengan tangan yang mengepal merah. "Hah... hah... saat aku sangat butuh mereka, mereka berdua malah tidak ada buatku." Lalu raut wajah Sinus berubah kesal sambil mengkertakan gigi. "Grrr! Ini semua karena Hael! Ya! Ini semua karena dia! Dia hilang kemana lagi? Sudah hilangpun masih bawa sial saja. Apa dia pergi terus mati di jalan? Atau apa? Aku tidak ingat kapan dia menghilangnya! Padahal pas turnamen dia masih ada. Tapi yang jelas, dia sudah membuat hidupku hancur! Hancur! Hancur!" teriak Sinus keras-keras."HWAAAA !!"

Sinus berteriak keras sekali sampai burung-burung di pohon-pohon, terbang melarikan diri. Kemudian ia bersujud dengan sisi lengan dan dengkul kaki, menopang tubuhnya.

"Hosh...hosh... hosh... tapi memangnya aku tidak? Aku juga membullynya, menyiksanya untuk bersenang-senang," kata Sinus dengan menyesal. "Tapi aku tidak peduli, biar bagaimanapun aku merasa dicurangi, dijatuhkan dan merasa tidak adil. Tapi... aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tetap merasa... ini sebuah karma." katanya dengan menangis lagi sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan dalam posisi bersujud.

"Sinus! Sinus! Sinus sayang... suaranya benar suara kamu kan sayang. Sinus?! Sinus sayang." terdengar suara ibu-ibu dari kejauhan.

"Huh!? Mama!?" Sinus langsung terbangung kaget, seketika melihat bayangan ibunya menutupi dirinya.

"Sinus! Kok kamu ada disini?! Bukannya kamu masih sekolah?" kata seorang ibu-ibu gemuk berambut kriting menggumpal dengan daster abu-abu polos.

"Hahhhh...!!?" Sinus terperanjat kaget dan wajahnya langsung pucat. "Ma-Mama...!!?"

***

Kembali ke Fragor,

"Selanjutnya akan kujelaskan kelebihan dan kelemahan masing-masing elemen, mereka saling terkait tapi tidak secara linear." kata Kazzel menjelaskan. "Kita kembali dari elemen api lagi."

"Hei adik kecil." tanya Fhonia sambil menyenggol Zio di samping kirinya dengan senyum seolah ingin mencubitnya. "Kamu ngerti gak yang diajarin mister Kazzel?"

"Ng-ngerti dong kak!" jawab Zio dengan senang hati, senyumnya lebar sekali.

"Wahhh... imutnya..." Fhonia seolah meleleh.

"Elemen api jelas lemah terhadap elemen air. Tapi elemen air-pun juga akan jadi uap jika bertabrakan dengan elemen api yang kekuatannya setara. Kedua sihir ini saling menghilangkan satu sama lain. Dan meski api ini memilik daya serang yang kuat. Namun keunggulan elemen api terhadap elemen mainstream yang lain? Hampir-hampir tidak ada."

"Ti-tidak ada? Bukannya api yang terkuat pak?!" tanya Alzen.

"Huuu... dia kan dari Ignis ya?" sahut anak kelas Fragor di dekatnya.

"Memang benar sih api yang terkuat," kata anak di sampingnya. "Di semi-final kemarin saja Ignis punya dua finalis, dan dari tahun ke tahun, Ignis tak pernah luput dari juara satu sampai tiga."

"Nah, coba kita berandai-andai, jika melawan sihir angin, api bisa dihempas dengan mudah, tinggal ubah saja jalur serangannya. Turnamen kemarin memiliki contoh itu beberapa kali. Jika melawan sihir tanah, api bisa tertahan dengan mudah oleh sebuah tembok tanah. Jika melawan sihir petir, tak ada yang signifikan berubah, meskipun api memang kuat, tapi petir lebih cepat." kata Kazzel. "Meski api yang terkuat dalam sihir serangan, dan juga lebih mudah digunakan. Tapi api tidak punya keuntungan elemen terhadap elemen lainnya.Ya... terkecuali, jika melawan elemeni es. Yang sayangnya tidak masuk kategori elemen mainstream."

"Be-begitu ya..." Alzen menanggapi pelajaran itu sebagai sesuatu yang baru.

