Episode 230 - Jelang Hajatan Akbar (2)


“Urungkan niat kalian…” Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa bertitah.

Lintang Tenggara tertunduk, diam seribu bahasa. Tertangkap basah, tak mungkin pula ia melarikan diri. Tak mampu, lebih tepatnya. Masih berada di sebelah dirinya, adalah Saudagar Senjata Malin Kumbang yang membungkuk sujud tiada berdaya. Mengangkat kepala saja si gundul tambun itu tiada kuasa. 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menatap tinggi ke atas langit nan merekah merah. Di saat yang sama, gelegar dan kelebat halilintar sambung-menyambung. Semakin menjadi-jadi seolah tanpa kendali. Hawa membunuh yang datang pun semakin menyibak kental. Sepertinya, apa pun itu yang berada di atas sana, sedang sangat berang dengan kehadiran sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu. 

Sang penguasa mengabaikan peristiwa alam yang pelik tersebut. Pandangan kedua matanya kembali beralih ke hadapan. Ia menyorot tajam, mencermati setiap gerak dan gerik Lintang Tenggara. Tindakan yang akan ia ambil sangat bergantung pada pengamatannya saat ini atas lelaki dewasa muda itu. 

“Tempat yang hendak kalian capai, bukanlah seperti apa yang selama ini kalian perkirakan…”

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja…,” Lintang Tengara berujar. “Mohon ampun beribu ampun… Akan tetapi, demi ilmu pengetahuan, sungguh diriku tak kuasa menahan diri untuk mencari tahu makhluk seperti apa yang berdiam di atas sana.” 

Sang penguasa kembali menatap dalam diam. Ia menghela napas panjang. “Diriku yakinkan bahwa bukanlah sesuatu yang dikau pikirkan di dalam hati…”

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja… Sudikah kiranya membuka keterangan yang lebih rinci lagi lengkap…?” Lintang Tenggara berujar penuh harap.

“Belum waktunya bagi dikau mengetahui apa sesungguhnya makhluk yang berdiam di atas sana.”

“Apakah ayahanda hamba, Balaputera Ragrawira, memiliki pengetahuan atas dunia di atas sana…?” 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa berdiam diri. Ia sedang menimbang-nimbang apakah menjawab, atau mengabaikan saja pertanyaan Balaputera Lintara kali ini. Jika dijawab, kemungkinan lelaki dewasa muda itu akan semakin penasaran. Bila tiada ditanggapi, kemungkinan ia akan lebih penasaran lagi. Sampai batasan tertentu, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa cukup mengetahui watak ahli-ahli dengan rasa ingin tahu tingkat tinggi seperti Balaputera Lintara. Banyak sudah ahli dengan watak serupa yang menyia-nyiakan nyawa mereka. 

“Iya,” jawab sang penguasa singkat. 

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja… Bilamana demikian, mengapakah hamba tiada diperkenankan mengetahui…?” Lintang Tenggara terus bersilat lidah dan mendesak akan sebuah jawaban. 

“Apakah dikau hendak menempuh jalan hidup sebagaimana Balaputera Ragrawira…? Tiada dapat menetap…? Terus-menerus mengejar…?” 

Lintang Tenggara tercekat. Pertanyaan yang ia ajukan kini dijawab dengan rangkaian pertanyaan. Bisa saja ia menjawab sekenanya demi memperoleh pengetahuan yang diidamkan. Akan tetapi, lelaki dewasa muda tersebut cukup sadar diri. Bagi Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menanggapi dirinya sampai sejauh ini saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Sosok di hadapannya itu teramat digdaya, bahkan hanya dengan menjentikkan satu jari kelingking saja, maka dirinya dan Saudagar Senjata Maling Kumbang dapat dikirim ke alam baka. Demikian adalah dalamnya jurang pemisah di antara mereka. 

Tak hendak bertindak gegabah, Lintang Tengara akhirnya memutuskan untuk diam. Siapa yang bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh sang penguasa…? 

“Diriku sampaikan sekali lagi, bahwasanya tempat yang hendak dikau tuju, bukanlah sesuatu yang dapat dikau maklumi saat ini.” Lelaki setengah baya itu lalu mengibaskan tangan dengan ringan, seolah mengusir lalat yang hendak menghinggapi sajian penganan di petang hari.

Di saat yang sama, sebuah lorong dimensi ruang berpendar dan membesar tepat di sebelah tubuh Lintang Tenggara dan Saudagar Senjata Malin Kumbang. Tidak hanya itu, dari dalamnya hadir semacam kekuatan yang menarik tubuh mereka.

