Episode 54 - Winner Celebration



Di rumah menara Franquille.

"Oke, makanan siap." Kildamash menyasikan sup yang lebih terlihat seperti bubur tawar berwarna hijau.

"Ini bukan sup kan ayah?"

"Hah? Bicara apa kamu, ini sup."

"Kalau yang begini sih namanya bubur, bukan sup." 

"Begitu ya... haha, aku benar-benar tak tahu soal memasak."

"Ayah bahkan lebih parah, nama makanannya saja tidak tahu." Alzen mengambil sendok dan mengambil sup yang ternyata bubur tawar itu. "Oke aku coba ya..."

Alzen menjulurkan lidah dengan sup hijau kental melumuri mulutnya. "Hoekk... gak enak seperti biasa." 

"Hahaha... makasih loh, pujiannya."

Alzen ikut tertawa "Hahaha... aku tidak sedang memuji ayah." balas Alzen dengan senyum lebar. "Tapi aku tetap akan makan kok." katanya sambil memakan sup yang ternyata bubur itu lagi. "E... enak... uhugg! Uhuggg! Hahaha!"

"Sudah tak perlu berpura-pura begitu. Aku juga tahu kok masakanku tidak enak." Kildamash perlahan duduk di hadapan Alzen dan mencentong seporsi sup yang ternyata bubur itu. "Apa yang kamu alami disana? Hap..." Mereka berdua berbicara empat mata di atas meja bulat yang terbuat dari kayu. Tanpa kursi dengan di sekelilingnya dipenuhi rak buku. "Aku tak sabar mendengarnya langsung darimu." katanya dengan tersenyum.

"Banyak! Banyak sekali yah!" kata Alzen antusias sambil memegahkan tangannya. "Dari hari pertama aku sudah dibuat kagum dengan kotanya. Betul-betul kota yang sangat sihir sekali! Ayah mengerti maksusdku kan Dan lagi... Kami banyak belajar di luar kelas, banyak praktek sihirnya ketimbang cuma duduk diam di kelas. Guru-ku Lasius juga orangnya sangat energik, menyenangkan meski sering agak seenaknya sendiri. Kami juga boleh beda pendapat dengan guru-nya dan cenderung lebih dipancing berpikir di awal sebelum di koreksi nantinya. Aku benar-benar bahagia belajar disana, ayah."

"Hehehe... senang mendengarnya." balas Kildamash tersenyum, dagunya bersandar di tangan kanannya dan senantiasa mendengar kata-kata Alzen yang diucapkan dengan nada semangat.

"Meski kita disana belajar dengan sangat keras, meski lelah, aku tak pernah merasa jenuh sedikitpun. Benar-benar tidak. Kamar asramanya juga bagus sekali! Aku sekamar dengan temanku yang bernama Chandra Wang." dan Alzen terus menceritakan yang ia alami disana sebanyak yang ia bisa ingat. Ia juga bicara tentang Ignis, Leena, Joran hingga Nicholas dan pengalaman turnamen teman-temannya. Semua yang ia alami disana, di ceritakan panjang lebar di hadapan ayahnya.

Beberapa saat kemudian,

"Sampai akhirnya, aku bisa menang juara 2 di turnamen tahunan Vheins itu. Aku benar-benar tak menyangka. Aku kalah tipis dengan Nicholas Obsidus. Tapi aku puas sama hasilnya. Sungguh! Aku puas." kata Alzen dengan senyum sukacita.

"Hehehe... begitu ya," balas Kildamash yang bersukacita melihat anaknya begitu bahagia. "Padahal Vheins yang dulu tak sebagus itu loh..."

"Ohh iya... aku dengar dari ibunya Leena. Ayah dulu pernah sekolah di Vheins? Apa itu benar?" tanya Alzen penasaran sambil pelan-pelan menghabiskan makanannya yang tidak enak itu.

"Ibunya siapa? Leena? Leena yang kamu ceritakan tadi?"

"Leena Leanford, nama ibunya,. Marian Leanford. Ayah kenal dengannya kan?"

