Episode 23 - Tabib dari Tionggoan (2)



“Haiya! Lagi-lagi geombolan pengemis dali Bukit Tunggul! Meleka selalu mengganggu ketenangan Julagan Kalta!” maki Holiang.

“Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul? Mengapa mereka menurunkan tangan jahatnya pada orang-orang juragan Karta?” Tanya Jaya.

“Meleka adalah olang-olang kolban pelang dan kolban pajak yang telampau tinggi di Mega Mendung ini! Entah bagaimana meleka jadi suka melampok dali olang-olang yang belada, Haiya! Padahal Julagan Kalta belsedia membantu meleka tapi meleka malah lebih memilih belbuat onal ha!” jelas Holiang.

Pertumpahan darah di luar gedung Juragan Karta itu semakin hebat membuat Jaya menjadi khawatir. “Kedua belah pihak adalah mereka yang pahit hidupnya, yang satu hanya orang kecil yang harus melindungi majikannya, yang satu korban kekejaman para penguasa! kita harus mencegah pertumpahan darah lebih lanjut!” tegas Jaya, Holiang pun setuju, mereka berdua melayang lalu turun ditengah-tengah perang campuh itu untuk melerai. “Hentikan! Hentikan pertumpahan darah yang sia-sia ini!” bentak Jaya.

Tetapi gerombolang pengemis itu malah bergerak mengerubungi Jaya dan Holiang sambil mulutnya tak henti-henti bersuara, “Beri kami sedeqah tuan… Beri kami sedeqah tuan, agar perjalanan tuan kea lam baza dimudahkan!”

Mau tak mau Jaya dan Holiang pun terpaksa mengahalau mereka, angin deras berseorang dari setiap gerakan Jaya membuat tubuh para pengemis itu berpelantingan bagaikan daun-daun yang berguguran! Tubuh-tubuh yang terkena pukulan maupun tendangan Jaya langsung muntah darah akibat hebatnya tenaga dalam yang terkandung dalam setiap gerakan Jaya, hingga suatu bentakan bergema menghentikan mereka semua “Hentikan!”

Sesosok tubuh ramping melompat kehadapan Jaya, ia mengenakan pakaian kumal sobek-sobek serba biru dan wajahnya ditutupi cadar butut yang berwarna biru pula “Sungguh hebat orang-orang kaya seperti kalian, membantai orang-orang miskin seperti kami bagaikan memotong rumput liar!” sarkasnya.

Meskipun suara itu terdengar samar dan serak akibat diiringi dengan tenaga dalam, tapi Jaya dapat menebak kalau orang dibalik cadar itu adalah seorang perempuan, samar-samar ia juga mencium bau belerang di antara bau asam dan apek dari tubuh perempuan itu yang cukup menyengat, Jaya juga dapat mengetahu kalau dari logat bicaranya ia bukan orang dari Pasundan, logat bicaranya seperti logat pesisir utara Jawa. “Kami tidak hendak membantai kalian, kami hanya membela diri mempertahankan nyawa kami dari serangan kalian!” jawab Jaya.

Si perempuan bercadar yang masih menyamarkan suaranya itu tertawa terbahak-bahak, “Hahaha! Ya kalian pantas mempertahankan nyawa kalian dari kami sang pengadil sebab kalianlah yang membuat hidup kami menderita!”

Jaya tertawa sinis mendengarnya, “Sang pengadil? Hehehe… Benar-benar klaim sepihak yang tak masuk akal, bagaimana mungkin kami membuat kalian menderita? Kenal saja tidak!”

Si perempuan bercadar itu mendengus marah, “Jangan banyak omong! Rasakan!” dia langsung menerjang Jaya, Jaya pun langsung meladeninya, Jaya cukup terkejut meladeni silat perempuan ini, ilmu silatnya cukup tinggi dan beberapa kali mengancam Jaya, maka Jaya pun tak sungkan-sungkan meladeninya dengan jurus-jurus andalan dari padepokan Sirna Raga.

Beberapa jurus berlangsung seru, hingga pada suatu ketika Jaya merasakan angin panas yang keluar dari kedua telapak tangan si perempuan bercadar, jika telapak tangan berhasil mengenai Jaya pasti celakalah pemuda ini, hingga pada suatu kesempatan si perempuan bercadar melancarkan pukulan jarak jauhnya, satu larik sinar berwarna putih disertai angin panas menggubu dahsyat! Jaya berhasil menghindarinya, pohon dibelakang Jaya yang menjadi sasaran pukulan itu hangus terbakar itulah kehebatan jurus pukulan “Telapak Kawah Tunggul”!

