Episode 33 - Bersosialisasi dalam Dunia Persilatan


“Humph... Pasukan Nagapasa. Pasukan khusus dunia persilatan yang ada dibawah pemerintah dunia awam. Aku tidak yakin mereka akan bersedia membatu kita.” tetua Seto menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan keras. 

“Sejak Sekte Pulau Arwah musnah, keseimbangan kekuatan diwilayah bagian barat jawa, termasuk Jakarta, mengalami perubahan besar. Siapa yang tidak tahu Pasukan Nagapasa dan Perserikatan Tiga Racun sedang memperebutkan Jakarta. Aku yakin Pasukan Nagapasa tidak akan menolak bantuan sekecil apapun dalam menghadapi Perserikatan Tiga Racun,” ujar Yanuar.

Semua orang di ruangan tersebut terdiam mendengar penjelasan dari Yanuar. Memang, Sekte Pulau Arwah selaku salah satu dari empat besar kelompok dunia persilatan merupakan penguasa mutlak di wilayah sekitar laut jawa. Namun semenjak sekte besar itu musnah, praktis terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah sekitar laut jawa. Di luar Jakarta, berbagai kelompok juga saling bersaing memperebutkan bekas wilayah Sekte Pulau Arwah. 

“Apa kalian benar-benar yakin hendak melawan Perserikatan Tiga Racun?” om Yosep bertanya begitu pelan, seakan khawatir suaranya terdengar keluar dari ruangan tersebut. 

Yanuar menggelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak, tapi apa kita punya pilihan lain? Cepat atau lambat, Perserikatan Tiga Racun akan menemukan ruang rahasia putri Kinasih jika kita membiarkan mereka beroperasi di wilayah kita.”

Semua yang ada di ruangan tersebut langsung terdiam mendengar perkataan Yanuar. 

“Tapi, bagaimana caranya kita menghubungi Pasukan Nagapasa?” tanya om Yosep lagi. 

“Aku sendiri yang akan mengurusnya,” jawab Yanuar.


***


Sementara para petinggi Kelompok Daun Biru mendiskusikan hasil negosiasi mereka. Di tempat lain, Perserikatan Tiga Racun juga melakukan hal yang sama. Hanya saja suasana diskusi mereka jauh berbeda dengan Kelompok Daun Biru, jika Yanuar dan yang lain begitu tegang dan serius, maka orang-orang Perserikatan Tiga Racun berbincang-bincang dengan santai di ruang kerja Santoso, ketua Perserikatan Tiga Racun.

“Jika mereka tetap ingin berada di wilayah Jakarta, mereka harus memberikan upeti sebanyak tujuh puluh persen keuntungan tiap tahun. Kita juga bebas beroperasi diwilayah mereka tanpa pengawasan apapun.” Lodan mengabarkan hasil negosiasi pada dua orang yang ada dihadapannya.

“Bagus, sekarang mereka tidak akan mengganggu kegiatan kita lagi di tempat itu,” ucap Santoso tenang. 

“Tapi ketua... Kenapa kita harus bernegosiasi dengan mereka dan membiarkan mereka hidup? Kenapa tidak kita ratakan saja mereka dengan tanah?” Lodan tampak kebingungan dengan sikap 

“Humph... Pantas saja Saat ini Pasukan Nagapasa sedang mengawasi di belakang kita. Jika kita menghancurkan Kelompok Daun Biru sekarang, mereka akan menggunakan alasan itu untuk mencari masalah dengan kita.”

“Oh... Aku tidak berpikir sampai sejauh itu,” ujar Lodan sambil tersenyum malu.

“Pantas kau masih berada di tahap pembentukan dasar sampai sekarang Lodan,” sindir seorang lelaki lain yang juga berada satu ruangan dengan Santoso dan Lodan. Dia adalah lelaki yang waktu itu ditugaskan oleh Santoso mengurus masalah Kelompok Daun Biru, namanya Sapta. 

Sapta-lah yang mengutus Lodan bernegosiasi dengan Kelompok Daun Biru. Sebagai pendekar tahap pemusatan energi, Sapta menganggap standar dirinya terlalu tinggi untuk sekedar bernegosiasi dengan sekumpulan pendekar tahap pembentukan dasar dari Kelompok Daun Biru, karena itu dia mengutus Lodan. 

“Lodan, kau boleh pergi.”

Begitu Lodan selesai melaporkan hasil negosiasi, Santoso segera mempersilahkannya pergi dari ruangan tersebut. Lodan langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari ruang kerja Santoso. 

“Pandai juga kau Santoso, menggunakan Pasukan Nagapasa sebagai alasan. Dengan begini, para anggota perserikatan tidak akan mempertanyakan lagi kenapa kita tidak memusnahkan Kelompok Daun Biru. ” 

Begitu Lodan meninggalkan ruangan tersebut, Sapta segera menyandarkan punggungnya ke kursi sambil tersenyum tipis. 

