Episode 7 - Percontohan



Hikram dan Sidya menerabas hutan, menjauhi jalan. Matahari makin meninggi dan sedikit naungan yang ditawarkan pepohonan yang mulai gugur daunnya tetap harus disyukuri. Perbekalan yang ditinggalkan oleh kedua pengawal Sidya terlalu sayang untuk dibuang, dan Hikram membawa beberapa benda yang sekiranya bisa ia gunakan seperti panci, bahan makanan, serta batu api. Kebetulan mereka juga meninggalkan sehelai kain lebar sehingga ia bisa membungkus barang bawaan barunya itu. Sayang sekali Sidya dengan entengnya menyuruh mereka membawa semua uangnyq. Hikram berani bertaruh dia tak tahu betapa mahalnya harga makanan jaman sekarang, hingga bisa memerintahkan hal sebodoh itu.

Pada beberapa kesempatan, Hikram sempat berbalik dan memasang susunan sederhana dinding hawa murni, yang ia rancang sendiri. Ia namai dinding tak kasat itu dengan sebutan Selusup Kabut Bawah, berguna untuk mengacaukan indera siapapun yang lewat. Mereka yang melintas dan kebetulan hawa murninya telah bangkit tapi sedang kosong entah karena jarang berlatih entah karena memang daya tampungnya kurang akan linglung setelah menembus Kabut. Kadang melihat siluet yang ketika dikejar malah menghilang, atau mendengar bunyi denging yang mengganggu mirip suara sayap nyamuk yang terlalu dekat ke kuping, atau lidahnya sering tergigit saat mau bicara. Efeknya bervariasi, berbeda-beda masing-masing orang. Hikram sendiri belum bisa memastikan efek mana yang sering muncul.

Setidaknya dinding ini akan bertahan sampai matahari tenggelam dan untuk sekedar berjaga-jaga, siapa tahu ada yang menguntit. Ia juga berputar-putar, dan terkadang harus mematahkan ranting di berbagai tempat untuk menutupi jejak. Hikram sangat paranoid untuk saat ini.

Meski si putri memakai pakaian sutra dan rok panjang sehingga harus dicincing agar bisa bergerak nyaman, Hikram harus mengakui tekadnya untuk menjadi murid karena ia tidak mengeluh meski berkali-kali pakaiannya tersangkut tetumbuhan liar. Belum lagi hewan kecil macam laba-laba yang tak hentinya tersangkut di rambut ekstra panjangnya yang sepertinya memakan waktu lama untuk ditata supaya bisa bergelung seperti itu.

“Kemana kita akan pergi, Guru?”

“Ke depan dan tidak menoleh ke belakang,” Hikram menjawab sekenanya. Fakta yang disembunyikan: ia juga tak tahu mau pergi kemana. Yang penting harus tetap bergerak. Siapa tahu apa yang akan dikatakan oleh dua pengawal Sidya pada para tentara seandainya mereka bertemu? Bisa gawat kalau mereka melaporkan bahwa satu-satunya pewaris tahta sedang diculik orang. Meski Sidya sudah mewanti-wanti agar jangan sampai rahasianya bocor, Hikram tetap was-was. Oleh karena itu ia ingin memberi jarak sejauh-jauhnya dengan mereka. Hikram memutuskan pokoknya untuk saat ini dia sangat anti dengan yang namanya jalan besar selama ia bersama bangsawan cilik ini. Selama ia belum menggunakan penyamaran apa pun, Hikram akan menggunakan taktik ‘tak pernah kenal siapa dia’ atau ‘pura-pura pilon’.

Sidya mendongak mengawasi punggung gurunya sembari menyingkirkan dahan menjorok ke bawah yang mengganggunya.

 “Menarik. Aku pernah dengar itu sebelumnya. Ini seperti peribahasa, bukan? Eh, atau kata bijak? Entahlah, pokoknya menurut pendongeng istana hal itu sering dikatakan oleh pengembara yang sebenarnya belum memutuskan arah tujuan yang jelas. Jadi kata-kata itu cuma pepesan kosong, omong kosong.”

