Episode 226 - Balaputera Sukma



“Enyah dari hadapanku!?” 

Seorang perempuan dewasa melayang sambil mengacungkan jari telunjuk lurus ke depan. Roman wajah yang biasanya demikian teduh, kini berubah berang bukan kepalang. Aura Kasta Emas Tingkat 9 menyibak kental dan demikian perkasa, sehingga membuat segenap ahli yang berada di wilayah halaman itu sangat tertekan adanya. 

Suasana malam yang tadinya kelam, kini berubah mencekam. 

“Kakak Samara… Kumohon, bertenanglah sejenak…,” bujuk seorang perempuan dewasa lain yang turut melayang, tepat di hadapannya. Ia adalah Maha Guru Ketiga Citradama dari Perguruan Svarnadwipa. Dari sisi tingkat keahlian, perempuan dewasa yang satu ini jelas lebih lemah, karena hanya berada pada Kasta Emas Tingkat 5. Oleh karena itu, kata-kata adalah jurus andalan yang dapat ia kerahkan untuk meredam amarah yang demikian membara. 

“Angkat batu itu sekarang juga!” perintah Ibunda Tengah Samara. 

“Kakak Samara… dikau mengetahui betul bahwa tindakan tersebut tiada mungkin diperkenankan. Kita tak tahu iblis apa yang bersemayam di dalam sumur itu…” Sepintas, air muka kedua perempuan yang melayang berhadap-hadapan ini memiliki kemiripan. Walau, yang satu dibalut amarah, sedangkan yang satunya lagi terlihat demikian gelisah. 

Ibunda Tengah Samara tiada berkata-kata lagi. Ia merangsek maju. Segera setelah mendengar warta bahwa kemenakannya, Balaputera Gara, mengalami musibah di dekat sumur yang tersegel, segera ia melesat. Kecepatan terbangnya mengalahkan Ayahanda Sulung Rudra, yang diketahui berada pada Kasta Emas Tingkat 8. Satu tingkat lebih tinggi… 

Setelah memastikan bahwa putranya, Balaputera Prameswara, yang meski belum sadarkan diri di Balai Pengobatan baik-baik saja, perempuan dewasa itu segera melesat. Sebagaimana diketahui, ia telah tiba di halaman dan kita ketahui apa yang hendak ia lakukan. 

Sejumlah Maha Guru lain dari Perguruan Svarnadwipa melesat cepat. Segera mereka bersiaga di belakang Maha Guru Ketiga Citradama. Aura Kasta Emas semakin kental menyibak di udara. Secara rata-rata, mereka adalah ahli Kasta Emas Tingkat 4. Enam jumlah mereka, siap menghadang Balaputera Samara. 

Kendati pun demikian, meski kalah jumlah, perempuan dewasa itu tiada menghiraukan. Balaputera Samara terus merangsek!

“Segel Syailendra… Rajawali!” 

Formasi segel yang berwujud seekor burung raksasa berwarna hitam kemerahan mengepakkan sayap nan perkasa. Bentangan sepasang sayapnya itu demikian lebar, hampir melingkupi setengah wilayah halaman. Sontak Maha Guru Ketiga dan enam Maha Guru lain yang berniat menghadang Balaputera Samara terdorong mundur. Sungguh formasi segel rajawali itu membuat mereka terkesima.

Segera setelah itu, formasi segel berwujud burung rajawali pun menukik dan menghunuskan cakar-cakar perkasa ke arah batu nan melayang di atas sumur. Sekali sentak saja, dijamin bahwa batu tersebut bersamaan dengan rantai-rantai yang menjangkarnya, akan tercabut paksa! 

“Segel Syalendra, Pedang Svarnadwipa!” 

Sebuah formasi segel berwujud pedang raksasa nan bercahaya merompak habis gelapnya malam. Dengan perkasa, bilahnya menahan cakar-cakar tajam burung rajawali. Di kala hal ini terjadi, dari balik bongkahan batu yang menjadi sasaran, melayang sesosok tubuh. Datu Besar Kadatuan Kesatu, Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, telah tiba. Kasta Emas Tingkat 8.

“Bersabarlah sejenak!” sang Datu Besar berteriak ke arah Ibunda Tengah Samara. Mengulur waktu. 

Meski berujar dengan lantang, darah mengalir dari sudut bibir sang Datu Besar Kadatuan Kesatu. Betapa ia berupaya meredam keterkejutan dan rasa sakit yang diderita. Meski dirinya dapat menahan laju rajawali raksasa dengan pedang raksasa, hentakan balik dari jurus yang ia rapal tak dapat dihindari. Bagaimana mungkin hal ini terjadi…? Siapa yang menyangka bahwa perempuan yang diketahui sebagai pesakitan itu sudah berada pada Kasta Emas Tingkat 9!? 

