Episode 222 - Penculikan


Mentari pagi baru saja terbit. Sinarnya menyapa gemilang, memupus kabut yang menyelimuti hutan dan menyajikan kehangatan di senatero hutan. Burung-burung bernyanyi merdu, mengusir kekelaman pertempuran. Sejak subuh, serangan suku Anak Dalam berhenti dan para prajurit saat ini dapat menghirup udara nan segar sekaligus mereda ketegangan. 

Bintang Tenggara sudah terjaga dan menghitung langkah mengelilingi sisi dalam benteng. Di atas menara pengawas, dirinya menyaksikan Senopati Ogan Lemanta mengawasi situasi. Matanya merah, wajahnya pucat. Sepertinya, ia belum sempat melelapkan mata barang sejenak.

“Apakah kalian menemukan penyusup semalam!?” hardik sang Senopati kepada bawahannya.

“Belum, Yang Terhormat Senopati.”

Bintang Tenggara keheranan. Penyusup? batinnya bertanya. Awalnya ia berpandangan bahwa adalah para prajurit yang ditugaskan mengawasi mereka semalam karena hendak memastikan bahwa regu tersebut menjalankan tugas yang mereka emban. Sebagaimana diketahui, menyusun formasi segel pertahanan memang perlu segera dilaksanakan. Tentu sang Senopati tiada dapat beristirahat sampai formasi segel pertahanan yang baru rampung disusun. 

Akan tetapi, bilamana muncul penyusup, maka kemungkinan besar berasal dari anggota suku Anak Dalam. Berdasarkan penjelasan Balaputera Ugraha tentang suku tersebut, maka tiada mungkin mereka menyerang tanpa alasan. Apakah gerangan yang sebenarnya berlangsung di benteng ini…?

“Gara, jangan kebanyakan melamun! Pergilah ke posisimu!” Balaputera Ardhana tetiba menghardik dari arah belakang. 

Tak jauh dari mereka, Bintang Tenggara melihat anggota regu yang lain melangkah menyebar. Sesuai kesepakatan semalam, bahwa pagi ini mereka akan merampungkan tugas dan secepatnya kembali ke Ibukota Minangga Tamwan. Anak remaja tersebut pun melangkahkan kaki ke sisi luar pagar benteng. 

Formasi segel pertahanan yang lama masih terpasang. Akan tetapi, Bintang Tenggara mendapati bahwa simbol-simbol yang menyusun formasi segel tersebut sudah tak lagi stabil. Sedikit gempuran saja, maka kemungkinan besar formasi segel pertahanan tersebut akan runtuh dan gelombang serangan dari segala penjuru akan berdatangan menjatuhkan benteng. 

Di sisi luar benteng, di batas segel pertahanan lama, Bintang Tenggara berdiri membelakangi hutan dan mulai merapal formasi segel. Sejumlah prajurit berjaga di hadapannya. Tugas mereka adalah melindungi para perapal segel yang cenderung rentan terhadap serangan di kala bekerja membangun segel pertahanan yang baru.

Sebagaimana saat latihan, anak remaja tersebut membuka telapak tangan, dan membuka lengan lebar ke samping. Di saat yang sama, ia pun menebar mata hati dan mengalirkan tenaga dalam. Tindakan yang serupa juga tentunya dilakukan oleh anggota regu lain di titik yang berbeda. 

Simbol-simbol formasi segel lalu berpendar dari telapak tangan Bintang Tenggara. Bersama anggota regu yang lain, formasi segel akan terhubung dan kemudian saling merangkai untuk membangun formasi segel pertahanan. Tak lama, Bintang Tenggara menyadari bahwa formasi segel yang ia susun telah terjalin dengan formasi segel lain. Langkah selanjutnya, bersama-sama mereka akan merampungkan jalinan setengah transparan yang menyatu-padu. 

“Segel Syailendra: Panca Penjuru!” 

“Awas!” sergah Komodo Nagaradja. Saat ini seharusnya tokoh tersebut sedang menyerap tenaga alam karena banyak tenaga dalam miliknya yang disumbangkan kepada sang murid saat berada di dalam dimensi ruang berlatih Tugu Ampera Barat. Akan tetapi, karena merasakan datangnya bahaya…

“Srek!” Di saat yang sama terdengar suara mengoyak! 

