Episode 234 - Waktu



“Swush!” 

Sejumput rerumputan hanya menyibak ringan di kala ujung jemari kaki menerpa setiap helainya. Ibarat permukaan air tenang yang ditimpa sehelai bulu burung, rerumputan beriak pelan membentuk lingkaran, kemudian segera kembali ke posisinya sebagaimana sedia kala. Di kala itu terjadi, sesosok tubuh berkelebat cepat menerpa helai-helai rerumputan berikutnya. Ia melesat ke kiri dan ke kanan berkali-kali, membentuk jalur zig-zag nan sempurna. Kecepatannya dalam bergerak di atas rata-rata. 

Di belakang, seekor binatang siluman membelah kerumunan semak belukar. Tubuhnya demikian besar, dengan moncong mirip anjing yang disertai rahang kuat dengan gigi bertaring yang tajam-tajam. Kecuali pada bagian moncong tersebut, rambut di sekujur tubuhnya tebal. Ekornya pendek hampir tak terlihat. Ia mengejar, terlihat dari posisi yang membungkuk seperti merangkak. Sepasang tangan dan kaki demikian besar. Kekuatan binatang siluman ini setara dengan ahli yang berada pada Kasta Perak!

Sosok yang dikejar meneruskan pola gerak dalam berlari. Dari goncangan ringan buah dada yang berukuran sedang di kala melakukan setiap lompatan, dapat diketahui bahwa ia adalah seorang gadis belia. Rambutnya tergerai ikal dan panjang. Pakaian yang ia kenakan compang-camping. Wajahnya dibenuhi debu dan bercak tanah. 

Binatang siluman yang mengejar dan menempel ketat, tetiba merangsek dan menyapu lengan kanan yang kekar dan besar. Rerumputan yang tadi diterpa ringan, kini menyeruak bersamaan dengan tanah ke semerata penjuru. Beringas! 

Kendati pun demikian, si gadis belia sigap dalam mengubah arah. Ia menikung tajam dan menghindar di saat-saat akhir, lalu melesat lurus. Uniknya, kini pola dalam berlari tetiba berubah. Bila tadinya melompat-lompat, kini ia ibarat berseluncur lurus ke depan. Ketika mengambil satu langkah, maka jarak yang berhasil ditempuh mencapai lima langkah normal. 

“Hei! Siapa yang menyuruh engkau mengubah pola langkah!” Tetiba seruan ketidakpuasan datang dari arah atas. Segumpal asap tebal, yang mana pada posisi atasnya, duduk bersila seorang remaja berkulit tubuh gelap. Sebilah keris besar menyoren di pundak.

Lamalera mendongak. Wajahnya terlihat cemas. Tadi ia terpaksa mengubah teknik berlari demi menghindar dari sapuan lengan binatang siluman Babun Rambut Hutan. Dari pola ke kiri dan ke kanan menjadi pola meluncur lurus ke hadapan. Akan tetapi, kini ia mengetahui pasti bahwa bahaya yang lebih besar lagi akan segera mengincar dirinya. 

“Bum! Bum! Bum!” 

Bau asap kemenyan menyibak pekat di semerata penjuru wilayah. 

Menggeretakkan gigi, Lamalera mengerahkan segenap tenaga yang ada untuk kembali melompat zig-zag ke kiri dan ke kanan. Sebagai ahli yang memiliki unsur kesaktian angin, gadis tersebut awalnya hanya dapat meluncur lurus. Sebagaimana diketahui, meski memiliki kecepatan, kemampuan ini kalah telak dengan kecepatan gerak unsur petir yang tiada beraturan. 

Layaknya ahli yang sangat berpengalaman, tentu Hang Jebat mengetahui kelebihan sekaligus kelemahan lintasan gerak unsur kesaktian angin. Atas alasan itu pula, ia mengajarkan agar Lamalera mengubah teknik melangkah menjadi zig-zag. Pada akhirnya, kemampuan meluncur lurus dan dapat mengubah pola gerak menjadi zig-zag, bilamana dipadupadankan dengan tepat di dalam pertarungan maka akan sangat menguntungkan Lamalera. Dengan catatan, gadis itu dapat melakukan kombinasi dengan sangkul lagi mangkus. 