"Lalu Air, jelas air mengalahkan api dan jika jumlahnya lebih besar, air akan dengan mudah memadamkan api. Apalagi jika pengguna air itu bertarung di lingkungan yang mendukung. Seperti laut, pantai, bahkan kolam di sekeliling arena kemarin, intinya tempat yang banyak airnya. Elemen air juga dapat melemahkan elemen tanah hingga dapat memperkuat daya serang elemen petir. Sampai membentuk combo."

"Ya! Aku pernah alami ini," kata anak Liquidum yang belajar di Fragor.

"Temanku penyihir air," kata salah seorang anak Fragor. "Bagus sekali se-party dengannya."

"Alzen mencontohkan ini dengan sempurnah di turnamen kemarin." kata Kazzel. "Kemudian elemen Angin. Angin efektik melawan air dan juga melawan api, tapi lemah jika melawan tanah maupun petir dan segala benda keras lainnya, terkecuali si pengguna mampu memotong pertahanan mereka. Angin tidak memerlukan arena khusus, karena seluruh tempat, pasti memiliki udara kan?"

"Bisa dibilang sihir angin itu seimbang semuanya," komentar anak Ventus yang belajar di Fragor. "Bisa bermain cepat, mematikan hingga menyembuhkan. Semua role bisa diatasi dengan baik."

"Kemudian tanah, elemen ini kuat terhadap angin dan api. Karena sifatnya yang padat. Tapi lemah terhadap air dan petir. Maka dari itu, Joran dari Terra bisa kalah dari Alzen yang memanfaatkan dua elemen itu tanpa menggunakan elemen air dari dirinya sendiri. Seperti yang kita bahas tadi."

"Huh!" kesal salah seorang anak Terra yang belajar di Fragor. "Kekalahan Joran semata karena kebetulan saja. Aku yakin si rambut biru itu juga tak paham dengan teori ini."

"Terakhir, sihir kelas Fragor. Petir, Elemen ini bisa dibilang, sihir yang paling unggul terhadap semua elemen mainstream dan tidak memiliki kelemahan jika melawan sihir elemen mainstream lainnya." kata Kazzel dengan rasa bangga. "Aku bilang ini berdasarkan aturannya, bukan karena kita ada di Fragor, aku jadi melebih-lebihkan Fragor."

"Benar sekali! Sihir petir memang hebat!" sahut Zio.

"Sekalipun daya serangnya satu tingkat lebih lemah dari api, namun sihir petir mampu mengabaikan pertahanan musuh, yang sering dikenal sebagai serangan critical yang menembus pertahanan lawan. Petir juga akan mematikan jika melawan air, namun hati-hati. Jika diri kalian dibuat basah duluan, kalian akan kena masalah jika mau meng-cast sihir ini."

"Hmm begitu ya," kata Alzen mengangguk. "Aku belum pernah mengalaminya."

"Lalu Petir juga tidak akan bisa dihempaskan angin. Karena petir terlalu cepat untuk diimbangi angin, meskipun, lebih sulit dikendalikan. Karena sifatnya yang harus bergerak lurus atau zig-zag."

"Betul-betul!" Zio menanggapinya.

"Dan petir juga mampu menghancurkan tanah, lewat sela-sela kecil di dalamnya. Sihir ini boleh dikatakan yang paling banyak keuntungannya namun tidak pernah menjadi yang paling kuat dari semuanya. Agak ironis ya?" kata Kazzel. "Secara daya serang ia kalah dengan api dan secara kecepatan ia kalah dengan elemen cahaya dan lebih sulit dikontrol dibanding elemen angin."

"Wahhh..." Alzen menghela nafas. "Banyak yang aku baru ketahui sekarang. Meski aku sudah banyak sekali membaca, tapi di kelas ini aku dibuat seolah tidak tahu apa-apa. Hebat sekali!" pikir Alzen dengan perasaan menggebu-gebu.

"Yang seperti ini sih, aku sudah ratusan kali dengar." kata Luiz di belakang, dengan tangan terlipat dan matanya yang terlihat tak pernah terbuka.

"Zio kamu paham tidak?" tanya Fhonia lagi.

"Paham... paham banget kok!" jawabnya dengan senyum.

"Hiii... kamu imut banget sih!" Fhonia mencubit kedua pipi Zio.

"Adududuh... Sakit! Sakit! Sakit tahu kak."