Sontak Bintang Tenggara memutar tubuh, dan mendapati seorang lelaki dewasa muda baru saja menyeruak dari dalam tanah persis di sisi luar formasi segel yang mengelilingi benteng. Dengan aura tubuh berwujud harimau, lelaki itu mengoyak formasi segel kemudian merangsek dan menghunuskan cakar ke arah dirinya! 

Reflek Bintang Tenggara mengeluarkan Perisai Tunggul Waja dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi pemberian Maha Guru Segoro Bayu saat di Kota Ahli. Peringatan Komodo Nagaradja datang tepat waktu. Andai sedetik saja terlambat, maka kemungkinan besar bahu anak remaja tersebut sudah tercabik dan kini bermandikan darah! 

Kekuatan tebasan cakar yang dihadang Perisai Tunggul Waja membuat tubuh Bintang Tenggara terpental dan menghantam pagar kayu benteng. Menahan pilu di pundak, ia lalu melompat ke samping, menghindari kedatangan tebasan susulan. Kedua matanya sempat menyaksikan betapa kayu pagar benteng, walau pun sangat keras, tercabik merekah bagai dibabat kampak besar. Bahkan, pagar kayu tersebut sedikit hangus terbakar! 

Meski sedikit terlambat, sejumlah prajurit yang berjaga kemudian melompat menghadang serangan. Pertarungan jarak dekat berlangsung singkat. Karena mengalami kegagalan dalam melancarkan serangan mendadak, si penyerang segera melompat keluar dari formasi segel yang lama dan menghilang di balik lebatnya hutan. 

Segel Syailendra: Panca Penjuru belum rampung, pikir Bintang Tenggara. Karena dirinya terpaksa terpaksa menghindari serangan, maka formasi segel pertahanan tersebut belumlah selesai dirapal. Mungkinkah…

“Zzzttt!” 

Mengandalkan kecepatan langkah petir dari jurus Asana Vajra, tetiba Bintang Tenggara melesat tak beraturan menyusuri sisi luar pagar benteng. Tak terlalu jauh, ia melihat Balaputera Citaseraya bersama sejumlah prajurit terlibat dalam pertarungan jarak dekat. 

Kecurigaan Bintang Tenggara terbukti benar! Ia menyadari bahwa yang terlebih dahulu membuyarkan formasi segel pertahanan bukanlah dirinya, namun anggota regu yang berada di lokasi terpisah. Dengan kata lain, bukan hanya dirinya yang dibokong oleh serangan mendadak, namun juga anggota regu yang lain!

Teleportasi jarak dekat, yang kemudian disusul oleh lima Segel Penempatan tinggi di udara membawa Bintang Tenggara tiba di dekat Balaputera Citaseraya. Segera ia menikamkan Tempuling Raja Naga! 

Mendapati kehadiran bala bantuan sekaligus ancaman, lawan segera mundur dan melarikan diri ke balik semak belukar. Meskipun demikian, langkah petir tak berhenti sampai di situ. Bintang Tenggara meninggalkan Balaputera Citaseraya bersama para prajurit dan terus menyusuri sisi luar benteng menuju lokasi berikutnya. Perkiraan terburuknya terbukti benar…


“Ugraha, Ardhana dan Sevita tertangkap musuh…,” ujar Bintang Tenggara di hadapan Senopati Ogan Lemanta dan Balaputera Citaseraya. 

Jawaban atas teka-teki seputar benteng ini perlahan tersusun. Penyusup yang hadir semalam adalah anggota suku Anak Dalam, bukan prajurit benteng sebagaimana dugaan sebelumya. Sang penyusup itu sengaja mendatangi barak kediaman sementara regu, dalam upaya memastikan kehadiran para perapal segel. Dengan pengetahuan yang diperole, serangan terhadap benteng tiba-tiba dihentikan pada subuh hari tadi. Langkah tersebut nyatanya bertujuan untuk memancing keluar anggota regu yang bertugas merapal formasi segel baru. 

Pada kesempatan yang telah sengaja diciptakan itu, suku Anak Dalam menyembunyikan diri tepat di luar formasi segel, menanti, lalu menyergap. Sungguh taktik yang lugas layaknya dalam sebuah perburuan. Bahkan, kecerdikan ini setara dengan salah satu Taktik Tempur ala Komodo Nagaradja. Bintang Tenggara tak menyembunyikan kekagumannya. 

