Episode 28 - Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul (2)



Melihat Galuh telah berhasil mngalahkan semua mayat hidup itu, Ki Demang dan keluarganya pun menghampiri dirinya, “Hatur nuhun Nyi Dulur! Terimakasih sudah menyelamatkan kami semua” ucap Ki Demang.

“Ah bukan apa-apa Ki Demang, saya hanya melaksanakan kewajiban untuk menolong sesama” jawab Galuh. Ki Demang pun mempersilahkan Galuh masuk kedalam rumahnya.

Di dalam rumah, Ki Demang menyuguhkan aneka makanan dan minuman pada Galuh sambil menceritakan apa yang terjadi pada desa ini. “Nama saya Ki Sukma, saya demang di Desa Cisoka ini. Dahulu desa ini sangat makmur, aman, tentram, dan damai sampai kemunculan Ki Wikuyana, dia adalah seorang tuan tanah yang ingin menjadi Demang di desa ini.

Segala cara ia lakukan untuk menjadi demang termasuk membagi-bagikan hartanya pada rakyat desa, tapi rakyat desa malah jadi tidak bersimpati padanya, pada saat pemilihan Demang untuk menggantikan Demang terdahulu yang naik jabatan menjadi pejabat di Kutaraja, rakyat desa memilih saya, dan akhirnya Tumenggung Sukadana dari Kutaraja Mega Mendung mengangkat saya menjadi Demang, rupanya hal tersebut menjadi biang dendam bagi Ki Wikuyana, ia menantang saya untuk berduel sebab menuduh saya curang dalam pemilihan Demang, saya berhasil mengalahkannya dan dia pun pergi dari desa ini, tapi 10 tahun kemudian ia kembali ke desa Cisoka ini sebagai dukun teluh, ia membuat kekacauan di desa ini dengan ilmu teluhnya!”

“Dukun Teluh? Keempat mayat hidup tadi tampaknya dikendalikan oleh suatu kekuatan ghaib yang sangat hebat!” sahut Galuh.

“Benar, Ki Wikuyana sangat tinggi ilmu hitamnya, ia dikenal sebagai dukun yang bersekutu dengan Jin dan Setan!” jawab Ki Sukma.

Galuh lalu berpikir, ia teringat kepada cerita gurunya tentang orang-orang sesat yang bersekutu dengan Jin untuk mencapai tujuannya. “Apakah Ki Wikuyana ini adalah manusia yang bersekutu dengan Jin Ki Demang?”

Ki Demang Sukma mengangguk. “Benar, setiap manusia bisa bersekutu dengan Jin dan Setan bila telah dikuasai oleh nafsu duniawi, sehingga menjadikannya mereka mahluk yang jahat! Bahkan Ki Wikuyana telah menculik gadis-gadis perawan untuk diambil darahnya sebagai persembahan bagi para Jin yang memberinya ilmu hitam!”

Nyi Demang ikut membuka suara. “Pak, masa kita terus mengobrol tentang dukun teluh itu tanpa mengenal putri penolong kita ini, jangan keburu kita lupa berterima kasih padanya!”

Ki Demang mengangguk “Ah betul, kita sudah mengobrol cukup banyak, siapakah nama Nyi Dulur?”

Galuh mengangguk sambll tersenyum, “Nama Saya Galuh Parwati”

Nyi Demang mengangguk sambil tersenyum, “Hmm... Galuh Parwati, dari logat bicaramu kamu sepertinya bukan dari Pasundan ya? Logat Bicaramu seperti dari Jawa Pesisir Utara?”

“Benar Nyai Demang, saya berasal dari Tegal, tapi saya sudah lama bermukim di Bukit Tunggul” jelas Galuh.

“Bukit Tunggul? Saya pernah mendengar ada seorang pertapa sakti di sana bergelar Dewa Pengemis, apakah kamu murid si Dewa Pengemis itu?” Tanya Ki Demang.

