Episode 220 - Buku Lusuh


Ritual pagi, yaitu teleportasi jarak jauh dari Kedukan Bukit menuju lapisan puing dan bebatuan yang melayang tinggi di angkasa, dilakukan lebih cepat dari biasanya. Seusai meluangkan waktu di atas sana, Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara langsung menuju Perguruan Svarnadwipa. Hari masih terbilang pagi, dan keduanya berpisah arah dengan Ayahanda Sulung Rudra sebelum tiba di perguruan. Lelaki dewasa itu segera kembali ke Kadatuan Kesembilan. “Ada suatu urusan,” ujarnya. 

“Apakah kiranya harapan Ayahanda Sulung Rudra dengan membawa kita mengunjungi tempat itu setiap hari…?” gumam Bintang Tenggara. 

“Mungkin beliau berharap agar kita menemukan pusaka-pusaka nan mandraguna di atas sana…,” tanggap Balaputera Prameswara gelisah. Setelah kejadian hari sebelumnya di Tugu Ampera Barat, tak bisa ia membayangkan bagaimana tanggapan dari murid-murid lain di dalam perguruan nanti.

Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara memasuki gerbang besar Perguruan Svarnadwipa. Setiap murid-murid yang berpapasan mencuri pandang, bahkan menatap dalam. Ada yang menunjukkan raut penasaran, kekaguman, bahkan ada pula yang mencibir. Apa pun itu, sebagian besar dari mereka sulit menerima kenyataan bahwa seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 9, telah berhasil menembus urutan pertama di dalam salah satu ruang berlatih milik perguruan. 

Bagi Bintang Tenggara, tindakan yang ia ambil sehari sebelumnya bukanlah kali pertama dimana ia tampil mencolok di dalam sebuah perguruan. Bilamana segenap ahli baca masih mengingat, tatkala di Perguruan Gunung Agung, anak remaja ini langsung mengambil kesempatan untuk menjadi anak didik Maha Guru Keempat. 

Dasar pemikiran atas tindakannya masihlah senada. Bahwasanya, cara untuk menjalani hari-hari yang tenang di sebuah perguruan bukanlah menjadi murid yang tak dikenal serta terkesan lemah. Jalan pintas untuk hidup leluasa di dalam sebuah perguruan adalah menjadi murid yang tak mungkin bisa digugat posisinya. Bercokol pada urutan tertinggi di Tugu Ampera Barat, membuka kesempatan ini.  

“Balaputera Prameswara! Balaputera Gara!” Tetiba terdengar suara memanggil dari kejauhan. Tak lama, terlihat Balaputera Vikatama melangkah cepat menghampiri. 

 “Ikutlah denganku…,” sambungnya sambil membuka jalan. “Maha Guru Ketiga menantikan kehadiran kita.”

Balaputera Vikatama, Balaputera Prameswara dan Bintang Tenggara memasuki sebuah balai besar. Pilar-pilar besar berdiri tegak menjulang, menyangga langit-langit nan tinggi mengawang. Pada satu sudut dinding, sebuah ukiran besar berbentuk berkas cahaya, terpampang perkasa menyinari seantero ruangan. Bentuknya mirip dengan lencana yang Bintang Tenggara terima dari Datu Besar Kadatuan Kesatu sehari sebelumnya. 

Seorang perempuan dewasa memandangi ukiran nan bercahaya. Dapat disimpulkan, bahwa berkas cahaya tersebut merupakan lambang Kemaharajaan Cahaya Gemilang, sekaligus Perguruan Svarnadwipa. Perempuan dewasa itu berdiri sambil melipat satu lengan ke belakang pinggang, dan berdiri membelakangi ketiga anak remaja yang baru saja tiba. Siluet tubuh yang tercipta demikian mempesona, aura keahlian yang ia pancarkan tiada dapat dicerna, kemungkinan besar Kasta Emas tingkat menengah.

