Episode 229 - Jelang Hajatan Akbar (1)


“Mari segera kita menuju Hajatan Akbar Pewaris Tahta!” Seorang remaja berujar lantang. Pakaian yang ia kenakan layaknya bangsawan besar. Aura yang ia pancarkan sangat berwibawa. Kedua matanya menatap mantap. 

Balaputera Prameswara telah meneguhkan hati. Demi saudara sepupu yang telah berkali-kali menyelamatkan dirinya, dan kini menghilang tiada diketahui, remaja ini ingin menunjukkan kemampuan Kadatuan Kesembilan. Menghilangnya Balaputera Gara membuka mata Balaputera Prameswara. Sikap rendah diri yang selama ini menjadi ciri khas, berubah menjadi percaya diri.

Terkait musibah yang terjadi satu purnama yang lalu, Balaputera Prameswara tiada dapat menjelaskan mengapa ia nekat mendekati sumur nan angker. Malam itu, ia telah menyelesaikan perkuliahan. Mengetahui bahwa Balaputera Gara masih berada di dalam Pustaka Utama Perguruan Svarnadwipa, ia pun memutuskan untuk menanti saudara sepupunya itu. Tindakan ini diambil agar dapat bersama-sama melangkah pulang ke Kadatuan Kesembilan. Malam sudah larut, siapa tahu bahaya apa yang menghadang jalan. Lebih baik berdua, daripada seorang diri. 

Balaputera Prameswara lalu memutuskan untuk menunggu di persimpangan jalan setapak, yang kebetulan berdekatan dengan halaman. Tetiba, ia merasakan semacam panggilan yang terasa dekat datang dari arah sumur. Setelah itu, ingatannya gelap gulita. Ingatan selanjutnya adalah ketika dirinya tersadar di tempat tidur Balai Pengobatan Perguruan Svarnadwipa. 

Balaputera Rudra dan Balaputera Samara melangkah naik ke atas kereta kencana di depan. Keduanya sudah hampir melepas harap, ibarat layang-layang putus talinya. Usai Hajatan Akbar Pewaris Tahta, keduanya akan mencari jejak Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara untuk memberi penjelasan tentang nasib buruk yang menimpa putra mereka. 

Sang mentari telah terbit. Hari ini, sinarnya yang biasa gemilang tertutup awan redup. 

Panji-panji dan kereta kencana bergerak lambat. Meski kegiatan di Kadatuan Kesembilan berjalan seperti sedia kala, bila mencermati iring-iringan ini lebih mendalam, maka tersirat kesedihan dari setiap satu anggotanya, termasuk pula para pelayan dan prajurit yang berbaris di depan dan belakang. Kadatuan Kesembilan dirundung duka. Balaputera Gara belum kunjung kembali, dan berita akan kepulangan Datu Tua Kadatuan Kesatu pun tiada kunjung diterima. Sungguh suasana hari mencerminkan perasaan Kadatuan yang baru hendak bangkit itu. 

Di sepanjang jalan, khalayak yang juga berniat menuju tempat Hajatan Akbar menatap lesu. Sebagian besar dari mereka sangat menantikan kiprah anggota terbaru dari Kadatuan Kesembilan. Berharap akan sebuah penampilan yang mewakili sebuah Kadatuan yang dulu kuat dan bermartabat. Setelah membuka jalan, mereka mengekor di belakang iring-iringan. Tiada satu pun yang bersuara melempar komentar. 

Rombongan tiba di hadapan sebuah bangunan besar nan berdiri megah. Ia adalah Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan melangkah paling depan. Di sampingnya, Sang Datu Tengah, melangkah gemulai. Keduanya berupaya menyembunyikan kegundahan di hati. 

Sebagaimana sebelumnya, tribun kehormatan bagi Kadatauan Kesembilan terletak di urutan paling ujung. Tegur sapa antara para Datu Besar berlangsung singkat, dan rombongan pun mengambil tempat mereka. Berbeda dengan tiga purnama yang lalu, kini rombongan Kadatuan Kesembilan berjumlah lebih banyak. Yang paling mencolok, adalah seorang remaja yang akan ikut serta di dalam Hajatan Akbar Pewaris Tahta, karena ia terlihat jauh lebih percaya diri. 

Suasana di tribun penoton ramai dengan sorak-sorai dukungan kepada Kadatuan pilihan, atau Kadatuan yang berkuasa atas wilayah tempat tinggal mereka. Meski telah menanti selama tiga purnama, tiada semangat mereka surut. Sebaliknya, semakin mereka menantikan Hajatan Akbar Pewaris Tahta ini. 

