Episode 6 - Pisah


Hikram menggelengkan kepalanya secara reflek, dan Putri Sidya langsung mengambil napas, ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk memancing perhatian para prajurit yang sedang memindahkan gelondongan kayu dari jalan.

“Ssstt!” Hikram menempelkan telunjuknya ke mulut, matanya melotot seperti mau copot, “jangan! Kau benar-benar mau cari masalah denganku ya?!”

Putri Sidya menurut. Dia berhenti dalam usahanya memanggil para tentara. Dengan wajah cemberut dan pipi menggembung ia berujar, “kalau begitu angkat aku sebagai muridmu. Gampang sekali, kok. Tinggal mengiyakan saja. Kalau tidak … Guru mau aku meneruskan panggilan pada para prajuritku?”

Hikram menggaruk kepala dengan geram. Serasa ada beban seribu kati yang hinggap di punggungnya saat ini. Bukan hanya karena Sidya dengan angkuhnya mengacu pada para penjaga gerbang Sanfeilong dengan sebutan “prajuritku” demikian rupa hingga seolah-olah dia memiliki mereka macam budak sejak lahir, melainkan juga karena bocah bangsawan satu ini benar-benar keras kepala! Hikram ogah dan sangat keberatan jika harus ketambahan beban seorang putri manja, tapi ia juga tak mau berurusan dengan pihak berwajib. Sial, semua jadi tambah rumit, bikin Hikram butuh segalon arak untuk menggelontor keluar semua masalah ini dari otaknya nanti.

Setelah mengepal-ngepalkan tinju sampai bergemeletuk saking jengkelnya, kemudian bolak-balik memandang ke arah jalanan kemudian ke arah Sidya yang sedang angkat alis kemudian ke arah jalanan lagi, Hikram mengambil keputusan untuk menarik lengan si putri, kembali ke area luas tempat mereka bertemu tadi. Pertimbangan Hikram: setidaknya kalau Sidya jerat-jerit atau teriak sembarangan dari tempat itu suaranya tak akan langsung terdengar oleh para tentara yang sibuk di jalan.

Sidya langsung menurut dengan penuh semangat, seakan sudah yakin bahwa Hikram telah menganggapnya sebagai murid. Ia nampak sama sekali tak keberatan dengan tarikan Hikram yang kasar, sementara tangannya yang bebas mengibas untuk melarang pengawalnya yang seketika bereaksi dan kentara sekali ingin melepaskan cengkraman si pengembara.

Mereka bertiga berjalan cepat, dan tidak berapa lama mereka sampai. Si tanpa-jenggot sedang mengemasi barang-barang yang berserakan, menaruh semua benda yang tak jelas kegunaannya itu pada helai kain lebar yang lebih mirip taplak walaupun jelas dibuat dari bahan katun yang mahal. Ketika mendengar Sidya, Hikram, dan kawannya mendekat, ia menoleh dan meringis lebar pada mereka bertiga.

“Sudah saya duga si pengembara akan kembali. Kemampuan Putri Sidya dalam diplomasi memang tak perlu diragukan lagi. Semuanya sudah siap, apakah kita berangkat sekarang juga, Tuan Putri?”

Hikram melepaskan cengkraman tangannya, kemudian melempar pandang yang dimaksudkan sebagai pandang bertanya pada Sidya. Si putri cilik mendongak padanya, sejenak melakukan adu pandang yang cukup sengit sebelum menunduk dan menggumam membela diri, “Apa? Kenapa kau—maksudku kenapa Guru melihatku dengan tatapan aneh itu? Tentu saja mereka akan ikut bersama kita. Itu sudah menjadi kewajiban sebagai pengawal lingkar dalam Istana Giok untuk menjagaku kemanapun aku pergi.”

Hikram menggeram, sejenak terdengar mirip anjing yang kelaparan. “Apa kau masih perlu mengganti popok dengan bantuan dua pengasuh ini, hei?! Kau pikir orang-orang akan begitu saja membiarkan fakta bahwa seorang putri dan dua pengawalnya yang bego jalan-jalan dengan seorang pengembara? Belum juga empat puluh detak jantung kita memperlihatkan diri di desa, mereka akan langsung berkerumun untuk bertanya macam-macam, atau lebih parahnya lagi langsung memanggil para prajurit untuk meringkus si pengembara sok ngebos yang kebetulan adalah aku sendiri. Jadi tidak, Bangsawan Cilik. Mereka berdua harus pergi. Aku bisa menyamarkanmu, tapi akan lebih sulit kalau mereka berdua terlibat dan aku tak mau repot-repot mengurusi penyamaran mereka juga.”

Sidya mengamati Hikram, yang mulai menyedekapkan tangan. Sidya menimbang-nimbang apakah harus membantah atau tidak.

“Bagaimana?” Hikram bertanya kasar ketika Sidya tak kunjung mengambil keputusan. 

“Apakah tak ada yang bisa merubah pendirian Guru? Daeng dan Seto bisa membawakan barang-barang kita. Memohonkan pinjaman emas dari istana para raja terdekat atas namaku sehingga kita bisa menyewa kamar penginapan yang paling baik, dan Guru tahu sendiri bahwa Daeng bukan orang lemah dalam urusan berkelahi. Dia bisa membantu guru mempertahankan diri jika ancaman menghadang jalan.”