Tak lama, sepasang gadis belia memasuki ruangan secara bersamaan. Mereka melangkah berdampingan, namun di saat yang sama terpisah jarak. Masing-masing tak hendak tertinggal dari yang lain. Dari raut wajah keduanya, serta pola mereka melangkah, terlihat bahwa kedua gadis belia tersebut tiada akur. Balaputera Prameswara segera mengenali keduanya, tentunya dengan memandangi wajah, bukan dari bentukan payudara. 

Kemudian, seorang remaja lelaki melangkah cepat dan garang memasuki ruangan yang sama. Ia diikuti oleh seorang lagi remaja lelaki. Bedanya, remaja lelaki yang tiba paling akhir, melangkah sangat santai adanya.

Tujuh remaja telah berdiri di belakang perempuan dewasa itu. “Yang Terhormat Maha Guru Ketiga Citradama, diriku telah membawa murid-murid sesuai arahan.”

Perempuan itu menoleh, wajahnya demikian teduh. Sampai batasan tertentu, Bintang Tenggara menangkap bahwa terdapat seberkas kemiripan raut wajah antara Maha Guru Ketiga yang bernama Citradama ini, dengan… Ibunda Tengah Samara. 

“Terima kasih, wahai Vikatama,” ujar perempuan dewasa itu pelan. “Dikau dapat pergi bersama dengan Balaputera Prameswara.” 

Balaputera Vikatama mengangguk cepat. Demikian, ia pun mengajak pergi Balaputera Prameswara. Walau terasa berat berpisah dengan sang sepupu, Balaputera Prameswara terpaksa mengikuti saja arahan. Apalagi, perintah datangnya langsung dari seorang Maha Guru. 

Maha Guru Ketiga menyapu pandang kelima remaja yang tersisa. “Balaputera Ugraha dari Kadatuan Kedua, Balaputera Citraseraya dari Kadatuan Keempat, Balaputera Sevita dari Kadatuan Keenam, Balaputera Ardhana dari Kadatuan Ketujuh, serta Balaputera Gara dari Kadatuan Kesembilan….”

Setiap remaja menundukkan kepala sebagai ungkapan hormat, ketika diri mereka disapa. 

“Apakah kalian mengetahui alasan diriku memanggil…?”

Kelima remaja menanggapi dalam diam. Tiada satu pun dari mereka yang mengetahui alasan dipanggil oleh sang Maha Guru Ketiga. 

Mungkinkah karena kericuhan yang berlangsung di depan Tugu Ampera Barat sehari sebelumnya…? batin Bintang Tenggara. 

“Iya dan tidak…,” tetiba sang Maha Guru berujar, seolah dapat mebaca pikiran kelima remaja. “Diriku memanggil kalian pagi ini karena kejadian sehari yang lalu di hadapan Tugu Ampera Barat. Akan tetapi, tujuan dari pemanggilan ini bukanlah karena hendak memberikan hukuman.” 

Kelima remaja masih saja diam. Mereka menantikan penjelasan yang lebih terang. 

“Saat ini, salah satu benteng pertahanan di wilayah perbatasan sedang terkepung oleh pasukan musuh. Semalam, diriku menerima permintaan dukungan dari para prajurit di perbatasan. Oleh karena itu, kalian akan membentuk regu yang beranggotakan lima murid dengan tugas memperkuat benteng pertahanan dimaksud.” Perempuan dewasa itu berhenti sejenak. “Sampai di sini, apakah ada pertanyaan…?” 

“Apakah kami bertugas menyusun formasi segel untuk memperkuat salah satu benteng pertahanan?” aju Balaputera Ugraha. Sesungguhnya ia telah mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, tetapi tetap hendak memastikan. Penugasan seperti ini bukanlah barang baru bagi murid-murid di Perguruan Svarnadwipa. Poin-poin dalam jumlah besar seringkali diberikan untuk penugasan ke lapangan. 

“Benar.” 