“Benar saya murid Dewa Pengemis dari Bukit TUnggul.” jawab Galuh. 

Saat itu Sri putri bungsu Ki Demang keluar dari kamarnya dan membawakan pakaian untuk Galuh. Saat itu Galuh baru tersadar lalu memperhatikan semua yang berada di ruangan itu, semuanya tampak mendengus-denguskan hidungnya, ia baru sadar kalau ia masih memakai pakaian ala pengemis semejak meninggalkan Bukit Tunggul kemarin, ia pun merasa kalau bau badannya sangat menyengat tak sedap.

Sri memberikan pakaian yang ia bawa untuk Galuh, “Teteh, maafkan kalau saya lancang, tapi mungkin Teteh kurang nyaman dengan pakaian yang dipakai Teteh, ini pakailah pakaian saya, mudah-mudahan pas di tubuh Teteh.” 

Galuh memang merasakan pakaian ala pengemis yang pakai saat ini tidak sedap dipandang, robek-robek, penuh tambalan, berdebu, kotor, serta bau, maka dengan malu-malu ia pun menerima pakaian pemberian Sri, “Terimakasih Sri, oya saya mohon pamit sebentar untuk mandi ke sungai.”

Nyai Demang mengangguk “Baiklah, tapi setelah mandi kembalilah kesini Galuh, menginaplah disini sebagai ucapan terima kasih kami.”

Galuh pun mengangguk “Baik Nyi, maaf saya permisi dulu.” Galuh lalu keluar menuju ke sungai, beberapa saat setelah Galuh keluar, putra sulung Ki Demang diam-diam mengikutinya dari jauh.

Di Sungai yang berada di pinggir Desa Cisoka, Galuh Parwati mandi membersihkan dirinya di tempat yang agak tertutup dan terlindungi, selama ia menjadi pengemis memang ia jarang sekali membersihkan diri. “Apakah Jaya meninggalkan aku karena aku kotor dan bauku yang tidak sedap ini?” tanyanya dalam hati sambil menciumi tubuhnya yang baru dibilas air, ia pun mandi agak lama di sana. 

“Ah bau tubuhku tidak bisa hilang! Guru memang pernah berkata selama aku memiliki ilmu Hitut Semar dan Telapak Kawah Tunggul, bau tubuhku ini tidak akan bisa hilang! Haduh bagaimana Jaya mau suka kepadaku kalau aku bau begini?!” keluh Galuh mengingat pesan dari gurunya tersebut.

“Aku bisa menghilangkan bau badanku kalau aku membuang seluruh ilmu ajian yang guru berikan padaku, tapi sialnya untuk saat ini aku belum bisa membuang ilmu yang guru berikan padaku karena aku masih membutuhkannya!”

Setelah selesai mandi, ia mengenakan pakaian yang diberikan Sri kepadanya. “Hmm... Selama di Bukit Tunggul aku belum pernah mengenakan pakaian seperti ini, apakah aku cocok mengenakan ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Dia lalu berkaca dalam kejernihan air sungai yang mengalir di sana, gadis itu tersenyum melihat penampilannya sendiri, ia mengenakan pakaian kemeja biru muda serta celana ¾ berwarna biru tua dengan ikat kepala berwarna biru tua juga, ia lalu mengikat rambutnya yang panjang dan bagus kebelakang, kini penampilannya beda jauh tidak lagi seperti saat mengenakan pakaian pengemis, ia nampak seperti seorang gadis desa dari keluarga yang terpandang.

Galuh lalu membaui badannya sendiri, “Hmm... Sudah tidak terlalu bau lagi walaupun aku tidak bisa menghilangkan bau badanku selama aku masih memiliki ilmu yang guru berikan padaku. Yah yang penting sudah tidak terlalu menyengat seperti tadi!” gumamnya. 

