Episode 32 - Kompensasi


Lodan tiba-tiba menggebrak meja, “Nah! Begitu dong.” katanya sambil tertawa senang. Diikuti oleh suara tawa para anggota Perserikatan Tiga Racun. Sedangkan orang-orang dari Kelompok Daun Biru hanya bisa terdiam seribu bahasa.

“Kematian empat orang anggota kami, dua diantaranya adalah pendekar tahap penyerapan energi tingkat empat. Kerugian yang kami alami sangat besar! Kompensasi yang kami inginkan adalah.…” Lodan tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan memandangi wajah Yanuar dan om Yosep satu per satu. “Kami bukan orang yang serakah, kami hanya ingin kalian menyerahkan tujuh puluh persen sumber daya kalian selama sepuluh tahun berturut-turut sebagai upeti pada kami. Selain itu, kalian tidak akan lagi mengganggu apapun kegiatan kami diwilayah kalian.”

Mendengar permintaan Lodan, wajah Yanuar langsung merah padam. 

“Omong kosong, kau sengaja menggunakan alasan kompensasi untuk merampok kami!”

“Apa maksudmu? Kau berniat melarikan diri dari tanggung jawab? Kalian hanya sekumpulan cecunguk tahap pembentukan dasar dan penyerapan energi... Atau jangan-jangan kalian berniat menantang Perserikatan Tiga Racun?” lanjut Lodan dengan seringai meremehkan.

Aku bisa melihat bagaimana ketua Yanuar hanya bisa tersandar lesu mendengar perkataan Lodan barusan, sedangkan om Yosep kulihat hanya dapat menghela nafas berkali-kali. Namun tak ada lagi kata sanggahan maupun tanda kemarahan pada wajah mereka berdua. Keduanya seperti anak-anak TK yang sedang dimarahi oleh gurunya. 

“Tapi, permintaan kalian terlalu berat, kami... Kami tidak bisa memenuhinya.” gumam Yanuar.

“Ingat Yanuar, menghancurkan Kelompok Daun Biru semudah membalikkan telapak tangan bagi Perserikatan Tiga Racun. Jaman sekarang, kelompok-kelompok dunia persilatan musnah seperti lalat!” balas Lodan.

Tampaknya ancaman Lodan benar-benar efektif, buktinya Yanuar hanya menghela nafas sambil berkata, “Baiklah, berikan kami waktu setidaknya tiga hari untuk memikirkannya?”

Lodan mengerenyitkan keningnya, “Memberikan kalian waktu tiga hari? Kami bersedia bernegosiasi dengan kalian saja sudah suatu keberuntungan besar buat kalian! Saranku, jangan memaksakan keberuntungan kalian secara berlebihan.”

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Yanuar, Lodan dan orang-orang Perserikatan Tiga Racun bangkit dari tempat duduk mereka dan segera beranjak pergi dari tempat itu. Sedangkan Yanuar dan om Yosep tetap tak beranjak dari tempat duduk mereka selama beberapa lama.

Gila, negosiasi macam apa ini? Sama sekali tidak ada proses tawar-menawar maupun adu argumen. Kelompok Daun Biru hanya bisa mengiyakan apapun permintaan Perserikatan Tiga Racun. Jelas yang barusan itu tak bisa disebut negosiasi sama sekali. Aku hanya bisa mendengus miris melihat ketidakberdayaan Kelompok Daun Biru.

Sekitar sepuluh sampai lima belas menit kemudian, ketua Yanuar dan om Yosep bangkit dari tempat duduk mereka dengan wajah lesu. Tanpa mengucapkan apa-apa, keduanya berjalan menuju mobil, aku beserta anggota lain segera mengikuti mereka tanpa sepatah katapun. 

Meskipun pengalamanku di dunia persilatan masih terbilang sedikit, tapi aku paham kenapa ketua Yanuar dan om Yosep bersikap seperti anak-anak tikus yang tak berdaya dihadapan utusan Perserikatan Tiga Racun. Ini soal kekuatan! Pendekar terkuat dalam Kelompok Daun Biru adalah Yanuar, om Yosep, tetua Seto, dan bang Arman yang berada pada tahap pembentukan dasar, sedangkan Perserikatan Tiga Racun memiliki pendekar tahap pemusatan energi. Sangat mudah bagi satu orang saja pendekar tahap pemusatan energi untuk menghancur leburkan Kelompok Daun Biru. 

Seorang pendekar tahap pemusatan energi memiliki kekuatan yang luar biasa, mereka bisa membunuh pendekar tahap pembentukan dasar hanya dalam satu serangan saja. Seperti dalam kasus pertarungan antara Kinasih dan Sarwo pada waktu itu, keduanya adalah pendekar tahap pemusatan energi, sedangkan anak buah Sarwo yang berjumlah empat orang kesemuanya berada pada tahap pembentukan dasar. Kinasih dapat dengan mudah menghabisi keempatnya ditengah kesibukan menghadapi Sarwo. Kira-kira seperti itulah perbedaan kekuatan antara kedua tingkatan tersebut, lalu bagaimana jika pendekar tahap pemusatan energi berhadapan dengan pendekar tahap penyerapan energi sepertiku? Seperti Harimau raksasa melawan anak kucing! Kau hanya bisa berharap jasadmu tetap utuh sehingga bisa dikuburkan dengan layak.

