Episode 44 - Infinity Zone



Para penghuni asrama siang berjalan menembus cahaya putih yang serasa tiada habisnya. Mereka seolah berjalan di atas kaca super bening, dalam selubung kabut putih benderang. Bahkan, kulit De Santos yang gelap tampak begitu kontras dengan tempat tersebut.

“Apa lagi sekarang? Bukankah kita seharusnya sampai di Infinity Zone?” protesnya.

“Mungkinkah ada ujian lagi?” Taki coba berpendapat, meski ia sendiri mengharapkan hal yang sebaliknya.

“Jangan, dong,” sahut Vida cemas. “Aku nggak bakal sanggup kalo disuruh melawan musuh lagi.”

“Hey, Vida! Dari tadi cuma kami yang bertarung. Lagi pula, lemparan bolaku yang keren pasti bisa menyelamatkan kita semua siapa pun musuhnya.” 

“Huh, sombong banget, sih.” Vida menjulurkan lidahnya.

Semenit berlalu, cahaya yang menyelimuti Taki dan yang lain mulai memudar. Kini, tempatnya berubah seperti terowongan, di mana terdapat secercah cahaya yang lebih terang di ujung jalan.

Tanpa banyak bicara, mereka berlomba mendekati cahaya itu. Begitu cemerlang, sarat akan kehangatan dan sorak-sorai. Ya! Telinga Light dapat mendengar gemuruh teriakan orang-orang. Sangat meriah, tak ubahnya suasana ketika pertarungan di gelangang milik Goro.

“Kalian dengar itu?” ujarnya. 

“Ya, aku mendengarnya. Meriah sekali.” Taki menyahut. “Menurutmu di balik cahaya itu ada arena besar seperti punya Goro?”

“Entahlah. Ayo kita pastikan sendiri!”

Kaki Light berlari menembus cahaya, disusul Taki, kemudian De Santos dan Vida berbarengan. Wajah mereka yang sumringah, perlahan-lahan tertelan masuk ke dalam lubang dimensi. Sebuah lorong yang dipenuhi garis semua melingkar. Dan, beberapa detik selepasnya, barulah Infinity Zone terpampang jelas.

“Hebat.” Taki melongo.

“Se-seriusan?!” Vida terbeliak. Mulutnya tak kuasa menutup.

“Oh yeah! Lebih keren dari arena NBA utama, Kawanku.”

Apa yang terlihat di depan mata mereka adalah lapangan Maha luas—tak berbatas—beserta ratusan meja-meja bundar. Makanan, minuman, buah-buahan, tersaji rapi selayaknya restoran bintang lima. Tak lupa, panggung proscenium besar berdiri di depan, mungkin akan diisi para penghibur acara.

“Bisakah kalian duduk saja, Para pecundang?” Sebait kalimat sukses menyulut emosi De Santos.

Itu Sully, bersama anggota asrama malam yang lain, kecuali Red. Mereka duduk santai di kursi VIP, melayang di atas De Santos dan kawan-kawan.

“Jaga mulutmu, Bocah kurus!”

“Bocah kurus?!” Sully tampak tersinggung. “Jangan sembarangan bicara, Bibir tebal!”

“Bibir tebal?! Kemari kau! Biar kuhajar wajah menyebalkanmu itu!” Kedua tinju De Santos bersiaga di tempatnya.

“Untuk apa aku turun ke bawah? Kami tamu VIP di sini.”

“VIP?” ulang Light, agak bingung.

“Oh, ayolah. Kau tidak tahu VIP itu apa, hah?” Sully mengerling malas. “Kukira orang dari asrama siang itu pintar-pintar.”

“Bukan, maksudku mengapa kalian bisa berada di deretan VIP?”

“Das—“

“Diam, Sully!” Fred memukul kepala lelaki itu. “Maafkan perilakunya. Kalian pasti sudah menghadapi sesuatu sebelum sampai ke sini, ‘kan?”

“Ya, tengkorang hidup dengan delapan ekor tajam. Dia menghadang kami di depan gerbang.”

“Nah, itulah penentu apakah kalian akan duduk di bawah atau di atas ketika sampai ke sini. Tengkorak itu adalah timer, jika kalian penasaran. Fungsinya untuk mengukur seberapa bagus refleks kontestan dalam menghadapi musuh, seberapa cepat waktu mereka menyelesaikan masalah, dan seberapa efesian setiap gerakan yang mereka lakukan. Setelah semua data didapat, lorong dimensi di balik gerbang akan mengelompokkan asrama berdasarkan progres yang sudah mereka capai. Begitulah.”

