Episode 237 - Urutan Terakhir




“Segel Mustika…” 

Lintang Tenggara mengangguk cepat. 

Bagi Balaputera Sukma, Segel Mustika bukanlah perkara baru. Apalagi, bagi dirinya yang berasal dari Kadatuan Kesatu kemudian menikah ke dalam Kadatuan Kesembilan. Selain terkenal akan kemampuan kokoh dalam bertahan, para ahli dari Kadatuan Kesembilan memang memiliki semacam kesenangan menyengel kasta keahlian diri sendiri. Tindakan ini diambil tentunya agar kemampuan mereka tiada dapat ditakar oleh pihak lain. 

“Ini adalah segel milik Wira…,” gumam Balaputera Sukma.

“Benar.” Wajah Lintang Tenggara yang tadinya tenang, bahkan sempat senang, kini berubah khawatir. Nenek Sukma sebelumnya menyampaikan bahwa beliau dapat membuka Segel Mustika yang dirapal terhadap ulu hati. Akan tetapi, perempuan setengah baya tersebut kini malah terlihat mempertanyakan. 

Tatapan Baluputera Sukma lurus ke arah sang cucu. Meskipun demikian, benaknya berupaya menelusuri kepingan demi kepingan ingatan masa lalu. Ia mengingat ciri khas simbol-simbol yang membangun formasi segel nan unik. Simbol-simbol tersebut sungguh sulit dilupakan, ibarat goresan kuas yang menghasilkan hasil karya lukisan maha indah. Hanya satu ahli yang diketahui menggunakan pola dan formasi segel yang sedemikian, dimana tokoh dimaksud adalah putranya sendiri, Balaputera Ragrawira.   

Sebagaimana diketahui, sebuah susunan formasi segel terdiri atas simbol-simbol yang tersusun dalam pola. Ada berbagai pola yang dirangkai untuk menghasilkan fungsi-fungsi tertentu, seperti segel pertahanan atau segel kerangkeng atau segel-segel lainnya. Simbol-simbol dan pola tersebutlah yang dipelajari oleh para perapal segel. 

Para bangsawan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera terkenal luas di seantero Negeri Dua Samudera sebagai ahli-ahli yang sangat piawai dalam merapal formasi segel. Akan tetapi, di Kemaharajaan Cahaya Gemilang sebagai kampung halaman wangsa tersebut, nama Balaputera Ragrawira mewakili sosok seorang anak jenius. 

Pada usia dua tahun, Balaputera Ragrawira merapal formasi segel pertamanya. Di kala itu, pencapaian yang sedemikian merupakan sebuah peristiwa yang menggegarkan kesembilan kadatuan. Kala berusia empat tahun, si bocah jenius itu menyusun jurus segel baru. Atas peristiwa ini, bahkan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mengundangnya bertandang ke istana diraja. Kemudian, seolah tiada pernah puas, pada usia delapan tahun Balaputera Ragrawira menciptakan simbol-simbol yang benar-benar baru dalam menyusun formasi segel. 

Seorang bocah balita merapal formasi dan merumuskan jurus segel baru memang sulit diterima nalar. Meski, kenyataan ini masih bisa dimaklumi karena panduan terkait simbol dan tata cara dalam merapal formasi segel memanglah sudah tersedia luas. Akan tetapi, menciptakan simbol-simbol baru dalam menyusun formasi segel adalah kemampuan yang menantang kodrat alam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Balaputera Ragrawira dalam merapal formasi segel berada di luar pakem dunia keahlian. Sungguhpun demikian, kejadian ini dirahasiakan dan hanya diketahui oleh kedua orang tuanya, Balaputera Dharanindra dan Balaputera Sukma. 

Yang tiada diketahui bahkan oleh Balaputera Sukma, adalah sejak usia remaja Balaputera Ragrawira mulai mengimbuhkan simbol-simbol baru yang ia ciptakan ke dalam formasi segel yang ia rapal. Inilah alasan mengapa formasi segel seperti Segel Benteng Bening di Pulau Dua Pongah dan Segel Mustika di ulu hati Lintang Tenggara tiada bisa diurai oleh sesiapa pun. Tak terbilang sudah upaya Lintang Tenggara mencari pihak-pihak yang menguasai formasi segel, bahkan sampai mempelajari seluk-beluk segel di Perguruan Svarnadwipa. Tak kunjung ia menemukan hasil. 

“Apakah alasan Wira menyegel mustika tenaga dalammu…?”

Lintang Tenggara tercekat. Panjang sekali ceriteranya, dan saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berpanjang lebar. Sebentar lagi kemungkinan besar Balaputera Tarukma akan terlepas dari sangkar formasi segel dan api yang mengurung dirinya. Walhasil, Lintang Tenggara hanya memandangi sang nenek penuh harap. 

Balaputera Sukma membaca ketidaknyamanan dari raut wajah Lintang Tenggara. Ia pun menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Pada akhirnya, Lintang Tenggara adalah anak didik dari Balaputera Wrendaha dan telah datang dengan niat menyelamatkan dirinya. Dua alasan ini sudah lebih dari cukup untuk sepenuhnya mempercayai tokoh tersebut. 

