Episode 221 - Anak Dalam



Kelima remaja melangkah dalam hening. Tiada satu patah kata pun yang terucap dari anggota regu yang baru terbentuk ini. Sebagai catatan, di antara para putra dan putri bangsawan ini, perawakan Bintang Tenggara sangatlah menonjol sekali, seperti jerawat yang memerah dan menyembul di permukaan wajah. Bagaimana tidak, kempat remaja lain berkulit sangat cerah, sedangkan Bintang Tenggara terlihat sedikit lebih gelap. Sungguh ironis, kala berada di Pulau Paus, Bintang Tenggara justru dianggap berkulit tubuh terang dibandingkan anak-anak lain di dalam dusun. Meski tak berkulit secoklat Ibunda Mayang, Bintang Tenggara tetap terlihat mencolok karena perbedaan warna kulit dengan anggota regu yang lain. 

Balaputera Ugraha terlihat tenang. Meski sebelum ini ia ditampar keras oleh kepala keluarganya sendiri, tiada hinggap barang seberkas pun penyesalan atau kekhawatiran yang terbersit dari raut wajahnya. Padahal, usai penugasan nanti, di kala pulang kembali ke Kadatuan Kedua pastilah ia akan menerima ganjaran hukuman karena dianggap bertutur lancang kepada sang Datu Besar. 

Balaputera Ardhana telah melontar ultimatum bahwa ia tak hendak menjalin hubungan yang sifatnya pribadi dengan setiap satu anggota regu. Dengan demikian, ia pastinya tiada akan membuka mulut bilamana tak perlu. Terkait dirinya yang dikalahkan oleh Bintang Tenggara di dalam Tugu Ampera Barat, ia tiada merasa dipecundangi karena sampai saat ini pun tidak mengakui kekalahan tersebut. Ia mengetahui pasti bahwa tenaga dalam Bintang Tenggara telah tiris sesaat sebelum dirinya terpaksa meninggalkan dimensi ruang berlatih itu. Oleh sebab itu, dirinya sangat yakin dan percaya bahwa entah menggunakan cara apa, anak remaja itu melakukan kecurangan!

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita, saling mewaspadai. Hanya dengan lirikan mata, masing-masing mengukur gerak-gerik satu sama lain. Jikalau salah satu dari kedua gadis belia bersuara barang sepatah kata, maka yang satunya akan menanggapi dengan cara dan nada sepedas mungkin. Pertarungan antara gadis belia sulit ditakar kedalamannya!

Sungguh keadaan yang sangat baik, bahkan mendekati sempurna, batin Bintang Tenggara. Dirinya memang tiada terlalu suka berbasa-basi. Lagipula, begitu penugasan ini rampung, maka mereka akan kembali seperti sedia kala, yaitu para pesaing di dalam Hajatan Akbar Pewaris Tahta. 

Terlepas dari hubungan yang kurang akur, kelima remaja bertekad untuk menyelesaikan penugasan ini. Imbalan dalam bentuk poin dari perguruan sangatlah bermanfaat. Di saat yang sama, pengabdian mereka sebagai bangsawan muda akan memperoleh pengakuan dari Kemaharajaan sesuatu yang selalu menjadi tujuan setiap bangsawan muda dalam meraih simpati sang penguasa dan rakyat jelata. 

Gerbang dimensi ruang membawa kelima remaja tiba ke dalam wilayah sebuah benteng di tengah hutan. Kehadiran mereka disambut oleh kepulan asap yang membumbung tinggi. Ledakan bercampur baur dengan teriakan menggema di kejauhan. Bau darah membaur dengan aroma ramuan membuat sesak di dada. Meski hari baru beranjak siang, suasana di dalam benteng temaram seolah malam yang begitu mencekam.  

Sejumlah prajurit berlarian hilir dan mudik. Ada yang membawa senjata, ada yang membawa ramuan obat-obatan, ada pula yang mengangkut dan membopong prajurit lain yang berlumuran darah. Mereka seolah mengabaikan kehadiran lima remaja utusan dari Perguruan Svarnadwipa. Satu hal penting yang menyita perhatian para prajurit, adalah tugas utama mereka dalam mempertahankan kelangsungan benteng. 

Suasana hiruk pikuk ini cukup membuat Bintang Tenggara terkesima. Ia tiada pernah terlibat dalam suasana peperangan. Apalagi, keadaan di Ibukota Minangga Tamwan sangatlah aman dan tenteram. Terlepas dari perang dingin di antara beberapa Kadatuan, tiada yang sampai melibatkan pertumpahan darah karena para bangsawan dilarang keras saling membunuh. Sungguh suasana yang bertolak belakang di antara kedua tempat tersebut. 