Holiang yang melihat pukulan itu segera mengingatkan Jaya, “Tuan Pendekal, hati-hati! Itu Pukulan Telapak Kawah Tunggul! Pukulan itu mengandung racun belerang dan sangat berbahaya!”

Si perempuan bercadar itu tertawa sambil menoleh ke arah Holiang “Jadi kau tahu pukulan itu? Bagus kalau begitu bersiap-siaplah mati!”

Akan tetapi Jaya berkata lain, “Nona sebaiknya kita hentikan pertikaian tidak jelas juntrungannya ini! Kalau Nona dan kawan-kawan Nona hendak meminta sedeqah pada Juragan Karta, saya yakin juragan akan bermurah hati memberikannya untuk kalian!”

Semua yang ada di sana kaget ketika Jaya menyebut orang bercadar itu dengan sebutan nona, gerombolan pengemis itu pun kaget, Si perempuan bercadar ini yang paling kaget sebab ia tidak mengira Jaya dapat menebak kalau ia seorang perempuan, murkalah ia. “Bangsat! Memangnya kenapa kalau aku wanita?! Apa kau kira aku akan bersikap lemah hanya karena aku seorang wanita?!” bentaknya yang kini terdengar jelas itu suara seorang wanita.

“Aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu hanya karena kamu seorang wanita Nona, aku hanya ingin kita sudahi pertikaian tak berarti ini!” jawab Jaya.

“Diam bedebah!” bentak perempuan itu yang lalu mengamuk sejadi-jadinya hingga membuat Jaya kewalahan, sebenarnya Jaya sudah hampir kepepet untuk mempertahankan dirinya dan terpaksa harus mencelakai perempuan itu ketika jurus bertahan “Empat Gunung Berbaris Delapan Bukit Melintang” yang ia dapat dari Kyai Pamenang dapat dijebol amukan perempuan itu, tapi Jaya tidak ingin mencelakai lawannya itu, maka ia mencari kesempatan untuk menotok lawannya, pada suatu kesempatan Jaya berhasil mendapatkan kesempatan untuk melepaskan totokan jarak jauh, dan selarik angin berhasil menotok pangkal leher perempuan itu hingga ia tidak dapat bergerak!

“Laki-laki pengecut! Hanya becus main totok saja!” makinya marah sekali.

“Nona sudahlah! Ayo kita sudahi pertikaian tak berarti ini, sudah banyak korban di antara kedua belah pihak!” ucap Jaya.

“Diam! Kau dan kalian semua mana tahu penderitaan kami?! Bagaimana sakitnya hidup kami!” teriak histeris perempuan itu.

Jaya dapat mengetahui kalau perempuan bercadar itu menangis dari suaranya. “Maaf, aku memang tidak tahu Nona, tapi mengapa kalian melakukan ini sebagai pembenar dari derita yang kalian dapatkan?” Tanya Jaya.

Gerombolan pengemis itu langsung mengepung Jaya dengan tatapan penuh nfasu membunuh dan tekad siap mati, tapi tiba-tiba si perempuan bercadar itu menjerit, ia dapat meloloskan diri dari totokan Jaya hingga tubuhnya bisa bergerak kembali, ia lalu memberi isyarat agar kawan-kawannya mundur, dia lalu menatap Jaya dengan tajam. “Hei kau laki-laki sombong! Baiklah hari ini kami mengalah! Tapi ingatlah, selama langit masih biru, nyawamu tidak akan lolos dariku Si Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul dan kami Gerombolan Pengemis Bukit Tunggul! Ingat itu baik-baik!” mereka semua pun pergi meninggalkan tempat itu.

Jaya menarik nafas lega karena akhirnya ia berhasil melerai pertumpahan darah yang percuma itu, tetapi ia juga merasa kagum pada ilmu silat perempuan yang menamakan dirinya di Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul tersebut, terutama pada saat ia berhasil melepaskan dirinya dari totokan jarak jauh Jaya. “Ah perempuan itu hebat juga, dia bisa melepaskan totokanku dengan begitu mudahnya, bearti dia memiliki tenaga dalam yang tinggi juga..” gumamnya.