"Aaaa...!!?" Kildamash terhentak kaget hingga tak sengaja menendang bagian bawah meja dengan dengkulnya. "MA-MARIAN !!?" ekspresi Kildamash terlihat seperti kaget dan gelisah sekali. "Di-dia masih di Vheins sekarang!?"

"Jadi itu benar ya?" Alzen membalasnya dengan menyipitkan mata. "Ayah dan ibunya Leena dulu seangkatan?"

"Iya, iya, iya... itu benar adanya." Kildamash langsung merasa gugup. "Di-dia bilang apa ke kamu?!" 

"Dia bilang kalau ayah dulu, juga pernah belajar di Vheins, katanya dia... Ayah culun."

"Aaaa... la... lu?"

"Dia juga bilang, ayah suka sembunyi-sembunyi di bawah tanah untuk sekadar baca buku yang melebihi batas pinjam di perpustakaan."

"Hah... memang dia itu," Kildamash menghela nafas. "Cuma ingat yang jelek-jeleknya saja. Manusia sulit berubah ya... dia masih orang uang sama seperti dulu."

"Jadi itu juga benar?" Alzen mencoba memastikan.

"Be-benar... tapi baru separuh cerita." kata Kildamash. "Separuhnya lagi, karena Vheins dulu masih payah, sebelum Vlaudenxius yang terhormat itu menjabat. Vheins adalah sekolah sihir besar yang sangat kuno. Dipegang kepala sekolah yang sangat cinta akan uang dan tak terlalu peduli akan kemajuan sihir. Sekolah yang sangat besar, dengan alokasi dana yang tak main-main, secara terang-terangan di korupsi tanpa ada seorangpun berani mengambil tindakan. Tapi... berbeda dengan jaman Vlaudenxius sekarang. Semua talenta didudukung disana."

"Be-begitu ya..." Alzen terdiam sejenak. "Aku tak tahu soal itu."

"Itu sudah kisah lama, lagian aku juga sudah 20 tahun lalu bersekolah di Vheins. Sudah lama sekali." ucapnya dengan tatapan lemas, mengingat masa lalunya yang kurang begitu baik. "Sejak aku pertama kali belajar di Vheins, entah kenapa, aku sudah lupa alasannya... kecintaanku pada sihir, selalu terfokus pada cabang ilmu Alchemy. Padahal disana bukunya ada, fasilitas lengkap. Tapi aku menyayangkannya, karena pada waktu itu hanya sedikit yang berminat pada materi itu. 

"Kenapa begitu?"

"Entahlah, yang aku lihat, semuanya berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat dalam sihir bertarung. Semua fokus pada peperangan dan dungeon." jawab Kildamash. "Hingga akhirnya, fasilitasnya jadi tidak terawat, aku juga jadi harus curi-curi waktu dan baca banyak buku secara illegal di bawah tanah. Seperti yang Marian katakan padamu. Lalu aku jadi sering bolos kelas dan di pandang sebagai pelajar yang kurang baik. Padahal nilaiku bagus terus karena permasalahannya sudah aku kuasai. Namun yah... begitu. Vheins kala itu masih terlalu konvensional. Guru-guru yang dendam padaku karena jarang masuk juga dengan teganya memberiku nilai nol. Vheins dulu adalah sekolah sihir tertua dengan pemikiran yang benar-benar tua."

"Jadi begitu ya..." kata Alzen. "Meski aku tanya terus, baru sekarang ayah cerita yang sebenarnya."

"Haha... maaf-maaf, masa lalu biarlah berlalu saja. Ayah tak punya banyak kenangan bagus di masa muda. Tapi Ayah senang, kamu jauh lebih bahagia dari ayah saat itu di usiamu yang masih segini."

"Lalu satu lagi," tegas Alzen. "Cerita soal ayah aku dengar dari seseorang Butler tua bernama Richard, di rumah mewah tempat temanku tinggal." kata Alzen. "Waktu mendengar nama Franquille, dia langsung teringat dengan nama Kildamash Franquille, ayahku sendiri. Dia bilang, dia tinggal di tempat yang jauh dari benua Azuria. Dan ia mengenali ayah sebagai pembuat Potion paling terkenal disana. Apa itu benar?"