Bilamana pertarungan satu lawan satu berlangsung, maka Datu Besar Kadatuan Kesatu tentu kewalahan. Akan tetapi, bersama para Maha Guru lain tentu ia dapat menahan maju, bahkan mengalahkan, perempuan dewasa itu. Akan tetapi, dampak dari pertarungan sejumlah ahli Kasta Emas pastilah akan meluluhlantakkan Perguruan Svarnadwipa. Pertarungan tiada boleh berkecamuk, di saat yang sama tuntutan Balaputera Samara tiada pula dapat dipenuhi! 

“Apa yang bisa kau lakukan!?” hardik Ibunda Tengah Samara. “Keluarkan kemenakanku saat ini juga!”

Sang Datu Besar Kadatuan Kesatu memberi kode kepada tujuh Maha Guru yang lain. Kini mereka berdiri bergerombol. Delapan ahli Kasta Emas siap mengeroyok Ibunda Tengah Samara! Bagaimana kekacauan ini bisa terjadi…? 

Ibunda Samara kembali bersiap menyerang. Meskipun kalah jumlah, ia tiada gentar!

“Datu Tengah Kadatuan Kesembilan!” tetiba terdengar suara menghardik ke Balaputera Samara. “Hentikan keonaran ini!” Datu Besar Kadatuan Kedua tiba di tempat kejadian perkara. Ia diikuti oleh Datu Besar Kadatuan Keempat. 

“Adinda Samara!” Dari arah berlawanan, Datu Besar Kadatuan Kesembilan, yaitu Ayahanda Sulung Rudra, tiba bersama dengan Datu Besar Kadatuan Keenam. 

Datu Besar Kadatuan Kesatu, Datu Besar Kadatuan Kedua, Datu Besar Kadatuan Keempat, bersama dengan tujuh Maha Guru dari Perguruan Svarnadwipa berhadapan dengan Balaputera Samara, Datu Besar Kadatuan Kesembilan dan Datu Besar Kadatuan Keenam!

Datu Besar Kadatuan Kesatu terlihat gelisah. Antara kehancuran Perguruan Svarnadwipa dengan risiko membangkitkan iblis, maka pilihan jatuh pada yang pertama. Sebagai Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, meski akan memakan waktu, ia tentu bisa membangun kembali fasilitas perguruan. Sebaliknya, entah malapetaka seperti apa yang akan berkecamuk bilamana sang iblis di dalam sumur terlepas dari segelnya!

Meskipun demikian, sesungguhnya masih ada secercah harapan… 

“Datu Besar Kadatuan Kesembilan… Kumohon, janganlah bertindak gegabah…” pinta Datu Besar Kadatuan Kesatu, berharap agar Ayahanda Sulung Rudra berpikir lebih tenang dan selanjutnya meredakan amarah adik perempuannya itu. 

“Datu Besar Kadatuan Kesatu, hubungan antara kita selama ini berlangsung baik,” Ayahanda Sulung Rudra angkat bicara. “Bahkan, diriku mengizinkan dua kemenakan kami mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa. Akan tetapi, sungguh kejadian ini menjadi tanggung jawab dikau sebagai Pimpinan Perguruan! Maka dari itu, segera angkat segel atas sumur tersebut, atau kami akan bertindak paksa!” 

Datu Besar Kadatuan Kesatu, merangkap Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, terdiam. Ia serba salah. Kadatuan Kesatu tiada pernah berpihak, sehingga keberadaan para Datu Besar dari Kadatuan lain membuat dirinya tak bisa bergerak. 

“Datu Besar Kadatuan Kesembilan!” Datu Besar Kadatuan Kedua menghardik. “Aku tak akan mengijinkan kalian berbuat sesuka hati! Terdapat aturan dasar yang perlu dijaga di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang, dan salah satu dari aturan tersebut adalah terkait sumur itu!”

“Lagipula… Lagipula adalah kemenakanmu yang bermain-main di dekat sumur itu,” sela Datu Besar Kadatuan Keempat. “Bila hendak menyalahkan… maka salahkanlah kemenakan kalian yang melanggar aturan Perguruan Svarnadwipa!”

“Omong kosong!” Datu Besar Kadatuan Keenam tak hendak berdiam diri. “Bagaimana mungkin kalian menyalahkan murid-murid yang masih muda belia!? Kejadian ini merupakan kelalaian Perguruan Svarnadwipa! Kalian harus bertanggung jawab! ”

Perseteruan kedua kubu memanas, suasana di halaman menjadi gaduh. Masing-masing ahli yang terlibat sudah bersiap. Tukar-menukar kata-kata tiada akan membuahkan hasil. Pertempuran besar akan berkecamuk tak lama lagi. 