“Selamat datang, wahai murid-murid dari Perguruan Svarnadwipa.” Akhirnya, seorang lelaki dewasa datang menyambut kehadiran mereka. Pakaian resmi yang ia kenakan sedikit berantakan, kemungkinan karena sangat sibuk dalam upaya mempertahankan benteng sehingga tak begitu memperhatikan penampilan. Kedatangannya dibarengi oleh beberapa prajurit pengawal.

“Perkenalkan… diriku adalah Senopati Ogan Lemanta, penanggung jawab atas benteng ini.” Lelaki dewasa itu memperkenalkan diri, sambil membungkukkan tubuh. Wajahnya terlihat sedikit gusar, mungkin karena keadaan benteng yang sedang terjepit. 

Senopati merupakan jabatan militer di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Seorang senopati mengepalai sejumlah prajurit, atau dalam konteks ini sebuah benteng pertahanan berukuran sedang, yang menampung lebih kurang dari 1.000 prajurit. Meski merupakan seorang lelaki dewasa dengan jabatan militer dan berada pada kasta keahlian yang lebih tinggi, di kala berhadapan dengan para bangsawan Wangsa Syailendra yang merupakan utusan dari Perguruan Svarnadwipa, sang Senopati wajib memberikan hormat sebagaimana layaknya abdi negeri. 

Mendapati bahwa benteng ini hanya dikepalai oleh seorang senopati, Balaputera Ugraha yang berasal dari Kadatuan Kedua, segera dapat menyimpulkan situasi di lapangan. Sedari kecil ia memang telah dibekali dengan pengetahuan seputar struktur pemerintahan, sebagai persiapan dalam mengemban tugas sebagai penyelenggara pemerintahan. Walau, dari pembawaannya, tiada terbersit bahwa ia cukup ambisius bila dibanding anggota keluarga yang lain. 

“Utarakan situasi terkini,” ujar Balaputera Ardhana. 

“Serangan datang mendadak. Gempuran demi gempuran menggetarkan formasi segel pertahanan. Menurut hemat hamba, formasi segel yang melindungi benteng ini paling lama hanya akan bertahan sampai sehari-dua lagi.” 

Senopati Ogan Lemanta kemudian mengarahkan kelima bangsawan muda meniti anak tangga menuju menara pengawas benteng. Ia berniat menunjukkan denah benteng secepatnya. Benteng tersebut berbentuk persegi, yang keempat sisinya merupakan pagar kayu nan tinggi, keras dan tebal. Di dalam benteng terdapat beberapa barak, balai pengobatan, gudang persenjataan, gubuk perbekalan, kantor, serta beberapa bagunan lain terbuat yang dari kayu.

Di sisi luar benteng, terdapat wilayah terbuka sejauh kira-kira sepuluh langkah kaki, sebelum hutan rimba. Bintang Tenggara mendapati kubah besar yang menjadi segel pertahanan di batas luar pagar benteng tersebut. Segel pertahanan adalah lumrah adanya. Perguruan besar, kerajaan, bahkan saudagar kaya dapat memanfaatkan jasa perapal segel untuk membangun segel sejenis demi melindungi wilayah kekuasaan mereka. 

Di sisi luar formasi segel pertahanan, Bintang Tenggara menyaksikan puluhan manusia bersama binatang siluman menyerang tirai formasi segel dimaksud. Semangat mereka menggebu, berupaya mengoyak dan masuk menyerbu. Beberapa yang dapat membuka celah, segera melompat dan mengamuk membabi buta. Namun demikian, ketibaan mereka segera dihadang oleh prajurit yang bersiaga. Pertarungan jarak dekat pun tak terhindarkan dan berlangsung sengit. Walau para prajurit lebih terkoordinasi dan lebih siap menahan gempuran, korban terus berjatuhan dari kedua belah pihak. 

“Siapakah mereka?” gumam Bintang Tenggara pelan. 

“Penduduk asli yang menempati dunia paralel ini,” jawab Balaputera Sevita yang berdiri di dekatnya. “Sekira lima ratus tahun lalu, di kala Kemaharajaan Cahaya Gemilang hijrah, mereka telah terlebih dahulu bertempat tinggal di sini. 

“Penduduk asli…?” Bintang Tenggara baru menyadari akan sebuah kenyataan terkait keberadaan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kemaharajaan tersebut tiada hijrah ke dunia paralel yang tak berpenghuni!

“Kau seharusnya lebih tekun mempelajari sejarah Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” sela Balaputera Citaseraya, setengah mencibir. “Mereka adalah suku tak beradab yang dikenal sebagai suku Anak Dalam.”

“Kita perlu segera melakukan persiapan dalam menyusun formasi segel pertahanan yang baru,” ujar Balaputera Ugraha. “Semakin lama kita bersantai, maka akan semakin banyak korban yang berjatuhan… dari kedua belah pihak.”