Mengapa kami? Adalah pertanyaan yang hendak Bintang Tenggara ajukan. Dari raut wajah remaja-remaja lain, pertanyaan yang sama tentu berkecamuk di dalam benak mereka. Namun, sepertinya tiada satu remaja yang hendak mempertanyakan. 

Maha Guru Ketiga itu lalu mengibaskan tangan. Lima gulungan naskah melesat ke arah setiap satu remaja. “Terima dan pelajari gulungan naskah itu. Setiap satunya berisikan pedoman dan tata cara penyusunan formasi segel yang diperlukan.” 

Kelima remaja menangkap gulungan naskah yang diperuntukkan bagi mereka. 

“Bila tak ada pertanyaan, maka segera kalian bertolak esok pagi.”


Tabir malam baru saja turun. Seorang remaja perempuan dipanggil menghadap kepala keluarganya. Di dalam sebuah ruangan nan terang benderang, ia menanti.

“Sevita, apakah benar dikau ditugaskan ke wilayah perbatasan bersama dengan Balaputera Gara dari Kadatuan Kesembilan.” Seorang lelaki dewasa berujar ramah. 

“Benar, Yang Terhormat Datu Besar.” 

“Bila demikian adanya, berbuat sopanlah kepada remaja tersebut. Kadatuan Keenam dan Kadatuan Kesembilan merupakan sahabat sejak lama.” 

“Baik, Yang Terhormat Datu Besar.” 


“Setelah mencoreng arang di atas nama besar Kadatuan Ketujuh, engkau kini ditugaskan bersama dengan Balaputera Gara dari Kadatuan Kesembilan…?” 

Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan bersinar temaram, seorang lelaki dewasa mencibir. Sungguh, ia menahan diri untuk tak menghukum remaja yang tertunduk lesu di hadapannya. Sepantasnya, karena kekalahan di Tugu Ampera Barat kepada Bintang Tenggara, Balaputera Ardhana layak menerima hukuman dari Kadatuan Ketujuh. Setidaknya, ganjaran kurungan selama satu pekan adalah paling ringan. 

Akan tetapi, karena ada tugas mendesak dari Perguruan Svarnadwipa, hukuman terpaksa ditunda. 

“Yang Terhormat Datu Besar,” ujar Balaputera Ardhana pelan. “Balaputera Gara pastilah melakukan kecurangan di dalam Tugu Ampera Barat…” 

“Omong kosong!” bentak sang Datu Besar Kadatuan Ketujuh. “Jangan kau mencari-cari alasan!” 

“Diriku akan menebus kekalahan dan memperbaiki nama besar Kadatuan Ketujuh di dalam penugasan kali ini.”

“Sebaiknya engkau tiada lalai!” Datu Besar Kadatuan Ketujuh memutar tubuh, kemudian melangkah pergi. 


Seorang lelaki dewasa duduk di atas dipan. Satu alisnya terangkat tinggi, sungguh ia sulit mempercayai laporan yang baru saja ia terima. Di sisi kiri dan kanan dipan yang ia tempati, dua pasang ahli berperawakan setengah baya duduk berhadap-dapan. Mereka tak lain adalah para tetua keluarga. 

“Apakah yang dipikirkan Kadatuan Kesatu…? Maha Guru Citradama…,” Lelaki dewasa itu mendengus. “Lancang sekali ia menempatkan keturunan dari Kadatuan Keempat bersama dengan ahli rendahan dari Kadatuan Kesembilan ke dalam satu regu.” 

“Kami pun dibuat penasaran atas keputusan yang ganjil ini, wahai Yang Terhormat Datu Besar.” Salah seorang tetua keluarga menanggapi cepat.

“Esok aku akan mempertanyakan keputusan ini kepada Datu Besar Kadatuan Kesatu.” 

“Yang Terhormat Datu Besar,” tetua keluarga yang lain angkat suara. “Bukankah penugasan kali ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk menyelidiki lebih jauh tentang Balaputera Gara?” 