“Bum! Bum! Bum!” 

Serangan yang kini datang dari arah atas, jauh lebih berbahaya dari sapuan lengan binatang siluman yang masih mengejar di belakang. Gadis belia itu mengetahui betul bahwa Hang Jebat tiada akan bertindak setengah-setengah di kala menyerang! 

“Kau terlalu keras dalam mendidik gadis itu…” Kesadaran Tameng dari Keris Tameng Sari berujar sangat prihatin. 

“Aku sudah membantu ia naik ke Kasta Perak. Akan tetapi, bilamana takdirnya adalah kematian, maka matilah ia hari ini jua!” Hang Jebat semakin menjadi-jadi dalam melepaskan gumpalan demi gumpalan asap dalam mengincar menyerang Lamalera! 

“Akh!” 

Meski terus melompat-lompat, pada akhirnya satu gumpalan asap menyerempet pundak kiri Lamalera. Ia terpental jatuh. Di saat yang bersamaan pula, Babun Taring Hutan menyusul mendekat. Binatang siluman itu pun mengibaskan lengan nan panjang… deras ke arah gadis belia yang sudah jatuh tiada berdaya!

Berdiri di atas gumpalan asap yang mengangkasa, Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka menyilangkan lengan di depan dada. Sorot matanya menatap dingin. Ia menantikan detik-detik terakhir kehidupan meninggalkan tubuh Lamalera. Betapa ia menerka-nerka… Apakah tubuh gadis belia itu akan remuk ditumbuk? Ataukah terkoyak dicabik? Atau mungkin terpental menghantam batang pohon besar di kejauhan? 

Menyaksikan detik-detik kematian seorang ahli, merupakan peristiwa yang sungguh menggairahkan. 

“Hm…?” 

Tetiba naluri Hang Jebat merasakan akan sebuah keanehan yang nyata. Setelah itu, lebih cepat dari satu kedipan mata, tubuh tak berdaya Lamalera yang sedikit lagi dihantam oleh binatang siluman Babun Rambut Hitam… menghilang! Hampir secara bersamaan, tubuh gadis belia tersebut kemudian muncul di tempat lain yang berjarak tak terlalu jauh!

Ayunan lengan besar dan kekar binatang siluman Babun Rambut Hutan hanya menerpa angin. Ia terlihat kebingungan, sehingga menoleh ke kiri dan ke kanan berkali-kali. Kemanakah perginya manusia yang seharusnya sudah berada di dalam genggaman? Tak menemukan jawaban, binatang siluman itu pun bergegas pergi menjauh. Masih juga kebingungan.

“Siapakah gerangan engkau yang datang tak diundang…?” gumam Hang Jebat ke arah Lamalera yang sudah jatuh pingsan tak terlalu jauh. 

Seorang pemuda, kemungkinan berusia 20-an tahun terlihat di samping tubuh Lamalera. Kulit tubuhnya gelap, dengan rambut pendek keriting halus. Ia hanya diam menatap ke arah Hang Jebat. Raut wajahnya datar.

“Sungguh jalan keahlian yang langka…,” sambung Hang Jebat. “Bilamana engkau tiada hendak menjawab, maka hari ini adalah hari kematianmu…” 

Dada pemuda itu naik turun dengan deras. Keringat sudah mulai membasahi tubuh. Keadaan ini bukan karena ia gentar akan ancaman yang dilontarkan oleh Hang Jebat. Akan tetapi, disebabkan kondisi tubuh kelelahan serta mustika tenaga dalam yang terkuras banyak. Sungguh jurus yang baru saja ia kerahkan demi menyelamatkan Lamalera, membebani tubuhnya sampai sedemikian rupa. 

Terlepas dari itu, kemampuan yang ia kerahkan layak disebut sebagai digdaya!

