Episode 11 - Sebelas


Darra menguap. Ia membuka buku yang tadi diambilnya dari rak lalu kembali menguap. Kemarin sore Aline pergi dan melarang Darra untuk pergi tidur sebelum dia pulang. Namun setelah menunggu semalaman, Aline tidak kunjung pulang. Darra sempat tertidur pukul tiga pagi, kemudian Aline tiba pukul empat dan langsung memberikan pekerjaan rumah yang berlimpah hingga Darra tidak sempat istirahat sampai waktunya berangkat sekolah.

Darra kembali menguap. Ia sudah tidak sanggup membuka matanya lagi. Gadis itu menutup bukunya lalu merebahkan kepalanya dengan tangan dilipat di atas meja. Setengah jam rasanya cukup. Darra memejamkan matanya dan tertidur. Namun ia langsung membuka matanya ketika ada yang menyentuh lengannya. Darra terduduk karena kaget dan melihat Dika sedang nyengir di depannya.

“Ada apa?” tanya Darra, berharap wajahnya tidak kacau setelah bangun tidur.

“Udah bel masuk,” jawab Dika.

“Oh ya? Aku nggak dengar,” kata Darra kecewa. Rasanya dia baru saja memejamkan mata, kok tahu-tahu sudah bel masuk. “Kamu ngapain ke sini? Bukannya ke kelas.”

“Habisnya kamu nggak ke kelas aku, jadinya aku cari kamu ke sini. Ternyata kamu lagi tidur.”

“Emang udah berapa lama kamu di sini?”

Dika terlihat berpikir sesaat. “Kira-kira nggak lama habis bel istirahat.”

Wajah Darra memerah. Berarti cowok itu sudah duduk di depannya sepanjang jam istirahat. “Kenapa nggak bangunin aku?” gumamnya sambil bangkit dan membawa buku yang tadi diambilnya. Dika menyusulnya.

“Habis kamu tidurnya pulas banget, sih,” jawab Dika. Ia ikut berhenti saat Darra mengembalikan buku tadi di raknya. “Kayaknya kamu ngantuk banget. Emang semalam nggak tidur?”

Darra menggeleng sambil membuka pintu perpustakaan. Dika mengikutinya.

“Kenapa? Emang kamu ngapain sampai nggak tidur?”

Darra tidak menjawab. Ia melirik ke sekelilingnya saat mereka berjalan melewati kelas-kelas. Darra bisa mendengar setiap murid yang ia temui menyapa Dika yang berjalan di belakangnya. Darra langsung mengalihkan pandangannya dan menjaga jarak dari Dika ketika mereka melewati kelas XI Sos 2. Ia bisa melihat Vina dan teman-temannya lewat sudut matanya. Ia langsung tahu Dika akan mampir ke kelas itu, jadi Darra bergegas menaiki tangga.

“An!” panggil Dika ketika Darra hampir tiba di kelasnya.

Darra berhenti lalu menoleh. Dika menghampiri sambil menyodorkan buku kepadanya. Ah ya, Darra hampir lupa. Dika mencarinya untuk meminjamkan buku.

“Oh, ya. Nilai Ekonomi Try Out kemarin, punyaku tertinggi kedua di kelas, lho!” ujar Dika sambil tersenyum lebar. “Mama senang banget. Kamu disuruh main ke rumah.”

Darra memandang Dika sesaat. Tanpa sadar dadanya berdebar-debar ketika matanya bertemu dengan mata Dika. Darra buru-buru mengalihkan pandangannya. “Kapan-kapan, ya,” gumamnya.

“Ya, nggak mesti hari ini, kok. Kamu langsung pulang aja terus tidur. Perlu aku antar pulangnya nanti, biar lebih cepat sampai di rumah?”

“Nggak usah.”

“Ya udah. Aku ke kelas dulu ya,” kata Dika sambil melambaikan tangan. Ia juga sempat melambai ke arah belakang Darra sebelum berbalik pergi ke arah kelasnya.

