Episode 8 - Penipu


Matahari merangkak naik sesuai dengan jadwalnya yang selalu tetap, betapapun manusia mau menahan atau mempercepat, ia tetap pada ketentuannya, seperti biasa.

Hikram baru saja bangun tidur, dan mimpinya masih itu-itu saja. Bunga tidur yang melibatkan si jago merah laknat yang melalap rumahnya dan … ah, sudahlah. Ia tak ingin memikirkan hal itu sekarang. Hikram mengucek matanya seperti anak kecil kemudian duduk untuk mengecek sekeliling, sembari mengalirkan hawa murni untuk menghangatkan punggung dan rongga perutnya yang terasa amat dingin.

Sidya kemarin susah tidur padahal sudah dipinjami kain pembungkus barang sebagai pengganti selimut. Meskipun begitu ia cukup heran akan murid yang baru diangkatnya sehari itu. Hikram memang berkali-kali mendengar Sidya menepuk nyamuk yang memang luar biasa menjengkelkan atau menggaruk punggung yang gatal disebabkan kontak badan dengan tanah, tapi ia tidak mendengar satu keluhan pun lolos dari bibir bocah itu. Si bangsawan cilik tentunya biasa hidup mewah, mengingat ayahnya merupakan kaisar yang memiliki segalanya. Belum sempat memerintah, keinginannya pasti akan langsung dilaksanakan. Hikram menebak akan sulit baginya untuk beradaptasi dengan gaya hidup seperti ini. Namun, rupanya ia salah. Sepertinya pewaris tahta Nagart terbuat dari bahan yang lebih kuat daripada dugaannya.

Apalagi sekarang Sidya sudah tidak berada di tempatnya tidur semalam. Meski ia tidak melipat kain yang dipakainya sebagai penghangat badan seperti sepatutnya dilakukan oleh anak perempuan yang baik, Hikram harus maklum. Tidak setiap hari si putri harus membereskan tempat tidurnya sendiri, kan? Pasti biasanya sudah ada petugas atau apalah namanya yang membereskan tempat tidurnya, dia tinggal terima beres saja. 

“Guru!” suara cempreng Sidya memanggilnya. Hikram menoleh dan melihat si putri tersenyum lebar. Tampangnya lebih kusut dari kemarin, gelungan rambutnya yang panjang karena tak pernah dipotong semenjak lahir berantakan dan sepertinya mau lepas, beberapa helai rambutnya yang halus menjuntai acak. Ia berada di bawah pohon beringin tempat Hikram menyuruhnya menggali tanah.

“Aku sudah menyelesaikan tugas dari Guru! Lima depa, tak kurang tak lebih!”

Hikram mendekat ke arahnya sembari melirik tangan si putri yang belepotan tanah sedang menggenggam sepotong ranting. Cepat juga kerjanya, dan sebelum tidur ia memang memerintahkan si putri untuk menggali lima depa dalamnya.

Kali ini Hikram menahan pujian yang akan ia lontarkan. Matanya mendelik mengawasi ranting yang dipegang Sidya, “Aku kan sudah bilang jangan pakai alat bantu?”

Sidya tersenyum penuh kemenangan. “Sebenarnya, guru hanya bilang padaku bahwa tanah ini cukup gembur sehingga tanpa menggunakan alat bantu pun aku sudah bisa menggali. Berarti aku tidak melanggar perintah dari guru, karena guru tak pernah melarangku. Aku ingat betul ucapan guru kemarin.”

Hikram berdeham-deham untuk membersihkan kerongkongannya sembari mengingat-ingat. Hikram harus menyesal saat tahu untuk kali ini Sidya memang benar. Seharusnya ia memberikan instruksi yang lebih spesifik kemarin. Ia menyuruh Sidya minggir dan melongok ke dalam liang yang dibuatnya.

“Ini berapa ini … hm, lima depa?”

“Ya, Guru.”

“Tak kurang tak lebih?” tanya Hikram lagi.

“Tak kurang tak lebih.” Sidya membeo.

“Bagus,” Hikram meringis lebar pada Sidya, kemudian mengacak rambutnya. Sidya tersenyum salah tingkah padanya, mungkin tak menyangka bahwa Hikram bisa menunjukkan gestur kasih sayang seperti itu mengingat Hikram merupakan orang paling kasar yang pernah ditemuinya. Sidya tak tahu bahwa sebenarnya itu hanyalah pengalih perhatian semata.

Tangan Hikram yang lain terangkat, dan dalam gerak yang begitu cepat memukul leher belakang Sidya yang tengah tidak waspada dengan sisi tangannya.