***

Setelah pulang sekolah, Alzen berkumpul di salah satu restoran Twillight District bersama dengan teman-temannya di Ignis. Tempat mereka pernah berkumpul sebelumnya. Sebuah restoran yang cukup besar, bangunannya sebagian besar dari kayu dengan pahatan motif tradisional dan lampu-lampu lampion berwarna oranye api. Saat jam pulang sekolah, seluruh restoran menjadi sangat sibuk.

"Alzen telat ya?" tanya Fia ke Lio di sampingnya.

"Tahu tuh... lama banget sih Alzen." Gerutu Lio.

"Sabar aja... Nanti juga dateng." kata Chandra sambil melihat-lihat menu. "Kita pesan dulu saja."

"Soalnya kalau dia gak dateng, siapa yang bayarin kita? Hahaha!" kata Lio.

"Hush!" tegur Fia. "Kamu ngajak Alzen ada maunya ya?"

"Tapi tahu deh... si Alzen mau bayarin kita gak ya?" sambung Chandra.

"Mau kok... mau... aku yakin!" kata Lio bersemangat.

KRRIIINGGGG !!

"Maaf teman-teman, aku terlambat sedikit." sahut Alzen sambil berjalan mendekati meja mereka.

"Selow! Selow! Alzen!" sambut Lio dengan mendatanginya. "Kita juga baru dateng kok."

"Tadi aja ngeluh..." sindir Chandra dengan suara kecil.

"Alzen, sini, sini!" panggil Fia sambil memanggilnya dengan ayunan tangan.

"Hehe... aku agak telat, karena tiba-tiba mereka ingin ikut juga." kata Alzen sambil garuk-garuk kepala. "Kenalin... mereka..."

"Ahh tak usah-tak usah," sela Lio. "Kita sudah kenal kok, kamu Fhonia, Gunin... dan uhmmm... siapa anak kecil ini?"

"Aku Zio kak! Zio Mirtel lengkapnya. Hehe." jawabnya dengan senyum riang anak kecil.

"Zio?" Lio heran, lalu langsung bisik-bisik ke Alzen. "Hei Alzen, siapa dia? Adikmu? Sepupu? Kok bisa disini?"

"Dia murid berbakat dari sekolah sihir untuk anak-anak katanya. Dia belajar di kelas Fragor bersamaku." balas Alzen sambil bisik-bisik juga.

"Hoo... ada yang seperti itu ya?" Lio angguk-angguk.

"Lohh? Kok kurang satu orang?" Alzen celingak-celinguk. "Cefhi?! Mana kamu Cefhi." Alzen menoleh ke belakang dan mendapati Cefhi masih berdiri di luar, bersandar di dinding dengan wajah memerah. "Ngapain masih disana? Sini..." sambut Alzen.

"I...iya... aku ke-kesana." jawabnya...

"Loh? Cefhi ikut juga?" kata Fia. "Cefhi... sini! Samping Chandra masih kosong kok!"

"Ba-ba-baik..." katanya dengan gugup dan wajah memerah.

"Dia kenapa sih?" tanya Lio heran. "Memang diundang?"

"Gak tahu..." Alzen mengangkat bahu. "Ketika jalan kesini, dia tiba-tiba ingin ikut."

"Zio... duduk disampingku ya..." kata Fhonia.

"Tapi kak! Jangan nyubit terus dong..." kata Zio sambil mempertahankan pipinya dengan tangan. "Sakit tahu!"

"Iya... iya... habis kamu imut banget sih." kata Fhonia gemes.

Mereka duduk di meja makan mereka. Disana ada Alzen, Chandra, Lio, Fia ditambah teman-teman baru mereka yang ikut datang... Ada Fhonia, Cefhi, Gunin dan Zio. Total ada delapan orang berkumpul di meja panjang dengan 4 bangku sejajar berhadap-hadapan.

Chandra duduk di sisi kiri atas, Fia di depannya, di samping Chandra duduk Cefhi yang terus menerus menunduk dengan wajah merah, di depan Cefhi ada Lio yang duduk di samping kiri Fia. Alzen duduk di samping kanan Alzen dan di depan Alzen ada Fhonia, di sampingnya Alzen, ada Gunin. Dan di depan Gunin, ada Zio.

"Loh? Ranni telat? Atau tidak datang?" tanya Chandra.