Sang Senopati hanya diam membisu. Keringat mengucur deras di kening dan pelipisnya. Formasi segel baru belum rampung. Sebagai tambahan, ia lalai melindungi para bangsawan muda Wangsa Syailendra, dan kini malah membahayakan jiwa mereka. Atas kesalahan ini, hukuman berat menanti bilamana para bangsawan muda berakhir celaka.

Sangat terkoordinasi, pikir Bintang Tenggara. Satu-satunya teka-teki yang belum terjawab adalah alasan mengapa suku Anak Dalam melakukan penyerangan terhadap benteng pertahanan ini. Mungkinkah Senopati Lemanta menyembunyikan sesuatu…?

“Apakah langkah kita selanjutnya…?” Balaputera Citaseraya terlihat gelisah. Betapa pun rumitnya hubungan di antara anggota regu, ia tak hendak sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka. 

“Kita nantikan tuntutan mereka…,” ujar Bintang Tenggara sambil melangkah menuju sisi luar pagar. Lawan menculik, bukan membunuh anggota regu. Pastilah ada sesuatu yang mereka inginkan. 

“Hamba menolak berunding dengan suku biadab itu!” Tetiba Senopati Ogan Lemanta membentak. 

Bintang Tenggara berhenti sejenak, namun mengabaikan dan melanjutkan langkah. Balaputera Citaseraya menyusul di belakangnya. Kedua murid Perguruan Svarnadwipa itu lalu melangkah keluar dari benteng. Tak ada prajurit yang mengikuti mereka. 

Hari jelang siang. Kedua remaja menanti di sisi luar benteng, namun masih di dalam formasi segel yang sebentar lagi runtuh. Tak ada seorang pun anggota suku Anak Dalam yang mendatangi mereka. Bintang Tenggara lalu melangkah keluar dari formasi segel pertahanan. 

“Mau kemanakah engkau?” Balaputera Citaseraya menghadang dengan membusungkan dada. Andai saja Balaputera Prameswara saat ini berada di dekat mereka, maka kemungkinan besar remaja itu akan terhuyung, terpeleset, tersandung… atau apalah… dan tangannya menyentuh payudara tanpa disengaja. Demikianlah Wara. 

“Aku akan mendatangi mereka.” 

“Kau sudah gila!” 

Bintang Tenggara meneruskan langkah. Ia pun masuk ke dalam hutan. Balaputera Citaseraya terlihat ragu. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang Senopati hanya memandangi mereka dengan wajah yang semakin kusut. Akhirnya, gadis belia itu memutuskan untuk menyusul Balaputera Gara. 

“Nyalimu besar!” tetiba terdengar suara menyergah sesaat setelah memasuki wilayah hutan. 

“Tuan ahli,” ujar Bintang Tenggara. “Kumohon melepaskan rekan-rekan kami.” 

“Heh!?”

“Apakah yang Tuan Ahli kehendaki? Kami akan berupaya memenuhi…” Balaputera Citaseraya memberanikan diri.

“Serahkan pimpinan benteng itu!” 

Di saat yang sama, seorang lelaki dewasa muda keluar dari balik semak-semak. Bintang Tenggara mengenali lelaki tersebut sebagai lelaki yang sama dengan yang tadi menyerang dirinya. Dia hanya mengenakan celana pendek yang terbuat dari rajutan kulit pepohonan dan bertelanjang dada. 

Segera setelah itu, sejumlah ahli lain mengemuka, pun dari balik semak dan pohon. Cara berpakaian mereka senada dengan lelaki dewasa muda sebelumnya. Mereka bergerak mengepung kedua remaja. 

“Waspada… mereka semua adalah peranakan siluman,” ujar Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara sudah menyadari akan hal ini. Lawan di hadapan, kesemuanya kemungkinan telah membuka kemampuan siluman mereka. Oleh karena itulah, aura yang membungkus tubuh mereka berwujud binatang siluman. Lelaki dewasa muda itu bahkan memiliki aura berwujud Harimau Bara! 

“Sergap mereka!” seorang remaja berujar lantang dari balik si lelaki dewasa muda, dan yang lainnya pun bergerak serempak. 

Bintang Tenggara memasang kembangan. Mulutnya mulai berkomat-kamit. Dalam keadaan terkepung, memanggil Dewi Anjani dan menggunakan golok Mustika Pencuri Gesit adalah pilihan terbaik. Semoga saja perempuan mengerikan itu tak sedang sibuk di tempat lain. 