Hikram benar-benar malu karena omongan itu ada benarnya, tapi ia berlagak tak ambil peduli dan menyibukkan diri untuk pura-pura batuk.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, dan ketika Hikram lamat-lamat mendengar gemericik air di antara siulan burung-burung dan desir angin, ia mempercepat laju kakinya sembari sesekali menoleh untuk memastikan Sidya tidak tertinggal terlalu jauh.

Setelah sampai di sumber suara, dugaan Hikram benar adanya. Dengan melewati turunan yang agak berpasir mereka sampai di sebuah sungai beraliran deras dan cukup luas. terlalu deras untuk disebrangi tanpa resiko terbawa arus atau malah tenggelam, terlalu luas untuk direnangi kecuali oleh mereka yang benar-benar ahli bergerak dalam air.

“Kita istirahat di sini dulu, karena sulit sekali untuk menyeberang,” Hikram memutuskan setelah Sidya sampai disebelahnya. Pakaian mahal si putri sobek di berbagai sisi karena perjalanan, tapi sepertinya dia tidak begitu peduli.

“Tak perlu mengatakan hal itupun aku sudah paham. Kan memang susah sekali menyeberangi kali sederas ini tanpa alat bantu?”

“Dasar sok tahu.” Si pesilat duduk sembarangan di atas pasir, mengeluarkan minuman keras simpanan dua pengawal Sidya yang kini menjadi miliknya dan mulai menenggak. Tidak begitu sedap menilik dari baunya, tapi ia benar-benar butuh minum untuk menenangkan kegalauan sehingga tidak mengeluh, sementara Sidya memuaskan dahaga dengan meminum air sungai. Hikram cukup puas mendengar si putri tersedak-sedak. Pasti karena tak biasa minum air yang belum direbus.

Hikram baru saja akan memilih tempat tiduran untuk melepas penat ketika sebuah inspirasi terpantik dalam benaknya. Ya, kalau si putri memaksa ingin dilatih olehnya, mengapa tak mulai dari sekarang saja? Hikram cepat-cepat mengangkat tangan untuk melarang ketika Sidya mau ikut duduk disampingnya.

“Sebentar, aku ingin lihat tanganmu.”

Sidya ragu sejenak, membeku dalam posisinya sebelum mengulurkan kedua tangan, yang diperiksa Hikram dengan dahi berkerut.

“Ckckck, telapak tanganmu terlalu halus. Lihat buku-buku dan sendinya, sungguh menggelikan hingga aku tak tahu apakah harus tertawa atau menangis karena harus merombak semua ini. Sekarang coba gali tanah dengan kedua—”

“Buat apa?”

“Jangan menyela gurumu ketika dia sedang bicara,” Hikram berkata setengah membentak. “Dasar bocah lancang. Lakukan saja perintahku dan jangan tanya-tanya. Nah, kelihatannya tanah di bawah pohon itu cukup gembur, akan mudah mengeruk tanpa bantuan alat sekalipun.”

Hikram mengacu pada pohon beringin yang paling besar, beberapa langkah dari tepi pasir-pasir sungai yang berbatasan dengan hutan. Sidya menatapnya curiga untuk beberapa lama, mengira Hikram mau mengerjainya atau apa. Melihat bahwa reaksi Hikram tak berubah, ia melemaskan bahu dan mulai melaksanakan perintahnya. Padahal Sidya merasa sangat lelah dan kakinya serasa mau copot akibat perjalanan tadi.

Hikram meneguk miras ditangannya sekali lagi begitu si putri pergi untuk melaksanakan tugas darinya. Cengiran lebar perlahan mulai mengembang di bibirnya.

---

Sidya masih bekerja saat matahari mau menggelincir di barat. Ia tidak berkeluh-kesah walau keringatnya menetes tanpa henti, walau wajahnya kini tak beda jauh dengan bocah petani yang baru pulang meladang karena dihiasi kotoran dan kelihatan sangat berminyak. Si putri menyeka dahi, melirik gurunya yang sejak tadi enak-enakan.