Ia lalu melangkah ke tepi sungai, tapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pria sedang duduk di batu kali seolah sedang menunggunya. “Kau... Bukankah kau Lesmana putra Sulung Ki Demang? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Galuh dengan penuh curiga.

“Maaf sudari, harap jangan berprasangka dulu, saya duduk disini memang sengaja menunggumu, untuk menjagamu sebab siang hari begini banyak orang yang lalar-lewat ke sungai ini, khawatir ada yang menganggumu mandi” jawab Lesmana, memang saat itu hari sudah siang.

Dengan sungkan Galuh pun menganggukan kepalanya “Eh terimakasih Kang Lesmana.” ucapnya.

Lesmana pun tersenyum “Mari kita pulang saudari.” 

Mereka pun jalan berdua beriringan, perasaan Galuh tak menentu ketika mereka berjalan bersama apalagi ketika beberapa orang penduduk desa Cisoka melihat mereka, sebelumnya ia belum pernah berjalan bersama seorang pemuda seperti ini, gadis hitam manis ini hanya bisa menundukan kepalanya saja menyembunyikan wajahnya yang memerah, dilain pihak Lesmana merasa senang sekali bisa berjalan berduaan dengan Galuh, sejujurnya ia telah tertarik pada Galuh sejak pertama kali melihatnya pagi tadi ketika gadis ini menolong keluarganya dari ancaman para mayat hidup itu.

Setiap langkah yang diambil, semakin Galuh Parwati merasa canggung, apalagi ketika ia mendapati Lesmana beberapa kali mencuri-curi pandang padanya, kini ia mulai merasa rishi karena pemuda disebelahnya kerap mencuri-curi pandang padanya, akhirnya ia berkata, “Kang Lesmana, maaf Kakang pulang duluan saja, ada yang hendak aku lakukan terlebih dahulu”.

Lesmana jadi tidak enak pada Galuh, “Kau mau ke mana Galuh? Bukankah kau sudah berjanji akan menginap di rumah kami? Ayah dan Ibu pasti sedang menunggumu pulang!” Tanya Lesmana.

“Maaf Kang Lesmana, nanti aku pasti kembali ke rumahmu, aku pergi dulu sebentar!” ucap Galuh yang langsung melesat berlari sambil menutupi wajahnya yang memerah.

“Galuh kembalilah sebelum senja!” teriak Lesmana, ketika bayangan Galuh sudah tidak nampak lagi pemuda ini menghela nafasnya.

“Hffhhh... Gadis yang aneh... Tapi dia sungguh cantik sekali! Meskipun kulitnya cokelat dan lebih gelap dari gadis-gadis Pasundan kebanyakan tapi dia sangat menarik... Terutama bibirnya yang merah ranum dan tahi lalat di bawah mata kanannya” bisik Lesmana pada hatinya sendiri.

“Ah bodohnya aku membuat dia tidak nyaman dengan kehadiranku!” makinya pada diri sendiri.

     

      ***


Di perbatasan desa, Galuh menghentikan larinya, ia lalu duduk di bawah sebuah pohon besar, dia duduk termenung melihat para penduduk desa yang hilir mudik keluar masuk ke desa Cisoka, ada yang pulang berdagang dari desa lain, ada pula yang pulang dari sawah atau ladang mereka, beberapa ada gadis-gadis yang seumuran dengannya yang baru pulang bersama suaminya. 

“Oh guru, banyak dari mereka yang seusia denganku tapi mereka sudah memiliki seorang suami dalam hidupnya, sedangkan aku... Aku masih merasa sangat asing dan aneh dengan perasaan yang sedang hinggap di hatiku ini, setiap kali aku teringat pada Jaya, hatiku terasa sakit tapi anehnya juga sangat merindukan kehadirannya, ingin sekali aku berjumpa dengannya lalu menatap dirinya sampai puas! Perasaan aneh pada Jaya ini semakin menguat ketika aku mendapati tatapan-tatapan aneh serta perhatian dari Kang Lesmana... Perasaan apakah ini yang membuatku menderita seperti ini?” desahnya dalam hati, wajah Jaya ketika sedang tersenyum menari-nari di pelupuk matanya.