"Kau sendiri menyaksikannya kan?" balas Kildamash. "Ahh mungkin kamu tidak begitu ingat, kita dulu pernah tinggal di sana... meski kamu waktu itu masih terlalu kecil untuk mengerti. Tapi karena suatu musibah, kita berakhir disini. Di Azuria."

"Sewaktu ibu masih bersama kita ya?" kata Alzen tertunduk murung.

"Iya... sewaktu ibu masih bersama kita." Kildamash-pun bertingkah sama dengan Alzen.

Dengan kepala tertunduk murung, Alzen tiba-tiba bertanya. "Di atas sana, ayah sebenarnya meneliti apa sih?"

"Ahh itu... ohh iya... Aku lupa sesuatu! Sebentar ya..." Kildamash langsung beranjak pergi.

"Duh... begitu lagi," gerutu Alzen. "Setiap kusinggung soal itu, ayah selalu menghindar."

***

Alzen beranjak keluar, menikmati deru angin di atas bukit di siang bolong. Suhunya panas sekaligus sejuk. Alzen menggendong kucing putih bernama Al dan membawanya berjalan-jalan sejenak, menuju batu di dekat sungai, tempat ia dan Aldridge dulu berjanji. Alzen duduk sejenak disana, beralaskan rerumputan hijau yang bergoyang-goyang sambil mengelus-elus kucing di pangkuannya.

"Baru 3 bulan... Tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Banyak yang aku alami, begitu juga kamu. Aldridge." gumam Alzen, mengingat-ingat kejadian itu. "Dan di batu ini... dulu kita berjanji, meski rasanya, kurang begitu berhasil ya?"

Alzen membaca tulisan dari pahatan di batu. "Aldridge & Alzen akan kembali ksini (Dicoret) KESINI. Hee? Ada tulisannya lagi?" lalu Alzen membaca kalimat di bawahnya. "Dan masih menunggumu disini – Aldridge."

Seusai membaca tulisan itu, Alzen langsung tertunduk, dan mengucapkan kalimat dengan suara kecil. "Ya Aldridge, akupun juga menunggumu disini. Sayang kita belum bertemu.

***

Malam hari... hari kedua liburan setelah turnamen. Di salah satu restoran besar yang berada pada Emerald District, kota Vheins. Di sana, Nicholas merayakan kemenangannya bersama para pendukungnya, sebagaian besar yang hadir adalah anak dari kelas Stellar selain mereka yang belajar sihir cahaya, anak-anak Terra dan beberapa bagian kecil dari kelas lain. Beberapa anak Ignis juga ikut serta disana. Total yang datang kesini,ada hampir 150 orang hadir.

"Nicholas! Pemenang sejati!"

"Nicholas! Pemenang sejati!"

"Nicholas! Pemenang sejati!"

Puja para pendukungnya, sambil duduk di balik meja makan yang berisi makanan-makanan mewah. Nicholas dipuja bagaikan pahlawan yang telah memenangkan pertempuran hebat. Ia berdiri di tengah-tengah barisan meja yang membentuk huruf U, dengan piala dari logam berwarna emas, ia mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di meja bagian kanan atas huruf U. Sinus dan Velizar menyantap hidangannya.

"Mantap jiwa lah Nicholas, makanan begini bisa abis berapa duit nih?" kata Sinus yang sudah bernafsu sekali menyantap setiap makanan disini. "Hmm... lezatos!"

"Menjijikan..." ucap Velizar datar. "Air liurmu di-lap dulu tuh..."

"Kau benar-benar ajaib ya," balas Sinus sambil melahap ayam kalkun besar di piringnya. "Di depan makanan semahal ini, kau masih juga bersikap biasa saja. Kapan sih, sekali-kali kau terlihat bahagia gitu?"

"Yah..." Velizar menghela nafas. "Makanan murah, makanan mahal. Keluarnya juga sama saja."

"Asem lu!" sahut Sinus. "Lagi makan, ngomongin begituan. Tuh pedang taruh dulu. Apa kamu makan pakai pedang itu?"

