Episode 17 - Tujuh Belas


“Kiai, berarti kita masih akan menunggu lebih lama lagi?” tanya seorang senapati .

“Iya benar. Kita harus bersabar sedikit lebih lama. Aku sendiri harus menundukkan kepala pada rencana Ki Sentot,” kata Ki Cendhala Geni.

“Baiklah jika demikian, marilah kita beristirahat. Perjalanan kita masih sangatlah jauh,” Ki Cendhala Geni menutup perbincangan. Kemudian merekapun mengundurkan diri dan berpisah untuk mengistirahatkan diri demi sebuah tujuan yang dalam pandangan mereka sangatlah mulia.

 Saat ufuk mulai menampakkan kemerahan dengan perlahan, gong telah dipukulkan untuk menghentak jiwa-jiwa yang sedang dirambati harapan. Suara gong itu pula mendera jiwa-jiwa yang dilanda kecemasan. Hari semakin siang dan tidak ada kesibukan yang berarti di kedua belah pihak.

Tiba-tiba dari sebelah kiri pasukan Ki Sentot terdengar suara gong yang dipukulkan bertalu-talu. Sekejap kemudian sorak sorai pasukan bergemuruh memenuhi udara di setiap lereng perbukitan Gunungsari. Terompet pun mengudara saling menimpali. Tak lama kemudian sorak sorai itu pun berhenti. Sebuah gong kembali didentumkan, lalu ribuan prajurit Ki Sentot menembangkan lagu keprajuritan di masa Kediri dan Singasari.

Kegemparan yang ditimbulkan oleh pasukan Ki Sentot ternyata mampu mengecilkan hati beberapa orang dari pasukan yang dipimpin Ken Banawa. Bahkan suara-suara itu juga terdengar hingga barak pengungsian. 

Banyak perempuan yang terpengaruh dengan tembang atau kata-kata yang dikumandangkan prajurit Ki Sentot, bahkan beberapa lelaki pun menjadi lemah ketika suara-suara itu tak juga kunjung berhenti.

“Matilah rakyat Sumur Welut, bakar habis rumah-rumah mereka, penjarakan para lelakinya,” dan berbagai kalimat seperti itu diucapkan bersama-sama oleh ribuan prajurit Ki Sentot.

Sejumlah pemimpin kemudian berkeliling untuk memberi pengertian bahwa apa yang dilakukan oleh pasukan Ki Sentot bukanlah akhir dari peperangan.

“Jangan terpengaruh suara-suara itu. Suara itu akan memberi kekalahan bagi kita. Suara-suara itu akan memaksa kita semua untuk memberikan apa yang mereka minta. Kembalikan jati diri kalian. Dimana kebesaran hati kalian? Dimana keberanian kalian semua, wahai rakyat Sumur Welut? Apakah aku dapat mendengar suara seperti ketika kalian sedang melakukan panen?” para pemimpin mengucapkan kata-kata itu berulang. Ki Demang Sumur Welut dan Ki Demang Wringin Anom pun turut serta memberikan pesan seperti kata-kata para pemimpin prajurit.

Hiruk pikuk dan keriuhan pun segera melanda seluruh kademangan. Teriakan para pemimpin kademangan dan para senapati bercampur baur dengan jerit tangis kecemasan para perempuan dan anak-anak kecil. Ingin rasanya Bondan segera memimpin penyerbuan ke garis serang musuhnya, akan tetapi keinginan itu harus dia redam betapapun marahnya dia. Satu keinginan seorang Bondan tidak boleh melewati batasan yang sudah disepakati oleh para pemimpin.

Demikianlah keadaan itu berlangsung hingga menjelang senja. Suara sorak sorai yang sungguh gegap gempita itu akhirnya seketika berhenti ketika suara gong dalam nada tertentu telah berkumandang.

