Episode 51 - True Memory


Kembali pada saat Lio masih dirawat dan ditemani Fia di ruang rawatnya, sewaktu pertandingan Final antara Alzen dan Nicholas masih berlangsung.

"Aku berterima kasih sekali dengan ayahmu loh..." kata Lio. "Karena tanpanya, aku mana mungkin bisa sekolah disini. Dan setelah sampai sini. Baru aku tahu, biaya sekolah disini mahalnya bukan main!"

Cklek!

Seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Ranni!!? Kau sudah siuman!?" Lio terperanjat dan segera naik dari ranjangnya. "Adududuh..."

"Lio... tuh benarkan, kamu masih sakit." Fia memperingati.

"Kamu bertarung melawan Nicholas juga ya?" tanya Ranni. "Maaf... kalau saja aku bisa menang. Justru kalau kamu menang, kita akan duel di arena nanti. Jadi kamu tidak perlu..."

"Tidak usah dipikirkan. Alzen yang akan mengalahkannya nanti. Lihat saja!" ucap Lio untuk menghibur Ranni.

"Kamu terluka begitu karena Nicholas kah? Dia meng-cast sihir itu padamu?"

"Tidak, ini karena Leena. Setelah kalah dari Nicholas, aku harus melawan Leena untuk memperebutkan juara 3. Tapi ya... Mereka terlalu kuat untukku."

"Begitu ya... berarti Alzen, berhasil sampai ke Final."

"Yap! Kau tak mau menonton? Sebentar lagi pertandingan Final dimulai."

"Tidak... aku takut melihat anak berkacamata itu. Sihir yang ia cast padaku, membuatku teringat semua hal buruk yang lama aku lupakan. Aku jadi teringat lagi, setiap detail kejadian itu. Padahal..."

"...!!?" Lio seketika tertegun dan hatinya berdebar-debar mendengar kalimat Ranni barusan. "Apa kau bilang?"

"Huh?"

"Soal sihir itu, sihir yang membuatmu jadi teringat lagi tentang hal buruk yang sudah kamu lupakan. Nicholas... punya sihir itu?"

"Ya... tapi kau kenapa? Sihir itu. Nyaris membuatku gila."

"Aku harus menemui Nicholas sekarang." Lio langsung bergegas keluar. "AGGHH !!"

Perban yang membalut perut Lio, seketika berubah merah.

"Lio!" ucap Fia khawatir. "Kau harus segera berbaring."

"Kau... masih belum sembuh total, mau apa memangnya?" ucap Ranni sambil mengangkut Lio kembali ke ranjangnya.

"Heal !!"

Lalu kata Lio. "Aku... setelah ini akan menemui Nicholas."

***

Kembali ke Cosmo Plains, tempat Lio dan Nicholas bicara berdua.

"Aku kesini karena kudengar dari Ranni soal efek lain dari Dreamcatcher. Dan aku membutuhkan itu."

"Jadi? Kau berniat disiksa oleh sihirku?"

"Benar separuh, tapi aku butuh efek lain dari sihir. Jadi, aku siap. Cast sihir itu padaku..." Lio membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah pasrah dan memberi diri untuk dikenai sihir itu. "Sekarang."

“Hah! Kau benar-benar bodoh! Kau sendiri yang memintanya...”

“DREAMCATCHER !!”

“HWAAAAAAA !!” 

Tidak sampai dua detik, Nicholas menghentikan sihirnya ini.

"Hosh... hosh... kenapa berhenti!!?" bentak Lio. "Kau tidak percaya padaku?"

"Ya aku masih tidak percaya. Kau ini masokis atau mau menjebakku? Teriakanmu begitu keras, kalau sampai ada yang dengar, berarti kau menjebakku." tanya Nicholas yang curiga. "Jadi aku perlu alasan yang jelas, sebenarnya apa yang dicari dari sihir ini?"

"Grrr..." Lio dibuat geram dengan tidak koopratifnya Nicholas. "Aku butuh untuk mengingat suatu kejadian yang aku tidak bisa ingat!" bentaknya.