“Teleportasi…? Bukan. Lorong dimensi ruang…? Juga bukan,” gumam kesadaran Tameng. “Kemampuan apakah gerangan yang tadi ia kerahkan…? 

Tidakkah engkau mendengar kata-kataku tadi, wahai Tameng? Jalan keahlian, kataku…,” gerutu Hang Jebat. 

“Jalan Keahlian Laksamana layaknya Hang Tuah…?” 

“Bukan. Jalan Keahlian Laksamana datang dari luar diri. Jalan keahlian pemuda itu dikembangkan dari dalam diri sendiri…” 

Masih menatap Hang Jebat, pemuda itu kemudian berujar pelan, “Maapkan sa pu kalakuang…” 

“Berbicaralah lebih jelas. Aku tak mengerti logat dari Pulau Mutiara Timur.” 

“Sungguh tiada diriku bermaksud menyinggung perasaan Tuan Raja Angkara Durhaka.” 

“Eh…? Dia mengetahui jati dirimu, wahai Jebat!” Kesadaran Tameng terkejut. 

“Dan dengan engkau meminta maaf, maka aku akan melepaskan begitu saja…?” tanggap Hang Jebat mengabaikan komentar Tameng. 

Pemuda itu hanya diam. Meski, tak terpancar seberkas pun rasa takut dari aura yang ia sibak.

“Lagi sekali aku tanya, sebutkan kau punya nama…,” perintah Hang Jebat, kini malah mencoba meniru logat. 

“Aronawa Kombe.” (1)

“Jadi, wahai Aronawa Kombe, benarkah perkiraanku… bahwa sungguh engkau dapat menghentikan waktu…?” 


===


“Sungguh dimensi yang unik…,” gumam Komodo Nagaradja.

“Hei! Komodo Nagaradja! Siapakah ia gadis berdaging dan berlemak berlebihan di dada!?” 

“Kekasihnya…,” terdengar suara menjawab malas. 

“Kekasih Nak Bintang!? Aku tak sudi!” Ginseng Perkasa berujar gusar. Teramat sangat gusar. 

“Siapakah kiranya yang meminta persetujuanmu…?” 

“Diriku mendamba gadis nan langsing. Lemak dan daging berlebihan di dada sungguh merusak cita rasa ketiak!” 

“Kau membuatku ingin muntah…”

“Aku tiada berkeberatan pada peranakan siluman, akan tetapi dadanya itu!”

“Hah!? Peranakan siluman!?” 

“Jangan katakan dikau tiada menyadari… Siluman sempurna seperti apakah yang tak dapat mengendus darah sesama siluman!?”

Komodo Nagaradja terdiam. Setelah mencermati dengan sangat seksama, baru kini ia sadari bahwa Embun Kahyangan mungkin adalah peranakan siluman. ‘Mungkin’, artinya bahkan siluman sempurna sekelas Komodo Nagaradja pun meragu karena ia hanya merasakan aura siluman yang sangat tipis. 

Sampai dengan hari ini, kemungkinan bahwa Embun Kahyangan merupakan peranakan siluman luput dari pengamatan Komodo Nagaradja. Mengapa bisa demikian? Apakah ada yang dengan sengaja menyembunyikan? Sebaliknya, Ginseng Perkasa dapat menyadari keberadaan peranakan siluman karena ia sangat piawai mengendus bahan-bahan dasar ramuan, yang sering kali berasal dari bagian tubuh binatang siluman. Terlebih, si Maha Maha Tabib Surgawi itu memiliki dua keterampilan khusus secara bersamaan. 

“Lagipula, mengapa Nak Bintang memilih keturunan dari betina laknat itu!?” sambung Ginseng Perkasa.

“Betina laknat…?” Komodo Nagaradja yang sedang dilanda keraguan, kini terdengar tambah kebingungan. 

“Dikau tiada menyadari!? Hah!?” hardik Ginseng Perkasa, kini berubah berang. “Siapa lagi yang membawa-bawa beban besar di depan dada, memiliki kesaktian unsur angin dan air secara bersamaan, serta mengenakan Selendang Batik Kahyangan… bila bukan merupakan keturunan Tirta Kahyangan!?”

