Episode 34 - Balai Tujuh Tingkat


Kami segera masuk ke dalam tempat tersebut, bersamaan dengan masuknya kami berdua, beberapa pasang mata segera mengarahkan pandangannya pada kami. Lalu mereka kembali mengacuhkan kami saat berikutnya. Dalam sekejap itu juga, pandanganku menyisir seluruh tempat itu. Totalnya ada empat puluh tujuh orang di tempat tersebut termasuk pelayan. Meskipun aku tidak tahu tingkatan tenaga dalam semua orang yang ada disana, tapi aku cukup yakin mereka semua adalah orang-orang dunia persilatan dari aura yang keluar dari tubuh mereka. 

“Sini Rik.”

Tak lama kemudian Arie menepuk bahuku pelan dan berjalan menuju salah satu meja kosong yang berada di sudut. 

“Semua yang ada di tempat ini adalah orang-orang dunia persilatan. Selain disini, ada banyak tempat berkumpul lainnya. Aku sengaja mengajakmu kesini karena tempat ini tidak terlalu ramai. Selain itu, para pendekar yang datang kesini rata-rata masih berada di tahap penyerapan energi,” jelas Arie setelah kami duduk dan memesan minuman.

Aku mengangguk pelan mendengar penjelasan Arie. 

“Kau lihat lelaki gemuk yang duduk disana, dia di panggil Mambo. Tahap penyerapan energi tingkat keempat, dia menguasai jurus-jurus badai gunung angkara. Serangan pukulannya sangat dahsyat. Sedangkan lelaki yang sedang berbincang dengannya bernama Yana, juga ditahap penyerapan energi tingkat keempat, menguasai jurus ular batu. Kemudian yang disebelah sana bernama... “


Arie segera memperkenalkan orang-orang yang dia kenal ditempat itu padaku. Namun belum sempat Arie selesai memperkenalkan semua orang yang ada disana, tiba-tiba saja salah satu dari mereka berjalan mendekati kami. 

“San,” sapa Arie begitu orang itu sampai di depan meja kami. Dan orang yang di sapa ‘San’ itu hanya menganggukkan kepalanya pada Arie, kemudian dia segera mengalihkan pandangannya padaku.

“Oh, ini Riki. Dia anggota baru Kelompok Daun Biru. Rik, kenalkan, ini Insan dari Perguruan Bangau Muara.”

Seakan paham maksud lelaki tersebut, Arie segera memperkenalkan diriku secara singkat.

“Riki,” ujarku memperkenalkan diri sambil tersenyum, sedangkan Insan hanya menganggukkan kepalanya sambil duduk di sebelah Arie. 

“Ada kabar terbaru apa, San?” 

Arie langsung bertanya pada Insan begitu aku selesai berkenalan dengannya, tampaknya mereka berdua berteman akrab satu sama lain. Insan sendiri hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Arie. 

“Sebuah informasi gratis, Kelompok Daun Biru membunuh empat anggota Perserikatan Tiga Racun.” 

Aku dan Arie langsung tertegun mendengar jawaban Insan. 

“Kelompok kalian memang luar biasa, berani menantang Perserikatan Tiga Racun,” lanjut Insan sambil mengekeh pelan. 

Aku hanya bisa mengalihkan pandanganku pada Arie, sedangkan Arie sendiri hanya bisa menggaruk kepalanya. 

“Itu hanya kesalahpahaman saja... Apa beritanya sudah menyebar?”

Insan mengangkat bahu sambil memanyunkan mulutnya. “Sama tersebarnya dengan berita mengenai perserteruan antara Perserikatan Tiga Racun dan Pasukan Nagapasa.”

Arie menghela nafas pelan, berita mengenai perseteruan Pasukan Nagapasa vs Perserikatan Tiga Racun adalah rahasia umum dalam dunia persilatan. Hampir semua orang tahu hal itu namun tidak ada yang berani bicara terang-terangan mengenai hal tersebut. Bahkan dipermukaan, hubungan antara Perserikatan Tiga Racun dan Pasukan Nagapasa terlihat baik-baik saja. 

“Kalian sebaiknya berhati-hati, entah apa penyebab kalian bisa sampai menghabisi anggota Perserikatan Tiga Racun, tapi mereka bukan kelompok yang bisa diprovokasi seenaknya.”

“Ya ya ya... Kami mengerti,” jawab Arie malas-malasan. 

Kemudian, kami berbincang panjang lebar mengenai berbagai hal. Termasuk mengenai situasi dunia persilatan yang masih belum kembali stabil paska runtuhnya Sekte Pulau Arwah. Dari pembicaraan tersebut, aku bisa menilai Insan adalah orang yang cukup ramah dan terbuka, meskipun terkesan selalu berhati-hati. 

“Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kita bisa mendapatkan misi?” Di tengah-tengah perbincangan, aku mencoba menanyakan mengenai misi yang sering dilakukan oleh orang-orang dunia persilatan. 