"Haa... kau ingin ingat masa-masa indahmu? Maaf, Dreamcatcher bukan sihir seperti itu. Aku pergi! Buang-buang waktu saja." Nicholas kesal dan beranjak pergi.

"Bukan!" Lio menggapai tangan Nicholas dan membujuknya lagi. "Aku ingin tahu tentang seseorang di masa lalu yang tak bisa kuingat, dan itu bukan memori indah, melainkan memori terburuk dalam hidupku. Sihirmu setidaknya dapat membantuku mengingat hal itu lagi."

"Cih!" Nicholas berbalik arah dan melepas paksa genggaman tangan Lio. "Tapi ingat satu hal, ini sihir berbahaya. Kalau kau sampai gila karena sihir ini, aku bisa-bisa dikeluarin dari sekolah ini. Kau siap mental untuk menghadapi ini dan tidak menjadi gila setelahnya?"

"Ya... aku siap." jawab Lio dengan niat yang bulat.

"Sebelum itu, ingat ini... kalau kau sudah terkena efek sihir ini. Anggap semua yang kau lihat hanyalah memori belaka, bukan kenyataan. Kau harus ingat itu. Ketika di dalam pengaruhnya, kau akan melihat pemandangan terburuk dalam hidupmu dan gambarnya akan terjadi cepat, patah-patah dan berulang-ulang. Meski terasa nyata sekalipun. Kau harus ingat. Bahwa yang kau lihat nanti hanyalah memori belaka. Ingat! Hanya memori! Bukan realitas. Bisa kau pahami itu?! Paling tidak untuk membuatmu bisa tetap waras."

"Ya!" angguk Lio dengan tekad yang bulat sambil menarik nafas. "Lakukanlah!"

"Baik, aku ulangi sekali lagi."

"Dreamcatcher !!"

"HUWAAAAAAA !!!?" teriak Lio keras sekali. Otot-otot tubuhnya langsung terasa nyeri dan dalam waktu cepat, kepalanya terasa sangat sakit. Namun setelah beberapa detik gambarannya tentang rasa sakit bearalih menjadi bayang-bayang memori masa lalunya. Memorinya muncul dalam gambar-gambar cepat, lompat-lompat dan patah-patah seperti video berframe. Dan terjadi berulang-ulang. Berputar dalam urutan yang sama.

Tepat seperti yang diinginkannya, ia kembali ke memori itu. Dimana ada Mia di depannya. Tempat yang dilihatnya adalah sebuah gubuk kecil terbuat dari bambu dan kayu, seperti rumah orang miskin di perkampungan yang bangunannya terbuat dari kayu tua yang sudah lapuk, rumah itu seolah bisa roboh kapan saja.

Lio dengan tubuh usia 12 tahunnya, berada di luar rumah itu, bersembunyi dari balik semak-semak sawah. Melihat Mia lewat jendela rumahnya. Di situ ia mendengar Mia teriak.

"Lio!! Lio!! Tolong aku!!"

Lio segera keluar dan berlari ke rumah gubuk itu dan lansung mendobrak pintunya, "MIAAA !!"

Kemudian di dalam rumahnya Lio melihat Mia terbunuh, oleh seorang pria dewasa, dengan pakaian hitam dan senjata kris yang berlumuran darah dari leher Mia. Dilihat dalam gambar patah-patah dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Lio langsung lemas melihat Mia yang sudah sekarat, namun masih mencoba berbicara. "Li-Lio... ka...ka...u...da...tang..." sebelum akhirnya ia menutup matanya dan meninggal dunia.

"Mi...Mi...A..." wajah Lio seketika pucat. "Apa benar itu kau... Mia?" Ia masih 12 tahun di saat ini. Menyaksikan pembunuhan langsung di depan matanya. Kakinya seolah beku dan tak bisa digerakkan, tubuhnya gemetar tapi ia harus segera kabur, setelah melihat pria yang membunuh Mia itu, kini berbalik menatapnya.