“Ah… perasaanmu sahaja. Kau membenci Tirta Kahyangan karena ia hampir mengambil buah zakarmu!” 

“Komodo Nagaradja! Jangan dikau memulai! Sekali lagi kau mengungkit-ungkit akan peristiwa itu, maka percayalah bahwa diriku akan menambah racun di tubuhmu!” 

“Heh… Andai saja si Muka Bulat tak mendobrak pintu gerbang Istana Kahyangan, maka kedua buah zakarmu pasti sudah menjadi hidangan binatang liar…” 

“Komodo Nagaradja, sekali lagi kuperingatkan!”

“Oh… Sungguh aku baru menyadari. Di kala terakhir melihat engkau yang masih memiliki tubuh, bukankah kau berjalan sedikit miring seperti seseorang yang kehilangan keseimbangan… Mungkinkah Tirta Kahyangan telah mengambil salah satu buah zakarmu sebelum si Muka Bulat tiba…?”

“Komodo Nagaradja! Dikau benar-benar mencari perkara!”

“Hahahaha…” 


Bintang Tenggara tersontak bangun. Segera ia bangkit duduk dan menemukan bahwa dirinya berada di atas dipan di dalam sebuah pondok. Di hadapan, duduk melipat kaki dan menatap dirinya, adalah Embun Kahyangan yang hanya mengenakan selendang tipis berwarna ungu dalam membungkus tubuh sekenanya. 

“Kakak Embun… dimanakah ini? Berapa lama diriku tertidur…?” Pertanyaan ini keluar dari mulut Bintang Tenggara karena ia sepenuhnya merasakan bahwa fisik dan mentalnya terasa segar. Kelelahan berhari-hari akibat diburu oleh Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma, menghilang sudah. 

Embun Kahyangan hanya menatap. Sepertinya ia sangat menikmati suasana ini. “Sekira dua hari dua malam…,” jawabnya ringan. 

“Hah!?” 

Yang tak Bintang Tenggara sadari, adalah kenyataan bahwa tepat sesudah ia memasuki lorong dimensi, Embun Kahyangan merapal satu bentuk lagi jurus andalannya. Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo, adalah kemampuan membuat lawan tertidur, karena dampak sari halusinasi. Bintang Tenggara tak perlu halusinasi untuk tertidur, karena hanya memerlukan sedikit pemicu saja. 

“Dua hari dan dua malam…?” gumam Bintang Tenggara. Segera ia menyadari akan kenyataan pahit, dimana dirinya sudah sangat terlambat untuk mengikuti Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Sungguh ia telah mengecewakan Nenek Sukma. Perasaan kecewa terhadap diri sendiri semakin bertambah ketika membayangkan kemungkinan bahwa Lintang Tenggara tak akan mengecewakan sang nenek. 

“Tempat ini adalah dimensi ruang dan waktu…,” ujar Embun Kahyangan yang masih mengamati lawan bicaranya. 

“Dimensi ruang dan waktu…? Mungkinkah…?”

Di dalam rangkaian jurus Panca Kabut Mahameru, terdapat satu bentuk dimana gadis belia tersebut dapat membuka lorong dimensi ruang. Akan tetapi, setelah melesat naik ke Kasta Perak Tingkat 5, Embun Kahyangan secara naluriah dapat merapal satu lagi bentuk jurus di kala memanfaatkan Selendang Batik Kahyangan. Bentuk tersebut adalah membuka lorong dimensi waktu, yang kemungkinan besar merupakan bagian dari jurus Nawa Kabut Kahyangan, sebagaimana pernah diungkapkan oleh sang Maha Guru di Padepokan Kabut. (2)

“Waktu berlalu lebih cepat di dalam dimensi ini…” Embun Kahyangan menegaskan perkiraan Bintang Tenggara. “Sehari semalam di dalam dimensi ini, adalah setara dengan sepuluh menit di dunia luar.” 

