Episode 35 - Delivery Service


“Tidak ada apa-apa,” jawabku sambil menggelengkan kepala. 

Shinta hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Riki, entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Beberapa saat kemudian dia mengalihkan pandangannya dari Riki sambil menggelengkan kepalanya sedikit. 

"Oh ya, kalau begitu, aku pulang dulu,” ujarku sambil bersiap pergi. 

“Ya, terima kasih ya sudah mau menjenguk,” jawab Shinta sambil tersenyum. 

“Segera sembuh ya.”

Aku segera pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri dan makan malam kemudian berdiam diri di dalam kamar sambil memikirkan kembali perbincanganku dengan Shinta di rumah sakit tadi.

Tampaknya aku memang perlu memeriksa tempat itu, tenaga dalam Sadewo yang mengalir dalam darahku sejatinya berasal dari Sekte Pulau Arwah. Aku yakin, jika saja aku bisa mendapatkan pengetahuan tentang teknik pengolahan tenaga dalam Sekte Pulau Arwah, maka aku bisa lebih memaksimalkan potensi terpendam dalam darahku. 

Tapi sepertinya agak mustahil bagiku untuk menyusup ke lokasi tersebut pada saat ini. Selain karena Perserikatan Tiga Racun kini menguasai tempat itu, tingkat kesaktianku juga masih terlalu lemah di tingkat penyerapan energi tingkat keempat. Disisi lain, aku juga tidak punya banyak waktu, karena cepat atau lambat Perserikatan Tiga Racun pasti akan menemukan lokasi persembunyian tersebut.

Sambil terus memikirkan berbagai cara menyusup ke sana, aku mengeluarkan semua barang-barang dunia persilatan yang kumiliki sejauh ini dan meletakkannya di atas meja belajar. Hingga saat ini, aku hanya punya buku panduan Jurus Iblis Sesat, pisau milik Sadewo yang diberikan Kinasih sebelum dia menghilang, lalu pil-pil dan kelereng racun milik anggota Perserikatan Tiga Racun. Ternyata barang-barang dunia persilatan yang kumiliki masih sangat sedikit. Aku menghela nafas dan mengembalikan barang-barang tersebut ke tempat penyimpanannya. 

Baiklah! Aku akan mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk mencari lokasi persembunyian rahasia Sekte Pulau Arwah satu persatu. Hal pertama dan paling utama yang harus kulakukan adalah meningkatkan kesaktianku. Meskipun tahap penyerapan energi tingkat keempat adalah tingkat kesaktian rata-rata para pendekar di wilayah ini, pada kenyataannya aku hanyalah buih kecil diantara gelombang besar para pendekar tahap pembentukan dasar ke atas. 

“Sepertinya aku harus mulai mencari misi yang bisa kujalani supaya mendapatkan lebih banyak uang untuk membeli pil pengumpul energi. Besok aku akan mencari misi di Balai Tujuh Tingkat,” gumamku dalam hati sambil beranjak tidur. 

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku segera menuju Balai Tujuh Tingkat menggunakan angkutan umum. Di Balai Tujuh Tingkat, aku tidak begitu kesulitan menjalani proses pencarian misi mengingat beberapa hari sebelumnya Arie telah menjelaskan secara detil caranya padaku. Cukup lama aku terpaku di depan komputer mencari misi yang bisa kujalani. Kriteria misi yang ingin kujalani adalah tidak memakan waktu terlalu lama dan memberikan imbalan yang besar, tentu saja aku juga mencari misi dengan tingkat resiko yang kecil. 

Tapi kebanyakan misi yang kutemukan memakan waktu cukup lama, bahkan bisa menyebabkanku tidak pulang berhari-hari. Tanpa melihat detil misi-misi tersebut, aku langsung meng-scroll mouse kebawah mencari misi yang lain. Tiba-tiba saja mataku menangkap satu misi yang memenuhi sebagian besar kriteria yang kutetapkan, waktu yang tidak terlalu lama dan resiko yang kecil, hanya saja imbalannya juga tidak terlalu besar. Aku segera melihat detil misi tersebut. 

“Misi mengantarkan barang? Delivery service?” gumamku sambil mengerenyitkan kening. Kenapa hanya untuk mengantarkan barang saja memerlukan seorang pendekar? Memangnya tidak bisa menggunakan perusahaan jasa delivery biasa saja? 