Kelima remaja lalu bergegas meninggalkan Senopati Ogan Lemanta di menara pengawas. Lelaki dewasa itu mempersilakan, walau kegusaran belum kunjung surut dari raut wajahnya. Demikian, sang Senopati membiarkan regu yang terdiri dari lima bangsawan muda tersebut melangkah menuju pusat benteng. Dari menara pengawas, diketahui bahwa terdapat sebuah lapangan terbuka berukuran sedang, yang tak banyak dilalui oleh para prajurit, karena kegiatan mereka terpaku di sisi-sisi benteng pertahanan.

“Awasi mereka….” Sang Senopati berbisik kepada bawahannya.


“Tempat ini sesuai untuk berlatih…” Balaputera Ugraha berujar cepat. Entah mengapa, tetiba ia terkesan sangat terburu. 

“Kuharap bahwa kalian sudah memahami formasi segel yang akan kita rapal bersama-sama,” ujar Balaputera Sevita hendak memastikan. “Oleh karena itu, latihan kita ini hanya untuk penyesuaian jumlah tenaga dalam saja.”

“Aku lebih khawatir akan kemampuanmu merapal segel,” cibir Balaputera Citaseraya. 

“Kau…” 

“Jangan berleha-leha. Semakin cepat kita menyelesaikan penugasan ini, maka semakin cepat pula kita kembali ke Ibukota Minangga Tamwan!” hardik Balaputera Ardhana. 

Kelima remaja lalu menyebar. Mereka berdiri dan menjaga jarak sekira lima langkah, lalu membentuk lingkaran berukuran sedang. Bintang Tenggara mulai merapal formasi segel. Ia membuka telapak tangan, dan mengarahkan lengan ke arah samping. Di saat yang sama, ia pun menebar mata hati dan mengalirkan tenaga dalam. Tindakan yang sama juga dilakukan oleh remaja-remaja lain.

Tata cara lengkap penyusunan formasi segel pertahanan ini adalah sesuai dengan petunjuk di dalam gulungan naskah yang diberikan oleh Maha Guru Ketiga Citradama di kala memberi penugasan sehari sebelumnya. Semalaman, Bintang Tenggara telah melahap habis isi di dalam gulungan naskah tersebut. Kini, ia hanya perlu mempraktekkan saja. Sepertinya tidaklah terlalu rumit. 

Simbol-simbol formasi segel lalu berpendar dari telapak tangan kelima remaja secara bersamaan. Perlahan, formasi segel dari masing-masing saling merangkai dari satu remaja ke remaja berikutnya. Semacam jalinan setengah transparan kemudian terbentuk dan mulai menyatu-padu. 

“Ardhana, tenaga dalam yang engkau alirkan terlalu besar,” ujar Balaputera Ugraha. “Gara, imbangi jumlah tenaga dalam Sevita.” 

“Kalian yang terlalu lemah mengalirkan tenaga dalam!” hardik Balaputera Ardhana, dan serta merta jalinan formasi segel yang baru mulai merangkai terburai. 

“Ardhana!” hardik Balaputera Citaseraya geram. 

“Mengapa aku yang harus menyesuaikan dengan kalian!? Mengapa tak kalian yang menyesuaikan denganku!? Lagipula, Ugraha, siapa yang memberimu wewenang untuk berlagak memimpin regu ini!?” 

“Baiklah, kita akan menjadikan jumlah tenaga dalam Ardhana sebagai patokan.” Balaputera Ugraha mengalah. Ia mengabaikan komentar Balaputera Ardhana sebelumnya, agar tujuan berlatih segera tercapai. 

“Cih!” Balaputera Sevita memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja. 

Hari beranjak petang, dan kelima remaja belum kunjung berlatih secara bersama-sama lagi. Secara teori, untuk menyusun formasi segel pertahanan tersebut, mereka nantinya akan berdiri di lima penjuru benteng. Tentunya akan terpisah jarak yang cukup jauh, sehingga tiada dapat melihat satu sama lain. Oleh karena itu, mereka harus berlatih bersama-sama dalam jarak dekat demi membiasakan diri terlebih dahulu. Penyelarasan jumlah tenaga dalam yang dialirkkan dalam merangkai formasi segel pertahanan merupakan prasyarat mutlak.

Sebuah barak prajurit telah dikosongkan dan dibersihkan untuk menjadi tempat tinggal sementara kelima murid tersebut. Sebuah sekat dipasang untuk memisahkan sisi lelaki dengan perempuan. Walau, seharusnya satu sekat lagi dibangun di wilayah perempuan, untuk memisahkan kedua gadis yang sangat tak akur. 

Sampai malam tiba, kelima belum juga melanjutkan latihan bersama. Masing-masing mencari kesibukan sendiri. Balaputera Ardhana tiada terlihat batang hidungnya.