Saat senjahari tiba, barulah Galuh kembali ke rumah Ki Demang Sukma, sebenarnya ia ingin segera melanjutkan perjalanannya mencari Jaya, tapi ia juga merasa tidak enak kalau harus pergi saja tanpa berpamitan pada keluarga Ki Demang apalagi setelah ia diberikan pakaian oleh Sri, dan keluarga Ki Demang bersikeras meminta dirinya untuk menginap. Ia juga dapat merasakan bahwa keluarga Ki Demang adalah keluarga yang baik dan taat beribadah, maka ia pun terpaksa kembali ke Kademangan Cisoka.

Sementara itu di area pesawahan Desa Cisoka, Jaya Laksana nampak sedang berjalan melewati area pesawahan itu, “Ah kenapa aku bisa tersesat dan berputar-putar disekitar desa ini?” keluh jaya dalam hatinya. “Aneh… Apakah memang ini suatu firasat agar aku tidak lekas meninggalkan wilayah desa ini?” tanyanya dalam hati pada diri sendiri.

Ia lalu mendongkakan kepalanya ke atas langit. “Sudah senja, sebentar lagi Magrib tiba, kalau aku meneruskan perjalanan sekarang, aku pasti akan menginap didalam hutan lagi, apa aku bermalam di desa ini saja ya?” gumamnya.

Jaya lalu mengeluarkan kantong uangnya dan menghitung uanganya. “Ah uangku hanya sedikit, kalau kupakai untuk bermalam di penginapan uangku bisa habis.” pikirnya.

Dia lalu celingukan, pandangan matanya membentur sebuah sawung yang ada di sawah itu, “Ah aku istirahat di sawung itu saja, besok subuh aku akan melanjutkan perjalanan.” pikirnya sambil melangkah masuk kedalam sawung itu.

Malam itu Galuh kembali dijamu makan malam oleh keluarga Ki Demang, aneka makanan dan minuman disediakan berlebih, Galuh pun menyantap hidangan tersebut dengan sungkan dan tidak enak, apalagi ketika ia mendapati Lesmana terus mencuri-curi pandang padanya. Selesai Makan malam, Galuh melangkahkan kakinya ke halaman belakang Kademangan, dia lalu duduk menyendiri di sana.

Beberapa saat ia duduk termenung seorang diri, seorang pemuda datang menghampirinya, “Melamunkan apa Galuh?” tanyanya sambil tersenyum.

Galuh terkejut melihat kehadiran pemuda itu yang tak lain adalah Lesmana. “Eh Kang Lesmana... Tidak, aku sedang tidak melamun kok, aku hanya sedang teringat pada guruku” jawab Galuh berbohong.

“Gurumu si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul itu?” Tanya Lesmana.

“Benar, di sana juga tinggal saudara-saudaraku... Kami semua tinggal di sana.” jawab Galuh.

“Lalu kenapa kamu pergi turun gunung?” tanya Lesmana yang tidak ingin mengakhiri perbincangan dengan Galuh.

“Eh itu… Aku diperintahkan oleh guru untuk melaksanakan sebuah tugas yang penting…” jawab Galuh dengan kagok.

Beberapa saat kemudian mereka saling terdiam, keduanya sama-sama merasa canggung. Beberapa kali Lesmana berusaha untuk menatap wajah dan setiap lekuk tubuh gadis hitam manis yang duduk dihadapannya, hasrat didadanya terus bergejolak hebat, hingga akhirnya ia memberanikan diri berkata. “Galuh... Maafkan aku kalau aku tidak sopan dan tidak tahu diri kalau harus mengatakan ini.”

Galuh menatap Lesmana dengan canggung “Apa yang hendak kamu katakan Kang Lesmana?”