“Memasuki Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang…” Tetiba seorang pembawa acara berteriak nyaring membahana.

Suara gegap gempita mereda. Segenap hadirin, baik di tribun kehormatan maupun tribun luar, terdiam. 

“Kepada junjungan nan mulia… Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang… Balaputera Dewa!”

Si pembawa acara mengumandangkan bahwa sang penguasa akan segera tiba. Dengan kata lain, Hajatan Akbar Pewaris Tahta akan segera digelar!

 

===


Matahari baru saja terbit. Sinarnya belum sempurna menyapa permukaan bumi. Akan tetapi, kesejukan subuh jelang pagi tak sedamai sebagaimana mestinya. Suasana mencekam!ß

Bintang Tenggara berlari sekuat tenaga. Bentuk Pertama dari jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra dikerahkan sampai titik batas maksimal. Percikan-percikan petir bergemeretak pada lintasan yang baru saja ditempuh. Jika dipantau dari sisi atas, maka akan terlihat jelas betapa langkah melesat yang tiada beraturan. 

Jauh di belakang sana, siluet dua ahli Kasta Bumi terlihat saling berhadapan. Bumi bergetar dan langit bergelegar. Wilayah dalam radius sepuluh kilometer dari pusat pertarungan, telah rata. Bukit yang semestinya menjadi wilayah tempat tinggal Nenek Sukma, tiada lagi terlihat nyata. 

Tak sekalipun Bintang Tenggara memandang ke belakang. Jika ia menoleh, maka akan ia saksikan betapa sebuah pedang raksasa membelah awan. Di saat yang sama, ribuan belati-belati kecil yang membentuk pola telapak tangan raksasa menepis, menahan, serta menangkis. 

Sepekan sudah waktu berlalu. Belum terlihat akan tanda-tanda dimana pertempuran akan rampung. Pertarungan antara kedua ahli Kasta Bumi tersebut bahkan belum mencapai titik puncaknya. Meski, pada hari-hari awal pertarungan, Nenek Sukma sempat kewalahan. Bagaimana tidak, ia bertarung sambil melindungi. Serangan-serangan lawan bukan hanya diarahkan kepada dirinya, melainkan juga anak remaja yang masih berada pada Kasta Perunggu. 

Kini, setelah melesat hampir tanpa henti, Bintang Tenggara telah berada pada jarak aman. 

“Swush!” Sejumlah formasi segel berwujud pedang yang berukuran normal, melesat deras membelah angin. Mereka mengincar tubuh anak remaja itu. Kecepatan melesat yang tiada dapat ditakar…

“Crash!” Pedang-pedang yang merupakan formasi segel itu menembus punggung, pundak dan pinggang Bintang Tenggara. Tiada terbendung, ketiga formasi segel berwujud pedang serta merta mengiris daging dan tulang. Darah merah berhamburan ke semerata penjuru. Tanah menyeruak setelah ketiga pedang menembus tubuh, kemudian menancap ke dalam tanah di depan. Bintang Tenggara jatuh tersungkur tiada bersuara. 

“Cih!” decak Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma. Beberapa waktu sebelumnya, di tengah pertarungan ia sempat mengalihkan perhatian Balaputera Sukma. Kesempatan yang terbuka walau sejenak, dimanfaatkan untuk melepas tiga formasi segel berwujud pedang berukuran normal yang ditugaskan untuk mengincar tubuh Bintang Tenggara di kejauhan. Akan tetapi, meski telah berhasil menembus tubuh sasaran, ia tiada terlihat puas. 

Di saat yang sama, Balaputera Sukma menebar mata hati. Ia menyadari akan kelengahan yang hampir saja berubah fatal. Meski khawatir, tebersit sepintas kebanggaan dari sorot matanya. “Reka tubuh…?” ia bergumam pelan.  

Datu Tua Kadatuan kesatu melesat cepat ke arah dimana tubuh Bintang Tenggara tergeletak. Ia menebar mata hati sejauh mungkin, raut wajah bertambah bengis. Tetiba ia berhenti di udara, walau jarak yang memisahkan mereka masih cukup jauh. Selayaknya ia telah memperoleh jawaban atas pertanyaan di hati. “Bajingan kecil!” 

Bintang Tenggara melompat keluar dari balik bayangan sebuah pohon di arah yang berbeda. Dirinya menyadari bahwa posisi dimana ia bersembunyi telah terbongkar. Walau mengerahkan Bentuk Pertama dari jurus Silek Linsang Halimun, bilamana ahli Kasta Emas mengerahkan kemampuan mata hati demi menelusuri, maka posisinya akan terungkap. Dalam jarak tertentu, maka mata hati ahli Kasta Bumi yang jauh lebih peka, akan dapat menembus ruang persembunyian Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar. 

