Episode 35 - 3… 2… 1


 Keesokan paginya dihari libur kampus, sang mentari sudah menampakkan wajahnya menyinari bumi ini. Ada kali jam 6 pagi mah. Pas jam 6 itu, si Coklat masih molor di tempat tidur. Ilernya kemana-mana, ada yang pergi ke mall, ada yang ke kantor, ada yang ke kampus, wah hebat banget tuh ilernya. Perlahan-lahan mata Coklat mulai terbuka.

 “Hoooaaammm, sudah pagi ya?” 

 Kemudian Coklat menoleh ke arah jam dinding di kamarnya.

 “Hah! Sudah jam 6 pagi! Wah ketinggalan dong gue buat ngucapin selamat tinggal ke Een?!”

 Coklat pun langsung bergegas ke kamar mandi, ya buat mandi lah! Setelah mandi, dia langsung beranjak keluar untuk menemui Ival di rumahnya tanpa sarapan sedikitpun. Ketika berada di luar rumah, Coklat balik lagi ke dalam. Lah plin plan?

 “Plin plan? Hadiah buat Een ketinggalan di dalam.”

 Oh ternyata Coklat ingat akan hadiah yang kemarin dia beli.

  Sampainya di rumah Ival, Coklat mengetuk pintu rumah itu namun dia sadar, ternyata rumah Ival enggak ada pintunya. Ya ada lah pintunya! Tak butuh waktu lama, Ival pun membukakan pintu rumahnya.

 “Hoooamm, ada apa pagi-pagi ketuk pintu rumah orang?” tanya Ival yang masih mengucek-ngucek matanya.

 “Ada gue! Gue belum sarapan di rumah!” teriak Coklat.

 “Hah!” 

 “Anterin gue yuk ke terminal buat ketemu Een!”

 “Gue mandi dulu ya.”

 “Enggak usah! Mandi enggak mandi sama aja lo, sama jeleknya!”

 Lalu Coklat langsung saja menarik tangan Ival. Tanpa diduga tangan Ival terlepas.

 “Hah tanganku copot!” teriak Ival kaget.

 “Wah tanganlo copot, Val!” teriak histeris Coklat.

 Mau enggak mau sebelum berangkat ke terminal, Coklat memasang kembali tangan Ival yang terlepas barusan, ampun dah ngaco! Sementara Een yang sudah duduk di dalam bus cuma bisa senyum-senyum sedikit. Kok senyum-senyum, bukannya sedih gitu? Ternyata dia mengingat semua bagaimana kelakuan si Coklat yang dia kenal di kampus.

 Huh, sudah aku kira dia enggak bakal datang ke terminal pagi-pagi. Hmmm tapi enggak apa-apalah, dia mah gitu orangnya. Rasanya itu yah kayak enggak wajar kalau dia datang terus pakai acara nangis-nangis ala perpisahan gitu, ucap dalam hati Een sambil tersenyum.

 Apakah usaha Coklat dalam memberikan hadiah kepada Een akan sia-sia begitu saja mengingat Een sudah ada di dalam bus sementara Coklat masih dalam perjalanan menuju terminal? Bisa iya dan juga bisa tidak.

 ***

 Dalam perjalanannya menuju terminal, Coklat yang mengendarai sepeda motor serta memboncengi Ival mendapatkan berbagai rintangan. Pertama ketika sepuluh menit beranjak dari rumah Ival, hal yang tak terduga terjadi. Badan motor yang dia kendarai lepas dari kedua bannya. Akhirnya bannya menggelinding sendiri.

 “Wah, Val, bannya copot!” teriak Coklat.

 “Haduh, rusak dah motor gue!” 

 Mau enggak mau, mereka berdua mengejar ban motor itu kemudian membetulkannya. Hal yang enggak mudah ketika cobaan yang pertama itu adalah mengejar-ngejar ban motor. Seringkali mereka berdua dikadali oleh ban tersebut. Misalnya ban motor yang mereka kejar-kejar itu tiba-tiba bersembunyi di dalam gang. Aneh kan.

 “Wah, kemana ya, Val, bannya?” tanya Coklat.

 “Enggak tahu, motor lo sih nyusahin aja.”

 “Lah itu kan motor lo, Val.”

 “Oh iya.”

 Butuh waktu berjam-jam bagi mereka untuk menemukan ban motor itu. Wah itu mah sudah ditinggal sama Een. Dikarenakan hal itu membuang-buang waktu mereka saja, kejadian mereka mengejar-ngejar ban dan bannya bersembunyi dianggap tidak ada, terima kasih.