Seketika itu kesenyapan segera menyelimuti lereng-lereng perbukitan Gunungsari. Rakyat Sumur Welut pun terkejut ketika tiba-tiba suara yang riuh itu berhenti seketika. Namun berangsur-angsur mereka dapat menguasai diri kembali ketika matahari mulai menuruni lereng bukit. Kesunyian segera menghampiri kademangan Sumur Welut. Setiap orang terbenam dalam benak masing-masing. Beberapa prajurit dan pengawal kademangan tampak melakukan kegiatan ronda. Dan para pengawas yang berada di tepi luar kademangan semakin meningkatkan kewaspadaan.

Ketika malam memulai menutupi semesta, Bondan yang sedang berada di gardu pengawas segera bangkit berdiri. Berjalan perlahan mendekati pagar bambu yang dipasang sebagai aral melintang. Sejurus kemudian, dia menyusup melewati pagar itu dan merunduk mendekati garis depan pasukan Ki Sentot.

Dari kejauhan terlihat olehnya kerumunan orang yang sedang menggiring beberapa gajah. Sejenak kemudian obor-obor terpasang menyibak beberapa kumpulan pasukan di garis depan. 

“Beberapa ekor gajah mulai ditempatkan di garis depan. Ini berarti ada kemungkinan jika pasukan Ki Sentot telah bersiap untuk menyerang besok,” Bondan berkata seperti itu dalam hatinya. Setelah beberapa lama mengamati perkembangan pergerakan lawannya, Bondan segera beringsut surut dan kembali ke gardu pengawas.

“Persiapkan diri kalian. Jangan sampai lengah karena musuh di depan kita sekarang telah bersiap untuk menyerang. Aku tinggalkan kalian disini. Akan aku menemui paman,” kata Bondan kepada salah seorang pengawal di gardu pengawas.

“Baiklah, Bondan. Berhati-hatilah,” jawab salah seorang pengawal.

Tak lama setelah itu, Bondan pun memacu kudanya menuju pendapa padukuhan induk. Sepanjang perjalanan telah dilihat olehnya berbagai persiapan untuk menghadang laju pasukan Ki Sentot jika mereka berhasil menembus garis pertahanan di padukuhan Karangan.

“Pertempuran ini akan menjadi pertempuranku yang pertama kali. Besok atau entah kapan aku akan melihat darah tergenang dan tubuh-tubuh yang tergeletak. Aku akan menyaksikan sebuah kebengisan sekalipun terbungkus dalam satu keyakinan yang dianggap suci. Aku termasuk dalam bagian itu. Besok aku akan membunuh mereka yang berbeda keyakinan denganku. Keyakinan untuk membela hak dan kaum yang lemah adalah keyakinan yang suci. Dan kesucian itu ternyata harus digenangi terlebih dahulu oleh darah dan nyawa. Setiap orang telah mengerti penderitaan yang ditimbulkan oleh peperangan, namun mereka juga mengerti bahwa peperangan adalah jalan yang harus ditempuh demi sebuah tujuan. Apapun itu, akan akan terlibat dan memang harus terlibat dalam peperangan ini,” lamunan Bondan terhenti ketika seorang pengawal menghentikan kudanya.

“Berhenti. Siapakah engkau?” tanya seorang pengawal yang berambut agak panjang dan ternyata belum mengenal Bon-dan.

“Bondan, namaku Bondan.”

“Apa keperluanmu datang kemari?”

“Aku ingin bertemu dengan Senapati Ken Banawa.”

“Baiklah, tunggu disini. Serahkan senjatamu.”

“Tidak. Aku akan mundur beberapa langkah dari gardu ini.”

Pengawal itu terdiam untuk sesaat. Nampaknya dia terkejut dengan jawaban dan sikap Bondan yang menolak untuk tunduk pada perintahnya.

“Awasi anak ini. Aku akan melapor pada senapati,” kata pengawal tadi kepada temannya.

“Baik. Pergilah,” jawab seorang diantara pengawal itu.

Beberapa lama kemudian, orang tadi mempersilahkan Bondan untuk menemui Ken Banawa di pendapa.

“Maafkan aku, anak muda. Aku belum mengenalmu,” kata pengawal yang menghentikan Bondan.

