Episode 36 - Pil Pengerat Jiwa



“Aku... Tidak dapat memberitahukannya,” jawabku pelan dengan muka penuh keraguan. 

Arka langsung menatap mataku tajam-tajam, tapi dia sama sekali tidak memaksaku memberitahukan darimana kudapatkan pil-pil tersebut. 

“Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakannya, tapi pil-pil tersebut bukan sesuatu yang terlalu berharga,” kata Arka sambil menghela nafas pelan. Tapi kilatan matanya saat melihat pil-pil ditanganku ini bertolak belakang dengan kata-katanya barusan. Aku jadi yakin kalau pil yang ada ditanganku ini jauh lebih berharga dari yang dia katakan. 

“Mau kau apakan pil itu?” tanya Arka kemudian.

“Aku belum tahu,” kataku sambil kembali memasukkan pil tersebut ke dalam tas.

“Kalau kau masih belum tahu mau kau apakan pil tersebut, kau bisa menjualnya padaku,” ujar Arka setelah terdiam beberapa saat. 

Ini dia! Memang sedari awal aku berniat menjual pil ini ketika mengambil resiko menanyakan kegunaannya pada Arka tadi. Awalnya aku ragu mengeluarkan pil tersebut karena khawatir Arka akan merebutnya begitu saja dariku, kalau memang dia merebutnya dariku, maka tak ada yang bisa kulakukan sama sekali selain merelakannya. Tapi tampaknya dia memang pria terhormat seperti yang dia katakan. 

“Baiklah...” kataku sambil menunjukkan ekspresi ragu-ragu. 

“Berapa hendak kau jual pil-pil tersebut?” 

“Mmmm... Sejujurnya aku juga tidak tahu harus menjualnya berapa.”

“Kau ingin menjualnya dengan uang atau menukarnya dengan benda lain?”

Menukarnya dengan benda lain? Sejujurnya aku tak berpikir pada kemungkinan tersebut. Tapi setelah kupikir lagi, melakukan pertukaran barang sangat masuk akal. Mengingat tingginya uang yang harus dibayarkan untuk berbagai kebutuhan tenaga dalam. Maksudku, hanya sebuah pil kecil semacam pil pengumpul energi yang hanya efektif untuk pendekar tahap penyerapan energi tingkat keempat dan dibawahnya saja sudah seharga lima belas juta rupiah sebutir.

Maka dapat dibayangkan harga yang harus dibayar oleh para pendekar dengan tahap lebih tinggi semacam tahap pembentukan dasar, pemusatan inti, apalagi hingga tahap penyatuan jiwa dan tahap penyerapan jiwa. Oleh karena itu, menukarkan barang untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dalam dunia persilatan kurasa sangat logis. Karena itu aku segera mengutarakan barang apa yang kuinginkan sebagai bahan pertukaran dengan pil aneh milik anggota perserikatan tiga racun itu.

Aku dengar sekte Osadhi memproduksi pil-pil terbaik di dunia persilatan. Kebetulan... Aku butuh pil pengumpul energi,” kataku pelan.

“Pil pengumpul energi? Kau ingin menukar pil-pil ini dengan pil pengumpul energi?”

Aku mengangguk pelan dengan eskpresi polos dan penuh keraguan, meskipun sebenarnya aku menyeringai puas dalam hati karena rencanaku berjalan mulus sejauh ini. Sedangkan Arka tampak merenung mendengarkan permintaanku. 

“Baiklah, kebetulan aku memang memiliki pil pengumpul energi. Bagaimana jika kutukar dengan tiga pil pengumpul energi?” kata Arka kemudian. ?”Tiga pil pengumpul energi?” gumamku pelan. 

Sebenarnya aku sudah akan menyetujuinya, tiga pil pengumpul energi bukan jumlah yang sedikit buatku. Dengan tiga pil itu, aku cukup yakin bisa menstabilkan tenaga tahap penyerapan energi tingkat empat dalam tubuhku sebagai pondasi menembus tingkat kelima. 

“Bagaimana jika dengan lima pil pengumpul energi?” Tapi tampaknya Arka salah memahami sikap diamku sebagai bentuk ketidak setujuan dan kembali menawar. 

“Lima?” Aku mengerenyitkan kening, seketika aku berpikir sebenarnya seberharga apa pil yang ada ditanganku ini? Sampai-sampai Arka langsung menaikkan tawarannya ketika melihatku sedikit ragu-ragu. Tiba-tiba saja, rasa serakah muncul dalam hatiku.

“Bisakah ditambah lagi?” tanyaku penuh harap.