“Mungkin barang yang diantar bukan barang biasa...” pikirku kemudian. Aku segera membaca detil lainnya mengenai misi tersebut, didalamnya tidak kutemukan nama orang yang memberi misi, hanya saja dia memberikan imbalan misi tersebut dimuka dan menjelaskan secara detil dimana harus mengambil barang tersebut. Setelah sempat ragu-ragu sebentar, akhirnya aku memutuskan mengambil misi tersebut. Setelah memproses pengambilan misi dengan pegawai Balai Tujuh Tingkat dan langsung menerima imbalan misi tersebut dimuka, aku segera kembali pulang ke rumah. 

Dua hari kemudian, sesuai dengan detil misi yang kuambil, aku menuju lokasi pengambilan barang. Disana aku menemukan seorang laki-laki berperawakan biasa saja tengah menunggu sambil menyandarkan punggungnya di tembok. Dia menyadari kedatanganku namun tidak bereaksi apapun hingga aku benar-benar berada di depannya. 

“Kau yang akan mengantarkan barang?” Lelaki itu memandangiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. 

“Ya,” jawabku singkat. 

Aku bisa merasakan fluktuasi tenaga dalam dari dirinya, tapi sama sekali tidak bisa menduga tingkat kesaktian orang ini. Yang pasti, seluruh tubuhku seperti gemetaran dan kedua kakiku terasa lemas seperti ingin berlutut dihadapan orang ini. Sudah pasti tingkat kesaktiannya jauh berada diatasku! Tiba-tiba saja aku merasa sedikit menyesal telah mengambil misi ini, bertransaksi dengan pendekar yang tingkat kesaktiannya berada jauh diatas kita memiliki tingkat resiko sangat tinggi. Tapi toh aku tetap berdiri dihadapan orang itu dan menunggu dia menyerahkan barang yang akan dititipkannya padaku, semata-mata karena aku telah menerima imbalan misi ini duluan. 

Orang itu segera mengambil bingkisan berbentuk kotak kecil seukuran kardus hape dari balik pakaiannya dan menyerahkannya padaku. 

“Antarkan barang ini ke rumah sakit Osadhi Medika lantai lima belas, temui orang yang bernama Arka disana.” Kemudian dia memberitahukan nomor hape orang yang bernama Arka dan memerintahkanku hanya menghubungi orang itu setelah sampai di lantai lima belas rumah sakit Osadhi Medika. 

Aku menerima barang tersebut dan segera memasukkannya kedalam tasku. Kemudian tanpa banyak bicara lagi segera pergi mengantarkan barang tersebut menuju rumah sakit Osadhi Medika. Selama perjalanan, tanganku berkali-kali meraba kotak itu dari luar tas. Meskipun aku tidak tahu pasti apa isi kotak yang kubawa, namun kuduga isinya adalah obat atau semacamnya. Sempat juga terpikir kalau barang yang kubawa adalah obat terlarang, tapi aku langsung menepis kemungkinan tersebut. Orang yang kutemui tadi memiliki kesaktian tiggi, kesaktiannya terlalu tinggi jika hanya untuk mengurusi hal remeh seperti obat terlarang. Lagipula, buat apa menyewa pendekar dunia persilatan dengan kemampuan cukup tinggi sepertiku hanya untuk mengantarkan obat terlarang, 

Karena menggunakan angkutan umum di sore hari, aku baru sampai rumah sakit Osadhi Medika sekitar satu jam kemudian. Tapi meskipun aku kembali ke rumah sakit Osadhi Medika, aku tidak menjenguk Shinta, karena dia sudah pulang dari rumah sakit ini sehari yang lalu.

Begitu sampai di lantai lima belas, aku langsung menghubungi Arka dan menunggu di pinggir koridor. Ternyata situasi di lantai lima belas rumah sakit Osadhi Medika sangat berbeda dengan lantai tempat Shinta dirawat. Sisi kanan dan kiri koridor lantai lima belas terdiri dari ruangan-ruangan besar dengan jendela yang besar. Dari yang kuamati, sepertinya ruangan tersebut adalah lab penelitian.  

“Riki.” 

Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun memakai seragam dokter berjalan cepat mendekatiku. 