Ibunda Tengah Samara menarik napas panjang. Penghinaan terhadap Kadatuan Kesembilan dan dirinya sendiri selama ini dapat ia telan mentah-mentah. Akan tetapi, bilamana sudah melibatkan keselamatan anggota keluarga yang memang tak banyak jumlahnya, maka ia akan mencurahkan segenap kekuatan dalam upaya menyelamatkan. 

Selangkah saja perempuan dewasa nan cantik itu melangkah maju, maka pertempuran akan segera berkecamuk!

“Hentikan!” Tetiba suara membahana bergaung di seantero lapangan dalam Perguruan Svarnadwipa. Segera setelah itu, sesosok tubuh melayang turun tepat di atas batu yang melayang di atas sumur. Dengan kata lain, ia berdiri di antara kedua kubu nan berseteru. 

Di saat itu pula, aura tenaga dalam menyibak lebih kental lagi. Seorang lelaki setengah baya dengan jubah berwarna abu-abu yang berkibar dimainkan angin malam. Ahli ini jauh lebih perkasa dari ahli mana pun yang kini berada di tempat itu. Bahkan Ibunda Tengah Samara, merasa tekanan yang terasa berat. 

“Kasta Bumi…,” gumam Ayahanda Sulung Rudra. 

“Ayahanda…,” ujar Datu Besar Kadatuan Kesatu menyambut kedatangan sosok tersebut. Sesungguhnya, ini adalah secercah harapan yang ia nantikan sedari tadi. 

“Datu Tua Kadatuan Kesatu…” Datu Besar Kadatuan Kedua menggeretakkan gigi dan wajahnya berubah berang. Padahal, seharusnya ia turut lega karena dukungan ini datang bagi kubu mereka. 

“Tidakkah kalian menyadari bahwa dari jumlah Kadatuan yang saat ini terlibat, bilamana pertarungan berlangsung…” Lelaki setengah baya itu menatap dalam ke arah Datu Besar Kadatuan Kesatu, Datu Besar Kadatuan Kedua dan Datu Besar Kadatuan Keempat. “Berarti sebuah perang saudara berkecamuk di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang!?”

“Datu Tua Kadatuan Kesatu…,” Ayahanda Sulung Rudra berujar. “Kami mengkhawatirkan keselamatan kemenakan kami…”

“Datu Besar serta Datu Tengah Kadatuan Kesembilan,” lelaki setengah baya itu menoleh pelan. “Harus kuakui bahwa kecelakaan ini merupakan kelalaian dari pihak Perguruan Svarnadwipa dalam melindungi murid-murid. Untuk itu, diriku memohon maaf sebesar-besarnya.”

“Ayahanda…” Wajah Datu Besar Kadatuan Kesatu berubah kusut. 

“Oleh karena itu pula, diriku akan mengemban tanggung jawab dalam menyelamatkan Balaputera Gara…” 

Datu Tua Kadatuan Kesatu kemudian menatap dalam kepada putranya, yang menjabat sebagai Pimpinan Perguruan Svarnadwipa saat ini. Tatapan tersebut mengisyaratkan bahwa dirinya tiada menginginkan perang saudara berkecamuk di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Dan untuk mencegah hal tersebut, ia rela menempuh perjalanan penuh mara bahaya. 

Sang Datu Tua Kadatuan Kesatu kemudian mengibaskan lengan. Seketika itu juga, sebuah lorong dimensi berpendar tepat di atas batu yang menyegel sumur. Aura nan kelam segera merayap pekat di wilayah halaman dimana para bangsawan Wangsa Syailendra lain bersiap untuk bertarung. 

“Hendaknya kita semua bersabar dan menahan diri… Tiada manfaat yang akan didapat dari perang saudara, sebaliknya hanya akan melemahkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

Demikian, usai menyampaikan pesan kepada segenap ahli yang sedang terbawa amarah, lelaki setengah baya itu melangkah masuk ke dalam lorong dimensi dan menghilang dari pandangan. 


===


Sepekan waktu berlalu sejak ketibaan Bintang Tenggara di dalam dimensi ruang tersebut. Hari ini ia sibuk mencabut dan membuang rerumputan yang tumbuh liar dan mengganggu di kebun sayuran. Menggemburkan tanah, lalu tak lupa ia menyiramkan air. Setelah itu, ia memberi makan binatang ternak, beberapa ekor Ayam Jengger Merah terlihat riang dan gembira. Kehidupan keseharian layaknya di wilayah pedalaman, sungguh jauh dari hiruk-pikuk dunia keahlian.

Sampai saat ini, nenek tua yang mendiami gubuk tiada berujar barang sepatah kata pun. Paling banyak, perempuan tua itu hanya tersenyum. Sungguh senyuman nan teduh, yang mengingatkan pada Ibunda Tengah Samara. 