“Sehari yang lalu, ia berhasil mengambil alih urutan pertama di Tugu Ampera Barat,” sela tetua lain. “Sungguh sesuatu yang mustahil bagi ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu.” 

“Jikalau mengacu kepada keperkasaan Balaputera Dharanindra kemudian bakat Balaputera Ragrawira, maka air tak akan jatuh terlalu jauh dari pancuran.” 

“Atas alasan-alasan inilah, bocah Balaputera Gara itu dapat menjadi batu sandungan bagi perwakilan Kadatuan Keempat di dalam Hajatan Akbar Pewaris Tahta kelak. Oleh karena itu, adalah bijak bagi kita untuk memberikan tugas rahasia kepada Citaseraya.” 

“Gagasan yang baik,” tanggap Datu Besar dari Kadatuan Keempat. “Sampaikan kepada Citaseraya agar selama menjalankan tugas perguruan di wilayah perbatasan, ia patut mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai bocah dusun itu. Utamakan untuk menyelidiki kelemahannya.” 


===


“Kau terlambat!” sergah Balaputera Ardhana berang. 

Empat remaja, dua perempuan dan dua lelaki, berdiri menanti di gerbang besar Perguruan Svarnadwipa. Tak jauh dari mereka, Bintang Tenggara terlihat melangkah cepat. Bagaimana tiada terlambat, pagi-pagi tadi dirinya terpaksa menjalani ritual harian di Kedukan Bukit… 

Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya dan Balaputera Prameswara terpisah ke dalam dua regu yang berbeda. Wara berada di dalam satu regu yang sama dan dipimpin oleh Balaputera Vikatama dari Kadatuan Kesatu. Masing-masing regu akan menjalankan penugasan yang berbeda. 

Sepertinya tiada yang perlu dikhawatirkan perihal keadaan Wara, batin Bintang Tenggara. Dibanding dirinya, kemungkinan besar Balaputera Prameswara berada di dalam regu yang jauh, jauh lebih baik. 

“Kukatakan satu hal sedari awal…,” tetiba Balaputera Ardhana berujar di kala melangkah di sisi lapangan yang mana bagian tengahnya terdapat sebuah sumur dan dipenjara oleh formasi segel. Tujuan mereka adalah ke arah dimana gerbang dimensi ruang Perguruan Svarnadwipa berada. “Aku tiada tertarik untuk beramah-tamah dengan kalian!” 

“Sepakat!” tanggap Balaputera Citaseraya cepat. “Akan tetapi, perlu aku mengingatkan bahwa penugasan dari perguruan sama halnya dengan menjalankan amanat negeri…”

“Kau tiada perlu berujar seolah paling mengetahui…,” sela gadis belia lain di dalam regu yang sama, Balaputera Sevita. “Semua juga tahu bahwa tugas adalah utama. Perselisihan di antara para Kadatuan sepantasnya dikesampingkan untuk sementara waktu demi menjalankan tugas. 

Bintang Tenggara mengingat akan regu pertama di kala dirinya mengikuti ujian masuk Perguruan Gunung Agung sekira setahun lalu. Panglima Segantang, Canting Emas, Kuau Kakimerah, serta Aji Pamungkas. Bila ditilik lagi, regu tersebut merupakan regu yang sangat ideal, yang tentu saja telah terbukti karena berhasil menempati peringkat kedua Kejuaraan Antar Ahli di Perguruan Maha Patih. 

Kemudian, ada pula Regu Perdamaian yang dipimpin oleh Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, Citra Pitaloka. Anggotanya adalah Aji Pamungkas, Lampir Marapi, Embun Kahyangan, serta dirinya sendiri. Regu ini pun tak kalah tangguh. 