Lesmana menelan ludahnya, dia berusaha mengumpulkan keberaniannya, lalu menatap mata Galuh lekat-lekat. “Galuh... Aku tahu kita baru saja bertemu hari ini, tapi... Tapi aku langsung menyukaimu... Aku menyukaimu Galuh!”

Galuh menundukan kepalanya, betapapun ia telah dapat menebak apa yang Lesmana rasakan padanya dengan intuisi wanitanya, tapi tetap saja ia merasa kaget dan tidak enak, gadis ini bingung harus berkata apa sebab inilah pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan perasaan suka kepada dirinya.

“Bagaimana Galuh? Apakah kau mau menerima cintaku?” Tanya Lesmana dengan penuh harap.

Setelah berpikir beberapa saat Galuh pun memutuskan untuk berkata yang sejujurnya, “Maafkan aku Kang Lesmana, aku hanyalah seorang gadis pengemis, aku hanyalah seorang musafir yang berjalan tanpa arah mengikuti langkah kaki membawa ke manapun ia melangkah untuk melaksanakan tugas dari guruku... Aku tidak pantas untuk bersanding denganmu, seorang putra Demang dari keluarga yang terhormat!”

“Aku tidak peduli dengan status sosialku sebagai anak Demang ataupun kau yang seorang pengemis atau musafir! Aku hanya mencintai dirimu Nona Galuh Parwati, dan aku ingin mendapatkan balasan cinta darimu!” tegas Lesmana.

Galuh menggelengkan kepalanya dengan lemas, “Maaf Kang Lesmana, aku tidak bisa menerima dan membalas perasaanmu padaku karena aku telah mempunyai seseorang yang telah menawan hatiku!” usai berkata begitu Galuh langsung pergi meninggalkan Lesmana.

“Galuh…,” desah Lesmana dengan dada yang terasa sangat sesak.

Galuh terus melangkah ke halaman depan kademangan, di halaman depan ia melihat Ki Demang sedang bersama Nyai Demang sedang memberikan perintah kepada para pengawal Kademangan, mereka pun melihat Galuh dan memanggilnya “Kau mau ke mana Galuh?” tanya Nyi Demang.

“Eh tidak saya hanya sedang mencari angin, udara malam ini cukup gerah.” jawab Galuh sekenanya.

“Hmm... Kamu benar Galuh, udara malam ini gerah tidak seperti biasanya! Perasaanku juga jadi tidak enak…” sahut Nyi Demang.

“Saya juga merasa tidak enak, rasa-rasanya malam ini sangat gerah sekali, aneh, tidak seperti biasanya!” sahut Galuh.

Ki Demang pun ikut memperhatikan langit malam, saat itu langit malam gelap gulita diliputi awan mendung yang menghalangi Bulan dan Bintang, suara srigala mengaung terdengar jelas saling bersahut-sahutan, kuda-kuda di istal Kademangan saling meringkik. 

“Betapa kecil dan rapuhnya kita, di tengah ganasnya ombak kehidupan, kita harus selalu memohon dan meminta petunjuk kepada Illahi, agar kita terhidar dari musuh nyata maupun musuh yang tidak nyata, kita harus mengusir perasaan-perasaan itu dengan dzikir Neng Galuh... Nah hari sudah larut, mari kita beristirahat.” ucap Ki Demang, mereka bertiga pun masuk kedalam rumah untuk beristirahat.


***


Disebuah rumah yang terdapat di tengah hutan di luar Desa Cisoka, seorang pria paruh baya tampak sedang bersemedi menghadap patung berhala berbentuk Iblis dengan segala perlengakapan perdukunannya. Menjelang tengah malam, ia membuka matanya, lalu berjalan menuju ke sebuah kamar, dari dalam kamar itu ia mengambil seorang gadis yang masih perawan yang tak sadarkan diri, ia lalu membawanya dan mebaringkannya di altar persembahan yang ada di bawah berhala Iblis itu. 