***

"Ahh sial... ada saksi mata rupanya." kata si pembunuh itu sambil merapikan rambutnya dengan tangan, persis seperti apa yang diingat Lio. Tapi ia tidak terlihat panik, ia malah menerima dengan kehadiran saksi mata. Seolah dia tidak terlalu memikiran karena tidak takut atau tahu cara menyelesaikannya.

5 detik Lio pucat dan kaku. Ia sungguh ingin mengambil tubuh Mia dan marah besar pada orang itu dengan cara yang heroik. Tapi Lio tidak seberani itu. Ia tahu pria dihadapannya itu adalah orang yang berbahaya. 

Seorang pria berkemeja lengan hitam panjang, celana yang ia kenakan lebih seperti rok panjang dengan bahan selendang berwarna hitam dan bermotif batik namun dominan hitam. Ia juga mengenakan ikat pinggang dari kain berwarna hitam juga dan di sisi kiri pinggangnya, ia sangkutkan sarung kris yang terbuat dari kayu berwarna hitam juga. Karena Lio hanya melihat dari sisi belakang, ia terlihat mengenakan blangkon hitam. Dan rambutnya pendek yang sekali lagi juga berwarna hitam.

Lio yang sudah dibuat sangat ketakutan, memutuskan berbalik arah dan melarikan diri sejauh yang ia bisa. Dalam kondisi tubuh yang dingin dan mati rasa, setiap langkah ia rasakan kakinya gemetar begitu hebat, serta gerakkannya juga terasa sangat-sangat lambat.

"HUWAAAA !! Tolong! Siapapun tolong aku!"

Lio lari melewati semak-semak tanaman di sawah dekat situ dan kabur dengan panik sekali. 

Tapi... 

Syusshhh...

Seketika si pembunuh itu sudah ada di depan Lio yang berlari sambil melihat ke belakang.

BUK!

Lio terjatuh setelah menabrak si pembunuh itu.

"Hai anak kecil." sapanya dengan senyum jahat, tapi wajahnya tak bisa diingat Lio. Yang ia lihat hanya sesosok pria dengan senyum lebar tapi separuh atas wajahnya seolah tertutupi kabut hitam.

"To-tolong, tolong jangan bunuh aku!" lalu Lio meninju dan mengeluarkan api dengan spontan, semata untuk melindungi diri.

Tinju api Lio mengenai pipi si pembunuh itu. Namun tak sedikitpun orang itu merasa sakit ataupun terbakar karena api Lio. Bahkan tinjunya terhenti di pipi orang itu tanpa membuatnya terdorong sedikitpun.

"Hoo... kamu penyihir juga?" katanya saat kepalan tangan Lio berhenti di pipi kirinya. "Api ya? Aku tak perlu itu. Karena aku..." katanya. "Ahh tapi-tapi..."

Tangan pria itu menggenggam wajah Lio dan mencengkramnya. Pandangan Lio seketika berubah hitam karena tertutup tangan si pembunuh itu. Lalu kata-kata terakhir orang itu.

"Aku biarkan kau hidup." ucapnya. "Karena kau akan menjadi menarik nantinya..."

SYUUSSHHH !! Zepp...

"...!?"

Seketika Lio kembali ke saat ia bersembunyi ke semak-semak. Melihat Mia dari balik jendela rumahnya. Ia memutuskan segera kabur dari situ segera, tapi tubuhnya tak mau bergerak sesuai keinginannya. Ia malah berlari lagi ke dalam rumah itu, sesaat setelah Mia berteriak, ia melihat Mia dibunuh lagi. Dan tubuhnya kaku kembali. Dan kejadian yang sama... Terus terulang, lagi dan lagi.

Setelah 15 detik, Nicholas melepas Dreamcatchernya hingga dalam sekejap Lio kembali ke realitas dan saat itu juga, Lio muntah.

"HOEEKKK !! Hosh... hosh..." Lio tersungkur dengan hanya di topang kedua tangan dan dengkulnya. Wajahnya seketika pucat, mata dan mulutnya terbuka lebar-lebar dalam kondisi tubuhnya yang berkeringat.