“Arka?” balasku bertanya. 

Lelaki yang kupanggil Arka menganggukkan kepalanya dan segera mengisyaratkanku mengikutinya. Tadinya aku berniat tidak menurutinya dan langsung memberikan kotak tersebut saat itu juga, tapi Arka mendengus sambil menggelengkan kepalanya pelan. Terpaksa aku berjalan mengikutinya dengan jantung berdebar-debar, sementara dalam hatiku bertanya-tanya apa sebenarnya isi kotak yang kubawa sampai mereka pihak pengirim dan penerima bersikap begitu hati-hati. 

Ternyata Arka membawaku ke sebuah ruangan kantor yang berukuran tidak terlalu besar. 

“Mana barangnya?” tanya Arka begitu kami masuk ke dalam ruangan. 

“Ini,” jawabku sambil menyerahkan kotak tersebut pada Arka.

Arka tersenyum tipis menerima kotak tersebut, kemudian dengan hati-hati dia mulai membuka kotak tersebut. 

“Tugasku sudah selesai, aku pergi dulu,” Begitu melihat Arka berniat membuka kotak tersebut, aku buru-buru pamit meninggalkan ruangan tersebut. Aku tidak berniat mengetahui isi kotak tersebut, aku tidak ingin terlibat lebih dari tugasku sebagai kurir.

“Tunggu, jangan kemana-mana,” ujar Arka mencegah kepergianku. 

“Ada apa? Bukannya aku sudah mengantarkan barangnya?” tanyaku sambil mengerenyitkan kening. 

“Tunggu saja sebentar,” jawab Arka dingin. 

Akhirnya aku tak mengatakan apa-apa lagi dan hanya berdiri mematung di tempatku. Bukan apa-apa, tapi aku merasakan Arka juga memiliki tingkat kesaktian jauh diatasku. Sehingga aku hanya bisa menuruti kata-katanya demi menghindari akibat yang lebih buruk.

Arka kembali melanjutkan kegiatannya membuka kotak tersebut, dan mau tak mau aku melihat isi kotak tersebut. Didalamnya hanya terdapat rempah-rempah ramuan obat yang dibagi dalam kotak-kotak kecil, tapi seketika itu juga aku merasakan fluktuasi energi murni dari rempah-rempah tersebut! 

Kulihat Arka menundukkan kepalanya untuk mengamati lekat-lekat semua rempah tersebut, kemudian mengendusnya satu per satu. Baru setelah itu Arka mengangkat kepalanya kembali sambil tersenyum puas. 

“Ini hanya ramuan obat biasa, tak perlu terlalu tegang,” ujar Arka setelah melihat ekspresi mukaku yang terlihat tegang. 

“Aku memesan rempah-rempah ini melalui Balai Tujuh Tingkat, tapi sepertinya dia bersikap terlalu berhati-hati dan memintamu yang mengantarkan rempah ini padaku. Mungkin dia takut aku menjadi serakah dan ingin tahu darimana dia mendapatkan rempah-rempah ini, karena itu dia mengirimkannya melalui dirimu. Padahal aku bukan orang seperti itu,” lanjutnya sambil tersenyum tipis. 

Aku hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Arka. Tiba-tiba saja sesuatu terlintas dalam pikiranku, namun aku segera menepis pikiranku. Tapi Arka sepertinya melihat rasa ragu pada ekspresi wajahku. 

“Ada apa?” tanya Arka dengan ekspresi ingin tahu. 

Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Arka yang tiba-tiba, perasaanku langsung berkecamuk memutuskan apakah aku harus mengatakan padanya hal tengah yang kupikirkan atau tidak. Akhirnya aku mengambil keputusan dan menyusupkan tanganku ke dalam tas. Sesaat kemudian aku kembali mengeluarkan tangan dari dalam tas dengan pil-pil dari Perserikatan Tiga Racun ditanganku. 

Aku dapat melihat jelas perubahan ekspresi wajah Arka dari bingung dan penasaran menjadi terkejut melihat pil warna-warni di tanganku. 

“Apa kau tahu pil-pil ditanganku ini?” tanyaku hati-hati pada Arka. 

Namun Arka tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya mengerenyitkan keningnya dan balik bertanya padaku. “Darimana kau dapatkan pil ini?”