“Guru—” Sidya tak dapat meneruskan ucapannya saat serangan tepat mendarat. Bahkan sebelum terbanting ke tanah, ia sudah tak sadarkan diri, sementara rantingnya jatuh terlupakan.

---

Sidya terbangun oleh suara gaduh. Sepertinya suara orang yang sedang sibuk berkali-kali memindahkan sesuatu. Matanya membuka perlahan-lahan, mengerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya. Dilihatnya sosok Guru Hikram yang agak buram sedang buru-buru membereskan panci dan berbagai benda yang kemarin hari berserakan. Sidya berusaha menggerakkan badannya.

Tidak bisa, tubuhnya sedang kaku. Tak ada respon sama sekali saat ia menggeliat. Titik yang tepat berada di tengah-tengah bagian belakang lehernya pun berdenyut-denyut sakit sekali.

Ketika beberapa saat kemudian kesadarannya kembali, dan pandangannya sudah benar-benar normal, Sidya coba melihat sekelilingnya. Sepertinya dunia menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Ia memang tak pernah lebih jangkung dari anak-anak sebayanya, tapi jika dia lebih pendek sedepa dari rumpun semak bunga yang kini berada tak jauh darinya, itu sudah keterlaluan. Tubuhnya terasa dingin, susah sekali digerakkan seolah ditekan dari berbagai sisi. Tangannya juga berada di belakang punggung, sensasi yang sering ia rasakan saat latihan berakting dengan Daeng dan Seto. Tunggu dulu, baru ia sadari bahwa….

“Kenapa Guru menguburku?!”

Hikram berbalik menghadapnya dengan seringai sampai giginya yang kuning-kuning kelihatan. Untuk sekali ini, Hikram tampak sangat menakutkan bagi Sidya. Jauh lebih menakutkan dari seringai seekor singa yang pernah ia lihat dalam sebuah pertunjukan sirkus dari para pendatang negeri Brytisia.

“Sudah bangun, ya? Sebenarnya aku tidak menguburmu. Aku hanya mengubur kaki sampai lehermu. Kepala dan sedikit lehermu masih bebas, Bangsawan Cilik.”

“Guru tak boleh melakukan hal ini padaku!” Sidya marah-marah. Matanya melotot seperti mau keluar dan giginya mengertak ketika ia bicara, “aku percaya pada Guru! Aku percaya padamu! Hei, kau dengar tidak?! Kenapa kau melakukan ini padaku?!”

“Dasar anak-anak,” Hikram berhenti menata barang-barang, kemudian meringis seraya mengangkat bahu, “selalu menyalahkan orang yang lebih tua. Salahmu sendiri mudah percaya pada orang lain. Aku tidak memintamu percaya padaku, kok.”

“Hikram Sathar, kuperintahkan kau—”

Hikram langsung menyumpal telinganya begitu tahu Sidya mau bertitah. Ia bahkan bernyanyi asal, keras-keras semata agar suara Sidya tak masuk ke telinganya.

“Lalalala, putri manja terjebak sementara sang pengembara akhirnya terbebas dari diaaa!”

“Ahhhh!” Sidya menjerit keras-keras saking frustasinya, “lepaskan aku! Lepaskan aku, kataku! Turuti perintahku!”

Hikram menjulurkan lidahnya secara kekanakan, tahu bahwa si putri tak akan bisa lolos. Ia sudah mengikat lengan dan kaki Sidya sebelum menguburnya. Tak mungkin ia bisa pergi kecuali dengan bantuan orang lain.

Hikram membereskan barang dengan cekatan sembari terus-menerus menyanyi lantang lagi riang, untuk sementara tidak mempedulikan Sidya yang berusaha keras membebaskan diri. Kemudian ia mendeklamasikan sajak, mungkin saja potongan puisi dengan teriakan yang kerasnya alang-kepalang dan terdengar sampai jarak yang cukup jauh karena diiringi oleh hawa murni:

Di pojok rumah paman petani yang sederhana

Terdapatlah sebuah sarang

Milik seekor burung layang-layang


Tanpa sopan santun

Atau tata krama

Si burung datang

Lalu pergi

Tualang

Kelahi

Uji diri

Lalu pulang lagi


Terkadang 

Burung layang-layang meninggalkan onggokan tahi

Terkadang

Sarang yang teramat baik untuk dipanen paman petani


Burung layang-layang tak pernah pamit pada siapapun

Karena sejatinya

Sang burung terbang bebas


Dan paman petani mengerti tabiat layang-layang

Sehingga merelakan

Jikalau suatu saat

Dia tak pernah kembali

 “Pembohong! Penipu! Padahal kita sudah terikat satu sama lain!” Sidya membentak bertubi-tubi, yang malah membuat Hikram makin gencar tertawa. Sidya pernah mendengar semua kata-kata tersebut, yang lebih dari sekali dideklamasikan padanya oleh pendongeng istana dengan suara yang jauh lebih merdu daripada suara serak Hikram.