Darra menoleh ke belakangnya. Ternyata Agung sedang berdiri di sana.

“Dika habis ngapain?” tanya Agung sambil mengikuti Darra masuk ke kelas.

“Pinjamin buku,” jawab Darra singkat sambil menunjukkan buku di tangannya.

Setelah itu Darra tidak bisa berkonsentrasi sepanjang pelajaran. Kepalanya dipenuhi teori-teori yang diberikan oleh Rin kemarin. Untuk perasaannya ke Dika sih Darra belum yakin. Memang sih kalau di sekolah dan belum melihat Dika, rasanya seperti ada yang kurang. Tapi mungkin itu karena setiap hari Darra meminjam buku darinya. Jadi mau tidak mau mereka akan bertemu setiap hari. Lalu bagaimana perasaannya melihat Dika bersama cewek lain? Darra berusaha mengingat-ngingat. Setiap kali melihat Vina, ia tidak terlalu senang. Tapi pasti karena Vina selalu memasang wajah merengut setiap bertemu dengannya. Dan dengan cewek-cewek kakak kelas kemarin, Darra hanya tidak nyaman. Rasanya itu saja, tidak ada perasaan lain.

Darra memangku dagunya sambil menatap hampa ke arah gurunya yang sedang membahas jawaban dari soal Try Out kemarin. Bagaimana dengan Dika? Selama ini cowok itu baik padanya. Tapi kalau dipikir-pikir, kelihatannya Dika memang ramah pada siapa saja. Darra memperhatikan, Dika selalu membalas sapaan setiap orang, mulai dari adik kelas sampai kakak kelas. Walaupun kelihatannya cowok itu belum tentu mengenal orang yang menyapanya. Mungkin beberapa di antara cewek-cewek yang berusaha menarik perhatian Dika dengan cara menyapanya juga sama seperti Darra, ingin berada dekat dengan cowok itu.

Darra menunduk ke bukunya ketika dilihatnya gurunya bangkit untuk menuliskan sesuatu di white board. Ia teringat saat Dika mengantarnya pulang setelah rapat OSIS. Saat itu mungkin saja memang kebetulan cowok itu juga baru selesai latihan basket. Tapi yang kemarin itu bukankah jelas-jelas Dika mengatakan bahwa dia menunggu Darra sambil bermain basket? Itu artinya memang dia sengaja menunggu, kan? Lalu tadi Dika kembali mengajak ke rumahnya. Apa Dika juga menunggu untuk mengantar pulang teman ceweknya yang lain dan mengajaknya main ke rumah?

Darra menoleh ketika Rahmi menyenggol lengannya sambil menyodorkan gumpalan kertas.

“Dari Agung,” bisik Rahmi.

Darra mengambil kertas itu lalu membukanya.

Kamu melamun terus. Mikirin apa?

Darra melirik Agung yang sedang membalik kertas soal Try Out-nya lalu menuliskan balasan.

Nggak ada.

~***~

Siang itu Darra kembali ke rumah dengan keringat mengucur di dahinya. Ia baru saja pergi berkeliling di sekitar perumahan untuk mencari warnet. Ia mendapat tugas laporan ilmiah yang harus dikerjakan di komputer dan dicetak untuk dikumpulkan lusa, namun tidak dapat menemukan warnet di sekitar situ.

“Kenapa susah ya cari warnet di Jakarta,” gumam Darra sambil mencuci tangannya di wastafel.

Setelah itu Darra pergi ke kamar kakaknya untuk mengganti seprei. Kemudian ia teringat pernah melihat kakaknya itu memainkan laptop di tempat tidurnya. Darra memandang ke sekeliling ruangan. Pasti laptopnya disimpan di suatu tempat. Akhirnya Darra menghampiri meja belajar kakaknya lalu mengambil secarik kertas serta pulpen dan menuliskan pesan.