Dibandingkan dengan saat ini, Bintang Tenggara tentu mengingat akan regu yang mungkin lebih buruk lagi komposisinya, yaitu regu yang terpaksa. Di dalam wilayah Alas Roban, mereka yang kasta keahliannya tersegel mau tak mau membentuk regu demi mencari kesempatan untuk keluar. Dengan Cikartawana yang saat itu menjadi semacam pemandu, regu terpaksa tersebut beranggotakan Sangara Santang, Lampir Marapi, serta… Lintang Tenggara! 

“Balaputera Ugraha!” Tetiba terdengar suara menggeram yang memecah lamunan Bintang Tenggara. Di saat yang sama, anak remaja tersebut merasakan tekanan yang sangatlah berat. Tekanan tersebut datang dari seorang lelaki dewasa yang berdiri tak terlalu jauh. Ia menggengam sebuah buku lusuh di tangan kanan. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua…” Balaputera Ugraha yang sejak awal hanya diam, terlihat sangat gelisah. Wajahnya yang selalu tenang, kini berubah kusut. 

“Mengapakah kau tiada melaporkan bahwa akan berada di dalam satu regu yang sama dengan cecunguk dari Kadatuan Kesembilan!?” Sang Datu terlihat kesal. 

“Yang Terhormat Datu Besar, diriku merasa tiada perlu melaporkan setiap penugasan yang diberikan oleh perguruan…” 

“Apa!?” 

“Yang Terhormat Datu Besar, adalah merupakan kewajiban setiap bangsawan Wangsa Syailendra untuk berbakti kepada Kemaharajaan. Meski terdapat perselisihan di antara Kadatuan Kedua dan Kadatuan Kesembilan, hal tersebut patut disingkirkan di kala menjalankan tugas….”

“Prak!” 

Datu Besar Kadatuan Kedua tetiba muncul tepat di hadapan Balaputera Ugraha. Akibat emosi yang tiada tertahan, serta merta ia menempeleng remaja lelaki tersebut menggunakan buku nan lusuh. Balaputera Ugraha jatuh terjerembab beberapa langkah ke belakang. Kekuatan tamparan sampai membuat isi buku terlepas dari sampulnya, dan halaman-halaman buku lusuh tersebut mendarat tepat di hadapan Bintang Tenggara.  

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua…,” tetiba suara lain datang menegur. Bintang Tenggara mendapati sesosok tubuh melayang turun, seorang tokoh yang mana wajahnya tak asing.

“Datu Besar Kadatuan Kesatu…,” Datu Besar Kadatuan Kedua menggeretakkan gigi. “Jangan ikut campur urusan keluarga Kadatuan Kedua!” 

“Sebaliknya, wahai saudaraku.” Datu Kadatuan Kesatu, yang tak lain adalah Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, membantu Balaputera Ugraha bangkit berdiri. “Dikau saat ini berada di dalam Perguruan Svarnadwipa, dan penugasan terhadap setiap murid merupakan hak dan tanggung jawab kami.” 

“Kau…” Aura Kasta Emas membumbung perkasa. 

“Mereka akan bertolak dalam upaya memberi dukungan kepada salah satu benteng pertahanan di utara. Jikalau dikau berkeberatan atas penugasan ini, maka silakan menyampaikan keluhan secara resmi.” 

Datu Besar Kadatuan Kedua, yang mana diketahui sebagai penyelenggara pemerintahan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tentu memahami betul peraturan dan tata hubungan antara Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan Perguruan Svarnadwipa. Perguruan memiliki tanggung jawab untuk membangun keahlian demi menyokong Kemaharajaan, oleh karena itu perguruan memiliki hak istimewa untuk menetapkan kebijakan dalam upaya mencapai tujuan tersebut. 

Datu Besar Kadatuan Kedua menggeratakkan gigi. Ia melirik sepintas ke arah Bintang Tenggara, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melengos pergi. 

Bintang Tenggara sontak memungut halaman-halaman yang bertebaran karena terlepas dari sampulnya. Sedari tadi, gambar-gambar di setiap halaman kertas nan lusuh sangat menyita perhatiannya.