Namun Arka hanya terdiam sambil menatapku. “Apa kau benar-benar tidak mengetahui pil apa yang ada di tanganmu itu?” tanyanya mulai curiga. 

“Tidak.” Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. “Tapi aku yakin harga pil ini lebih dari lima butir pil pengumpul energi.” 

Arka kemudian tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, “Aku hanya memberi saran padamu, semakin lama kau menyimpan pil-pil itu, semakin nyawamu dalam bahaya. Anggap saja ini sebagai bonus karena telah mengantarkan rempah pesananku dengan selamat. Pil-pil yang ada di tanganmu itu adalah bahan baku untuk sebuah pil bernama Pil Pengerat Jiwa!

Entah bagaimana bisa pil itu sampai jatuh ke tanganmu, tapi Pil Pengerat Jiwa adalah racun yang menggerogoti tenaga dalam dan jasad fisik seseorang secara perlahan-lahan. Racun ini sangat jahat, bahkan pendekar tahap penyatuan jiwa takut pada racun ini.”

Aku hanya bisa ternganga mendengar penjelasan Arka, ternyata pil warna-warni yang selama ini kusimpan memiliki efek sangat mengerikan. Darimana anggota Perserikatan Tiga Racun itu mendapatkan pil se-mengerikan ini?

“Baiklah, aku akan menukarnya dengan lima butir pil pengumpul energi,” ucapku akhirnya. 

Arka mengangguk kecil, “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan pil pengumpul energi-nya dulu.”

Tak lama kemudian, Arka kembali dengan membawa lima butir pil pengumpul energi yang diletakkan dalam kotak kayu kecil. Aku segera mengambil pil tersebut setelah sebelumnya memberikan pil warna-warni pada Arka. Setelah itu, aku segera pergi meninggalkan ruangan Arka.

“Jika kau menemukan bahan rempah atau pil lain semacam ini lagi, kau bisa datang lagi padaku,” ujar Arka ketika aku keluar dari ruangannya. 

“Tentu saja,” jawabku sambil menganggukkan kepala. 

Setelah itu, aku segera kembali pulang ke rumah. Di rumah, aku segera membersihkan diri, makan, dan langsung menyendiri di kamar. Setelah menenangkan diri, aku segera menelan pil pengumpul energi dan mensirkulasikan tenaga dalam untuk menyerap energi yang keluar dari pil. Dua jam kemudian, aku selesai menyerap energi dari pil pengumpul energi dan segera beristirahat. 

Keesokan harinya, aku sempat mampir ke Balai Tujuh Tingkat sepulang sekolah untuk mencari misi yang bisa kujalani. Sayangnya aku tak menemukan misi yang sesuai dengan kriteriaku kali ini. Sehingga aku hanya bisa pulang dan kembali menyerap pil pengumpul energi. 

Demikianlah rutinitasku selama dua hari berikutnya, meskipun terjadi peningkatan tenaga dalam pada tubuhku, tapi aku juga merasakan efektifitas pil pengumpul energi semakin lama semakin berkurang setiap kali aku menelannya. Dengan trend seperti ini, aku yakin efek yang dihasilkan pil pengumpul energi pada tubuhku akan benar-benar hilang saat aku mencapai tahap penyerapan energi tingkat kelima. 

Tilulilulit.…

Tiba-tiba saja handphoneku berdering oleh panggilan masuk, saat kuteliti siapa yang menghubungiku, ternyata yang menghubungiku adalah bang Genta. 

“Halo, ada apa bang?” tanyaku begitu mengangkat handphone. 

“Rik, besok kamu datang restoran Solarina di dekat VX Plaza jam tujuh pagi ya,” ujar bang Genta dari seberang telepon tanpa banyak basa-basi.

“Tapi besok saya sekolah bang.” Spontan aku menjawab bang Genta.

“Ngga usah masuk sekolah.” Dengan entengnya bang Genta menyuruhku bolos sekolah. 

“Emang ada apa bang?” 

“Nanti saya kasih tau di sana.”

“... Iya bang,” jawabku setelah sempat terdiam cukup lama. 

Setelah perbincangan singkat itu, bang Genta langsung menutup telepon. Meninggalkan tanda tanya dalam hatiku. 

Keesokan harinya, aku berangkat sekolah seperti biasa. Namun ditengah perjalanan aku belok ke pom bensin dan berganti pakaian disana, lalu menuju restoran Solarina di dekat VX Plaza. Lokasi pertemuan itu juga semakin menimbulkan tanda tanya besar dihatiku, karena VX Plaza adalah mall dimana aku bertemu dengan Shinta ketika dia mengikuti anggota Perserikatan Tiga Racun. 