“Misi?” Insan memiringkan kepalanya mendengar pertanyaanku. “Disini kau hanya akan mendapat misi-misi informal. Misi informal biasanya sangat berbahaya.” Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Arie. 

“Memangnya ada misi formal dan misi informal?” tanyaku penasaran. 

“Itu hanya sebutan saja, misi yang didapat di tempat ini biasanya permintaan perorangan dari sesama pendekar dunia persilatan. Baik hadiah maupun cara menyelesaikannya hanya berdasarkan kesepakatan informal saja. Sedangkan misi ‘formal’ dikelola oleh organisasi dengan hadiah dan aturan yang jelas,” jelas Insan. 

“Untuk mendapatkan misi bukan disini tempatnya, tempat ini hanya semacam bar atau cafe khusus orang-orang dunia persilatan,” ujar Arie 

“Oh, begitu...”

Kemudian Arie menjelaskan mengenai organisasi dalam dunia persilatan yang mengelola berbagai misi. Setidaknya ada dua organisasi yang memiliki reputasi tinggi dalam pengelolaan misis di dunia persilatan, Aula Tirai Merah dan Balai Tujuh Tingkat. Sedangkan untuk pil dan obat-obatan, sumber yang paling terkenal adalah sekte Osadhi. 

“Kalau kau mau, setelah ini kita bisa menuju ke Balai Tujuh Tingkat. Lokasinya tak begitu jauh dari sini.” 

“Boleh,” jawabku. 

Setelah kembali berbincang-bincang sebentar dengan Insan, akhirnya aku dan Arie meninggalkan tempat itu menuju Balai Tujuh Tingkat. Di luar dugaanku, ternyata lokasi Balai Tujuh Tingkat berada di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Situasi di dalam gedung juga nampak seperti perkantoran dimana orang lalu lalang mengenakan pakaian rapih. 

Setelah menukar ID kami dengan kartu visitor, aku dan Arie segera naik ke lantai lima. Begitu keluar dari lift, kami segera menuju resepsionis lalu menuliskan nama dan afiliasi kami di buku tamu. Kulihat nama Balai Tujuh Tingkat terpampang besar di belakang meja resepsionis tersebut. 

“Yuk Rik.” Begitu kami selesai menulis nama dan afiliasi kami di buku tamu. Kami berdua segera masuk ke dalam kantor. 

“Lantai ini khusus untuk misi-misi tahap penyerapan energi tingkat ketiga sampai tingkat kelima, sedangkan misi untuk tahapan yang lain berada di lantai yang lain pula. Di Balai Tujuh Tingkat, juga di Aula Tirai Merah, setiap misi diberi tingkatan sesuai dengan tingkat kesulitan misi, bukan berdasarkan tingkat bahaya. Misalnya, satu misi memiliki tingkat kesulitan yang rendah tapi tingkat bahayanya tinggi, seperti misi pembunuhan orang-orang penting di dunia awam yang tidak dijaga oleh pendekar dunia persilatan. Bisa dikerjakan oleh pendekar tahap penyerapan energi tingkat dua atau tingkat tiga.

Ada juga misi dengan tingkat kesulitan tinggi dengan tingkat bahaya yang rendah, misalnya saja misi eksplorasi situs peninggalan pendekar jaman kuno. Tingkat bahayanya terbilang rendah tanpa ada ancaman terhadap nyawa, tapi kesulitannya tinggi karena harus menembus penghalang yang terpasang disana. Jika situs itu peninggalan pendekar tingkat pemusatan energi, bahkan tingkat penyatuan jiwa. Tentu tidak bisa ditembus hanya oleh pendekar tahap penyerapan energi.”

Aku mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Arie. Sementara itu, kami telah berada di ruangan dengan banyak komputer seperti di dalam perpustakaan. Kulihat ada cukup banyak orang yang sedang memakai komputer dengan mimik muka serius. 

“Di ruangan inilah kita mencari misi yang bisa kita jalankan. Mau mencoba mencari misi?” ujar Arie disampingku. 

“Boleh.”

Kami kemudian menuju salah satu komputer, Arie mengajarkan padaku bagaimana cara menggunakan aplikasi komputer guna mencari misi yang bisa kujalankan. Entah kenapa, aku merasa ingin tertawa sendiri setelah melihat betapa modernnya peralatan dan sistem organisasi Balai Tujuh Tingkat. Ternyata dunia persilatan juga tidak bisa menghindar dari arus modernisasi. 

Setelah belajar penggunaan aplikasi komputer guna pencarian misi dan mendengar berbagai penjelasan lainnya dari Arie, serta mengingat hari sudah mulai gelap, akhirnya kami menyudahi kunjugan di Balai Tujuh Tingkat hari ini. Arie mengantarku pulang sampai depan kompleks perumahan. 