“Tidak mengapa, paman. Itu sudah menjadi kewajiban paman,” kata Bondan sambil tersenyum dan menjabat tangan pengawal tadi. Bondan pun berlalu menuju pendapa. Segera dia melaporkan pengamatan yang dilakukan beberapa saat yang lalu.

“Baiklah. Besok sebelum fajar merekah, aku akan mengumpulkan para senapati untuk persiapan lebih lanjut.”

Keduanya pun bangkit dan memasuki bilik masing-masing untuk sekedar beristirahat.

Beberapa saat menjelang fajar, para senapati bergegas menuju pendapa padukuhan Karangan. Wajah mereka penuh ketegangan namun ada seberkas harapan dan semangat besar dalam menghadapi kenyataan di depan mereka.

“Hari ini, aku perintahkan kalian untuk menggeser aral lintang sedikit lebih maju. Tempatkan pagar-pagar berduri itu sejauh selemparan tombak. Bawa pasukan kalian di belakang pagar berduri itu dan kita gelar Dirada Meta.”

“Ki Banawa, bukankah kita tidak mempunyai gajah pada barisan pasukan kita?” tanya Ki Jayapawira, seorang senapati yang usianya sudah melebihi Ken Banawa namun masih sangat tangguh dan cerdik dalam bersiasat.

“Benar, Ki Jayapawira. Kuda-kuda Gumilang Prakoso akan menggantikan gajah. Pasukan berkuda ini akan berhadapan langsung dengan gajah dari lawan kita,” kata Ken Banawa yang kemudian menoleh ke arah Gumilang,”aku letakkan harapan padamu untuk menggetarkan lawan.”

Gumilang pun mengangguk kecil kemudian menundukkan kepala.

“Ki Jayapawira, tempatkan pasukanmu di sayap kanan dan Warastika berada di sisi kiri. Gumilang akan diapit oleh kedua senapati ini.”

Demikianlah seterusnya Ken Banawa memberikan pengarahan lebih terperinci serta berbagai pesan kepada para pemimpin pasukan. 

Sementara itu di tempat lain, Ki Sentot juga mengumpulkan para senapati pasukannya. Mpu Tandri mengusulkan untuk menggunakan Dirada Meta namun usulan ini ditolak oleh Ki Sentot.

“Mpu Tandri, Ken Banawa sudah pasti akan memperkirakan bahwa kita akan menggunakan Dirada Meta. Oleh karena itu, kita harus mengecohnya. Untuk itu aku tetapkan bahwa gelar perang pada hari pertama adalah Garuda Nglayang. Senapati yang membawahi gajah akan berada di sayap kiri dan kanan. Sedangkan pucuk pimpinan besok adalah Ki Gede Pulasari,” kata Ki Sentot menanggapi usulan Mpu Tandri. 

Ketika sinar matahari merayap di setiap tanah dan lereng-lereng bukit, aba-aba setiap pasukan telah dikumandangkan. Seiring dengan itu, tabuhan gong, pekik terompet dan sorak sorai para pasukan Ki Sentot mulai memenuhi setiap bagian perbukitan Gunungsari. Tanah perbukitan pun bergetar oleh derap langkah gajah yang diarahkan menuju kedudukan yang telah direncanakan.

Dari kejauhan, para pengawal kedua kademangan pun sempat surut hatinya. Keberanian mereka seolah terengkuh habis ketika melihat gajah-gajah mulai tampak berjalan menyibak barisan prajurit. 

Dari belakang barisan gajah, tiba-tiba menyeruak seorang penunggang kuda yang mengenakan baju perang berwarna putih. Sebatang tombak tergenggam erat di tangannya, lelaki setengah baya itu masih terlihat gagah ketika berada di depan pasukannya. Sejenak dia berdiri melihat barisan pengawal kademangan dan prajurit Majapahit dari kejauhan. Ketika tangannya yang memegang tombak terangkat maka suara gong, terompet dan sorak sorai pasukannya pun berhenti. Keheningan sangat terasa di tengah-tengah ribuan prajurit Ki Sentot.

