Episode 5 - Ajar Mengajar



Untuk sejenak, Hikram mendapat perasaan bahwa memukuli kedua pria penculik di depannya ini sampai babak-belur merupakan aktivitas yang menyenangkan. Kerja ringan yang akan membuatnya mendapatkan hadiah besar. Apapun hasratnya akan dikabulkan andai dia melakukan hal itu.

Tapi, sesuatu di belakang kepalanya mengingatkan. Awalnya bisik kecil, kemudian makin lama makin intens. Suara kedua ini hampir sama dengan suaranya sendiri, sehingga Hikram mendengarkan baik-baik.

Pasti ada sesuatu yang tidak beres yang diselipkan dalam kata-kata si bocah. Ini bukan hal normal, tidak biasanya ia mendebat dirinya sendiri seperti ini. Setelah dipikir sejenak, tak mungkin juga dengan hanya menghajar mereka saja akan membuat keinginannya dikabulkan.

Dengan tekat sekuat baja yang telah ditempa oleh latihan silat bertahun-tahun, ia memaksakan diri untuk menangkal sugesti-sugesti yang makin ramai menggoda di kepalanya, didukung oleh suara di belakang kepalanya.

“Tidak.” Hikram menggumamkan penolakannya dengan gigi mengertak.

Dua penculik yang sedang berada di tengah-tengah hukuman tersentak, gerakan mereka terhenti, tak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Bahkan Sidya nampak sedikit keheranan.

“Tidak,” Hikram mengulangi perkataannya, kali ini lebih mantap, “aku tak mau. Sebelumnya aku memang berencana untuk menghancurkan mereka berdua karena telah melakukan tindak kriminal, tapi sepertinya mereka telah takluk oleh perintahmu. Keberadaanku tak diperlukan lagi, aku pergi saja kalau begitu.”

Hikram mulai berbalik untuk merangkak ke arah yang berlawanan. Belum juga ia keluar dari kubangan saat ada yang memegangi kedua pasang kakinya. Si pesilat menoleh, mengira bahwa si putri menghalanginya pergi, tapi rupanya ia salah terka. Malah si bandit penculik yang kini tak berjenggot yang menahan kakinya!

“Putri Sidya belum selesai denganmu,” gumam si tanpa-jenggot yang kemudian menarik paksa Hikram dari lumpur pelicin yang ia pasang, sementara Sidya dan si penculik muda yang telah selesai dengan hukumannya mengawasi. Hikram menggeliat, mengetes cengkraman yang membelit kakinya sekaligus menelentangkan diri. Pegangannya memang kuat, tapi tak cukup kuat sehingga ia bisa meloloskan salah satu kakinya sembari membalikkan diri.

Segera setelah dia benar-benar keluar dari kubangan jebakan, kaki Hikram yang bebas dari pegangan menjejak dengan kekuatan penuh. Si penculik kaget, pegangannya kacau oleh serangan kaki Hikram karena ia sibuk menangkis. Hikram sendiri segera bangkit sementara perhatian si tanpa-jenggot teralihkan oleh noda lumpur yang mengganggu tangannya, hasil dari jejakan Hikram.

Hikram segera melancarkan tamparan pada telinga menggunakan kedua telapak tangannya, yang berfungsi untuk mengacaukan pendengaran pria didepannya ini. Hikram mengira serangannya akan kena, tapi pada saat kesempatan terakhir si tanpa-jenggot berhasil menangkis lagi.

Tak terintimidasi oleh kemampuan si tanpa-jenggot yang dengan cekatan selalu menghalau serangan, Hikram menggerakkan lengan kirinya untuk menyingkirkan lengannya yang menghalangi, kemudian secepat kilat menyambung dengan cekikan yang dieksekusi dengan sukses. Si penculik berusaha melepaskan tangan Hikram yang menjerat lehernya, memukul dan terus memukul tapi tangan Hikram terlalu kuat untuknya. Perlahan tapi pasti Hikram mulai mengangkatnya sampai kaki si penculik menjejak-jejak mencari pijakan.

“Pada akhirnya kau tetap melaksanakan perintahku,” Sidya berkata puas sembari bertepuk tangan pelan, membuat amarah Hikram tambah menggelegak. Ia melempar si tanpa-jenggot yang mulai benar-benar sesak napas, membuat ia jatuh telentang di lantai hutan yang penuh daun kering.

Hikram berpaling pada Sidya dengan ganas. “Aku tidak mematuhi siapapun kecuali diriku sendiri, Bangsawan Cilik. Apa maumu sehingga menyuruh dua pengawal untuk berpura-pura menjadi penculik? Bahkan aksimu telah terlampau jauh, sampai-sampai menutup jalan dengan batang kayu. Tak tahukah kau banyak kesulitan yang disebabkan oleh perbuatanmu?”