“Apa maksudmu? Pasukan Nagapasa memang sedang mengawasi kita. Meskipun mereka tidak akan berbuat apa-apa jika kita menghancurkan Kelompok Daun Biru, tapi tindakan itu akan mengundang kecurigaan mereka. Akan lebih baik jika kita menggunakan Kelompok Daun Biru sebagai cover operasi kita diwilayah itu,” jawab Santoso sambil terkekeh. “Tentu saja, setelah urusan kita selesai, Kelompok Daun Biru juga akan menghilang dari muka bumi.”

Sapta ikut-ikutan terkekeh mendengar jawaban Santoso. 


***


Setelah ketua Yanuar menyatakan para anggota Kelompok Daun Biru boleh pergi meninggalkan markas, aku memutuskan segera pulang ke rumah setelah selesai berbincang-bincang dengan bang Genta, Arie, dan Yanti. Mengingat sudah berhari-hari aku belum pulang, padahal sebelumnya pulang larut malam saja aku tidak pernah. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana marahnya kedua orang tua-ku saat aku sampai di rumah. 

Dan benar saja, ayah dan ibuku sama-sama meluapkan amarah mereka bahkan sebelum aku masuk ke dalam rumah. Aku hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala saja mendengar omelan panjang mereka. Akhir dari omelan mereka, aku dihukum tidak boleh meninggalkan rumah sama sekali selama liburan kenaikan kelas, yang mana akan berakhir dalam dua hari lagi. Tentu saja aku tak keberatan, mengingat fisik dan mentalku sudah cukup lelah oleh berbagai kejadian selama beberapa hari terakhir.

Dua hari kemudian, aku berangkat masuk sekolah sebagai siswa kelas tiga SMU. Pada hari pertama, kegiatan belajar mengajar lebih banyak diisi dengan perkenalan, baik dengan sesama siswa maupun dengan guru-guru pengajar, mengingat kelas kami kembali diacak pada tahun ajaran baru ini. 

Kawan-kawan baruku tampak antusias berkenalan satu sama lain, meskipun sebenarnya sebagian besar dari mereka sudah saling mengenal. Aku sendiri juga sangat antusias pada hari ini, namun bukan karena tahun ajaran baru maupun perkenalan dengan teman-teman kelas baruku. Tapi karena hal lain, sepulang sekolah nanti, Arie akan mengantarku ke lokasi dimana orang-orang dunia persilatan saling berinteraksi satu sama lain. 

Setelah jam pelajaran terakhir selesai, aku segera pergi meninggalkan kelas paling duluan. Begitu sampai di luar kelas, aku segera membuka smartphone dan menghubungi Arie. Meskipun aku sudah janjian untuk pergi bersama dengannya, namun kami sama-sama tidak menentukan lokasi bertemu. Sehingga aku perlu menghubungiuntuk mengecek posisinya sekarang. 

“Udah pulang Rik?” Suara Arie terdengar dari seberang telephone begitu aku berhasil menghubunginya. 

“Iya Rie, lokasi dimana rie?”

“Di depan sekolah.”

“Depan sekolah?” Aku segera berjalan menuju gerbang luar dan celingukan kiri-kanan. Sesaat kemudian, aku melihat sebuah mobil jeep model lama terparkir tak jauh dari depan sekolah. Begitu pandanganku mengarah ke mobil tersebut, aku segera melihat tangan Arie melambai padaku. 

Aku segera berjalan menuju mobil tersebut dan tanpa ragu segera mesuk ke dalam mobil. 

“Lama Rie nunggunya?”

“Lumayan,” jawab Arie singkat sambil menyalakan mesin mobil. 

“Eh, kira-kira lama nggak nanti Rie?”

“Kenapa emangnya?” Arie balik bertanya padaku. 

“Soalnya orang tuaku melarang pulang malam,” jawabku agak malu-malu. 

Arie tampak terkejut dengan jawabanku, bahkan dia sampai mengalihkan pandangannya padaku meskipun sedang menyetir mobil. 

“Keluargamu kalo nggak salah orang awam kan Rik?”

“Iya.” Setahuku, baik orang tau maupun saudara-saudaraku tidak ada yang mempelajari pengolahan tenaga dalam. Karena itu, berdasarkan standar dunia persilatan, mereka termasuk dalam golongan orang awam. 

“Sebaiknya kamu jangan lagi berhubungan dengan mereka lagi...” Arie berkata pelan

Deg! Aku sempat tertegun mendengar perkataan tersebut. 

“Maksudmu... Aku harus meninggalkan keluargaku?” tanyaku mencoba menegaskan maksud perkataan Arie barusan. 

Tanpa kata-kata, Arie hanya menganggukkan kepalanya. 