Sambil menghadap pasukannya, dia mengendarai kuda dengan kecepatan sedang. Berkendara dari ujung ke ujung barisan pasukannya yang berada di depan.

“Hari ini mungkin kalian mungkin tidak mempunyai keberanian. Hari ini mungkin diantara kalian mempunyai keberanian yang berlebihan. Hari ini mungkin akan diingat sebagai hari yang kelam bagi setiap orang dari kita,” suara lantang Ki Sentot memecah kesunyian,” Esok hari pasti akan ada yang mengatakan kita adalah pengkhianat, kita adalah penghujat, kita adalah penjahat dan kita adalah sekumpulan manusia durjana. Tetapi ketahuilah, kita disini untuk sebuah keyakinan bahwa Majapahit akan menjadi lebih baik tanpa Jayanegara. Kita melakukan peperangan ini demi sebuah perdamaian dan kejayaan.”

Tombak Ki Sentot pun teracung tinggi dan kudanya berlari lebih cepat. Setiap prajurit yang berada di depannya segera mengacungkan senjata mereka masing-masing.

“Hari ini tidak ada yang lebih menyedihkan daripada suatu kekalahan. Tidak ada kebahagian yang sempurna selain sebuah kemenangan. Masing-masing dari kita akan berpisah karena kematian. Dan pada hari ini, kita akan menulis sebuah jejak keabadian. Jejak menuju kejayaan!”

Ketika kalimat itu selesai diucapkan, sorak sorai pasukan membelah angkasa. 

Gempita sorak pasukan Ki Sentot nyaris berbenturan dengan pekik sorak pasukan yang berpihak Sumur Welut.

Ken Banawa mengenakan baju perang berkuda yang berbahan dari kulit. Terlihat tenang duduk diatas kuda ketika saling berpandangan dengan Ki Sentot dari balik aral lintang. Ken Banawa memutar kudanya dan kini berhadapan dengan seluruh prajuritnya. 

“Kalian akan bertahan dalam kematian. Nafas kalian saat ini bukanlah nafas kehidupan. Kalian sesungguhnya telah mati pagi ini, bertempurlah dengan berani,” seruan keras Ken Banawa terdengar hingga barisan paling belakang pada pasukannya.

Dari atas punggung kuda kemudian dia melanjutkan,”kalian akan mempertahankan hak kalian. Bertempurlah demi keselamatan anak istri kalian, bertarunglah selayaknya pria jantan, berperanglah karena kebenaran berpihak pada kalian.” Sambil menyerukan kalimat yang membakar semangat, Ken Banawa menghunuskan pedang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Seruan Ken Banawa ini disambut dengan berbagai bunyi senjata yang dibenturkan satu sama lain. Gempita sorak mereka terdengar begitu lantang seakan tak mau kalah dengan lawan yang berhadapan dengan mereka.

Ken Banawa kemudian menoleh kepada Senapati Jayapawira yang tanggap bahwa perintah telah dijatuhkan.

“Pemanah,” seru Jayapawira.

Para pemanah pun bergerak maju dan satu baris pasukan bergerak cepat untuk memindahkan pagar berduri beberapa langkah ke depan.

Tidak ada tindakan balasan dari pihak lawan, maka Jayapawira kembali berseru,”Pemanah!”

Barisan pemanah segera bergeser ke depan beberapa langkah setelah barisan pemindah aral lintang telah menempatkan pagar berduri itu lebih jauh lagi.

“Tahan senjata kalian,” perintah Ki Gede Pulasari setelah melihat kegelisahan mulai menjangkiti sebagian pasukannya. Sebagai tumenggung yang pernah berperang di sisi Ra Dyan Wijaya maka Ki Gede Pulasari sedikit mengerti dengan rencana Ken Banawa. Ki Gede Pulasari tidak ingin prajuritnya terhalang karena pagar berduri apabila mendahului untuk menyerang garis depan pasukan Sumur Welut.