Dia tadi mencuci baju, bahkan mandi untuk mengusir noda lumpur(Sidya mengalihkan pandang saat gurunya melakukan hal itu) dan sekarang bersenandung sembari memantikkan batu api ke kumpulan kayu kering yang dikumpulkannya selagi Sidya menggali dan terus menggali.

Tangan Sidya mulai gemetar, bahkan kepalanya mulai oleng dan pandangannya menggelap, tapi ia tidak akan memberikan kepuasan pada gurunya dengan cara mendengar ia mengeluh. Tidak akan! Tidak!

Proyek yang dibebankan oleh gurunya tidak mendefinisikan berapa dalam ia harus menggarap liang, tapi ia sudah berhasil mengeruk dua setengah depa dalamnya. Masak masih kurang dalam lagi?

“Sudah cukup. Kau dirubung nyamuk nantinya kalau di situ terus,” Hikram memanggil.

Sidya menghaturkan terima kasihnya pada Kahyangan dari dalam hati, kemudian terhuyung mendekati Hikram yang tersenyum lebar.

“Lelah ya, Bangsawan Cilik? Kasihan, memelas sekali kelihatannya. Sini duduk sementara aku akan menanak nasi untuk kita berdua. Perlu aku ingatkan bahwa tak ada daging naga malam ini. Hanya ada beberapa jamur yang bakalan kucampur dengan nasi.”

Sidya menghempaskan diri di samping gurunya dengan cemberut. Gurunya konyol. Tak pernah ada sajian daging naga di istana walau dalam jamuan makan dengan tamu dari negeri lain sekalipun, tak lain karena makanan itu sangat langka, ditambah sudah jarang ada orang yang bisa memasak olahan daging tersebut, yang jika salah masak jadi alot bukan main. Ia mengawasi Hikram yang bolak-balik mengambil air dan menjaga api yang masih kecil agar tetap menyala riang.

“Berapa dalam sudah galianmu, Bangsawan Cilik?” Hikram bertanya sembari memberikan mangkuk berisi air pada bocah itu.

“Dua tiga depa,” sahut Sidya setelah menghabiskan airnya dengan satu tegukan besar. Dia heran sebentar mengapa tidak tersedak untuk kali ini. “Dan biasanya saya dipanggil Sidya, bukan Bangsawan Cilik. Mungkin guru belum tahu jadi saya bisa maafkan.”

“Kau harus melanjutkan galianmu esok hari, Bangsawan Cilik,” Hikram menyeringai, mengabaikan nada murid barunya yang jelas-jelas mencela. “Lima depa dan kita akan melanjutkan latihan ke tahap selanjutnya.”

“Aku sebenarnya ingin tahu apa tujuan guru menyuruhku untuk melakukan hal tidak berguna itu.”

“Aku sebenarnya tidak ingin kau tahu dulu tujuanku menyuruhmu melakukan hal yang sangat berguna itu,” Hikram membalas. Sidya terpaksa harus tutup mulut karena jawaban itu benar-benar diluar dugaan, meski ia masih saja mendelik ke arah gurunya.

Hikram membalas Sidya dengan lirikan dari sudut matanya. Meremehkan.

“Tapi setelah kukaji matang-matang, sepertinya patut untukku berubah pikiran. Kau sepertinya siap mengingat kau dididik di istana, langsung oleh guru-guru terbaik dari seantero nusa. Pernah dengar tentang hawa murni sebelumnya?” Hikram mengalihkan topik pembicaraan sembari menarik panci dan mulai menuang butiran beras yang berasal dari dalam karung. Kemudian ia menambahkan sedikit air dari mangkuknya sendiri.

“Sedikit.”

“Aneh sekali mendengar si putri kaisar kurang pengetahuannya tentang hawa murni. Baiklah. Coba jelaskan padaku. Anggap saja aku orang yang sama sekali tak tahu menahu, jadi kau perlu menjelaskan dari dasarnya.”