“Jadi, hanya sekira dua puluh menit waktu yang telah berlalu!?” tegas Bintang Tenggara sambil bangkit berdiri. 

“Wahai Balaputera Gara, bila dikau hendak mengikuti Hajatan Akbar Pewaris Takhta, maka masih sangat memungkinkan….” 

Selama beberapa pekan menghabiskan waktu di Ibukota Minangga Tamwan mencari jejak sasarannya, tentu Embun Kahyangan banyak mendengar tentang Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Sebelum berpapasan dengan Bintang Tenggara pun, gadis belia tersebut memang sedang melangkah menuju Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang, karena mengetahui kemungkinan bahwa Balaputera Gara akan muncul di tempat tersebut. 

Siapa yang akan mengira bahwa Balaputera Gara adalah Bintang Tenggara…? Selain mendapati akan hal ini, Embun Kahyangan juga menyadari bahwa Bintang Tenggara saat itu kelelahan dan tak berada dalam kondisi prima untuk ikut serta di dalam ajang penentuan pewaris takhta. Oleh karena itu, ia pun memilih untuk membantu anak remaja itu. 

“Kakak Embun, kumohon kembalikan diriku ke dunia luar…,” pinta si anak remaja lelaki. 

“Mengapakah terburu…? masih cukup banyak waktu…” 

“Hm…?” 

“Hanya ada kita berdua di dalam dimensi ini…” 

“Maksud Kakak Embun…?” Bintang Tenggara terlihat canggung.

“Diriku masih memiliki utang…?” Embun Kahyangan membusungkan dada. (3)

Bintang Tenggara terpaku, karena baru teringat akan sesuatu…

“Setelah itu, tidakkah dikau hendak mencoba sesuatu bersama-sama…?” Embun Kahyangan menundukkan kepala. Menyembunyikan raut wajahnya yang memerah….

“A… apa… kah…?” Bintang Tenggara terbata-bata.  

Embun Kahyangan bergerak ke samping, lalu menopang tubuhnya dengan sebelah lengan. Gerakan ini diikuti dengan kedua kaki yang dilepaskan dari posisi terlipat. Ia kini terlihat seperti putri duyung yang sedang bersantai di atas batu karang. Sungguh lekuk tubuh nan mengundang selera. 

Bintang Tenggara menelan ludah. 

“Menurut kakak-kakak seperguruanku… bilamana dua insan saling mencinta, maka…” Embun Kahyangan berhenti sejenak. “Maka mereka dapat… mereka dapat berhubungan badan…” 

“Hah!” Bintang Tenggara tersontak. 

“Bah!” Komodo Nagaradja terpana. 

“Wah!” Ginseng Perkasa berubah pikiran. “Nak Bintang, sesungguhnya diriku tiada menyukai kaum hawa dengan bentuk ketiak seperti miliknya. Akan tetapi, sebagai seorang ahli yang telah banyak memakan asam dan garam dunia birahi, adalah kewajiban diri ini, Ginseng Perkasa sang Maha Maha Tabib Surgawi, memberi petuah kenikmatan duniawi...” 

“Hentikan kegilaanmu!” Hardik Komodo Nagaradja. Sebentar lagi kemungkinan besar ia akan mengemuka, demi mencegah apa pun itu perbuatan kedua remaja nantinya. 

“Pertama, segera pegang bahu gadis itu dengan kelembutan bak bunga kapas dimainkan angin…” Ginseng Perkasa mengabaikan Komodo Nagaradja, demi memulai petuah bijaksana. “Kemudian, perlahan-lahan sorong tubuhnya ke belakang. Di kala ia tiada lagi berdaya, maka angkatlah ke atas kedua lengannya. Hanya bilamana kedua ketiaknya terpapar lebar, maka sampailah kita ke bagian paling utama…” 



Catatan: 

(1) ‘Aronawa Kombe’ secara umum berarti: perjanjian yang dicari (mohon koreksi bila keliru). Diambil dari lirik lagu ‘Yamko Rambe Yamko’.

(2) Episode 160. 

(3) Episode 106.