Sunyi sejenak, hanya terdengar gemerisik angin yang membelai daun-daun ditingkahi suara si tanpa-jenggot yang sedang mengatur jalur napasnya yang sempat terhambat.

“Y-Yang Mulia,” si penculik muda bicara terbata. Ia tak membantu, karena badannya sudah terlalu gemetar akibat luka robek yang pasti dideritanya akibat kelakuannya sendiri. Dia menggenggam pecut dengan kedua tangan sembari mundur selangkah seolah sedang menggenggam sebuah jimat yang menjamin keselamatan. “D-Darimana dia bisa tahu kalau kami berdua—?!”

“Tentu saja aku tahu!” Hikram membentaknya, membuat si penculik palsu menjengit begitu mendengar suaranya yang keras, “aku baru sadar, ternyata bocah ini menggunakan ilmu Titah. Supaya ilmu tersebut berfungsi, seseorang harus patuh pada undang-undang yang disusun dari kumpulan sabda Kaisar Pertama. Mana mungkin kumpulan penyamun asli menurut pada aturan-aturan bodoh itu? Lagian aktingmu sama sekali tidak meyakinkan. Konyol sekali kalau menyuruhku untuk mempercayai semua ini, Bangsawan Cilik.”

Sidya tersenyum lebar. Hikram tidak terkesan sama sekali, karena ia tahu gestur itu pasti palsu belaka. Kau berharap terlalu banyak kalau ingin melihat ketulusan dari seorang bangsawan, meskipun ia masih bocah sekalipun.

“Hebat, kuat, cerdas pula. Tadinya aku sempat cemas dan mengira kau hanya seorang pelawak yang kesasar. Baiklah, sudah kuputuskan. Angkat aku menjadi muridmu, Guru!”

Kedua alis Hikram terangkat oleh pernyataan bombastis dan diluar nalar itu. Jadi, semua akal-akalan ini hanya agar si bocah mendapatkan seorang guru silat?

“Kau memblokade jalanan hanya untuk mengetes satria kelana yang kebetulan lewat?”

“Benar!”

“Bukannya setiap istana memiliki para Ksatria Flamboyan yang ahli beladiri? Minta ilmu pada mereka, beres sudah.”

Sidya menggeleng, senyum palsunya yang menyebalkan belum juga luntur. “Tak ada ksatria yang sehebat dirimu, Guru! Tak ada dari mereka yang mampu mengalahkan pengawal istana kurang dari sepuluh jurus! Kumohon angkatlah aku menjadi muridmu!” Berlainan dengan bocah dari kalangan biasa yang sepatutnya memohon untuk dijadikan anak didik dengan cara berlutut, bahkan menyembah, si putri masih berdiri tegak. Sombong sekali.

“Aku tak menerima murid. Berhenti memanggilku guru,” Hikram menjawab pendek sambil melangkah mundur. Tentu saja ia berhati-hati agar tidak masuk ke kubangan pelicin lagi. Ia sudah cukup mendapat asupan lumpur untuk sehari ini, dan pakaian serta celananya yang mulai kering dapat menjadi saksinya.

“Aku akan melaksanakan semua perintahmu, Guru! Apa saja!”

Hikram berhenti bergerak dan memastikan pernyataan si putri, “Semua perintahku? Benarkah? Kau juga mau menerima nasehat dariku, apapun itu?”

Sidya cepat-cepat mengangguk. Ia sampai melonjak-lonjak sedikit, mengira bahwa keinginannya akan segera terkabul. 

“Baik, kuangkat kau menjadi muridku. Perintah pertama dan terakhir dariku: pulanglah ke istana.”

 Sidya membuka mulut untuk bicara, tapi Hikram mengangkat tangannya untuk menghentikan Sidya yang ingin menyela. “Aku juga punya wejangan untukmu. Jangan khawatir, nasihat yang akan kusampaikan tak akan makan waktu lama. Kuberikan beberapa yang kuanggap paling penting. Pertama, jangan melakukan sesuatu yang membuat rakyat kecewa. Memblokir jalan, contohnya. Tak tahukah kau bahwa ada satu petani yang tak berani pulang karena mengira bahwa gelondong kayu yang menghadangnya dipasang oleh para penyamun?”

Sidya terpaku di tempat, alisnya makin lama makin bertaut sementara Hikram meneruskan kuliah dadakannya dengan suara datar. “Pelajaran kedua, jangan sembarangan menggunakan ilmu Titah hanya karena kau bisa melakukan itu. Pelajaran ketiga dan terakhir, adalah perbuatan nista menyuruh seorang pria untuk merusak penampilannya sendiri,” Hikram melirik pengawal Sidya yang ia cekik tadi, yang kini telah bangkit dan mengelus-elus lehernya, bekas cekik berwarna merah masih nampak di situ. “Terutama memotong jenggot. Jenggot sangatlah penting bagi seorang pria dewasa.”