“Akan tetapi, kemungkinan di tempat lain kehadiran dikau lebih dibutuhkan…” 

Tubuh Lintang Tenggara dan Saudagar Senjata Malin Kumbang disedot masuk ke dalam sebuah lorong dimensi ruang! 


===


Bintang Tenggara hanya bisa berlari, berlari lagi, dan terus berlari. Jikalau kesadaran Komodo Nagaradja menyaksikan tindakan ini, maka seperti biasa beliau akan sebal. Meskipun demikian, dalam situasi yang bergulir saat ini, bahkan kemungkinan besar sang Super Guru akan mendukung tindakan melarikan diri. Bagaimana tidak, yang mengincar jiwa Bintang Tenggara adalah seorang ahli Kasta Bumi. 

“Brak!” 

Permukaan Perisai Tunggul Waja melekuk ke dalam ketika sebilah formasi segel berwujud pedang berukuran biasa menghantam telak. Kedua lengan Bintang Tenggara, bahkan sekujur tubuhnya bergetar keras, padahal Sisik Raja Naga telah dikenakan turut serta meredam getaran. Tubuh anak remaja tersebut kemudian jatuh terjungkal. 

Lagi-lagi Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma, mencuri-curi serangan ke arah Balaputera Gara. Setiap kali menyerang, bahkan setiap kali bertahan dari Balaputera Sukma, maka akan ia ciptakan celah untuk mengincar sasaran. 

Balaputera Gara harus meregang nyawa di tempat ini. Kejadian ratusan tahun silam, tiada boleh mengemuka. Nantinya, ia akan membawa pulang tubuh tanpa nyawa dan menyerahkan tubuh tersebut ke Kadatuan Kesembilan. Demikian, adalah rencana sederhana Balaputera Tarukma. Tindakan tersebut akan dengan sendirinya memupus kecurigaan terhadap dirinya sekaligus meredam murka Kadatuan Kesembilan. Tentunya kambing hitam penyebab kematian Balaputera Gara, adalah ‘sesuatu’ yang sedari dulu berdiam di dalam sumur. 

Terkait sumur di halaman Perguruan Svarnadwipa, sesungguhnya telah dipersiapkan sedari lama. Lama sekali. Lebih dari lima ratus tahun silam, usai memberikan titah kepada setiap Kadatuan, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang mengajak para Datu Besar mengunjungi dunia paralel dimana mereka selanjutnya akan menetap. Di saat itulah Balaputera Tarukma mulai menyusun siasat. Di kala Rimba Candi sedang dibangun, seorang diri ia menyelinap ke dunia paralel tersebut. Ia mempersiapkan sumur dan memanfaatkan lorong dimensi ruang untuk menghubungkan sumur tersebut ke dua tempat berbeda. Tempat pertama adalah sebuah tempat yang menyibak aura nan angker, yang mana auranya selama ini dapat dirasakan oleh segenap ahli. Sedangkan tempat kedua, adalah tempat dimana dirinya bersama Balaputera Sukma dan Balaputera Gara saat ini berada. 

Sebagai siasat tambahan, di kala kepindahan Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiba, ia membocorkan informasi tersebut kepada Raja Angkara. Walhasil, datanglah gelombang serangan kaum siluman. Karena mengenal betul watak Balaputera Dharanindra sang pahlawan, maka dipastikan Kadatuan Kesembilan akan berdiri sebagai tembok penahan gempuran. Sebuah kesempatan yang diciptakan, dan tiada disia-siakan. Balaputera Tarukma membungkam Balaputera Dharanindra dari belakang, lalu mengurung Balaputera Sukma.

Setelah itu, dengan status sebagai Datu Besar Kadatuan Kesatu dan jabatan sebagai Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, Balaputera Tarukma menyebarkan ceritera palsu tentang sumur yang didiami oleh makhluk buas. Agar pengawasan terhadap sumur dapat terus dilakukan, ia pun mendirikan Perguruan Svarnadwipa di lokasi tersebut. Sungguh siasat yang cermat. 

“Brak!” 