"Iya," jawab Alzen. "Tadi sudah ku ajak tapi dia bilang ada urusan penting."

"Sudah mulai sok sibuk dia." sindir Lio.

"Kalian sudah pesan belum." kata Alzen. "Nanti aku yang bayarin deh."

"Tuh betul kan!" celetuk Lio.

"Hush!" tegur Fia.

"Aduh." Chandra menutupi mukanya dengan tangan dan bersandar diatas meja. 

"Betul apa?" tanya Alzen heran.

"Aa...bu-bukan apa-apa," jawab Lio canggung.

"Haa? Kenapa sih?" Alzen masih penasaran

"Beneran kok! Bukan apa-apa."

Sedang Chandra dan Fia hanya setelahnya menahan tawa sembari membuang wajah mereka.

***

Pesanan datang dan mereka semua makan sambil bercerita yang mereka alami di kelas, kebetulan mereka datang dari kelas yang berbeda-beda. Jelas cerita yang mereka bawakan juga berbeda satu sama lain.

"Karena kalian semua pindah kelas," kata Lio sambil makan. "Aku jadi agak kesulitan di Ignis. Kalian tahu kan? Aku lemah di teori."

"Hahahaha!" teman-teman Ignisnya tertawa.

"Kamu harus berjuang sendiri ya... hahaha! Ughh..aughh..." Alzen mentertawainya hingga tersendak.

"Hahaha! Memangnya kita tidak?" kata Chandra. "Gurunya ganti, belajarnya juga tidak sama. Kita juga kesulitan tahu! Kau tahu? Di Liquidum gurunya bicara pelan sekali, sampai susah dengar dia ngomong apa."

"Hahaha!" Fia tertawa. "Nanti kamu juga terbiasa kok Chan... instruktur Andini memang begitu ngomongnya."

"Kamu bagaimana di Fragor?" tanya Lio.

"Karena baru hari pertama, masih mirip-mirip saja, beda orang-orangnya dan gurunya saja." jawab Alzen. "Pak Kazzel lebih seperti guru di dalam kelas ketimbang Pak Lasius yang lebih seperti guru olahraga. Dia bicara panjang lebar dan bahasannya detail."

"Pak Lasius ya...? Dia bahkan gak ngajar apa-apa hari ini..." kata Lio geleng-geleng kepala sambil menghembuskan nafas. "Katanya kegampangan, gak usah diajarkan. Sifat seenaknya sendiri itu keluar lagi. Ohh iya... anak-anak Ignis tadi sempat ribut karena kamu juara 2... Padahal itu sudah bagus loh!"

"Namanya manusia," sambung Gunin sambil melahap sesendok makanan berisi daging. "Gak mungkin bisa semuanya suka. Yang ngomong begitu pasti tak tahu sulitnya kita berjuang di turnamen."

"Setuju-setuju!" Sambung Fhonia. "Ahh... Tapi turnamen kemarin gak sulit kok, justru seru-seru aja. Iya kan Zio... Uhhhhhhh!" Fhonia mencubitnya lagi.

"Adududuh! Sakit tahu kak!" balas Zio sambil mencoba melepas cubitannya. "Aku tak tahu apa-apa soal turnamen." 

"Loh memangnya kamu tidak menonton kami?" tanya Lio penasaran.

Zio hanya geleng-geleng kepala. "Enggak kak, waktu turnamen aku malah ada ujian. Ohh iya, aku hanya menonton pas final saja kak. Jadi aku nonton kak Alzen dan lawannya Kak Nicholas yang seram itu. Kakak keren sekali loh!"

"Aaa... terima kasih." Alzen tak tahu harus merespon apa, ia hanya tersipu malu dan membuang muka.

"Ngomong-ngomong, kamu umur berapa Zio?" tanya Fia.

"Sepuluh..." jawabnya dengan imut.

"Wahh imut banget!" Fhonia berbinar-binar.

Dan dengan segera Zio menutupi pipinya dengan kedua tangan.

"Kok bisa belajar disini?" tanya Fia.

"Panjang ceritanya, tapi aku juga disini cuma seminggu kok." jawab Zio. "Cuma sebentar."

"Yah... kok Cuma seminggu." kata Fhonia. "Sebulan saja, setahun juga boleh..."

"Kalau setahun dicubitin gini, pipiku bisa bengkak tahu!"