“Setan gila! Sampai kapan permainan ini berakhir?” desah Ki Cendhala Geni yang juga mulai gelisah karena Ki Gede Pulasari ternyata juga ingin menjatuhkan semangat orang-orang Sumur Welut.

Hingga matahari naik setinggi tombak, kedua pasukan besar ini masih saling menunggu. Kedua panglima mereka sama-sama merubah kedudukan pada sayap-sayap sesuai susunan perang masing-masing. Meskipun demikian, sebenarnya kedudukan kedua pasukan ini menjadi semakin dekat. Jarak keduanya hanya terpisahkan selemparan anak panah. Ketegangan terlihat di setiap wajah yang berada di tanah lapang yang sangat luas itu.

“Pemanah!” seru Jayapawira sambil memberi isyarat untuk bagi pasukan pemanah untuk menarik busurnya.

“Angkat perisai! Tarik busur kalian!” seru Gajah Praba setelah melihat isyarat tertentu dari Ki Gede Pulasari. Sekejap kemudian, pasukan baris depan bergerak maju sambil mengangkat perisai, sementara itu para pemanah bergeser lebih cepat mendahului mereka.

“Lontarkan!” perintah Gajah Praba dan sekejap kemudian anak panah pun melesat seolah berubah menjadi awan gelap yang akan turun sebagai hujan di garis lawan.

Perintah serupa juga dijatuhkan oleh Jayapawira pada pasukannya.

Tak menunggu lama ketika di angkasa terjadi benturan kedua gelombang anak panah yang berlawanan arah. Dua gelombang besar yang datang itu untuk sesaat menutup sinar matahari. 

Beberapa anak panah yang tak membentur anak panah dari arah berlawanan menyusup menuju sasaran. Sebagian ada yang bertemu dengan perisai, namun tak sedikit juga yang menyengat prajurit yang tidak terlindungi perisai. Korban telah jatuh dari kedua pihak yang berlawanan.

Tak lama kemudian ketika jarak keduanya sudah sejauh sepelemparan lembing, Ken Banawa memerintahkan menempatkan aral lintang lebih dekat lagi. Melihat sejumlah pasukan Sumur Welut bergerak maju, Ki Gede Pulasari memberi perintah untuk melepas anak panah. Gajah Praba segera tanggap perintah itu dan melanjutkan perintah Ki Gede Pulasari. 

Namun tidak disangka-sangka oleh Gajah Praba dan Ki Gede Pulasari, sasaran mereka dengan tangkas bergulingan di tanah kemudian merangkak lebih cepat mendekati pagar berduri dan berhasil memindahkannya lebih dekat.

“Pagar berduri yang berada di depan kita harus segera disingkirkan. Siapkan api, bidik pagar berduri yang menjadi aral lintang!” perintah Ki Gede Pulasari.

Para senapati yang mendengarkan perintah ini bergegas menugaskan anak buahnya untuk pergi ke garis belakang. Sebentar kemudian mereka telah mempersiapkan panah api. Nyala api segera terlihat di barisan para pemanah Ki Sentot, para pemanah ini menunggu aba-aba dari senapati tertinggi mereka yang sedang menjadi panglima perang. Setelah Ki Gede Pulasari melihat persiapan pasukannya sudah mantap, maka perintah seketika dijatuhkan.

“Lepaskan api. Bidik pagar berduri!” seru Ki Gede Pulasari.

Ratusan api-api kecil pun segera memenuhi angkasa dalam sekejap. Tak lama kemudian pagar berduri itu menjadi dinding api yang membatasi penglihatan kedua pasukan yang besar itu. Api berkobar-kobar menjilati angkasa dan udara di sekitarnya pun terasa sangat panas. Terik matahari menjadikan lingkungan perbukitan itu semakin terasa membakar kulit mereka yang berada di garis terdepan. Sekalipun jarak mereka cukup jauh namun dinding api seolah tidak mengenal batasan.