Holiang segera menghampiri Jaya “Haiya, ilmu silat Tuan Pendekal benal-benal hebat! Sekalang ayo kita temui Julagan Kalta!”

Jaya mengangguk, “Baik, ayo ncek!” mereka berduapun dipersilahkan masuk mengingat Jaya berhasil menghalau kawanan pengemis ganas itu dan Holiang adalah kawan lama Juragan Karta, mereka berdua dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu.

Beberapa saat menunggu di ruang tamu, ide jahil Holiang timbul juga. “Tuan pendekal, dalipada kita menunggu lewih baik kita susul Julagan Kalta”

Jaya mengernyitkan keningnya “Tapi tentu saja itu bukan perbuatan tamu yang baik Ncek!” jawab Jaya.

“Haiya sudahlah! Owe sudah belkawan lama dengan Julagan Kalta, Nie ikut saja!” pungkas Holiang sambil meninggalkan ruang tamu tersebut, Jaya pun terpaksa mengikutinya.

Di gudang beras yang terdapat di bagian belakang gedung rumah Juragan Karta, seorang lelaki berusia tiga puluhanan berpakaian menak khas Pasundan bertubuh tinggi tegap dengan seutas kumis melingkar di bawah hidungnya, nampak sedang mengawasi para pekerjanya yang memasukan beras ke gudang tersebut, tiba-tiba seorang gadis cilik berlari-lari sambil membawa boneka kayunya mengelilingi gudang tersebut. “Eneng jangan bermain disitu, nanti Emang-Emangmu terganggu kerjanya!” ucap pria itu dengan lembut, dari suaranya terdengar jelas kewibawaan pria tersebut.

“Maafkan Eneng Abah, Eneng tadinya disuruh Ambu buat manggil Abah, ada tamu yang mau bertemu dengan Abah, eh Eneng malah main disini!” jawab si gadis cilik sambil tertawa.

Pria itu yang tak lain adalah Juragan Karta mengelus-ngelus kepala anak gadis ciliknya itu “Eneng-Eneng… Dasar!” ucapnya sambil tertawa, saat itu datanglah seoorang wanita cantik berparas khas wanita Sunda yang juga memakai pakaian menak khas Pasundan mendatangi mereka berdua, “Ari si Eneng, pan Ambu suruh kamu manggil Abah buat ngasih tahu ada Ncek Holiang dan kawannya bertamu kemari!” ucap wanita itu yang nampaknya seumuran dengan Juragan Karta.

“Sudahlah Euis, ada apa lagi Holiang kemari? Ya sudah kalian masuk dulu, nanti aku menyusul!” sahut Juragan Karta.

Baru saja ia istri dan anaknya meninggalkannya, telinganya yang tajam menangkap suara-suara mencurigakan, “Siapa itu?! Tunjukan Dirimu!” dari langit-lagit gudang yang gelap, meluncurlah sesosok tubuh menerjang Juragan Karta dengan sebuah tendangan maut! Juragan Karta pun berhasil menhindarinya dengan mudah, orang yang baru saja menyerangnya itu langsung bergerak dengan kecepatan tinggi mengirimkan satu pukulan dahsyat ke arah Juragan Karta, Juragan Karta berhasil menangkis dan mencengkram lengan orang itu, kini matanya baru bisa melihat siapa si penyerang gelap tersebut “Holiang?!”

Si Babah Tua Holiang pun tertawa lebar “Hahaha Ya-ya ini Owe datang Kalta!”

Juragan Karta menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati kelakuan kawan lamanya tersebut, “Dasar! Sudah tua Bangka masih saja suka usil!” makinya, tapi kemudian wajahnya menjadi cerah malah tertawa-tawa “Rupanya langit cerah menyambut kedatanganmu Holiang hahaha!”

Karta lalu menatap ke arah sudut gudang yang gelap tak terlihat apapun oleh mata. “Perkenalkanlah kawan barumu itu Holiang!”, dari gelap munculah sesosok tubuh menghampiri Karta sambil memberi salam “Ah maafkan ketidak sopanan saya Juragan, nama saya Jaya Laksana.” Holiang pun lalu menceritakan semuanya pada Juragan Karta.