 Cobaan yang kedua adalah mereka bertemu dengan polisi di tengah jalan. Coklat yang lupa bawa SIM pun bingung melihat ada sosok polisi tersebut. Dalam pikiran dia, kalau dia memaksa untuk jalan terus bakalan lama ditilang sama polisi itu.

 “Wah, Val, ada polisi.” 

 “Ya sudah, kita putar balik aja.”

 Coklat pun memutar balik kendaraanya, padahal dia enggak tahu kalau di depannya itu polisi tidur. Merasa diisengin sama penulisnya, Coklat dan Ival enggak terima, mereka berdua langsung turun dari motor dan ngegebukin penulisnya, mati dah! 

 Baght bught baght bught! 

 Penulisnya pun bonyok.

 Merasa dikejar-kejar waktu, Coklat pun mengebut naik motor. Kecepatan motor yang awalnya 60 km/jam kini menjadi 3.000 km/jam. Saking cepatnya dia mengendarai motor, dia mampu melewati Rossi dan Marquez yang kini sedang bersaing memperebutkan podium pertama di sirkuit Catalunya, Spanyol. 

 “Wih gila! Apaan tuh tadi?!” ucap serentak Rossi dan Marquez terkejut melihat kecepatan motor yang dikenadarai Coklat.

 Wah parah tuh naik motornya sampai ke Spanyol, gilaaa!

 Singkat cerita, Coklat dan Ival sudah sampai di terminal. Kenapa ceritanya disingkat? Karena nanti bakal ada cerita yang aneh-aneh lagi, kayak di bab ini banyak banget cerita yang enggak masuk di akal. 

 Sesampainya di terminal itu, Coklat berusaha mencari sosok Een di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Dia ke sana kemari mencari Een, namun sayang Coklat hanya bisa termenung melihat keadaan dimana sosok Een sudah tidak di sini lagi, dia terlambat.

 “Yah, Val, kita terlambat.”

 “Iya, setiap naik motor pasti terlambat mulu, kemarin terlambat ke kampus eh sekarang terlambat ke terminal.”

 “Motor lo ganti napa!”

 “Duitnya tong darimana?!”

 “Di bank banyak duit.”

 “Duit orang itu mah!”

 “Lah lo orang bukan, Val?”

 “Orang.”

 “Nah, jika yang di bank itu duit orang sementara lo itu adalah orang, maka duit yang di bank adalah duit lo.”

 “Bisa begitu ya?”

 “Iya.”

 Itulah ungkapan kesedihan Coklat ketika tau Een sudah tidak ada di terminal. Dengan demikian dapat dipastikan, Coklat tak bisa memberikan hadiah perpisahan untuk Een. Akhirnya, dia bersama Ival bergegas meninggalkan terminal ini menuju rumahnya kembali. Dalam kesedihan Coklat terdengarlah sebuah lagu dari Peterpan yang berjudul Semua Tentang Kita. Lagu yang pas untuk menggambarkan suasana hati Coklat saat ini. Petikan awal dari gitar yang terdengar membuat suasana haru biru di terminal ini, lalu mulailah suara vokalis terdengar merdu melantunkan lagu itu

 “Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka saat kita tertawa .…” 

 Seperti itulah barisan bait dalam lagunya. Lagu itu terus mengalun menemani langkah Coklat dan Ival sampai di tempat mereka memakirkan sepeda motornya.

 “Huhft,” Coklat menghelakan napasnya, mungkin dia masih sedih.

 “Kenapa?” tanya Ival.

 “Itu pengamen ngikutin kita mulu dari tadi.” 

 “Mas, situ kan belum bayar saya nyanyi,” ungkap sang pengamen.

 “Lah situ kan nyanyi sendiri, enggak saya pinta,” kata Coklat membalas.

 “Lah mas namanya pengamen itu nyanyi sendiri, kalau nyanyi ramai-ramai itu boyband,” ungkap sang pengamen.

 ***

 Di tempat parkiran motor, wajah Coklat tampak sedih apalagi ketika melihat kado yang dipegangnya itu. Dalam kesempatan yang sia-sia itu, Coklat berniat untuk pulang saja, yaaah jelek banget ending-nya. Dia merasa sudah tidak ada kesempatan lagi baginya untuk bertemu dengan Een.

 “Val, pulang aja yuk. Een kayaknya sudah berangkat.”

