Episode 29 - Ciri Pria Sejati.


“Ini tidak ada hubungannya dengan kalian berdua, jadi kuperingatkan, lebih baik tidak usah ikut campur, atau kalian akan menyesal!” ucap anak buah Nino yang lainnya.

“Tentu saja ada hubungannya, dia adalah temanku!” ucap Danny dengan tegas.

“Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan padanya, dan aku tidak peduli tentang itu, tapi aku tidak suka dengan sikap kalian, jadi aku akan ikut campur.” Ucap Rito dengan percaya diri.

Danny dan Rito tahu bahwa mereka tidak akan mampu melawan puluhan anggota geng serigala hitam, tapi, untuk mengulur waktu lalu melarikan diri, mereka berdua memiliki sedikit rasa percaya diri.

Di tepi jalan, tepatnya di depan mobil yang terparkir, Nino merasa semakin marah karena datangnya gangguan dari Danny dan Rito. Tatapan matanya semakin gelap, dan wajahnya menjadi sangat suram.

Roy melihat tampilan suram dari Nino dan menjadi sangat cemas, dia bergegas mendekatinya, “Bos, mereka berdua memiliki kemampuan bertarung yang cukup baik, karena itu, aku ingin merekrut mereka.”

Nino melirik ke arah Roy, “Heh ... benarkah?”

“Tentu saja Bos, bahkan mereka berdualah yang telah menghajar orang-orang di sana.” Ucap Roy sambil menunjuk teman-teman Sony yang kini telah bangkit dan berkumpul di belakang Sony.

“Mereka hanyalah preman pasar, sangat berbeda dengan kita.” Nino berkata sambil melihat orang-orang itu dengan penuh penghinaan dan tampak jijik.

“Tentu saja, Bos, tapi jika dilatih dengan baik, mungkin mereka berdua bisa menjadi tambahan kekuatan tempur bagi geng serigala hitam.” Ucap Roy dengan terburu-buru.

Nino menoleh dan melihat wajah Roy, dia adalah tangan kanannya, dan Nino sangat percaya dengan penilaian dari Roy. 

“Baiklah, bagaimana kalau kita tes dulu saja.” Nino berkata sambil menaikan ujung bibirnya.

“Tentu saja,” ucap Roy dengan cepat, “Kalian berdua, abaikan target kita, dan selesaikan mereka berdua terlebih dahulu!” 

Dua anak buah Nino yang berada di hadapan Danny dan Rito segera mengangguk dan berkata, “Baik!

Danny dan Rito memasang kuda-kuda, mereka berdua siap menyambut serangan dari dua orang di depannya kapan saja.

“Raku, cepat pergi dari sini!” ucap Danny tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi ... bagaimana dengan kalian berdua?” tanya Raku dengan cemas.

Rito menoleh dan tersenyum kecil ke arah Raku, “Tenang saja, setelah menghadapi mereka, kami berdua akan menyusulmu nanti.”

“Pergi saja, serahkan mereka pada kami berdua.” Ucap Danny dengan antusias. Ini adalah salah satu dari banyak kalimat yang ingin dia katakan.

“Ba-baiklah!” Raku langsung bangkit dan berlari pergi.

Nino melihat Raku melarikan diri dengan tatapan jijik, “Baiklah, kita urus sampah itu lain kali saja, aku ingin melihat seberapa hebat dua orang itu.”

“Benar Bos, sampah seperti dia bisa kita beri pelajaran kapan saja.” Ucap Roy.

Raku belum berlari terlalu jauh, jadi dia masih bisa mendengarkan percakapan singkat dari Nino dan Roy, yang membuat dia menjadi semakin membenci dirinya sendiri. Tapi dia tetap melangkahkan kakinya untuk pergi, karena dia tahu, meskipun berada di sana, dia tidak akan banyak membantu, dan malah akan menjadi beban saja.

Setelah berlari cukup jauh, dia berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pohon. Melihat Danny dan Rito yang berdiri di hadapan dua orang dari geng serigala hitam dengan berani. Dia menatap mereka dengan cemas, sambil berdoa untuk keselamatan Danny dan Rito di dalam hatinya.

“Hei, Dan, sepertinya aku tidak akan mampu melawan mereka.” Danny bergumam pelan.