Hal itu pula yang sebenarnya menjadi tanda tanya lain dalam hatiku, bagaimana aku bisa selamat sewaktu Sarwo menyerangku dulu? Meskipun Sarwo jelas tidak menggunakan seluruh kekuatannya sewaktu menendangku, tapi sebagai manusia biasa seharusnya punggungku jebol terkena tendangannya. Mungkinkah karena darah dari Sadewo?

Dalam perjalanan pulang kembali ke markas Kelompok Daun Biru, aku kembali berada satu mobil dengan ketua Yanuar dan om Yosep. Selama dalam perjalanan, kami sama sekali tidak saling berbicara hingga sampai di markas Kelompok Daun Biru. 

Begitu mencapai markas, ketua Yanuar dan om Yosep langsung menghilang entah kemana. Tak berapa lama setelah ketua Yanuar dan om Yosep menghilang, bang Arman mengumpulkan seluruh anggota Kelompok Daun Biru dan mengumumkan hasil negosiasi dengan Perserikatan Tiga Racun. Bang Arman menjelaskan secara detil permintaan Perserikatan Tiga Racun pada semua anggota. Dan sebagian besar anggota hanya bisa mendesah pasrah pada pengumuman tersebut, tampaknya semua sudah memperkirakan hasil negosiasi tersebut. 

Selain itu, Kelompok Daun Biru telah mencabut kondisi darurat dan mempersilahkan para anggota kembali pada kegiatan masing-masing. Namun bang Arman kembali memperingatkan pada kami agar tetap bersikap hati-hati dan jangan memprovokasi kelompok silat lain, terutama Perserikatan Tiga Racun. Setelah pengumuman tersebut, bang Arman tidak banyak berdiskusi dan langsung pergi meninggalkan ruang pertemuan. Begitu bang Arman pergi meninggalkan ruangan, para anggota Kelompok Daun Biru kembali terlibat dalam diskusi panas mengenai pengumuman barusan.

Sedangkan aku sendiri hanya bisa bertanya-tanya apa alasan mereka sebenarnya membawaku ikut dalam negosiasi tersebut, apakah sesuai dengan yang dikatakan oleh ketua Yanuar, untuk mengecek apakah Perserikatan Tiga Racun mengenaliku sebagai pembunuh anggota mereka atau ada alasan lain? Lalu, kenapa mereka begitu rela melindungiku dengan resiko kemusnahan seluruh Kelompok Daun Biru? Sayangnya, saat ini aku hanya bisa menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hati. 

Tapi jawaban atas pertanyaan tersebut juga tidak terlalu penting lagi, yang paling penting bagiku sekarang adalah bagaimana caranya segera meningkatkan kesaktianku secepat mungkin. Kejadian pada negosiasi tadi menyadarkanku pentingnya sebuah kekuatan dalam dunia persilatan. Dalam dunia dengan aturan ‘survival of the fittest’ murni semacam dunia persilatan, yang lemah hanya akan menjadi mangsa mereka yang kuat. Dan cara paling cepat meningkatkan kekuatanku adalah dengan memanfaatkan pil pengumpul energi!

Aku segera mencari menuju bang Genta yang kebetulan juga berada di ruangan tersebut guna menanyakan perihal pil pengumpul energi. Aku berhasil menemukan bang Genta sedang berkumpul dengan Arie dan Yanti di taman. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang pasti ketiganya langsung berhenti berbincang begitu melihatku berjalan mendekati mereka. Aku segera menganggukkan kepala dan menyapa mereka, ketiganya mengangguk balik padaku dan mempersilahkanku bergabung bersama mereka. 

“Kondisi Shinta sudah mulai membaik, mungkin dia bisa pulang dalam tiga atau empat hari lagi.” Arie membuka pembicaraan denganku. 

“Oh... Syukurlah kalau begitu,” jawabku singkat. 

“Kamu abis ini mau pulang Rik?”

“Iya bang.”

Bang Genta menganggukkan kepalanya, “Nanti kita kontak-kontakkan lewat handphone ya. Nomor saya sudah kamu simpan kan?” 

“Udah bang,” jawabku singkat. “Emm... ngomong-ngomong bang. Saya mau nanya, pil pengumpul energi dibagiinnya tiap tanggal berapa ya?”

“Biasanya awal bulan, bersamaan dengan uang saku. Tapi...” - Bang Genta menggelengkan kepalanya perlahan - “ dari hasil negosiasi dengan Perserikatan Tiga Racun, sepertinya Kelompok Daun Biru akan kesulitan menyediakan suplai pil pengumpul energi untuk kita.”

“Apa?!” Jawaban bang Genta langsung membuatku tertegun, bukankah ini berarti kesempatanku meningkatkan kesaktian justru semakin kecil?

“Tapi, pasti ada cara lain buat mendapatkan pil pengumpul energi kan bang?” tanyaku segera.