“Next, kau bisa ke Balai Tujuh Tingkat sendiri.” ujar Arie sebelum pergi meninggalkanku. 


***


Keesokan harinya, aku segera menuju rumah sakit Osadhi Medika tempat Shinta dirawat sepulang sekolah. Setidaknya ada dua alasan kenapa aku menjenguk Shinta di rumah sakit. Yang pertama, hanya aku satu-satunya anggota tim Shinta di Kelompok Daun Biru yang belum menjenguk dirinya. Yang kedua, sedikit banyak akulah yang menyebabkan Shinta terkena racun. Jadi sangat wajar jika aku memutuskan menjenguk dirinya. 

Sesampainya di rumah sakit, aku segera menuju kamar perawatan Shinta setelah menanyakannya pada resepsionis sebelumnya. Tapi konyolnya, aku tidak menemukan Shinta di dalam kamar rawatnya ketika aku sampai disana. Tapi dari kondisi tempat tidur dan lemari kecil disampingnya yang cukup berantakan, jelas sekali kalau kamar ini memang ada yang menempati. 

“Riki,” Tiba-tiba saja kudengar seseorang memanggilku dari arah pintu kamar rawat. Aku segera membalikkan badan untuk melihat siapa orang yang telah memanggilku. Dipintu kamar rawat, kulihat ekspreasi wajah Shinta masih agak terkejut melihatku tiba-tiba ada di dalam kamar rawatnya. 

“Udah baikan Shin?” 

“Lumayan, sendirian Rik kesini? Duduk Rik.” ujar Shinta sambil melangkah menuju tempat tidurnya, kulihat sekotak jus jeruk tergenggam ditangannya. 

“Iya sendirian, kata Arie kamu keluar dari sakit besok ya?”

Shinta hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. 

“O iya, terima kasih ya sudah menolongku.” 

“Sama-sama,” jawabku singkat

“Kudengar kamu bergabung dengan Kelompok Daun Biru ya?”

“Iya. Satu tim denganmu, Arie, dan Yanti.”

“Iya, aku juga sudah diberitahu Arie waktu dia kemari. Jadi gimana Kelompok Daun Biru?”

“Masih belum terlalu terasa, mungkin karena baru masuk.”

Kemudian kami sama-sama terdiam, mungkin karena sedang mencari bahan pembicaraan yang lain. Tidak-tidak, mungkin Shinta yang sedang mencari bahan pembicaraan yang lain. Aku sendiri sebenarnya memiliki sesuatu yang hendak kutanyakan, tapi masih ragu-ragu mengutarakannya. 

“Kudengar dari Arie, membuntuti orang-orang Perserikatan Tiga Racun adalah inisiatifmu sendiri?”

Kulihat wajah Shinta sedikit berubah mendengar pertanyaanku, namuan segera kembali seperti sedia kala. 

“Iya, itu memang atas inisiatifku sendiri. Aku memergoki mereka berkali-kali datang ke lokasi itu. Hal itu memicu rasa penasaranku, karena itu aku mengikuti mereka.”

Aku menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kuduga Kelompok Daun Biru akan memberikan hukuman keras padanya begitu dia keluar dari rumah sakit. Sedikit banyak, dialah penyebab situasi getir yang dihadapi Kelompok Daun Biru saat ini. 

“Kalau saja aku tetap bersikap tenang pada waktu itu, mungkin situasinya tidak akan segetir ini.”

“Memangnya apa yang terjadi pada waktu itu?” Meskipun aku melihat dari jauh ketika Shinta mengikuti orang-orang Perserikatan Tiga Racun, tapi aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum Shinta dipergoki oleh mereka.

Kulihat Shinta agak ragu-ragu mengatakannya padaku. Namun, akhirnya dia menjawab pertanyaanku setelah menarik nafas panjang. 

“Karena kau sudah menyelamatkanku, aku akan memberitahukannya padamu. Kudengar mereka mengatakan soal lokasi persembunyian rahasia yang ada hubungannya dengan Sekte Pulau Arwah di tempat itu.”

Lokasi persembunyian Sekte Pulau Arwah? Sama seperti labirin bawah tanah tempat aku diculik?

“Apa kau tahu lokasi tepatnya?” 

“Tidak, mereka hanya mendengar ‘lokasinya disekitar sini’, kemudian mereka memergokiku.”

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, lalu menarik nafas panjang. Lokasi persembunyian rahasia Sekte Pulau Arwah.… Seketika aku merasakan keinginan mendatangi tempat tersebut. Entahlah, mungkin karena merasa aku merasa menjadi bagian sekte tersebut, mengingat tenaga dalam yang mengalir di tubuhku juga berasal dari sana. 

“Memangnya ada apa Rik dengan Sekte Pulau Arwah?” Shinta mengerenyitkan keningnya melihatku tenggelam dalam lamunanku sendiri begitu dia menyinggung Sekte Pulau Arwah.