Nenek Sukma melesat cepat di antara Balaputera Tarukma dan Balaputera Gara. Siaga, ia akan kembali menahan gempuran serangan lawan! 

Meski rasa pahit dan kelat masih bersisa di rongga mulutnya, tiada Bintang Tenggara menyesal mengunyah daun Sirih Reka Tubuh. Tumbuhan siluman langka pemberian Lampir Marapi ini sangatlah berharga dan bermanfaat di dalam keadaan terdesak. Sayangnya, Sirih Reka Tubuh hanya tersisa empat lembar saja lagi, sehingga penggunaannya harus diperhitungkan matang-matang. 

Di saat bersembunyi tadi, anak remaja itu sempat mengisi perut, lalu melemaskan tubuh selama sekira empat sampai lima jam. Akan tetapi, satu hal yang utama adalah kondisi mentalnya yang justru kelelahan. Bagaimana tidak, selama sepekan ia tiada sempat melelapkan mata. Bersembunyi dengan memanfaatkan Bentuk Pertama dari jurus Silek Linsang Halimun, berarti keharusan menjaga agar jurus tetap dirapal. Bilamana tertidur, maka ia akan terlontar keluar dari dalam dimensi ruang persembunyian. 


===


Lintang Tenggara melangkah dalam diam di atas sebuah bongkahan tanah nan besar. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Di hadapan, terbentang luas adalah hamparan puing-puing batu berwarna hitam kelam sejauh mata memandang. Berbagai ukuran. Sejumlah puing-puing bangunan terlihat berbentuk arca, atau setidaknya dulu, karena kini telah rusak bahkan hancur berhamburan. Luar biasanya lagi, setiap puing melayang dan bergerak perlahan. 

Mengekor di belakangnya, adalah seorang lelaki dewasa bertubuh tambun berkepala gundul. Di kala mentari belum terbit, kedua tokoh ini baru saja melakukan teleportasi jarak jauh berkat bantuan kakek tua sang Juru Kunci dari candi milik Kadatuan Kesembilan. 

Betapa Saudagar Senjata Malin Kumbang terkesima menyaksikan bebatuan besar dan kecil, serta puing-puing bangunan. Dirinya mulai mengamati dengan lebih seksama. Ada puing-puing yang memiliki ukiran nan teramat halus dan indah menarik perhatian, karena seolah mengisahkan sesuatu peristiwa. Naluri sebagai seorang saudagar, mengisyaratkan akan kesempatan untuk sementara waktu beralih dari berdagang senjata, menjadi berjualan benda seni dan antik. 

“Beledar!” 

Langit membelah merekah di saat sebuah halilintar berwarna merah bergelegar. Saudagar Senjata Malin Kumbang spontan membungkukkan tubuh sambil menutup telinganya. Kilat yang berkelebat menyibak bayangan akan sosok sesuatu jauh tinggi di atas sana. Kedua ahli merasakan hawa membunuh yang demikian digdaya! 

Saudagar Senjata Malin Kumbang beringsut mendekati Lintang Tenggara. Rupanya, masih ada kengerian lain dibandingkan menjadi kelinci percobaan dari sosok lelaki dewasa muda di sampingnya itu. Entah apa yang berada di atas sana… Benarkah salah satu Raja Angkara…?

Lintang Tenggara tiada memperdulikan gelagat Saudagar Senjata Malin Kumbang. Ia mengangkat kedua lengan perlahan, sangat pelan seolah jangan sampai pakaian yang ia kenakan menjadi kusut. Dari pergelangan baju lengan panjang yang ia kenakan, kemudian menyingsing sebuah tasbih dengan jalinan sembilan manik-manik keemasan. Awalnya, kesembilan manik-manik berukuran kecil saja layaknya tasbih normal, kemudian membesar sampai seukuran buah semangka. 

Delapan manik-manik besar melesat, lalu menyebar dalam radius sepuluh meter dari empunya. Satu manik-manik lagi mengangkasa, tinggi sekali. 

Selain gelegar halilintar kemerahan, keadaan di lapisan langit di atas Ibukota Minangga pagi ini sunyi dan sepi. Walau pada subuh hari, biasanya ada saja sejumlah ahli yang berkeliaran di tempat tersebut. Bahkan, sebuah gardu jaga yang biasanya berisi ahli Kasta Emas, diketahui tiada berpenghuni. Sebentar lagi Hajatan Akbar Pewaris Tahta segera digelar. Oleh karena itu, sebagian besar khalayak Kemaharajaan Cahaya Gemilang berkumpul di Gelanggang Utama Kemaharajaan, karena mereka tak hendak kehilangan kesempatan menyaksikan siapa yang akhirnya menjadi sang pewaris tahta. 