"Tidak juga... ini membuatku nyaman saja." katanya sambil memeluk pedang katananya.

"Terserah deh... aaa CRAUGH! RAUGH! Nyem, nyem, nyem!" Sinus memakan dengan cepat dan bersemangat. "CRAUGH! RAUGH! Enak banget!" 

Kemudian Velizar mencoba menyantap sepotong steak mewah.

"Hap..." Velizar merasakan daging itu di mulutnya. "Biasa saja..." ucapnya datar.

Sinus menyembur makanannya. "Pufffftt... !!?"

Di samping kanan Sinus, di ujung kanan atas huruf U, Instruktur mereka, Volric. Hanya duduk gelisah, melipat tangannya dan menhentak-hentakkan kakinya ke tanah, tidak makan sedikitpun dan tampak cemas sekali.

"Duh... gimana nih ya? Anak itu, tidak hadir juga ke acara ini?" kata Volric yang terlihat parno. "Lantas, dimana anak itu pergi? Sudah kucari-cari seharian ini, masih belum ketemu juga."

"Velizar, Sinus. aku kebelakang dulu ya." kata Volric yang beranjak pergi.

"Loh? Kenapa pak? Belum juga makan, sudah mules." balas Sinus yang melihat piring Volric masih bersih, belum tersentuh.

"Aku ada urusan, sampaikan pada Nicholas, aku pulang duluan." kata Volric cemas.

Sementara itu, di meja lain, di meja bagian kiri tengah huruf U.

"Benar-benar rasa sebuah kemenangan." kata Bartell.

"Hei biksu! Kamu bukannya tidak boleh makan daging?" singgung anak Umbra di sampingnya.

"Pengecualian untuk hari ini... hari kemenangan Nicholas! Dendam Joran terbalaskan! HWOO !!"

"Halah alesan saja. Dasar biksu gadungan."

Di meja bawah tengah huruf U.

"Dasar manusia-manusia bermental kere." ucap Luxis dengan suara pelan. "Mentang-mentang gratis, ambil makanannya sampai begitu. Bukankah mereka yang bisa sekolah disini harusnya orang-orang kaya saja? Tapi sifatnya... haduhh... ambil makanan sebanyak-banyaknya gitu."

"Hmm... nyam... nyam... nyam... e-enak! Makanan dari superstar ini, benar-benar enak sekali!" sahut Fhonia sambil makan secara cepat dan berantakanan, memakan setiap hidangan yang tersedia dekat mejanya. "Loh, Luiz, kamu tidak mau makan?" tanyanya dengan mulut cemong.

"Nanti saja, nafsu makanku sedang hilang." balas Luiz, seorang pria besar berambut coklat terang dan matanya selalu terlihat tertutupi. Sedari tadi, ia hanya melipat tangannya dan melihat-lihat sekelilingnya. Seperti sedang mencari seseorang.

Di meja sudut kiri bawah huruf U, dua anak Ignis makan dengan sembunyi-bunyi.

"Hei! Kau kan anak Ignis? Ngapain ada disini?" tanya salah seorang anak Umbra berambut dan berpakaian hitam, namanya Koblenz. "Kalian supporter si pecundang Alzen itu kan?"

"Alzen? Hah!" balasnya sambil menghempas tangannya. "Dia kalah sama Nicholas! Dia payah! Nicholaslah pemenang sejati! Nicholaslah pemenang yang sesungguhnya!" kata seorang anak Ignis pria namanya Krag.

"Aku setuju!" sambung anak Ignis di sampingnya, yang satu lagi, seorang perempuan, namanya Eris. "Alzen hanyalah pencundang!"

"Bagus-bagus!" Koblenz bertepuk tangan pelan-pelan. "Kau betul-betul tahu siapa juaranya." Koblenz beranjak naik, tangan kanannya langsung diselimuti Aura hitam. "Dark Force !!"

Syuuuusshhhh !!

"Uggh.... UAGGGHHH !!"

DUARRR !!

Krag terpental oleh tekanan sihir itu. Hingga membentur tembok.

"Huh?! Dasar penyunsup." kata Koblenz dengan sangat yakin.

***