Rembulan malam tinggal setengah dan langit terbebas dari gumpalan-gumpalan awan. Seorang remaja bermandikan cahaya rembulan, dimana ia berpikir dalam diam, mencerna segala kemungkinan yang ada. Sementara itu, di sisi luar benteng, suara teriakan dan ledakan belum kunjung mereda. 

“Apakah yang engkau pikirkan…?” Bintang Tenggara mendekat sambil menyapa. 

“Hm…?” Balaputera Ugraha menoleh, dan melontar senyum tipis. 

“Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal…” sambung anak remaja berkulit tubuh lebih gelap itu. 

“Gara, apa pandanganmu atas benteng ini…?”

“Aku baru menyadari bahwa sesungguhnya Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan penjajah di dalam dunia ini.” 

“Hehe… ‘Penjajah’ adalah kata yang sedikit keras.” Balaputera Ugraha terkekeh mendengar pandangan Bintang Tenggara. “Memang benar bahwa suku Anak Dalam telah mendiami dunia ini sebelum kedatangan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Akan tetapi, tiada kita menjajah. Sebaliknya, kita berupaya merangkul mereka. Walau, secara halus dan terus-menerus mereka menolak upaya tersebut, karena tak hendak menetap dan meninggalkan kehidupan yang dekat dengan alam. 

“Hm…?” Bukankah ini keadaan ini mirip dengan Urang Rawayan di dalam Alas Roban, Bintang Tenggara membatin. 

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang dan suku Anak Dalam hidup rukun berdampingan.”

“Lalu, apakah tujuan membangun benteng pertahanan?”

“Membangun benteng pertahanan adalah demi melindungi wilayah pertanian di luar ibukota. Kau tahu alasan mengapa lima ratus tahun lalu pasukan binatang siluman dan Raja Angkara tak hendak masuk ke dunia Minangga Tamwan?”

Bintang Tenggara tentu tak mengetahui jawaban atas pertanyaan ini. Ia pun menahan diri dari bermain tebak-tebakan. 

“Tak lain adalah karena mereka menghindari bentrokan dengan binatang siluman di dalam dunia ini,” lanjut Balaputera Ugraha. “Nah, dari waktu ke waktu, ada saja binatang siluman yang tersasar ke wilayah pertanian. Inilah alasan mengapa benteng pertahanan diperlukan, yaitu untuk melindungi pemukiman dan pertanian rakyat.”

“Bukan dari serangan suku Anak Dalam?”

“Bukan. Suku Anak Dalam terkenal santun. Bahkan, di saat panen raya tiba, tak jarang mereka keluar dari hutan dan membantu pekerjaan para petani yang kewalahan.”

“Lantas, apakah yang memicu bentrokan yang saat ini berkecamuk?”  

“Hal inilah yang menjadi tanda tanya sejak ketibaan kita ke benteng ini. Kau tahu… 80% penyebab bentrokan antara pihak Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan suku Anak Dalam, disebabkan oleh kesalahpahaman.”

“Jadi, ini yang kau maksud dengan tak menginginkan korban berjatuhan dari kedua belah pihak…?”

“Benar.”

“Bila demikian, mengapa tak kita tanyakan langsung kepada suku Anak Dalam yang sedang menyerang?” 

“Tidak sesederhana itu.”

“Srek!” 

Tetiba Bintang Tenggara dan Balaputera Ugraha mendapati sesosok bayangan berkelebat cepat dari salah satu jendela di sisi barak. Seketika itu juga, Balaputera Sevita melangkah keluar dari dalam barak. Tanpa berkata-kata, ketiganya lalu bergerak mengejar, menelusuri barak lain dan melewati balai pengobatan. 

Mereka kemudian tiba di lapangan tengah benteng. Balaputera Citaseraya terlihat berdiri seorang diri. “Aku kehilangan jejaknya…,” ujar gadis belia tersebut tanpa menoleh. Adalah gadis belia itu yang tadinya melompat keluar dari jendela. 

“Ada yang mengawasi kita!” gerutu Balaputera Ardhana, yang tetiba muncul dari arah berlawanan. Rupanya, ia sengaja tak berada di dalam barak untuk mengamati keadaan. 

“Aku pun akan melakukan hal yang sama…,” tetiba Bintang Tenggara berujar, “bilamana mendapati bahwa utusan Perguruan Svarnadwipa yang sepatutnya merapal formasi segel pertahanan, belum juga menjalankan tugas yang diemban.”

“Kesampingkan harga diri dan kepentingan pribadi. Kita memiliki tugas yang lebih penting, yaitu melindungi benteng ini,” sambung Balaputera Ugraha. Ia memberi isyarat bahwa mereka harus kembali berlatih merapal formasi segel bersama-sama.



Cuap-cuap: 

Sudah beberapa waktu ahli karang nan budiman tiada memeriksa FP Pendekar Bayang. Siapa nyana, betapa terkejutnya ketika membuka inbox dan menyadari menerima pesan dari…