Permukaan Perisai Tunggul Waja sudah tak menentu lagi bentukannya. Penuh dengan ceruk-ceruk nan dalam. Pada beberapa bagian, telihat pula perisai tersebut mulai meretak. Sebagaimana sebelumnya, tubuh Bintang Tenggara kembali terjungkal jatuh. Kali ini anak remaja tersebut bahkan memuntahkan darah. Walau serangan-serangan tersebut terbilang lemah bagi ahli Kasta Bumi karena dilepaskan secara sembunyi-sembunyi, namun tubuh ahli Kasta Perunggu tentunya tiada mampu menahan serangan demi serangan. 

Nasib Bintang Tenggara berada di ujung tanduk.

Di lain sisi, raut wajah Balaputera Sukma terlihat sangat kusut. Pada awalnya pertarungan menghadapi Balaputera Tarukma berlangsung relatif seimbang. Akan tetapi, selama beberapa hari terakhir, perlahan-lahan dirinya mulai merasa tertekan, bahkan semakin kewalahan menghadapi Balaputera Tarukma. 

Kasta Bumi berbeda dengan Kasta Perunggu, Perak dan Emas yang diketahui umum memiliki sembilan tingkatan. Kasta Bumi hanya terdiri dari tiga tingkatan sahaja. Tingkatan tersebut pun tidak lagi diwakili oleh angka sebagaimana kasta-kasta di bawahnya. Secara berurutan dari tahapan yang paling awal, Kasta Bumi dibagi menjadi: Tamtama, Bintara dan Perwira. (1)

Balaputera Sukma dan Balaputera Tarukma sama-sama berada pada tingkatan awal, yaitu: Kasta Bumi Tamtama. Kendatipun demikian, Balaputera Tarukma sudah berada pada Kasta Bumi Tamtama sejak lima ratus tahun yang lalu, sedangkan Balaputera Sukma baru sekira dua ratus tahun belakangan ini. Dengan kata lain, Balaputera Tarukma sudah lebih terbiasa dan berpengalaman dalam mengerahkan kemampuan. Selain itu, lelaki setengah baya tersebut selalu berada di dalam lingkungan Perguruan Svarnadwipa sehingga memiliki banyak sumber daya dalam mengasah kemampuan. Walhasil, hal-hal tersebut ini menyebabkan Balaputera Tarukma berada di atas angin. Hanya waktu saja yang memisahkan dirinya dari sasaran.

Balaputera Sukma mendarat tepat di samping Bintang Tenggara. Meski ia kagum akan kemampuan anak remaja tersebut melarikan diri dalam sepekan belakangan ini, ia merasa bahwa ancaman semakin nyata dan besar. Oleh karena itu, adalah keputusan bijak untuk melindungi dari dekat. 

“Kakanda Tarukma…,” perempuan setengah baya itu berujar. “Tinggalkan saja ia di tempat ini bersama diriku. Tiada perlu mencabut nyawanya.” 

“Hmph…,” dengus Balaputera Tarukma yang masih mengangkasa. “Adalah peranku menjaga tatanan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Aku tak akan mengizinkan perang saudara berkecamuk!” 

Sebagaimana diketahui, kesembilan Kadatuan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang kini terbagi ke dalam dua kubu. Walau Kadatuan Kesembilan saat ini masih terbilang lemah, namun Kadatuan Ketiga, Kadatuan Keenam, dan Kadatuan Kedelapan pastilah tak akan tinggal diam. Demi memastikan nasib Balaputera Gara, Kadatuan Kesembilan akan memaksa membuka segel terhadap sumur. Bilamana hal ini dilakukan, maka nantinya mereka akan menemukan bahwasanya terdapat dua lorong dimensi, yang mana satunya membawa ke tempat ini. Oleh karena itu, mayat Balaputera Gara sangatlah penting agar tak terjadi penelusuran lebih lanjut!

Balaputera Sukma menyadari bahwa tawar-menawar yang ia ajukan tiada akan digubris. Balaputera Tarukma memerlukan tubuh tak bernyawa Balaputera Gara. Perempuan setengah baya itu lalu menggingit ujung jemari….

“Apakah kau sudah kehabisan akal!?” hardik Balaputera Tarukma. “Jurus itu hanya akan memakan usiamu!”

“Akan kulakukan apa saja demi melindungi darah dagingku!” 

Bintang Tenggara melihat Nenek Sukma merapal formasi segel, unik sekali susunannya. Kemudian, setetes darah dijatuhkan tepat di pusat formasi segel itu. 

“Perhatikan…,” ujar Nenek Sukma pelan kepada anak remaja di sampingnya. “Segel Darah Syailendra.” 