Pada saat itu juga, aku paham dengan maksudnya. Orang dunia persilatan menjalani dunia yang berbeda dengan orang dunia awam. Cepat atau lambat, aku harus pergi meninggalkan keluargaku jika tidak ingin mereka mengalami celaka karena aku. Lagipula, dunia persilatan sama sekali bukan dunia yang damai. 

Aku menghela nafas pelan.

Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah diriku sanggup berpisah dengan keluargaku? 

“Oh iya, Shinta akan pulang dari rumah sakit dalam dua atau tiga hari lagi.”

Arie tiba-tiba saja mengalihkan topik pembicaraan kami. Mungkin dia merasa tidak enak telah memintaku meninggalkan keluargaku begitu saja.

“Kondisinya sudah jauh lebih baik. Dia juga sudah sadar, dia langsung menanyakan kondisimu waktu aku menjenguknya kemarin.”

“Lalu kau bilang apa?”

“Aku bilang padanya kau baik-baik saja. Mungkin kau juga perlu menjenguknya, sepertinya dia merasa bersalah telah melibatkanmu dalam pertikaian dengan Perserikatan Tiga Racun.”

“Yah, mungkin nanti.… Ngomong-ngomong apa Shinta juga sekolah di dunia awam?” 

Arie menggeleng pelan, “Dia berasal dari keluarga dunia persilatan, sudah mempelajari pengolahan tenaga dalam sejak kecil.”

Selagi asyik berbincang-bincang, mobil yang kami tumpangi masuk ke dalam kawasan pasar tradisional. Arie langsung mencari tempat parkir mobil dan segera mengajakku masuk ke area pasar. Kepalaku tidak berhenti menoleh ke kiri dan kanan. Jujur saja, lokasi ini sedikit berada diluar perkiraanku. 

“Kenapa Rik? Nggak nyangka ya tempatnya di sini?” Arie tersenyum geli melihatku celingukan.

“Hehe... Iya.” Aku nyengir 

Arie terus berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi pedagang di sebelah kiri dan kanan. Meskipun jika dilihat sekilas, sepertinya sangat tidak mungkin lokasi ini menjadi tempat pertemuan para pendekar dunia persilatan. Namun aku merasakan adanya fluktuasi tenaga dalam dari orang-orang yang berpapasan dengan kami. 

Tak lama kemudian, Arie berhenti di depan sebuah toko kecil dan mengajakku masuk ke dalam toko pakaian. Kulihat pelayan dan kasir toko itu hanya memandangi kami berdua tanpa mengatakan sepatah katapun. Tanpa memperdulikan kasir dan pelayan toko, Arie membuka pintu yang ada di bagian belakang toko lalu masuk ke dalamnya, akupun segera mengikutinya. Di balik pintu tersebut, hanya ada sebuah ruangan kecil yang dikelilingi oleh tembok berwarna putih dengan sebuah pintu lagi di salah satu sisinya. Aku melihat seorang lelaki duduk di balik meja kecil seperti satpam yang menjaga pintu tersebut. 

“Oh, tuan Arie,” ujar orang itu begitu melihat Arie masuk ke dalam ruangan tersebut. Tampaknya Arie sudah sering datang kemari sampai-sampai lelaki di ruangan tersebut langsung mengenalinya begitu dia masuk.

Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya padaku dan segera mengerenyitkan keningnya. Arie tampak tersenyum melihat perilaku lelaki tersebut, kemudian dia berkata padaku. 

“Tunjukkan padanya tingkat kesaktianmu, Rik.”

Sesaat aku agak bingung dengan kata-kata Arie, namun lelaki itu segera mengulurkan tangannya padaku. Akupun segera menjabat tangannya dan mengalirkan tenaga dalamku. Muka lelaki tersebut langsung memucat begitu merasakan tingkat tenaga dalamku. Mungkin dia terkejut karena aku berada di tahap penyerapan energi tingkat keempat, satu tingkat diatasnya. Ya, saat berjabat tangan dengan lelaki tersebut, aku juga merasakan tingkatan tenaga dalamnya, dia masih berada di tahap penyerapan energi tingkat ketiga. 

Setelah selesai berjabat tangan untuk menguji tingkat kesaktianku, tiba-tiba saja ekspresi lelaki itu berubah menjadi sangat ramah padaku. Dia segera mempersilahkanku dan Arie masuk ke dalam pintu yang ada dibelakangnya. Kami berdua segera memasuki pintu tersebut, ternyata dibalik pintu tersebut hanya ada lorong tangga yang menuju kebawah. 

Baru setelah membuka pintu di ujung lorong tangga tersebut, aku melihat sesuatu yang benar-benar mengejutkanku. Dibalik pintu itu, aku dan Arie memasuki sebuah tempat yang tampak seperti sebuah bar mewah dengan dengan lantai dan furniture terbuat dari kayu berkualitas tinggi. 

“Di sini para pendekar bersosialisasi satu sama lain, saling berbagi informasi dan mencari misi yang bisa mereka jalankan.” Suara Arie terdengar disampingku seperti seorang promotor.