"Hahahaha..." semuanya tertawa, kecuali Cefhi yang masih terus menunduk.

"A... aku pulang duluan ya..." kata Cefhi yang sudah bergegas berdiri.

"Lohh? Kenapa?" tanya Chandra. "Makananannya gak enak?"

"A-aku... aku..." ucapnya ragu-ragu. "Sudah ya..."

"Di-dia kenapa sih?" tanya Chandra heran.

"Kamu bau kali Chan..." ledek Lio.

"Enak saja!" sahut Chandra secara spontan.

"Hahahaha..." semuanya tertawa sekali lagi.

***

Mereka selesai makan dan kembali ke Dorm masing-masing, sesuai kata Alzen, biaya makan mereka semua dibayar Alzen seorang. Total biayanya mencapai 4.670 Rez. Harga yang relatif murah untuk Vheins. meski kini mereka boleh bebas tinggal dimana saja. Tapi karena biaya sewa rumah di Vheins sangat mahal, mereka tetap tinggal di Dorm.

Saat semuanya kembali, Fia dan Lio masih duduk sebentar lagi. Disana Fia bertanya pada Lio secara empat mata.

"Hei Lio, Chandra kenapa ke Liquidum sih? Dia bukannya tipe bertarung?"

"Tidak tahu juga," Lio mengangkat bahu. "Tapi kalau ke Liquidum ngapain bertarung? Dia kan bisa api dan air."

"Berarti..." Pikir Fia.

"Sudah yuk, kamu tidak mau pulang apa?"

***

Sore hari di rumah Obsidus,

"Aku akan kembali ke Vheins malam ini." kata Nicholas sambil berkemas di kamarnya. "Aku akan tetap jadi yang terbaik ayah, tak usah khawatirkan aku. Percayalah padaku."

"Aku percaya," balas Nero dari depan pintu masuk kamar Nicholas. "Karena kau anakku."

"Mission Completed!" sahut Nathan di ruang tamu sambil mensobek-sobek Quest yang ia selesaikan bersama Nicholas sebelumnya.

Nicholas menoleh keluar sebentar dan berhenti berkemas sejenak.

"Ohh! Kau sudah mau kembali ya Nico?" tanya Nathan.

"Kau bisa lihat sendiri kan?" jawabnya ketus.

"Ayah! Aku ambil Quest berikutnya, yang kemarin itu. Yang kepalanya kuledakkan."

"Quest itu, sudah diambil adikmu, Nouva." jawab Nero.

"Begitu ya? Sepertinya Quest yang mudah."

"Tidak juga," sambung Nouva yang baru saja kembali. Bajunya berlumuran darah akibat cipratan darah korban yang dibunuhnya. "Aku harus menghabisi setiap orang dalam Headquarters mereka. Pengamanannya lumayan juga, tapi pada dasarnya mereka lemah-lemah."

"Kalau bisa dilakukan seorang diri, itu artinya mudah." kata Nathan, "Berikan aku Quest tingkat S berikutnya ayah."

"Kau ke kantorku, pilih saja sendiri disana."

"Huh! Aku harap yang berikutnya menarik." kata Nathan sambil berjalan ke ruang kerja ayahnya, yang berisi selebaran Quest. "Sampai harus melibatkanmu juga."

"Aku mau libur sehari dulu," kata Nouva. "Besok malam aku ambil Quest lagi. Kalau bisa langsung ke targetnya saja. Quest hari ini benar-benar membuatku kotor. Aku mau membersihkan diri dulu."

"Aku mengerti." kata Nero menyanggupi.

"Ini kepala targetku," Nouva melempar potongan kepala target seperti melempar bola tendang. "Terserah mau ayah apakan? Kliennya juga sudah mati kan?" lalu Nouva bergegas ke kamar mandi.

Nero menangkap kepalanya, melihat sebentar lalu membuangnya ke tempat sampah seperti hal yang biasa saja. "Nanti aku suruh Steward kita untuk membakarnya."

Setelah menyaksikan itu semua, Nicholas berhenti sejenak.

"Aku benar-benar terlahir di keluarga monster.Bagi kami, membunuh para kriminal adalah untuk senang-senang, pekerjaan dan uang. Inilah tradisi keluarga Obsidus yang turun temurun di wariskan. Seperti yang Ayah selalu bilang. Kami gunakan kegelapan untuk melawan kegelapan."

***