Keadaan subuh hari ini sesuai harapan. Kedua telapak tangan Lintang Tenggara diangkat melewati kepala, mengarah tinggi ke atas. Lelaki dewasa muda itu menarik napas panjang, lalu menebar mata hati. Sorot matanya fokus, mencerminkan konsentrasi tingkat tinggi. 

“Hmph!” 

Lintang Tenggara mengerahkan unsur kesaktian daya tarik bumi. Titik pusat daya tarik bertupu pada setiap satu dari delapan manik-manik Aksamala Ganesha yang mengelilingi dirinya. Tindakan ini menarik bongkahan batu dan puing-puing nan berserakan. Tak lama, wilayah persis di atas tempat Lintang Tenggara dan Malin Kumbang berdiri, pun bersih dari puing dan bongkahan. 

Segera setelah itu, Lintang Tenggara merapal formasi segel. Sekali lagi, manik-manik Aksamala Ganesha berperan sebagai titik penghubung. Pelan dan pasti, sebuah formasi segel lalu saling menghubungkan kedelapan manik-manik satu per satu. Kini terlihat sebuah formasi segel yang membentuk bidang persegi delapan berwarna kebiruan, sungguh serasi dengan nuansa pakaian yang ia kenakan hari ini. 

Tidak hanya sampai di situ. Formasi segel yang telah berbentuk alas persegi delapan, kemudian melesat menuju satu manik-manik yang mengudara tinggi. Dengan demikian, kini terlihat sebuah limas dengan delapan sudut sebagai alasnya. Sungguh menarik perhatian. Bila dipandang dari kejauhan, maka bentuk formasi segel ini layaknya ujung mata tombak raksasa yang menghadap ke atas. Aura yang terpancar seolah mampu menerobos langit! 

Keringat membasahi dahi dan punggung Lintang Tenggara. Ia merapal tiga kemampuan secara berkesinambungan. Pertama ia melepas Aksamala Ganesha, kemudian mengerahkan unsur kesaktian daya tarik bumi, dan terakhir merapal formasi segel. Ketiganya secara bersamaan pula. Lintang Tenggara memanglah pantas bila suka bergaya, karena sebagai ahli Kasta Perak Tingkat 1, ia sangat digdaya!

“Tuan Malin Kumbang…,” seru Lintang Tenggara. “Sekarang!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang memasang kuda-kuda… 

“Apa yang kalian perbuat di tempat ini…?” Tetiba terdengar suara membahana, yang datang bersamaan dengan tekanan yang sangat berat adanya. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang yang baru saja hendak melakukan entah apa yang akan ia lakukan, dipaksa berlutut. Padahal, ia diketahui sebagai ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 9. Sebaliknya, Lintang Tenggara masih berdiri menahan tekanan. 

Kedua ahli hanya saling pandang. Mereka sama cemasnya. Siapakah dia yang datang hendak menggagalkan rencana nan telah lama disusun…?

Sebuah lorong dimensi ruang sedang berpendar dan membesar tak jauh dari tempat dimana kedua ahli tersebut berada. Kilatan listrik bergemeretak dan sesosok tubuh melangkah keluar. Satu langkah yang ia ambil, seolah seratus langkah jarak yang dapat ditempuh. Tetiba, melesat hadir seorang lelaki setengah baya, yang kini berdiri gagah dengan menampilkan postur tubuh yang tegap. Aura yang dipancarkan mencerminkan keagungan yang menyilaukan pandangan mata.

Lintang Tenggara merasakan tekanan semakin berat mendera tubuhnya. Jantung berdetak keras, cairan darah seolah menggelegak, dan keringat terus bercucuran. Dengan segala daya upaya, dirinya memaksa kedua lutut untuk tak bertekuk dengan sendirinya. Kendatipun demikian, Lintang Tenggara tiada kuasa bertahan lebih lama. Manik-manik Aksamala Ganesha mulai berterbangan simpang-siur, unsur kesaktian daya tarik bumi lenyap, dan formasi segel yang telah dirapal sirna! 

“Balaputera Lintara… jawab pertanyaanku.” Meski berujar pelan, suara yang keluar ibarat titah menggelegar yang menggetarkan segenap wilayah.

Lintang Tenggara sontak membungkukkan tubuh. “Mohon ampun beribu-ribu ampun… Wahai Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang… Balaputera Dewa.”