“Lalu, kenapa?” balas Dan di dalam pikiran Danny.

“Aku butuh bantuanmu.” Gumam Danny lagi.

“Tidak, itu merepotkan.” Balas Dan cepat.

“Tolong, setelah ini selesai, aku akan membeli majalah dengan banyak wanita dengan pantat seksi di dalamnya.” Danny berkata dengan nada memohon.

“Sialan! Baiklah, lagipula aku juga akan repot jika kau mati di sini, tapi kau harus menepati janjimu, dan ingat, aku melakukan ini untuk majalah itu, bukan untuk menolongmu .” Ucap Dan di dalam pikiran Danny.

Entah sejak kapan dan apa alasannya Dan memiliki kecintaan pada pantat, dia sendiri juga tidak tahu. Karena ini, setiap kali Danny bertanya ‘kenapa?’ pada Dan, akan selalu dia jawab dengan.

“Jika ada gunung, maka dakilah, jika ada pantat seksi, kagumilah, bukankah itu artinya menjadi seorang pria sejati.”

Jawaban penuh omong kosong dan tidak beralasan.

“Hehe ... baiklah, kuserahkan semuanya padamu.” Ucap Danny sambil tersenyum kecil.

Setelah itu, dalam sekejap meskipun Danny masih terlihat sama seperti sebelumnya, tapi saat ini jiwa Dan yang mengendalikan tubuh itu.

Rito melirik ke arah Danny di sampingnya, dia melihat Danny yang masih sama seperti sebelumnya, tapi dia merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya.

“Apalagi yang kalian tunggu, serang mereka berdua!” teriak Roy.

Kedua anak buah Nino langsung bergerak dan melancarkan serangan kepada Dan juga Rito. Dan yang saat ini mengendalikan tubuh Danny tidak menghindar, tapi malah maju. Saat tinju sudah tepat di depannya, tiba-tiba saja dia mampu menghindarinya, kemudian Dan maju sambil mencondongkan berat badannya ke depan lalu meluncurkan tinjunya tepat ke arah wajah orang itu. 

Pukulan telak mengenainya, dan dia terlempar ke belakang dengan keras dan tidak sadarkan diri. 

Hanya butuh satu serangan.

Pada waktu yang sama, orang yang menyerang Rito melancarkan tendangan menuju pinggangnya. Tendangan pria itu sangat cepat, jadi Rito tidak sempat untuk menghindar, dan akhirnya dia memutuskan untuk menerimanya.

Setelah terkena tendangan itu, Rito tidak terjatuh, karena itu hanya cepat tapi tidak kuat, sambil menahan sedikit rasa sakit, dia dengan tenang memegang kaki orang tersebut dengan satu tangan, kemudian maju dan menyerang orang tersebut dengan tangan yang lainnya.

Pria itu terkena serangan telak pada wajahnya dan tidak sadarkan diri juga.

Hanya butuh satu serangan juga.

Sony dan yang lainnya merasa getir setelah menyaksikan kekuatan dari Dan juga Rito. Ternyata mereka belum serius saat di pertarungan sebelumnya. Kali ini, setelah serius, mereka hanya membutuhkan satu serangan untuk bisa mengalahkan orang di depannya.

Di balik pohon, Raku menyaksikan pertarungan itu dengan penuh kekaguman. Hanya butuh satu serangan, dan musuh di depannya langsung jatuh. Raku mengepalkan tangannya, dia ingin seperti mereka, dia ingin menjadi lebih kuat. Hingga dia bisa melindungi apa yang ingin dia lindungi. 

Di suatu tempat, Alice yang bersembunyi sambil menatap Danny dengan cemas dan gelisah. Setelah tujuh orang sebelumnya, kini datang lagi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. Dia tidak tahu apa yang Danny perbuat hingga memancing banyak musuh, tapi yang lebih penting lagi.

Alice khawatir dengan Danny.

Alice tidak bisa diam saja sambil menyaaksikan Danny diserang oleh orang tidak dikenal. Meskipun begitu, dia juga tidak bisa membantu Danny, jadi Alice memutuskan untuk melakukan sati-satunya hal yang bisa dia lakukan. Setelah menatap Danny dengan penuh harap agar dia tetap baik-baik saja, Alice berlari pergi untuk mencari bantuan.