“Tunggu!” Lelaki dewasa muda merentangkan lengan, menghentikan langkah anggota sukunya. 

“Kau… kau menyibak aroma siluman…” Lelaki dewasa muda berujar sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Bintang Tenggara. 

Kesemua anggota suku sontak mengendus aroma di udara. 

Bintang Tenggara membatin. Apakah yang mereka maksud adalah aura siluman sempurna? Tiada mungkin. Super Guru tiada menyibak aura siluman karena hanya merupakan jiwa dan kesadaran, kecuali jiwa dan kesadaran tersebut sengaja mengemuka. Mungkinkah Tempuling Raja Naga dan Sisik Raja Naga…? Belum tentu. Sudah biasa bagi segenap ahli memiliki senjata yang berasal dari anggota tubuh siluman. Ataukah…

“Ia pernah bersatu dengan siluman…” 

“Oh…?” Bintang Tenggara tersadar. Pastilah mereka membaui aroma Pumpun Mustika saat dirinya berpindah kesadaran kepada Trengginas si Trenggiling Pusaran Kilat di dalam Alas Roban. 

“Aku percaya padamu.” Tetiba lelaki dewasa muda itu berujar. “Aura siluman yang tertinggal pada dirimu menyibak kesan yang bersahabat.”

“Tuan ahli, apakah alasan penyerangan terhadap benteng ini?” 

“Pimpinan benteng itu menculik adik perempuan kami. Kembalikan ia, dan kami akan melepaskan rekan-rekan kalian.”


“Hamba… Hamba menolak berunding dengan…” 

“Plak!” Belum sempat Senopati Ogan Lemanta mengulang kata-kata, Balaputera Citaseraya menampar wajahnya. “Di mana engkau menyekap anak gadis dari suku Anak Dalam!?” 

Senopati Ogan Lemanta tertunduk lesu. Akan tetapi, tak kuasa ia melawan dua bangsawan muda di hadapannya. Sebagai abdi negeri, kata-kata para bangsawan Wangsa Syailendra tiada dapat disanggah, bahkan merupakan titah.

Sang Senopati membawa kedua remaja ke dalam kantor di dalam benteng. Sebuah lorong rahasia membawa mereka menuju ke sebuah kamar dengan penyinaran temaram. Di dalam, meringkuk seorang gadis di atas ubin nan dingin. Kedua tangannya terikat, dan tak selembar pun benang membalut sekujur tubuhnya. 

“Tunggu di sini!” Balaputera Citaseraya kemudian melangkah cepat mendatangi tubuh gadis yang tergeletak di lantai dan tiada berdaya. Gadis itu meronta lemah ketika Balaputera Citaseraya membuka lebar kedua pahanya, dan memeriksa wilayah pangkal paha. Perlahan, jalinan rambut-rambut halus disibak. Menarik napas lega, Balaputera Citaseraya tak menemukan tanda-tanda tindak kekerasan pada wilayah intim gadis tersebut. Di saat pemeriksaan singkat usai dilakukan, gadis malang itu pun kehilangan kesadaran. 

Bagi prajurit, ditempatkan di wilayah terpencil yang jauh dari keluarga dalam rentang waktu yang panjang sangatlah menyiksa jiwa dan raga. Dalam beberapa peristiwa langka, pernah tercatat kejadian dimana prajurit memaksakan nafsu birahi kepada gadis anak petani, juga gadis dari suku Anak Dalam. Apa pun alasannya, tindak kebiadaban seperti ini tiada dapat diterima!

Bintang Tenggara ikut mendatangi gadis yang telah kehilangan kesadaran. Wajahnya lembut, menampilkan pesona alami. Tubuhnya masih dalam masa perkembangan, dan terlihat sangat ranum. Mendapati remaja lelaki hadir di sampingnya, Balaputera Citaseraya terkejut sejenak. Spontan ia menutupi wilayah intim gadis tersebut dengan selembar selendang. 

Demam tinggi dan kekurangan cairan, batin Bintang Tenggara. Napasnya pun sudah tersengal-sengal, terlihat dari sepasang payudaya yang bergetar sekali-sekali. Bilamana tindakan pertolongan tak segera dilakukan, maka si gadis kemungkinan besar akan meregang nyawa akibat kondisi tubuh yang memburuk. Keadaan akan berubah menjadi sangat rumit bilamana gadis suku Anak Dalam yang diculik ini menghembuskan napas terakhir di dalam benteng. Suku Anak Dalam bisa murka, kemudian melampiaskan amarah kepada tiga anggota regu yang tertangkap!