“Cih!” Satu Besar Kadatuan Kesatu melesat cepat. Ia tak hendak membiarkan adik perempuannya itu merampungkan sebuah jurus. 

“Swush!” 

Tetiba sebuah lorong dimensi berpendar, membesar, lalu membuka. Posisi lorong dimensi ruang tersebut tak terlalu jauh dari tempat dimana Nenek Sukma dan Bintang Tenggara berdiri. Terpana, sang Datu Tua Kadatuan Kesatu segera berhenti di udara. Wajahnya berubah kusut, karena ia mengetahui bahwa selain dirinya, hanya ada dua ahli lain yang dapat membuka ruang dimensi ini. 

Apakah Balaputera Ragrawira datang menjemput putranya!? Ataukah mungkin ‘beliau’ akhirnya memutuskan untuk turun tangan…? 

Balaputera Tarukma menanti dengan tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Keringat mengalir deras dari kening dan pelipisnya. Waktu pun seolah bergerak melambat. Ia memutar otak… 

Bilamana Balaputera Ragrawira yang keluar dari balik lorong dimensi ruang tersebut, maka dirinya akan terjepit. Walau tiada diketahui keberadaannya, dengan tingkat kecerdasan yang jauh di atas rata-rata, maka sebagai seorang ahli kemungkinan besar Balaputera Ragrawira juga telah menerobos ke Kasta Bumi. Neraca kekuatan akan berubah menjadi berat sebelah, dengan dirinya berada pada posisi yang lemah!

Akan tetapi, bilamana Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang yang mengemuka, maka dirinya dapat sedikit bernapas lega. Balaputera Tarukma akan memperjuangkan dalih bahwa Balaputera Dharanindra berniat membelot dan memaksa mengambil-alih tampuk kekuasan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Bahwa segala yang telah dirinya perbuat secara diam-diam, merupakan upaya menjaga tatanan dan keseimbangan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang tak akan gegabah menjatuhkan hukuman bilamana disodorkan bukti-bukti pendukung. 

Balaputera Sukma sama terkejutnya… sampai-sampai, formasi segel yang sedang ia rapal sedikit mengalami gangguan. 

“Gedebuk!” 

Suara berdebam layaknya buah nangka matang yang jatuh dari pohon, memecah keheningan di dalam dimensi ruang itu. Seorang lelaki berkepala gundul dan bertubuh tambun terlontar keluar dari dalam lorong dimensi ruang, telah jatuh tersungkur mencium tanah. Di saat yang bersamaan, sesosok tubuh yang lain lagi melompat keluar. Aura yang ia pancarkan demikian berkilau, ibarat seorang pahlawan berjubah yang datang mengemban tugas mulia.

Lintang Tenggara menyibak senyum puas. “Yang Terhormat Nenek Sukma, cucumu Balaputera Lintara datang hendak menjemput.” 

Bintang Tenggara, yang saat ini berada di balik tubuh Nenek Sukma sehingga tertutup dari pandangan kakak kandungnya itu, menyodorkan kepala. Ia mengintip kehadiran tokoh yang baru saja tiba itu. 

“Cih!” hardik Lintang Tenggara berang sambil mengacungkan jemari telunjuk. “Apa yang engkau lakukan di tempat ini!? Kau bukan bagian dari rencanaku!” 

Lintang Tenggara sesungguhnya telah mengetahui akan musibah yang menimpa Bintang Tenggara dari gurunya, yaitu Datu Besar Kadatuan Kedua. Akan tetapi, tetap saja darahnya menggelegak di kala berhadapan dengan Bintang Tenggara secara langsung. Apalagi, bocah bodoh dan ceroboh itu telah terlebih dahulu bertemu muka dan beramah tamah dengan Nenek Sukma. Bilamana tingkat kesebalan dapat naik kasta, maka saat ini kasta kesebalan Lintang Tenggara terhadap adiknya itu sudah menerobos naik ke Kasta Emas! 

“Hahahaha…” Gelak tawa lepas membahana di udara. Kekhawatiran Balaputera Tarukma sirna dengan sendirinya. Walaupun mengetahui Balaputera Lintara sebagai murid cerdas saat berada di Perguruan Svarnadwipa dulu, tokoh yang baru muncul tersebut hanyalah berada pada Kasta Perak! Terlalu remeh untuk dianggap sebagai ancaman. 



Catatan:

(1) Di dunia lain, Tamtama, Bintara dan Perwira merupakan tahapan pangkat di dalam kepolisian dan tentara.