Hikram mengelus jenggotnya sendiri untuk membuang lumpur yang menempel, kemudian membalikkan badan sambil melambaikan tangan.

“ Nah, itu yang terakhir dariku. Dengan ini kunyatakan kau sudah bukan muridku lagi. Selamat tinggal, Bangsawan Cilik.”

Hikram pergi cepat sambil tak henti-hentinya menggelengkan kepala, sembari kedua tangan mencoba untuk setidaknya sedikit membersihkan diri dari lumpur yang sangat lembab dan baru ia sadari, sangat bau ini. Ia benar-benar tak tahu jalan pikiran bocah bangsawan jaman sekarang. Seingatnya para bangsawan segenerasinya dulu tak seburuk itu. Paling cuma memberikan makanan yang sudah diselundupi cabai super pedas pada para pembantunya, atau memotong gaji mereka kalau tak bisa menjawab tebak-tebakan iseng yang sangat sulit, atau menyuruh mereka mencari benda yang tak pernah ada. Sok ngetes satria kelana jauh lebih buruk dari semua itu, ‘kan?

Lamunan Hikram berhenti begitu ia sampai di pohon jati kembar serupa gapura. Telinganya menangkap suara berkecipak. Dominan terdengar seperti bunyi kayu yang digeret menggesek tanah basah. Ia juga baru sadar akan adanya obrolan dan tawa dari arah jalan.

“Dasar tentara penjaga gerbang yang lamban. Lama sekali dan mereka baru memindahkan kayu itu. Coba kalau urusan duit, mereka akan bergerak cepat bukan main,” Hikram menggerutu seorang diri.

Hikram tak sadar bahwa bangsawan cilik yang keras kepala itu sedang menguntitnya. Celakanya, si putri kecil mendengar omongannya itu. Si putri yang cerdas dengan cepat paham maksud gumaman Hikram. Ia segera menyambar, membuat Hikram menoleh kearahnya, “Aha! Ternyata kau memanggil para tentara dari kotaraja. Awas saja, akan kukatakan bahwa aku sedang diganggu dan dirampok oleh seorang pengembara!”

Kekagetan si pesilat langsung digantikan amarah. Ia berbalik, kedua kepalan dipinggang dan berkata padanya,”Hei, aku tak melakukan apapun padamu! Jangan seenak perutmu sendiri melaporkanku! Kau tak tahu aku ini mantan jawara? Kesaksian anak bangsawan berpangkat rendah dan masih bocah sepertimu tak akan bisa menjeratku!”

 “Maaf,” si penculik palsu yang ikut menyusul dengan takut-takut mulai nimbrung, “tapi Tuan Putri bukan anak dari bangsawan berpangkat rendah. Beliau putri kandung dari Kaisar Syaimdra, sekaligus pewaris tahta satu-satunya.”

Seperti ada yang menyedot darah dari wajah Hikram menilik betapa pucatnya ia sekarang. Terang saja ia ngeri. Opininya tak akan berpengaruh kalau memang benar bocah didepannya ini putri kaisar sendiri. Demi Kahyangan dan segala isinya, ia bahkan bisa disebut sangat beruntung kalau masih mendapat kesempatan diadili dan tidak dilempar langsung ke penjara bawah tanah atau dieksekusi.

Sementara itu, senyum Sidya yang sempat dipunahkan oleh Hikram kini kembali, bahkan meningkat menjadi seringai yang menjanjikan kelicikan. Tangannya bersedekap dan ia bicara pelan hampir berbisik, “Ya, bangsawan cilik di depanmu ini adalah Ayusidya Hanseira Apashu Siauliong Nagarta Nagart yang asli, bukan putri satu dari sekian banyak bangsawan minor yang ikut-ikutan menamakan anaknya ‘Sidya’ agar mirip dengan nama putri kaisar. Baru tahu, rupanya. Jadi, kau mau menerimaku menjadi muridmu dan meneruskan memberikan wejangan keempat ditambah dengan pelajaran beladiri, atau terpaksa kupanggil para tentara untuk memenjarakanmu?”

Sidya menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan antusias, kemudian melanjutkan ketika Hikram hanya bengong padanya, “Seingatku tak ada hukuman potong jenggot bagi mereka yang mengganggu putri kaisar, Guru. Yang ada hanya hukuman potong kepala. Jadi, sudahkah Guru mengambil keputusan?”

---