“Perawatan perlu segera dilakukan,” bisik Bintang Tenggara. 

“Segera panggilkan tabib!” Balaputera Citaseraya menghardik ke arah Senopati Ogan Lemanta, yang sedari tadi diam membatu di depan pintu kamar rahasia. 

Rangkaian kejadian ini berawal di kala sang senopati menelusuri hutan demi mengawasi patroli anak buahnya. Saat itu, kebetulan mereka berpapasan dengan seorang gadis belia nan cantik jelita. Gelap mata, langsung saja ia menculik dan membawa gadis tersebut kembali ke benteng. 

Kejadian ini segera diketahui oleh keluarga sang gadis yang merupakan anggota suku Anak Dalam. Demi mengambil kembali anggota keluarga yang disekap, mereka datang menggempur dengan segenap kekuatan tempur. Serangan bahkan dilakukan oleh beberapa keluarga suku Anak Dalam secara bersama-sama. Akibat serangan tersebut, formasi segel pertahanan benteng goyah. Walhasil, terpaksalah sang Senopati mengirimkan pesan darurat ke Ibukota Minangga Tamwan, bahwasanya sedang berlangsung penyerangan mendadak terhadap benteng. 

Setelah mengkoordinasikan pertahanan segenap prajurit benteng, Senopati Ogan Lemanta mendatangi gadis yang disekap dengan niat melampiaskan nafsu birahi. Akan tetapi, lelaki dewasa itu memang belum sempat menggagahi sang gadis. Baru selesai menelanjangi paksa, dan hendak menindih tubuh nan mungil, sesuatu yang tiada terduga terjadi. Panggilan dari anak buahnya mengungkapkan bahwa lima bangsawan muda utusan Perguruan Svarnadwipa telah tiba di dalam benteng. Bala bantuan ini datang lebih cepat dari perkiraan! 

Saat itu, terpaksa ia bergegas berpakaian dan meninggalkan sang gadis dalam keadaan telanjang bulat di dalam ruang penyekapan. Inilah sebabnya mengapa pakaian Ogan Lemanta sedikit awut-awutan kala menyambut kedatangan kelima remaja. Sejak saat itu pula, pembawaannya menjadi sangat kusut karena khawatir tindak kejahatan yang ia lakukan akan terbongkar.

“Kemungkinan akan terlambat,” ujar Bintang Tenggara yang sudah memahami kondisi tubuh sang gadis nan sekarat. “Kumohon tinggalkan kami. Diriku akan memberikan perawatan darurat.” 

“Apa maksudmu!? Perawatan darurat apa!? Mengapa harus ditinggal!?” 

“Percayalah padaku…,” ujar Bintang Tenggara pelan, sambil menatap kedua mata mata Balaputera Citaseraya. 

Balaputera Citaseraya tak hendak meninggalkan gadis tersebut seorang diri. Namun demikian, ia pun menyadari bahwa bilamana pertolongan tak segera diberikan, gadis tersebut akan meninggal dunia. Remaja lelaki misterius di sampingnya ini kemungkinan adalah satu-satunya harapan yang ia miliki untuk menyelamatkan nyawa sang gadis. Entah sejak kapan, rasa percaya kepada Balaputera Gara mulai bersemi. Ia pun bangkit dan melangkah keluar, lalu menutup perlahan pintu kamar rahasia. 

“Asyik!” Maha Maha Tabib Surgawi, Ginseng Perkasa, bergejolak penuh gairah. Bahkan, sampai-sampai seolah terdengar deru napas nan menggebu-gebu. 

“Biadab!” hardik Komodo Nagaradja nan berang bukan kepalang. 

“Sudah cukup lama waktu berselang sejak terakhir kita beraksi!” 

“Hentikan meracuni muridku dengan pikiran-pikiran cabul!” 

“Tiga kali di ketiak kiri dan dua kali di ketiak kanan, maka gadis manis ini akan terlepas dari ancaman jiwa!” 

Bintang Tenggara dengan cepat melepas ikatan yang membelenggu kedua lengan sang gadis. Di saat yang bersamaan, pada permukaan lidahnya, sebuah simbol berwujud tongkat yang dililit seekor ular, perlahan berpendar…





Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H!