Hikram melepaskan sedekap tangannya, yang kini ganti bertopang pada kedua lutut dengan punggung membungkuk agar wajahnya bisa sejajar dengan si putri. Bola mata hitam bertemu hitam, dan untuk sekali ini Sidya sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.

“Aku,” Hikram akhirnya berkata, memberikan tekanan dalam setiap kata yang diucapkannya, “adalah burung layang-layang. Buluku kusam memang, tapi setidaknya aku terbang bebas. Hikram Sathar bukan elang yang tak tahu lagi cara berburu karena lama terkurung dalam sangkar berbahan perak. Kedua tangan dan kakiku masih utuh, jadi tak butuhlah barang-barangku dibawakan. Tak butuhlah aku pundi-pundi emas dari raja bawahan ayahmu. Tak butuhlah aku kenyamanan berlebihmu. Aku tak bisa menemukan kegunaan dua pembantu tampan ini bagiku sekarang, jadi lebih baik mereka pergi. Atau … jangan-jangan ikatan yang kau buat dengan menyebut aku “guru” ini bukan merupakan hal yang serius? Apa kau anggap ini cuma senda-gurau belaka?”

Sidya menggeleng, kemudian menghela napas mendengar cecaran Hikram.

“Baiklah. Baik. Aku mengerti. Tak perlu mengucap kata-kata yang berlebihan.” Sidya kemudian menoleh pada kedua pengawalnya yang menunggu dengan sikap tegak yang nyaris tak manusiawi.

“Seto, Daeng, kembalilah ke istana. Aku tidak bisa mengajak kalian.”

Keduanya segera memprotes. Mau tak mau harga diri keduanya meningkat dalam penilaian Hikram, meskipun hanya sedikit. Belum lama si Putri menghukum mereka berdua dengan hukuman yang berat, tapi mereka tetap bersikeras setia mendampingi si putri kemanapun ia memutuskan untuk melangkah.

“Kami harus ikut!”

“Mau dikemanakan muka kami kalau kawan sesama pegawai istana tahu putri terlepas saat berada di bawah pengawasan kami?!”

“Daeng!” Sidya membentak pada pengawalnya yang kehilangan jenggot, “sebagai pengawal senior, kamu harusnya bisa mengerti. Jangan membuatku kecewa!”

“Tiga puluh tahun,” Daeng menjawab dengan jidat berkerut. “Tiga puluh tahun sudah hamba mengabdi pada kaisar Syaimdra. Tiga puluh tahun sudah hamba menganggap Istana Giok sebagai rumah hamba sendiri, dan sepuluh tahun, sepuluh tahun hamba menjaga sejak anda dilahirkan. Saya bahkan pernah menggendong putri waktu putri masih kecil, ketika itu si pengasuh istana sedang sakit. Saya tak bisa membiarkan Yang Mulia pergi begitu saja.”

“Ya,” Seto menimpali, “kami tak akan membiarkan putri Sidya pergi dengan, dengan….” Ia sepertinya kesulitan mendefinisikan Hikram sebagai apa, sebelum akhirnya menyerah karena tak berhasil menemukan kata yang menurutnya bisa mendeskripsikan pria berlumur lumpur yang terkesan setengah waras ini. Ia menggaruk lehernya sebelum dengan ragu meneruskan, “Maaf, maaf sekali, tapi rimba persilatan terlalu berbahaya untuk anak-anak berumur sepuluh tahun, Putri.”

“Tak ada bocah sepuluh tahun lainnya yang bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya hanya dengan satu kata perintah.”

“Tetap saja kami tak akan melepaskan putri. Walaupun kami harus bertarung sampai mati dengan Hikram ini, jika itu berarti kami bisa ikut, maka ….”

“Aku bisa memerintahkan kalian untuk pulang saat ini juga. Untuk apa aku repot-repot?”

“Silakan,” Daeng membungkuk dalam-dalam. “Tapi perlu anda tahu, kami akan melawan Titah anda dengan seluruh tekat yang kami miliki. Keselamatan Yang Mulia adalah yang nomor satu.”

Mendadak, Sidya bergerak ke arah kedua pengawalnya. Tapi, alih-alih memukul atau melakukan hal buruk lainnya, ia malah menarik mereka berdua ke dalam pelukan, sampai-sampai membuat dua pengawalnya itu berdempetan dan bertukar pandang salah tingkah. Pelukan yang janggal karena tinggi Sidya tak sampai sedada mereka berdua.

“Putri, apa—”

“Terimakasih,” Sidya bicara tak jelas, suaranya agak sayup-sayup karena ia membenamkan wajah pada baju Seto, “terimakasih, terimakasih, terimakasih atas semuanya. Atas tahun-tahun menyenangkan saat aku bisa menjadi diriku yang sesungguhnya saat bersama kalian, dan tidak berada di tengah-tengah interaksi dengan para darah biru yang bagiku terasa seperti neraka. Seharusnya aku menghargai itu, tapi aku malah sering menghukum kalian dengan sangat kejam. Maaf.”