Mas, aku boleh pinjam laptopnya untuk ngerjain tugas?

Darra melirik ke sisi meja belajar. Kakaknya itu bahkan memiliki printer sendiri. Jadi ia tidak perlu cemas untuk mencetak tugasnya. Darra meninggalkan pesan itu di meja lalu turun untuk mengganti seprei di kamar Aline. Dilihatnya kakaknya sedang duduk di ruang tamu dengan pakaian rapi. Kelihatannya mereka mau pergi karena Aline juga sedang bersiap di kamarnya.

“Nggak usah masak nasi. Saya makan malam di luar,” kata Aline.

Darra mengangguk sebagai balasan. Saat ia sedang mencuci seprei di lantai dua, Aline memanggilnya untuk membukakan pintu gerbang. Rupanya mereka tidak pergi bersama. Aline mengendarai mobil sementara kakaknya pergi dengan motornya sendiri. Darra hanya berharap kakaknya sempat membaca pesannya sebelum pergi tadi.

Namun malam itu saat Darra sedang tidur, tiba-tiba Aline masuk ke ruangannya dan membangunkannya. Darra terduduk dengan bingung karena Aline terdengar marah.

“Ada apa, Tante?” tanya Darra sambil berusaha mengingat-ngingat, apa Aline tadi menyuruhnya menunggu sampai dia pulang.

“Apa ini?” Aline melemparkan gumpalan kertas ke wajah Darra.

Darra mengambil kertas yang terjatuh di pangkuannya lalu membukanya. Hatinya mencelos saat melihat bahwa itu pesan yang ditulis untuk kakaknya tadi siang.

“Ngapain kamu nulis-nulis beginian segala?!” tanya Aline dengan nada tinggi. “Udah berani ya kamu surat-suratan sama anak saya? Kamu udah lupa persyaratan yang saya kasih waktu pertama kali kamu datang ke sini?!”

“Saya cuma mau pinjam sebentar untuk ngerjain tugas, Tante,” jawab Darra.

“Saya nggak peduli!” tukas Aline. “Pokoknya kalau saya nemuin beginian lagi, apalagi kalau kamu sampai berani dekat-dekat anak saya, saya nggak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini. Ngerti?!”

Aline pergi sambil membanting pintu ruangan. Darra meremas kertas di tangannya sambil merengut. Mestinya dia tahu hal seperti ini akan terjadi.

~***~

Darra menutup bukunya lalu menyimpannya di laci meja. Bel tanda istirahat berbunyi kira-kira lima menit yang lalu. Mestinya sih murid-murid sudah pergi ke kantin sekarang. Darra bangkit lalu keluar dari kelasnya. Ia pergi ke kelas XI Sos 5 dan mengintip ke dalamnya. Beberapa anak masih ada di sana, namun mereka tidak mempedulikan Darra yang menghampiri Dika. Cowok itu masih duduk di mejanya bersama Abrar.

“Oh iya, kamu lagi butuh komputer buat ngerjain tugas?” tanya Dika sambil menyodorkan buku pada Darra.

“Iya. Kok kamu tahu?” Darra balik tanya.

“Aku dengar tadi kamu nanyain warnet ke Rin,” jawab Dika. “Aku punya komputer di rumah. Kamu bisa pakai komputerku.”

Darra melirik Abrar yang sedang sibuk dengan ponselnya. Cowok itu juga jelas tidak terlihat peduli mendengar Dika mengajak Darra ke rumahnya.

“Tapi aku udah janjian sama Rin,” kata Darra.

“Nggak apa-apa. Nanti aku yang bilangin.”

Setelah menggumamkan terima kasih, Darra kembali ke kelasnya. Ia tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima ajakan Dika. Yang ada di pikirannya saat ini adalah mengerjakan tugasnya, dan ia tidak peduli jika Aline memarahinya nanti.