Bagaimanakah keadaan di Kadatuan Kesembilan? Seharusnya Wara baik-baik saja. Akan tetapi, tindakan apakah yang akan diambil oleh Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Tengah Samara di kala mendengar diri ini terjatuh ke dalam sumur…? Semoga mereka tiada bertindak gegabah. 

Hari beranjak siang. Usai menyelesaikan pekerjaan harian, Bintang Tenggara duduk di atas dipan. Anak remaja itu lalu mengeluarkan lembar-lembar kertas lusuh yang dipungut setelah Datu Besar dari Kadatuan Kedua menampar Balaputera Ugraha menggunakan sebuah buku tua. Sudah sejak beberapa hari ini ia mencoba menyusun halaman-halaman tersebut sesuai urutan yang benar. Akan tetapi, sampai saat ini masih terlihat sulit karena memang setiap lembar tiada diberi nomor halaman. 

Pada lembar-lembar kertas lusuh lagi tua tersebut, sesungguhnya memuat gambar semacam struktur bangunan. Digambar tangan secara cermat menggunakan pensil, sehingga terlihat sangat rapi dan teliti. Sepertinya halaman-halaman ini merupakan buku catatan milik seseorang. Karena sampulnya terlepas, tiada diketahui milik siapakah sesungguhnya. Bintang Tenggara sangat tertarik karena sejumlah gambar mengingatkan akan puing-puing yang berserakan dan melayang tinggi di atas Ibukota Minangga Tamwan. 

Sepekan kembali berlalu. Rutinitas Bintang Tenggara tiada banyak berubah. Pernah ia menuruni bukit dimana gubuk berada. Akan tetapi, sampai larut malam tiada ia bertemu dengan ahli lain. Sempat bertemu dengan beberapa binatang siluman Kasta Perak. Pertarungan untuk menyelamatkan diri tiada terhindarkan. 

Anehnya lagi, kemanakah perginya telapak tangan nan besar yang menghantam tubuhnya dan menarik ke dalam sumur? Mungkinkah dirinya terdampar di sebuah dimensi ruang nan berbeda. 

Terkait lembar-lembar halaman nan lusuh, Bintang Tenggara mendekati jurang keputusasaan. Selama dua pekan waktu berlalu, tiada ia dapat menemukan urutan halaman secara benar, setidaknya demikian perkiraan dirinya sampai sejauh ini. Tanpa urutan halaman secara runut, bagaimana cara memahami lembar-lembar halaman sebagai satu kesatuan nan utuh? 

Di atas dipan di depan gubuk, halaman-halaman lusuh itu tergelar dimainkan angin. Seorang anak remaja berjongkok sambil menopang dagu. Ia hanya mampu menatap penuh harap. 

Kamadhatu… RupadhatuArupadhatu….” Tetiba terdengar suara berujar dari arah pintu pondok, tepat di samping dipan. Suara tersebut terdengar lembut, namun tiada dapat menyembunyikan nada nan getir. Seolah sedang mengingat pengalaman yang membuat hati terasa pilu. 

Bintang Tenggara mendapati si nenek tua menatap ke atas, jauh tinggi ke langit sana. Akhirnya si nenek ini berbicara…? Apakah maksudnya tadi? Bintang Tenggara tiada dapat menyembunyikan keterkejutannya. 

Si nenek tua meraih beberapa halaman kertas nan lusuh, lalu duduk perlahan di atas dipan. 

“Nenek Ahli… Apakah gerangan maksud dari…” 

“Kamadhatu merupakan alam bawah atau dunia hasrat dan hawa nafsu. Wilayah Kamadhatu menunjukkan bahwa manusia terikat pada hasrat dan hawa nafsu, serta cenderung terpengaruh dan dikuasai oleh hasrat dan hawa nafsu itu sendiri.” Si nenek tua masih menatap jauh ke atas langit. 

“Rupadhatu merupakan alam antara atau dunia rupa. Wilayah Rupadhatu menggambarkan manusia yang telah melepas segala urusan duniawi dengan meninggalkan hasrat dan hawa nafsu.” Nenek tua itu kini menatap Bintang Tenggara. Tatap matanya demikian lembut. 

“Arupadhatu merupakan alam atas atau dunia tanpa rupa. Wilayah Arupadhatu merupakan perwakilan dari tempat bersemayamnya para dewa.” 

Bintang Tengara tiada memahami maksud dan tujuan dari kata-kata nenek tua itu. Akan tetapi, spontan ia menoleh ke arah lembaran-lembaran kertas lusuh yang berserakan di atas dipan. 

“Anak muda, siapakah namamu…?” 

“Bintang Tenggara.”

“Bintang Tenggara… nama yang bagus. Namaku adalah… Balaputera Sukma.”