***


Sementara itu di perbatasan Kampung Cibodas, si Empat Setan Hitam dari Muara Angke nampak kepayahan menahan sakit dari luka dalam yang mereka derita akibat pertarungan mereka dengan Holiang dan Jaya tadi siang. “Sial betul kita! Kalau saja si pemuda tak dikenal itu tidak muncul mengganggu kita mungkin kita sudah mengetahui tempat kediaman Gundala!” maki Opang. 

“Opang sebaiknya tahan dulu emosimu, luka dalam yang kita derita cukup parah apalagi luka Gandil!” ucap Kudapawana pemimpin mereka.

Si Oding mendengus kesal, “Tapi Opang memang benar! Nanti setelah kita menemukan Gundala, kita juga harus membuat perhitungan dengan si Babah tua Holiang dan pemuda yang bernama Jaya Laksana itu!”

Baru saja Oding menutup mulutnya, Gandil si brewok gendut muntah darah akibat luka dalam yang ia derita, di antara mereka semua memang Gandillah yang luka dalamnya paling parah akibat dihajar Holiang dan Jaya Laksana.

Sekonyong-konyong seorang pria yang wajah, perawakan, serta pakaiannya sangat mirip dengan Holiang berdiri dihadapan mereka berempat, gerakannya yang tanpa suara membuat si empat brewok itu tidak dapat mengetahui kehadirannya, maka tentu saja keempat brewok itu kaget bukan kepalang melihat tiba-tiba ada seorang pria paruh baya berdiri dihadapan mereka, belum habis kekagetan mereka, si pria sipit paruh baya itu langsung membungkuk melihat keadaan Gandil. “Hmm… Luka dalam kawan kalian ini sungguh parah! Dan luka dalam kalian juga cukup parah!”

“Siapa kau?! Mau apa?!” hardik Kudapawana.

Si Ncek tua ini tertawa mengkehkeh sambil memainkan kumis tipis lelenya “Hehehe… Kalian tenang saja, owe ini seorang tabib dari Negeri Ming!”

Kudapawana menatap tajam memperhatikan pria ini dari atas ke bawah, “Tabib dari Negeri Ming?! Hmm… Apakah kau mempunyai hubungan dengan si Babah Tua Holiang itu?”

Si Ncek tua yang sedari tadi cengengesan itu tiba-tiba berubah wajahnya menjadi sangat dingin, “Ya Owe memang punya hubungan dengannya!”

Mendengar itu, si Empat Brewok itu langsung bersiap-siap menghunus senjatanya, tapi si Ncek tua ini segera menahan mereka. “Hehehe kalian tenanglah, owe tidak bermaksud buruk pada kalian, justru owe ingin mengobati luka dalam kalian!”

Keempat brewok itu jadi melongo. “Apa maksudmu?!” bentak Opang.

Si Ncek tua ini kembali cengengesan “Ya owe kan seorang tabib, jadi sudah tugas owe buat mengobati kalian, owe tidak akan minta bayaran uang pada kalian, owe hanya minta ikut kalian kalau kalian ingin membalas dendam pada Holiang, dan owe juga cuma minta beberapa batang paku hitam beracun kalian!”

Keempat brewok itu saling pandang, mereka juga kaget kalau si Ncek ini tahu tentang paku hitam senjata rahasia mereka. “Untuk apa kau ikut kami untuk membalas dendam pada Holiang? Dan darimana kau tahu tentang paku kami? Siapa kau sebenarnya?” selidik Kudapawana.

Si Ncek itu tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Kudapawana “Hahaha… Banyak benar pertanyaan kalian, ya tentu saja owe tahu siapa kalian yang punya nama Si Empat Setan Hitam dari Muara Angke yang asalnya Lima Setan Hitam Dari Muara Angke yang malang melintang di pelabuhan Sunda Kelapa, nama owe Teng Lan, dan apa urusan owe dengan Holiang, kalian tidak usah tahu, yang penting owe tahu dimana kediaman Gundala… Sekarang daripada banyak omong lagi bagaimana kalau Owe mulai mengobati kalian semua?”

Keempat brewok itu saling pandang lalu menganggukan kepalanya, Teng Lan pun mulai mengobati mereka satu persatu dengan cara dan obat yang hampir sama dengan Holiang.