Nino berjalan maju sambil bertepuk tangan setelah menyaksikan itu.

“Hebat, seperti yang kuduga, aku memang tidak salah mempercayaimu!” ucap Nino dengan senyum kecil sambil melirik Roy di sampingnya.

“Terima kasih Bos.” Ucap Roy yang berjalan bersama dengan Nino.

“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?” Rito bertanya sambil menatap Nino dengan tajam.

Di sisi lain, Dan hanya diam sembari menatap Nino dengan tenang. Tidak ada amarah, tidak ada rasa benci, dia hanya menatap tanpa emosi.

Karena Dan tidak tertarik pada pria, dia hanya tertarik pada gadis berpantat seksi.

“Awalnya aku ingin memberi pelajaran pada anak bernama Raku itu, si pengecut yang telah membuat adikku menangis, tapi kini aku berubah pikiran, aku ingin merekrut kalian ke dalam gengku.” Ucap Nino sambil menatap tajam Dan juga Rito.

Itu bukan penawaran atau permintaan. 

Itu adalah perintah.

“Aku menolak.” Ucap Dan dengan cepat dan acuh tak acuh.

Dia tidak tertarik untuk bergabung dengan geng di mana terdapat banyak pria-pria berbadan besar. Dia lebih memilih hidup dengan damai di tubuh Danny sambil menikmati pemandangan indah dari siswi SMA yang baru mekar.

Apalagi akhir-akhir ini Danny juga telah dekat dengan seorang siswi cantik bernama Alice. Dan tidak akan membuang hidupnya dengan memasuki geng atau apapun itu, dia akan memantau perkembangan Alice hingga dia akhirnya mekar dan menjadi bunga yang lebih indah dari saat ini.

 “Aku juga menolak.” Ucap Rito dengan tegas.

Rito mengingat kembali cerita tentang Raku yang telah Danny ceritakan padanya. Dari awal masuk sekolah, Raku mendapat gosip tanpa dasar yang membuat reputasinya menjadi buruk, hingga akhirnya dia tidak memiliki teman, karena tidak ada yang berani untuk mendekatinya.

Jadi, pada akhirnya semua itu hanyalah kesalahpahaman, dan Raku adalah korban dari semua itu.

“Memangnya apa yang telah dia lakukan pada adikmu?” tanya Rito.

“Si brengsek itu, dia dengan sengaja datang bersama selingkuhannya, lalu mencampakkan adikku di depannya!” ucap Nino dengan penuh kebencian.

Entah kenapa, Rito seperti menemukan pecahan puzzle yang bisa membuatnya merangkai bagian dalam misteri untuk memahami dan membenarkan kesalahpahaman ini.

“Tunggu, jangan bilang adikmu itu bernama Nina?” tanya Rito mencoba untuk memastikan kecurigaannya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Nino.

‘Jadi seperti itu, Nina adalah adik dari Bos geng serigala hitam, dan karena aku mencampakannya, dia mencoba untuk membalaskan dendam untuk adiknya, satu-satunya yang masih tidak aku mengerti adalah, kenapa Raku yang menjadi targetnya, dan bukan aku?’ pikir Rito.

Setelah mengetahui semua ini, Rito tidak tahu harus tertawa atau bersimpati akan nasib sial Raku. 

Rito menelan ludah, dia mengambil keputusan. Meskipun hal ini bisa membuatnya mendapatkan masalah besar, tapi dia tidak bisa membiarkan orang lain memikul tannggung jawab yang harusnnya dia bawa. 

Membiarkan orang lain mengambil tanggung jawab dari masalah yang telah diri sendiri perbuat adalah sesuatu yang dilakukan seorang pecundang.

“Sepertinya ada kesalahan di sini, yang mencampakan adikmu bukanlah temanku yang tadi, tapi aku.” Rito berkata dengan tegas.

Benar, inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria.

Mengakui kesalahan adalah salah satu ciri kau adalah seorang pria sejati.

“Heh ... jadi, kau orangnya.” Ucap Nino penuh kebencian sambil menyipitkan matanya pada Rito.