“Tentu saja ada, anggota lain juga banyak yang mengumpulkan sendiri pil pengumpul energi. Lagipula, satu pil pengumpul energi per bulan jelas tidak cukup untuk meningkatkan kesaktian kita.”

Penjelasan bang Genta selanjutnya langsung membangkitkan harapanku yang tadinya luruh. 

“Bagaimana caranya bang?”

“Kita bisa membelinya di toko.”

“Hah? Toko?”

Arie dan Yanti tampak tersenyum geli mendengar pertanyaanku. Mungkin mereka menganggap lucu keluguanku terhadap dunia persilatan. 

“Ya, toko yang khusus menjual berbagai macam pil dan obat-obatan yang berhubungan dengan dunia persilatan.”

“Dimana saya bisa menemukannya bang? Lalu, berapa harga satu butir pil pengumpul energi?”

“Oh iya, kamu belum pernah ke toko pil dan obat-obatan ya. Kalau kamu mau, kamu bisa minta diantarkan oleh Arie atau Yanti ke sana. Untuk harga satu butirnya sekitar lima belas juta rupiah per butir.” 

“Lima belas juta rupiah?!” 

Hampir saja aku pingsan mendengar harga satu butir pil pengumpul energi mencapai lima belas juta rupiah. Kenapa harga sebuah pil bisa semahal itu...?

Deg!

Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu! Bukankah pil pengumpul energi hanya efektif sampai tahap penyerapan energi tingkat keempat? Lalu, berapa harga yang harus kubayar untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi lagi? Berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk mencapai tahap pembentukan dasar, pemusatan energi, lalu tahap penyatuan jiwa, dan tahap-tahap selanjutnya? Membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berlatih pengolahan tenaga dalam membuat perutku langsung terasa mulas. 

“Tapi bang, darimana saya bisa mendapat uang sebanyak itu?” Kalau hanya mengandalkan uang saku dari Kelompok Daun Biru, rasa-rasanya tidak mungkin aku akan mencapai tahapan tertinggi dalam pengolahan tenaga dalam. 

“Kamu bisa menjalankan misi untuk mendapatkan uang.”

Aku mengangguk paham mendengar jawaban bang Genta, aku ingat bang Arman juga pernah bicara soal misi. Mungkin aku bisa mendapatkan uang dari menjalankan misi. Kemudian aku melanjutkan berbagai pertanyaan mengenai sistem yang berlaku di dunia persilatan. 


***


Sementara Riki berbincang-bincang dengan Genta, Arie, dan Yanti. Di ruangan lain dalam markas Kelompok Daun Biru, ketua Yanuar, om Yosep, tetua Seto, dan Arman tengah berdiskusi serius. 

“Sialan! Permintaan kompensasi Perserikatan Tiga Racun sama saja dengan menjadikan kita taklukan mereka.” Tetua Seto mendengus kesal.

“Lalu apa yang mau kau lakukan? Melawan Perserikatan Tiga Racun?” sindir om Yosep sambil menyeringai. 

“Kalau saja kita tidak diperintahkan menjaga Riki...” 

“Humph... Kita juga salah, karena terlalu santai menjalankan perintah. Tidak langsung merekrut Riki begitu ‘putri’ memerintahkan kita menjaganya.”

“Tapi waktu itu kita juga tidak tahu kalau orang yang dimaksud oleh ‘putri’ adalah Riki. Kita baru mengetahuinya setelah dia bergabung dengan Perguruan Gagak Putih, sungguh kebetulan yang aneh. Lagipula, mana kita tahu Riki akan membunuh empat anggota Perserikatan Tiga Racun dan membiarkan satu anggota lainnya melarikan diri untuk melapor pada Perserikatan.”

“Nasi sudah menjadi bubur, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Sekarang yang paling penting adalah segera mencari solusi terbaik untuk memastikan kelangsungan Kelompok Daun Biru sekaligus memastikan keselamatan Riki. Ingat, kita adalah pengikut setia Kinasih, Putri Teratai Salju. Kita harus melaksanakan perintahnya meskipun nyawa kita resikonya,” ucap Yanuar dengan mimik serius. 

“Tapi sudah berbulan-bulan putri Kinasih menghilang, bahkan kita sendiri yang merupakan pengikut setianya tidak mengetahui kabarnya.” gumam Arman begitu pelan seperti hanya bicara pada dirinya sendiri. 

Ketua Yanuar menarik nafas panjang, namun tidak berkata apa-apa terkait dengan perkataan Arman barusan. 

“Soal upeti bukan masalah besar, tapi kita tak bisa membiarkan Perserikatan Tiga Racun beroperasi sesuka hati diwilayah kita. Bagaimana jika mereka menemukan ruang rahasia milik putri Kinasih?” Tetua Seto kembali mengalihkan topik pembicaraan ke persoalan dengan Perserikatan Tiga Racun. 

“Mungkin kita bisa bekerjasama dengan Pasukan Nagapasa dalam menghadapi Perserikatan Tiga Racun.” Yanuar berkata pelan sambil menatap satu persatu ke wajah tiga orang lawan bicaranya.