Maka setelah bel pulang sekolah berbunyi, Darra langsung pergi ke gang di samping sekolah untuk menunggu Dika. Untunglah karena sekarang Darra sudah terbiasa pulang bersama Rin, jadi ia tidak perlu repot-repot mencari alasan kepada Agung. Walaupun jika Agung memang bertanya padanya, Darra akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Rin sendiri juga pulang bersama Emil. Jadi Darra tidak perlu mendengar Rin meledeknya dengan Dika.

Tak lama kemudian Dika muncul sambil mengendarai motornya. Seperti biasa, cowok itu memberikan jaketnya untuk menutupi rok Darra. Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di rumah Dika. Meskipun baru dua kali datang ke sana, Darra merasa nyaman. Ia menyukai kehangatan yang terpancar dari rumah itu.

“Kamu naik aja dulu. Aku bikinin minuman,” kata Dika yang muncul setelah berganti pakaian.

Darra pergi ke kamar Dika lalu duduk di karpet. Ia mengeluarkan buku tugasnya lalu membaca ulang laporannya. Tak lama kemudian Dika kembali sambil membawa nampan berisi minuman dan kue.

“Mamaku lagi pergi ke rumah temannya. Katanya diusahain pulang secepatnya,” kata Dika sambil menaruh nampannya di meja. “Mau kerjain tugasnya sekarang?”

Darra mengangguk. Dika menghampiri meja di samping tempat tidur lalu menyalakan komputernya. Darra menunggu dengan sabar hingga komputernya menyala lalu duduk di depannya.

“Santai aja ya ngerjainnya,” kata Dika sambil menepuk bahu Darra dengan lembut.

Setelah itu Darra sibuk mengetik tugasnya sementara Dika duduk di tempat tidur sambil membaca komik. Sesekali cowok itu melongok ke layar komputer untuk melihat pekerjaan Darra. Saat hendak mencetak hasilnya, Darra kebingungan karena printernya tidak bekerja.

“Kok nggak bisa, ya?” gumam Darra. Dika mendengarnya lalu menutup komik yang sedang dibacanya. Ia menghampiri Darra lalu membungkuk di sebelahnya.

“Sini, coba kulihat,” kata Dika sambil meraih tetikus. Darra mengangkat tangannya dari tetikus. Dadanya berdebar-debar ketika tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Dika.

Dika mengutik-ngutik komputernya. Dalam sekejap, hasil pekerjaan Darra sudah dicetak melalui printer. Setelah selesai, mereka duduk-duduk di karpet sambil menunggu mamanya Dika pulang. Cowok itu menceritakan banyak hal, namun Darra tidak terlalu memperhatikannya.

Pikirannya sudah teralihkan oleh yang lain. Dadanya masih berdebar-debar, apalagi saat Dika berdiri di sebelahnya tadi. Darra belum pernah merasa seperti itu sebelumnya, walaupun setiap hari duduk berdekatan dengan Agung. Darra merasa malu, tapi juga ingin terus berada di dekat Dika.

“Nilai Abrar juga naik, lho,” kata Dika. “Sebenarnya sih selama ini nilai-nilai Abrar juga nggak jelek-jelek banget. Tapi dia cuek dan agak males. Jadi guru-guru senang ngeliat kemajuannya.”

“Dika,” kata Darra tiba-tiba.

Dika mengangkat alisnya. “Ya?”

Darra menelan ludah. Pandangannya terus berpindah dari Dika ke meja lalu ke sekelilingnya.

“Kenapa?” tanya Dika lagi.

Darra melirik Dika lalu kembali mengalihkan pandangannya. Bibirnya gemetar karena sulit mengucapkan kata-kata yang ada di pikirannya. Dika menunggu Darra dengan sabar. Darra menarik napas dalam-dalam sambil mencengkeram ujung roknya.

“Aku suka sama kamu.”

Darra melirik Dika yang berkedip sekali.

Dua kali.

Darra tidak bisa menebak arti pandangan Dika saat itu.