“Diriku bisa mengurai Segel Mustika ini karena kebetulan mengenal beberapa di antara simbol yang digunakan. Akan tetapi…”

“Akan tetapi…?” sela Lintang Tenggara merasa tak nyaman. 

“Segel Mustika ini memiliki syarat dan ketentuan yang berbeda dari yang biasa digunakan oleh para ahli dari Kadatuan Kesembilan. Ia hanya dapat diurai oleh ahli yang telah berada pada kasta Bumi.”

Pernah terpikirkan, batin Lintang Tenggara.  

“Kemudian, setelah terurai, segel tersebut akan memperbaiki diri. Paling lama, ia hanya akan terurai selama sehari semalam.” 

“Setelah itu…?”

“Kembali seperti sedia kala… Dan ketika itu terjadi, maka segel tersebut akan terkunci penuh selama lebih kurang satu purnama.” 

Bahkan bagi Lintang Tenggara, yang mengetahui banyak terkait seluk-beluk dunia keahlian, baru kini menyadari betapa rumitnya Segel Mustika yang mendera ulu hatinya. Bagaimana mungkin demikian banyak syarat dan ketentuan disematkan ke dalam sebuah formasi segel…? Mulai dari syarat mengurai, sampai mekanisme memperbaiki diri.

“Hrargh…” 

Tak jauh dari mereka, di dalam sebuah sangkar yang merupakan gabungan dari formasi segel dan unsur kesaktian api, seorang lelaki setengah baya mengaum. Sebentar lagi, maka Balaputera Tarukma akan melepaskan diri!

Balaputera Sukma mengangkat lengan, lalu membuka telapak tangan ke arah ulu hati Lintang Tenggara. Sebuah formasi segel berbetuk sebuah piring, terlihat berpendar redup. Jemarinya bergerak cepat, mengutak-atik simbol-simbol yang senantiasa bergerak melingkar.. 

“Krak!” 

Suara bergemeretak diiringi dengan cahaya cerah berwarna merah. Formasi segel yang melingkar perlahan membuka seperti lembar-lembar kertas yang bertumpuk. Lembar pertama bergerak menyingsing ke kanan atas, lalu sesuai arah jam sampai ke lapisan kedua belas. Meskipun demikian, tak ada satu lapisan pun yang sirna. Semua lapisan itu hanya menyingkir sahaja. 

Lintang Tenggara terkesima. Betapa pemandangan ini demikian indahnya. Di saat yang sama, ia merasakan peningkatan terhadap terhadap tingkat keahlian! 

Kasta Perak Tingkat 2…

Kasta Perak Tingkat 3… 4… 5… 

Tingkat keahlian Lintang Tenggara terus tumbuh! 

Kasta Perak Tingkat 6… 7… 8… 

“Hrargh…” 

Balaputera Tarukma melepaskan diri dari jurus yang mengungkung tubuh! 

Kasta Perak Tingkat 9!


===

 

“Segel Syailendra: Ayam!”

Seekor ayam jantan segera melompat ke tembok kokoh yang merupakan formasi segel. Ia menghunuskan akar-cakar tajam di kedua kaki, kemudian mencengkeram erat permukaan tembok. Setelah itu, paruh tajamnya mulai mematuk-matuk dalam mengurai formasi segel! 

Meskipun demikian, Bintang Tenggara mengamati bahwa kecepatan si ayam dalam mengurai formasi segel tak setangkas ikan belida milik Wara. Ia pun mulai menyadari bahwasanya terdapat perbedaaan pengalaman antara si ayam dan ikan belida. Wara bersama Segel Syailendra yang ia miliki sudah seringkali berlatih bersama dalam mengurai berbagai macam simbol dan pola yang membangun formasi segel, sehingga dapat begerak cepat. Sedangkan ayam miliki Bintang Tenggara masih seumur jagung. 

“Tring!” 

Formasi segel yang melayang tinggi di atas kembali berpendar. Satu nama mengisi urutan ke-19!

Bintang Tenggara melompat cepat. Ia pun mulai ikut mengutak-atik formasi segel. Berdua lebih cepat dari sendiri, batinnya dalam hati. 

Di tribun kehormatan Kadatuan Kesembilan, sang Datu Besar dan Datu Tengah menanti penuh cemas. Pandangan mata mereka tak bisa lepas dari sebidang layar yang menampilkan upaya Bintang Tenggara dalam mengurai. Adalah harapan mereka bagi Balaputera Gara untuk dapat terus melangkah dan menghadapi tantangan berikutnya di dalam Gelaran Akbar Pewaris Takhta. 

Bintang Tenggara mencurahkan segenap perhatian dalam mengurai formasi segel. Dari pergerakan si ayam, ia mengamati dan mempelajari. Bersama sebagai satu kesatuan, mereka bekerja tekun. 

Waktu berlalu tanpa disadari.

 “Tring!” 

Formasi segel yang mengangkasa berpendar untuk terakhir kalinya. Nama yang mengisi urutan ke-20, adalah….

‘Balaputera Citaseraya!’



Cuap-cuap:

Mohon maaf, dikarenakan banyak nyamuk, maka episode kali ini hadir pendek.