Sidya melepaskan mereka berdua. Ia mengusap kedua matanya, berdeham, kemudian bicara dengan tegas pada kedua pengawalnya itu, dan untuk sekali ini Hikram seakan sudah bisa merasakan kekuatan Ilmu Titah dalam setiap lontaran kata-katanya walaupun tidak ditujukan padanya, “Pulanglah, Daeng, Seto. Jika kalian telah sampai di Istana Mutu Manikam Sanfeilong dan ada yang bertanya kemana perginya Putri Sidya, jawablah bahwa giliran jaga kalian selesai tadi malam. Kalian sama sekali tidak tahu-menahu keberadaanku, atau bersama siapa aku sekarang. Kalian akan ditanyai para tentara jika lewat jalan utama, jadi kuperintahkan untuk mencari jalan lain. Gantilah samaran kalian dengan pakaian yang lebih pantas, pakailah emas yang kita bawa untuk kalian berdua. Janganlah cemas, karena aku aman-aman saja. Berangkatlah.”

Keduanya berjuang keras untuk menolak, wajah mereka menegang, seperti orang yang sedang berusaha bersin tapi tak bisa, tulang-tulang mereka bergemeletuk seolah-olah sedang berontak ingin lepas dari tempatnya berada, walau akhirnya kaki mereka dengan kaku mulai melangkah. Pertama-tama mengambil kantung yang berisikan emas dari kain serupa taplak, untuk kemudian melangkah ke arah yang agak jauh dari jalanan, meninggalkan Sidya dan Hikram.

Selang beberapa lama, Daeng dan Seto sadar tubuh mereka tak sanggup untuk melawan, kesetiaan mereka terlalu mendarah daging pada wangsa Nagart yang telah mengayomi tanah luas ini bergenerasi-generasi lamanya. Oleh karena itu, mereka berdua pasrah, yang membuat pergerakan menjadi lebih mudah. Mereka sudah cukup jauh dari markas palsu tempat hari-hari kemarin mereka menghabiskan waktu untuk menyiapkan dialog serta jebakan, tempat untuk mencoba satria kelana yang lewat demi keinginan putri asuhan mereka.

“Tunggu dulu Pak Daeng,” Seto berujar pada kawannya yang berjalan dengan diam, Daeng heran akan matanya yang memancarkan kebingungan,“aku baru sadar akan sesuatu.”

“Apa itu, Pemuda Seto?”

“Bajuku agak basah. Putri Sidya meneteskan air mata saat memeluk kita berdua. Kenapa dia menangis, Pak Daeng?”

Daeng terkekeh menertawakan kebodohan rekannya.

Walaupun ia bangsawan, walaupun ia sudah dilatih dalam tipu muslihat oleh para kasim, walaupun ia selalu menyembunyikan sifat aslinya dengan topeng, Putri Sidya Nagart tetaplah anak-anak berumur sepuluh tahun. Daeng sendiri memiliki seorang buah hati, dan umurnya hampir sama dengan Putri Sidya. Daeng tak pernah membayangkan apa jadinya anaknya jika mendapat beban tanggung jawab seperti Sang Putri. Bisa saja anaknya akan gila karena tekanan dan tuntutan istana, sedangkan tipu muslihat serta kelicikan dari para bangsawan lingkar luar-tengah-dalam memang tak pernah berhenti mengintai-intai. Seharusnya, anak-anak tak boleh diperlakukan seperti itu.

Maka dari itulah, Daeng sepakat untuk membantu putri keluar dari Istana Giok, ikut memainkan perannya dengan mengawal si putri yang pura-pura ingin pelesir ke Istana Mutu Manikam. setelah mendengarkan alasan yang diberikan oleh Sang Putri yang—untuk rakyat biasa sepertinya— terdengar masuk akal. Ditambah pula, ia tak tega dengan pendidikan istana yang memaksa dan terus memaksa seolah akan merubah si putri menjadi manusia yang tak tahu lagi bagaimana menjadi manusia. Pendidikan istana yang menyiapkannya untuk menghadapi marabahaya dari luar dan tentu saja, dari dalam istana sendiri. Lihat saja, Putri Sidya bahkan belum sepenuhnya bisa menghilangkan kebiasaannya untuk mudah menghukum orang, seperti yang telah dialaminya dan Seto. Dulu malah lebih parah lagi. Untuk itulah, Daeng ingin membantunya. Sekarang, Si Putri telah berada di tangan lain, dan benar-benar lepas dari tanggung jawabnya. Walau ucapan si putri yang meyakinkannya sebelum keberangkatan terngiang-ngiang, Daeng tetap merasakan setitik keraguan. Ia berharap pada Kahyangan agar Hikram mampu mendidik Sang Putri, bukan hanya dari segi beladiri tapi juga dalam segi kemanusiaan.

Yang patut disesalkan oleh Daeng saat ini hanyalah ia lupa untuk berpesan pada Hikram agar menjaga Putri Sidya baik-baik, itu saja.

---