“Itu artinya … nilai kalian lebih tinggi dari kami.” Light tercengang.

Fred mengangkat bahunya, lalu tersenyum ringan seraya berkata: “Aku bukan jurinya.”

Nyatanya memang begitu. Light merasa tertinggal jauh dari lawan mereka di babak final nanti. Sarasvati, orang yang paling ditakuti para lucid dreamer, barangkali merupakan kunci kemenangan tersebut. Untungnya, asrama malam terpaksa meninggal Red yang hukuman yang diberikan pihak panitia. Jika tidak, entah berapa detik yang dibutuhkan untuk menembus penjaga gerbang Infinity Zone.

Light, Taki, Vida, dan De Santos memutuskan untuk duduk dan melupakan keunggulan tim lawan. Mereka masih bisa berkembang, seharusnya. Lagi pula, mereka tertinggal karena ada empat orang yang absen dari kewajiban menjaga nama baik asrama.

“Aku penasaran, apakah strategi Arya dan Ruhai bisa membawa kita memenangkan pertandingan final, atau justru terinjak-injak oleh mereka.” Taki menengadah, melihat kaki-kaki punggawa asrama malam.

“Jangan merendah seperti itu, Bodoh!” tegur De Santos. “Aku benci mengatakannya, tapi kita butuh strategi Arya dan Ruhai untuk mengungguli mereka. Setidaknya, mereka berdua pernah berhadapan langsung dengan orang-orang itu.”

“Ya, kita semua juga tahu seberapa mengerikannya penyergapan asrama malam ketika di babak penyisihan. Jangan sampai kita mengulanginya lagi di final.” Light mengawasi lawan mereka dari bawah. “Avetta dan Aretta, kita juga butuh bantuan mereka.”

“Ah, kedua gadis malas itu memang merepotkan. Sebaiknya kita suruh Dion untuk mengeleminasi mereka dari turnamen. Mereka tak ada gunanya!” De Santos menggerundel.   

"Kurasa tidak juga," sanggah Light. "Mereka masuk ke asrama siang. Itu artinya mereka mampu sampai ke gelanggang Goro."

"Tetap saja. Mereka tak berguna."

Portal besar mrnyeruak di tengah lapangan. Dari sana, rombongan asrama pagi berjalan keluar. Bane berdiri di depan sebagai ketua mereka. Begitu gagah, dengan paduan zirah besar dan perisai andalannya. 

"Siapa mereka?" gumam De Santos. 

"Asrama pagi."

"Lihatlah mereka, sangat bangga dengan batas kemampuan yang mereka punya." Si pebasket jalanan tertawa, membanggakan asramanya yang meraih posisi kedua sampai di Infinity Zone. 

Benar saja. Senyum puas teroatri di wajah Bane. Dia bangga telah berhasil membawa anggotanya ke Infinity Zone setelah terlibat pertarungan sengit melawan penjaga gerbang. 

"Inilah, Teman-teman. Kita sampai di Infinity Zone," ujarnya sumringah. 

"Aku suka Infinity Zone. Sangat luas!" Shota berputar-putar menyaksikan ruangan dari segala arah. "Kita benar-benar hebat!"

"Terima kasih, Ketua. Berkat semangatmu kami akhirnya bisa menginjakkan kaki di sini."

"Bukan. Ini semua hasil kerja sama kita. Aku pasti takkan berhasil jika kalian tidak ikut membantu."

Bane memerintahkan anggotanya duduk di kursi yang tersedia. Berjarak enam sampai tujuh meja dari punggawa asrama siang. Sebelum mengembuskan balas lega, sempat terbesit di benaknya sosok Gildur. Orang yang rela mempertaruhkan segala yang dimilikinya demi mewujudkan mimpi sejati. Lalu, ia juga teringat bagaimana kuatnya Red. Seseorang yang sulit untuk ditandingi, bahkan hanya untuk membayangkannya saja. 

"Sudah kubilang, 'kan? Ini semua gara-gara kalian! Haduh! Seharusnya kita bisa lebih cepat."

"Jangan bicara seenaknya, Samael! Kita terlambat karena kau terus mengoceh, sementara kami mati-matian melawan si penjaga gerbang."

"Diamlah! Aku ketuanya di sini. Jangan banyak tingkah."

Sepuluh menit setelah ketibaan asrama pagi, asrama sore pun menyusul. Berbeda dengan yang datang sebelumnya, para anggota asrama ini justru penuh akan perdebatan. 