"Aish! Menjijikan! Apa yang sebenarnya kau lihat sih?! Sampai bisa muntah begitu! Untung tidak kena bajuku."

"Hosh... hosh... Aku ingat! Aku ingat sekarang... Mia... ternyata... selama ini... kamu..."

Dan secara perlahan-lahan, dalam posisi seperti itu, Lio memandang ke atas langit dengan air mata yang tak bisa bendung. Meski saat itu cuaca sedang sangat indah dan sejuk dengan langit biru yang sangat cerah. Lalu ia melanjutkan...

.

.

.

.

.

"Dibunuh."

Syuuushhh... angin berhembus dia cuaca cerah ini, menghembus dedaunan yang lepas dari pohonya dan melayang-layang tak tentu arah. Perlahan daun itu bergerak mengikuti laju angin yang bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.

***

Greenhill bagian barat. Di ujung wilayah paling baratnya. Terdapat bukit sepi yang dikelilingi hutan, melingkar hingga ke seluruh sudut. Disana berdiri sebuah menara tempat Alzen dan ayahnya Kildamash, tinggal.

"Hah..." Kildamash menghela nafas, selagi melihat kalender di rumah menaranya di lantai atas, tempat risetnya berjalan. Ia adalah seorang pria berusia empat puluhan yang parasnya mirip dengan Alzen, namun mengenakan jubah seorang Alchemist, mengenakan kacamata bulat dan rambutnya panjang, diikat di tengah-tengahnya. 

"Sudah 3 bulan, mereka berdua juga belum ada yang kembali." lalu ia berjalan menaiki tangga dan pergi ke atap menara. "Wahh hari sedang cerah-cerahnya." katanya sambil membuka tangan lebar-lebar dan menarik nafas, menikmati deru angin sejuk yang melewati seluruh tubuhnya.

Seusai menikmati udara di sekelilingnya ia tak sengaja melihat seekor burung merpati mengatakan hal yang sama berulang-ulang. "Berita penting! Berita penting!" katanya sambil membawa tas berisi koran dan menjatuhkan ke tempat dimanapun ketika ia melihat manusia. 

Brughh!

Koran itu dijatuhkan tepat di kepala Kildamash. "Aduh." sambil burung merpati itu terus mengatakan. "Berita penting! Berita penting!"

"Hah? Koran?" Kildamash memungutnya lalu berteriak. "Hei...! Kau menjatuhkan ini! Aku tak pernah memesannya. Hei! Tunggu! Hei!"

"Berita penting! Berita penting!" Burung itu pergi menjauh dan tak mempedulikan.

Kildamash memungutnya dan selagi mengangkatnya untuk dibuang ia sedikit membacanya dan mendapati Headline di halaman depan koran berjudul. "Ketua Guild Kriminal White Bear Berhasil di Tahan. Perdamaian Bersemi Kembali di Negara Musim Dingin Abadi."

"Musim dingin abadi? Maksudnya Quistra Empire?"

Disana tertulis detail kejadiannya, dan selagi koran itu menyebutkan nama-nama pahlawan yang terlibat, disana tertulis Aloysius Alridge dan juga orang dengan nama belakang yang sama. Aloysius Vayne.

Seketika Kildamash tersenyum. "Wah... padahal baru tiga bulan, tapi kamu sudah jadi orang hebat ya." Lalu Kildamash membalikkan halamannya dan mendapati berita tentang hasil turnamen di Vheins. Disana tertulis para finalis dan pemenangnya. Alzen di beritakan sebagai juara dua turnamen bergengsi ini. Dan sekali lagi, berita itu membuat Kildamash tersenyum. 

Ia yang berniat kembali ke bawah, malah bersandar di pinggir tembok atap menara ini dan sibuk membaca beritanya sampai habis hingga berulang-ulang.

Setelah itu, Kildamash menatap ke langit. "Alzen, Aldridge. Aku harap... kalian berdua baik-baik saja." katanya dengan tersenyum lega. 

***