 “Yuk lah, gue juga belum sarapan ini.”

 “Sama.”

 Namun tiba-tiba….

 “Coklaaaat ….” 

 Ada suara seseorang memanggil Coklat dari belakang dirinya. Tanpa ragu Coklat pun menoleh ke belakangnya, sontak dia terkejut melihat sosok itu. Sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Een. Penonton pasti bingung nih, kan tadinya Een sudah ada di dalam bus, kenapa tiba-tiba dia ada di belakang Coklat? Beginilah ceritanya. Ketika Een sudah ada di dalam bus tersebut, tiba-tiba kenek bus tersebut berteriak menyerukan jurusannya, padahal busnya busnya belum jalan loh.

 “Purwakarta Purwakarta Purwakarta diisi lagi, ayo ayo!” 

 “Ini jurusan Purwakarta, Mas, bukannya Purwekerto?”

 “Purwakarta, Neng.”

 “Aduh, salah jurusan saya. Maaf ya, Mas.”

 Een pun turun dari bus itu karena salah jurusan, begitulah singkat ceritanya.

 Kini Coklat pun bisa tersenyum lagi, cie cie yang galaunya udahan. Tepat di hadapan Coklat, Een sedang berdiri. Inilah kesempatan terakhir Coklat melihat Een terakhir kalinya, apa yang akan dia lakukan? Ya tentunya, Coklat akan memberikan kado terakhir kepada Een.

 “Kamu enggak jadi pergi?” tanya Coklat.

 “Ehmmm … aduh perut gue mules,” ucap Ival yang lalu pergi meninggalkan keduanya. Wah bakal ada adegan romantis nih.

 “Aku ingin melihat kamu dulu sebelum aku pergi,” jawab Een.

 “Aku dulu itu masih bayi, En, jadi kamu enggak akan bisa melihat aku yang dulu.”

 “Maksudnya aku pengin melihat kamu sekarang sebelum aku pergi, tapi aku enggak bisa lama-lama,” jelas Een.

 “En …,” ucap Coklat tersipu malu sambil memberikan hadiah untuk Een.

 “Apa ini?”

 “Ini ada hadiah buat kamu, meski aku enggak bisa berikan apa yang aku ingin ungkapkan setidaknya benda ini menjadi saksi bahwa kita pernah bersama, seenggaknya seperti itulah.” 

 “Terima kasih ya,” senyum Een.

 “I … iya .…”

 Dengan pipi merah jambu, Een menerima hadiah yang diberikan Coklat kepadanya. Ada air mata perpisahan di antara keduanya. Sesuai memberikan hadiah untuk Een, Coklat tak mampu berkata-kata lebih banyak lagi, hanya ada ucapan selamat tinggal untuk Een.

 “Aku enggak bisa lama-lama, aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk semua,” ucap Een saraya tersenyum menangis.

 “Selamat tinggal.”

 Een perlahan-lahan berjalan meninggalkan Coklat menuju bus jurusan Purwokerto. Coklat hanya diam melihat Een memasuki bus yang berhenti tak jauh dari hadapannya. Oh, so sweet. Mungkin inilah akhir kisah dari pertemuan Een dan Coklat, walau Coklat tak bisa memberikan apa yang dia ingin ungkapkan setidaknya dia memberikan sebuah kenang-kenangan untuk Een. Mungkin anda sekalian penasaran dengan hadiah tersebut, merik kita cari tau apa hadiah tersebut. Di dalam bus, Een sudah duduk, dia menatap hadiah yang diberikan Coklat. Dalam tatapannya itu, perlahan-lahan Een membukanya, dan apa yang terjadi ketika Een membukanya? Een tersenyum melihat hadiah itu, hadiahnya adalah… kita hitung ya… 3… 3… 3… woy 2-nya mana? 3… 2… 1… jreng! 

 “Makasih ya, kamu udah kasih aku kerudung,” ucap Een.

 Ternyata hadiahnya berupa kerudung. Cerita pun berakhir sampai di sini. Coklat dan Een merasa bahagia dipertemuan terakhirnya itu, berbeda dengan salah satu teman mereka yang masih duduk di lapangan dari kemarin, siapakah dia?

 “Aduuuuuh, Fia, kapan ya nyuruh aku berhenti duduk di tengah lapangan,” ucap orang itu dengan kemanyunan di wajahnya, sementara Fia sedang asyik jalan sama cowok ganteng.



(TAMAT)