Saat sampai di restoran -yang tentu saja belum buka pada jam tujuh pagi- aku menemukan bang Genta bersama dengan Arie, Shinta, dan Yanti tengah berdiri di depan restoran. Wajah mereka tampak tegang, mungkin karena mereka juga dikabari agar datang kemari secara mendadak, sama sepertiku. 

“Bang, Rie, Yan, Shin.” Aku langsung menyapa mereka satu persatu begitu sampai dihadapan mereka. 

“Hai Rik,” balas Shinta. 

“Bagus, berhubung semua sudah datang, aku akan memberitahukan alasan kenapa kalian dikumpulkan disini,” ujar bang Genta sesaat setelah dia menganggukkan kepala membalas sapaanku. “Sebenarnya, semenjak sehari yang lalu, telah beredar kabar diantara kelompok-kelompok dunia persilatan mengenai markas rahasia Sekte Pulau Arwah di lokasi sekitar sini.”

Begitu mendengar kata-kata bang Genta, aku langsung melirik Shinta. Ternyata pada saat yang sama Shinta juga melirik padaku dan memberi isyarat melalui matanya kalau dia tidak ada hubungannya dengan desas-desus tentang markas rahasia Sekte Pulau Arwah ini.

“Lalu, kenapa kita semua dikumpulkan kesini bang?” tanyaku ingin tahu. 

“Semenjak tadi malam, berbagai kelompok dunia persilatan di tanah Jakarta berdatangan ke tempat ini. Tujuan mereka mencari lokasi markas rahasia Sekte Pulau Arwah, termasuk Kelompok Daun Biru.”

“Bagaimana dengan Perserikatan Tiga Racun?”

Bang Genta mengangkat kedua bahunya, “Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan kelompok dunia persilatan sebanyak ini.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan bang?”

“Untuk sementara ini kita menunggu. Tapi jangan menurunkan kewaspadaan kalian!” 

Setelah itu, kami pergi dari depan restoran dan mencari lokasi yang sedikit lebih tersembunyi di wilayah itu. Meskipun situasi di wilayah ini tampak normal seperti pagi hari biasa, namun aku dapat merasakan suasana terasa lebih mencekam karena sayup-sayup terasa fluktuasi energi murni dari berbagai arah. 

“Kita pergi.” Tiba-tiba saja bang Genta berkata pada kami dan langsung melesat cepat. Kami berempat segera mengikuti bang Genta dan ikut melesat meninggalkan tempat persembunyian kami. 

Tak lama kemudian, bang Genta berhenti mendadak dan langsung mengangkat telapak tangan kanannya, mengisyaratkan agar kami juga ikut berhenti. Belum sempat bang Genta menurunkan kembali tangan kanannya, terdengar suara berdecak dari depan kami. 

“Ck...ck...ck... Orang-orang Kelompok Daun Biru juga ikut datang kemari rupanya.” Seorang pria berperawakan jangkung muncul dari sisi kanan kami, dibelakang pria itu terdapat dua orang lelaki berbadan kekar mengenakan pakaian kaos ketat. 

“Hmph, kenapa kami tidak boleh kemari. Ini wilayah kami sendiri. Yang aneh justru kalian, Perkumpulan Bendera Tujuh Warna, kenapa berkeliaran di wilayah kami?” balas bang Genta sambil menyunggingkan senyum sinis. 

“Hahaha... Tak perlu basa-basi Genta. Kita sudah sama-sama tahu kenapa perkumpulan kami ada disini. Jadi, apa kelompok kalian sudah menemukannya?” ujar pria bertubuh jangkung. 

“Kalaupun kami menemukannya, kami tidak akan memberitahukannya pada kalian.”

“Cih, apa kau selalu semenyebalkan ini Genta? Kita sudah sering bertemu, tapi aku baru ingat, kita belum pernah menjajal kemampuan masing-masing sampai saat ini.”

Bang Genta sama sekali tidak mengatakan apa-apa, hanya saja tangan kanannya bergerak seperti orang yang tengah mempersilahkan tamunya. 

Sesaat orang itu tampak termakan provokasi bang Genta, tapi gerakannya segera tertahan setelah tangan kekar salah satu kawannya menepuk lembut bahunya. Sambil mendengus dia berkata lagi, “Akan ada kesempatan dilain waktu Genta, lain waktu.” Kemudian orang itu dan kedua temannya langsung melesat meninggalkan kami. 

“Aku akan menunggu waktu itu tiba Ji,” jawab bang Genta sambil memandangi kepergian mereka. Kemudian pandangan bang Genta beralih pada kami, “Ayo.”

Kami segera kembali melesat pergi dari situ.