“Hawa Murni, yang oleh suku selatan disebut chi, dinamai Tenaga Halus oleh orang stepa, dijuluki Inner Power oleh para Scholar Brytisia, atau Nuur oleh orang Jaffar,” Sidya mengulang hal-hal yang berhasil ia ingat waktu ia tidak ketiduran saat diajar oleh guru istana, “adalah energi yang dimiliki oleh semua manusia, dan dianugerahkan oleh Kahyangan pada kita. Butuh latihan khusus agar mampu memanfaatkan hawa murni. Teknik, baik untuk membangkitkan maupun melatihnya bermacam-macam. Kebanyakan dengan berdiam diri atau olah napas.”

Hikram memasang sedikit seringai saat mendengar ‘dianugerahkan Kahyangan’, “Hanya sebegitu hapalanmu? Apa yang bisa dilakukan oleh manusia yang sudah mampu menggunakan hawa murninya?” Hikram bertanya sembari menggantung panci ke gantungan kayu yang sudah ia buat di atas api.

Sidya mendongak ke arah langit, menatap bintang-bintang dan bulan ganda yang masih samar dan belum sepenuhnya kelihatan. Ia memejamkan mata dan berpikir keras untuk mengingat pelajaran yang pernah diberikan padanya. Sidya mulai mengulang apa yang pernah dikatakan padanya dengan suara monoton, “Hawa murni dapat dimanfaatkan untuk memperingan tubuh, meningkatkan stamina, menguatkan pukulan, menjaga kesehatan tubuh, menolak racun … aku lupa lanjutannya. Yang jelas hawa murni merupakan senjata utama beberapa pendekar, Aku dengar dari ayah kalau Kaisar Pertama—”

Sidya tak menyelesaikan hafalannya. Ia menoleh ke samping. Hikram sudah tidak ada, padahal ia berani bersumpah bahwa dia tidak mendengar gurunya beranjak dari tempatnya duduk, dan Sidya hanya memejamkan kelopak mata sebentar saja.

Sidya bangkit dan mencari-cari dengan agak takut. Kegelapan yang mulai turun sama sekali tidak membantu, malah membuatnya terbayang akan hal-hal aneh dan menakutkan.

“Guru?”

“Hei, mencariku?” teriakan Hikram terdengar, dan Sidya mengedar pandang dengan liar. Diiringi sedikit kelegaan dia menyadari gurunya sudah berada di seberang sungai, masih dengan cengiran yang terus-terusan ada dan mulai membuat Sidya sebal. Bagaimana ia bisa berada disana? Bukannya sungai ini alirannya deras dan terlalu dalam sehingga terlalu beresiko untuk dilewati secara serampangan?

“Hawa murni,” Hikram berteriak agar suaranya mengalahkan deburan sungai yang ganas, “membuatku dapat melakukan ilmu peringan tubuh.”

Hikram melonjak ke arah sungai, dan setengah tak percaya Sidya melihat si pesilat tua itu dengan enaknya mulai melompat dari satu tempat ke tempat lain, seolah ia sedang berada di tanah yang landai, padahal ia sedang menyeberangi sungai deras. Kakinya hanya menjejak sebentar, untuk kemudian meninggalkan air lagi. Terus menerus begitu ia mendekat dengan kecepatan yang patut diacungi jempol.

“Dan hawa murnilah,” Hikram berkata setelah kakinya menginjak tanah padat tepat depan Sidya yang menatapnya dengan penuh kekaguman, “yang akan kubangkitkan dari dalam dirimu. Aktivitas yang menurutmu tak berguna tadi akan sangat membantu.”

“Guru hebat!” kata Sidya tanpa tedeng aling-aling dan Hikram lagi-lagi berbesar kepala, kedua tangannya berada di pinggang, kepalanya mendongak bangga.

“Mau belajar caranya?”

“Mau! Mau, guru!” padahal tutor istana menganggapnya belum siap, tapi guru Hikram tak perlu tahu soal itu. Yang Sidya inginkan sekarang hanyalah bisa berjalan di atas air persis seperti yang dilakukan oleh gurunya.

---