Samael, anak didik Crow sekaligus ketua asrama sore tampak sibuk mengomeli kesalahan rekan-rekannya. Dia terus membicarakan bahwa mereka telah menghambatnya menjadi orang nomor satu di Pandora. Berlawanan, anggota asrama sore yang lain malah mendakwanya sebagai satu-satunya yang menjadi penghambat bagi perkembangan kelompok mereka. 

"Lynch, kau lihat mereka?" Heintz, si demigod asap menatap Light dan yang lain. "Asrama siang. Dua anggotanya dapat melumpuhkan kita dengan mudah."

"Apa? Kau pasti salah ingat, Heintz. Mereka menang karena dibantu serangan misterius. Itu yang membuat kita lemah seketika." Lynch membantah, sedikit mengingat serangan ungu misterius yang menyerbu mereka ketika bertarung melawan Arya dan Ruhai. 

"Tapi ketua mereka, Ruhai berhasil mengalahkan Samael. Bahkan, Igor yang punya kemampuan menghilang tak mampu mengatasi si lucid dreamer raut datar."

"Kau terlalu berlebihan. Satu-satunya faktor penentu hasil pertarungan waktu itu, menurut pengehilatanku, hanyalah keberuntungan."

"Entahlah. Bagiku tetap saja mereka kuat."

"Mereka akan dibantai di babak final. Lihat saja."

Semua asrama telah berkumpul. Tidak ada alasan lain untuk tak segera memulai acaranya. Maka dari itu, tirai panggung besar di depan lantas terbuka, menampilkan seekor naga hijau seukuran anjing. Dia memakai topi fedora, berdiri dengan dua kaki, dan memegang tongkat kristal sebagai tumpuan. 

"Tuan dan Nyonya, kupersembahkan kepada kalian sebuah acara yang luar biasa menyenangkan. Acara yang ditunggu-tunggu para lucid dreamer."

"Ditunggu-tunggu, katanya? Kita saja tidak diberitahu acara macam apa ini," desis De Santos. 

"Kompetisi kian memuncak, konflik semakin panas, dan persaingan akan semakin mengerucut. Kalian tentunya tidak sanggup bertarung terus-menerus. Jadi, kami sengaja membuat acara ini sebagai waktu yang tepat untuk berpesta pora. Nikmatilah!"

Sejurus ucapan si naga, tiba-tiba di setiap meja makan muncul berbagai jenis hidangan. Kue, ayam panggang, steak, es krim, puding, semua makanan lezat tersaji rapi. 

"Wah! Wah! Wah!!! Apa benar ada yang seperti ini?!" De Santos berseru kegirangan. Tanpa basa-basi, langsung disantapnya panganan tersebut rakus-rakus. 

"Ternyata turnamen ini tak sebarbar yang kukira," komentar Sully, lalu mulai menggigit paha kalkun kecoklatan. 

"Kak Bane, ternyata acara ini sungguh menyenangkan." Mulut Shota sudah belepotan es krim kala berbicara. 

"Benar. Dan, entah mengapa aku jadi sangat lapar." Bane menyambar potongan penekuk di atas meja. 

"Lihatlah mereka. Seberapa keras pun aku menipu diri, rasa makanan ini tetap saja hambar. Maksudku, kita ada di dunia mimpi. Tak ada yang namanya rasa lapar."

"Sudahlah, Samael. Nikmati saja momen ini." Heintz menyahut selepas menyeruput segarpu spagetti.

Seolah belum cukup memanjakan para lucid dreamer, latar Infinity Zone berganti pegunungan indah. Langit biru muda berkilau, dihiasai totol awan putih benderang. Juga, suara gemercik sungai yang menenangka ikut mewarnai kemeriahan pesta makan hari ini.

BRUK! 

"WOW! YA TUHAN! Apakah ini di surga?" De Santos terjengkang dari kursi setelah tahu makanan di meja kembali seperti semula setelah dimakan. Makanan tersebut terus beregenerasi. 

"Keren! Mungkin inilah sebab tenpat ini disebut Infinity Zone," tukas Light. 

Sebenarnya, bukan cuma karena itu. Infinity Zone punya lebih banyak keunggulan dibandingkan perihal makanan yang muncul terus-terusan. Salah satu contohnya adalah sifat ruangan tersebut yang berubah-ubah sesuai keinginan sang pemilik. Dalam kasus ini, si naga hijau adalah kuncinya. 

"Kami akan berusaha mempersembahkan pengalaman terbaik untuk kalian. Jadi, jangan cepat berpuas diri. Masih banyak acara-acara yang jauh lebih menyenangkan dari ini. Silakan tunggu."

(Bersambung)