Judulnya Balada Layang-Layang, dan Sidya tahu apa makna tersirat yang dikandung didalamnya.

Hikram akan pergi, mungkin juga untuk selamanya. Seorang pengembara, terutama mereka dari rimba persilatan berpantang untuk mengucapkan selamat tinggal. Sebagai gantinya, syair inilah yang selalu mereka utarakan. Si pendengar adalah sosok “paman petani”, yang harus mengerti dan mafhum, jikalau suatu saat sebuah perpisahan akan benar-benar menjadi perpisahan yang terakhir dengan “si layang-layang” yang pergi mengembara.

Selagi pikiran Sidya berpacu dalam amarah, Hikram mengangkat kain yang berisi benda-benda yang kini berpindah tangan padanya, dan tertawa bahagia seperti maling yang sukses menyatroni rumah orang paling kaya sedesa. Ia berkata sembari ketawa-ketiwi untuk menandingi Sidya yang seperti mau meledak di tempat saking geramnya, “Menyebalkan sekali karena kantong emasmu sudah dibawa oleh dua pengawal tampan itu, huh! Tapi jangan anggap aku kehilangan akal, karena nanti aku bisa cari uang sen lagi dengan menjual barang-barang ini. Bangsawan Cilik, terima kasih atas kemurahan hatimu!”

Hikram menuju ke sungai dan melakukan demonstrasi melompati sungai sekali lagi. Meski panik, Sidya baru sadar bahwa Hikram sebenarnya menjejak bebatuan yang menyembul dari sungai, bukan melonjak diatas air seperti yang kemarin ia lihat. Ia tertipu karena gelapnya hari. Sempat ia sangka Hikram dapat berjalan di atas air, ternyata dia tidak sepiawai itu.

“Kembali! Kembali, kataku! Aku Ayusidya Hanseira Apashu Siauliong Nagarta Nagart, pewaris dari Syaimdra Indir Nagart, penguasa tanah yang engkau pijak dari timur sampai barat bertitah, bebaskan aku dari sini!” Sidya berteriak-teriak sampai suaranya mau habis, bahkan sampai tega untuk mengucapkan variasi semacam ‘penggal lehermu sendiri’ atau ‘lompatlah dari jurang terdekat’, namun sepertinya Hikram sudah benar-benar menghilang ditelan pepohonan. Belakangan ia baru sadar bahkan kalau ia berteriak sekencang-kencangnya sekalipun, suaranya bakal ditenggelamkan oleh deburan aliran sungai yang terus menerus mengalir, seolah-olah sama sekali tak peduli dengan penderitaannya. Sang sungai tetap terus bergerak mengikuti prosesnya sendiri meskipun ada seribu putri yang setengah terkubur dan diselimuti kesedihan.

“Lepaskan aku … aku percaya … aku percaya padamu. Tapi ... seseorang tolong aku …”Sidya terisak setengah merintih pada sosok yang sudah pergi jauh. Sosok yang ternyata sama sekali tak peduli padanya itu. Anggapan Sidya yang sudah cukup tinggi pada Hikram karena mau melatihnya kini melesak jatuh ke dalam bumi, ia sakit hati. Apakah dia terlalu kelihatan sebagai beban sehingga Hikram meninggalkannya? Dulu Ibu Suri meninggal karena terlalu keras merawatnya, apakah itu akibat dari dirinya yang ternyata memang beban yang teramat berat untuk ditanggung, untuk diasuh? Padahal ia sudah mencoba untuk tidak mengeluh, ditelannya semua ujian yang terasa menyiksanya baik fisik maupun mental. Namun, tak ada sama sekali harganya semua itu di mata Hikram. Sidya punya misi yang ia emban, oleh karena itu ia memilih Hikram sebagai guru. Tapi dengan mudahnya Guru mencuri barang-barang, bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal untuk kemudian berlalu semudah seseorang membalikkan telapak tangan! Sekarang siapa yang menganggap bahwa ikatan guru-murid itu hanya senda gurau belaka?! Siapa?! Siapa?

Siapa …?

Indra penglihatan Sidya mulai mengembun, kemudian tanpa ampun menghujani tanah dengan air mata yang tak mampu ditahannya lagi. ia sesenggukan, hanya ditemani oleh debur sungai dan kesendirian yang terasa ribuan kali lebih menghimpit daripada kungkungan pada tubuh fisiknya.

--