Pria tua itu lalu mengambil sebilah keris pusaka, dia mengeluarkan keris itu dari sarungnya, mulutnya berkomat-kamit membaca mantera, lalu keris itu diacungkan ke atas, dan Crasshhh! Keris itu memotong pangkal urat di leher gadis yang malang itu! Si orang tua lalu menadahi darahnya yang mengucur dengan sebuah baskom dari tembaga.

Setelah selesai, ia melumuri patung berhala dihadapannya dengan sebagain darah itu, sebagainnya lagi ia bawa ke atas pendupaan lalu ia siramkan pada air kembang tujuh rupa, ia lalu mengangkat kedua tangannya dan membaca materanya “Wahai penghuni alam kegelapan! Turut Perintahku! Turut perintah Ki Wikuyana! Kepada Eyang di Alam Arwah, hambamu Ki Wikuyana memohon bantuan kekuatanmu! Bangkit! Bangkitkan mereka yang mati dalam penasaran! Bangkit!” teriaknya. Tiba-tiba mata berhala di hadapannya memancarkan cahaya merah terang bagaikan jilatan lidah api!

Di pemakaman umum tak terurus yang terletak diluar desa Cisoka, tiba-tiba beberapa makam meledak! Dari dalam makam-makam itu keluarlah mayat-mayat hidup, ada yang sudah menjadi tengkorak seutuhnya, ada yang masih mempunyai kulit dan daging yang sudah rusak yang masih menempel di tulang-belulang, beberapa belas mayat hidup itu lalu berjalan meninggalkan pemakaman tersebut, bagaikan pasukan zombie, mereka bergerak serentak ke arah Kademangan Desa Cisoka.

Di perbatasan Desa, empat orang pemuda desa sedang melakukan tugas ronda malam, “Kang malam ini udaranya sangat aneh ya, gerah sekali rasanya, bahakan lebih gerah dari siang hari!” ucap salah satu dari mereka.

“Benar, padahal langit malam ini sangat mendung seperti hendak hujan, tapi kenapa rasanya panas begini ya?” sahut kawannya.

“Dari tadi juga terdengar suara raungan srigala-srigala dan suara burung hantu bikin bulu kuduk merindang saja! Sejak Ki Wikuyana kembali ke desa ini keadaan desa ini memang seolah selalu dilanda kengerian-kengerian yang aneh! Padahal Ki Demang adalah orang yang baik serta taat beragama!” sahut yang satu lagi.

Pemuda yang nampaknya menjadi pemimpin mereka langsung menyela “Sudahlah! Jangan membicarakan yang tidak-tidak! Jangan menambah beban pikiran Ki Demang dan penduduk desa! Kejadian tadi pagi pun masih membuat penduduk ketakutan! Makanya kita harus berjaga-jaga!”

Baru saja ia menutup mulutnya, matanya melihat belasan barisan zombie yang berjalan dari arah pemakaman umum menuju ke desa Cisoka. “Hei kalian lihat apa itu!” tunjuknya ke arah luar desa, ketiga kawannya pun melongok ke arah yang ditunjuk, terkejutlah mereka semua melihat rombongan mayat hidup itu.

“Apaan tuh?!” pekik salah satu dari mereka.

“KABUR!!!!” seru mereka berbarengan, mereka pun memasang langkah seribu, lari sekencang-kencangnya meninggalkan desa Cisoka menuju ke area pesawahan.

Di dalam rumah yang terdapat di tengah hutan, diluar desa Cisoka, Ki Wikuyana terus memantau pergerakan pasukan zombienya dari air kembang tujuh rupa yang dicampur darah perawan, ia melihat kawanan zobie itu sudah berada di alun-alun desa Cisoka didepan gerbang kademangan. “Atas nama Eyang di Alam Arwah, aku perintahkan kepada kalian para mahluk-mahluk penasaran untuk membasmi keluarga si Sukma yang terkutuk! Hahaha…”